Undana Pastikan UTBK-SNBT 2026 Berjalan Transparan dan Berkualitas

Kupang, nwartapedia.com – Universitas Nusa Cendana (Undana) menggelar sosialisasi dan pengarahan intensif bagi pengawas Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 di Aula Rektorat, Kamis (17/4/2026).

Langkah strategis ini dilakukan untuk memastikan pelaksanaan ujian skala nasional tersebut berjalan optimal, transparan, dan memenuhi standar pelayanan profesional.

Kegiatan ini melibatkan seluruh jajaran pengawas serta pimpinan unit kerja yang bertanggung jawab dalam pendampingan teknis di ruang ujian.

Selain membedah prosedur operasional standar (SOP), para petugas juga dibekali protokol penanganan kendala darurat serta penguatan integritas guna mencegah potensi kecurangan selama ujian berlangsung serentak di seluruh Indonesia.

Rektor Universitas Nusa Cendana, Jefri S. Bale, dalam arahannya secara daring menekankan bahwa UTBK sebagai seleksi tingkat nasional menuntut akuntabilitas tinggi dari setiap personel yang terlibat. Menurutnya, kualitas layanan kepada calon mahasiswa harus menjadi prioritas utama.

“Ini adalah mandat nasional yang menyangkut masa depan calon mahasiswa. Seluruh proses harus berjalan sesuai standar tinggi dengan penuh tanggung jawab. Profesionalisme pengawas menjadi kunci integritas ujian ini,” tegasnya.

Senada dengan itu, Wakil Rektor Bidang Akademik Undana, Annytha I.R. Detha, menyampaikan bahwa kegiatan sosialisasi ini bertujuan menyamakan persepsi antara pengawas dan teknisi di lapangan. Pemahaman yang seragam dinilai penting untuk meminimalisasi risiko kesalahan teknis.

“Koordinasi yang solid dan ketelitian petugas menjadi faktor utama kelancaran UTBK. Kami ingin seluruh pengawas benar-benar memahami peran mereka agar ujian berlangsung tertib sesuai prosedur,” jelasnya.

Selain kesiapan teknis, aspek pengawasan juga menjadi perhatian utama. Para pengawas diingatkan untuk bertindak tegas namun tetap humanis dalam menegakkan tata tertib, demi menciptakan suasana ujian yang adil dan kondusif bagi seluruh peserta.

Dengan persiapan yang semakin matang di tingkat pengawas, Universitas Nusa Cendana menyatakan kesiapan penuh dalam menyelenggarakan UTBK-SNBT 2026 secara akuntabel dan berintegritas.

Sinergi seluruh panitia diharapkan mampu menghadirkan pengalaman ujian yang aman, tertib, dan berkualitas bagi calon intelektual muda Indonesia. *




Pengalaman Siswa SMAN 1 Amarasi Barat Usai Ujian Proyek: Dari Rasa Takut Jadi Percaya Diri

Kupang, nwartapedia.com  — Pelaksanaan ujian sekolah berbasis proyek di SMA Negeri 1 Amarasi Barat tidak hanya menjadi ajang evaluasi akademik, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam bagi para siswa yang menjalaninya.

Sejumlah siswa berbagi pengalaman mereka setelah mengikuti ujian tersebut, yang dinilai mampu membentuk karakter sekaligus meningkatkan kepercayaan diri.

Salah satu siswa kelas XII, Isna Nepa Burini, mengaku bahwa ujian berbasis proyek menjadi momen penting dalam perjalanan pendidikannya.

Ia menilai proses yang dijalani bukan sekadar ujian, tetapi bagian dari pembelajaran yang membentuk mental dan kemampuan diri.

“Ini bukan beban, tetapi bagian dari proses pembelajaran. Saya yang dulunya pemalu, sekarang bisa lebih berani tampil dan percaya diri,” ungkap Isna kepada media ini, Jumat (17/4/2026).

Ia menjelaskan, seluruh tahapan ujian telah dipersiapkan sejak lama, mulai dari penentuan topik, penelitian lapangan, hingga penyusunan karya tulis ilmiah.

Menariknya, dalam presentasi, Isna memilih menggunakan bahasa Inggris sebagai bentuk pembuktian kemampuan diri.

“Saya ingin menunjukkan bahwa walaupun kami dari Amarasi Barat, kami juga mampu bersaing dan menggunakan bahasa Inggris dengan baik,” ujarnya.

Isna juga mengungkapkan cita-citanya untuk melanjutkan pendidikan ke Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Ia pun berpesan kepada adik-adik kelas agar terus percaya diri dan tidak ragu mengembangkan potensi yang dimiliki.

“Setiap orang punya potensi. Tinggal bagaimana kita berani mengembangkan dan percaya pada diri sendiri,” tambahnya.

Hal senada disampaikan siswa lainnya, Maria Bait Tnunai, yang mengaku awalnya merasa ragu menghadapi ujian. Namun, berkat dukungan dari orang tua, guru, dan teman-teman, ia mampu melewati proses tersebut dengan baik.

“Ujian ini sangat membantu kami untuk belajar seperti menyusun skripsi dan menghadapi tantangan ke depan. Kami juga belajar menyelesaikan masalah secara mandiri,” katanya.

Maria juga menyoroti berbagai tantangan selama proses penelitian lapangan, seperti kesulitan menemukan narasumber.

Namun, dari pengalaman tersebut, ia dan teman-temannya belajar tentang kesabaran dan ketekunan.

Ia mengaku bangga dengan inovasi yang diterapkan sekolah, karena tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga membentuk karakter siswa secara menyeluruh.

“Yang paling berkesan adalah kehadiran orang tua. Itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami,” tuturnya.

Dengan berakhirnya ujian berbasis proyek ini, SMA Negeri 1 Amarasi Barat kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan inovasi pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga menekankan proses serta pembentukan karakter siswa sebagai bekal menghadapi masa depan. (MI)




Ujian Proyek SMAN 1 Amarasi Barat Berakhir, Kepala Sekolah Soroti Peningkatan Kepercayaan Diri Siswa

Kupang nwartapedia.com  —  Pelaksanaan ujian sekolah berbasis proyek di SMA Negeri 1 Amarasi Barat resmi memasuki hari terakhir, Jumat (17/4/2026).

Kepala sekolah, Thomas Doni, S.Pd., MM, menyampaikan bahwa model ujian ini membawa dampak positif, meski diakui masih terdapat sejumlah tantangan.

Saat ditemui di ruang kerjanya, Thomas mengungkapkan bahwa salah satu kendala utama adalah kesiapan mental siswa, khususnya dalam hal keberanian berbicara di depan umum.

“Awalnya memang ada siswa yang masih minder dan takut tampil. Tapi dengan pendampingan guru pembimbing dan moderator, mereka akhirnya mampu melewati proses ini dengan baik dan percaya diri,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam ujian ini, setiap siswa diuji oleh dua penguji dan didampingi satu moderator. Selain itu, presentasi juga disaksikan oleh teman sekelas dan orang tua yang hadir langsung di dalam ruangan.

“Setiap hari ada enam siswa yang presentasi. Orang tua kami libatkan untuk duduk di belakang anaknya sebagai bentuk dukungan moral. Ini menjadi motivasi besar bagi siswa,” jelasnya.

Salah satu momen yang paling berkesan, menurut Thomas, terjadi ketika seorang siswa menangis haru karena untuk pertama kalinya orang tuanya hadir menyaksikan ujian.

“Ada siswa yang mengatakan selama tiga tahun sekolah, orang tuanya tidak pernah hadir. Tapi saat ujian ini, orang tuanya datang. Itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi siswa tersebut,” ungkapnya.

Meski demikian, ia juga mengakui masih ada kendala teknis, seperti keseragaman penulisan karya ilmiah serta keterbatasan fasilitas, di mana sebagian siswa belum memiliki perangkat seperti laptop.

Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat siswa untuk tetap mengikuti ujian hingga selesai.

“Semua siswa tetap berpartisipasi penuh. Bahkan yang sudah ujian di hari pertama tetap hadir untuk mendukung teman-temannya. Ini menunjukkan semangat kebersamaan yang luar biasa,” tambahnya.

Thomas juga menegaskan bahwa sekolah akan melakukan evaluasi melalui angket yang dibagikan kepada siswa guna menyempurnakan pelaksanaan di tahun berikutnya.

Ia berharap konsep “rumah belajar” yang selama ini diterapkan di sekolah dapat terus mempererat hubungan antara sekolah, siswa, dan orang tua.

“Kami ingin sekolah ini bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga menjadi rumah bagi siswa dan orang tua,” katanya. (MI)




Camat Amarasi Barat Apresiasi Ujian Sekolah Berbasis Proyek di SMAN 1 Amarasi Barat

Kupang nwartapedia.com  –  Camat Amarasi Barat, Desy L. Tupa, S.STP melakukan kunjungan ke SMA Negeri 1 Amarasi Barat pada Jumat (17/4/2026) dan memberikan apresiasi atas pelaksanaan Ujian Sekolah Berbasis Proyek (USBP) yang dinilai inovatif dan berdampak positif bagi siswa.

 

Dalam kunjungannya, Desy menyampaikan penghargaan kepada kepala sekolah, dewan guru, serta orang tua siswa yang telah bekerja sama secara maksimal dalam mendukung proses pembelajaran hingga pelaksanaan ujian berbasis proyek tersebut.

“Sebagai pemerintah kecamatan, kami sangat mengapresiasi kerja keras para guru, kepala sekolah, dan orang tua murid. Ini adalah langkah maju dalam dunia pendidikan, karena siswa tidak hanya diuji secara teori, tetapi juga melalui praktik nyata yang menjadi bekal penting untuk masa depan mereka,” ujarnya.

Ia berharap pengalaman yang diperoleh siswa melalui ujian berbasis proyek ini dapat menjadi fondasi kuat, baik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

Camat Desy juga memberikan motivasi langsung kepada para siswa agar terus membentuk karakter yang baik.

Ia mengingatkan pentingnya kecerdasan, sikap religius, serta penghormatan kepada guru dalam menempuh pendidikan.

“Ingat, harus jadi anak yang pintar, takut akan Tuhan, dan hormat pada guru,” pesannya di hadapan para siswa.

Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Amarasi Barat, Thomas Doni, S.Pd., MM, menjelaskan bahwa konsep ujian berbasis proyek ini dirancang menyerupai penulisan semi-skripsi.

Program tersebut telah dipersiapkan sejak Oktober 2025, di mana para siswa mulai melakukan penelitian sederhana di desa-desa.

“Kami memberikan topik kepada siswa melalui sistem undian, kemudian mereka turun langsung ke lapangan untuk mengumpulkan data. Proses ini berlangsung dari Oktober hingga Januari,” jelasnya.

Setelah tahap pengumpulan data, siswa mulai menyusun laporan secara bertahap layaknya skripsi, dimulai dari Bab I hingga proses konsultasi dengan guru pembimbing. Seluruh rangkaian penulisan diselesaikan pada akhir Maret 2026.

“Ujian berbasis proyek ini dilaksanakan pada 13 hingga 17 April, di mana siswa mempresentasikan hasil penelitian mereka di hadapan penguji, teman sekelas, dan juga orang tua,” tambah Thomas.

Menurutnya, inovasi ini bertujuan membekali siswa dengan kemampuan menulis ilmiah dan berpikir kritis sejak dini, sehingga mereka tidak mengalami kesulitan saat menghadapi tugas akhir di perguruan tinggi.

Ia juga menekankan bahwa model pembelajaran ini telah disosialisasikan kepada orang tua siswa sejak dua tahun terakhir, termasuk saat siswa melakukan penelitian lapangan dengan membawa surat resmi dari sekolah.

“Ini bukan sekadar ujian, tetapi juga proses pembelajaran menyeluruh. Kami ingin siswa memiliki kesiapan mental, akademik, dan pengalaman sebelum melangkah ke jenjang berikutnya,” ungkapnya.

Menariknya, pelaksanaan ujian ini melibatkan dua penguji untuk setiap siswa, serta dihadiri oleh teman sekelas dan orang tua, sehingga menciptakan suasana akademik yang terbuka sekaligus mempererat hubungan antara sekolah dan keluarga.

SMAN 1 Amarasi Barat menjadi salah satu sekolah di Kabupaten Kupang yang menerapkan inovasi ujian berbasis proyek, sebagai upaya meningkatkan kualitas lulusan dan menjawab tantangan pendidikan di masa depan. (MI)




Undana Raih Pendanaan Riset Nasional 2026, Perkuat Inovasi dan Pemberdayaan Berbasis Lokal

Kupang, nwartapedia.com  – Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali mencatatkan capaian strategis di tingkat nasional dengan lolosnya sejumlah proposal dosen dalam program pendanaan tahun anggaran 2026 yang diselenggarakan oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM).

Pendanaan tersebut mencakup skema penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), serta Riset Konsorsium Unggulan Berdampak (RIKUB).

Capaian ini menegaskan konsistensi Undana dalam mendorong pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus memperkuat kontribusi nyata bagi masyarakat, khususnya di Nusa Tenggara Timur.

Pada skema PkM, program yang didanai berfokus pada hilirisasi inovasi dan penguatan ekonomi lokal.

Di antaranya pengolahan limbah biji alpukat menjadi teh herbal di Desa Oelbubuk oleh Maria Prudensiana Leda Muga, pemanfaatan limbah kemiri menjadi briket di Kabupaten Kupang oleh Ni Putu Nursiani, serta pengembangan akuakultur berbasis pemasaran digital oleh Immaria Fransira.

Selain itu, program ketahanan pangan terintegrasi di Rote Ndao yang dipimpin Verdy Ariyanto Koehuan turut memperkuat sektor peternakan dan pertanian.

Di bidang penelitian, tema yang diangkat mencakup isu-isu strategis, seperti konservasi sapi lokal oleh Ni Made Paramita Setyani, manajemen risiko komunikasi bencana oleh Petrus Ana Andung, inovasi teknologi pengolahan air oleh Remigildus Cornelis, serta kajian ekonomi berkelanjutan UMKM rumput laut oleh Emilia Gie.

Kepala LP2M Undana, Yosep Seran Mau, menyatakan bahwa capaian ini mencerminkan semakin meratanya budaya riset di lingkungan kampus lintas disiplin ilmu.

Menurutnya, penguatan bidang pertanian dan peternakan tetap menjadi prioritas, sejalan dengan karakteristik wilayah, namun kini didukung oleh kontribusi sektor teknik, kesehatan, dan ekonomi.

Sementara itu, pada skema RIKUB, proposal yang dipimpin Antonius R B Ola berhasil memperoleh pendanaan sebesar Rp551,56 juta.

Riset tersebut mengembangkan bio-preservatif berbasis mikroorganisme lokal untuk mendukung industri krustasea nasional.

Capaian ini diharapkan semakin memperkuat peran Undana sebagai pusat pengembangan riset terapan yang adaptif, inovatif, dan berdampak langsung bagi pembangunan daerah maupun nasional. (Ing)




Undana dan Yayasan Maringgi Malala Rintis Kampus Pariwisata di Sumba Barat Daya

Kupang, nwartapedia.com – Universitas Nusa Cendana (Undana) membuka peluang kolaborasi strategis bersama Yayasan Maringgi Malala dalam upaya menghadirkan perguruan tinggi berbasis pariwisata di Sumba Barat Daya.

Inisiatif ini menjadi langkah konkret untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja profesional di sektor pariwisata sekaligus mengangkat potensi unggulan Pulau Sumba.

Audiensi yang berlangsung di Kupang pada Selasa (14/4/2026) tersebut mempertemukan jajaran pimpinan Undana yang dipimpin Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. drh. Annytha I. R. Detha, bersama tim Biro Perencanaan dan Kerja Sama. Dari pihak yayasan hadir langsung Ketua Yayasan Maringgi Malala, Yonatan B. Agu Ate.

Dalam pertemuan itu, pihak Undana menegaskan kesiapan mereka untuk terlibat aktif dalam proses pengembangan institusi, mulai dari pendampingan akademik hingga penguatan sistem pembelajaran.

Dukungan tersebut diharapkan mampu memastikan kualitas pendidikan yang selaras dengan kebutuhan industri pariwisata.

Prof. Annytha menyampaikan bahwa potensi pariwisata di Sumba Barat Daya sangat besar, namun perlu didukung oleh sumber daya manusia yang terampil dan terdidik. Karena itu,

Undana siap mengambil peran dalam memperkuat fondasi akademik, termasuk mendorong pembentukan tim khusus guna mempercepat realisasi program setelah kesepakatan formal ditetapkan.

Di sisi lain, Yonatan B. Agu Ate menyoroti masih rendahnya angka partisipasi pendidikan tinggi di wilayah Sumba Barat Daya.

Ia mengungkapkan bahwa sebagian besar lulusan sekolah kejuruan pariwisata belum melanjutkan ke jenjang universitas, sehingga berdampak pada minimnya tenaga lokal yang mampu bersaing di sektor tersebut.

Menurutnya, kehadiran kampus pariwisata akan membuka akses pendidikan yang lebih dekat dan relevan bagi masyarakat setempat.

Hal ini diharapkan dapat mendorong lahirnya tenaga kerja profesional dari putra daerah yang mampu mengisi peran strategis dalam industri pariwisata.

Kolaborasi ini juga menjadi bagian dari komitmen Undana sebagai kampus yang berorientasi pada dampak nyata bagi masyarakat.

Dengan pengembangan pendidikan tinggi di bidang pariwisata, diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas SDM, tetapi juga memperkuat ekonomi lokal melalui pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan dan berbasis potensi daerah.*




Raih Doktor di Undana, Frans Likadja Tawarkan Solusi Energi untuk Wilayah Kepulauan

Kupang, nwartapedia.com – Program Studi Doktor Ilmu Administrasi FISIP Universitas Nusa Cendana kembali melahirkan doktor baru. Frans J. Likadja resmi dikukuhkan sebagai doktor ke-45 setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam sidang terbuka promosi doktor yang digelar di Aula FISIP Undana, Senin (13/4/2026).

Dalam disertasinya, Frans mengangkat isu strategis mengenai ketahanan energi di wilayah kepulauan kecil, dengan fokus pada kondisi di Nusa Tenggara Timur yang hingga kini masih menghadapi ketimpangan akses listrik. Ia secara khusus menyoroti Pulau Semau, di mana sebagian masyarakat masih bergantung pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang berbiaya tinggi dan berdampak besar terhadap lingkungan.

Sebagai solusi, Frans menawarkan penerapan sistem smart hybrid microgrid berbasis energi surya yang dioperasikan secara paralel dengan PLTD. Sistem ini mampu memproduksi rata-rata 1.800 kWh energi per hari, menghemat penggunaan bahan bakar hingga 540 liter solar, serta berkontribusi dalam menekan emisi gas rumah kaca (GRK).

Menurutnya, inovasi teknologi tersebut tidak hanya berdampak pada efisiensi energi, tetapi juga berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penyediaan listrik yang lebih terjangkau dan berkelanjutan.

Namun demikian, Frans menekankan bahwa keberhasilan transisi energi tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. Diperlukan kebijakan yang inklusif, tata kelola yang efektif, serta keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap tahap implementasi.

“Transisi energi di wilayah kepulauan harus berbasis pada kebutuhan lokal dan didukung oleh kebijakan yang tepat, agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Nusa Cendana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng, memberikan apresiasi atas capaian akademik tersebut.

Ia mengingatkan bahwa gelar doktor bukan sekadar pencapaian akademis, melainkan amanah untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

“Ilmu yang dimiliki harus memberi manfaat sebesar-besarnya, khususnya bagi masyarakat NTT. Utamakan empati dan pengabdian dalam setiap langkah,” pesannya.

Dengan pengukuhan ini, hasil penelitian Dr. Frans J. Likadja diharapkan dapat menjadi rujukan strategis bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan energi terbarukan, terutama di wilayah kepulauan yang sulit dijangkau jaringan listrik konvensional, demi mendorong pembangunan yang lebih merata dan berkelanjutan di Nusa Tenggara Timur. *




Undana Kukuhkan Tiga Guru Besar Baru, Perkuat Benteng Akademik di Tengah Tantangan AI

Kupang, nwartapedia.com — Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali mempertegas komitmennya dalam penguatan kualitas akademik dengan mengukuhkan tiga guru besar baru dalam Sidang Senat Terbuka yang berlangsung di Grha Cendana, Kupang, Rabu (8/4/2026).

Pengukuhan ini menambah jumlah profesor di Undana menjadi 79 orang. Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., menyebut capaian tersebut sebagai langkah strategis dalam memperkokoh “benteng akademik” kampus di tengah dinamika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tiga akademisi yang resmi dikukuhkan sebagai guru besar yakni Prof. Dr. Linda W. Fanggidae, S.T., M.T. sebagai pakar Arsitektur dan Perilaku, Prof. Dr. Drs. Wiliam Djani, M.Si. sebagai pakar Reformasi Kebijakan Pembangunan Kesehatan, serta Prof. Zakaria Seba Ngara, Ph.D. sebagai pakar Fisika Material.

Dalam sambutannya, Rektor Undana menyoroti fenomena meningkatnya penggunaan Artificial Intelligence (AI) di kalangan mahasiswa. Ia mengingatkan bahwa meskipun AI mampu mengolah data secara cepat, peran manusia—khususnya guru besar—tetap tidak tergantikan.

“AI mungkin unggul dalam mengolah data, tetapi guru besar memiliki dimensi yang tidak dimiliki teknologi, yakni hati nurani, emosi, dan kepekaan terhadap konteks lokal. Di sinilah peran penting guru besar dalam membimbing mahasiswa menjadi pemikir yang kritis dan bermakna,” tegasnya.

Hal senada juga disampaikan Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, S.Si., Apt., yang menyambut baik bertambahnya guru besar di Undana. Ia menilai kepakaran para profesor sangat dibutuhkan untuk mendukung pembangunan daerah, mulai dari sektor infrastruktur, kesehatan, hingga pengembangan energi baru.

Prosesi pengukuhan turut diwarnai dengan orasi ilmiah dari masing-masing profesor yang mengangkat isu-isu strategis berbasis kebutuhan lokal.

Di bidang arsitektur, Prof. Linda W. Fanggidae menyoroti pentingnya pendekatan desain berbasis perilaku manusia. Ia mengkritisi kegagalan sejumlah desain modern yang mengabaikan aspek sosial, serta mencontohkan bagaimana ruang-ruang sederhana di NTT justru mampu menjadi pusat interaksi sosial karena selaras dengan kebutuhan masyarakat.

Sementara itu, Prof. Wiliam Djani mengulas persoalan stunting dari perspektif kebijakan publik. Ia menegaskan bahwa tantangan utama bukan hanya keterbatasan anggaran, tetapi lemahnya koordinasi antar lembaga. Ia pun mendorong pendekatan baru yang menempatkan masyarakat sebagai subjek utama pembangunan, dengan pemerintah berperan sebagai fasilitator.

Di bidang sains, Prof. Zakaria Seba Ngara memperkenalkan inovasi karbon nanodots (K-dots) yang dikembangkan dari bahan organik lokal seperti kulit buah naga dan lengkuas. Teknologi ini dinilai potensial untuk meningkatkan produktivitas pertanian, khususnya pada tanaman kacang-kacangan, sekaligus menjadi solusi alternatif dalam menghadapi tantangan energi dan pangan.

Bagi Prof. Zakaria, momen pengukuhan ini memiliki makna personal yang mendalam. Ia mengungkapkan bahwa di tengah perjuangannya menghadapi kondisi kesehatan, capaian ini menjadi motivasi untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi bagi kemanusiaan.

Melalui pengukuhan tiga guru besar ini, Undana menegaskan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan harus tetap berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan dan relevansi terhadap kebutuhan masyarakat lokal.

“Ilmu pengetahuan tidak boleh menjauhkan kita dari nilai kemanusiaan. Justru sebaliknya, harus menjadi alat untuk menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat,” menjadi pesan kuat yang mengemuka dalam momentum akademik tersebut. *




Transformasi Penilaian Akhir, Thomas Doni Ungkap SMAN 1 Amarasi Barat Gunakan Ujian Berbasis Karya Ilmiah

Kupang, nwartapedia.com — SMAN 1 Amarasi Barat terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan melalui inovasi sistem evaluasi pembelajaran. Sekolah ini kini menerapkan Ujian Sekolah berbasis proyek bagi siswa kelas XII sebagai bagian dari transformasi penilaian akhir yang lebih komprehensif.

Kebijakan tersebut dinilai menjadi langkah strategis dalam membangun kompetensi akademik sekaligus membentuk karakter peserta didik secara menyeluruh.

Kepala SMAN 1 Amarasi Barat, Thomas Doni, S.Pd., MM, mengungkapkan bahwa penerapan sistem ini telah berjalan selama dua tahun terakhir dan memberikan dampak positif terhadap proses belajar siswa.

“Selama ini kita tidak lagi menggunakan pola ujian konvensional berbasis soal. Sebagai gantinya, siswa diwajibkan menyusun karya tulis ilmiah sebagai bentuk penilaian akhir,” jelasnya saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (9/4/2026).

Menurutnya, pendekatan ini dirancang untuk mendorong siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran, tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga pada proses berpikir dan pemahaman.

“Melalui metode ini, siswa dilatih untuk berpikir kritis, menganalisis persoalan, serta meningkatkan kemampuan literasi melalui penelitian sederhana yang kontekstual dengan kehidupan mereka,” ujarnya.

Sebanyak 136 siswa kelas XII terlibat dalam program ini dan dibagi dalam kelompok bimbingan kecil. Setiap guru membimbing antara tiga hingga enam siswa guna memastikan proses penelitian dan penulisan berjalan efektif.

Proses penyusunan karya tulis dimulai sejak Oktober 2025 dan rampung pada akhir Maret 2026. Setiap siswa diwajibkan menyerahkan karya tulis dalam tiga rangkap sebagai bagian dari kelengkapan ujian.

Tahapan selanjutnya adalah presentasi karya ilmiah yang dijadwalkan berlangsung pada 13 hingga 18 April 2026. Sistem ini mengadopsi pola sidang ilmiah, di mana siswa memaparkan serta mempertanggungjawabkan hasil penelitiannya di hadapan tim penguji.

“Dari presentasi itu, kami dapat menilai sejauh mana pemahaman siswa terhadap karya yang mereka susun, sekaligus mengukur kesiapan mental mereka dalam menyampaikan gagasan,” terang Thomas.

Nilai dari presentasi tersebut kemudian akan diintegrasikan dengan hasil ujian teori yang telah dilaksanakan sebelumnya, sehingga menghasilkan penilaian akhir yang lebih komprehensif dan terukur.

Dalam pelaksanaannya, sekolah turut melibatkan empat pengawas dari Dinas Pendidikan Provinsi NTT sebagai penguji eksternal, sementara 22 guru internal berperan sebagai pembimbing. Secara keseluruhan, sekolah ini didukung oleh 35 tenaga pendidik dan lima tenaga kependidikan.

Thomas menegaskan bahwa penelitian yang dilakukan siswa dirancang sederhana dan berbasis lingkungan sekitar, sehingga tidak membebani siswa secara finansial.

“Kami arahkan agar topik penelitian tetap dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa, sehingga tidak membutuhkan biaya besar. Umumnya hanya untuk pengetikan dan pencetakan karya tulis,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa sistem ini tidak hanya berorientasi pada nilai akhir, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kesiapan siswa menghadapi jenjang pendidikan berikutnya.

“Kami ingin memastikan siswa siap secara akademik maupun mental. Pengalaman ini diharapkan menjadi bekal penting saat mereka melanjutkan ke perguruan tinggi,” tambahnya.

Di sisi lain, sekolah juga mengakui masih terdapat sejumlah kendala, terutama terkait keterbatasan sarana pendukung seperti komputer dan akses layanan percetakan, mengingat lokasi sekolah yang relatif jauh dari pusat kota.

Sebagai solusi, pihak sekolah menyediakan fasilitas laboratorium komputer yang dapat dimanfaatkan siswa secara bergantian di luar jam pembelajaran.

Ke depan, evaluasi rutin akan terus dilakukan guna menyempurnakan pelaksanaan ujian berbasis proyek ini.

“Ini merupakan upaya berkelanjutan kami dalam meningkatkan mutu pendidikan. Kami akan terus melakukan pembenahan agar sistem ini semakin efektif dan memberikan manfaat nyata bagi siswa,” tutup Thomas Doni. (MI)




Kerja Sama PT Klinik Olahraga Kupang dengan STKIP Citra Bakti Ngada Perkuat Pengembangan SDM Olahraga

Kupang, nwartapedia.com – Direktur PT Klinik Olahraga Kupang, Dr. Frans Sales, M.Pd., M.M, menilai kerja sama antara STKIP Citra Bakti Ngada dan PT Klinik Olahraga Kupang sebagai langkah strategis dalam mendorong kemajuan pendidikan serta pengembangan sumber daya manusia di bidang keolahragaan.

Kepada media ini, Frans Sales menyampaikan bahwa kolaborasi tersebut merupakan momentum penting yang dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan STKIP Citra Bakti Ngada di masa depan.

“Ini merupakan langkah berani dan sangat strategis demi kemajuan masa depan STKIP. Semangat kolaborasi yang dibangun melalui PKS ini menjadi momentum strategis, sekaligus inovasi dan investasi bagi kemajuan STKIP Citra Bakti Ngada,” ujar Frans Sales.

Penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) tersebut berlangsung di kantor PT Klinik Olahraga Kupang pada Kamis, 12 Maret 2026.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan lembaga profesional dalam pengembangan ilmu keolahragaan.

Menurut Frans Sales, kerja sama tersebut juga menjadi spirit bagi PT Klinik Olahraga Kupang untuk terus memperluas jaringan kemitraan dengan berbagai pihak dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang olahraga.

“Kerja sama ini juga menjadi semangat bagi kami di PT Klinik Olahraga Kupang untuk terus melakukan ekspansi dan menjalin kolaborasi dengan berbagai institusi guna menciptakan SDM tenaga keolahragaan yang berkualitas, profesional, dan berdaya saing global,” tambahnya.

Dari pihak STKIP Citra Bakti Ngada, penandatanganan kerja sama mendapat dukungan dari pimpinan kampus dan yayasan.

Dalam kegiatan tersebut, pihak kampus diwakili oleh dosen Prodi PJKR Obet Kleden, S.Pd., M.Or yang juga sebagai Kepala Pusat Jaminan Mutu dan Akreditasi STKIP Citra Bakti Ngada

Melalui kolaborasi ini, kedua pihak berharap dapat memperkuat kerja sama dalam bidang pendidikan, penelitian, pelatihan, serta pengembangan kompetensi sumber daya manusia di bidang keolahragaan. (MI)