Temukan 13 Kasus TB Paru, Poltekkes Kupang Gelar ACF dan Skrining TB di Kelurahan Naioni

 

Kupang,nwartapedia.com — Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Kupang bersama Puskesmas Naioni dan Pemerintah Kelurahan Naioni, Kecamatan Alak, Kota Kupang, melaksanakan kegiatan Active Case Finding (ACF) dan Skrining Tuberkulosis (TB) Paru sebagai bentuk pengabdian masyarakat dalam upaya menuju Eliminasi TB tahun 2030.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari hasil survei mahasiswa Program Sarjana Terapan Keperawatan dan laporan dari Puskesmas Naioni yang menemukan 13 warga penderita TB Paru di wilayah Kelurahan Naioni.

Skrining Aktif dengan Alur Pelayanan 5 Meja

ACF dan skrining TB dilakukan melalui Alur Pelayanan 5 Meja, yang merupakan standar dalam pelayanan kesehatan primer dan kegiatan lapangan di posyandu atau fasilitas kesehatan lainnya.

Proses skrining dilakukan secara kolaboratif oleh dosen dan mahasiswa yang telah mengikuti pelatihan ACF serta telah lulus mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah, Penyakit Tropis, dan Manajemen Keselamatan Pasien.

Meja 1: Registrasi dan Pendaftaran

Peserta diterima dan didaftarkan oleh mahasiswa yang dibimbing oleh:

  • Dr. Florentianus, SKp., M.Kes
  • Maria M.V.B. Aty, SKep., Ns., M.Kep
  • Yustinus Rindu, SKep., Ns., M.Kep
  • Rini Pujiyanti, SKep., Ns., M.Kep

Peserta dicatat identitasnya, diberikan nomor urut, serta dijelaskan proses skrining yang akan dijalani.

Meja 2: Skrining Gejala dan Faktor Risiko

Didampingi oleh:

  • Dr. Aemilianus Mau, SKep., Ns., M.Kep
  • Yuliana Dafroyati, SKep., Ns., M.Kep
  • Antonia Hamu, SKep., Ns., M.Kep
  • Fransiskus S. Onggang, SKep., Ns., M.Kep

Wawancara dilakukan untuk menggali gejala TB seperti batuk ≥ 2 minggu, demam, keringat malam, penurunan berat badan, dan riwayat kontak erat. Peserta dengan gejala atau faktor risiko dirujuk ke Meja 3.

Meja 3: Pemeriksaan Penunjang

Didampingi oleh:

  • Simon Sani Kleden, SKep., Ns., M.Kep
  • Dr. Margaretha Telly, SKep., Ns., MPh., Ph.D
  • Sabinus Kedang, SKep., Ns., M.Kep
  • Domianus Namuwali, SKep., Ns., M.Kep

Pemeriksaan dilakukan melalui pengambilan sampel dahak dan foto toraks menggunakan alat X-Ray Portable milik Klinik Pratama Jurusan Keperawatan Poltekkes Kupang untuk memastikan diagnosis TB.

Meja 4: Konseling dan Edukasi

Didampingi oleh:

  • Dr. Ina Debora Ratu Ludji, SKp., M.Kes
  • Aben B.Y. Romana, SKep., Ns., M.Kep
  • Fitri Handayani, SKep., Ns., M.Kep
  • Dominggos Gonsalves, SKep., Ns., M.Sc

Peserta diberi pemahaman tentang proses pengobatan TB, pentingnya pengobatan tuntas, serta edukasi tentang etika batuk, pemakaian masker, dan teknik pembuangan dahak yang higienis.

Meja 5: Tindak Lanjut dan Rujukan

Didampingi oleh:

  • Dr. Emiliana Erningwati Akoit, SKep., Ns., M.Kep
  • Yulianti K. Banhae, SKep., Ns., M.Kep
  • Trivonia Sri Nurwela, SKep., Ns., M.Kep
  • Mariana Oni Bethan, SKep., Ns., M.Kep
  • Petugas dari Puskesmas Naioni

Pasien positif TB dirujuk ke Puskesmas untuk pengobatan lanjutan. PMO (Pengawas Minum Obat) dari keluarga atau kader ditunjuk untuk memantau kepatuhan pasien dalam menjalani terapi.

Komitmen Menuju Eliminasi TB 2030

Koordinator kegiatan menegaskan bahwa keberhasilan program ACF bergantung pada keterlibatan berbagai pihak, mulai dari tenaga kesehatan, pemerintah setempat, hingga partisipasi aktif masyarakat.

Kegiatan ini tidak hanya bertujuan menemukan kasus TB secara dini, tetapi juga meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya pencegahan dan pengobatan TB secara tuntas.

Poltekkes Kemenkes Kupang berharap kegiatan serupa dapat diperluas ke wilayah lain di Kota Kupang sebagai bagian dari komitmen bersama untuk menurunkan angka kejadian TB dan menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas TB. (MI)




Poltekkes Kemenkes Kupang Gelar ACF dan Screening TB Paru untuk Wujudkan Eliminasi TBC 2030

 

Kupang,nwartapedia.com  —  Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Kupang menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui pembukaan Active Case Finding (ACF) dan Screening TBC Paru, sebagai bagian dari upaya pengendalian dan eliminasi TBC di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kegiatan ini berlangsung di wilayah Kelurahan Naioni dan dibuka secara resmi oleh Ketua Jurusan Keperawatan Dr. Florentianus Tat, SKp., M.Kes.

Pembukaan kegiatan diawali sambutan oleh Koordinator ACF Simon Sani Kleden, SKep., Ns., M.Kep, yang menyampaikan pentingnya penemuan kasus TBC secara aktif di tengah masyarakat sebagai strategi mendukung program nasional eliminasi TBC tahun 2030.

Turut hadir dalam kegiatan ini yakni Ketua Prodi Sarjana Terapan Keperawatan, Yoani M.V.B Aty, SKep., Ns., M.Kep, Perwakilan dari Puskesmas, Babinkamtibmas, Kelurahan Naioni, Ketua RT/RW.

Hadir pula Dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Kupang antara lain :Dr. Ina Debora Ratu Ludji, SKp., M.Kes, Dr. Emiliana Erningwati Akoit, SKep., Ns., M.Kep. Yustinus Rindu, SKep., Ns., M.Kep, Aben B.Y. Romana, SKep., Ns., M.Kep, Fransiskus S. Onggang, SKep., Ns., M.Sc, Sabinus Kedang, SKep., Ns., M.Kep, Yulianti K. Banhae, SKep., Ns., M.Kep, Trivonia Sri Nurwela, SKep., Ns., M.Kep, Domianus Namuwali, SKep., Ns., M.Kep, Yane Leo Mangi, SKep., Ns., M.Kep, Fitri Handayani, SKep., Ns., M.Kep, Rini Pujiyanti, SKep., Ns., M.Kep

Kegiatan ini juga diikuti oleh mahasiswa Program Sarjana Terapan Keperawatan (S.Tr.Kep) dan masyarakat umum.

Dr. Ina Debora Ratu Ludji, selaku dosen pembimbing dan pendamping mahasiswa, menjelaskan perbedaan mendasar antara Active Case Finding (ACF) dan Screening TBC dalam pengendalian TBC:

ACF (Active Case Finding) adalah strategi proaktif untuk mendeteksi gejala TBC secara langsung di masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti kontak serumah pasien TBC, ODHA, warga binaan, dan masyarakat di daerah padat.

Sementara itu, screening TBC adalah proses penyaringan awal untuk menjaring individu yang berisiko atau menunjukkan gejala awal, sebelum dilakukan pemeriksaan diagnostik lanjutan.

Dalam kegiatan ini, pemeriksaan dilakukan menggunakan alat X-Ray portable milik Klinik Pratama Poltekkes Kemenkes Kupang, dengan dukungan tenaga dokter dan perawat profesional.

Ketua Jurusan Keperawatan, Dr. Florentianus Tat, mengajak masyarakat untuk memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya:

“ACF dan screening TB paru ini sangat penting sebagai langkah awal pencegahan. Mari kita bersama-sama wujudkan eliminasi TBC di NTT pada tahun 2030. Ini bukan hanya program institusi, tapi tanggung jawab kita bersama,” ujar Dr. Floren.

Sementara itu, Koordinator kegiatan, Yustinus Rindu, SKep., Ns., M.Kep, menyampaikan bahwa seluruh tahapan kegiatan telah dipersiapkan dengan matang mulai dari koordinasi dengan stakeholder hingga pelaksanaan teknis di lapangan.

Program ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan secara kolaboratif oleh institusi pendidikan, tenaga medis, dan masyarakat lokal. Dengan kegiatan seperti ini, diharapkan semakin banyak kasus TBC dapat ditemukan dan ditangani sejak dini, sehingga penyebarannya dapat ditekan secara signifikan.

“Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kegiatan ini, terutama kepada Ka Merry dan tim. Semoga bermanfaat dan membawa perubahan nyata bagi kesehatan masyarakat,” tutup Koordinator ACF Simon Sani Kleden. (MI)




Membangun Periode Emas (Golden Period) dan Mencegah Stunting Pada Anak dengan Kelor “Moringa Oleifera”

Oleh :  Dr. Ina Debora Ratu Ludji, SKp., M.Kes*) dan Yoakim Asy *1)

 

Kupang,nwartapedia.com  – Pendahuluan

Provinsi Nusa tenggara Timur adalah salah satu Provinsi dengan Jumlah Penduduk dengan angka Stunting tertinggi. Salah satu satu program pemerintah adalah peningkatan gizi masyarakat dan pemberantasan gizi buruk dan stunting dengan Kelor (moringa oleifera) atau “Marungga”.

Kelor adalah tanaman asli pegunungan Himalayah ini telah lama dikenal dan dikonsumsi di NTT, namun apakah masyarakat benar-benar mengetahui kandungan gizi Kelor?

Dalam satu dekade terakhir Kelor menjadi pusat perhatian para pakar gizi mengingat hasil kajian laboratorium mengungkap Kelor menjadi satu-satunya sayur dengan berbagai micro maupun macro nutrient yang sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan dan perkembangan mulai dari janin hingga manfaat bagi perawatan kesehatan lansia.

Oleh banyak pakar, Kelor dinamakan multi vitamin dan mineral yang hidup, hanya selangkah dari pintu anda.

Terdapat begitu banyak kasus pada kelompok berresiko seperti ibu hamil, ibu menyusui, baduta dan balita mengalami masalah gizi buruk.

Namun pendekatan konvensional dengan suplementasi sampai saat belum mampu memutuskan mata rantai masalah kesehatan pada kelompok tersebut, kemampuan keuangan negara terbatas. Sementara kasusnya cukup banyak.

Perlu inisiatif lain yang mencegah masalah kesehatan kelompok berresiko ini agar tidak berdampak panjang pada generasi ini.

Pendekatan mengatasi gizi secara konvensional (pemberian makanan tambahan) hanya program karitatif yang menimbulkan ketergantungan masyarakat pada bantuan dan terbatas belum efektif dan efisien

Sebagai bahan kajian dan renungan. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), angka stunting pada Balita di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 37,1% dan pada tahun 2018 sebesar 30,8%.

Sementara di NTT Tahun 2013; 51,7% dan tahun 2018 42,6%. Pada Tahun 2023 Hasil Survey Kesehatan Indonesia Menunjukkan Prevalensi Stunting di Provinsi NTT tahun 2023 sebesar 37,9%, Naik 2,6% dari tahun 2022 (35,3%) dan berjarak 4,8% dari target stunting NTT yang dibebankan yaitu 33,1%.

Sesuai Hasil SKI (2023) Stunting tertinggi adalah TTS 50,1% diikuti Belu (48,1%); Malaka 47,7%; SBD 44,3%; Manggarai Timur 43,7% TTU 42,7% dan Sumba Barat 42,5%.

Hasil Pengukuran langsung dari Aplikasi elektronik Pencatatan dan pelaporan Gizi berbasis Masyarakat (e_Ppgbm) berdasarkan jumlah Balita Balita yang ditimbang dan sasaran balita (D/S) diketahui Rata2 Jumlah balita yang ditimbang adalah 80,6% dari sasaran Balita (S): 408.386, Balita yang ditimbang 329.265 (D). Artinya masih ada sekitar 79.121

Balita yang tidak ditimbang atau tidak mendapatkan pelayanan di Posyandu. Ini membutuhkan Perhatian kita bersama terutama dari Keluarga, maupun dari Pemerintah (RT,RW, Desa/Kelurahan) untuk menyiapkan dan memastikan Saran yang ditimbang adalah 100%.

Hasil E-PPGBM Kabupaten dengan Data Stunting tertinggi adalah TTS 41,7% dengan jumlah Balita ditimbang 76,1%) diikuti Kabupaten dengan Data Stunting > 20 % adalah Kab Sumba Barat daya 37,9%; Kab. Belu 30,5%; TTU 30,1%; Malaka 24,7%, Alor 23,2%; Sabu Raijua 21,3% Sumba Barat 20,5%. Rata-rata Balita ditimbang 80,6% Tertinggi Balita ditimbang di Kabupaten Manggarai Barat 100%, Balita ditimbang > 95% adalah kab Sabu raijua 97,9% dan Kab. Nagekeo 95,6%.

Jumlah Balita Ditimbang terendah < 50% adalah Alor 48,3% dan Sumba Barat daya 46,3%.

Hal ini menunjukkan bahwa masalah stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena masih di atas ambang batas 20%. Secara Epidemiologi perlu pendekatan “Active Case finding”; Yaitu menemukan kasus dan melakukan intervensi yang komprehensif dengan pendekatan Multipihak Stakeholder Partnership yang bersifat inklusif sesuai semangat dan prinsip SDGs : No One Left Behind” (Tidak Seorang pun Tertinggal) adalah prinsip utama dalam SDGs (Sustainable Development Goals) yang menekankan bahwa setiap orang—tanpa terkecuali—harus mendapatkan manfaat dari pembangunan, terutama mereka yang paling miskin, rentan, dan terpinggirkan. Kesetaraan dan keadilan sosisal, fokus pada kelompok rentan, menghapus diskriminasi, akses yang merata, pemantauan dan evaluasi yang adil. Penurunan angka stunting ini juga berkaitan dengan periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Periode ini merupakan periode emas “ Golden Period”; periode sensitif yang menentukan kualitas hidup bayi di masa yang akan datang. Hal ini perlu mendapat perhatian dari Pemerintah. Melakukan pendampingan keluarga Sadar Gizi dalam rangka penurunan angka stunting di NTT.  

Berbagai upaya telah dilakukan namun belum membuahkan hasil yang menggembirakan perlu upaya2 luar biasa.

Melibatkan lintas program dan lintas sektor. Khusus untuk baduta dan Balita direkomendasikan untuk : Melakukan Pendampingan keluarga agar : (1)Keluarga Membawa balitanya datang ke posyandu secara teratur setiap bulan. (2) Membawa balita Gizi Kurang/ BGM (Bawah Garis Merah), balita tidak naik berat badannya dua kali berturut-turut (2T), balita sakit atau diduga gizi buruk ke Polindes/Poskesdes, Pustu, Puskesmas. (3) Memberikan ASI saja kepada bayi sampai berusia 6 (enam) bulan.(4) Makan beraneka ragam makanan berbahan lokal yang bervariasi dari Kelor (5) Menggunakan garam beryodium. (6) Minum kapsul vitamin A bagi balita, ibu nifas; dan tablet tambah darah bagi ibu hamil sesuai anjuran.

Pendekatan untuk penangan stunting tidak hanya bersifat parsial pada Baduta dan Balita saja tetapi juga pada anak adolesense, remaja, WUS, ibu hamil, ibu nifas dan ibu melahirkan melalui pendekatan siklus hidup yang akan dibahas secara rinci kemudian (artikel berikut).

Pemberian makanan tambahan dapat dilakukan dalam kondisi ini ketika terjadi outbreak malnutrisi, bencana alam, dan yang perlu menjadi program rutin salah salah satunya adalah Konsumsi Kelor.

Hasil Riskesdas pemberian PMT pada Balita 6 – 59 Bulan; 28,7% yang mendapat PMT, dan yang mendapat program PMT 60,7% dengan hanya 1,7% yang mendapat > 90 bungkus sedangkan 94,1 % hanya mendapat 0 – 30 Bungkus (Riskesdas, 2018). Sehingga perlu pendampingan dari keluarga dan Kader kesehatan untuk memastikan anak mendapat nutrisi seimbang dan adekuat.

Salah satu sumber Nutrisi yang baik bagi Balita setelah usia 6 bulan adalah kelor. 

 

Nilai Gizi Kelor

Nilai gizi daun Kelor dari dahulu hingga kini tetap sama, Daunnya menjadi bagian paling bergizi dari tanaman kelor sendiri, dimana daun kelor merupakan sumberpenting vitamin B6, vitamin C, provitamin A sebagai beta-karoten, magnesium dan protein antara nutrisi lain. Hal ini diungkap oleh USDA setelah melakukan riset terhadap tanaman ini. 

Perbandingan kandungan kelor dan makanan lainnya: Vitamin A dalam wortel – 1,8 mg, sedangkan dalam daun kelor – 6,8 mg. Kalsium dalam Susu:120 mg, sementara di daun kelor: 440 mg. Kalium pada pisang : 88 mg, dalam daun kelor: 259 mg. Protein dalam Yogurt – 3,1 g, sedangkan dalam daun kelor: 6,7 g.Sementara Vitamin C dalam Jeruk:30 mg, dalam daun kelor 220 mg. Disamping itu Daun kelor juga mengandung 9 jenis asam amino esensial yang bermanfaat bagi pertumbuhan sel-sel otak bayi. Secara singkat, daun kelor mengandung (1) Sepuluh vitamin esensial dan sebelas mineral penting. (2)Sembilan asam amino esensial lengkap. (3) Lebih dari 24 jenis anti-oksidan yang dapat kita pakai untuk membentengi tubuh kita dari radikal bebas yang menyebabkan kanker. (4) Lebih dari 24 nutrisi anti-inflamasi. (5) Asam lemak Omega-3 dan Omega-6. Namun demikian, proses pengolahan dengan suhu di atas 60 derajat akan merusak sejumlah zat gizinya. Oleh karena itu, pengolahan yang benar akan menjamin kasiat dari Kelor terhadap kesehatan kita.

Tepung Daun Kelor

Di samping dikonsumsi dalam keadaan segar, daun Kelor bisa dijadikan bubuk, Bubuk Kelor bahkan lebih kaya lagi dari pada daun dalam keadaan segar.

Dalam setiap 100 gram bubuk kering18,9mg vitamin A, sementara Wortel hanya 1.8mg, daun Kelor segar hanya 6.8mg. Sedangkan vitamin C dalam tepung daun Kelor adalah 17.3mg, sedangkan dalam keadaan segar kandung Vitamin C mencapai 220mg/100gram, sedangkan yang kering sedikit menurun, yaitu 173/100gram, dibandingkan Vitamin C pada jeruk hanya 30mg/100gram. Kandungan Kalsiumnya, tepung Kelor 2003mg, sedangkan daun segar terdapat 440mg. 

Tantangan bagi Kelor

Namun demikian, makanan olahan dengan kemasan bagus yang dianggap makanan bergengsi terus memberikan kontribusi terhadap buruknya pola makan di kalangan anak balita, terutama dalam tumbuh kembang 1000 hari pertama.

Makanan olahan telah “merampas” posisi makanan alami lokal karena kalah promosi dan tidak mendapat perhatian untuk didiversifikasi. Meskipun dilengkapi dengan informasi gizi, dan lain-lain, makanan olahan tetap tidak menampilkan kualitas gizi alaminya bila dibandingkan sumber makanan segar. Belum lagi makanan olahan juga bersumber dari produk yang terkontaminasi herbisida, pestisida, pupuk buatan, dan lain-lain.

Maka kini saatnya perbaikan gizi pada kelompok balita bersumber pada bahan makanan yang berkualitas, mudah diakses, murah (local-cost effective) dan dapat dibudidaya. 

Kelor (Moringa Oleifera) kini semakin populer bukan karena iklan komersil, melainkan karena kajian ilmiah dan keberhasilan perbaikan gizi pada anak-anak negara-negara Afrika seperti Senegal, Zambia, dll dimana beberapa organisasi nirlaba seperti CWS, mengembangkan program pengentasan gizi buruk dengan potensi lokal (Kelor) yang terbukti sangat baik.   

Gizi Berbasis Makanan Lokal

Inisiatif Gubernur NTT ke 8 Victor Laiskodat dalam upaya pencegahan stunting telah mencanangkan satu program peningkatan gizi masyarakat dan pemberantasan gizi buruk dan stunting dengan Kelor (moringa oleifera) atau “Marungga” di Provinsi NTT dan juga sesuai dengan Sejalan dengan Visi Gubernur-Wagub NTT ke 9 Melki dan Johni: “NTT Maju, Sehat, Cerdas Sejahtera dan Berkelanjutan” dengan Tujuh Pilar Pembangunan diantaranya: Pilar 1 ekonomi berkelanjutan pilar 2 Pemberdayaan komunitas, Pilar 4 kesehatan, pilar 5 pendidikan dan pilar 7 Kolaborasi dengan Program Prioritas Dasa Cita Ayo bangun NTT Program 5 Posyandu Tangguh, Masyarakat Sehat dan Bebas Stunting dan Program 10 Ayo bangun NTT, Kolaborasi bersama.

Dengan demikian perlu dilakukan Promosi kesehatan kepada masyarakat tentang nilai gizi di tanaman ini perlu terus dilakukan.

Agar kesadaran untuk menanam semakin tinggi. Dengan melakukan Multi Stakeholder Partnership (MSP) atau Kolaborasi Multi Pihak (KMP) Pemerintah, Swasta dan Masyarakat: (1) Pemerintah: Dinas yang terlibat adalah (Dinas Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Kesehatan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pendidikan, Bappeda, Dinas Sosial. (2) Lembaga Pusat/ Kementrian terkait adalah Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan, Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Perindustrian dan Perdagangan, Badan Pangan Nasional dan BKKBN (3) Petani dan kelompok tani, (4) Perguruan tinggi dan Lembaga Riset, (5) Lembaga kesehatan dan Gizi, (6) Pelaku Usaha dan UMKM. (7) Lembaga Keuangan dan perbankan, (8) LSM./NGO dan Komunitas Lokal, (9) Media dan Influencer.

Sebagai salah satu Provinsi dengan Jumlah Penduduk Angka Stunting tertinggi. Hal ini sejalan dengan komitment 159 negara yang menandatangani The World Declaration and the Plan of Action on Nutrition, 1992, termasuk Indonesia dimana deklarasi tersebut menyakatakan bahwa perlu strategy untuk mengatasi masalah micronutrient pada kelompok berresiko,“There have been many calls for an alternative approach, addressing the root causes of the problem rather than treating the symptoms. The World Declaration and the Plan of Action on Nutrition, adopted by 159 countries, at the International Conference on Nutrition organized by the UN’s Food and Agriculture Organization (FAO) and WHO in 1992, states that strategies to combat micronutrient malnutrition should:“….Ensure that sustainable food-based strategies are given first priority particularly for populations deficient in vitamin A and iron, favouring locally available foods and taking into account local food habbit” (Terdapat begitu banyak seruan untuk membuat pendekatan alternatif yang mengungkapkan akar penyebab masalah, bukan sekedar menyembuhkan gejalanya.

“ …Memastikan bahwa strategi pangan berkelanjutan prioritasnya secara khusus diberikan kepada populasi yang kekurangan vitamin A dan Zat Besi, dengan lebih mengandalkan ketersediaan sumber makanan lokal dan memperhatikan kebiasaan makan makanan lokal) Dari kesepakatan di atas, pengembangan Kelor sebagai salah satu sumber alternatif yang efektif (mampu mengatasi gizi secara baik), efisien (tanpa biaya) dan mudah untuk dibudidaya serta tumbuh dengan sangat baik di iklim kering seperti Nusa Tenggara Timur, merupakan sebuah momentum untuk menjadikan tanaman Kelor sebagai sebuah solusi terbaik untuk mengatasi gizi buruk di NTT.

Dalam musim penghujan dimana sayuran konvensional sulit tumbuh, Kelor begitu mudah tumbuh dan bertunas dengan begitu mudah dan subur. Jangan biarkan pucuk-pucuk kelor tumbuh percuma. Jangan Malu dan gengsi. Ambil dan olahlah bagi bumil, balita dan keluarga anda. 

Catatan paling penting, Berdasarkan analisa laboratorium, kelor TIDAK mengandung zat racun sekecil apapun, sehingga sama sekali TIDAK memiliki reputasi menimbulkan alergi apalagi kematian.

Ket : Penulis *) adalah Dosen Poltekkes Kemenkes Kupang Jurusan Keperawatan; 

Penulis *1) adalah Provincial Expert East Nusa Tenggara SDGS/SSTC GFA- GIZ (MI)




BPJS Kesehatan Kupang Sosialisasikan Program JKN Berkualitas demi Indonesia Sehat

 

Kupang,nwartapedia.com  — BPJS Kesehatan Cabang Kupang menggelar kegiatan Media Gathering dengan tema “JKN untuk Semua: BPJS Kesehatan Berkualitas Wujudkan Indonesia Semakin Sehat” yang berlangsung di Aula Kantor BPJS Kesehatan Kupang, Rabu (4/6/2025).

Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala BPJS Kesehatan Cabang Kupang, Ario Trisaksono, dan dihadiri oleh perwakilan media massa lokal.

Dalam paparannya, Ario menekankan pentingnya partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat dalam mendukung keberlanjutan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

“Program JKN adalah bentuk gotong royong sesama peserta. Ketika satu orang sakit, maka biaya perawatannya dibantu oleh ribuan peserta aktif lainnya. Itulah esensi solidaritas sosial yang menjadi dasar program ini,” jelas Ario.

Ario juga menjelaskan bahwa berdasarkan regulasi yang berlaku, termasuk Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018, pemberi kerja memiliki kewajiban mendaftarkan seluruh pekerjanya ke dalam program JKN dan membayar iuran sesuai ketentuan.

“Kami mengingatkan kepada pemberi kerja untuk tidak hanya memotong gaji karyawan, tetapi juga menyalurkan iurannya ke BPJS Kesehatan. Hal ini penting agar peserta bisa tetap mendapatkan layanan kesehatan saat dibutuhkan,” tambahnya.

Selain menjelaskan struktur pembiayaan, Ario juga memaparkan berbagai kemudahan yang kini tersedia bagi peserta, seperti fitur pindah Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) secara daring melalui aplikasi Mobile JKN, serta program cicilan tunggakan iuran bagi peserta mandiri.

BPJS Kesehatan juga menyediakan bantuan berupa penggantian alat bantu kesehatan seperti kacamata, alat bantu dengar, dan gigi tiruan, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Dalam sesi tanya jawab, Ario menegaskan bahwa BPJS Kesehatan terus memperbaiki kanal pengaduan dan respons terhadap keluhan peserta.

Ia meminta masyarakat untuk segera melaporkan setiap kendala layanan agar dapat segera ditindaklanjuti.

“Kami tidak bisa bertindak jika laporan tidak masuk ke sistem kami. Maka kami minta bantuan masyarakat agar proaktif,” tegasnya.

Melalui Media Gathering ini, BPJS Kesehatan juga berharap bisa menjalin sinergi dengan insan pers dalam menyebarluaskan informasi yang benar tentang program JKN kepada masyarakat.

“Kami berharap teman-teman media dapat menjadi mitra strategis dalam mendidik masyarakat agar memahami hak dan kewajiban mereka sebagai peserta JKN,” tutup Ario.




Ayo…, Jadilah Remaja Cerdas: Kenali Gizi Seimbang dan Siklus Menstruasi untuk Pencegahan Anemia

Oleh: Dr. Ina Debora Ratu Ludji, SKp., M.Kes

Kupsng,nwartapedia.com  – Masa remaja adalah momen emas dalam kehidupan manusia. Fase ini bukan hanya tentang perubahan fisik semata, tetapi juga transformasi psikologis dan sosial yang menentukan masa depan.

Karena itu, remaja perlu menjadi generasi yang cerdas dan sadar akan pentingnya menjaga kesehatan, terutama melalui pemahaman gizi seimbang dan siklus menstruasi. Dua aspek ini menjadi kunci dalam mencegah anemia—penyakit yang kerap mengintai remaja putri.

Gizi Seimbang: Fondasi Remaja yang Aktif dan Produktif

Di era serba cepat seperti sekarang, godaan makanan instan dan gaya hidup tidak sehat sangat besar.

Banyak remaja lebih memilih makanan cepat saji yang minim gizi, padahal tubuh mereka sedang dalam fase pertumbuhan yang pesat.

Untuk menunjang perkembangan otak, hormon, dan daya tahan tubuh, remaja perlu mengonsumsi makanan bergizi seimbang.

Program “Isi Piringku” dari pemerintah memberikan panduan praktis: piring makan harus terdiri dari 1/3 sayuran, 1/3 karbohidrat kompleks seperti nasi merah atau gandum, 1/6 lauk berprotein (hewani atau nabati), dan 1/6 buah berwarna-warni.

Tak kalah penting, zat besi sangat dibutuhkan, terutama bagi remaja putri yang mulai menstruasi.

Kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia, yang membuat tubuh mudah lelah, lesu, dan sulit konsentrasi.

Memahami Siklus Menstruasi: Langkah Awal Menjadi Rematri Cerdas

Menstruasi adalah proses alami yang dialami setiap perempuan remaja. Siklus ini terjadi setiap 21–35 hari dan terdiri dari fase menstruasi, folikular, ovulasi, dan luteal.

Setiap fase membawa perubahan hormon dan fisik yang bisa memengaruhi emosi maupun kesehatan.

Edukasi mengenai siklus ini penting, agar remaja tidak merasa takut atau bingung menghadapi perubahan tubuhnya.

Namun, menstruasi juga membuat remaja putri lebih rentan mengalami anemia.

Hal ini disebabkan kehilangan darah setiap bulan, yang jika tidak diimbangi dengan asupan zat besi yang cukup, dapat menurunkan kadar hemoglobin dalam darah.

Tablet Tambah Darah: Langkah Kecil yang Berdampak Besar

Pemerintah melalui program UKS telah menggalakkan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja putri usia 12–18 tahun.

TTD harus diminum satu kali seminggu selama setahun penuh. Agar penyerapannya maksimal, TTD sebaiknya diminum bersama air putih dan makanan kaya vitamin C, seperti jeruk atau jambu biji. Hindari mengonsumsi TTD dengan teh, kopi, atau susu karena dapat menghambat penyerapan zat besi.

Sayangnya, masih banyak remaja yang menganggap remeh pentingnya TTD. Padahal, suplemen ini bisa mencegah kelelahan berlebihan saat haid, meningkatkan konsentrasi belajar, dan mendorong produktivitas harian.

Kesehatan Remaja, Investasi Masa Depan

Remaja yang memahami pentingnya gizi seimbang dan siklus menstruasi akan tumbuh menjadi individu yang sehat dan percaya diri. Gizi yang cukup, terutama zat besi, bisa meringankan nyeri haid dan mengurangi gejala PMS.

Asupan makanan kaya magnesium seperti bayam dan pisang juga sangat membantu.

Edukasi tentang kesehatan remaja harus menjadi prioritas, dimulai dari rumah, sekolah, hingga tenaga kesehatan.

Kita semua memiliki peran dalam membentuk generasi muda yang kuat secara fisik, mental, dan sosial.

Mari kita dorong remaja untuk hidup sehat sejak dini. Karena kesehatan hari ini adalah bekal menuju masa depan yang cerah dan penuh harapan.

Jadilah remaja cerdas, kenali tubuhmu, dan cegah anemia sejak sekarang!

 

Penulis: Dr. Ina Debora Ratu Ludji, SKp., M.Kes adalah Dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Kupang. Ahli Epidemiologi, KIA dan Kesehatan Reproduksi. (MI)




Dinkes NTT Gandeng Permabudhi Gelar Edukasi Kesehatan Cegah Gizi Buruk, Stunting, dan Penyakit Menular

 

Kupang,nwartapedia.com  – Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menggandeng Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi)  menyelenggarakan kegiatan edukasi kesehatan bertema “Pencegahan Gizi Buruk, Stunting, dan Penyakit Menular” di Aula El Tari, Kantor Gubernur NTT, Selasa (20/5/2025).

Kegiatan ini dihadiri oleh 150 peserta yaitu ketua dan anggota Permabudhi dan komunitas Peace Maker Kupang ( Kompak) yaitu komunitas org muda lintas agama.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Ir. Erlina R. Salmun, M.Kes, yang mewakili Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT.

Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menangani masalah kesehatan masyarakat, terutama yang berkaitan dengan gizi buruk, stunting, dan penyakit menular.

“Masalah gizi buruk dan penyakit menular bukan hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi memerlukan intervensi menyeluruh dari berbagai pihak, termasuk tokoh agama dan organisasi masyarakat,” ujar Erlina.

Dirinya juga menyampaikan bahwa tahun 2045 akan menjadi momentum penting bagi Indonesia dalam menghadapi bonus demografi.

Oleh karena itu, generasi muda, khususnya anak-anak NTT, harus dipersiapkan menjadi generasi sehat dan berkualitas sejak dini.

Sementara itu, Ketua Panitia kegiatan, Nur Asisah, SKM, M.Kes., yang juga menjabat sebagai Kepala Seksi Penyakit Tidak Menular Dinkes NTT, melaporkan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan kesadaran masyarakat serta memperkuat peran tokoh agama dalam kampanye kesehatan.

“Tokoh agama memiliki pengaruh besar dalam menyampaikan pesan-pesan moral dan spiritual kepada masyarakat. Melalui mimbar keagamaan, mereka dapat mendorong perubahan perilaku hidup bersih dan sehat,” jelas Nur Asisah.

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Dokter Spesialis Anak, dr.Vininsia Mery Laura Mesang , Sp.A, serta  Ir. Erlina R. Salmun, M.Kes.

Materi disampaikan melalui metode ceramah dan sesi tanya jawab interaktif.

Dengan diadakannya kegiatan ini, diharapkan masyarakat lebih memahami pentingnya asupan gizi seimbang, pola hidup bersih, serta deteksi dini dan pencegahan penyakit menular.

Selain itu, kolaborasi aktif antara pemerintah dan organisasi keagamaan seperti Permabudhi dinilai krusial dalam memperkuat pembangunan kesehatan berbasis komunitas di NTT. (MI)




Kadis Kesehatan Provinsi NTT Buka Kegiatan Edukasi Kesehatan Bersama NU, Fokus pada Gizi Buruk, Stunting  dan Penyakit Menular 

 

Kupang,nwartapedia.com – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), drg. Iien Adriany, M.Kes, secara resmi membuka kegiatan edukasi kesehatan yang mengangkat isu krusial seputar gizi buruk, stunting, dan penyakit menular, yang diselenggarakan bekerja sama dengan organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Aula El Tari kantor Gubernur NTT, pada Kamis (16/05/2025).

Dalam sambutannya, drg. Iien menyampaikan rasa syukurnya atas keterlibatan berbagai lembaga keagamaan dalam kegiatan edukatif ini.

“Kami bersyukur bisa hadir dalam kesempatan ini bersama seluruh lembaga keagamaan dalam upaya edukasi masalah kesehatan. Ini adalah pertemuan ke-12 yang telah kami lakukan,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa stunting bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi merupakan “bencana kemanusiaan” yang membutuhkan perhatian dan keterlibatan seluruh pihak.

“Stunting adalah bencana nadi, dan ini harus menjadi perhatian kita bersama. Oleh karena itu, kami telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan 40 lembaga untuk bekerja sama dalam mengatasi masalah kesehatan, terutama stunting,” tambahnya.

drg. Iien juga mengajak kaum Muslimah NU dan GP Ansor untuk tidak hanya berhenti pada tahap sosialisasi, tetapi turut aktif mengambil peran nyata dalam penanganan stunting di masyarakat.

“Kita sering melakukan pertemuan berulang tanpa ada tindak lanjut. Maka saya meminta agar Ketua NU segera menyusun langkah konkret pasca kegiatan ini,” tegasnya.

Menutup sambutannya, Kepala Dinas mengajak seluruh peserta dan lembaga keagamaan untuk terus bergandengan tangan dalam upaya menyelesaikan persoalan kesehatan di NTT.

“Saya memberikan apresiasi kepada seluruh peserta yang hadir dan menunjukkan komitmen tinggi untuk menyelesaikan masalah ini. Gizi buruk, stunting, dan penyakit menular adalah masalah besar yang hanya bisa kita atasi jika semua pihak bergerak bersama,”pungkasnya.

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan Pemerintah Provinsi NTT bersama masyarakat sipil dalam membangun kesadaran kolektif dan memperkuat aksi nyata di tingkat akar rumput dalam memerangi stunting dan penyakit menular

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Ir. Erlina R. Salmun, M.Kes, selaku Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), yang membawakan materi pertama. Sesi kedua disampaikan oleh dr. Winda Yanuarni Meye, Sp.A., M.Sc, seorang dokter spesialis anak yang membahas lebih dalam mengenai dampak gizi buruk dan stunting pada anak-anak. (MI)




BPJS Kesehatan Pastikan Akses Layanan JKN Tetap Terbuka Selama Libur Lebaran 2025

 

Jakarta,nwartapedia.com  – BPJS Kesehatan terus menunjukkan komitmennya untuk memastikan bahwa seluruh peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tetap bisa mengakses pelayanan, baik layanan
administrasi kepesertaan JKN maupun layanan kesehatan selama libur Lebaran 2025.

Kebijakan khusus ini diambil guna mengantisipasi potensi kendala akses pelayanan di masa liburan.

Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ghufron Mukti mengatakan untuk mengakomodir berbagai kebutuhan
peserta, BPJS Kesehatan juga menerapkan piket layanan baik di kantor cabang maupun layanan di Pelayanan Administrasi melalui Whatsapp (PANDAWA).

Di kantor cabang, BPJS Kesehatan menerapkan piket dimulai dari tanggal 28 Maret, 2, 3, 4 dan 7 April 2025, mulai pukul 08.00 – 12.00 waktu setempat.

Selain itu, pada layanan PANDAWA dapat diakses oleh peserta setiap hari selama 24 jam.

“Adapun jenis layanan yang masih dapat dimanfaatkan oleh peserta di antaranya layanan informasi, layanan
administrasi, hingga layanan pengaduan. Apabila peserta ingin mengakses layanan digital, peserta juga bisa mengakses melalui Aplikasi Mobile JKN, BPJS Kesehatan Care Center 165, hingga website resmi BPJS
Kesehatan,” kata Ghufron pada Konferensi Pers Pelayanan Mudik Lebaran Tahun 2025, Rabu (19/03).

Ghufron mengungkapkan dengan prinsip portabilitas yang diterapkan dalam Program JKN, peserta dapat
memperoleh layanan kesehatan di mana saja dan kapan saja, tidak terbatas pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) tempat mereka terdaftar.

Artinya, bagi peserta yang menjalani mudik lebaran, tetap bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang diperlukan, termasuk saat hari raya Lebaran.

“Di masa libur lebaran, apabila peserta berada di luar daerah tempat asalnya, peserta masih dapat mengakses
di fasilitas kesehatan yang bukan tempat dirinya terdaftar,”jelasnya.

“Jka peserta dalam kondisi kegawatdaruratan
medis, seluruh fasilitas kesehatan wajib memberikan pelayanan kesehatan kepada peserta,” tambah Ghufron.

Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan BPJS Kesehatan, Lily Kresnowati menambahkan penjaminan dan
prosedur pelayanan terhadap pasien gawat darurat peserta sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Apabila peserta mengalami kendala saat mengakses layanan di fasilitas kesehatan, peserta dapat menghubungi
Petugas Pemberi Informasi dan Penanganan Pengaduan (PIPP).

Khusus di rumah sakit, BPJS Kesehatan
juga telah menghadirkan Petugas BPJS SATU! (Siap Membantu) untuk mempermudah dalam mengakses
informasi pelayanan.

Sementara itu, selama libur lebaran, ketentuan pelayanan obat Program Rujuk Balik (PRB) tetap mengacu
pada kebijakan pelayanan kesehatan di FKTP.

Apabila jadwal pengambilan obat PRB jatuh pada masa libur lebaran, maka jadwal dapat disesuaikan menjadi lebih awal maksimal tujuh hari sebelum persediaan obatnya
habis.

“Namun harus tetap dipastikan bahwa status kepesertaan JKN peserta harus aktif. Jika status kepesertaan
JKN-nya tidak aktif karena adanya tunggakan iuran, peserta diharapkan untuk melunasi tunggakan tersebut.
Apabila peserta merasa berat untuk melunasi tunggakan sekaligus, peserta bisa memanfaatkan Program New
Rencana Iuran Bertahap BPJS Kesehatan (REHAB) 2.0 yang terdapat di Aplikasi Mobile JKN. Selain itu, BPJS
Kesehatan juga telah bekerjasama dengan satu juta kanal pembayaran yang memudahkan peserta dalam
melakukan pembayaran iuran JKN,” tambah Lily.

Dalam mengantisipasi arus mudik yang tinggi, BPJS Kesehatan juga telah menyiapkan Posko Mudik di tujuh
titik dan satu titik Posko Arus Balik padat pemudik.

Posko ini tidak hanya memberikan pelayanan kepesertaan
JKN, tetapi juga siap menangani keadaan darurat dengan menyediakan obat-obatan dan rujukan medis
apabila diperlukan.

Adapun titik posko yang dihadirkan BPJS Kesehatan pada masa libur lebaran yaitu Terminal Pulo Gebang
Jakarta, Rest Area Tol Ungaran Km 429, Terminal Purabaya Sidoarjo, Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar,
Pelabuhan Merak Banten, Rest Area Tol Cipularang Km 88A Purwakarta, Rest Area Tol Cipali Km 166A
Majalengka dan Posko Arus Balik terdapat di Rest Area Tol Cipali Km 164B Majalengka.

“Harapannya, komitmen yang ditunjukkan BPJS Kesehatan pada masa libur lebaran ini juga didukung oleh
seluruh mitra fasilitas kesehatan. Dengan terbukanya akses bagi peserta dalam mendapatkan pelayanan di
masa libur lebaran, diharapkan fasilitas kesehatan juga berkomitmen dalam memberikan pelayanan yang
optimal bagi seluruh peserta, termasuk bagi mereka yang tengah menjalani mudik lebaran,” tutupnya.***

Informasi lebih lanjut hubungi:
Kedeputian Bidang Komunikasi Organisasi
BPJS Kesehatan Kantor Pusat
humas@bpjs-kesehatan.go.id
Website www.bpjs-kesehatan.go.id




YJI Cabang Utama Kupang Bersama 26 Provinsi Rayakan HUT ke-43 Dengan Senam Jantung Sehat

Kupang,nwartapedia.com – Puluhan anggota Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Cabang Utama Kupang mengikuti senam jantung sehat bersama serentak dari 26 provinsi dengan total peserta lebih dari 14 ribu orang, dalam rangka memperingati HUT Yayasan Jantung Indonesia ke-43, dengan tema ‘Use Heart for Action’ yang diperingati setiap tanggal 9 November.

Senam jantung sehat yang diadakan di halaman kantor BPR Krista Jaya Jl. Frans Seda No.16, Fatululi, Kecamatan Oebobo tersebut diikuti dengan begitu antusias oleh para peserta yang kebanyakan lansia pada Sabtu (9/11/2024).

Ketua Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Cabang Utama Kupang, Dokter Hendrik Jodjana menyampaikan dengan usia yang cukup matang, YJI akan terus berupaya memberikan pemahaman kepada masyarakat pentingnya upaya pencegahan penyakit jantung.

“Sebagai Pelopor Gaya Hidup Sehat, Yayasan Jantung Indonesia akan terus meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya upaya pencegahan penyakit jantung melalui Panca Usaha Jantung Sehat,” ucapnya.

Panca Usaha Jantung Sehat diantaranya dengan memastikan makanan yang masuk kedalam tubuh mengandung nutrisi seimbang, mengenyahkan rokok, menghindari dan mengatasi stress, mengawasi tekanan darah dengan rutin melakukan pemeriksaan minimal 1 bulan sekali serta teratur berolahraga.

“Setiap bulan ita harus melakukan Senam Jantung Sehat agar tubuh mendapat hormon endorfit membuat kita semangat dan senang,”ungkapnya.

“Selain itu kita yang berkumpul disini sudah lansia tertawa sampai terbahak-bahak akan mendapatkan hormon dopamin yakni salah satu senyawa kimia di dalam otak yang dapat meningkatkan suasana hati serta berperan dalam menyampaikan rangsangan ke seluruh tubuh,”tambah dr. Hendrik Jodjana.

 Ditempat yang sama, Ketua Harian Yayasan Jantung Indonesia Cabang Utama NTT, Ir Theo Widodo menyampaikan bahwa senam jantung sehat yang berlangsung selama ini sesuai dengan standar Yayasan Jantung Indonesia.

Theo Widodo menambahkan, sejalan dengan visi dan misi Yayasan Jantung Indonesia, maka tema Hari Ulang Tahun Yayasan Jantung Indonesia ke-43 tahun ini adalah Bergerak Untuk Jantung.

“Menjaga Jantung supaya tetap berdetak secara teratur adalah dengan menyayangi Jantung kita dengan tetap melakukan upaya Panca Usaha Jantung Sehat,”tambahnya.

 Diakhir, Ketua Harian YJI  Cabang Utama Kupang berpesan untuk terus aktif dalam senam jantung sehat dan berharap semakin mengenali jantung serta menjaga agar tetap sehat.

“Selaku Ketua Harian YJI, saya menyampaikan suatu pesan kepada Bapak dan Ibu untuk terus aktif  di senam jantung sehat  dan terus menambah pengetahuan untuk memelihara kesehatan jantung kita. Semoga kita semua semakin mengenali dan semakin menyayangi jantung kita dan menjaga jantung kita agar senatiasa sehat,” pungkas Theo Widodo. (MI)




Kunker di Manggarai, Pj. Gubernur Dorong Percepatan Penanganan Stunting

Manggarai,nwartapedia.com – Pj. Gubernur NTT Dr. Andriko Noto Susanto, S.P, M.P melaksanakan kunjungan kerja di Kabupaten Manggarai dengan menyerahkan langsung bantuan kepada anak terdampak stunting bertempat di Puskesmas Cancar, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai pada Jumat (01/11/24) sore.

Pj. Gubernur NTT Dr. Andriko Noto Susanto, S.P, M.P dalam arahannya mengungkapkan bahwa Kabupaten Manggarai merupakan tempat yang subur dan memiliki potensi yang dapat dikembangkan untuk menanam tanaman berbasis pangan lokal yang dapat dimaksimalkan untuk penanganan stunting.

“Manggarai punya lahan yang subur sehingga musim hujan harus kita tanam beraneka ragam. Artinya tanah ini makmur banyak tanaman hasil bumi yang bisa kita hasilkan sehingga tidak ada alasan untuk daerah ini mengalami stunting,” ungkapnya.

Lebih lanjut Ia mengapresiasi kinerja Pemerintah Kabupaten Manggarai dalam penanganan stunting sehingga saat ini stunting di kabupaten Manggarai turun hingga 11,1 persen dibawah target nasional.

“Sesuai laporan bapak Asisten tadi bahwa Stunting di Kabupaten Manggarai tinggal 11,1 persen ini merupakan prestasi yang luar biasa, secara keseluruhan NTT cukup tinggi tetapi Kabupaten Manggarai dapat diapresiasi karna dapat membantu menurunkan dalam mengentaskan persoalan stunting di NTT” ujar Pj. andriko

ia juga menjelaskan bahwa dalam menyambut bonus demografi 2045 perlu mempersiapkan anak anak Generasi masa depan yang baik dengan merawat dan memberikan asupan gizi yang baik sejak dini dan untuk menekan angka stunting

“Kita sedang menyiapkan generasi emas 2045 sehingga dari sekarang harus dirawat dengan baik anak-anak kita sehingga mereka kita persiapkan untuk menyongsong bonus demografi generasi emas 2045,” ungkapnya.

Pj. Gubernur juga berpesan, “kepada para ibu- ibu untuk merawat dengan baik anak-anak nya dengan pola asuh yang baik dan bantuan yang diberikan pemerintah agar dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. Juga untuk para tenaga kesehatan hingga Bupati dan Pimpinan Perangkat Daerah harus turut serta aktif dan bertanggung jawab melalui program orang tua asuh dalam memastikan bantuan sampai kepada penerima bantuan,” jelasnya.

Diakhir sambutannya ia kembali menegaskan bahwa sesuai peraturan presiden nomor 81 tahun 2024 tentang Penganekaragaman Pangan Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal perlu melihat potensi yang ada di wilayah dalam memanfaatkan penganekaragaman pangan yang cocok pada wilayah itu

“Peraturan ini merupakan spirit untuk swasembada pangan yang artinya mendorong kita untuk mandiri dalam mengembangkan potensi pangan yang ada di wilayah kita untuk dapat dimanfaatkan” tutup Pj. Gubernur Andriko.

Asisten administrasi umum Kabupaten Manggarai Frumensius dalam laporannya menyampaikan bahwa Stunting untuk Mabupaten Manggarai pada bulan Agustus tahun 2024 menurun sebesar 11,1 persen yang sebelumnya pada bulan Februari 2024 sebesar 11,48 persen dan angka stunting terus bergerak turun yang sebelumnya di tahun 2022 sebesar 20,1 persen

“Ada satu inovasi melalui Surat keputusan Bupati Nomor 277 tahun 2024 dimana diwajibkan seluruh Pimpinan Perangkat Daerah menjadi orang tua asuh untuk 2.791 anak-anak kami di Kabupaten Manggarai yang butuh pendampingan,” ucapnya.

Ia pun mengucapkan terima kasih atas kunjungan Penjabat Gubernur NTT yang berkunjung di Kecamatan Ruteng yang memiliki stunting tertinggi dan Ia berharap kunjungan dan penyerahan bantuan tersebut dapat mendukung percepatan penurunan stunting di kabupaten Manggarai.

“Untuk Kecamatan Ruteng yang bapak kunjungi ini adalah kecamatan yang tertinggi stunting diantara 12 kecamatan di Kabupaten Manggarai sehingga dengan kunjungan dan bantuan yang bapak berikan kiranya dapat mendukung kami dalam menurunkan angka stunting di kecamatan di daerah kami,” ucapnya

Kegiatan pun diakhiri dengan penyerahan bantuan dari Pemprov NTT bekerja sama dengan Bank NTT berupa Beras Fortivit 10 kg, telur 2 papan, kacang hijau 2 kg, abon ikan 1 bungkus, bubuk kelor 1 bungkus dan biskuit kelor 1 bungkus dan diserahkan secara simbolis kepada 5 anak penerima bantuan.

Turut hadir mendampingi Pj. Gubernur NTT dalam kegiatan tersebut Staf Khusus Gubernur NTT Bidang Pertanian Dr. Ben De Rozari, PLT Dirut Bank NTT Yohanes Landu Praing, Plt. Kepala Dinas PUPR Provinsi NTT, Ir. Benyamin Nahak, MT, dan Pimpinan Perangkat Daerah Kabupaten Manggarai. (MI)