Poltekkes Kemenkes Kupang Wujudkan Desa Raknamo Sebagai Desa Model Bebas Tuberkulosis Paru

Kupang, nwartapedia.com — Sebagai bentuk komitmen nyata dalam mendukung program nasional eliminasi tuberkulosis (TBC), dosen Poltekkes Kemenkes Kupang melaksanakan kegiatan Pengabdian Masyarakat berupa Active Case Finding (ACF) dengan menggunakan Portable X-Ray serta penyuluhan kesehatan tentang TBC di Desa Raknamo, Kabupaten Kupang, pada 17 September 2025.

Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, sekaligus menjadi aksi nyata Poltekkes Kupang dalam upaya mewujudkan Desa Raknamo sebagai Desa Model Bebas Tuberkulosis Paru tahun 2030.

Ketua kegiatan, Fransiskus Salesius Onggang, SKp, Ns, MSc, menjelaskan bahwa pengabdian masyarakat ini menargetkan penemuan kasus TBC paru, khususnya pada individu yang memiliki riwayat kontak erat dengan penderita tuberkulosis.

“Kegiatan ini bertujuan menemukan kasus TBC sejak dini agar penularan dapat ditekan, serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya deteksi dan pengobatan TBC,” ujarnya.

Tim pengabdian terdiri dari para dosen Poltekkes Kemenkes Kupang yakni Gadur Blasius, SKep, Ns, MSi, Aben B.Y.H. Romana, SKep, Ns, MKep, Simon Sani Kleden, SKep, Ns, MKep, dan Dominggus Gonsalves, SKep, Ns, MSc.

Dalam pelaksanaan kegiatan ini, mereka memanfaatkan alat X-Ray portable yang merupakan hibah dari Pemerintah Arab Saudi, sebagai salah satu inovasi dalam mendukung deteksi dini kasus TBC di NTT.

Selain pemeriksaan menggunakan X-Ray portable, kegiatan ini juga mencakup pemeriksaan sputum dan uji tuberkulin (Mantoux Test) untuk mendeteksi infeksi akibat Mycobacterium tuberculosis.

Hasil pemeriksaan yang dinyatakan positif akan segera ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lanjutan dan rujukan pengobatan di puskesmas setempat.

Menurut Simon Sani Kleden, kegiatan ACF ini mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak lintas program dan lintas sektor.

“Semakin banyak kasus yang ditemukan, maka cakupan pengobatan akan semakin luas, dan penularan TBC dapat ditekan semaksimal mungkin di Desa Raknamo,” jelasnya.

Kegiatan ini dilakukan melalui kolaborasi antara Poltekkes Kemenkes Kupang, Dinas Kesehatan Provinsi NTT (Program P2M), Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang, Puskesmas Fatukanutu, dan Puskesmas Pembantu Raknamo, serta melibatkan kader TBC desa.

Metode yang digunakan mencakup survei, penyuluhan kesehatan, pemeriksaan langsung dengan portable X-Ray, dan tindak lanjut bagi masyarakat yang dinyatakan positif.

Sebanyak 94 warga yang memiliki riwayat kontak dengan penderita TBC dan menunjukkan gejala TBC paru telah menjalani pemeriksaan.

Kepala Desa Raknamo, Augusto S, SPt, menyampaikan apresiasi atas kegiatan tersebut.

“Kami sangat berterima kasih kepada Poltekkes Kemenkes Kupang. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat Raknamo dalam upaya membebaskan desa kami dari TBC,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat Desa Raknamo semakin memahami pentingnya pencegahan, pengobatan, dan kepatuhan terapi TBC, serta mampu menjadi contoh bagi desa lain dalam upaya eliminasi TBC di Kabupaten Kupang.

Dengan langkah-langkah konkret ini, Poltekkes Kemenkes Kupang bersama pemerintah dan masyarakat menegaskan komitmen untuk mewujudkan NTT Bebas Tuberkulosis Paru pada tahun 2030. (MI)




PINTI NTT Gelar Bhakti Sosial untuk 1.000 Anak di Kupang

Kupang, nwartapedia.com  – Perhimpunan Perempuan Indonesia Tionghoa (PINTI), sebagai organisasi sayap dari INTI (Perhimpunan Indonesia Tionghoa), menggelar bhakti sosial bagi 1.000 anak berkebutuhan khusus, anak stunting, dan anak dari keluarga kurang mampu lintas agama di Kota Kupang.

Kegiatan ini berlangsung di halaman Kantor Wali Kota Kupang, Minggu (7/9).

Bhakti sosial ini menjadi kegiatan perdana PINTI NTT setelah kepengurusannya resmi dilantik sehari sebelumnya, Sabtu (6/9), di Harper Hotel Kupang.

Pengurus Daerah PINTI NTT dipimpin oleh dr. Theresia Avila Widodo sebagai Ketua dan Ir. Mariana Nenobais sebagai Sekretaris.

Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional ke-41 sekaligus sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan anak-anak NTT, PINTI menyediakan pemeriksaan kesehatan gratis, pembagian obat dan vitamin, serta bingkisan berupa susu, telur, roti, biskuit, dan makanan bergizi.

Chris Liyanto, Bendahara INTI NTT sekaligus Ketua Panitia Bhakti Sosial, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program rutin INTI pusat yang kali ini memilih NTT sebagai penerima manfaat.

“Sejak INTI hadir di NTT, berbagai bantuan dari pusat selalu disalurkan, mulai dari badai Seroja hingga masa pandemi. Kali ini, bersama PINTI yang baru dibentuk, kami melaksanakan bhakti sosial untuk 1.000 anak dengan pemeriksaan kesehatan, vitamin, serta pembagian makanan bergizi,” jelasnya.

Ketua PINTI NTT, dr. Theresia Avila Widodo, menambahkan bahwa kegiatan ini melibatkan 48 tenaga medis yang memberikan layanan kesehatan gratis bagi anak-anak.

“Kami tidak menyangka antusiasme begitu besar. Kehadiran 1.000 anak hari ini menjadi semangat bagi kami untuk terus melakukan aksi sosial ke depan,” ujarnya.

Ketua INTI Pusat, dr. Meta Agustin, menekankan pentingnya kepedulian bersama untuk mewujudkan generasi emas 2045.

“Anak adalah masa depan bangsa. Mereka berhak mendapat gizi, pendidikan, dan kasih sayang. Karena itu, PINTI dan INTI menghadirkan bhakti sosial ini sebagai wujud nyata perlindungan anak sesuai amanat undang-undang,” tegasnya.

Sementara itu, Pj. Sekda Kota Kupang, Ignasius R. Lega, mengapresiasi langkah PINTI dan INTI.

“Kegiatan ini bukan sekadar pemberian bantuan, melainkan pesan cinta kasih. Kita semua bertanggung jawab memastikan anak-anak sehat, kuat, dan bergizi, karena mereka adalah penerus estafet pembangunan,” tandasnya.

Dengan mengusung tema “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045”, kegiatan ini diharapkan menjadi awal sinergi PINTI NTT bersama pemerintah dan masyarakat dalam menghadirkan program sosial berkelanjutan demi kesejahteraan anak-anak di NTT.

Acara ini turut dihadiri oleh Deputi Pemenuhan Hak Anak KemenPPPA, dr. Ir. Sri Budiarta Nur Sitepu, M.M, yang mewakili Menteri PPPA, Pj. Sekda Kota Kupang Ignasius R. Lega, Ketua INTI Pusat Tedi Sugianto, Ketua INTI NTT Teo Widodo, serta jajaran pengurus PINTI NTT. (MI)




Pemkot Kupang dan PKK Salurkan Bantuan Gizi untuk Balita, Target Tekan Stunting

Kupang, nwartapedia.com – Pemerintah Kota Kupang melalui Dinas Kesehatan bekerja sama dengan Tim Penggerak PKK Kota Kupang melaksanakan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita yang mengalami gizi kurang.

Kegiatan berlangsung di Kantor Camat Kota Lama, Selasa (3/9/2025) pagi, dan dibuka langsung oleh Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo.

Dalam kesempatan itu, Wali Kota menyerahkan bantuan secara simbolis kepada orang tua balita penerima manfaat, didampingi Ketua TP PKK Kota Kupang, dr. Widya Cahya.

Turut hadir anggota DPRD Kota Kupang Ahmad Talib, Kepala Dinas Kesehatan drg. Retnowati, M.Kes., Camat Kota Lama Mohamad Adriyanto Abdul Jalil, Kapolsek Kota Lama, Danramil Kelapa Lima, para lurah, kepala puskesmas, pengurus PKK, dan para orang tua balita.

Sebanyak 250 balita menjadi sasaran program PMT, dengan tahap awal distribusi kepada 20 balita di Kecamatan Kota Lama.

Setiap paket bantuan berisi susu formula SGM 1 Plus 900 gram, kacang hijau 1 kilogram, dan satu rak telur ayam, khusus untuk bayi dan balita berusia 1–3 tahun yang teridentifikasi mengalami gizi kurang.

Dalam sambutannya, Wali Kota Kupang menekankan bahwa PMT tidak hanya sekadar pembagian bahan makanan, tetapi juga bentuk nyata kepedulian pemerintah.

“Anak-anak ini adalah masa depan kita. Kalau sejak kecil mereka sehat dan bergizi baik, mereka akan lebih berprestasi di sekolah, konsentrasi lebih tinggi, daya ingat kuat, dan jarang sakit. Pemerintah hadir bukan hanya memberi bantuan, tapi juga berbagi kasih sayang agar generasi kita tumbuh cerdas dan berkualitas,” ujar dr. Christian.

Ia juga menegaskan bahwa Pemkot Kupang kini bertransformasi menjadi pemerintah yang melayani, salah satunya melalui Dana Pengaman Kesehatan RSUD S.K. Lerik.

Dana ini menjamin layanan gawat darurat bagi warga, meski belum terdaftar atau menunggak iuran BPJS.

“Tidak boleh ada nyawa hilang hanya karena masalah administrasi,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua TP PKK Kota Kupang, dr. Widya Cahya, menjelaskan bahwa data balita gizi kurang dihimpun oleh puskesmas, sekaligus menjadi jalur distribusi bantuan agar tepat sasaran.

“Target kita 250 balita tersebar di seluruh kecamatan. Program ini diharapkan dapat mencegah stunting, yang berdampak jangka panjang pada tumbuh kembang anak,” jelasnya.

Selain itu, PKK Kota Kupang akan menurunkan tim ke 367 Posyandu untuk mendata sarana dan prasarana kesehatan.

Hasilnya akan menjadi dasar kerja sama dengan Dinas Kesehatan guna melengkapi fasilitas dan mendorong pengembangan Posyandu Terpadu dengan enam standar pelayanan minimal.

Program PMT dilaksanakan melalui tiga tahapan: pendataan balita gizi kurang, distribusi bantuan makanan tambahan, serta edukasi gizi kepada orang tua oleh tenaga kesehatan.

Dengan langkah kolaboratif ini, Pemerintah Kota Kupang menegaskan komitmennya untuk terus menekan angka gizi kurang dan stunting.

Harapannya, generasi muda Kota Kupang tumbuh sehat, cerdas, dan berkualitas, mendukung terwujudnya “Kota Kasih” yang maju, mandiri, sejahtera, dan berkelanjutan. (MI)




Sepotong Kisah dari Ruang Sunyi RSJ Naimata

Kupang,nwartapedia.com   — Pagi itu, matahari baru saja naik, menyinari jalanan Bello Kota Kupang yang masih lengang. Sekitar pukul 09.00 WITA, saya bersama seorang tante menyalakan sepeda motor tua, meluncur pelan menuju Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Naimata.

Di tangan tante, sebuah termos berisi air panas dan bekal makan siang sederhana: tanda kasih sayang yang tulus untuk salah satu ponakan kami, pasien ODGJ yang baru sehari menjalani perawatan.

Perjalanan tak sampai 20 menit. Begitu memasuki gerbang RSJ, suasana senyap menyambut. Gedung-gedung kokoh berdiri, namun halaman terasa lengang.

Beberapa pasien tampak berjalan pelan, sebagian duduk termenung di bangku taman. Ada rasa asing sekaligus hening yang menyelimuti.

Setelah melapor di resepsionis, kami diarahkan ke Unit Gawat Darurat (UGD). Di ruang berukuran sekitar lima kali lima meter itu, ponakan kami terbaring ditemani ibunya.

Hanya ada tiga ranjang besi dua beralas kasur tipis, satu lainnya kosong tanpa alas. Cahaya matahari menembus lewat enam jendela besar berterali besi, menghadirkan terang sekaligus bayangan keheningan.

Seorang satpam berbadan tegap mengantar kami masuk, lalu pintu besi dikunci kembali dari luar. Dari balik gembok itu,

ruang semakin terasa asing. Ada kamar mandi kecil tanpa pintu di pojok, menambah rasa sempit sekaligus kaku.

Kami hanya bisa duduk, hadir dalam diam. Ponakan kami lebih banyak tertidur. Sesekali ia terbangun sebentar, cukup untuk meneguk teh hangat yang disodorkan perawat, lalu kembali terlelap.

Hampir satu jam kami menunggu tanpa banyak kata, tanpa banyak interaksi. Di ruang sunyi itu, waktu seolah berjalan lambat.

Ketika pamit, satpam kembali membuka pintu besi. Kami melangkah keluar, meninggalkan ruang hening dengan hati yang berat. Ada kesadaran sederhana yang kami bawa pulang: menjenguk pasien ODGJ bukan sekadar membawakan bekal, tetapi menghadirkan dukungan meski lewat kehadiran yang diam, meski tanpa kata-kata.

(goe)




Larissa Kupang Ingatkan Pentingnya Perawatan Kulit Wajah di Tengah Kualitas Udara yang Menurun

Kupang,nwartapedia.com. — Di tengah kualitas udara yang kian menurun akibat polusi dan paparan sinar matahari yang semakin intens, Larissa Aesthetic Center Kupang mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan kulit wajah.

Pimpinan Larissa Aesthetic Center Kupang, Try Rosamery, mengatakan, perawatan wajah bukan hanya soal kecantikan, tetapi juga bagian dari investasi kesehatan diri.

“Banyak orang masih kurang memperhatikan perawatan kulit wajah. Padahal, udara kita sekarang berbeda. Polusi dan sinar matahari yang lebih kuat bisa mempercepat penuaan dan kerusakan kulit,” ujarnya saat ditemui di Kupang, Jumat (8/8).

Menurutnya, perawatan rutin jauh lebih bermanfaat dibanding sekadar menutupi kulit dengan riasan tebal.

“Daripada hanya mengandalkan foundation yang pada sore hari membuat wajah kusam, lebih baik rawat kulit sejak awal. Hasilnya akan lebih sehat dan alami,” tambahnya.

Di Larissa, proses perawatan dimulai dengan pendaftaran dan konsultasi untuk mengetahui jenis kulit serta bahan alami yang cocok digunakan, seperti buah atau sayuran tertentu.

Setelah itu, konsumen diarahkan ke ruang perawatan yang dilengkapi tempat berbaring dan peralatan khusus perawatan wajah.

Tahapan perawatan meliputi pembersihan (cleansing), pengelupasan ringan (scrub), frimator, pengolesan sari bengkoang, pemijatan wajah, stim, ekstraksi komedo, terapi high frequency (HF), pemakaian masker, kompres timun, dan diakhiri dengan pelembap. Seluruh bahan yang digunakan berasal dari sumber alami.

Salah satu bahan andalan adalah buah persik (peach), yang kaya vitamin C dan E serta antioksidan. Buah ini bermanfaat menjaga elastisitas kulit, mencegah penuaan dini, mencerahkan, melembapkan, dan membantu mengatasi jerawat.

“Perawatan dengan bahan alami membantu kulit tetap sehat tanpa efek samping bahan kimia berlebih. Kulit yang sehat bukan hanya meningkatkan kepercayaan diri, tapi juga mencerminkan kesehatan tubuh secara keseluruhan,” kata Try Rosamery.(goe)




Wali Kota Kupang Luncurkan Program Dana Pengaman untuk Pasien Gawat Darurat: Komitmen Nyata “Memerintah Adalah Melayani”

Kupang, nwartapedia.com Dalam momentum peringatan HUT ke-15 RSUD S.K. Lerik Kota Kupang, Wali Kota Kupang secara resmi meluncurkan Program Dana Pengaman senilai Rp3 miliar per tahun.

Program ini ditujukan bagi pasien dalam kondisi gawat darurat yang tidak memiliki kartu BPJS, atau memiliki BPJS yang sudah tidak aktif akibat tunggakan, maupun tidak memiliki identitas sama sekali.

Hadir dalam acara tersebut Kepala Perwakilan Ombudsman RI NTT, Darius Beda Daton; Kapolsek Kelapa Lima; Danramil; Sekda Kota Kupang dan para asisten; Kepala OPD lingkup Pemkot Kupang; Direktur RSUD S.K. Lerik beserta jajaran; dokter dan tenaga medis; Ketua TP PKK Kota Kupang; serta tokoh agama dan masyarakat.

Dalam sambutannya, Wali Kota menyampaikan apresiasi khusus kepada Ombudsman yang disebutnya sebagai mitra penting dalam mengawal transparansi dan pelayanan publik.

“Kalau Ombudsman hadir, kita bisa lebih kuat. Kalau ada yang salah, mereka akan arahkan. Kita butuh itu,” ujar Wali Kota pada Jumat (1/8/2025).

Ia menegaskan bahwa kehadiran program ini adalah bentuk nyata dari semangat pelayanan yang humanis.

“Tidak boleh lagi ada nyawa yang hilang karena urusan administrasi. Kalau pasien datang ke IGD dalam keadaan darurat, langsung ditangani. Nanti setelah stabil baru kita urus dokumennya,” tegasnya.

Menurutnya, tidak sedikit warga Kota Kupang yang mengalami kondisi sulit seperti kehilangan pekerjaan, tunggakan iuran BPJS, bahkan kehilangan identitas akibat bencana.

Dengan program ini, mereka tetap berhak atas pelayanan kesehatan darurat tanpa harus memikirkan biaya atau dokumen terlebih dahulu.

Wali Kota juga menyampaikan bahwa program ini sempat ditertawakan dan dianggap mustahil. Namun kini, dengan dukungan penuh jajaran RSUD dan pemerintah kota, program tersebut telah resmi dijalankan.

“Dulu banyak yang mengabaikan, menertawakan, bahkan melawan. Tapi hari ini kita buktikan: kita bisa dan kita benar,” tegasnya mengutip Mahatma Gandhi.

Di akhir sambutannya, Wali Kota juga memberikan penghargaan kepada insan pers. Ia mengakui bahwa media memiliki peran vital dalam membangun optimisme dan mengangkat wajah positif Kota Kupang di tengah keterbatasan anggaran.

“Kalau sendirian, kita hanya setetes air. Tapi bersama-sama, kita menjadi samudra. Teman-teman wartawan adalah bagian dari perjalanan besar ini. Terima kasih untuk semua dukungannya,” ujarnya haru.

Program Dana Pengaman ini menjadi langkah nyata Pemerintah Kota Kupang dalam mewujudkan pelayanan publik yang inklusif dan berpihak pada kelompok rentan. Pemerintah juga berkomitmen untuk menjaga saldo program tetap tersedia setiap tahun, dan akan menambahnya bila dibutuhkan. (MI)




Pemkot Kupang Dorong Edukasi, Vaksinasi, dan Skrining untuk Tekan Kasus Kanker Serviks

 

Kupang, nwartapedia.com Pemerintah Kota Kupang terus memperkuat komitmen dalam pencegahan kanker serviks melalui edukasi, vaksinasi HPV, dan deteksi dini.

Hal ini ditegaskan Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, saat membuka kegiatan Road to Zero HPV: Langkah Berkelanjutan dalam Pencegahan Kanker Leher Rahim untuk Perempuan Indonesia di Hotel Harper Kupang, Sabtu (12/7/2025).

Dalam sambutannya, Wali Kota mengungkapkan bahwa kanker serviks masih menjadi salah satu penyakit mematikan bagi perempuan di Indonesia. Berdasarkan laporan terakhir, terdapat sekitar 36.000 kasus baru setiap tahun dengan lebih dari 21.000 kematian.

“Ironisnya, sekitar 70% kasus baru terdeteksi pada stadium lanjut karena tidak dilakukan deteksi dini,” ujarnya.

Ia menekankan tiga langkah penting untuk menekan angka kejadian kanker serviks, yaitu edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, pemberian vaksin HPV, serta pemeriksaan skrining secara berkala.

“Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Mari kita ajak masyarakat peduli pada deteksi dini,” imbaunya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, drg. Retnowati, dalam kesempatan yang sama menjelaskan bahwa kanker leher rahim disebabkan oleh infeksi Human Papillomavirus (HPV), terutama tipe 16 dan 18. Data Global Cancer Observatory tahun 2020 menunjukkan, Indonesia mencatat lebih dari 36.000 kasus baru kanker serviks dengan tingkat kematian sekitar 58% atau lebih dari 21.000 kasus per tahun.

“Pada tahun 2024, Kota Kupang ditetapkan sebagai lokasi pilot project pemeriksaan deteksi dini dengan metode tes IVA. Sebanyak 585 perempuan usia 30–69 tahun telah mengikuti pemeriksaan ini,” papar Retnowati.

Ia juga mengajak seluruh peserta untuk menjadi agen perubahan dengan menyebarkan informasi tentang pentingnya pencegahan kanker serviks kepada keluarga dan lingkungan sekitar.

Retnowati menambahkan, pencegahan primer paling efektif adalah vaksinasi HPV yang diberikan pada anak perempuan usia 9–14 tahun sebelum aktif secara seksual, disertai edukasi kesehatan reproduksi, perilaku seksual yang aman, serta promosi kesehatan di sekolah dan masyarakat.

Melalui sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, Pemkot Kupang berharap angka kejadian dan kematian akibat kanker serviks dapat ditekan secara signifikan di masa mendatang. (MI)




Temukan 13 Kasus TB Paru, Poltekkes Kupang Gelar ACF dan Skrining TB di Kelurahan Naioni

 

Kupang,nwartapedia.com — Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Kupang bersama Puskesmas Naioni dan Pemerintah Kelurahan Naioni, Kecamatan Alak, Kota Kupang, melaksanakan kegiatan Active Case Finding (ACF) dan Skrining Tuberkulosis (TB) Paru sebagai bentuk pengabdian masyarakat dalam upaya menuju Eliminasi TB tahun 2030.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari hasil survei mahasiswa Program Sarjana Terapan Keperawatan dan laporan dari Puskesmas Naioni yang menemukan 13 warga penderita TB Paru di wilayah Kelurahan Naioni.

Skrining Aktif dengan Alur Pelayanan 5 Meja

ACF dan skrining TB dilakukan melalui Alur Pelayanan 5 Meja, yang merupakan standar dalam pelayanan kesehatan primer dan kegiatan lapangan di posyandu atau fasilitas kesehatan lainnya.

Proses skrining dilakukan secara kolaboratif oleh dosen dan mahasiswa yang telah mengikuti pelatihan ACF serta telah lulus mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah, Penyakit Tropis, dan Manajemen Keselamatan Pasien.

Meja 1: Registrasi dan Pendaftaran

Peserta diterima dan didaftarkan oleh mahasiswa yang dibimbing oleh:

  • Dr. Florentianus, SKp., M.Kes
  • Maria M.V.B. Aty, SKep., Ns., M.Kep
  • Yustinus Rindu, SKep., Ns., M.Kep
  • Rini Pujiyanti, SKep., Ns., M.Kep

Peserta dicatat identitasnya, diberikan nomor urut, serta dijelaskan proses skrining yang akan dijalani.

Meja 2: Skrining Gejala dan Faktor Risiko

Didampingi oleh:

  • Dr. Aemilianus Mau, SKep., Ns., M.Kep
  • Yuliana Dafroyati, SKep., Ns., M.Kep
  • Antonia Hamu, SKep., Ns., M.Kep
  • Fransiskus S. Onggang, SKep., Ns., M.Kep

Wawancara dilakukan untuk menggali gejala TB seperti batuk ≥ 2 minggu, demam, keringat malam, penurunan berat badan, dan riwayat kontak erat. Peserta dengan gejala atau faktor risiko dirujuk ke Meja 3.

Meja 3: Pemeriksaan Penunjang

Didampingi oleh:

  • Simon Sani Kleden, SKep., Ns., M.Kep
  • Dr. Margaretha Telly, SKep., Ns., MPh., Ph.D
  • Sabinus Kedang, SKep., Ns., M.Kep
  • Domianus Namuwali, SKep., Ns., M.Kep

Pemeriksaan dilakukan melalui pengambilan sampel dahak dan foto toraks menggunakan alat X-Ray Portable milik Klinik Pratama Jurusan Keperawatan Poltekkes Kupang untuk memastikan diagnosis TB.

Meja 4: Konseling dan Edukasi

Didampingi oleh:

  • Dr. Ina Debora Ratu Ludji, SKp., M.Kes
  • Aben B.Y. Romana, SKep., Ns., M.Kep
  • Fitri Handayani, SKep., Ns., M.Kep
  • Dominggos Gonsalves, SKep., Ns., M.Sc

Peserta diberi pemahaman tentang proses pengobatan TB, pentingnya pengobatan tuntas, serta edukasi tentang etika batuk, pemakaian masker, dan teknik pembuangan dahak yang higienis.

Meja 5: Tindak Lanjut dan Rujukan

Didampingi oleh:

  • Dr. Emiliana Erningwati Akoit, SKep., Ns., M.Kep
  • Yulianti K. Banhae, SKep., Ns., M.Kep
  • Trivonia Sri Nurwela, SKep., Ns., M.Kep
  • Mariana Oni Bethan, SKep., Ns., M.Kep
  • Petugas dari Puskesmas Naioni

Pasien positif TB dirujuk ke Puskesmas untuk pengobatan lanjutan. PMO (Pengawas Minum Obat) dari keluarga atau kader ditunjuk untuk memantau kepatuhan pasien dalam menjalani terapi.

Komitmen Menuju Eliminasi TB 2030

Koordinator kegiatan menegaskan bahwa keberhasilan program ACF bergantung pada keterlibatan berbagai pihak, mulai dari tenaga kesehatan, pemerintah setempat, hingga partisipasi aktif masyarakat.

Kegiatan ini tidak hanya bertujuan menemukan kasus TB secara dini, tetapi juga meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya pencegahan dan pengobatan TB secara tuntas.

Poltekkes Kemenkes Kupang berharap kegiatan serupa dapat diperluas ke wilayah lain di Kota Kupang sebagai bagian dari komitmen bersama untuk menurunkan angka kejadian TB dan menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas TB. (MI)




Poltekkes Kemenkes Kupang Gelar ACF dan Screening TB Paru untuk Wujudkan Eliminasi TBC 2030

 

Kupang,nwartapedia.com  —  Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Kupang menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui pembukaan Active Case Finding (ACF) dan Screening TBC Paru, sebagai bagian dari upaya pengendalian dan eliminasi TBC di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kegiatan ini berlangsung di wilayah Kelurahan Naioni dan dibuka secara resmi oleh Ketua Jurusan Keperawatan Dr. Florentianus Tat, SKp., M.Kes.

Pembukaan kegiatan diawali sambutan oleh Koordinator ACF Simon Sani Kleden, SKep., Ns., M.Kep, yang menyampaikan pentingnya penemuan kasus TBC secara aktif di tengah masyarakat sebagai strategi mendukung program nasional eliminasi TBC tahun 2030.

Turut hadir dalam kegiatan ini yakni Ketua Prodi Sarjana Terapan Keperawatan, Yoani M.V.B Aty, SKep., Ns., M.Kep, Perwakilan dari Puskesmas, Babinkamtibmas, Kelurahan Naioni, Ketua RT/RW.

Hadir pula Dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Kupang antara lain :Dr. Ina Debora Ratu Ludji, SKp., M.Kes, Dr. Emiliana Erningwati Akoit, SKep., Ns., M.Kep. Yustinus Rindu, SKep., Ns., M.Kep, Aben B.Y. Romana, SKep., Ns., M.Kep, Fransiskus S. Onggang, SKep., Ns., M.Sc, Sabinus Kedang, SKep., Ns., M.Kep, Yulianti K. Banhae, SKep., Ns., M.Kep, Trivonia Sri Nurwela, SKep., Ns., M.Kep, Domianus Namuwali, SKep., Ns., M.Kep, Yane Leo Mangi, SKep., Ns., M.Kep, Fitri Handayani, SKep., Ns., M.Kep, Rini Pujiyanti, SKep., Ns., M.Kep

Kegiatan ini juga diikuti oleh mahasiswa Program Sarjana Terapan Keperawatan (S.Tr.Kep) dan masyarakat umum.

Dr. Ina Debora Ratu Ludji, selaku dosen pembimbing dan pendamping mahasiswa, menjelaskan perbedaan mendasar antara Active Case Finding (ACF) dan Screening TBC dalam pengendalian TBC:

ACF (Active Case Finding) adalah strategi proaktif untuk mendeteksi gejala TBC secara langsung di masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti kontak serumah pasien TBC, ODHA, warga binaan, dan masyarakat di daerah padat.

Sementara itu, screening TBC adalah proses penyaringan awal untuk menjaring individu yang berisiko atau menunjukkan gejala awal, sebelum dilakukan pemeriksaan diagnostik lanjutan.

Dalam kegiatan ini, pemeriksaan dilakukan menggunakan alat X-Ray portable milik Klinik Pratama Poltekkes Kemenkes Kupang, dengan dukungan tenaga dokter dan perawat profesional.

Ketua Jurusan Keperawatan, Dr. Florentianus Tat, mengajak masyarakat untuk memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya:

“ACF dan screening TB paru ini sangat penting sebagai langkah awal pencegahan. Mari kita bersama-sama wujudkan eliminasi TBC di NTT pada tahun 2030. Ini bukan hanya program institusi, tapi tanggung jawab kita bersama,” ujar Dr. Floren.

Sementara itu, Koordinator kegiatan, Yustinus Rindu, SKep., Ns., M.Kep, menyampaikan bahwa seluruh tahapan kegiatan telah dipersiapkan dengan matang mulai dari koordinasi dengan stakeholder hingga pelaksanaan teknis di lapangan.

Program ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan secara kolaboratif oleh institusi pendidikan, tenaga medis, dan masyarakat lokal. Dengan kegiatan seperti ini, diharapkan semakin banyak kasus TBC dapat ditemukan dan ditangani sejak dini, sehingga penyebarannya dapat ditekan secara signifikan.

“Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kegiatan ini, terutama kepada Ka Merry dan tim. Semoga bermanfaat dan membawa perubahan nyata bagi kesehatan masyarakat,” tutup Koordinator ACF Simon Sani Kleden. (MI)




Membangun Periode Emas (Golden Period) dan Mencegah Stunting Pada Anak dengan Kelor “Moringa Oleifera”

OlehDr. Ina Debora Ratu Ludji, SKp., M.Kes*) dan Yoakim Asy *1)

 

Kupang,nwartapedia.com  – Pendahuluan

Provinsi Nusa tenggara Timur adalah salah satu Provinsi dengan Jumlah Penduduk dengan angka Stunting tertinggi. Salah satu satu program pemerintah adalah peningkatan gizi masyarakat dan pemberantasan gizi buruk dan stunting dengan Kelor (moringa oleifera) atau “Marungga”.

Kelor adalah tanaman asli pegunungan Himalayah ini telah lama dikenal dan dikonsumsi di NTT, namun apakah masyarakat benar-benar mengetahui kandungan gizi Kelor?

Dalam satu dekade terakhir Kelor menjadi pusat perhatian para pakar gizi mengingat hasil kajian laboratorium mengungkap Kelor menjadi satu-satunya sayur dengan berbagai micro maupun macro nutrient yang sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan dan perkembangan mulai dari janin hingga manfaat bagi perawatan kesehatan lansia.

Oleh banyak pakar, Kelor dinamakan multi vitamin dan mineral yang hidup, hanya selangkah dari pintu anda.

Terdapat begitu banyak kasus pada kelompok berresiko seperti ibu hamil, ibu menyusui, baduta dan balita mengalami masalah gizi buruk.

Namun pendekatan konvensional dengan suplementasi sampai saat belum mampu memutuskan mata rantai masalah kesehatan pada kelompok tersebut, kemampuan keuangan negara terbatas. Sementara kasusnya cukup banyak.

Perlu inisiatif lain yang mencegah masalah kesehatan kelompok berresiko ini agar tidak berdampak panjang pada generasi ini.

Pendekatan mengatasi gizi secara konvensional (pemberian makanan tambahan) hanya program karitatif yang menimbulkan ketergantungan masyarakat pada bantuan dan terbatas belum efektif dan efisien

Sebagai bahan kajian dan renungan. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), angka stunting pada Balita di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 37,1% dan pada tahun 2018 sebesar 30,8%.

Sementara di NTT Tahun 2013; 51,7% dan tahun 2018 42,6%. Pada Tahun 2023 Hasil Survey Kesehatan Indonesia Menunjukkan Prevalensi Stunting di Provinsi NTT tahun 2023 sebesar 37,9%, Naik 2,6% dari tahun 2022 (35,3%) dan berjarak 4,8% dari target stunting NTT yang dibebankan yaitu 33,1%.

Sesuai Hasil SKI (2023) Stunting tertinggi adalah TTS 50,1% diikuti Belu (48,1%); Malaka 47,7%; SBD 44,3%; Manggarai Timur 43,7% TTU 42,7% dan Sumba Barat 42,5%.

Hasil Pengukuran langsung dari Aplikasi elektronik Pencatatan dan pelaporan Gizi berbasis Masyarakat (e_Ppgbm) berdasarkan jumlah Balita Balita yang ditimbang dan sasaran balita (D/S) diketahui Rata2 Jumlah balita yang ditimbang adalah 80,6% dari sasaran Balita (S): 408.386, Balita yang ditimbang 329.265 (D). Artinya masih ada sekitar 79.121

Balita yang tidak ditimbang atau tidak mendapatkan pelayanan di Posyandu. Ini membutuhkan Perhatian kita bersama terutama dari Keluarga, maupun dari Pemerintah (RT,RW, Desa/Kelurahan) untuk menyiapkan dan memastikan Saran yang ditimbang adalah 100%.

Hasil E-PPGBM Kabupaten dengan Data Stunting tertinggi adalah TTS 41,7% dengan jumlah Balita ditimbang 76,1%) diikuti Kabupaten dengan Data Stunting > 20 % adalah Kab Sumba Barat daya 37,9%; Kab. Belu 30,5%; TTU 30,1%; Malaka 24,7%, Alor 23,2%; Sabu Raijua 21,3% Sumba Barat 20,5%. Rata-rata Balita ditimbang 80,6% Tertinggi Balita ditimbang di Kabupaten Manggarai Barat 100%, Balita ditimbang > 95% adalah kab Sabu raijua 97,9% dan Kab. Nagekeo 95,6%.

Jumlah Balita Ditimbang terendah < 50% adalah Alor 48,3% dan Sumba Barat daya 46,3%.

Hal ini menunjukkan bahwa masalah stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena masih di atas ambang batas 20%. Secara Epidemiologi perlu pendekatan “Active Case finding”; Yaitu menemukan kasus dan melakukan intervensi yang komprehensif dengan pendekatan Multipihak Stakeholder Partnership yang bersifat inklusif sesuai semangat dan prinsip SDGs : No One Left Behind” (Tidak Seorang pun Tertinggal) adalah prinsip utama dalam SDGs (Sustainable Development Goals) yang menekankan bahwa setiap orang—tanpa terkecuali—harus mendapatkan manfaat dari pembangunan, terutama mereka yang paling miskin, rentan, dan terpinggirkan. Kesetaraan dan keadilan sosisal, fokus pada kelompok rentan, menghapus diskriminasi, akses yang merata, pemantauan dan evaluasi yang adil. Penurunan angka stunting ini juga berkaitan dengan periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Periode ini merupakan periode emas “ Golden Period”; periode sensitif yang menentukan kualitas hidup bayi di masa yang akan datang. Hal ini perlu mendapat perhatian dari Pemerintah. Melakukan pendampingan keluarga Sadar Gizi dalam rangka penurunan angka stunting di NTT.  

Berbagai upaya telah dilakukan namun belum membuahkan hasil yang menggembirakan perlu upaya2 luar biasa.

Melibatkan lintas program dan lintas sektor. Khusus untuk baduta dan Balita direkomendasikan untuk : Melakukan Pendampingan keluarga agar : (1)Keluarga Membawa balitanya datang ke posyandu secara teratur setiap bulan. (2) Membawa balita Gizi Kurang/ BGM (Bawah Garis Merah), balita tidak naik berat badannya dua kali berturut-turut (2T), balita sakit atau diduga gizi buruk ke Polindes/Poskesdes, Pustu, Puskesmas. (3) Memberikan ASI saja kepada bayi sampai berusia 6 (enam) bulan.(4) Makan beraneka ragam makanan berbahan lokal yang bervariasi dari Kelor (5) Menggunakan garam beryodium. (6) Minum kapsul vitamin A bagi balita, ibu nifas; dan tablet tambah darah bagi ibu hamil sesuai anjuran.

Pendekatan untuk penangan stunting tidak hanya bersifat parsial pada Baduta dan Balita saja tetapi juga pada anak adolesense, remaja, WUS, ibu hamil, ibu nifas dan ibu melahirkan melalui pendekatan siklus hidup yang akan dibahas secara rinci kemudian (artikel berikut).

Pemberian makanan tambahan dapat dilakukan dalam kondisi ini ketika terjadi outbreak malnutrisi, bencana alam, dan yang perlu menjadi program rutin salah salah satunya adalah Konsumsi Kelor.

Hasil Riskesdas pemberian PMT pada Balita 6 – 59 Bulan; 28,7% yang mendapat PMT, dan yang mendapat program PMT 60,7% dengan hanya 1,7% yang mendapat > 90 bungkus sedangkan 94,1 % hanya mendapat 0 – 30 Bungkus (Riskesdas, 2018). Sehingga perlu pendampingan dari keluarga dan Kader kesehatan untuk memastikan anak mendapat nutrisi seimbang dan adekuat.

Salah satu sumber Nutrisi yang baik bagi Balita setelah usia 6 bulan adalah kelor. 

 

Nilai Gizi Kelor

Nilai gizi daun Kelor dari dahulu hingga kini tetap sama, Daunnya menjadi bagian paling bergizi dari tanaman kelor sendiri, dimana daun kelor merupakan sumberpenting vitamin B6, vitamin C, provitamin A sebagai beta-karoten, magnesium dan protein antara nutrisi lain. Hal ini diungkap oleh USDA setelah melakukan riset terhadap tanaman ini. 

Perbandingan kandungan kelor dan makanan lainnya: Vitamin A dalam wortel – 1,8 mg, sedangkan dalam daun kelor – 6,8 mg. Kalsium dalam Susu:120 mg, sementara di daun kelor: 440 mg. Kalium pada pisang : 88 mg, dalam daun kelor: 259 mg. Protein dalam Yogurt – 3,1 g, sedangkan dalam daun kelor: 6,7 g.Sementara Vitamin C dalam Jeruk:30 mg, dalam daun kelor 220 mg. Disamping itu Daun kelor juga mengandung 9 jenis asam amino esensial yang bermanfaat bagi pertumbuhan sel-sel otak bayi. Secara singkat, daun kelor mengandung (1) Sepuluh vitamin esensial dan sebelas mineral penting. (2)Sembilan asam amino esensial lengkap. (3) Lebih dari 24 jenis anti-oksidan yang dapat kita pakai untuk membentengi tubuh kita dari radikal bebas yang menyebabkan kanker. (4) Lebih dari 24 nutrisi anti-inflamasi. (5) Asam lemak Omega-3 dan Omega-6. Namun demikian, proses pengolahan dengan suhu di atas 60 derajat akan merusak sejumlah zat gizinya. Oleh karena itu, pengolahan yang benar akan menjamin kasiat dari Kelor terhadap kesehatan kita.

Tepung Daun Kelor

Di samping dikonsumsi dalam keadaan segar, daun Kelor bisa dijadikan bubuk, Bubuk Kelor bahkan lebih kaya lagi dari pada daun dalam keadaan segar.

Dalam setiap 100 gram bubuk kering18,9mg vitamin A, sementara Wortel hanya 1.8mg, daun Kelor segar hanya 6.8mg. Sedangkan vitamin C dalam tepung daun Kelor adalah 17.3mg, sedangkan dalam keadaan segar kandung Vitamin C mencapai 220mg/100gram, sedangkan yang kering sedikit menurun, yaitu 173/100gram, dibandingkan Vitamin C pada jeruk hanya 30mg/100gram. Kandungan Kalsiumnya, tepung Kelor 2003mg, sedangkan daun segar terdapat 440mg. 

Tantangan bagi Kelor

Namun demikian, makanan olahan dengan kemasan bagus yang dianggap makanan bergengsi terus memberikan kontribusi terhadap buruknya pola makan di kalangan anak balita, terutama dalam tumbuh kembang 1000 hari pertama.

Makanan olahan telah “merampas” posisi makanan alami lokal karena kalah promosi dan tidak mendapat perhatian untuk didiversifikasi. Meskipun dilengkapi dengan informasi gizi, dan lain-lain, makanan olahan tetap tidak menampilkan kualitas gizi alaminya bila dibandingkan sumber makanan segar. Belum lagi makanan olahan juga bersumber dari produk yang terkontaminasi herbisida, pestisida, pupuk buatan, dan lain-lain.

Maka kini saatnya perbaikan gizi pada kelompok balita bersumber pada bahan makanan yang berkualitas, mudah diakses, murah (local-cost effective) dan dapat dibudidaya. 

Kelor (Moringa Oleifera) kini semakin populer bukan karena iklan komersil, melainkan karena kajian ilmiah dan keberhasilan perbaikan gizi pada anak-anak negara-negara Afrika seperti Senegal, Zambia, dll dimana beberapa organisasi nirlaba seperti CWS, mengembangkan program pengentasan gizi buruk dengan potensi lokal (Kelor) yang terbukti sangat baik.   

Gizi Berbasis Makanan Lokal

Inisiatif Gubernur NTT ke 8 Victor Laiskodat dalam upaya pencegahan stunting telah mencanangkan satu program peningkatan gizi masyarakat dan pemberantasan gizi buruk dan stunting dengan Kelor (moringa oleifera) atau “Marungga” di Provinsi NTT dan juga sesuai dengan Sejalan dengan Visi Gubernur-Wagub NTT ke 9 Melki dan Johni: “NTT Maju, Sehat, Cerdas Sejahtera dan Berkelanjutan” dengan Tujuh Pilar Pembangunan diantaranya: Pilar 1 ekonomi berkelanjutan pilar 2 Pemberdayaan komunitas, Pilar 4 kesehatan, pilar 5 pendidikan dan pilar 7 Kolaborasi dengan Program Prioritas Dasa Cita Ayo bangun NTT Program 5 Posyandu Tangguh, Masyarakat Sehat dan Bebas Stunting dan Program 10 Ayo bangun NTT, Kolaborasi bersama.

Dengan demikian perlu dilakukan Promosi kesehatan kepada masyarakat tentang nilai gizi di tanaman ini perlu terus dilakukan.

Agar kesadaran untuk menanam semakin tinggi. Dengan melakukan Multi Stakeholder Partnership (MSP) atau Kolaborasi Multi Pihak (KMP) Pemerintah, Swasta dan Masyarakat: (1) Pemerintah: Dinas yang terlibat adalah (Dinas Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Kesehatan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pendidikan, Bappeda, Dinas Sosial. (2) Lembaga Pusat/ Kementrian terkait adalah Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan, Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Perindustrian dan Perdagangan, Badan Pangan Nasional dan BKKBN (3) Petani dan kelompok tani, (4) Perguruan tinggi dan Lembaga Riset, (5) Lembaga kesehatan dan Gizi, (6) Pelaku Usaha dan UMKM. (7) Lembaga Keuangan dan perbankan, (8) LSM./NGO dan Komunitas Lokal, (9) Media dan Influencer.

Sebagai salah satu Provinsi dengan Jumlah Penduduk Angka Stunting tertinggi. Hal ini sejalan dengan komitment 159 negara yang menandatangani The World Declaration and the Plan of Action on Nutrition, 1992, termasuk Indonesia dimana deklarasi tersebut menyakatakan bahwa perlu strategy untuk mengatasi masalah micronutrient pada kelompok berresiko,“There have been many calls for an alternative approach, addressing the root causes of the problem rather than treating the symptoms. The World Declaration and the Plan of Action on Nutrition, adopted by 159 countries, at the International Conference on Nutrition organized by the UN’s Food and Agriculture Organization (FAO) and WHO in 1992, states that strategies to combat micronutrient malnutrition should:“….Ensure that sustainable food-based strategies are given first priority particularly for populations deficient in vitamin A and iron, favouring locally available foods and taking into account local food habbit” (Terdapat begitu banyak seruan untuk membuat pendekatan alternatif yang mengungkapkan akar penyebab masalah, bukan sekedar menyembuhkan gejalanya.

“ …Memastikan bahwa strategi pangan berkelanjutan prioritasnya secara khusus diberikan kepada populasi yang kekurangan vitamin A dan Zat Besi, dengan lebih mengandalkan ketersediaan sumber makanan lokal dan memperhatikan kebiasaan makan makanan lokal) Dari kesepakatan di atas, pengembangan Kelor sebagai salah satu sumber alternatif yang efektif (mampu mengatasi gizi secara baik), efisien (tanpa biaya) dan mudah untuk dibudidaya serta tumbuh dengan sangat baik di iklim kering seperti Nusa Tenggara Timur, merupakan sebuah momentum untuk menjadikan tanaman Kelor sebagai sebuah solusi terbaik untuk mengatasi gizi buruk di NTT.

Dalam musim penghujan dimana sayuran konvensional sulit tumbuh, Kelor begitu mudah tumbuh dan bertunas dengan begitu mudah dan subur. Jangan biarkan pucuk-pucuk kelor tumbuh percuma. Jangan Malu dan gengsi. Ambil dan olahlah bagi bumil, balita dan keluarga anda. 

Catatan paling penting, Berdasarkan analisa laboratorium, kelor TIDAK mengandung zat racun sekecil apapun, sehingga sama sekali TIDAK memiliki reputasi menimbulkan alergi apalagi kematian.

Ket : Penulis *) adalah Dosen Poltekkes Kemenkes Kupang Jurusan Keperawatan; 

Penulis *1) adalah Provincial Expert East Nusa Tenggara SDGS/SSTC GFA- GIZ (MI)