Telaah Ekspresif-Simbolis Bahasa Sikka Dialek Krowe

Oleh E. Nong Yonson sebagai Pemerhati Bahasa & Budaya

 

Kupang,nwartapedia.com  –  Bahasa Sikka, terutama dialek Krowe, menjadi salah satu warisan budaya lisan masyarakat Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Sebagai bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan berelasi sehari-hari. Dalam Bahasa Sikka Dialek Krowe tersimpan kekayaan ekspresif-simbolis. 

Ferdinand de Saussure seorang tokoh linguistik struktural terkenal menjelaskan bahwa bahasa adalah sistem tanda (sign) yang terdiri atas signifier (penanda) dan signfied (petanda). Penanda adalah bentuk fisik seperti suara atau tulisan, sedangkan petanda adalah konsep atau makna.

Dengan demikian, bahasa sebagai ekspresi simbolis merujuk pada relasi antara simbol dan makna bukan semata-mata penamaan objek. Ekspresi simbolis bahasa Sikka bermuara pada pencerminan nilai-nilai budaya, kepercayaan, serta struktur sosial masyarakat penuturnya. 

Telaah terhadap bentuk ekspresif-simbolis dalam bahasa ini menjadi bagian yang sangat penting. Tujuannya, untuk memahami cara masyarakat Krowe menyampaikan emosi, identitas, dan makna melalui simbol bahasa.

Bentuk ekspresif dalam Bahasa Sikka Krowe banyak ditemukan dalam tuturan sehari-hari, baik berupa upacara adat, nyanyian rakyat, dan ungkapan tradisional.

Ekspresi ini tidak hanya menyampaikan emosi atau perasaan, tetapi juga memperlihatkan cara berpikir dan nilai yang dianut masyarakat. Contohnya sebagai berikut.

Sir naha li’i, ga’i naha da’a.

‘Pilihlah pasangan hidup yang tepat.

Ungkapan ini secara simbolis menggambarkan petuah kepada muda-mudi untuk selektif dalam hal pasangan hidup. Sir ‘ pacaran’ dan ga’i ‘mau dengan’. Artinya, dalam usaha untuk mau dengan siapa, melalui pacaran, harus da’a ‘tepat’. Apakah ungkapan ini biasa, tentu tidak.

Ungkapan ini selain memiliki kedalaman makna juga merujuk pada kedekatan emosional antara penyampai pesan dan sasarannya. Sebab, ungkapan ini sekaligus sebagai simbol kedekatan emosional dan tanggung jawab. Tidak elok jika disampaikan oleh seseorang kepada orang lain yang tidak saling mengenal. 

Lanjutan dari ungkapan itu merujuk pada pesan kehati-hatian dan dampak terhadap keberlangsungan hidup.

Lopa sir dena de’a, ga’i dena ‘lebe

Loning du’a naha nora lin, la’i nowa welin

Jangan bercanda, karena perempuan dan laki-laki memiliki nilai’  

Bentuk simbolis-ekspresi ini menonjolkan struktur pesan yang disertai dengan seruan adat berupa larangan dan konsukensianya. Di sini terdapat dualitas simbolik antara ruang kebiasaan muda-mudi dan ruang tradisi kodrat sebagai perempuan dan laki-laki. 

Dalam ungkapan Ekspresi-simbolis, Bahasa Sikka Krowe juga memiliki gaya retorik yang khas. Bentuknya, berupa paralelisme simbol. Contohnya sebagai berikut.

Diri inan tutur, plina aman tatar

‘Patuhi nasihat orang tua’

Diri dan plina merujuk pada makna yang sama, yaitu ‘mendengar/mengikuti’. Sedangkan tutur dan tatar juga bermuara pada maksud yang sama, yaitu ‘pembicaraan/penyampaian’. Ekspesi-simbolis dalam bentuk paralelisme tidak bisa ditukar posisinya juga diganti dengan bentuk yang lain. Selain akan berpengeruh pada makna juga pada estetika dan struktur kalimat.   

Konstruksi paralel ini digunakan untuk menekankan kedalaman rasa dan kesungguhan niat. Kata-kata ini digunakan untuk menegaskan bahwa keputusan yang diambil telah melibatkan seluruh aspek diri: hati, napas, mata, dan darah. Bahasa di sini menjadi alat untuk menyampaikan komitmen kolektif yang sakral.

Dari perspektif linguistik dan semiotik, bentuk-bentuk ekspresif-simbolik ini menunjukkan bahwa Bahasa Sikka Krowe tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sistem makna budaya. Setiap ungkapan bukan hanya memiliki arti denotatif, melainkan konotatif bahkan pesan mendalam yang dipengaruhi oleh konteks budaya dan peradapan.

Telaah ini memperlihatkan bahwa untuk memahami Bahasa Sikka Krowe secara mendalam, kita perlu melihatnya dalam kerangka hubungan antara ekspresi, simbol, konteks bahasa, dan budaya.

Ekspresi dan simbol yang terkandung dalam bahasa ini merupakan representasi dari gambaran batin dan sistem nilai masyarakat Krowe, yang jika tidak dilestarikan, akan menghilang bersama perubahan realitas kehidupan. ***




SMAK Giovanni Kupang Jajaki Kerja Sama Internasional dengan Alana Kaye College Australia

 

Kupang, nwartapedia.com – SMA Katolik Giovanni Kupang kembali mencatat langkah maju dengan menjajaki kerja sama internasional bersama Alana Kaye College, Australia.

Dalam kunjungan ke SMAK Giovanni Kupang pada Rabu (16/7), CEO Alana Kaye College, Alana Anderson, menyambut baik rencana kemitraan yang digagas sekolah tersebut.

Maria Hebi, staf bidang perguruan tinggi SMAK Giovanni Kupang, mengungkapkan bahwa pihaknya ingin membuka peluang bagi siswa untuk meningkatkan keterampilan melalui program ekstrakurikuler yang relevan dengan kompetensi utama Alana Kaye College.

“Bidang-bidang seperti bangunan dan konstruksi, listrik, kesehatan, dan lainnya yang menjadi keunggulan Alana Kaye College memang belum masuk dalam kurikulum SMA, tetapi sangat mungkin dijadikan sebagai kegiatan ekstrakurikuler,” jelas Maria.

Ia menambahkan bahwa sekolah akan merancang jenis kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan dan sumber daya yang ada, serta mengembangkan teknis pelaksanaannya secara bertahap.

Lebih lanjut, Maria menyampaikan harapannya agar kerja sama ini dapat menghasilkan lulusan dengan keterampilan bersertifikat standar Alana Kaye College.

“Sertifikat tersebut akan sangat bermanfaat karena diakui di 56 negara anggota Commonwealth, seperti Inggris, Kanada, Australia, Singapura, dan lainnya,” katanya, mengutip penjelasan Alana Anderson.

Di tempat terpisah, Kepala SMAK Giovanni Kupang, Romo Drs. Stefanus Mau, Pr., menyampaikan apresiasi atas kunjungan CEO Alana Kaye College bersama Manager International Operations, David Thomson. Romo Stef menegaskan komitmennya untuk segera menindaklanjuti kerja sama ini secara formal melalui penandatanganan perjanjian.

Dalam kunjungannya ke lingkungan sekolah, Alana Anderson juga menyempatkan diri meninjau kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di aula.

Ia terkesan dengan visi besar para siswa terhadap masa depan serta kemampuan berbahasa Inggris yang mereka tunjukkan dalam sesi tanya jawab.

Di akhir kunjungannya, Alana Anderson berpesan kepada para siswa untuk rajin belajar, disiplin, dan tidak takut menghadapi tantangan demi meraih masa depan yang lebih baik. ***




Pater Fransiskus Betekeneng, SVD Rayakan 25 Tahun Imamat: Dari Lembata Menembus Benua Amerika

 

Lewoleba,nwartapedia.com  — Suasana haru dan syukur menyelimuti rumah keluarga Betekeneng di Lewoleba, Lembata, saat Pater Fransiskus Betekeneng, SVD merayakan pesta perak 25 tahun imamatnya.

Perayaan yang berlangsung di Lembata pada Jumat (11/7) ini dihadiri keluarga, sahabat, umat, dan para imam, dengan puncak misa syukur diiringi homili penuh refleksi dari sang yubilaris sendiri.

Lahir di Karangora pada 10 Oktober 1969 sebagai putra kedelapan dari sembilan bersaudara, Pater Fransiskus tumbuh dalam keluarga sederhana yang kuat dalam iman dan pendidikan.

Ayahnya, almarhum Petrus Gute Betekeneng, dikenal sebagai guru Sekolah Rakyat (SR), sementara ibunya, almarhumah Elisabeth Letek Pureklolon, adalah sosok ibu rumah tangga yang religius dan penuh kasih.

Meski berasal dari kampung Atawatung, Desa Lamagute, Kecamatan Ile Ape, pendidikan dasarnya ia tempuh di SDK Lewoleba II dan selesai pada 1983, lalu melanjutkan ke SMP Santo Pius X Lewoleba hingga lulus 1986.

Sejak remaja, panggilannya menuju imamat mulai terasah ketika ia masuk Seminari Menengah San Dominggo Hokeng (1986–1990), kemudian Novisiat SVD Nenuk, Atambua (1990–1991), dan melanjutkan studi filsafat dan teologi di Seminari Tinggi Ledalero (1992–1994).

Menembus Pelosok Amerika Latin

Dedikasi dan panggilan Pater Fransiskus membawa langkahnya melintasi samudra, menimba ilmu teologi di Bogotá, Kolombia (1995–2000), di mana ia ditahbiskan sebagai diakon pada tahun 2000. Setahun kemudian, pada 24 November 2001, ia kembali ke kampung halaman dan ditahbiskan sebagai imam oleh Mgr. Darius Nggawa, SVD, Uskup Larantuka saat itu.

Ia mengusung motto tahbisannya dari Kejadian 12:1: “Pergilah ke tanah yang akan Kutunjukkan kepadamu.”

Motto itu terbukti nyata ketika Pater Fransiskus menjalani misi pastoral di pelosok-pelosok Amerika Latin. Saat ini ia dipercaya sebagai pastor kepala di Paroki Tritunggal Mahakudus (Parroquia Santísima Trinidad), Rafael Calzada, Buenos Aires, di bawah Keuskupan Lomas de Zamora, Argentina.

Ia menggembalakan sekitar 65.000 umat yang tersebar di 10 stasi, sebuah tanggung jawab besar yang ia jalani dengan penuh cinta dan dedikasi.

Dalam homilinya, Pater Fransiskus mengajak umat untuk tetap setia pada iman dan terbuka terhadap panggilan Tuhan, meski sering kali jalan yang ditunjukkan tidak selalu mudah.

“Tuhan selalu setia menuntun kita, asalkan kita mau berjalan bersama-Nya,” pesannya.

Perayaan 25 tahun imamat ini menjadi momentum syukur dan inspirasi bagi banyak orang yang hadir, sekaligus mengingatkan bahwa panggilan Tuhan bisa membawa siapa saja melintasi batas-batas bangsa dan benua demi karya pelayanan. (MI)




SMAK Giovanni Kupang Teken MoU dengan UGM, Buka Peluang Dual Degree hingga Taiwan

 

Yogyakarta,nwartapedia.com   — SMA Katolik Giovanni Kupang kembali menorehkan prestasi membanggakan dengan menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) kerja sama dengan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM).

Penandatanganan berlangsung di Auditorium FMIPA UGM dalam rangkaian kegiatan International Workshop for Educators: Deep Learning Workshop, Creating Mindful, Meaningful, and Joyful Learning.

Kepala SMAK Giovanni Kupang, Romo Drs. Stefanus Mau, Pr, hadir langsung untuk menandatangani MoU tersebut bersama Dekan FMIPA UGM, Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si, serta dua kepala sekolah lainnya yang mewakili 69 sekolah mitra terpilih dari seluruh Indonesia.

Acara ini turut dihadiri oleh Dekan Fakultas Biologi, Dekan Fakultas Geografi, sejumlah petinggi UGM, perwakilan lembaga mitra, dan lebih dari 300 guru dari sekolah mitra UGM.

Dalam sambutannya, Romo Stefanus menyampaikan rasa syukur dan bangga karena SMAK Giovanni menjadi satu-satunya sekolah di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mendapat kesempatan emas ini

. “Kerja sama ini merupakan pintu gerbang untuk peningkatan mutu lembaga secara universal, sekaligus mempersiapkan lulusan SMAK Giovanni untuk berkolaborasi dengan UGM dan universitas mitra di Taiwan,” ujarnya.

Kerja sama ini memungkinkan para lulusan SMAK Giovanni yang melanjutkan studi di UGM melalui International Undergraduate Program (IUP) untuk mengikuti program dual degree.

Melalui program ini, mahasiswa menempuh dua tahun kuliah di UGM dan dua tahun di universitas mitra di Taiwan, dan akan mendapatkan dua ijazah dari kedua universitas.

Bahkan, bagi yang melanjutkan studi hingga lima tahun, terbuka peluang untuk langsung menempuh program doktoral dengan dukungan beasiswa.

Selain penandatanganan MoU, workshop internasional ini juga menghadirkan pembicara ternama, seperti Direktur IUP FMIPA UGM Arif Misbabul, MBM, Prof. Kuwat Triyana, dan Prof. Yu Wen Chen dari Da Yeh University, Taiwan.

Romo Stefanus menegaskan bahwa pihak sekolah akan segera menindaklanjuti MoU ini dengan sosialisasi kepada siswa dan orang tua, serta mempersiapkan seluruh sumber daya yang dibutuhkan.

“Dari Kupang untuk Indonesia. Giovanni Maju, MIPA Unggul, Indonesia Hebat,” pungkas Romo Stefanus penuh semangat. ***




Literasi Informasi di Era Digital: Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi Didorong Jadi Agen Perubahan

 

Kupang,nwartapedia.com  — Tantangan literasi informasi di era digital tidak lagi sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi menuntut pemahaman makna, penggunaan bahasa yang tepat, serta kemampuan menyalurkan pengetahuan secara kreatif dan bertanggung jawab.

Pesan ini ditegaskan dalam Bimbingan Teknis Literasi Informasi bagi Pustakawan, Guru, dan Pegiat Literasi yang diselenggarakan di Aula Kantor Kominfo NTT, Kamis (10/7/2025).

Kegiatan ini menghadirkan penulis, praktisi budaya, sekaligus pegiat literasi Emanuel Nong Jonson, Pd., M.Hum.  sebagai narasumber, dengan Silvia Cornelia Francis, Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo NTT, sebagai moderator.

Dalam materinya, Nong Jonson mengajak para peserta untuk tidak sekadar menjadi pelaksana kegiatan literasi, tetapi menjadi tunas yang kelak berbuah di sekolah dan masyarakat.

“Literasi bukan hanya kegiatan teknis, tetapi proses menumbuhkan nilai. Kita bukan hanya hadir untuk mengisi acara, tetapi membangun tunas yang akan menghasilkan buah di masyarakat,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa literasi yang kuat berakar pada pemahaman bahasa yang benar dan baik, karena setiap perubahan bentuk bahasa selalu membawa perubahan makna. 

Nong Jonson juga mengkritisi kecenderungan anak-anak yang sekadar bisa membaca tetapi tidak memahami, karena lemahnya penguasaan istilah, tanda baca, dan konteks.

“Bahasa yang benar mengikuti kaidah, sedangkan bahasa yang baik menyentuh nilai-nilai. Tanpa dasar bahasa yang baik, digitalisasi hanya akan melahirkan kebisingan tanpa makna,” lanjutnya.

Nong Jonson juga memberikan contoh-contoh praktis dalam menanamkan literasi sejak usia dini, seperti cara memperkenalkan buku bergambar untuk anak-anak, menyusun cerita sederhana dengan satu kalimat per halaman, hingga mengajarkan puisi dengan narasi yang menyenangkan.

Menurutnya, tugas utama guru, pustakawan, dan pegiat literasi adalah menciptakan pengalaman membaca yang menyenangkan dan bermakna.

Salah satunya dengan mengajarkan anak-anak menyusun kata-kata yang “memiliki jiwa”, serta menghidupkan imajinasi melalui cerita, akrostik, atau puisi.

Sementara itu, moderator Silvia Cornelia Francis menekankan bahwa penguatan literasi di era digital adalah tantangan bersama yang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.

“Guru, pustakawan, dan pegiat literasi memiliki peran vital dalam memastikan teknologi menjadi alat untuk memperkuat literasi, bukan sebaliknya. Literasi adalah pondasi untuk berpikir kritis di tengah derasnya arus informasi,” ujarnya.

Kegiatan yang berlangsung secara interaktif ini diharapkan mampu memperkuat kompetensi peserta dalam mengelola, menyampaikan, dan menumbuhkan budaya literasi di lingkungan sekolah dan masyarakat.

Dengan bekal pengetahuan ini, para guru, pustakawan, dan pegiat literasi di NTT diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang membawa literasi informasi lebih dekat dan relevan dengan kehidupan masyarakat di era digital. (MI)




Alumni SMAN 1 Lewoleba Angkatan ’92 Hadiri Misa Syukur 25 Tahun Hidup Membiara Sr. Marieta Ose Melburan

 

Lewoleba,nwartapedia.com  –  Suasana haru dan sukacita mewarnai perayaan misa syukur 25 tahun hidup membiara Sr. Marieta Ose Melburan, SSpS. Misa syukur yang digelar dengan khidmat ini turut dihadiri oleh sejumlah sahabat dan rekan seperjuangan masa sekolah, khususnya para alumni SMA Negeri 1 Lewoleba angkatan 1992.

Sejumlah alumni seperti Shinta Wora, Rini Gie, Eti Bediona, dan beberapa lainnya tampak hadir dan larut dalam sukacita perayaan yang digelar sebagai ungkapan syukur atas perjalanan panjang panggilan hidup religius Sr. Marieta yang berlangsung di Aula SMA Frateran Don Bosko Lewoleba pada Kamis (10/7) sore ini.

Kehadiran para sahabat lama ini bukan hanya sebagai bentuk dukungan, tetapi juga menjadi momen nostalgia dan perjumpaan yang penuh kehangatan.

Mereka ikut memberikan ucapan selamat, pelukan hangat, dan doa bersama bagi Sr. Marieta yang telah menapaki 25 tahun pengabdian sebagai biarawati dalam tarekat SSpS.

Sr. Marieta sendiri tampak bahagia dan menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas kehadiran rekan-rekan seperjuangan masa SMA yang masih menyempatkan waktu untuk hadir di tengah kesibukan masing-masing.

“Saya sangat tersentuh karena teman-teman lama hadir di hari yang spesial ini. Mereka adalah bagian dari perjalanan hidup saya yang tidak terlupakan,” ujar Sr. Marieta dengan mata berbinar.

Momentum ini bukan hanya menjadi perayaan religius, tetapi juga perayaan persahabatan dan kenangan indah masa muda yang terus terjalin lintas waktu.(goe)




Lapangan Cricket Internasional Mulai Dibangun di Kupang, Kolaborasi UKAW Sambut PON XXII NTT-NTB 2028

 

Kupang,nwartapedia.com  — Pembangunan lapangan cricket bertaraf internasional di Nusa Tenggara Timur resmi dimulai pada Kamis (10/7), ditandai dengan pengerahan alat berat untuk meratakan lahan di Desa Noelbaki, Kabupaten Kupang.

Proyek prestisius ini merupakan hasil kolaborasi antara Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang dan Pengurus Cricket Indonesia (PCI) NTT sebagai bagian dari persiapan menyambut Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII yang akan digelar di NTT dan NTB pada 2028 mendatang.

Kegiatan perdana ini diawali dengan upacara sederhana dan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari berbagai pihak yang hadir, antara lain unsur pimpinan Rektorat UKAW Kupang, Yayasan UKAW, Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi NTT, pengurus KONI provinsi dan kota, Kepala UPTD Sekolah Keolahragaan NTT, aparat kecamatan dan kepolisian, tokoh masyarakat, serta pengurus PCI NTT dari Kabupaten dan Kota Kupang.

Perwakilan Ketua KONI NTT, Alfridus Bria Seran, menyampaikan dukungan penuh terhadap pembangunan fasilitas ini.

Ia menegaskan, di bawah kepemimpinan Ince Sayuna, cabang olahraga cricket telah mengharumkan nama NTT melalui raihan medali di berbagai ajang PON, seperti di Bandung, Papua, dan Aceh-Medan.

“Kami berharap keberadaan lapangan internasional ini akan memacu prestasi lebih tinggi dan menyumbangkan medali emas untuk NTT pada PON 2028,” ungkapnya.

Ketua Umum PCI NTT, Ince Sayuna, menyatakan apresiasi dan rasa syukurnya atas dukungan UKAW yang telah menyediakan lahan untuk pembangunan lapangan.

“Lapangan ini tidak hanya akan digunakan untuk PON 2028, tetapi juga menjadi venue berbagai kejuaraan internasional di masa mendatang,” ujarnya optimistis.

Senada dengan itu, Plh. Kepala Bidang Prestasi Olahraga Dinas Pemuda dan Olahraga NTT, Yesni Luik, SH, menyebut kolaborasi UKAW dan PCI NTT sebagai langkah strategis untuk menghadirkan fasilitas olahraga bertaraf internasional di provinsi ini.

“Kerja keras pengurus cricket NTT patut diapresiasi. Kini kita memiliki salah satu cabang olahraga dengan fasilitas berstandar internasional,” katanya.

Sementara itu, Ketua Yayasan UKAW, Pdt. Mesakh Beeh, menyatakan komitmen lembaga yang dipimpinnya untuk terus mendukung inisiatif-inisiatif yang mengembangkan sumber daya manusia dan potensi olahraga di NTT.

Dengan dimulainya pembangunan lapangan cricket bertaraf internasional ini, NTT menegaskan kesiapannya sebagai tuan rumah bersama NTB pada PON XXII tahun 2028.

Kehadiran infrastruktur olahraga ini diharapkan menjadi warisan berharga bagi pembinaan atlet dan penyelenggaraan kejuaraan nasional maupun internasional di masa depan. (goe)




Perpustakaan NTT Terus Berinovasi Dorong Literasi dan Minat Baca Generasi Muda

 

Kupang,nwartapedia.com  — Kepala Bidang Layanan dan Pembinaan Perpustakaan pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Dollyres Chandra, S.Sos., menegaskan komitmen pemerintah provinsi untuk terus mendorong literasi masyarakat melalui berbagai inovasi layanan perpustakaan.

Hal ini disampaikan dalam kegiatan Bimbingan Teknis Literasi Informasi untuk Pustakawan, Guru, dan Pegiat Literasi tingkat provinsi NTT yang berlangsung di Aula Kantor Dinas Kominfo Provinsi NTT pada Kamis (10/7).

Dalam kesempatan itu, Dollyres juga menjelaskan tentang program Duta Baca yang pernah diadakan terakhir kali pada tahun 2021. 

Menurutnya, usia ideal untuk Duta Baca adalah 18–35 tahun, dengan syarat utama memiliki hobi membaca, kemampuan komunikasi yang baik, kreativitas, prestasi akademik, inovasi, serta kesediaan waktu untuk menjalankan berbagai kegiatan literasi.

Namun, keterbatasan anggaran dan efisiensi belanja membuat pemilihan Duta Baca baru belum dapat dilaksanakan lagi sejak saat itu.

“Karena kita sudah tidak ada lagi Duta Baca, maka kami turun langsung ke sekolah-sekolah untuk sosialisasi gemar membaca dan layanan perpustakaan. Tujuannya untuk meningkatkan minat baca masyarakat,” ujar Dollyres.

Ia menyampaikan bahwa berdasarkan kajian Perpustakaan Nasional RI, tingkat kegemaran membaca masyarakat NTT cukup tinggi, dengan skor 70,34 pada tahun 2024. Bahkan, pada 2022 NTT menduduki peringkat ke-8 secara nasional.

Namun, tantangan tetap ada, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi yang menggeser peran tradisional perpustakaan.

Untuk menjawab tantangan itu, pihaknya telah meluncurkan berbagai inovasi layanan, seperti:

– Layanan pinjam buku antar ke rumah atau sekolah secara gratis, yang bisa dipesan melalui grup WhatsApp.

– Pendaftaran anggota online untuk mempermudah akses layanan.

– Layanan bantuan teknis untuk mahasiswa, misalnya memperbaiki laptop atau komputer rusak.

– Ruang belajar online dan ujian daring, lengkap dengan fasilitas internet.

– Bimbingan belajar membaca dan menulis bagi anak-anak yang masih kesulitan membaca.

– Kerja sama dengan toko-toko untuk menghadirkan fasilitas tambahan, seperti internet gratis.

“Perpustakaan bukan lagi sekadar tempat menyimpan dan meminjam buku, tetapi menjadi pusat kegiatan masyarakat dan ruang belajar bersama. Orang tua yang mengantar anak, guru, mahasiswa, bahkan masyarakat umum bisa memanfaatkan fasilitas yang kami sediakan,” jelasnya.

Selain itu, ia juga menyebutkan bahwa kini jumlah pengunjung perpustakaan per hari sudah mencapai lebih dari 100 orang, terutama saat sekolah dan kuliah aktif.

“Ketika kegiatan belajar mengajar berjalan, itulah waktu paling ramai bagi kami,” katanya.

Melalui semua inovasi tersebut, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTT ingin mematahkan anggapan bahwa perpustakaan hanyalah tempat yang sepi dan membosankan.

“Kami berusaha membuat perpustakaan menjadi lebih ramah, cepat melayani, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini,” tutup Dollyres.

Kegiatan Bimtek ini sendiri diharapkan dapat memperkuat kemampuan pustakawan, guru, dan pegiat literasi dalam mengelola serta menyebarluaskan informasi kepada masyarakat luas. (MI)




Kadis Kominfo NTT Tekankan Pentingnya Literasi Informasi pada Bimtek Pustakawan, Guru, dan Pegiat Literasi

 

Kupang,nwartapedia.com  — Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Frederik Christian Purwanto Koenunu, menjadi pembicara utama dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi Informasi bagi Pustakawan, Guru, dan Pegiat Literasi yang digelar oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTT.

Kegiatan in8 berlangsung di Aula Kantor Kominfo NTT, Kamis (10/7/2025), dan dihadiri peserta dari pustakawan, guru dan pegiat literasi di NTT. 

Bimtek ini bertujuan meningkatkan kemampuan para peserta dalam mengelola dan menyebarkan informasi yang akurat, relevan, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Acara dipandu oleh Silvia Cornelia Francis, Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo NTT, yang juga bertindak sebagai moderator.

Dalam sambutannya, Silvia menyampaikan bahwa literasi informasi kini menjadi kebutuhan mendasar di era digital, bukan hanya bagi pustakawan dan guru, tetapi juga bagi semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan dan literasi.

Materi utama disampaikan Frederik Koenunu dengan tema Kemampuan Menganalisis dan Menyebarluaskan Informasi.

Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa literasi informasi tidak hanya berarti bisa membaca atau menyampaikan data, tetapi juga kemampuan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara tepat dalam mengambil keputusan.

“Informasi yang kita sebarkan harus memenuhi kriteria akurasi, relevansi, dan etika. Komunikasi yang baik adalah yang membangun, bukan yang merusak. Pustakawan dan guru memiliki peran strategis untuk mencerdaskan masyarakat melalui informasi yang berkualitas,” tegas Frederik.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kualitas informasi, mengingat derasnya arus informasi saat ini. Menurutnya, pemerintah berkewajiban membuka akses terhadap informasi publik tertentu, namun tetap dalam koridor hukum dan etika.

Dalam kesempatan itu, Frederik juga menyoroti kondisi literasi di Indonesia, termasuk di NTT, yang masih memerlukan perhatian serius. Tantangan seperti rendahnya minat baca, keterbatasan akses informasi, dan kurangnya fasilitas literasi masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

“Komunikasi adalah jembatan yang menghubungkan ide, pengalaman, dan pengetahuan. Mari kita gunakan komunikasi yang sehat, efektif, dan penuh etika untuk kemajuan bersama,” tambahnya.

Kegiatan ini berlangsung interaktif, dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang dimanfaatkan peserta untuk berbagi pengalaman dan memperoleh wawasan baru mengenai pengelolaan informasi.

Silvia menutup kegiatan dengan harapan agar para peserta dapat menerapkan ilmu yang didapat, tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk memberdayakan lingkungan sekitar.

“Semoga materi yang diperoleh hari ini menjadi bekal untuk memperkuat literasi informasi di NTT, demi menciptakan masyarakat yang lebih cerdas, kritis, dan berdaya,” pungkasnya. (MI)




PLT Kadis Perpustakaan & Kearsipan NTT: Literasi Informasi Kunci Menghadapi Era Digital

 

Kupang,nwartapedia.com  — Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Stefanus G. De Rozari, A.Md.LLAJ., S.E., secara resmi membuka kegiatan Bimbingan Teknis Literasi Informasi bagi pustakawan, guru, dan pegiat literasi di Aula Dinas Komunitas dan Informasi Provinsi NTT, Kamis (10/7).

Dalam sambutannya, Stefanus mengajak seluruh peserta untuk bersyukur atas kesempatan mengikuti kegiatan penting ini dalam keadaan sehat.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para peserta, narasumber, serta semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya acara.

“Di era yang serba cepat dan penuh tantangan ini, kemampuan literasi informasi sangat penting. Tidak cukup hanya mengetahui informasi, tetapi kita juga harus mampu mengakses, mengelola, dan menggunakan informasi secara tepat sesuai dengan amanah Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan dan peraturan perundangan lainnya,” ujar Stefanus.

Menurutnya, seiring perkembangan teknologi informasi digital, masyarakat semakin menuntut kemudahan, kecepatan, dan kualitas dalam memperoleh informasi.

Karena itu, perpustakaan sebagai jantung pendidikan memiliki peran penting dalam menyediakan informasi yang relevan dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Literasi informasi bukan sekadar membaca dan mendengar, tetapi bagaimana informasi tersebut dapat menjadi pengetahuan yang berguna, membentuk pemikiran kritis, dan mendorong perubahan positif dalam masyarakat,” lanjutnya.

Stefanus juga menekankan bahwa kegiatan bimbingan teknis ini bukan hanya ajang pelatihan teknis semata, tetapi juga wadah untuk berbagi inspirasi, pengalaman, dan inovasi di bidang literasi informasi.

“Mari kita jadikan kegiatan ini sebagai momentum untuk memperkuat profesi kita, mengembangkan ekosistem literasi yang inovatif dan berkelanjutan, demi mewujudkan NTT yang sehat, sejahtera, dan maju,” tutupnya.

Kegiatan bimbingan teknis ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas para pustakawan, guru, dan pegiat literasi dalam menyikapi tantangan era digital, serta memperkuat peran perpustakaan sebagai pusat informasi yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat. (MI)