Camat Amarasi Barat Apresiasi Ujian Sekolah Berbasis Proyek di SMAN 1 Amarasi Barat

Kupang nwartapedia.com  –  Camat Amarasi Barat, Desy L. Tupa, S.STP melakukan kunjungan ke SMA Negeri 1 Amarasi Barat pada Jumat (17/4/2026) dan memberikan apresiasi atas pelaksanaan Ujian Sekolah Berbasis Proyek (USBP) yang dinilai inovatif dan berdampak positif bagi siswa.

 

Dalam kunjungannya, Desy menyampaikan penghargaan kepada kepala sekolah, dewan guru, serta orang tua siswa yang telah bekerja sama secara maksimal dalam mendukung proses pembelajaran hingga pelaksanaan ujian berbasis proyek tersebut.

“Sebagai pemerintah kecamatan, kami sangat mengapresiasi kerja keras para guru, kepala sekolah, dan orang tua murid. Ini adalah langkah maju dalam dunia pendidikan, karena siswa tidak hanya diuji secara teori, tetapi juga melalui praktik nyata yang menjadi bekal penting untuk masa depan mereka,” ujarnya.

Ia berharap pengalaman yang diperoleh siswa melalui ujian berbasis proyek ini dapat menjadi fondasi kuat, baik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

Camat Desy juga memberikan motivasi langsung kepada para siswa agar terus membentuk karakter yang baik.

Ia mengingatkan pentingnya kecerdasan, sikap religius, serta penghormatan kepada guru dalam menempuh pendidikan.

“Ingat, harus jadi anak yang pintar, takut akan Tuhan, dan hormat pada guru,” pesannya di hadapan para siswa.

Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Amarasi Barat, Thomas Doni, S.Pd., MM, menjelaskan bahwa konsep ujian berbasis proyek ini dirancang menyerupai penulisan semi-skripsi.

Program tersebut telah dipersiapkan sejak Oktober 2025, di mana para siswa mulai melakukan penelitian sederhana di desa-desa.

“Kami memberikan topik kepada siswa melalui sistem undian, kemudian mereka turun langsung ke lapangan untuk mengumpulkan data. Proses ini berlangsung dari Oktober hingga Januari,” jelasnya.

Setelah tahap pengumpulan data, siswa mulai menyusun laporan secara bertahap layaknya skripsi, dimulai dari Bab I hingga proses konsultasi dengan guru pembimbing. Seluruh rangkaian penulisan diselesaikan pada akhir Maret 2026.

“Ujian berbasis proyek ini dilaksanakan pada 13 hingga 17 April, di mana siswa mempresentasikan hasil penelitian mereka di hadapan penguji, teman sekelas, dan juga orang tua,” tambah Thomas.

Menurutnya, inovasi ini bertujuan membekali siswa dengan kemampuan menulis ilmiah dan berpikir kritis sejak dini, sehingga mereka tidak mengalami kesulitan saat menghadapi tugas akhir di perguruan tinggi.

Ia juga menekankan bahwa model pembelajaran ini telah disosialisasikan kepada orang tua siswa sejak dua tahun terakhir, termasuk saat siswa melakukan penelitian lapangan dengan membawa surat resmi dari sekolah.

“Ini bukan sekadar ujian, tetapi juga proses pembelajaran menyeluruh. Kami ingin siswa memiliki kesiapan mental, akademik, dan pengalaman sebelum melangkah ke jenjang berikutnya,” ungkapnya.

Menariknya, pelaksanaan ujian ini melibatkan dua penguji untuk setiap siswa, serta dihadiri oleh teman sekelas dan orang tua, sehingga menciptakan suasana akademik yang terbuka sekaligus mempererat hubungan antara sekolah dan keluarga.

SMAN 1 Amarasi Barat menjadi salah satu sekolah di Kabupaten Kupang yang menerapkan inovasi ujian berbasis proyek, sebagai upaya meningkatkan kualitas lulusan dan menjawab tantangan pendidikan di masa depan. (MI)




Undana Raih Pendanaan Riset Nasional 2026, Perkuat Inovasi dan Pemberdayaan Berbasis Lokal

Kupang, nwartapedia.com  – Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali mencatatkan capaian strategis di tingkat nasional dengan lolosnya sejumlah proposal dosen dalam program pendanaan tahun anggaran 2026 yang diselenggarakan oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM).

Pendanaan tersebut mencakup skema penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), serta Riset Konsorsium Unggulan Berdampak (RIKUB).

Capaian ini menegaskan konsistensi Undana dalam mendorong pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus memperkuat kontribusi nyata bagi masyarakat, khususnya di Nusa Tenggara Timur.

Pada skema PkM, program yang didanai berfokus pada hilirisasi inovasi dan penguatan ekonomi lokal.

Di antaranya pengolahan limbah biji alpukat menjadi teh herbal di Desa Oelbubuk oleh Maria Prudensiana Leda Muga, pemanfaatan limbah kemiri menjadi briket di Kabupaten Kupang oleh Ni Putu Nursiani, serta pengembangan akuakultur berbasis pemasaran digital oleh Immaria Fransira.

Selain itu, program ketahanan pangan terintegrasi di Rote Ndao yang dipimpin Verdy Ariyanto Koehuan turut memperkuat sektor peternakan dan pertanian.

Di bidang penelitian, tema yang diangkat mencakup isu-isu strategis, seperti konservasi sapi lokal oleh Ni Made Paramita Setyani, manajemen risiko komunikasi bencana oleh Petrus Ana Andung, inovasi teknologi pengolahan air oleh Remigildus Cornelis, serta kajian ekonomi berkelanjutan UMKM rumput laut oleh Emilia Gie.

Kepala LP2M Undana, Yosep Seran Mau, menyatakan bahwa capaian ini mencerminkan semakin meratanya budaya riset di lingkungan kampus lintas disiplin ilmu.

Menurutnya, penguatan bidang pertanian dan peternakan tetap menjadi prioritas, sejalan dengan karakteristik wilayah, namun kini didukung oleh kontribusi sektor teknik, kesehatan, dan ekonomi.

Sementara itu, pada skema RIKUB, proposal yang dipimpin Antonius R B Ola berhasil memperoleh pendanaan sebesar Rp551,56 juta.

Riset tersebut mengembangkan bio-preservatif berbasis mikroorganisme lokal untuk mendukung industri krustasea nasional.

Capaian ini diharapkan semakin memperkuat peran Undana sebagai pusat pengembangan riset terapan yang adaptif, inovatif, dan berdampak langsung bagi pembangunan daerah maupun nasional. (Ing)




Undana dan Yayasan Maringgi Malala Rintis Kampus Pariwisata di Sumba Barat Daya

Kupang, nwartapedia.com – Universitas Nusa Cendana (Undana) membuka peluang kolaborasi strategis bersama Yayasan Maringgi Malala dalam upaya menghadirkan perguruan tinggi berbasis pariwisata di Sumba Barat Daya.

Inisiatif ini menjadi langkah konkret untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja profesional di sektor pariwisata sekaligus mengangkat potensi unggulan Pulau Sumba.

Audiensi yang berlangsung di Kupang pada Selasa (14/4/2026) tersebut mempertemukan jajaran pimpinan Undana yang dipimpin Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. drh. Annytha I. R. Detha, bersama tim Biro Perencanaan dan Kerja Sama. Dari pihak yayasan hadir langsung Ketua Yayasan Maringgi Malala, Yonatan B. Agu Ate.

Dalam pertemuan itu, pihak Undana menegaskan kesiapan mereka untuk terlibat aktif dalam proses pengembangan institusi, mulai dari pendampingan akademik hingga penguatan sistem pembelajaran.

Dukungan tersebut diharapkan mampu memastikan kualitas pendidikan yang selaras dengan kebutuhan industri pariwisata.

Prof. Annytha menyampaikan bahwa potensi pariwisata di Sumba Barat Daya sangat besar, namun perlu didukung oleh sumber daya manusia yang terampil dan terdidik. Karena itu,

Undana siap mengambil peran dalam memperkuat fondasi akademik, termasuk mendorong pembentukan tim khusus guna mempercepat realisasi program setelah kesepakatan formal ditetapkan.

Di sisi lain, Yonatan B. Agu Ate menyoroti masih rendahnya angka partisipasi pendidikan tinggi di wilayah Sumba Barat Daya.

Ia mengungkapkan bahwa sebagian besar lulusan sekolah kejuruan pariwisata belum melanjutkan ke jenjang universitas, sehingga berdampak pada minimnya tenaga lokal yang mampu bersaing di sektor tersebut.

Menurutnya, kehadiran kampus pariwisata akan membuka akses pendidikan yang lebih dekat dan relevan bagi masyarakat setempat.

Hal ini diharapkan dapat mendorong lahirnya tenaga kerja profesional dari putra daerah yang mampu mengisi peran strategis dalam industri pariwisata.

Kolaborasi ini juga menjadi bagian dari komitmen Undana sebagai kampus yang berorientasi pada dampak nyata bagi masyarakat.

Dengan pengembangan pendidikan tinggi di bidang pariwisata, diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas SDM, tetapi juga memperkuat ekonomi lokal melalui pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan dan berbasis potensi daerah.*




Raih Doktor di Undana, Frans Likadja Tawarkan Solusi Energi untuk Wilayah Kepulauan

Kupang, nwartapedia.com – Program Studi Doktor Ilmu Administrasi FISIP Universitas Nusa Cendana kembali melahirkan doktor baru. Frans J. Likadja resmi dikukuhkan sebagai doktor ke-45 setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam sidang terbuka promosi doktor yang digelar di Aula FISIP Undana, Senin (13/4/2026).

Dalam disertasinya, Frans mengangkat isu strategis mengenai ketahanan energi di wilayah kepulauan kecil, dengan fokus pada kondisi di Nusa Tenggara Timur yang hingga kini masih menghadapi ketimpangan akses listrik. Ia secara khusus menyoroti Pulau Semau, di mana sebagian masyarakat masih bergantung pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang berbiaya tinggi dan berdampak besar terhadap lingkungan.

Sebagai solusi, Frans menawarkan penerapan sistem smart hybrid microgrid berbasis energi surya yang dioperasikan secara paralel dengan PLTD. Sistem ini mampu memproduksi rata-rata 1.800 kWh energi per hari, menghemat penggunaan bahan bakar hingga 540 liter solar, serta berkontribusi dalam menekan emisi gas rumah kaca (GRK).

Menurutnya, inovasi teknologi tersebut tidak hanya berdampak pada efisiensi energi, tetapi juga berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penyediaan listrik yang lebih terjangkau dan berkelanjutan.

Namun demikian, Frans menekankan bahwa keberhasilan transisi energi tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. Diperlukan kebijakan yang inklusif, tata kelola yang efektif, serta keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap tahap implementasi.

“Transisi energi di wilayah kepulauan harus berbasis pada kebutuhan lokal dan didukung oleh kebijakan yang tepat, agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Nusa Cendana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng, memberikan apresiasi atas capaian akademik tersebut.

Ia mengingatkan bahwa gelar doktor bukan sekadar pencapaian akademis, melainkan amanah untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

“Ilmu yang dimiliki harus memberi manfaat sebesar-besarnya, khususnya bagi masyarakat NTT. Utamakan empati dan pengabdian dalam setiap langkah,” pesannya.

Dengan pengukuhan ini, hasil penelitian Dr. Frans J. Likadja diharapkan dapat menjadi rujukan strategis bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan energi terbarukan, terutama di wilayah kepulauan yang sulit dijangkau jaringan listrik konvensional, demi mendorong pembangunan yang lebih merata dan berkelanjutan di Nusa Tenggara Timur. *




Undana Kukuhkan Tiga Guru Besar Baru, Perkuat Benteng Akademik di Tengah Tantangan AI

Kupang, nwartapedia.com — Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali mempertegas komitmennya dalam penguatan kualitas akademik dengan mengukuhkan tiga guru besar baru dalam Sidang Senat Terbuka yang berlangsung di Grha Cendana, Kupang, Rabu (8/4/2026).

Pengukuhan ini menambah jumlah profesor di Undana menjadi 79 orang. Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., menyebut capaian tersebut sebagai langkah strategis dalam memperkokoh “benteng akademik” kampus di tengah dinamika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tiga akademisi yang resmi dikukuhkan sebagai guru besar yakni Prof. Dr. Linda W. Fanggidae, S.T., M.T. sebagai pakar Arsitektur dan Perilaku, Prof. Dr. Drs. Wiliam Djani, M.Si. sebagai pakar Reformasi Kebijakan Pembangunan Kesehatan, serta Prof. Zakaria Seba Ngara, Ph.D. sebagai pakar Fisika Material.

Dalam sambutannya, Rektor Undana menyoroti fenomena meningkatnya penggunaan Artificial Intelligence (AI) di kalangan mahasiswa. Ia mengingatkan bahwa meskipun AI mampu mengolah data secara cepat, peran manusia—khususnya guru besar—tetap tidak tergantikan.

“AI mungkin unggul dalam mengolah data, tetapi guru besar memiliki dimensi yang tidak dimiliki teknologi, yakni hati nurani, emosi, dan kepekaan terhadap konteks lokal. Di sinilah peran penting guru besar dalam membimbing mahasiswa menjadi pemikir yang kritis dan bermakna,” tegasnya.

Hal senada juga disampaikan Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, S.Si., Apt., yang menyambut baik bertambahnya guru besar di Undana. Ia menilai kepakaran para profesor sangat dibutuhkan untuk mendukung pembangunan daerah, mulai dari sektor infrastruktur, kesehatan, hingga pengembangan energi baru.

Prosesi pengukuhan turut diwarnai dengan orasi ilmiah dari masing-masing profesor yang mengangkat isu-isu strategis berbasis kebutuhan lokal.

Di bidang arsitektur, Prof. Linda W. Fanggidae menyoroti pentingnya pendekatan desain berbasis perilaku manusia. Ia mengkritisi kegagalan sejumlah desain modern yang mengabaikan aspek sosial, serta mencontohkan bagaimana ruang-ruang sederhana di NTT justru mampu menjadi pusat interaksi sosial karena selaras dengan kebutuhan masyarakat.

Sementara itu, Prof. Wiliam Djani mengulas persoalan stunting dari perspektif kebijakan publik. Ia menegaskan bahwa tantangan utama bukan hanya keterbatasan anggaran, tetapi lemahnya koordinasi antar lembaga. Ia pun mendorong pendekatan baru yang menempatkan masyarakat sebagai subjek utama pembangunan, dengan pemerintah berperan sebagai fasilitator.

Di bidang sains, Prof. Zakaria Seba Ngara memperkenalkan inovasi karbon nanodots (K-dots) yang dikembangkan dari bahan organik lokal seperti kulit buah naga dan lengkuas. Teknologi ini dinilai potensial untuk meningkatkan produktivitas pertanian, khususnya pada tanaman kacang-kacangan, sekaligus menjadi solusi alternatif dalam menghadapi tantangan energi dan pangan.

Bagi Prof. Zakaria, momen pengukuhan ini memiliki makna personal yang mendalam. Ia mengungkapkan bahwa di tengah perjuangannya menghadapi kondisi kesehatan, capaian ini menjadi motivasi untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi bagi kemanusiaan.

Melalui pengukuhan tiga guru besar ini, Undana menegaskan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan harus tetap berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan dan relevansi terhadap kebutuhan masyarakat lokal.

“Ilmu pengetahuan tidak boleh menjauhkan kita dari nilai kemanusiaan. Justru sebaliknya, harus menjadi alat untuk menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat,” menjadi pesan kuat yang mengemuka dalam momentum akademik tersebut. *




Transformasi Penilaian Akhir, Thomas Doni Ungkap SMAN 1 Amarasi Barat Gunakan Ujian Berbasis Karya Ilmiah

Kupang, nwartapedia.com — SMAN 1 Amarasi Barat terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan melalui inovasi sistem evaluasi pembelajaran. Sekolah ini kini menerapkan Ujian Sekolah berbasis proyek bagi siswa kelas XII sebagai bagian dari transformasi penilaian akhir yang lebih komprehensif.

Kebijakan tersebut dinilai menjadi langkah strategis dalam membangun kompetensi akademik sekaligus membentuk karakter peserta didik secara menyeluruh.

Kepala SMAN 1 Amarasi Barat, Thomas Doni, S.Pd., MM, mengungkapkan bahwa penerapan sistem ini telah berjalan selama dua tahun terakhir dan memberikan dampak positif terhadap proses belajar siswa.

“Selama ini kita tidak lagi menggunakan pola ujian konvensional berbasis soal. Sebagai gantinya, siswa diwajibkan menyusun karya tulis ilmiah sebagai bentuk penilaian akhir,” jelasnya saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (9/4/2026).

Menurutnya, pendekatan ini dirancang untuk mendorong siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran, tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga pada proses berpikir dan pemahaman.

“Melalui metode ini, siswa dilatih untuk berpikir kritis, menganalisis persoalan, serta meningkatkan kemampuan literasi melalui penelitian sederhana yang kontekstual dengan kehidupan mereka,” ujarnya.

Sebanyak 136 siswa kelas XII terlibat dalam program ini dan dibagi dalam kelompok bimbingan kecil. Setiap guru membimbing antara tiga hingga enam siswa guna memastikan proses penelitian dan penulisan berjalan efektif.

Proses penyusunan karya tulis dimulai sejak Oktober 2025 dan rampung pada akhir Maret 2026. Setiap siswa diwajibkan menyerahkan karya tulis dalam tiga rangkap sebagai bagian dari kelengkapan ujian.

Tahapan selanjutnya adalah presentasi karya ilmiah yang dijadwalkan berlangsung pada 13 hingga 18 April 2026. Sistem ini mengadopsi pola sidang ilmiah, di mana siswa memaparkan serta mempertanggungjawabkan hasil penelitiannya di hadapan tim penguji.

“Dari presentasi itu, kami dapat menilai sejauh mana pemahaman siswa terhadap karya yang mereka susun, sekaligus mengukur kesiapan mental mereka dalam menyampaikan gagasan,” terang Thomas.

Nilai dari presentasi tersebut kemudian akan diintegrasikan dengan hasil ujian teori yang telah dilaksanakan sebelumnya, sehingga menghasilkan penilaian akhir yang lebih komprehensif dan terukur.

Dalam pelaksanaannya, sekolah turut melibatkan empat pengawas dari Dinas Pendidikan Provinsi NTT sebagai penguji eksternal, sementara 22 guru internal berperan sebagai pembimbing. Secara keseluruhan, sekolah ini didukung oleh 35 tenaga pendidik dan lima tenaga kependidikan.

Thomas menegaskan bahwa penelitian yang dilakukan siswa dirancang sederhana dan berbasis lingkungan sekitar, sehingga tidak membebani siswa secara finansial.

“Kami arahkan agar topik penelitian tetap dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa, sehingga tidak membutuhkan biaya besar. Umumnya hanya untuk pengetikan dan pencetakan karya tulis,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa sistem ini tidak hanya berorientasi pada nilai akhir, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kesiapan siswa menghadapi jenjang pendidikan berikutnya.

“Kami ingin memastikan siswa siap secara akademik maupun mental. Pengalaman ini diharapkan menjadi bekal penting saat mereka melanjutkan ke perguruan tinggi,” tambahnya.

Di sisi lain, sekolah juga mengakui masih terdapat sejumlah kendala, terutama terkait keterbatasan sarana pendukung seperti komputer dan akses layanan percetakan, mengingat lokasi sekolah yang relatif jauh dari pusat kota.

Sebagai solusi, pihak sekolah menyediakan fasilitas laboratorium komputer yang dapat dimanfaatkan siswa secara bergantian di luar jam pembelajaran.

Ke depan, evaluasi rutin akan terus dilakukan guna menyempurnakan pelaksanaan ujian berbasis proyek ini.

“Ini merupakan upaya berkelanjutan kami dalam meningkatkan mutu pendidikan. Kami akan terus melakukan pembenahan agar sistem ini semakin efektif dan memberikan manfaat nyata bagi siswa,” tutup Thomas Doni. (MI)




Kerja Sama PT Klinik Olahraga Kupang dengan STKIP Citra Bakti Ngada Perkuat Pengembangan SDM Olahraga

Kupang, nwartapedia.com – Direktur PT Klinik Olahraga Kupang, Dr. Frans Sales, M.Pd., M.M, menilai kerja sama antara STKIP Citra Bakti Ngada dan PT Klinik Olahraga Kupang sebagai langkah strategis dalam mendorong kemajuan pendidikan serta pengembangan sumber daya manusia di bidang keolahragaan.

Kepada media ini, Frans Sales menyampaikan bahwa kolaborasi tersebut merupakan momentum penting yang dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan STKIP Citra Bakti Ngada di masa depan.

“Ini merupakan langkah berani dan sangat strategis demi kemajuan masa depan STKIP. Semangat kolaborasi yang dibangun melalui PKS ini menjadi momentum strategis, sekaligus inovasi dan investasi bagi kemajuan STKIP Citra Bakti Ngada,” ujar Frans Sales.

Penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) tersebut berlangsung di kantor PT Klinik Olahraga Kupang pada Kamis, 12 Maret 2026.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan lembaga profesional dalam pengembangan ilmu keolahragaan.

Menurut Frans Sales, kerja sama tersebut juga menjadi spirit bagi PT Klinik Olahraga Kupang untuk terus memperluas jaringan kemitraan dengan berbagai pihak dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang olahraga.

“Kerja sama ini juga menjadi semangat bagi kami di PT Klinik Olahraga Kupang untuk terus melakukan ekspansi dan menjalin kolaborasi dengan berbagai institusi guna menciptakan SDM tenaga keolahragaan yang berkualitas, profesional, dan berdaya saing global,” tambahnya.

Dari pihak STKIP Citra Bakti Ngada, penandatanganan kerja sama mendapat dukungan dari pimpinan kampus dan yayasan.

Dalam kegiatan tersebut, pihak kampus diwakili oleh dosen Prodi PJKR Obet Kleden, S.Pd., M.Or yang juga sebagai Kepala Pusat Jaminan Mutu dan Akreditasi STKIP Citra Bakti Ngada

Melalui kolaborasi ini, kedua pihak berharap dapat memperkuat kerja sama dalam bidang pendidikan, penelitian, pelatihan, serta pengembangan kompetensi sumber daya manusia di bidang keolahragaan. (MI)




Ratusan Kepala Sekolah di Kota Kupang Ikuti Refleksi dan Evaluasi Tryout TKA

Kupang, nwartapedia.com — Ratusan kepala sekolah jenjang SD/MI dan SMP/MTs se-Kota Kupang mengikuti kegiatan refleksi dan evaluasi pelaksanaan Tryout 1 Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang yang berlangsung di Hotel Neo Aston pada Selasa (10/3/2926)

Kegiatan ini menjadi forum bersama untuk meninjau pelaksanaan tryout sekaligus mempersiapkan langkah perbaikan menuju pelaksanaan asesmen akademik yang lebih baik.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Ernest Ludji, mengatakan bahwa tryout merupakan instrumen penting untuk memetakan kemampuan akademik siswa sekaligus mengukur efektivitas proses pembelajaran di sekolah.

Menurutnya, hasil tryout memberikan gambaran awal tentang tingkat penguasaan materi oleh siswa, sehingga dapat menjadi dasar bagi guru dan sekolah dalam melakukan perbaikan strategi pembelajaran.

“Tryout ini bukan hanya menjadi latihan bagi siswa, tetapi juga menjadi bahan evaluasi bagi sekolah untuk melihat capaian pembelajaran dan menyiapkan langkah-langkah perbaikan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa secara umum pelaksanaan Tryout 1 TKA di Kota Kupang berjalan lancar dengan partisipasi aktif dari berbagai sekolah.

Namun demikian, masih terdapat sejumlah catatan yang perlu diperhatikan, seperti kesiapan teknis di beberapa sekolah serta perlunya peningkatan koordinasi dalam pelaksanaan kegiatan.

Sementara itu, Kepala SD Negeri Fontein 2 Kupang, Yulita Dapa Wungga, yang turut sebagai peserta dalam kegiatan tersebut menilai bahwa forum refleksi ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan tryout ke depan.

Ia menambahkan, melalui diskusi bersama para kepala sekolah dapat saling berbagi pengalaman dan mencari solusi atas berbagai kendala yang ditemui selama pelaksanaan tryout.

“Dengan evaluasi seperti ini kita bisa melihat apa yang sudah berjalan baik dan apa yang masih perlu diperbaiki, sehingga pelaksanaan tryout berikutnya dapat berlangsung lebih optimal,” katanya.

Melalui kegiatan refleksi ini diharapkan koordinasi antar sekolah dan pemerintah daerah semakin kuat, sehingga pelaksanaan tryout pada tahap berikutnya dapat berjalan lebih efektif serta memberikan dampak positif bagi peningkatan mutu pendidikan di Kota Kupang. *




Undana Gandeng Pakar Jepang Perkuat Diagnostik Rabies di NTT

Kupang, nwartapedia.com – Universitas Nusa Cendana (Undana) mengambil langkah strategis dalam menekan penyebaran rabies di Nusa Tenggara Timur melalui kerja sama transfer teknologi bersama pakar internasional. Bersama Center for Animal Disease Control Universitas Miyazaki (CADIC), Jepang, Undana menggelar Rabies Diagnostic Training Program untuk meningkatkan kemampuan deteksi virus rabies pada hewan.

Program pelatihan tersebut resmi dibuka oleh Rektor Undana, Jefri S. Bale, pada Senin (9/3) di Gedung Dekanat Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan Undana (FKKH).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya akademik dalam merespons ancaman rabies sebagai penyakit zoonosis yang berdampak langsung pada kesehatan manusia.

Dekan FKKH Undana, Christina Olly Lada, menegaskan bahwa penguatan kapasitas diagnostik merupakan langkah penting dalam strategi pengendalian rabies di NTT.

“Kami sangat mengapresiasi kontribusi mitra dari Jepang dalam penguatan penelitian kesehatan hewan. Dengan peningkatan kemampuan diagnostik, respons penanganan rabies di lapangan diharapkan menjadi lebih cepat dan akurat,” ujarnya.

Pelatihan ini menghadirkan sejumlah pakar dari Jepang, di antaranya Direktur CADIC Universitas Miyazaki Ayako Yoshida, pakar Veterinary Public Health Kentaro Yamada, serta peneliti dari Japan Institute for Health Security, Akitoyo Hotta. Para peserta tidak hanya menerima materi teori, tetapi juga praktik langsung teknik diagnostik rabies di laboratorium.

Menurut Prof. Yoshida, pengalaman Jepang dalam pengendalian penyakit hewan diharapkan dapat membantu meningkatkan kemampuan para peneliti dan tenaga kesehatan hewan di Indonesia, khususnya di NTT.

Sementara itu, Rektor Undana Prof. Jefri Bale menegaskan bahwa kolaborasi internasional tersebut harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Pelatihan ini bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi komitmen bersama untuk menjawab kebutuhan mendesak masyarakat dalam pengendalian rabies yang masih menjadi tantangan besar di NTT,” tegasnya.

Program pelatihan yang berlangsung hingga 13 Maret 2026 ini juga melibatkan Laboratorium Veteriner Dinas Peternakan Provinsi NTT sebagai mitra praktik. Melalui penguatan kapasitas laboratorium dan sumber daya manusia, Undana diharapkan dapat menjadi pusat rujukan diagnostik rabies guna mendukung terwujudnya NTT bebas rabies di masa mendatang. *




FKKH Undana Terapkan Indikator AEE untuk Dorong Kelulusan Tepat Waktu Mahasiswa

Kupang, nwartapedia.com – Universitas Nusa Cendana melalui Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan Undana (FKKH) resmi mengadopsi indikator kinerja baru bernama Angka Efisiensi Edukasi (AEE) pada tahun anggaran 2026.

Kebijakan ini menjadi langkah strategis fakultas dalam menciptakan keseimbangan ideal antara jumlah mahasiswa dan tingkat kelulusan tepat waktu hingga mencapai 100 persen.

Penerapan indikator tersebut dibahas dalam Rapat Tinjauan Manajemen (RTM) FKKH yang digelar di ruang rapat Gedung Dekanat, Kamis (5/3).

Forum ini sekaligus menjadi ajang sosialisasi Indikator Kinerja Utama (IKU) serta pendampingan cascading Perjanjian Kinerja (PK) bagi seluruh pimpinan program studi, mulai dari Kedokteran, Kedokteran Hewan, Farmasi hingga program spesialis.

Tim Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) Undana menjelaskan bahwa AEE merupakan instrumen baru untuk mengukur kesehatan akademik di lingkungan fakultas.

Nilai ideal AEE berada pada kisaran 16 hingga 25 persen, yang mencerminkan keseimbangan antara jumlah mahasiswa dalam satu angkatan dengan jumlah lulusan setiap tahun.

“Secara teori, AEE akan mendorong mahasiswa untuk lulus tepat waktu. Jika indikator ini dijalankan secara konsisten, maka secara otomatis akan memperkuat akreditasi program studi karena mutu proses pembelajaran juga meningkat,” ujar Dekan FKKH Undana, Christina Olly Lada.

Sebagai perguruan tinggi berstatus Badan Layanan Umum (BLU), Undana kini harus memenuhi standar akuntabilitas dari dua kementerian sekaligus, yakni Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

Kondisi ini membuat sejumlah indikator kinerja terlihat serupa namun memiliki mekanisme penilaian yang berbeda.

Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan FKKH, Yohanes T. R. M. R. Simarmata, menegaskan pentingnya pemahaman pimpinan unit terhadap definisi operasional setiap indikator agar target kinerja dapat dicapai secara optimal.

Pada kesempatan yang sama, FKKH juga meluncurkan tagline akselerasi “Ayo Bangun Undana, Ayo Bangun NTT” sebagai penguatan slogan utama “Undana Berdampak”.

Dekan FKKH menekankan bahwa seluruh target kinerja fakultas harus bermuara pada peningkatan kualitas layanan pendidikan bagi mahasiswa.

Hal itu didorong melalui produktivitas dosen dalam publikasi ilmiah, penelitian, serta inovasi yang tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi juga diterapkan langsung untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

“Perguruan tinggi tidak boleh menjadi menara gading yang hanya kuat di dalam lingkungannya sendiri. Kampus harus menghadirkan dampak nyata melalui kegiatan mahasiswa dan kolaborasi lintas sektor,” tambahnya.

Selain penguatan mutu akademik, RTM 2026 juga menjadi pijakan bagi FKKH dalam membangun Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).

Melalui mekanisme cascading Perjanjian Kinerja dari tingkat universitas hingga unit terkecil, FKKH menargetkan capaian kinerja akhir tahun melampaui 95 persen.

Hasil rapat manajemen ini diharapkan menjadi kompas bagi seluruh program studi di lingkungan FKKH dalam menjalankan program kerja sepanjang 2026, sehingga setiap alokasi anggaran mampu berkontribusi langsung pada peningkatan kualitas lulusan serta kesejahteraan masyarakat di Nusa Tenggara Timur. *