Anwar Jaha dan Siti Ratna Maro Tunaikan Ibadah Haji, Gelar Syukuran Penuh Haru

 

Kupang,nwartapedia.com  — Kebahagiaan mendalam menyelimuti pasangan Anwar Jaha dan Siti Ratna Maro, dua Aparatur Sipil Negara (ASN) yang baru saja memasuki masa purnatugas dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Pemerintah Kota Kupang.

Setelah puluhan tahun mengabdi sebagai abdi negara, pasangan suami istri ini akhirnya mewujudkan impian lama mereka untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

Anwar Jaha dan Siti Ratna Maro berangkat bersama rombongan jemaah haji Indonesia pada akhir Juni 2025. Perjalanan spiritual yang telah lama dinanti itu menjadi puncak sekaligus penutup manis perjalanan hidup dan karier mereka sebagai ASN. Pekan lalu, pada awal Juli, mereka kembali ke Kota Kupang dalam keadaan sehat dan selamat.

Sebagai ungkapan syukur atas kelancaran dan keselamatan selama menjalankan ibadah haji, pasangan ini menggelar acara doa syukur pada Rabu (9/7) sore di kediaman mereka di Kelurahan Maulafa, Kota Kupang.

Acara berlangsung hangat dengan dihadiri keluarga besar, kerabat dekat, dan sejumlah rekan kerja dari instansi tempat mereka mengabdi.

“Sebuah anugerah luar biasa. Kami bersyukur bisa menunaikan rukun Islam kelima ini dalam keadaan sehat dan lancar,” ujar Anwar Jaha dalam sambutannya yang penuh haru.

Ia juga menyampaikan rasa terima kasih atas doa dan dukungan keluarga besar serta kolega yang selalu memberi semangat sejak persiapan keberangkatan hingga kepulangan.

“Segala puji bagi Tuhan. Kami bisa menjalankan ibadah haji dengan damai, penuh hikmat, dan semua urusan dilancarkan. Rasa syukur ini tak cukup diungkapkan dengan kata-kata. Terima kasih atas doa dan perhatian semua saudara-saudari, khususnya keluarga besar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang yang selalu mendukung,” tambahnya.

Siti Ratna Maro, yang juga menyampaikan testimoni singkat, mengungkapkan bahwa ibadah haji membawa pengalaman batin yang mendalam dan memperkuat iman mereka berdua.

Ia berharap amalan yang mereka jalankan diterima dan menjadi bekal untuk kehidupan yang lebih baik ke depan.

Suasana kekeluargaan dan syukur terasa kental selama acara yang turut diisi dengan doa bersama dan santap sederhana sebagai bentuk kebersamaan.

Banyak tamu undangan yang menyampaikan ucapan selamat serta doa agar keduanya menjadi haji dan hajjah yang mabrur.

Momentum ini menjadi penutup indah dari perjalanan panjang pengabdian Anwar dan Siti sebagai ASN, sekaligus bukti bahwa dedikasi dan ketulusan dalam bekerja selalu membawa berkah yang tak ternilai. (goe)




NTT Percepat Pembangunan Lapangan Criket, Sambut Pertandingan Persahabatan dengan Tim Australia

 

Kupang,nwartapedia.com  — Rencana kedatangan tim criket Australia untuk pertandingan persahabatan di Nusa Tenggara Timur (NTT) memacu semangat panitia untuk mempercepat pembangunan lapangan criket bertaraf internasional di Kupang.

Ketua Umum Criket NTT, Ince Sayuna, menyatakan bahwa pertandingan internasional ini menjadi momentum penting untuk memperkenalkan olahraga criket sekaligus menunjukkan kesiapan NTT sebagai tuan rumah.

“Kami sudah menyampaikan secara lisan kepada Gubernur NTT, Bapak Melki Laka Lena, dan juga melalui surat resmi dari pengurus Criket NTT. Kehadiran tim Australia ini memberi motivasi besar bagi kami untuk menyelesaikan pembangunan tepat waktu,” ujar Ince Sayuna usai rapat internal panitia, Senin (7/7).

Ince menegaskan, pihaknya terus berupaya menggalang dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, sponsor, dan masyarakat, agar proyek ini berjalan lancar.

Sekretaris Umum Criket NTT, Ambo, menambahkan bahwa komunikasi intensif juga dilakukan dengan pihak konsultan untuk memastikan pembangunan memenuhi standar internasional.

“Pembangunan ini dibiayai dari kas Criket NTT, namun kami terbuka terhadap dukungan pihak mana pun yang peduli terhadap perkembangan olahraga ini di daerah,” jelas Ambo.

Menurutnya, lapangan bertaraf internasional ini tidak hanya untuk menyambut tim Australia, tetapi juga sebagai persiapan NTT menjadi tuan rumah cabang criket pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII tahun 2028.

Ambo pun mengajak seluruh panitia pembangunan untuk tetap kompak dan aktif dalam memastikan seluruh tahapan pekerjaan berjalan sesuai rencana.

“Kami berharap semangat dan kerja sama semua pihak terus terjaga, sehingga lapangan ini bisa segera selesai dan menjadi kebanggaan bersama,” tambahnya.

Lapangan criket tersebut dibangun di atas lahan milik Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang, berlokasi di kawasan Tanah Merah, Desa Noelbaki, Kabupaten Kupang.

Pembangunan ini diharapkan rampung sebelum kunjungan tim Australia untuk pertandingan persahabatan dengan atlet criket NTT. (goe)




Panitia Criket NTT Matangkan Persiapan Pembangunan Lapangan Bertaraf Internasional

 

Kupang,nwartapedia.com  — Panitia pembangunan lapangan olahraga criket bertaraf internasional bersama jajaran pengurus Criket NTT menggelar rapat internal pada Senin malam (7/7) untuk mematangkan persiapan pembangunan.

Rapat yang berlangsung di Kupang itu dipimpin langsung oleh Ketua Umum Criket NTT, Ince Sayuna, dan dimoderatori oleh Sekretaris Umum, Ambo, dengan dihadiri pula para pelatih dan atlet yang terlibat dalam kepanitiaan.

Dalam arahannya, Ince Sayuna menyampaikan permohonan maaf atas beberapa kali penundaan agenda peletakan batu pertama pembangunan lapangan.

Penundaan itu, jelasnya, terjadi karena kondisi kesehatan Menteri Pemuda dan Olahraga RI yang semula dijadwalkan hadir dalam kegiatan tersebut.

“Penundaan ini bukan tanpa alasan, tetapi karena kondisi kesehatan Bapak Menteri sehingga jadwal beliau perlu disesuaikan kembali. Kami juga telah berkoordinasi dengan Rektor UKAW Kupang terkait hal ini,” ujar Ince.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para pelatih, atlet, dan seluruh panitia yang telah bekerja keras serta memberikan dukungan penuh terhadap rencana pembangunan lapangan tersebut.

Ince menegaskan bahwa pendanaan proyek ini bersumber dari kas Criket NTT, dana APBD Provinsi NTT, serta dukungan sponsor dan pihak ketiga.

“Terima kasih saya sampaikan kepada panitia pembangunan yang diketuai Pak Edu Penuweo, yang selama ini telah mempersiapkan dengan baik kehadiran Bapak Menteri dan seluruh teknis pelaksanaan pembangunan,” tambahnya.

Ketua Panitia Pembangunan, Edu Penuweo, dalam laporannya menyebutkan bahwa persiapan teknis sudah mulai dilakukan, antara lain penentuan titik lokasi utama dan skema penyambutan tamu.

Namun saat ini panitia masih menunggu kedatangan alat berat untuk membersihkan area utama yang akan digunakan saat seremoni peletakan batu pertama.

Menanggapi laporan tersebut, Ince Sayuna memastikan bahwa pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas PUPR NTT untuk menyediakan alat berat yang diperlukan. Pihak PUPR juga telah menyatakan siap mendukung, termasuk membiayai operasional alat berat di lokasi.

“Saya minta pembersihan lokasi bisa dimulai Rabu (9/7), dengan mengundang Rektor UKAW Kupang, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan KONI baik dari Kabupaten Kupang maupun Provinsi NTT. Kegiatan akan diawali dengan ritual doa sebelum pengerjaan lapangan dimulai,” tegasnya.

Pembangunan lapangan criket ini merupakan salah satu langkah strategis Pemprov NTT untuk mempersiapkan diri sebagai tuan rumah cabang olahraga criket pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII tahun 2028.

Adapun lokasi pembangunan berada di lahan milik Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang, tepatnya di kawasan Tanah Merah, Desa Noelbaki, Kabupaten Kupang.

Rencananya, Menteri Pemuda dan Olahraga RI akan hadir secara langsung untuk meletakkan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan.(goe)




KADIN NTT Siap Bawa Investor & UMKM Hadiri Trade Expo Timor Leste

 

Kupang,nwartapedia.com  — Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Nusa Tenggara Timur (NTT) menyatakan kesiapannya untuk membawa investor dan pelaku UMKM NTT berpartisipasi dalam Trade Expo Timor Leste yang akan digelar pada 28 Agustus hingga 1 September 2025 di Kota Dili.

Hal ini disampaikan langsung oleh Ketua Umum KADIN NTT, Bobby Lianto, dalam Forum Bisnis yang digelar di Hotel Harper Kupang, Senin (30/6/2025), sebagai bagian dari rangkaian kunjungan Menteri Perdagangan dan Perindustrian Timor Leste, Nino Pereira, ke Kota Kupang.

“Kami sangat mengapresiasi undangan dari Menteri Nino. Ini adalah kesempatan emas bagi pelaku usaha dan UMKM NTT untuk memperluas pasar dan membangun jaringan bisnis lintas batas. Ayo kita masuk pasar Timor Leste!” ujar Bobby Lianto dengan optimis.

Forum Bisnis tersebut menghadirkan pengusaha lokal NTT, asosiasi usaha, dinas teknis terkait, hingga mitra strategis dari kedua negara.

Kegiatan ini bertujuan memperkuat konektivitas ekonomi antara NTT dan Timor Leste, yang selama ini telah terjalin dalam berbagai bentuk kerja sama perdagangan dan investasi.

Menteri Nino Pereira dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada KADIN NTT atas inisiatif dan konsistensinya dalam membangun relasi bisnis bilateral.

“Saya berterima kasih karena ini sudah kunjungan ketiga saya melalui forum bisnis. Saya juga mengapresiasi para pengusaha NTT yang telah menjalin kerja sama dan berinvestasi di Timor Leste,” ujar Menteri Nino.

Selain Forum Bisnis, kunjungan Menteri Nino diisi dengan berbagai agenda strategis. Ia bertemu dengan Gubernur NTT dan mengundang secara resmi untuk menjadi pembicara dalam Trade Expo mendatang di Dili.

Kunjungan dilanjutkan ke Pasar Impres bersama Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, meninjau Kawasan Industri Bolok, serta berkunjung ke dermaga pelabuhan bersama INSA NTT dan Pelindo, hingga ke pabrik Cendana.

Malam harinya, Menteri Nino juga menggelar pertemuan informal dengan Wakil Wali Kota Kupang, Serena Francis, serta jajaran pengurus KADIN NTT di La Moringa, guna membangun relasi yang lebih erat dan santai di luar forum formal.

Dalam Forum Bisnis, Bobby Lianto juga menyampaikan bahwa KADIN NTT akan mengundang KADIN Indonesia dan KADIN Jawa Timur untuk memperluas jaringan kerja sama.

Menteri Nino dijadwalkan hadir dalam KADIN Diplomatik pada 11 Juli 2025 di Jakarta.

Kunjungan ini menandai babak baru dalam penguatan hubungan ekonomi antara NTT dan Timor Leste, membuka jalan bagi kolaborasi yang lebih konkret antara sektor swasta dan pemerintah dari kedua negara. ***




NTP NTT Juni 2025 Turun ke 99,35, Petani Masih Hadapi Tantangan Harga

 

Kupang,nwartapedia.com  — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur mencatat bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) pada bulan Juni 2025 mencapai 99,35, mengalami penurunan sebesar 0,59 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Dalam siaran resmi BPS NTT pada Selasa tanggal 1 Juli 2025 menjelaskan bahwa penurunan ini menandakan daya beli petani di NTT masih berada di bawah titik impas antara pendapatan dan pengeluaran.

NTP merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur kemampuan tukar hasil produksi pertanian terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk keperluan produksi. Angka NTP di bawah 100 menunjukkan bahwa petani mengalami penurunan kesejahteraan secara ekonomi.

Pada bulan Juni 2025, NTP masing-masing subsektor pertanian di NTT tercatat sebagai berikut Tanaman Padi-Palawija (NTP-P): 97,29, Hortikultura (NTP-H): 96,79, Tanaman Perkebunan Rakyat (NTP-TPR): 102,57, Peternakan (NTP-Pt): 105,65 dan Perikanan (NTP-Pi): 92,97.

Subsektor peternakan mencatat NTP tertinggi, menunjukkan kondisi ekonomi yang relatif lebih stabil bagi para peternak, sementara subsektor perikanan dan hortikultura mencatat NTP terendah, yang mengindikasikan tekanan ekonomi yang cukup besar terhadap pelaku usaha di sektor tersebut.

Menurut BPS, penurunan NTP secara umum dipicu oleh perlambatan indeks harga yang diterima petani, sementara harga barang dan jasa yang harus dibayar petani mengalami kenaikan, terutama untuk keperluan konsumsi dan produksi.

Selain itu, BPS juga mencatat bahwa pada bulan Juni 2025, wilayah perdesaan di NTT mengalami deflasi sebesar -0,35 persen.

Deflasi ini utamanya terjadi pada subkelompok makanan, minuman, dan tembakau, yang menjadi komponen dominan dalam pengeluaran rumah tangga petani.

Penurunan NTP dan kondisi deflasi ini memberikan sinyal perlunya perhatian dari pemerintah dan pemangku kebijakan terhadap stabilitas harga dan dukungan terhadap sektor pertanian, terutama pada subsektor yang masih mengalami tekanan berat. (MI)




SBMI DPW NTT Gelar Diskusi Desa dan Musyawarah Wilayah, Gaungkan Semangat Perlawanan terhadap TPPO

 

Kupang,nwartapedia.com — Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar dua kegiatan strategis secara bersamaan pada Sabtu (28/6/2025), bertempat di Kelurahan Naikolan, Kota Kupang.

Kegiatan ini mengusung semangat besar dalam mendorong kesadaran kolektif masyarakat mengenai migrasi aman sekaligus mengonsolidasikan arah gerakan organisasi melalui Musyawarah Wilayah.

Agenda pertama bertajuk “Diskusi Desa: Mendorong Migrasi Aman”, dibuka secara resmi oleh Lurah Naikolan.

Kegiatan ini menjadi wadah edukasi dan dialog antara peserta, pemangku kepentingan, dan komunitas buruh migran terkait pentingnya pemahaman mendalam tentang bahaya Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) serta pentingnya perlindungan dari tingkat desa.

Agenda kedua adalah Musyawarah Wilayah SBMI DPW NTT, yang dihadiri oleh sejumlah tokoh penting SBMI, di antaranya Dios dari SBMI Dewan Pimpinan Nasional (DPN), Polseno Niron dari SBMI Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Flores Timur, Ketua SBMI DPW NTT, Mery Hingi dan Calon Ketua Tunggal, Yudy Elindo Elik, S.AB

Acara yang turut disaksikan oleh sekitar 30 orang purna buruh migran ini berlangsung dalam suasana penuh semangat, aman, dan tertib.

Dalam sambutan Ketua SBMI DPW NTT, Mery Hingi menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya dua kegiatan penting tersebut.

Ia menekankan bahwa kerja kemanusiaan dalam isu buruh migran bukanlah pekerjaan yang mudah, melainkan panggilan nurani yang membutuhkan keberanian dan ketulusan.

“Tidak semua orang mampu atau bersedia menempuh jalan kerja kemanusiaan. Tapi saya percaya, kalau kita bergandengan tangan, kita bisa wujudkan NTT yang bebas dari TPPO. Mari bekerja bersama demi masyarakat kita,” ujarnya.

Ia juga menggaungkan kembali semboyan perjuangan SBMI yang menjadi pengingat atas urgensi aksi kolektif: “Lawan Sekarang atau Tertindas Selamanya.”

Musyawarah Wilayah SBMI DPW NTT ini semula dijadwalkan pada tahun 2023, namun mengalami penundaan akibat keterbatasan anggaran.

Setelah dua tahun tertunda, akhirnya musyawarah berhasil dilaksanakan secara penuh dan demokratis, dengan menghasilkan keputusan penting: terpilihnya Yudy Elindo Elik, S.AB sebagai Ketua SBMI DPW NTT yang baru.

Musyawarah ini diharapkan menjadi momentum baru bagi SBMI di wilayah NTT dalam memperkuat konsolidasi gerakan, memperluas edukasi tentang migrasi aman, serta melindungi para buruh migran dan calon migran dari praktik-praktik perdagangan orang. ***




Gubernur dan Wakil Gubernur NTT Pimpin Rapat Optimalisasi PAD: Tegaskan Pentingnya Lompatan Strategis Menuju Kemandirian Fiskal

 

Kupang,nwartapedia.com  — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menegaskan komitmennya dalam mengakselerasi peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebagai langkah strategis untuk menyehatkan struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Komitmen ini ditegaskan dalam Rapat Koordinasi Optimalisasi PAD yang dipimpin langsung oleh Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena dan Wakil Gubernur Johni Asadoma, bertempat di Aula Fernandez, Kantor Gubernur NTT, Kamis (26/6/2025).

Rapat ini dihadiri oleh jajaran pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lingkup Pemerintah Provinsi NTT, pimpinan perbankan seperti Bank Indonesia Perwakilan NTT, Bank NTT, Bank BCA, Bank Mandiri, serta sejumlah pelaku usaha, termasuk Komisaris PT Subasuka Go dan pemilik Rumah Tenun Ina Ndao.

Dalam arahannya, Gubernur Melki secara tegas mengungkapkan bahwa saat ini struktur APBD Provinsi NTT dalam kondisi tidak ideal.

Ia menyebutkan, pascapenerimaan ASN baru melalui CPNS dan PPPK, komposisi belanja pegawai meningkat drastis hingga mencapai 56% dari total belanja daerah.

“Struktur ini sudah jauh dari sehat. Ini menciptakan persepsi negatif bahwa Pemerintah Provinsi hanya fokus pada belanja internal tanpa keberpihakan nyata pada pembangunan publik,” ungkap Gubernur Melki.

Untuk itu, peningkatan PAD menjadi solusi utama. Menurutnya, dibutuhkan langkah-langkah luar biasa dan inovatif, bukan pendekatan konvensional, untuk mencapai target PAD yang telah ditetapkan.

“Target kita bukan kecil. Dari Rp1,4 triliun menjadi Rp2,8 triliun. Itu bukan sekadar angka, tapi butuh lompatan besar, energi kolektif, dan kolaborasi lintas sektor,” tegasnya.

Gubernur juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, lembaga keuangan, dunia usaha, dan masyarakat dalam menciptakan ekosistem ekonomi yang sehat dan berkelanjutan.

“Saya baru saja menghadiri peresmian GG Mart oleh Sinode GMIT, yang menjadi etalase hasil produk lokal. Ini sejalan dengan semangat Gerakan Beli NTT dan program One Village One Product (OVOP). Saya berharap inisiatif seperti ini bisa dilakukan juga oleh komunitas lintas agama lainnya,” tuturnya.

Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, menambahkan bahwa capaian PAD Provinsi NTT saat ini masih jauh tertinggal dibandingkan dengan provinsi lain.

Ia menyoroti PAD Kabupaten Badung (Bali) yang telah mencapai Rp9 triliun dan Provinsi NTB yang telah melampaui Rp3 triliun, sedangkan NTT masih bertahan di angka Rp1,4 triliun.

“Padahal, dari sisi luas wilayah dan jumlah penduduk, kita setara bahkan lebih besar. Namun PAD kita masih kecil. Ini menjadi alarm bahwa kita harus bekerja jauh lebih keras,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa peningkatan PAD bukan sekadar tujuan fiskal, tetapi menjadi penopang utama dalam membiayai pelayanan dasar masyarakat, mulai dari perbaikan infrastruktur, pendidikan, hingga layanan kesehatan.

“Masih banyak jalan yang rusak, sekolah darurat berdinding daun, rumah sakit kewalahan menampung pasien. Semua ini tidak bisa dibenahi tanpa PAD yang memadai. PAD adalah nafas bagi pembangunan kita ke depan,” jelas Johni.

Wagub juga meminta para pimpinan OPD untuk bersinergi dan bekerja maksimal agar target PAD dapat tercapai secara optimal.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Agus Sistyo Widjajati, dalam paparannya menyampaikan bahwa pemulihan ekonomi NTT belum sepenuhnya kembali ke kondisi pra-pandemi. Meskipun ada tren positif, namun tantangan struktural masih cukup besar.

“Pertumbuhan ekonomi kita masih dalam tahap pemulihan dan belum stabil. Perlu penguatan pengelolaan aset daerah dan peningkatan transaksi lokal untuk memperkuat fondasi ekonomi NTT,” ujar Agus.

Sementara itu, dari unsur pelaku usaha, Komisaris PT Subasuka Go, Yohanes Don Putra Gotama, menegaskan kesiapan dunia usaha untuk berkolaborasi dengan pemerintah.

“Kami siap mendukung setiap program strategis pemerintah yang bertujuan meningkatkan PAD. Sebagai pengusaha, kami percaya bahwa upaya bersama yang didasari semangat kemanusiaan adalah jalan terbaik untuk membangun,” tandasnya.

Rapat koordinasi ini menandai langkah awal dari rangkaian konsolidasi dan strategi peningkatan PAD Provinsi NTT ke depan. Dengan dukungan lintas sektor, Pemerintah Provinsi NTT berharap dapat mencapai keseimbangan fiskal yang sehat, mengakselerasi pembangunan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata. ***




Gubernur NTT Buka Sosialisasi AMPD Bersama PMI: Perkuat Sistem Peringatan Dini Bencana

 

Kupang,nwartapedia.com  — Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, secara resmi membuka kegiatan Sosialisasi dan Pembentukan Kelompok Kerja Aksi Merespon Peringatan Dini (AMPD) yang digelar Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi NTT, Kamis (26/6/2025) di Hotel Swiss-Belcourt, Kupang.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya strategis dalam memperkuat sistem peringatan dini di Provinsi NTT sebagai salah satu daerah rawan bencana di Indonesia.

Hadir dalam kegiatan tersebut Pelaksana Tugas Ketua PMI Provinsi NTT Alfridus Bria Seran, Asisten Administrasi Umum Setda NTT sekaligus Plt. Kalaksa BPBD NTT Samuel Halundaka, unsur Forkopimda, pimpinan perangkat daerah, instansi vertikal, PMI Pusat dan daerah, serta mitra organisasi kemanusiaan dari dalam dan luar negeri.

Dalam sambutannya, Plt. Ketua PMI Provinsi NTT, Alfridus Bria Seran menyampaikan bahwa PMI kini tidak hanya berfokus pada penanganan pasca-bencana, tetapi juga berkomitmen pada aspek mitigasi dan penguatan komunitas dalam menghadapi risiko bencana.

“PMI bertransformasi dari organisasi responsif menjadi organisasi yang membangun ketangguhan masyarakat. Kami mengapresiasi penuh dukungan Bapak Gubernur yang secara konsisten memberi ruang dan dukungan untuk misi kemanusiaan lintas sektor,” ujar Alfridus.

Ia turut memaparkan sejumlah program strategis PMI di NTT, seperti:

  • Program ELEKTRA (Empowering Local Intensity & Community To Take Rapid Action) yang dijalankan di wilayah pesisir Kabupaten Manggarai hingga tahun 2027;
  • Kolaborasi lintas batas dengan Palang Merah Timor Leste untuk memperkuat kesiapsiagaan di wilayah perbatasan;
  • Respons terhadap erupsi Gunung Lewotobi, termasuk distribusi air bersih dan pelayanan dasar bagi pengungsi;
  • Promosi donor darah dan distribusi air bersih untuk wilayah-wilayah terdampak kekeringan;
  • Gudang logistik hasil kemitraan dengan Pemerintah Selandia Baru yang difungsikan untuk mempercepat distribusi bantuan ke seluruh wilayah NTT.

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena dalam sambutannya menegaskan pentingnya paradigma baru dalam pengelolaan bencana, yakni menempatkan peringatan dini sebagai titik awal aksi penyelamatan yang efektif dan terstruktur.

“Peringatan dini bukan sekadar informasi. Ini adalah panggilan untuk bergerak cepat. Jeda waktu antara peringatan dan bencana adalah momentum krusial yang harus direspons dengan kebijakan, aksi lapangan, dan komunikasi lintas sektor,” ungkap Gubernur Melki.

Ia menyebut bahwa dari 12 jenis potensi bencana di NTT, tujuh di antaranya bersifat hidrometeorologis dan terjadi secara berulang setiap tahun. Hal ini menuntut kesiapsiagaan tinggi, tidak hanya dari pemerintah tetapi juga dari seluruh elemen masyarakat.

Gubernur juga menegaskan bahwa pembentukan Kelompok Kerja AMPD merupakan amanat dari regulasi nasional, antara lain Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, serta peraturan pelaksana terkait sistem peringatan dini berbasis komunitas.

“AMPD ini bukan proyek seremonial. Ini adalah fondasi bagi sistem ketangguhan yang berkelanjutan, yang harus terintegrasi ke dalam rencana pembangunan daerah,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga berbagi pengalamannya saat mendampingi Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga saat mengunjungi pengungsi erupsi Gunung Lewotobi. Ia menegaskan bahwa bencana bukan hal abstrak, tetapi nyata dan mengancam kehidupan masyarakat jika tidak ditangani secara sistemik.

Menutup sambutannya, Gubernur Melki mengajak seluruh pemangku kepentingan—termasuk pemerintah daerah, PMI, TNI/Polri, organisasi kemasyarakatan, media, dan masyarakat luas—untuk membangun kesadaran kolektif dalam pengurangan risiko bencana.

“Keselamatan masyarakat adalah tanggung jawab kita bersama. Mari kita rawat semangat gotong royong, bangun ketangguhan mulai dari keluarga dan komunitas,” seru Gubernur Melki di hadapan para peserta yang hadir secara langsung maupun daring.

Ia pun kembali mengajak masyarakat untuk aktif mendukung gerakan kemanusiaan PMI, termasuk dalam aksi donor darah dan pelayanan sosial lainnya. “Ayo donor darah, ayo bangun NTT,” pungkasnya. ***




Transformasi Gereja: Mewujudkan Umat Kristiani yang Relevan dan Berdampak

Oleh: Oder Maks Sombu, SH., MA., MH


 

Kupang,nwartapedia.com  – Di tengah dunia yang terus berubah, gereja tak bisa hanya menjadi simbol spiritual yang statis. Ia harus hadir sebagai kekuatan transformatif mengubah, memperbarui, dan memengaruhi umat serta masyarakat secara nyata.

Di sinilah makna terdalam dari transformasi gereja menemukan urgensinya: bukan sekadar perubahan kosmetik atau modernisasi fasilitas, tetapi sebuah pembaruan rohani, sosial, dan struktural demi mewujudkan umat Kristiani yang berkeesaan, relevan, dan berdampak.

Gereja dan Lima Pilar Perannya di Tengah Masyarakat

Selama ini, gereja sudah menjalankan fungsi strategis dalam masyarakat melalui berbagai peran, namun dalam konteks dunia modern, peran-peran itu perlu diperkuat dan disegarkan kembali.
Pertama, pendidikan.

Gereja telah menjadi motor penggerak pendidikan melalui sekolah, universitas, dan pusat-pusat pelatihan. Namun, nilai lebih dari pendidikan gerejawi terletak pada integrasi nilai spiritual dan moral dalam kurikulum.

Transformasi gereja berarti menjadikan pendidikan sebagai sarana pembentukan karakter Kristiani, bukan sekadar transmisi pengetahuan.

Kedua, kesehatan. Banyak rumah sakit dan pusat layanan kesehatan didirikan oleh gereja. Namun, dalam dunia yang semakin materialistis, pelayanan kesehatan gereja perlu menegaskan kembali pendekatan holistik yang berakar pada kasih Kristus bukan semata pelayanan medis, tetapi pelayanan kasih yang menyentuh tubuh, jiwa, dan roh.

Ketiga, kesejahteraan sosial. Program bantuan bagi pengungsi, orang miskin, dan korban kekerasan menjadi wujud nyata dari kasih Kristiani. Gereja tidak boleh hanya menjadi tempat berdoa, tetapi juga rumah perlindungan dan suara bagi yang tak bersuara. Transformasi gereja adalah keberpihakan pada keadilan sosial.

Keempat, pembentukan nilai dan etika. Gereja adalah sekolah kehidupan, tempat integritas, solidaritas, dan tanggung jawab sosial diajarkan. Di tengah krisis moral global, gereja harus tampil sebagai penjaga nilai, bukan sekadar pengkhotbah.

Kelima, pengaruh politik. Gereja tidak harus masuk dalam gelanggang kekuasaan, tapi tidak boleh apolitis. Ketika ketidakadilan merajalela, suara profetik gereja dibutuhkan. Transformasi berarti gereja harus berani bersuara demi kebenaran dan menolak kompromi terhadap nilai-nilai ilahi.

Mengapa Transformasi Gereja Menjadi Sangat Penting?

Transformasi gereja bukan hanya pilihan, tapi keniscayaan. Dunia bergerak cepat. Generasi muda hidup dalam arus teknologi, pluralisme, dan krisis identitas. Tanpa pembaruan visi, misi, dan pendekatan, gereja bisa kehilangan relevansi dan daya tarik.

Gereja yang tertransformasi adalah gereja yang:
1. Memahami kebutuhan nyata umat.
2. Dipimpin oleh pemimpin visioner yang tidak takut berubah.
3. Didukung partisipasi aktif jemaat.
4. Mengajarkan iman secara mendalam dan kontekstual.
5. Membangun kemitraan dan kolaborasi luas.

Yesus Kristus sendiri adalah teladan tertinggi transformasi. Ia bukan hanya pemberita, tetapi pusat dari berita transformasi itu sendiri. Kehidupan-Nya adalah revolusi kasih yang melampaui doktrin, menyentuh realitas manusia secara konkret.

Langkah Menuju Transformasi Gereja yang Sejati Transformasi gereja tidak bisa terjadi secara instan.

Dibutuhkan proses spiritual dan praktis yang terintegrasi. Beberapa langkah penting antara lain:
1. Doa dan pencarian kehendak Allah. Setiap langkah gereja harus berakar pada kehendak Tuhan, bukan hanya strategi manusia.
2. Evaluasi menyeluruh. Struktur organisasi, metode pelayanan, dan relasi antar jemaat perlu ditinjau secara kritis dan terbuka.
3. Partisipasi aktif jemaat. Gereja bukan milik para pemimpin saja. Ketika seluruh tubuh Kristus bergerak bersama, perubahan sejati terjadi.

Implikasi Transformasi Gereja
Transformasi yang sejati akan menghasilkan dampak nyata:
1. Pertumbuhan spiritual yang otentik.
2. Relevansi gereja dalam konteks zaman modern.
3. Kemampuan menjangkau generasi muda.
4. Pengaruh positif dalam masyarakat sekitar.
5. Kesinambungan iman lintas generasi.

Penutup: Gereja Bukan Bangunan, tapi Gerakan Transformasi gereja bukan soal membangun gedung lebih besar atau mempercantik liturgi.

Ia adalah tentang membangun kehidupan yang mencerminkan kasih Kristus di tengah dunia yang rusak. Saat gereja bertransformasi, ia tidak hanya bertahan di tengah perubahan dunia.

Ia justru menjadi agen perubahan itu sendiri. Gereja yang sejati bukan yang paling ramai, tetapi yang paling berdampak. Ia hadir di tengah masyarakat, menyentuh yang menderita, meneguhkan yang goyah, dan membawa terang dalam gelap.

Mari kita bergerak dari gereja yang beribadah, menuju gereja yang mengubah.
Karena transformasi sejati dimulai ketika kita berhenti berdiam dalam bangku, dan mulai berjalan dalam kasih dan kebenaran.

Penulis: Oder Maks Sombu, SH., MA., MH
Ketua BPD Gereja Bethel Indonesia Provinsi NTT (MI)




Melayani dengan Hati, Berkarya untuk Sesama: Katarina Yosefina Gie, Politisi Perempuan dari Walakeam yang Membumi

 

Lembata,nwartapedia.com  — Di tengah geliat pembangunan yang perlahan mengubah wajah pedesaan di Nusa Tenggara Timur, hadir sosok perempuan yang menginspirasi dengan ketulusan dan dedikasi: Katarina Yosefina Gie.

Perempuan kelahiran Lewoleba, 6 Februari 1976 ini bukan hanya dikenal sebagai politisi dan pelaku usaha, tetapi juga simbol perjuangan perempuan Lembata yang hadir dan berkarya untuk sesama.

Tinggal di Walakeam, RT 008/RW 003, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, Katarina atau yang akrab disapa Rini menjalani hidup dengan prinsip: lebih baik melayani daripada dilayani dan jadilah berarti bagi banyak orang. Prinsip itu tidak sekadar ucapan, tetapi ia wujudkan dalam kerja nyata melalui dunia politik dan usaha, terutama sebagai kontraktor yang fokus pada pembangunan infrastruktur di kampung-kampung.

Politik sebagai Panggilan, Bukan Ambisi

Sebagai alumni SMA Negeri 1 Lewoleba, Katarina memulai kiprahnya di dunia politik bukan untuk mencari popularitas, melainkan untuk menjawab panggilan hati: hadir di tengah rakyat dan menjadi penyambung suara mereka yang selama ini kurang terdengar.

Baginya, politik adalah ladang pelayanan. Ia aktif mendampingi aspirasi masyarakat, memperjuangkan pembangunan jalan, fasilitas umum, hingga memperhatikan kelompok rentan, termasuk perempuan dan anak-anak.

Kontraktor Perempuan di Tengah Dunia Maskulin

Tak berhenti pada advokasi, Katarina memilih jalur yang jarang ditempuh perempuan: menjadi kontraktor. Melalui bidang ini, ia ingin memastikan bahwa pembangunan tidak sekadar proyek, melainkan benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.

Di dunia yang didominasi laki-laki, Katarina tampil dengan ketegasan, profesionalisme, dan integritas. Ia mempekerjakan tenaga lokal dan berupaya membuka lapangan kerja seluas mungkin di wilayahnya. Baginya, pemberdayaan adalah bagian tak terpisahkan dari pembangunan.

Keluarga: Pondasi dari Semua Perjuangan

Meski aktif dalam urusan publik, Katarina tetap memegang peran sebagai ibu dan istri dengan penuh cinta. Bersama suaminya, Vinsensius Dasion, dan seorang anak yang menjadi pelita di rumahnya, Katarina menjaga keseimbangan antara panggilan tugas dan kehidupan keluarga.

“Tanpa dukungan suami dan anak, saya bukan siapa-siapa,” ujar Katarina dalam perbincangan bersama media di Kupang, Kamis (26/6).

Ia mengakui bahwa menjadi perempuan publik bukan hal mudah, tapi dengan cinta, komunikasi, dan pengertian dalam keluarga, segalanya bisa dijalani dengan lapang.

Menjadi Terang di Tempat yang Gelap

Rini bukan sosok yang haus panggung. Ia justru menciptakan ruang bagi orang lain untuk bersinar. Keteladanannya menjadi bukti bahwa perempuan bisa berdaya, berkontribusi, dan memimpin dengan hati.

Dalam setiap langkah dan kerja, ia menanamkan nilai bahwa hidup yang berarti adalah hidup yang dipakai untuk melayani. Dan dari Walakeam sebuah titik kecil di peta NTT ia terus menginspirasi, menjadi cahaya di tengah tantangan, dan bukti bahwa perempuan bisa menjadi agen perubahan yang sejati. (Goe)