Peringati Hari Anak Nasional, Dinas Pendidikan Kota Kupang Gelar Beragam Lomba Kreativitas Anak PAUD

 

Kupang,nwartapedia.com  –  Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli 2025, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang melalui Bidang Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI) serta Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menyelenggarakan serangkaian kegiatan lomba yang melibatkan anak-anak usia dini dari seluruh PAUD se-Kota Kupang.

Kegiatan yang berlangsung selama empat hari ini digelar di salah satu aula hotel di Kota Kupang, dan diikuti secara antusias oleh ratusan anak serta para pendidik PAUD.

Tema utama kegiatan ini adalah mendorong pengembangan kreativitas dan karakter anak sejak usia dini melalui kegiatan yang menyenangkan, mendidik, dan kompetitif.

Ketua panitia kegiatan, Margaretha Dida, S.Sos, saat ditemui di sela-sela kegiatan pada Jumat (18/7), menjelaskan bahwa terdapat empat jenis lomba yang diselenggarakan, yakni lomba mewarnai, lomba bercerita, lomba fashion show untuk peserta didik, serta lomba pembuatan Alat Permainan Edukatif (APE) yang ditujukan bagi para pendidik PAUD.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin memberi ruang kepada anak-anak untuk mengekspresikan potensi mereka secara positif, baik dalam hal kreativitas, keberanian berbicara di depan umum, maupun rasa percaya diri. Sementara untuk para pendidik, lomba pembuatan APE menjadi ajang untuk mengembangkan inovasi dalam menciptakan media pembelajaran yang edukatif dan menyenangkan bagi anak-anak,” ujar Margaretha.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini telah menjadi agenda tahunan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, dan merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini, sekaligus membentuk karakter generasi muda sejak usia dini.

“Kami berharap kegiatan ini dapat menghasilkan kader-kader peserta didik yang cerdas, kreatif, dan berkarakter, serta menumbuhkan semangat belajar dan semangat berkarya sejak dari bangku PAUD,” pungkasnya.(Disdikbud)




SMAK Giovanni Kupang Jajaki Kerja Sama Internasional dengan Alana Kaye College Australia

 

Kupang, nwartapedia.com – SMA Katolik Giovanni Kupang kembali mencatat langkah maju dengan menjajaki kerja sama internasional bersama Alana Kaye College, Australia.

Dalam kunjungan ke SMAK Giovanni Kupang pada Rabu (16/7), CEO Alana Kaye College, Alana Anderson, menyambut baik rencana kemitraan yang digagas sekolah tersebut.

Maria Hebi, staf bidang perguruan tinggi SMAK Giovanni Kupang, mengungkapkan bahwa pihaknya ingin membuka peluang bagi siswa untuk meningkatkan keterampilan melalui program ekstrakurikuler yang relevan dengan kompetensi utama Alana Kaye College.

“Bidang-bidang seperti bangunan dan konstruksi, listrik, kesehatan, dan lainnya yang menjadi keunggulan Alana Kaye College memang belum masuk dalam kurikulum SMA, tetapi sangat mungkin dijadikan sebagai kegiatan ekstrakurikuler,” jelas Maria.

Ia menambahkan bahwa sekolah akan merancang jenis kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan dan sumber daya yang ada, serta mengembangkan teknis pelaksanaannya secara bertahap.

Lebih lanjut, Maria menyampaikan harapannya agar kerja sama ini dapat menghasilkan lulusan dengan keterampilan bersertifikat standar Alana Kaye College.

“Sertifikat tersebut akan sangat bermanfaat karena diakui di 56 negara anggota Commonwealth, seperti Inggris, Kanada, Australia, Singapura, dan lainnya,” katanya, mengutip penjelasan Alana Anderson.

Di tempat terpisah, Kepala SMAK Giovanni Kupang, Romo Drs. Stefanus Mau, Pr., menyampaikan apresiasi atas kunjungan CEO Alana Kaye College bersama Manager International Operations, David Thomson. Romo Stef menegaskan komitmennya untuk segera menindaklanjuti kerja sama ini secara formal melalui penandatanganan perjanjian.

Dalam kunjungannya ke lingkungan sekolah, Alana Anderson juga menyempatkan diri meninjau kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di aula.

Ia terkesan dengan visi besar para siswa terhadap masa depan serta kemampuan berbahasa Inggris yang mereka tunjukkan dalam sesi tanya jawab.

Di akhir kunjungannya, Alana Anderson berpesan kepada para siswa untuk rajin belajar, disiplin, dan tidak takut menghadapi tantangan demi meraih masa depan yang lebih baik. ***




Pintu Sekolah Disegel Pemilik Lahan, Guru Khawatir Dampak Psikologis ke Siswa

 

Kupang,nwartapedia.com  – Aksi penyegelan pintu gerbang dan ruang kantor SD Negeri Tenau, yang terletak di RT 22/RW 5, Kelurahan Alak, Kecamatan Alak, Kota Kupang, kembali terjadi pada awal tahun ajaran 2025/2026, Senin (14/7).

Tindakan yang dilakukan oleh pihak pemilik lahan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan tenaga pendidik, terutama terhadap dampak psikologis yang dirasakan oleh para siswa.

Arnoldus Buan, salah satu guru di SD Negeri Tenau, mengungkapkan keprihatinannya saat menyaksikan langsung reaksi emosional anak-anak ketika mendapati gerbang sekolah mereka disegel.

“Secara pribadi saya dan rekan-rekan guru bisa menerima. Tapi yang saya khawatirkan adalah dampaknya bagi anak-anak. Mereka menangis dan histeris ketika melihat pintu sekolah mereka disegel. Itu yang membuat kami sangat prihatin,” ujar Buan, Selasa (16/7).

Buan juga menambahkan bahwa kejadian serupa telah terjadi dua tahun berturut-turut dan selalu bertepatan dengan awal tahun ajaran baru.

Ia berharap ada kejelasan hukum dari pihak berwenang agar persoalan ini tidak terus berlarut-larut dan menimbulkan keresahan di kalangan warga sekolah dan masyarakat umum.

“Sebagai guru, saya berharap ada keputusan resmi dari pengadilan. Dengan adanya keputusan hukum yang sah, sekolah bisa menjalankan fungsinya dengan tenang tanpa ada tekanan dari luar,” tegasnya.

Selain itu, ia mengungkapkan kekhawatiran bahwa situasi ini bisa memengaruhi kepercayaan orang tua terhadap lembaga pendidikan, khususnya SD Negeri Tenau.

“Kami khawatir kepercayaan masyarakat, terutama orang tua siswa, terhadap sekolah akan menurun jika masalah seperti ini terus terjadi,” tambahnya.

Menanggapi kejadian tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Drs. Dumuliahi Djami, langsung turun ke lokasi pada hari yang sama. Ia bahkan membuka sendiri palang segel yang terpasang di pintu gerbang sekolah.

Dumuliahi meminta agar pemilik lahan segera menempuh jalur hukum untuk menyelesaikan persoalan ini secara tuntas.

“Kami harapkan pihak pemilik tanah segera membawa persoalan ini ke instansi berwenang, agar ada kejelasan soal status lahan. Sebab lokasi tersebut sudah sejak lama digunakan sebagai fasilitas umum dan dikuasai oleh pemerintah Kota Kupang karena di atasnya berdiri bangunan sekolah,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa sekolah adalah ruang publik yang harus dijaga bersama, bukan dijadikan objek tekanan atau konflik yang berlarut-larut.

Hingga berita ini diturunkan, pihak pemerintah dan masyarakat sekitar masih menanti penyelesaian resmi agar aktivitas belajar mengajar di SD Negeri Tenau bisa kembali berjalan normal tanpa gangguan.(goe)




Pastikan Sekolah Siap dan Pembelajaran Lancar, Dinas Pendidikan Kota Kupang Lakukan Monitoring Awal Tahun Ajaran

 

Kupang,nwartapedia.com  –  Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang melakukan monitoring ke sejumlah sekolah dasar pada pekan pertama masuk sekolah, Senin (8/7/2024).

Kegiatan ini bertujuan memastikan kelancaran proses pembelajaran dan kesiapan pelaksanaan kegiatan di awal tahun ajaran baru 2024/2025.

Pemantauan difokuskan pada kesiapan sarana dan prasarana, kehadiran guru, serta kelengkapan administrasi pendukung kegiatan belajar mengajar.

Salah satu sekolah yang dipantau adalah SD Negeri 2 Oeba dan SD Negeri Labat. Di sela kunjungan, staf ASN Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Goris Takene, menyampaikan bahwa pemantauan lapangan penting dilakukan agar potensi kendala bisa segera diidentifikasi dan diatasi sejak dini.

“Dengan monitoring langsung, dinas dapat mengetahui jika ada hambatan seperti kekurangan fasilitas, kendala administrasi, atau hal-hal lain yang bisa mengganggu proses belajar. Ini menjadi langkah awal dalam memperkuat kualitas layanan pendidikan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa hasil monitoring akan digunakan sebagai bahan evaluasi untuk memberikan dukungan yang sesuai, termasuk penyediaan media pembelajaran dan metode pengajaran yang lebih tepat sasaran.

Kepala SDN 2 Oeba, Yusak Amung, menyambut baik kegiatan monitoring tersebut. Menurutnya, kehadiran langsung tim dari dinas sangat membantu sekolah dalam menyelesaikan berbagai persoalan di awal tahun ajaran.

“Kami merasa terbantu karena dinas bisa melihat langsung kondisi di lapangan. Dengan segala kegiatan di awal tahun bisa diawasi agar sesuai panduan, menghindari praktik-praktik yang tidak mendidik, dan tetap mengedepankan prinsip edukatif,” katanya.

Tahun ini, SDN 2 Oeba menerima 44 siswa baru untuk kelas I. Yusak menyebut, latar belakang siswa sangat beragam, dengan kondisi sosial yang menantang, termasuk orang tua yang bercerai (broken home).

“Karakter siswa sangat beragam, dan guru di sini harus memiliki kesabaran serta keterampilan lebih dalam membina mereka,” ujar Yusak.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang berencana melanjutkan monitoring ke sekolah-sekolah lain hingga seluruh satuan pendidikan dinyatakan siap, dan proses pembelajaran berjalan optimal sepanjang tahun ajaran. (rilis Disdikbud)




Awal Tahun Ajaran Baru di SDN 2 Oeba dan SDN Labat Berjalan Lancar, Kepala Sekolah Apresiasi Monitoring dan Kerja Tim

 

Kupang, nwartapedia.com Awal tahun ajaran 2025/2026 di Kota Kupang diwarnai suasana tertib dan penuh antusias di sejumlah sekolah dasar. Kepala SDN 2 Oeba dan SDN Labat sama-sama menyampaikan apresiasi terhadap dukungan Dinas Pendidikan Kota Kupang serta kerja sama tim sekolah dalam menyukseskan penerimaan peserta didik baru dan kegiatan awal tahun.

Di SDN 2 Oeba, Kepala Sekolah Yusak Amung mengungkapkan terima kasih atas kunjungan tim monitoring dari Dinas Pendidikan di hari-hari pertama masuk sekolah.

Menurutnya, monitoring yang dilakukan sangat membantu sekolah dalam mengidentifikasi kebutuhan dan memastikan kegiatan berjalan sesuai pedoman.

“Dengan adanya monitoring, dinas bisa lihat langsung kebutuhan kami. Kegiatan MPLS juga terpantau agar sesuai panduan, edukatif dan bebas dari kekerasan,” ujarnya, Senin (14/7).

Tahun ini, SDN 2 Oeba menerima 44 siswa baru kelas I yang berasal dari berbagai latar belakang, termasuk dari luar Kecamatan Oebobo seperti Manutapen dan Bakunase.

Banyak di antara siswa merupakan anak-anak dari keluarga broken home, sehingga para guru dituntut memiliki kepekaan dan kemampuan lebih dalam mendampingi mereka.

Sementara itu, di SDN Labat, suasana tahun ajaran baru juga berjalan lancar. Kepala Sekolah Marselina Selan menyampaikan bahwa penerimaan peserta didik baru dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) selama tiga hari berlangsung aman, tertib, dan tanpa hambatan.

“Seluruh rangkaian kegiatan pendaftaran hingga MPLS berjalan aman dan tertib. Ini berkat kerja sama yang baik antara semua unsur sekolah,” ungkap Marselina di halaman sekolah.

Tahun ini SDN Labat menerima 44 siswa baru untuk kelas I. Dengan tambahan ini, total jumlah siswa di sekolah tersebut mencapai 434 orang, yang dilayani oleh 24 tenaga pendidik dan 5 tenaga kependidikan.

Marselina juga menyampaikan apresiasi atas dedikasi seluruh tim sekolah yang telah bekerja maksimal.

“Semoga semangat ini terus terjaga agar proses pembelajaran sepanjang tahun ajaran ini berjalan maksimal dan penuh semangat,” tutupnya.

Dinas Pendidikan Kota Kupang memastikan monitoring akan terus dilanjutkan ke sekolah-sekolah lain untuk menjamin kesiapan pembelajaran di seluruh satuan pendidikan di wilayah ini. (goe)




SMA Katolik Giovanni Kupang Harumkan Nama NTT di Ajang Nasional, Sabet Penghargaan Best Presentation

 

Kupang,nwartapedia.com Prestasi membanggakan kembali ditorehkan dunia pendidikan Nusa Tenggara Timur. Tim SMA Katolik Giovanni Kupang berhasil meraih penghargaan Best Presentation dalam Lomba Business Plan Tingkat Nasional 2025 yang digelar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu (12/7).

Ajang bergengsi ini diikuti oleh 50 tim dari berbagai SMA/SMK dan perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Setelah melewati proses seleksi ketat, hanya 10 tim terbaik yang melaju ke babak final, terdiri dari 6 tim perguruan tinggi dan 4 tim SMA/SMK.

Daftar Pemenang Lomba Business Plan Nasional 2025

Kategori Perguruan Tinggi:

  • Juara 1: Universitas Brawijaya – Malang
  • Juara 2: Universitas Negeri Surabaya (UNESA) – Surabaya
  • Juara 3: Universitas Siliwangi – Tasikmalaya

Kategori Sekolah Menengah (SMA/SMK):

  • Best Presentation: SMA Katolik Giovanni – Kupang, NTT
  • Best Paper: SMA Mutiara Bangsa – Jakarta
  • Best Idea: SMA Negeri 3 – Yogyakarta
  • Best Poster: Universitas Pendidikan Indonesia – Tasikmalaya

Dari Timur, Menjadi Teladan

SMA Katolik Giovanni Kupang diwakili oleh dua siswa berbakat, Aldrick Raphael Luly dan Bernadinus Maryo Aloyciano Assan, dengan bimbingan guru pendamping Romo Tomy.

Dengan konsep bisnis yang matang, presentasi yang memukau, serta kemampuan menjawab pertanyaan juri secara sistematis dan meyakinkan, mereka berhasil menyisihkan puluhan peserta dan memikat hati dewan juri untuk meraih penghargaan Best Presentation.

Kemenangan ini membuktikan bahwa pelajar dari Timur Indonesia memiliki potensi dan daya saing tinggi di tingkat nasional.

Tak hanya unggul secara akademis, mereka juga menunjukkan kreativitas, keberanian, dan kepercayaan diri dalam menyampaikan gagasan.

Kepala sekolah serta keluarga besar SMA Katolik Giovanni Kupang menyampaikan rasa bangga dan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung perjuangan tim.

“Prestasi ini adalah hasil kerja keras dan doa kita semua. Semoga menjadi motivasi bagi seluruh pelajar di NTT untuk terus percaya diri dan berani bersaing di panggung nasional,” ujar salah satu guru pendamping.

Momentum ini diharapkan dapat menginspirasi generasi muda NTT untuk terus berkarya, berinovasi, dan membawa nama daerah ke level yang lebih tinggi.

“Dari Timur, Kami Buktikan: NTT Bisa Berprestasi!” ***




SMAK Giovanni Kupang Teken MoU dengan UGM, Buka Peluang Dual Degree hingga Taiwan

 

Yogyakarta,nwartapedia.com   — SMA Katolik Giovanni Kupang kembali menorehkan prestasi membanggakan dengan menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) kerja sama dengan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM).

Penandatanganan berlangsung di Auditorium FMIPA UGM dalam rangkaian kegiatan International Workshop for Educators: Deep Learning Workshop, Creating Mindful, Meaningful, and Joyful Learning.

Kepala SMAK Giovanni Kupang, Romo Drs. Stefanus Mau, Pr, hadir langsung untuk menandatangani MoU tersebut bersama Dekan FMIPA UGM, Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si, serta dua kepala sekolah lainnya yang mewakili 69 sekolah mitra terpilih dari seluruh Indonesia.

Acara ini turut dihadiri oleh Dekan Fakultas Biologi, Dekan Fakultas Geografi, sejumlah petinggi UGM, perwakilan lembaga mitra, dan lebih dari 300 guru dari sekolah mitra UGM.

Dalam sambutannya, Romo Stefanus menyampaikan rasa syukur dan bangga karena SMAK Giovanni menjadi satu-satunya sekolah di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mendapat kesempatan emas ini

. “Kerja sama ini merupakan pintu gerbang untuk peningkatan mutu lembaga secara universal, sekaligus mempersiapkan lulusan SMAK Giovanni untuk berkolaborasi dengan UGM dan universitas mitra di Taiwan,” ujarnya.

Kerja sama ini memungkinkan para lulusan SMAK Giovanni yang melanjutkan studi di UGM melalui International Undergraduate Program (IUP) untuk mengikuti program dual degree.

Melalui program ini, mahasiswa menempuh dua tahun kuliah di UGM dan dua tahun di universitas mitra di Taiwan, dan akan mendapatkan dua ijazah dari kedua universitas.

Bahkan, bagi yang melanjutkan studi hingga lima tahun, terbuka peluang untuk langsung menempuh program doktoral dengan dukungan beasiswa.

Selain penandatanganan MoU, workshop internasional ini juga menghadirkan pembicara ternama, seperti Direktur IUP FMIPA UGM Arif Misbabul, MBM, Prof. Kuwat Triyana, dan Prof. Yu Wen Chen dari Da Yeh University, Taiwan.

Romo Stefanus menegaskan bahwa pihak sekolah akan segera menindaklanjuti MoU ini dengan sosialisasi kepada siswa dan orang tua, serta mempersiapkan seluruh sumber daya yang dibutuhkan.

“Dari Kupang untuk Indonesia. Giovanni Maju, MIPA Unggul, Indonesia Hebat,” pungkas Romo Stefanus penuh semangat. ***




Mengabdi dengan Hati: Perjalanan Hidup Asnat Pindu Jawa, dari Peternakan hingga Menjadi Guru Berdedikasi

 

Kupang,nwartapedia.com  – Di balik dinding-dinding ruang kelas UPTD SD Inpres RSS Oesapa, terdapat kisah inspiratif tentang pengabdian dan semangat juang seorang guru bernama Asnat Pindu Jawa, S.Pd., Gr. Lahir di Sumba Timur pada 13 Agustus 1981, Asnat bukan hanya seorang pendidik biasa.

Ia adalah sosok yang membuktikan bahwa panggilan hati bisa mengubah arah hidup dan menjadi dasar bagi pengabdian yang tulus.

Perjalanan hidup Asnat tidak langsung berlabuh di dunia pendidikan. Tahun 1999, ia menempuh pendidikan di Politani Kupang jurusan Peternakan dan berhasil meraih gelar sarjana pada tahun 2002.

Namun, takdir membawanya ke jalur yang berbeda. Tiga tahun setelah lulus, pada April 2005, ia memulai pengabdian sebagai tenaga honor di SD Inpres RSS Oesapa, Kota Kupang.

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan padaku,” demikian motto hidup yang terus menguatkan langkahnya.

Meski berlatar belakang peternakan, semangatnya dalam mendidik anak-anak tak pernah surut. Ia pun memutuskan melanjutkan studi di bidang pendidikan melalui Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Terbuka. Dengan dukungan beasiswa dari Kementerian, ia berhasil meraih gelar S1 Pendidikan pada tahun 2017.

Tahun 2014 menjadi tonggak penting dalam kariernya. Setelah hampir satu dekade mengabdi sebagai tenaga honor, Asnat resmi diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan NIP 19810813 201408 2004.

Saat ini, ia dipercaya sebagai Guru Kelas VI di UPTD SD Inpres RSS Oesapa, tempat yang sama di mana ia pertama kali menapaki dunia pendidikan.

Lebih dari sekadar mengajar, Asnat adalah figur inspiratif yang menunjukkan makna sejati dari dedikasi. Ia memilih jalan yang mungkin tak direncanakan sejak awal, namun dijalani dengan sepenuh hati demi masa depan generasi muda.(goe)




Literasi Informasi di Era Digital: Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi Didorong Jadi Agen Perubahan

 

Kupang,nwartapedia.com  — Tantangan literasi informasi di era digital tidak lagi sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi menuntut pemahaman makna, penggunaan bahasa yang tepat, serta kemampuan menyalurkan pengetahuan secara kreatif dan bertanggung jawab.

Pesan ini ditegaskan dalam Bimbingan Teknis Literasi Informasi bagi Pustakawan, Guru, dan Pegiat Literasi yang diselenggarakan di Aula Kantor Kominfo NTT, Kamis (10/7/2025).

Kegiatan ini menghadirkan penulis, praktisi budaya, sekaligus pegiat literasi Emanuel Nong Jonson, Pd., M.Hum.  sebagai narasumber, dengan Silvia Cornelia Francis, Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo NTT, sebagai moderator.

Dalam materinya, Nong Jonson mengajak para peserta untuk tidak sekadar menjadi pelaksana kegiatan literasi, tetapi menjadi tunas yang kelak berbuah di sekolah dan masyarakat.

“Literasi bukan hanya kegiatan teknis, tetapi proses menumbuhkan nilai. Kita bukan hanya hadir untuk mengisi acara, tetapi membangun tunas yang akan menghasilkan buah di masyarakat,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa literasi yang kuat berakar pada pemahaman bahasa yang benar dan baik, karena setiap perubahan bentuk bahasa selalu membawa perubahan makna. 

Nong Jonson juga mengkritisi kecenderungan anak-anak yang sekadar bisa membaca tetapi tidak memahami, karena lemahnya penguasaan istilah, tanda baca, dan konteks.

“Bahasa yang benar mengikuti kaidah, sedangkan bahasa yang baik menyentuh nilai-nilai. Tanpa dasar bahasa yang baik, digitalisasi hanya akan melahirkan kebisingan tanpa makna,” lanjutnya.

Nong Jonson juga memberikan contoh-contoh praktis dalam menanamkan literasi sejak usia dini, seperti cara memperkenalkan buku bergambar untuk anak-anak, menyusun cerita sederhana dengan satu kalimat per halaman, hingga mengajarkan puisi dengan narasi yang menyenangkan.

Menurutnya, tugas utama guru, pustakawan, dan pegiat literasi adalah menciptakan pengalaman membaca yang menyenangkan dan bermakna.

Salah satunya dengan mengajarkan anak-anak menyusun kata-kata yang “memiliki jiwa”, serta menghidupkan imajinasi melalui cerita, akrostik, atau puisi.

Sementara itu, moderator Silvia Cornelia Francis menekankan bahwa penguatan literasi di era digital adalah tantangan bersama yang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.

“Guru, pustakawan, dan pegiat literasi memiliki peran vital dalam memastikan teknologi menjadi alat untuk memperkuat literasi, bukan sebaliknya. Literasi adalah pondasi untuk berpikir kritis di tengah derasnya arus informasi,” ujarnya.

Kegiatan yang berlangsung secara interaktif ini diharapkan mampu memperkuat kompetensi peserta dalam mengelola, menyampaikan, dan menumbuhkan budaya literasi di lingkungan sekolah dan masyarakat.

Dengan bekal pengetahuan ini, para guru, pustakawan, dan pegiat literasi di NTT diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang membawa literasi informasi lebih dekat dan relevan dengan kehidupan masyarakat di era digital. (MI)




Perpustakaan NTT Terus Berinovasi Dorong Literasi dan Minat Baca Generasi Muda

 

Kupang,nwartapedia.com  — Kepala Bidang Layanan dan Pembinaan Perpustakaan pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Dollyres Chandra, S.Sos., menegaskan komitmen pemerintah provinsi untuk terus mendorong literasi masyarakat melalui berbagai inovasi layanan perpustakaan.

Hal ini disampaikan dalam kegiatan Bimbingan Teknis Literasi Informasi untuk Pustakawan, Guru, dan Pegiat Literasi tingkat provinsi NTT yang berlangsung di Aula Kantor Dinas Kominfo Provinsi NTT pada Kamis (10/7).

Dalam kesempatan itu, Dollyres juga menjelaskan tentang program Duta Baca yang pernah diadakan terakhir kali pada tahun 2021. 

Menurutnya, usia ideal untuk Duta Baca adalah 18–35 tahun, dengan syarat utama memiliki hobi membaca, kemampuan komunikasi yang baik, kreativitas, prestasi akademik, inovasi, serta kesediaan waktu untuk menjalankan berbagai kegiatan literasi.

Namun, keterbatasan anggaran dan efisiensi belanja membuat pemilihan Duta Baca baru belum dapat dilaksanakan lagi sejak saat itu.

“Karena kita sudah tidak ada lagi Duta Baca, maka kami turun langsung ke sekolah-sekolah untuk sosialisasi gemar membaca dan layanan perpustakaan. Tujuannya untuk meningkatkan minat baca masyarakat,” ujar Dollyres.

Ia menyampaikan bahwa berdasarkan kajian Perpustakaan Nasional RI, tingkat kegemaran membaca masyarakat NTT cukup tinggi, dengan skor 70,34 pada tahun 2024. Bahkan, pada 2022 NTT menduduki peringkat ke-8 secara nasional.

Namun, tantangan tetap ada, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi yang menggeser peran tradisional perpustakaan.

Untuk menjawab tantangan itu, pihaknya telah meluncurkan berbagai inovasi layanan, seperti:

– Layanan pinjam buku antar ke rumah atau sekolah secara gratis, yang bisa dipesan melalui grup WhatsApp.

– Pendaftaran anggota online untuk mempermudah akses layanan.

– Layanan bantuan teknis untuk mahasiswa, misalnya memperbaiki laptop atau komputer rusak.

– Ruang belajar online dan ujian daring, lengkap dengan fasilitas internet.

– Bimbingan belajar membaca dan menulis bagi anak-anak yang masih kesulitan membaca.

– Kerja sama dengan toko-toko untuk menghadirkan fasilitas tambahan, seperti internet gratis.

“Perpustakaan bukan lagi sekadar tempat menyimpan dan meminjam buku, tetapi menjadi pusat kegiatan masyarakat dan ruang belajar bersama. Orang tua yang mengantar anak, guru, mahasiswa, bahkan masyarakat umum bisa memanfaatkan fasilitas yang kami sediakan,” jelasnya.

Selain itu, ia juga menyebutkan bahwa kini jumlah pengunjung perpustakaan per hari sudah mencapai lebih dari 100 orang, terutama saat sekolah dan kuliah aktif.

“Ketika kegiatan belajar mengajar berjalan, itulah waktu paling ramai bagi kami,” katanya.

Melalui semua inovasi tersebut, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTT ingin mematahkan anggapan bahwa perpustakaan hanyalah tempat yang sepi dan membosankan.

“Kami berusaha membuat perpustakaan menjadi lebih ramah, cepat melayani, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini,” tutup Dollyres.

Kegiatan Bimtek ini sendiri diharapkan dapat memperkuat kemampuan pustakawan, guru, dan pegiat literasi dalam mengelola serta menyebarluaskan informasi kepada masyarakat luas. (MI)