Syukur dan Persaudaraan Warnai Perayaan Kaul Pertama Sr Ida Baitanu di Biara OHFS Bello

Kupang, nwartapedia.com – Kehangatan persaudaraan dan rasa syukur menyatu dalam perjamuan sederhana di Biara Suster OHFS Bello, Kamis malam (19/2/2026).

Umat Bello, para imam, dan komunitas suster berkumpul merayakan kaul pertama Sr Ida Baitanu sebuah tonggak panggilan hidup bakti yang dirayakan dalam kebersamaan penuh makna.

Sekitar pukul 19.00 WITA, kurang dari dua puluh umat hadir bersama Ketua Stasi, Pastor Paroki dari Paroki Santo Fransiskus dari Asisi Kolhua, Frater David, serta Romo Arif dari Paroki Oepoli.

Kehadiran mereka bukan sekadar memenuhi undangan makan malam, tetapi menjadi bagian dari sukacita atas tumbuhnya panggilan religius baru di tengah Gereja.

Acara diawali dengan doa singkat sebagai ungkapan syukur atas kaul pertama yang diikrarkan dua hari sebelumnya.

Dalam suasana hening dan khidmat, doa-doa dipanjatkan sebagai tanda dukungan dan cinta dari komunitas kecil yang setia berjalan bersama.

Pimpinan OHFS Indonesia, Sr Mercy, menegaskan bahwa kebersamaan malam itu merupakan wujud syukur atas perjalanan panggilan hidup bakti Sr Ida Baitanu.

“Kami bersyukur atas kaul pertama saudari kami Sr Ida Baitanu, sehingga malam ini kami mengundang beberapa orang tua dan umat untuk makan malam bersama di biara. Ini bukan hanya perayaan pribadi, tetapi perayaan seluruh komunitas yang mendukung panggilan hidup bakti,” ungkapnya.

Suasana hangat terasa dalam percakapan dan tawa yang mengisi ruang makan biara. Hidangan khas Indonesia berpadu dengan menu India yang disiapkan komunitas suster, menghadirkan nuansa lintas budaya dalam satu meja persaudaraan.

Aroma nasi biryani yang kaya rempah berpadu dengan sajian salad dan aneka minuman, memperkaya kebersamaan malam itu.

Lebih dari sekadar santap malam, pertemuan tersebut menjadi ruang perjumpaan yang mempererat relasi antara umat, imam, dan biarawati. Nilai kesederhanaan, syukur, dan semangat melayani dengan hati terasa kuat dalam setiap percakapan.

Dalam terang spiritualitas Santo Fransiskus dari Asisi, kehidupan religius dipahami sebagai jalan persaudaraan universal, hidup sederhana, serta kedekatan dengan sesama. Malam di Bello menjadi cerminan nyata nilai itu sederhana dalam bentuk, namun besar dalam makna.

Perjamuan berakhir tanpa seremoni panjang. Namun bagi yang hadir, malam tersebut meninggalkan kesan mendalam bahwa panggilan hidup bakti tidak hanya dirayakan dalam ritus, melainkan juga dalam kehangatan persaudaraan yang hidup. (goe)




Ramadan Lebih Istimewa di Kristal Hotel Kupang, Sajikan Buffet Nusantara Lengkap Rp125 Ribu per Pax

Kupang, nwartapedia.com – Menyambut bulan suci Ramadan, Kristal Hotel Kupang menghadirkan pengalaman berbuka puasa yang berbeda melalui program spesial bertema “Ramadan Nusantara”.

Konsep All You Can Eat ini dirancang untuk menghadirkan kehangatan kebersamaan dengan sentuhan cita rasa khas Indonesia dari berbagai daerah.

Selama Ramadan, tamu akan dimanjakan dengan aneka menu Nusantara yang disajikan bergantian setiap hari.

Variasi hidangan tersebut memberikan pengalaman kuliner yang kaya rasa sekaligus menghadirkan sensasi berbuka yang tidak monoton.

Beberapa menu unggulan yang menjadi favorit antara lain Nasi Briyani, Kambing Guling spesial yang tersedia setiap hari, serta beragam hidangan tradisional lainnya yang diolah dengan cita rasa autentik oleh Executive Chef Herlandy bersama tim kuliner profesional.

Tak hanya menyajikan hidangan utama, Kristal Hotel Kupang juga menghadirkan konsep food stall interaktif yang menambah semarak suasana berbuka.

Tamu dapat menikmati sajian secara langsung dari stall-stall menarik, menciptakan pengalaman bersantap yang lebih hidup dan berkesan.

Dengan harga terjangkau, hanya Rp125.000 per pax, masyarakat sudah dapat menikmati hidangan berbuka sepuasnya dalam suasana yang nyaman dan representatif.

Promo ini sangat cocok untuk acara buka puasa bersama keluarga, komunitas, maupun rekan kerja.

Paket All You Can Eat “Ramadan Nusantara” tersedia setiap hari selama bulan Ramadan, mulai pukul 18.00 WITA hingga 21.00 WITA.

Sales Executive Melky Max mengajak masyarakat Kupang untuk segera melakukan reservasi lebih awal agar tidak kehabisan tempat.

“Melalui Ramadan Nusantara, kami ingin menghadirkan momen berbuka yang penuh kebersamaan dengan sajian terbaik bagi seluruh tamu,” ujarnya.

Jadikan Ramadan tahun ini lebih bermakna dengan pengalaman berbuka yang hangat, lezat, dan penuh kebersamaan di Kristal Hotel Kupang (MI)




Rasakan Hangatnya Kebersamaan Ramadhan di Rooftop, Harper Kupang Hadirkan Sensasi Berbuka dengan Panorama Kota

Kupang,nwartapedia.com  — Menyambut bulan suci Ramadhan dengan penuh semangat kebersamaan, Harper Hotel Kupang menghadirkan program istimewa All You Can Eat Ramadan Experience Buffet yang menawarkan pengalaman berbuka puasa berbeda di Kota Kupang.

Bertempat di rooftop lantai 10, para tamu dapat menikmati aneka hidangan berbuka sembari menyaksikan panorama senja Kota Kupang yang memikat.

Perpaduan suasana hangat, desain ruang yang elegan, serta pelayanan profesional menjadikan momen berbuka semakin berkesan.

Buffet Ramadhan ini menyuguhkan ragam menu pilihan, mulai dari takjil tradisional, hidangan khas Nusantara, sajian Timur Tengah, hingga menu internasional favorit.

Seluruh hidangan dipersiapkan oleh tim kuliner berpengalaman dengan standar kualitas hotel berbintang, menghadirkan cita rasa yang autentik dan menggugah selera.

General Manager Harper Kupang, Amiruddin Thamrin, menjelaskan bahwa konsep ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman berbuka yang tidak sekadar makan bersama, tetapi juga mempererat silaturahmi.

“Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk berbagi dan memperkuat kebersamaan. Melalui Ramadan Experience Buffet ini, kami ingin menghadirkan suasana berbuka yang nyaman, hangat, dan penuh makna bagi masyarakat Kupang,” ujarnya.

Program ini terbuka bagi tamu yang menginap maupun masyarakat umum yang ingin menikmati pengalaman berbuka puasa di hotel berbintang.

Selain variasi menu, kenyamanan menjadi perhatian utama melalui penataan ruang yang rapi, kapasitas tempat yang memadai, serta keramahan staf yang siap melayani dengan sepenuh hati.

All You Can Eat Ramadan Experience Buffet tersedia sepanjang periode Ramadhan dengan harga khusus.

Informasi lebih lanjut mengenai jadwal dan reservasi dapat diperoleh melalui kanal resmi hotel.

Tentang Harper Hotel Kupang

Harper Hotel Kupang memiliki 175 kamar dan berlokasi strategis di pusat Kota Kupang, Kompleks CBD Boulevard No.11 Fatululi, Oebobo, Kota Kupang 85111, Nusa Tenggara Timur.

Hotel ini merupakan bagian dari jaringan Harper yang dikelola oleh Archipelago.

Harper Hotel dikenal dengan konsep modern berpadu sentuhan rustik yang hangat, cocok bagi pelaku perjalanan bisnis maupun wisatawan yang mengutamakan kenyamanan dan kualitas layanan.

Tentang Archipelago

Archipelago merupakan grup perhotelan swasta terbesar di Asia Tenggara dengan lebih dari 45.000 kamar dan residence di lebih dari 300 hotel di berbagai kawasan dunia, termasuk Asia Tenggara, Amerika Latin, Karibia, Timur Tengah, dan Oseania.

Perusahaan ini memiliki portofolio 13 merek perhotelan pemenang penghargaan, di antaranya Aston, Alana, Huxley, Kamuela, Avanika, Harper, Quest, Four Corners, Neo, fave, Nordic, Powered by Archipelago, dan Aston Collection.

Informasi Lebih Lanjut:

Bernadeth Helena Ayuningrum Asst. Sales Manager Harper Hotel Kupang Email: kupangasm1@gmail.com | kupangmarcomm@harperhotels.com HP: 081237800235. ***




Bangkit dari Kerugian, BLUD SPAM NTT Sabet TOP BUMD Awards 2026 Bintang 3

Kupang, nwartapedia.com
Prestasi membanggakan kembali ditorehkan Badan Layanan Umum Daerah Sistem Penyediaan Air Minum (BLUD SPAM) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dalam ajang bergengsi TOP BUMD Awards 2026, BLUD SPAM Provinsi NTT berhasil meraih penghargaan kategori TOP BUMD 2026 Star 3.

Surat penghargaan tertanggal 17 Februari 2026 tersebut ditujukan kepada Gubernur NTT, Melkiades Laka Lena, dengan tembusan kepada Direktur Utama BLUD SPAM Provinsi NTT, Erasmus Jogo, SE, MM, sebagai pimpinan yang dinilai sukses membawa institusi bangkit dan berkembang secara signifikan.

Penghargaan tersebut dijadwalkan akan diterima secara resmi pada 13 April 2026 di Jakarta.

Direktur Utama BLUD SPAM Provinsi NTT, Erasmus Jogo kepada media ini menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas capaian tersebut.

Ia menegaskan bahwa penghargaan ini menjadi bukti nyata kerja keras seluruh jajaran.

“Sebagai pimpinan di BLUD SPAM tentu saya merasa bangga. Dari seluruh BLUD/BUMD di Provinsi NTT, BLUD SPAM Provinsi NTT yang memperoleh penghargaan ini. Ini adalah hasil kerja kolektif seluruh tim,” ujarnya pada Rabu (18/2/2026).

Erasmus mengungkapkan, perjalanan BLUD SPAM tidak selalu mulus. Pada 2020, lembaga tersebut sempat mengalami kerugian sekitar Rp798 juta.

Namun melalui pembenahan manajemen dan strategi pelayanan yang terarah, kinerja keuangan berhasil dibalik menjadi tren positif.

Pendapatan BLUD SPAM meningkat secara konsisten: tahun 2021 sebesar sekitar Rp260 juta, tahun 2022 naik menjadi sekitar Rp600 juta, tahun 2023 mencapai Rp1,1 miliar, tahun 2024 sebesar Rp1,5 miliar, dan pada 2025 target Rp2 miliar bahkan terlampaui dengan realisasi mencapai Rp2,5 miliar.

Menurutnya, strategi peningkatan tersebut dilakukan melalui penambahan jam pelayanan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta perluasan kerja sama dengan pelanggan strategis beberapa mitra layanan antara lain RSU W. Z. Johanes Kupang, RS Siloam, Lippo Plaza Kupang, hotel-hotel, dan lembaga swasta di sepanjang Jalan Timor Raya.

“Untuk menjaga kualitas pelayanan air minum, kami fokus pada kesiapan SDM yang profesional dan loyal, meningkatkan kuantitas serta kontinuitas distribusi air, dan menyesuaikan jam pelayanan dengan kebutuhan pelanggan,” jelasnya.

Ia menambahkan, penghargaan ini menjadi motivasi bagi seluruh jajaran untuk terus memperkuat koordinasi antar divisi dan meningkatkan standar pelayanan publik di sektor air minum di NTT.

Penilaian dalam TOP BUMD Awards 2026 dilakukan melalui tahapan wawancara mendalam, proses penjurian, hingga penetapan pemenang secara objektif dan independen dalam sidang pleno dewan juri yang kredibel.

Tim penilai melibatkan sejumlah lembaga dan institusi profesional, antara lain TOP Business, Institut Otonomi Daerah, Solusi Kinerja Bisnis, Dwika Consulting, Sinergi Daya Prima, akademisi dari FEB Universitas Indonesia, FEB Universitas Padjadjaran, FISIP Universitas Diponegoro, serta unsur asosiasi dan konsultan manajemen.

Erasmus berharap penghargaan ini sebagai motivasi bagi tim BLUD SPAM NTT serta terus berkoordinasi dengan masing-masing divisi untuk pencapaian pelayanan air minum menjadi lebih baik kedepannya.

“Saya berharap capaian ini menjadi tonggak penguatan tata kelola BLUD SPAM Provinsi NTT sebagai lembaga pelayanan publik yang profesional, akuntabel, dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui akses air minum yang lebih baik,”pungkasnya. (MI)




Respons Cepat Gubernur dan Wakil Gubernur NTT: Menjaga Harmoni, Memperkuat Pelayanan Publik

Oleh: Dr. Frans Sales, S.Pd., MM (ASN Dispora Provinsi NTT)

Kupang,nwartapedia.com — Beberapa waktu terakhir, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dihadapkan pada dua fenomena yang menyita perhatian publik, baik di dalam maupun di luar daerah.

Pertama, munculnya disharmonisasi relasi sosial antara sebagian warga NTT di perantauan dengan masyarakat setempat di sejumlah daerah seperti Bali, Surabaya, Malang, Kalimantan, dan wilayah lainnya.

Kedua, peristiwa tragis meninggalnya seorang anak Sekolah Dasar di Jerebuu, Kabupaten Ngada, yang diduga berkaitan dengan persoalan verifikasi data bantuan sosial dan panjangnya proses birokrasi.

Dalam konteks ini, sikap responsif dan sigap yang ditunjukkan Gubernur NTT, Melkiades Laka Lena, dan Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, patut diapresiasi.

Kepemimpinan bukan hanya soal merancang program pembangunan, tetapi juga tentang kehadiran nyata saat masyarakat menghadapi persoalan genting.

Fenomena disharmonisasi di perantauan tidak bisa dipandang sebelah mata. Di sejumlah daerah, terjadi kesalahpahaman, konflik antarindividu maupun antarkelompok yang berujung pada perkelahian dan saling serang. Penyebabnya beragam, mulai dari miskomunikasi, rendahnya etika dalam relasi sosial, hingga sikap-sikap yang memicu stigma negatif.

Akibatnya, tidak sedikit warga NTT baik pelajar, mahasiswa, maupun pekerja mengalami kesulitan mendapatkan tempat tinggal, kos-kosan, bahkan akses pekerjaan.

Citra negatif seperti pemabuk, pembuat keributan, dan pengacau kerap dilekatkan secara generalisasi kepada masyarakat NTT. Ini tentu merugikan banyak pihak yang sejatinya hidup tertib, bekerja keras, dan berkontribusi positif di tanah rantau.

Menyikapi kondisi tersebut, Gubernur Melkiades Laka Lena membentuk tim dan langsung turun ke Provinsi Bali untuk bertemu Gubernur Bali, Wayan Koster, bersama unsur Forkopimda.

Tidak hanya itu, pertemuan juga dilakukan di tingkat kabupaten/kota yang terdampak, sekaligus bersilaturahmi dengan diaspora NTT.

Langkah ini bukan sekadar simbolik, tetapi wujud nyata kehadiran negara dalam merawat persaudaraan kebangsaan. Dialog dibangun, suasana diredakan, dan warga NTT diajak kembali menata relasi sosial dalam bingkai kebhinekaan.

Kita diingatkan bahwa meski berbeda suku, budaya, dan daerah, kita tetap satu tanah air Indonesia, satu bahasa Indonesia, satu bangsa Indonesia, berideologi Pancasila, dan berlandaskan UUD 1945.

Gubernur dan Wakil Gubernur NTT telah menunjukkan diri sebagai penjaga empat pilar kebangsaan: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Di sisi lain, peristiwa meninggalnya seorang anak SD di Jerebuu, Ngada, menjadi tamparan keras bagi kita semua, khususnya aparatur sipil negara (ASN) dan birokrat.

Dugaan kesalahan verifikasi data kependudukan warga miskin serta panjang dan berbelitnya proses birokrasi bantuan sosial menimbulkan kekecewaan mendalam.

Peristiwa lokal ini kemudian menjadi isu nasional bahkan internasional, diperbincangkan luas di berbagai platform.

Apapun dinamika yang berkembang, tragedi ini harus menjadi refleksi serius. Birokrasi tidak boleh menjadi labirin yang membingungkan rakyat kecil. ASN sebagai leading sector pelayanan publik harus mampu menghadirkan negara secara cepat, tepat, dan manusiawi.

Reformasi birokrasi tidak cukup berhenti pada tataran struktur dan regulasi. Diperlukan perubahan paradigma berpikir, cara kerja, dan pendekatan pelayanan.

Era global dan digital menuntut inovasi dalam tata kelola pemerintahan menuju konsep new public service yang menempatkan masyarakat sebagai subjek utama pelayanan, bukan sekadar objek administrasi.

Respons cepat Gubernur dan Wakil Gubernur NTT terhadap dua fenomena ini menunjukkan komitmen kuat untuk menjaga harmoni sosial sekaligus membenahi sistem pelayanan publik.

Namun, kerja besar ini tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan dukungan seluruh ASN, tokoh masyarakat, pemuda, mahasiswa, diaspora, dan seluruh elemen masyarakat NTT, baik yang berada di dalam maupun di luar daerah.

Mari kita dukung semangat kepemimpinan yang responsif ini. Mari kita jadikan setiap persoalan sebagai momentum pembenahan dan penguatan solidaritas.

Energi kita seharusnya difokuskan pada pembangunan daerah melalui program-program strategis demi terwujudnya visi NTT yang maju, sehat, cerdas, sejahtera, dan berkelanjutan.

Ayo bangun NTT.

Menuju masyarakat sejahtera dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. (MI)




Dukungan Bunda Julie Laiskodat Warnai Peringatan HPN 2026 di Kupang

Kupang, nwartapedia.com – Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Nusa Tenggara Timur, Fery Jahang, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Bunda Julie Sutrisno Laiskodat atas dukungan berupa bantuan dana sebesar Rp10 juta untuk menyukseskan peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang akan digelar di Kota Kupang.

Hal tersebut disampaikan Fery Jahang kepada media ini pada Sabtu (7/2/2026).

Ia menilai dukungan tersebut sebagai bentuk kepedulian dan perhatian terhadap insan pers di NTT, sekaligus memperkuat semangat kolaborasi antara media dan para pemangku kepentingan.

“Terima kasih kepada Ibu Julie Laiskodat atas dukungannya untuk HPN 2026. Kiranya kolaborasi media di antara kita tetap terjalin. Sukses selalu dalam kerja-kerja politik Ibu Julie ke depannya,” ujar Fery Jahang.

Menurutnya, peringatan Hari Pers Nasional bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum penting untuk memperkuat peran pers sebagai pilar demokrasi, mitra pembangunan, serta penyampai informasi yang berimbang dan bertanggung jawab kepada masyarakat.

Sementara itu, Ketua Panitia Hari Pers Nasional Provinsi NTT, Nong Ryan, juga menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan yang telah diberikan Bunda Julie Sutrisno Laiskodat demi terlaksananya peringatan HUT HPN tingkat Provinsi NTT.

“Kami mengucapkan terima kasih atas kesediaan Bunda Julie yang telah berkenan mendukung kegiatan ini. Kami mendoakan semoga Bunda tetap sehat dan kuat untuk terus melayani masyarakat NTT,” ungkap Nong Ryan.

Peringatan Hari Pers Nasional 2026 di Provinsi NTT direncanakan akan diisi dengan berbagai kegiatan yang melibatkan insan pers, pemerintah, serta elemen masyarakat, sebagai wujud komitmen bersama dalam memperkuat kebebasan pers dan profesionalisme jurnalis di daerah.(MI)




Tes Bersama SKO, Spobnas, PPLD, PPLMD, dan PPLPD Jadi Langkah Awal NTT Menuju PON 2028

Kupang,nwartapedia.comDinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Nusa Tenggara Timur menggelar tes bersama bagi atlet SKO, Spobnas, PPLD, PPLMD, Disabilitas/NPC dan PPLPD yang berlangsung di Kota Kupang, Jumat (6/2/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian penting dari tahapan pembinaan prestasi olahraga NTT dalam rangka persiapan menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.

Plt. Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi NTT yang diwakili oleh Kepala Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Dispora Provinsi NTT, Dr. Frans Sales, S.Pd, MM, dalam membuka kegiatan mengatakan bahwa tes tersebut merupakan rambu awal dan fondasi pembinaan atlet secara terukur dan berkelanjutan.

“Tes hari ini adalah rambu menuju PON 2028. Sebagai calon tuan rumah, salah satu syarat dasar yang harus dipenuhi adalah kesiapan prasarana olahraga, serta ketersediaan akomodasi dan penginapan yang memadai,” ujar Frans Sales.

Ia menegaskan bahwa pembinaan prestasi harus dilakukan melalui tahapan yang jelas, dimulai dari diagnosa atau analisis kecabangan olahraga. Tahapan tersebut meliputi pemeriksaan kesehatan, tes psikologi atau mental, serta tes fisik dan keterampilan atlet.

“Hasil tes ini akan menjadi data awal. Data tersebut akan diolah dan dijadikan dasar rekomendasi bagi pelatih dalam menyusun program latihan yang tepat dan berbasis kebutuhan atlet,” jelasnya.

Menurut Frans, setelah data dianalisis, pelatih akan menyusun program latihan dan mempresentasikannya untuk dievaluasi bersama. Dari proses itu akan muncul catatan dan masukan guna menyempurnakan program, sebelum akhirnya masuk pada tahap pembentukan karakter dan pelaksanaan latihan secara intensif.

“Dengan sistem pembinaan yang baik, kita berharap dapat melahirkan atlet-atlet NTT yang berkualitas, berkarakter, dan siap bersaing membawa nama daerah di PON 2028,” tambahnya.

Koordinator Tes, Dr. Lukas M. Boleng, M.Kes, AIFO, menjelaskan bahwa tes ini merupakan tes awal untuk mengetahui kondisi fisik atlet, khususnya pada cabang olahraga bela diri, atletik, serta atlet disabilitas.

“Tes ini menjadi acuan awal. Tiga bulan ke depan akan dilakukan tes ulang untuk melihat apakah terjadi peningkatan atau justru penurunan performa atlet,” ujarnya.

Sementara itu, Dr. Jhony Lumba, S.Pd, M.Pd, selaku tim pelaksana, menyampaikan terima kasih kepada Dispora NTT, khususnya Bidang Peningkatan Prestasi, yang telah memberikan ruang dan kesempatan bagi atlet untuk dipersiapkan secara serius menuju PON 2028.

Akademisi olahraga Jhony Lumba juga berharap agar NTT tidak hanya menjadi tuan rumah, tetapi mampu meraih prestasi membanggakan.

“NTT jangan hanya menjadi penonton di rumah sendiri. Kita harus mampu meraih prestasi yang bagus,” tegasnya. Ia juga mengapresiasi fasilitas pembinaan atlet yang telah disiapkan Pemerintah Provinsi NTT dengan standar nasional.

Pengelola Popnas, PPLM, dan PPLS, Dudy Baranusa, SE, menjelaskan bahwa tes ini merupakan hasil kerja sama sentra pembinaan Dispora dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan melalui Sko Spobnas.

“Tes ini diikuti sekitar 300 lebih atlet dari berbagai cabang olahraga dan perguruan daerah. Cabang olahraga prioritas di sentra PPLD masih didominasi cabang bela diri yang selama ini menjadi penyumbang medali,” ungkapnya.

Ia menambahkan, tes akan dilaksanakan secara berkala sebanyak tiga kali dalam setahun, setiap triwulan, guna memantau perkembangan atlet dan memastikan kesiapan mereka menghadapi kejuaraan dan PON 2028 yang waktunya semakin dekat.

Dengan pelaksanaan tes bersama ini, Dispora NTT optimistis pembinaan atlet dapat berjalan lebih terarah dan terukur, sehingga NTT siap menjadi tuan rumah sekaligus berprestasi di PON 2028 mendatang. (MI)




BPS Provinsi NTT Rilis Data Ketenagakerjaan: Angkatan Kerja Capai 3,11 Juta Orang, Pertanian Masih Dominan

Kupang, nwartapedia.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merilis perkembangan ketenagakerjaan NTT berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) November 2025, dalam rilis resmi yang disampaikan pada Kamis (5/2/2026).

BPS mencatat jumlah angkatan kerja di NTT pada November 2025 mencapai 3,11 juta orang, mengalami peningkatan sebanyak 0,02 juta orang dibandingkan kondisi Agustus 2025. Kenaikan ini menunjukkan bertambahnya penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi.

Sejalan dengan itu, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) NTT tercatat sebesar 75,65 persen, meningkat 0,10 persen poin dibandingkan Agustus 2025.

Angka ini mencerminkan meningkatnya keterlibatan penduduk usia kerja dalam pasar kerja.

Jumlah penduduk bekerja pada November 2025 tercatat sebanyak 3,01 juta orang, atau naik 0,02 juta orang dibandingkan periode Agustus 2025.

Peningkatan tersebut mengindikasikan adanya perbaikan kondisi ketenagakerjaan di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Ditinjau dari lapangan usaha, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih menjadi sektor dengan peningkatan jumlah penduduk bekerja terbesar.

Pada November 2025, sektor ini mengalami penambahan tenaga kerja sebanyak 0,02 juta orang, sekaligus menegaskan perannya sebagai sektor utama penopang perekonomian dan penyerap tenaga kerja terbesar di NTT.

BPS Provinsi NTT berharap, peningkatan jumlah angkatan kerja dan penduduk bekerja ini dapat terus didorong melalui penguatan sektor-sektor produktif, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta perluasan kesempatan kerja yang berkelanjutan di seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur. (MI)




Membedah Kesadaran Retrospektif atas Kasus Kematian Anak Sekolah Dasar di NTT

Oleh: E. Nong Yonson sebagai Praktisi dan Konsultan Pendidikan

Kupang, nwartapedia.com — Respons publik terhadap kasus kematian seorang anak Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada pada 29 Januari 2026 muncul dari berbagai arah. Gubernur NTT menyatakan rasa malu sekaligus mempertanyakan kehadiran Pemerintah Daerah Ngada.

Para pemerhati pendidikan menyoroti suasana sekolah, masyarakat mempertanyakan sasaran program bantuan pemerintah, sementara isu broken home mencuat pascakejadian. Ungkapan duka mengalir deras, namun bersamaan dengan itu muncul pula banyak tanda tanya yang belum terjawab.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengulas kronologi peristiwa. Fokus utama tulisan ini adalah membedah kesadaran retrospektif kita atas tragedi tersebut.

Kesadaran retrospektif adalah pemahaman yang baru muncul setelah sebuah peristiwa terjadi. William James, dalam The Principles of Psychology (1890), menyebut bahwa manusia sering kali baru “menyadari apa yang dialami” setelah peristiwa itu berlalu.

Kita ramai membicarakan sesuatu ketika ia telah menjadi akibat, tetapi lalai memperbincangkannya saat masih berupa sebab.

Kepedulian yang datang terlambat ini menandakan bahwa “pantauan kita” patut dipertanyakan. Kita melihat dengan mata yang mana, atau dengan mata siapa? “Mata yang mana” merujuk pada fenomena apa yang kita anggap prioritas, sedangkan “mata siapa” berkaitan dengan cara dan sumber data yang kita gunakan. Ketidakjelasan ini membentuk lingkaran setan: saling menyalahkan, berputar-putar, tanpa penyelesaian yang substantif.

Jika menelisik prinsip negara dalam dunia pendidikan, ada satu fondasi yang wajib dikaji secara kritis, yakni kesetaraan dan keadilan pendidikan.

Negara hadir untuk mengurangi kesenjangan melalui beasiswa, pendidikan gratis atau bersubsidi, serta program afirmasi bagi daerah tertinggal. Prinsip dasarnya jelas: yang lemah dibantu, bukan ditinggalkan.

Namun ketika prinsip ini dikorelasikan dengan tragedi di Ngada, kita dipaksa mengakui bahwa kegagalan telah terjadi. Kasus ini sulit untuk dibantah sebagai bentuk “ditinggalkan”.

Kita semua terseret dalam tamparan reflektif yang keras. Air mata duka tidak serta-merta menghapus kelalaian kolektif. Kematian anak ini bukan semata soal kemiskinan ekstrem, melainkan cermin kegagalan negara dalam menjalankan amanat UUD 1945 Pasal 34 ayat (1): “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.”

Dalam amanat konstitusi tersebut, tersirat tanggung jawab negara yang harus dijalankan secara nyata dan merata, yaitu:

1. Memberikan akses pendidikan bagi fakir miskin,

2. Menyediakan pendidikan gratis atau bantuan pendidikan,

3. Melindungi kelompok yang secara sosial dan ekonomi tertindas agar tidak terputus dari pendidikan.

Anak ini mengakhiri hidupnya karena ibunya tidak mampu membelikan buku dan pena—kebutuhan yang sangat sederhana, tetapi substansial.

Ini bukan persoalan uang jajan, melainkan fasilitas belajar dasar. Pertanyaan reflektifnya: di mana keberadaan bantuan pendidikan dan perlindungan sosial negara sebagaimana poin dua dan tiga di atas?

Semua pertanyaan itu baru mengemuka setelah negara gagal menyelamatkan yang paling lemah. Inilah yang disebut kesadaran retrospektif kesadaran yang lahir ketika segalanya sudah terlambat.

Jika dibedah lebih dalam, akar persoalan ini sesungguhnya dapat dideteksi lebih awal. Setiap anak yang masuk jenjang PAUD, TK, hingga SD mengisi formulir yang memuat latar belakang sosial dan ekonomi keluarga.

Data ini direkam untuk memperoleh gambaran menyeluruh tentang kondisi anak. Jika demikian, pertanyaannya: apakah data tersebut benar-benar dimiliki satuan pendidikan? Jika dimiliki, digunakan untuk kepentingan apa?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk mengevaluasi sistem pendataan sekaligus mencegah terulangnya tragedi serupa. Kasus ini harus menjadi momentum pembenahan menyeluruh mulai dari prioritas negara dalam kebijakan pendidikan, hingga pendataan serius terhadap anak-anak dari keluarga rentan dan broken home.

Negara wajib menghadirkan program yang jauh lebih serius, dijalankan oleh pelaksana yang bekerja bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan dengan tanggung jawab yang bermutu.

Pelayanan publik harus dibenahi. Kita memang tidak bisa mengubah kejadian, tetapi kejadian ini dapat dan seharusnya mengubah kita untuk mengambil langkah-langkah preventif.

Pemerintah, melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Sosial, serta perangkat terkait lainnya, perlu segera melakukan identifikasi.

Anak-anak yang terindikasi mengalami trauma atau depresi akibat tekanan ekonomi dalam dunia pendidikan harus didata dan didampingi secara psikologis.

Upaya ini bukan hanya bentuk empati, tetapi langkah konkret untuk mencegah tragedi serupa.

Duka yang kita rasakan hari ini adalah duka yang ditulis dengan darah. Ia sekaligus menjadi pengingat akan kelalaian kolektif kita. Sudah saatnya kita berbenah dengan lebih serius, lebih peka, dan lebih bertanggung jawab. (MI)




Ekspedisi NTT LPS II Hadir di Fatukoa, Ratusan Warga Nikmati Layanan Kesehatan Gratis

Kupang, nwartapedia.com – Kepedulian terhadap kesehatan masyarakat kembali ditunjukkan Kantor Perwakilan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) II melalui Kegiatan Sosial Kemasyarakatan (KSK) Pemeriksaan Kesehatan Gratis yang digelar di Gedung Gereja GPDI Debora Fatukoa, Kamis (5/2/2026).

Kegiatan yang menjadi bagian dari Ekspedisi NTT LPS II ini secara resmi dibuka oleh Pelaksana Tugas (Plt) Lurah Fatukoa, Oktovianus Nifu, dan mendapat sambutan antusias dari warga, khususnya masyarakat RW 02 Kelurahan Fatukoa.

Dalam sambutannya, Oktovianus Nifu menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada LPS II yang telah menghadirkan pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat.

Menurutnya, kegiatan tersebut sangat membantu warga sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan sebagai modal utama dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

“Kesehatan adalah fondasi utama kehidupan. Jika tubuh tidak sehat, maka pekerjaan dan aktivitas apa pun tidak dapat berjalan optimal. Karena itu, kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas pelayanan kesehatan gratis yang diberikan kepada masyarakat hari ini,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan sosial seperti ini dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak warga di masa mendatang.

Pemerintah Kelurahan Fatukoa, kata dia, siap mendukung dan berkolaborasi demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Kami berharap ke depan LPS dapat kembali hadir dengan kegiatan serupa di Fatukoa. Ini bentuk perhatian yang sangat berarti bagi warga kami,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan LPS II Surabaya, Bambang S. Hidayat, menjelaskan bahwa LPS memiliki peran strategis dalam menjamin simpanan nasabah perbankan serta menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.

Di luar tugas tersebut, LPS juga berkomitmen menjalankan tanggung jawab sosial dengan hadir langsung di tengah masyarakat.

“Kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis ini merupakan wujud nyata kepedulian LPS kepada masyarakat. Seluruh layanan hari ini diberikan secara gratis, tanpa dipungut biaya apa pun,” tegas Bambang.

Ia juga mengungkapkan bahwa wilayah kerja Kantor Perwakilan LPS II Surabaya mencakup Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, hingga Kalimantan. Karena itu, pihaknya membuka peluang untuk kembali menggelar kegiatan sosial serupa di NTT, termasuk di Kelurahan Fatukoa.

Selain layanan pemeriksaan kesehatan, peserta kegiatan juga menerima paket makanan sehat sebagai bentuk dukungan terhadap penerapan pola hidup sehat. Bambang berharap kegiatan tersebut benar-benar memberikan manfaat dan mempererat hubungan silaturahmi antara LPS dan masyarakat.

“Kami berharap kegiatan ini berjalan lancar dan tertib, serta manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh bapak dan ibu semua. Terima kasih atas sambutan hangat dari masyarakat Fatukoa,” pungkasnya.

Kegiatan ini mendapat respons positif dari warga dan menjadi bagian penting dari rangkaian Ekspedisi NTT LPS II, yang bertujuan memperkuat kehadiran negara serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui aksi nyata di bidang sosial dan kesehatan. (MI)