10 ASN Dinas Pendidikan Kota Kupang Ikuti Pilot Project Penyusunan Instrumen Evaluasi Pasca Diklat Pembinaan Idelogi Pancasila

 

Kupang,nwartapedia.com  –  Sebanyak 10 Aparatur Sipil Negara (ASN) dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang ditugaskan mengikuti kegiatan Pilot Project Survei Pasca Pendidikan Ideologi Pancasila, Selasa (29/7/2025).

Kegiatan ini berlangsung di salah satu Aula Hotel Kupang, dan merupakan kerja sama antara Pemerintah Kota Kupang dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Survei ini bertujuan untuk menggali kembali pemahaman dan internalisasi nilai-nilai Pancasila di kalangan ASN, sebagai awal proyek Idiologi Nasionak.

Kehadiran ASN Dinas Pendidikan dan Kebudayaan diharapkan dapat menjadi motor penggerak dalam membumikan kembali nilai-nilai Pancasila, terutama di kalangan generasi milenial yang kini semakin dipengaruhi nilai-nilai sosial modern yang berpotensi menjauhkan dari akar kebangsaan.

“Kita menyadari bahwa pemahaman ideologi Pancasila sulit terdesiminasikan di kalangan masyarakat, khususnya kaum muda. Generasi milenial cenderung mengadopsi nilai-nilai sosial baru berbasis modernitas yang sering kali menjauh dari literasi kebangsaan,” ujar Eben Bolla, Ketua Tim Utusan Dinas Pendidikan.

Menurut Eben, survei ini menjadi momentum untuk membangun kembali kesadaran ideologis di kalangan ASN, sekaligus memberi contoh konkret bahwa nilai-nilai Pancasila tetap relevan dalam kehidupan sosial sehari-hari.

Sepuluh ASN yang mengikuti kegiatan ini antara lain Febrika Lerek, S.Pd, Eben Bolla, Gregorius Takene, SE, Jackson Ndun, S.Sos, Januarius A. Ola Angin, S.Pd, Yeffri Hitahirun, Tirza E. Djami, Enjelina S.W. Boeky, Liverthina Huma, S.Kom  Delsi R. Kawurung, S.Pd.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Drs. Ambo, menekankan pentingnya partisipasi aktif seluruh peserta.

“Saya berharap para ASN yang diutus benar-benar mengikuti kegiatan ini dengan serius. Hasil dari kegiatan ini dapat menjadi proyek internal untuk diterapkan di lingkungan kerja masing-masing,” tegasnya.

Kegiatan ini sekaligus menjadi refleksi bahwa revitalisasi nilai-nilai Pancasila di kalangan birokrasi merupakan kebutuhan mendesak, di tengah tantangan ideologi dan disrupsi nilai yang berkembang pesat saat ini.
(goe)




Pemkot Kupang Gelar Pilot Project Penyusunan Instrumen Evaluasi Pasca Diklat Pembinaan Idelogi Pancasila

 

Kupang,nwartapedia.com  –  Pemerintah Kota Kupang melalui Sekretariat Daerah kembali menggelar kegiatan strategis dalam penguatan nilai-nilai kebangsaan melalui Pilot Project Pengembangan Instrumen Survei Pasca Pendidikan dan Pelatihan Pembinaan Ideologi Pancasila (PIP).

Kegiatan ini akan dilaksanakan pada Selasa, 29 Juli 2025 pukul 10.00 WITA hingga selesai, dan melibatkan Aparatur Sipil Negara (ASN) dari 12 perangkat daerah di lingkungan Pemkot Kupang.

Informasi resmi tersebut diteruskan oleh Johnatan Sinlae, Kasubag Umum dan Kepegawaian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, melalui grup WhatsApp resmi Dinas Pendidikan, Senin (28/7/2025).

Ia menyampaikan pesan dari Plt. Sekretaris Daerah Kota Kupang yang menginstruksikan agar setiap perangkat daerah menugaskan ASN untuk menjadi responden dalam survei tersebut.

“Survei ini merupakan bagian dari pengembangan sistem pendidikan dan pelatihan ideologi Pancasila, sebagaimana amanat Peraturan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Nomor 2 Tahun 2024,” ujar Johnatan dalam keterangannya.

Survei ini bertujuan untuk menguji efektivitas instrumen evaluasi pasca-pelatihan ideologi Pancasila yang sebelumnya telah diberikan kepada ASN.

Para peserta akan mengisi survei digital secara bersama dalam satu ruangan, dipandu oleh enumerator.

Jumlah peserta dari masing-masing OPD telah ditentukan, antara lain Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sebanyak 10 orang, BKPPD (5 orang), Badan Kesbangpol (7 orang), Dinas Kesehatan (8 orang), serta OPD lainnya masing-masing 2–3 orang.

Kriteria peserta juga ditetapkan cukup spesifik, yakni usia 25–50 tahun, Masa kerja 5–25 tahun, Bukan pendidik atau tenaga kependidikan, Komposisi gender seimbang (50:50), Wajib membawa perangkat pribadi seperti ponsel, tablet, atau laptop dengan baterai memadai dan paket data minimal 100 MB.

Pemerintah juga memastikan adanya fasilitas pendukung, seperti konsumsi (makan siang dan coffee break), serta penggantian biaya transportasi melalui rekening bank peserta.

Bagi peserta yang membutuhkan informasi lebih lanjut, dapat menghubungi panitia melalui kontak yang tersedia, yaitu Eko Budiyanto di nomor 0813-2836-1122.

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kota Kupang dalam memperkuat wawasan kebangsaan ASN serta memperkuat implementasi nilai-nilai Pancasila di lingkungan birokrasi.
(Disdikbud)




KKG Gugus IV Alak Gelar Supervisi Administrasi Sekolah: SDN Palsatu Jadi Tuan Rumah Evaluasi Kesiapan Tahun Ajaran Baru

 

Kupang,nwartapedia.com  — Dalam rangka memastikan kesiapan sekolah menyambut Tahun Ajaran Baru 2025/2026, Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus IV Kecamatan Alak melaksanakan kegiatan supervisi administrasi kepala sekolah yang dipusatkan di SD Negeri Palsatu, Kelurahan Manutapen, Kota Kupang, Rabu (24/7).

Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi peningkatan mutu tata kelola pendidikan, khususnya dalam aspek perencanaan dan penataan administrasi sekolah.

Empat kepala sekolah dari Gugus IV hadir sebagai peserta utama: Kepala SDN Palsatu Belmira Sagrada Ferrao Santos, M.Pd., Kepala SDI Palsatu Lusias Huku Koro, Kepala SDI Fatufeto II Maria Elisabeth Rae, S.Pd., dan Kepala SDI Oeba 4 Paulina Soares.

Supervisi dilakukan oleh dua pengawas dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Johni E. Rihi dan Marthen Boboy, yang secara menyeluruh menelaah berbagai dokumen penting seperti Buku Induk Siswa, Agenda Kegiatan Sekolah, Struktur Organisasi, hingga perangkat kurikulum.

Menurut Maria Elisabeth Rae, kegiatan ini sangat penting untuk menyamakan standar tata kelola sekolah serta mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki.

“Supervisi ini menjadi media refleksi untuk melihat sejauh mana kesiapan dokumen administrasi kami dan bagaimana menyempurnakannya sebelum tahun ajaran dimulai,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala SDI Oeba 4 Paulina Soares menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari proses pembelajaran antar kepala sekolah.

“Walaupun saya segera pensiun pada 1 Oktober mendatang, saya ingin meninggalkan semangat bahwa kelengkapan administrasi adalah fondasi penting dalam manajemen sekolah,” ujarnya.

Kepala SDI Palsatu, Lusias Huku Koro, menambahkan bahwa semua perangkat administratif telah dipersiapkan secara lengkap dan fungsional.

“Kami berharap pengawas memberikan evaluasi yang konstruktif agar dokumen ini benar-benar menjadi alat kerja yang relevan dan mendukung kualitas pembelajaran,” katanya.

Kepala SDN Palsatu selaku tuan rumah, Belmira Sagrada Ferrao Santos, menyampaikan apresiasinya atas semangat kolaboratif yang terbangun antarkepala sekolah dalam kegiatan ini.

Ia berharap kegiatan serupa bisa terus berlanjut sebagai sarana berbagi praktik baik antar satuan pendidikan.

Supervisi ini menegaskan komitmen KKG Gugus IV Kecamatan Alak untuk membangun manajemen pendidikan dasar yang profesional, transparan, dan adaptif terhadap dinamika pembelajaran.

Melalui penguatan administrasi, sekolah-sekolah diharapkan mampu menciptakan ekosistem belajar yang tertib, efektif, dan berkelanjutan.
(goe)




Efisiensi dan Eksistensi Guru Dalam Pembelajaran Mendalam 

Oleh: E. Nong Jonson sebagai Praktisi & Konsultan Pendidikan

 

Kupang,nwartapedia.com  –  Dalam dinamika pendidikan saat ini, guru tidak boleh sekadar “ada” tetapi harus “hadir”. Perbedaannya, “ada” merujuk pada keberadaan tubuh, sementara pikirannya tidak.

Sedangkan, “hadir” menurut Carl Rogers, seorang tokoh psikolog humanistik adalah keberadaan secara psikologis dan emosional pada momen dan tempat itu. guru tidak boleh menjalankan pembelajaran sebagai rutinitas belaka.    

Apalagi, peran guru telah berevolusi lebih dari sekadar penyampai informasi. Guru bukan hanya pengajar, tetapi fasilitator, pembimbing, dan sosok yang membentuk ekosistem pembelajaran yang mantap secara kognitif dan matang secara emosional-spiritual.

Sayangnya, dalam praktiknya, masih banyak ruang kelas yang hanya berfungsi sebagai tempat penyampaian pengetahuan semata. Suasana batin murid, dinamika psikologis, serta kebutuhan emosionalnya sering tak tersentuh.

Padahal, proses belajar bukan hanya soal apa yang diajarkan, tetapi bagaimana dan mengapa itu perlu diajarkan.

Murid datang ke kelas dengan latar belakang berbeda. Emosi yang beragam dan komptensi yang tidak serasi. Kehadiran guru sepenuhnya bukan hanya memahami materi yang akan diajarkan, tetapi juga mendalami bahwa setiap anak adalah dunia yang patut dihargai. Kelas bukan hanya tempat kognisi bekerja, melainkan tempat afeksi bertumbuh.

Dengan demikian, guru mutlak menciptakan ruang belajar yang aman, ramah, dan kontektula-esensial.

Langkah awal yang paling mendasar dalam mengajar adalah memahami dan menguasai materi. Namun lebih dari itu, guru harus memastikan bahwa materi yang disampaikan kontekstual dan esensial.

Artinya, materi harus dikaitkan dengan kehidupan nyata murid dan memiliki urgensi dalam kehidupan mereka. Materi yang terlalu abstrak atau jauh dari keseharian murid akan membuat pembelajaran kehilangan makna dan relevansi.

Tahapan awal kegiatan pembelajaran juga kerap kali disepelekan. Padahal, inilah pintu masuk utama yang menentukan kualitas interaksi pembelajarn selanjutnya.

Guru harus mampu membedakan antara apersepsi, pertanyaan pemantik, motivasi, dan penyampaian tujuan pembelajaran. Masing-masing memiliki fungsi psikologis yang berbeda dalam membangun kesiapan dan rasa ingin tahu murid.

Lebih jauh, guru juga harus menjelaskan mengapa topik itu penting untuk dipelajari. Hal ini akan menumbuhkan kesadaran murid atas makna belajar dan meingkatkan keterlibatan optimal bukan hanya karena tuntutan nilai.

Langkah inti pembelajaran tidak bisa disamakan untuk semua topik. Guru wajib menyesuaikan model dengan metode pembelajaran yang tepat. Tidak semua materi cocok dengan ceramah, dan tidak semua topik efektif diajarkan dengan diskusi.

Model pembelajaran seperti problem-based learning, project-based learning, atau inquiry learning bisa menjadi pilihan yang memberi ruang partisipasi aktif murid dan mengaktifkan keterampilan berpikir kritis mereka.

Pada bagian akhir pembelajaran, guru sebaiknya tidak terburu-buru menutup kelas. Kegiatan penutup yang baik mencakup simpulan dari murid, bukan semata-mata dari guru.

Anak-anak perlu diberikan kesempatan untuk merangkum kembali apa yang mereka dapatkan, berbagi kesan, dan melakukan refleksi.

Kemudian, guru dapat memberikan penegasan ulang dan menjelaskan korelasi antara materi hari ini dengan pembelajaran berikutnya. 

Aktivitas ini akan membantu murid memahami kesinambungan ilmu. Aspek bahasa dalam pembelajaran kerap diabaikan. Padahal sangat krusial dalam membentuk suasana kelas.

Intonasi, artikulasi, jeda, dan nada suara harus disesuaikan dengan tingkat daya tangkap anak. Bahasa yang digunakan guru dapat membangun atau meruntuhkan semangat belajar murid.

Tidak boleh ada kekerasan verbal, seperti membandingkan satu anak dengan yang lain, memberi label negatif, atau menggunakan sindiran. Nama anak pun hanya boleh disebut dalam konteks positif.

Penggunaan contoh dalam pembelajaran perlu diperhatikan dengan cermat. Jika hendak memberikan ilustrasi dari perilaku yang negatif, guru tidak perlu menyebutkan nama anak.

Cukup gambarkan kasusnya secara umum. Sebaliknya, ketika memberikan apresiasi atau menyoroti hal positif, sebutlah nama anak sebagai bentuk penguatan identitas. Ini akan meningkatkan harga diri dan kepercayaan diri murid.

Penampilan guru juga merupakan aspek penting. Penampilan di sini bukan hanya soal pakaian, tetapi mengarah pada penguasaan kelas, penguasaan materi, serta kemampuan merespon sikap-sikap tak terduga dari suanana belajar murid. Guru yang tenang, tanggap, dan sabar akan menciptakan rasa aman dan nyaman.

Penguasaan emosi sangat penting dalam menghadapi dinamika ruang kelas yang tak jarang penuh kejutan.

Guru tidak boleh bersikap reaktif melainkan responsif terhadap perilaku anak. Anak yang tampak mengganggu atau tidak fokus seringkali bukan karena ingin melawan, tetapi karena ada kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi.

Maka, guru perlu mempraktikkan empati dalam berinteraksi. Bertanya dengan lembut, menatap mata anak, atau sekadar memberi senyuman dapat menjadi jembatan yang menyelamatkan suasana kelas.

Mengajar adalah seni yang memadukan ilmu, intuisi, dan cinta. Guru yang baik tidak hanya fokus pada target kurikulum, tetapi juga pada pertumbuhan murid sebagai individu yang utuh.

Ia mengukur keberhasilannya bukan hanya dari nilai ujian, tetapi dari perubahan sikap, kebiasaan belajar, dan semangat murid. Pada hakikatnya, seorang guru memang harus mantap dalam tiga aspek.

Apalagi dalam konteks pembelajaran mendalam. Ketiga aspek itu adalah memahami murid (komptensi, afeksi, dan psikomotorik), menguasahai materi ajar, dan menciptakan cara mengajar di dalam ruang kelas. 

Sebab, pendidikan sejatinya adalah proses humanisasi. Ruang kelas harus menjadi tempat yang memanusiakan, bukan menumbuhkan stres akademik dan tekanan psikologis.

Setiap anak punya cara belajar dan daya serap yang unik. Guru yang menyadari hal ini tidak akan memaksakan satu pendekatan untuk semua, tetapi akan mencari cara yang paling bermakna bagi setiap individu. Menjadi guru sejati bukan hanya tentang menguasai metode, tetapi tentang hadir sepenuh hati. 

Guru perlu terus belajar, merenung, dan mengembangkan diri agar dapat menciptakan ruang kelas yang tidak hanya cerdas, tetapi juga hangat dan bermakna.

Mari membangun kelas sebagai tempat di mana anak-anak merasa dihargai, dicintai, dan didorong untuk menjadi versi terbaik dari dirinya.

Bagi para pendidik, pahami enam aspek krusial dalam pembelajaran, yaitu kuasai materi, perhatikan langkah awal, langkah inti, langkah akhir, bahasa, dan penampilan.

Jadikan ini sebagai pijakan refleksi dan perbaikan berkelanjutan. Sebab di tangan guru yang penuh kesadaran, ruang kelas akan menjadi tempat tumbuhnya peradaban. (MI)




Guru Bela Diri Latih Siswi Kota Kupang, Pemkot Siapkan Program Self Defence

 

 

Kupang,nwartapedia.com  –  Drs. Ambo, seorang guru bela diri dari salah satu perguruan ternama di Kota Kupang, tampak serius melatih dasar-dasar pertahanan diri kepada sejumlah siswi sekolah dasar dan menengah pertama.

Di balik langkahnya ini, Ambo juga dikenal sebagai Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang.

Kegiatan tersebut disebut-sebut sebagai bentuk pengabdian terakhirnya menjelang purnabakti kepada dunia pendidikan di Kota Kupang.

Pelatihan yang dilakukan Ambo menjadi bagian dari persiapan peluncuran program bela diri atau self-defence bagi siswa, khususnya perempuan. Pemerintah Kota Kupang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan akan segera meluncurkan program tersebut dalam waktu dekat.

Program ini merupakan implementasi dari gagasan Wakil Wali Kota Kupang, Serena Francis, yang mendorong penguatan perlindungan bagi anak dan perempuan dari berbagai bentuk kekerasan, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.

“Kita ingin anak-anak perempuan kita tidak hanya cerdas, tapi juga tangguh. Mereka harus memiliki kemampuan dasar untuk melindungi diri dari berbagai bentuk kekerasan dan pelecehan,” ujar Drs Ambo dalam keterangannya pada Selasa (22/7).

Program ini akan menyasar sekolah dasar dan menengah pertama, dengan pelatihan yang dilakukan secara bertahap oleh para pelatih bersertifikat dari berbagai perguruan bela diri di Kota Kupang.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang memastikan bahwa pelaksanaan program ini akan dilakukan secara terukur, dengan memperhatikan aspek keamanan, psikologis, serta nilai-nilai edukatif yang terkandung dalam seni bela diri.

“Ini bukan soal menjadikan mereka petarung, tapi tentang membangun kepercayaan diri, keberanian, dan kesadaran akan keselamatan diri,” ujar Drs. Ambo di sela-sela sesi pelatihan Selasa sore 

Peluncuran program ini diharapkan dapat mendorong lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga sadar dan mampu menjaga keselamatan dirinya dalam kehidupan sehari-hari.(goe)




Pemkot Kupang Akan Luncurkan Program Self-Defence bagi Siswi, Upaya Lindungi Anak dari Kekerasan

 

Kupang,nwartapedia.com  –  Pemerintah Kota Kupang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan akan segera meluncurkan program self-defence atau bela diri bagi siswa, khususnya siswi usia sekolah dasar dan menengah pertama.

Program ini merupakan implementasi dari program kerja Wakil Wali Kota Kupang Serena Francis dalam menjaga anak dan perempuan dari ancaman kekerasan, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Drs. Dumuliahi Djami, mengonfirmasi rencana peluncuran program ini yang dijadwalkan dalam waktu dekat.

Ia menegaskan bahwa langkah ini diambil sebagai bentuk keseriusan pemerintah kota dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan bagi para peserta didik.

“Program self-defence ini menjadi langkah nyata Pemkot Kupang untuk memberikan perlindungan kepada anak-anak, terutama siswi, dari berbagai bentuk kekerasan fisik maupun psikis. Ini sejalan dengan arahan Ibu Wakil Wali Kota agar kita lebih serius dalam membangun sistem perlindungan anak dan perempuan,” ujar Dumuliahi Djami, Selasa (22/7/2025).

Menurut Dumuliahi, pelatihan bela diri yang akan diberikan bukan semata fokus pada teknik fisik, tetapi juga mencakup pembekalan psikoedukatif, seperti penguatan mental, kecerdasan emosional, dan keterampilan untuk mengenali serta menghindari situasi berbahaya.

Program ini akan digelar secara bertahap di sejumlah sekolah, dimulai dari sekolah-sekolah yang memiliki jumlah peserta didik perempuan cukup besar.

Ia menambahkan bahwa konsep self-defence dalam program ini merujuk pada pengertian umum yaitu hak setiap individu untuk membela diri dari ancaman kekerasan atau serangan yang membahayakan.

Dalam implementasinya, program ini akan menggandeng pihak-pihak profesional termasuk pelatih bela diri, psikolog anak, dan lembaga perlindungan perempuan dan anak.

“Anak-anak perlu dibekali bukan hanya kemampuan fisik, tetapi juga pemahaman untuk menjaga diri secara psikis. Mereka harus tahu kapan harus berkata tidak, kapan harus melapor, dan bagaimana menghadapi tekanan yang bisa berdampak pada perkembangan mereka,” tegas Dumuliahi.

Program ini diharapkan dapat menjadi model pencegahan kekerasan berbasis pendidikan yang berkelanjutan.

Selain mendorong keberanian dan kemandirian siswa dalam menghadapi situasi sulit, self-defence juga menjadi upaya membangun budaya sadar perlindungan anak sejak usia dini.

Peluncuran resmi program ini akan diumumkan dalam waktu dekat dan direncanakan turut dihadiri oleh pejabat pemerintah daerah, tenaga pendidik, serta komunitas perlindungan anak di Kota Kupang.(Disdikbud)




SMAK Giovanni Kupang Awali Tahun Ajaran Baru dengan Misa Syukur di Katedral Kristus Raja

 

Kupang,nwartapedia.com  — SMA Katolik Giovanni Kupang mengawali Tahun Ajaran Baru 2025/2026 dengan penuh syukur melalui perayaan Misa di Gereja Katedral Kristus Raja Kupang, Sabtu (19/7) pagi.

Tradisi tahunan ini menjadi momen penting bagi sekolah untuk menyerahkan seluruh proses pendidikan ke dalam penyelenggaraan dan penyertaan Tuhan.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Kepala Sekolah, Romo RD. Stefanus Mau, Pr, didampingi oleh Romo Tomy dan Frater Steven, serta dihadiri oleh seluruh siswa kelas X, XI, dan XII, para guru, pegawai, dan staf SMAK Giovanni Kupang.

Dengan mengusung tema Dengan Cinta Kita Belajar, Dalam Pelayanan Kita Berkarya, dan Melalui Ketaatan Kita Bertumbuh.

Misa pembukaan tahun ajaran ini bukan hanya sekadar seremoni pembuka, tetapi juga menjadi momen refleksi dan peneguhan bahwa seluruh proses belajar-mengajar di SMAK Giovanni berpijak pada nilai-nilai iman Katolik.

“Misa adalah titik awal perjalanan rohani dan intelektual anak-anak kita. Di sini kita menegaskan kembali bahwa belajar adalah bentuk pelayanan, dan ketaatan adalah jalan menuju pertumbuhan sejati,” ujar Romo Stefanus dalam khotbahnya.

Melalui misa ini, SMAK Giovanni ingin menanamkan nilai spiritualitas, kedisiplinan, dan tanggung jawab kepada setiap peserta didik.

Sebagai lembaga pendidikan Katolik, Giovanni berkomitmen untuk membentuk karakter, menumbuhkan iman, serta mempersiapkan generasi muda yang tangguh, cerdas, dan penuh kasih.

Dengan semangat Berkarya dalam Terang Kristus, SMAK Giovanni Kupang meneguhkan langkah di tahun ajaran baru, siap melayani dan mendidik dengan cinta, pelayanan, dan ketaatan.

SMAK Giovanni Kupang — Love. Service. Obedience. ***




Telaah Ekspresif-Simbolis Bahasa Sikka Dialek Krowe

Oleh E. Nong Yonson sebagai Pemerhati Bahasa & Budaya

 

Kupang,nwartapedia.com  –  Bahasa Sikka, terutama dialek Krowe, menjadi salah satu warisan budaya lisan masyarakat Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Sebagai bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan berelasi sehari-hari. Dalam Bahasa Sikka Dialek Krowe tersimpan kekayaan ekspresif-simbolis. 

Ferdinand de Saussure seorang tokoh linguistik struktural terkenal menjelaskan bahwa bahasa adalah sistem tanda (sign) yang terdiri atas signifier (penanda) dan signfied (petanda). Penanda adalah bentuk fisik seperti suara atau tulisan, sedangkan petanda adalah konsep atau makna.

Dengan demikian, bahasa sebagai ekspresi simbolis merujuk pada relasi antara simbol dan makna bukan semata-mata penamaan objek. Ekspresi simbolis bahasa Sikka bermuara pada pencerminan nilai-nilai budaya, kepercayaan, serta struktur sosial masyarakat penuturnya. 

Telaah terhadap bentuk ekspresif-simbolis dalam bahasa ini menjadi bagian yang sangat penting. Tujuannya, untuk memahami cara masyarakat Krowe menyampaikan emosi, identitas, dan makna melalui simbol bahasa.

Bentuk ekspresif dalam Bahasa Sikka Krowe banyak ditemukan dalam tuturan sehari-hari, baik berupa upacara adat, nyanyian rakyat, dan ungkapan tradisional.

Ekspresi ini tidak hanya menyampaikan emosi atau perasaan, tetapi juga memperlihatkan cara berpikir dan nilai yang dianut masyarakat. Contohnya sebagai berikut.

Sir naha li’i, ga’i naha da’a.

‘Pilihlah pasangan hidup yang tepat.

Ungkapan ini secara simbolis menggambarkan petuah kepada muda-mudi untuk selektif dalam hal pasangan hidup. Sir ‘ pacaran’ dan ga’i ‘mau dengan’. Artinya, dalam usaha untuk mau dengan siapa, melalui pacaran, harus da’a ‘tepat’. Apakah ungkapan ini biasa, tentu tidak.

Ungkapan ini selain memiliki kedalaman makna juga merujuk pada kedekatan emosional antara penyampai pesan dan sasarannya. Sebab, ungkapan ini sekaligus sebagai simbol kedekatan emosional dan tanggung jawab. Tidak elok jika disampaikan oleh seseorang kepada orang lain yang tidak saling mengenal. 

Lanjutan dari ungkapan itu merujuk pada pesan kehati-hatian dan dampak terhadap keberlangsungan hidup.

Lopa sir dena de’a, ga’i dena ‘lebe

Loning du’a naha nora lin, la’i nowa welin

Jangan bercanda, karena perempuan dan laki-laki memiliki nilai’  

Bentuk simbolis-ekspresi ini menonjolkan struktur pesan yang disertai dengan seruan adat berupa larangan dan konsukensianya. Di sini terdapat dualitas simbolik antara ruang kebiasaan muda-mudi dan ruang tradisi kodrat sebagai perempuan dan laki-laki. 

Dalam ungkapan Ekspresi-simbolis, Bahasa Sikka Krowe juga memiliki gaya retorik yang khas. Bentuknya, berupa paralelisme simbol. Contohnya sebagai berikut.

Diri inan tutur, plina aman tatar

‘Patuhi nasihat orang tua’

Diri dan plina merujuk pada makna yang sama, yaitu ‘mendengar/mengikuti’. Sedangkan tutur dan tatar juga bermuara pada maksud yang sama, yaitu ‘pembicaraan/penyampaian’. Ekspesi-simbolis dalam bentuk paralelisme tidak bisa ditukar posisinya juga diganti dengan bentuk yang lain. Selain akan berpengeruh pada makna juga pada estetika dan struktur kalimat.   

Konstruksi paralel ini digunakan untuk menekankan kedalaman rasa dan kesungguhan niat. Kata-kata ini digunakan untuk menegaskan bahwa keputusan yang diambil telah melibatkan seluruh aspek diri: hati, napas, mata, dan darah. Bahasa di sini menjadi alat untuk menyampaikan komitmen kolektif yang sakral.

Dari perspektif linguistik dan semiotik, bentuk-bentuk ekspresif-simbolik ini menunjukkan bahwa Bahasa Sikka Krowe tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sistem makna budaya. Setiap ungkapan bukan hanya memiliki arti denotatif, melainkan konotatif bahkan pesan mendalam yang dipengaruhi oleh konteks budaya dan peradapan.

Telaah ini memperlihatkan bahwa untuk memahami Bahasa Sikka Krowe secara mendalam, kita perlu melihatnya dalam kerangka hubungan antara ekspresi, simbol, konteks bahasa, dan budaya.

Ekspresi dan simbol yang terkandung dalam bahasa ini merupakan representasi dari gambaran batin dan sistem nilai masyarakat Krowe, yang jika tidak dilestarikan, akan menghilang bersama perubahan realitas kehidupan. ***




Peringati Hari Anak Nasional, Dinas Pendidikan Kota Kupang Gelar Beragam Lomba Kreativitas Anak PAUD

 

Kupang,nwartapedia.com  –  Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli 2025, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang melalui Bidang Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI) serta Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menyelenggarakan serangkaian kegiatan lomba yang melibatkan anak-anak usia dini dari seluruh PAUD se-Kota Kupang.

Kegiatan yang berlangsung selama empat hari ini digelar di salah satu aula hotel di Kota Kupang, dan diikuti secara antusias oleh ratusan anak serta para pendidik PAUD.

Tema utama kegiatan ini adalah mendorong pengembangan kreativitas dan karakter anak sejak usia dini melalui kegiatan yang menyenangkan, mendidik, dan kompetitif.

Ketua panitia kegiatan, Margaretha Dida, S.Sos, saat ditemui di sela-sela kegiatan pada Jumat (18/7), menjelaskan bahwa terdapat empat jenis lomba yang diselenggarakan, yakni lomba mewarnai, lomba bercerita, lomba fashion show untuk peserta didik, serta lomba pembuatan Alat Permainan Edukatif (APE) yang ditujukan bagi para pendidik PAUD.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin memberi ruang kepada anak-anak untuk mengekspresikan potensi mereka secara positif, baik dalam hal kreativitas, keberanian berbicara di depan umum, maupun rasa percaya diri. Sementara untuk para pendidik, lomba pembuatan APE menjadi ajang untuk mengembangkan inovasi dalam menciptakan media pembelajaran yang edukatif dan menyenangkan bagi anak-anak,” ujar Margaretha.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini telah menjadi agenda tahunan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, dan merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini, sekaligus membentuk karakter generasi muda sejak usia dini.

“Kami berharap kegiatan ini dapat menghasilkan kader-kader peserta didik yang cerdas, kreatif, dan berkarakter, serta menumbuhkan semangat belajar dan semangat berkarya sejak dari bangku PAUD,” pungkasnya.(Disdikbud)




SMAK Giovanni Kupang Jajaki Kerja Sama Internasional dengan Alana Kaye College Australia

 

Kupang, nwartapedia.com – SMA Katolik Giovanni Kupang kembali mencatat langkah maju dengan menjajaki kerja sama internasional bersama Alana Kaye College, Australia.

Dalam kunjungan ke SMAK Giovanni Kupang pada Rabu (16/7), CEO Alana Kaye College, Alana Anderson, menyambut baik rencana kemitraan yang digagas sekolah tersebut.

Maria Hebi, staf bidang perguruan tinggi SMAK Giovanni Kupang, mengungkapkan bahwa pihaknya ingin membuka peluang bagi siswa untuk meningkatkan keterampilan melalui program ekstrakurikuler yang relevan dengan kompetensi utama Alana Kaye College.

“Bidang-bidang seperti bangunan dan konstruksi, listrik, kesehatan, dan lainnya yang menjadi keunggulan Alana Kaye College memang belum masuk dalam kurikulum SMA, tetapi sangat mungkin dijadikan sebagai kegiatan ekstrakurikuler,” jelas Maria.

Ia menambahkan bahwa sekolah akan merancang jenis kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan dan sumber daya yang ada, serta mengembangkan teknis pelaksanaannya secara bertahap.

Lebih lanjut, Maria menyampaikan harapannya agar kerja sama ini dapat menghasilkan lulusan dengan keterampilan bersertifikat standar Alana Kaye College.

“Sertifikat tersebut akan sangat bermanfaat karena diakui di 56 negara anggota Commonwealth, seperti Inggris, Kanada, Australia, Singapura, dan lainnya,” katanya, mengutip penjelasan Alana Anderson.

Di tempat terpisah, Kepala SMAK Giovanni Kupang, Romo Drs. Stefanus Mau, Pr., menyampaikan apresiasi atas kunjungan CEO Alana Kaye College bersama Manager International Operations, David Thomson. Romo Stef menegaskan komitmennya untuk segera menindaklanjuti kerja sama ini secara formal melalui penandatanganan perjanjian.

Dalam kunjungannya ke lingkungan sekolah, Alana Anderson juga menyempatkan diri meninjau kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di aula.

Ia terkesan dengan visi besar para siswa terhadap masa depan serta kemampuan berbahasa Inggris yang mereka tunjukkan dalam sesi tanya jawab.

Di akhir kunjungannya, Alana Anderson berpesan kepada para siswa untuk rajin belajar, disiplin, dan tidak takut menghadapi tantangan demi meraih masa depan yang lebih baik. ***