Ketua PASI NTT: Kejurda Atletik Jadi Ajang Sejarah dan Gerbang Prestasi Menuju PON 2028

Kupang, nwartapedia.com – Ketua Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Provinsi NTT, Ir. Theodorus Widodo yang akrab disapa Theo Widodo,menegaskan bahwa Kejuaraan Daerah (Kejurda) Atletik 2025 merupakan momentum bersejarah bagi dunia olahraga NTT.

Hal ini disampaikannya dalam sambutan pembukaan Kejurda yang berlangsung di Stadion Atletik Oepoi, Kupang, Rabu (21/8/2025) malam.

Dalam kesempatan tersebut, Theo Widodo mengapresiasi kehadiran para atlet, pelatih, official, serta jajaran pengurus PASI dari kabupaten/kota se-NTT.

Ia menilai para atlet muda yang kini bertanding harus bersyukur karena bisa merasakan fasilitas bertaraf nasional yang dimiliki NTT.

“Adik-adik harus merasa bersyukur. Stadion atletik ini sangat megah, bahkan tidak kalah dengan stadion di Pulau Jawa. Gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk mengeluarkan seluruh kemampuan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ia menegaskan bahwa kejuaraan ini bukan hanya ajang mencari juara, tetapi juga pintu masuk bagi atlet muda untuk menembus seleksi menuju kejuaraan tingkat nasional, bahkan PON 2028, di mana NTT akan menjadi tuan rumah.

“Bagi atlet yang mampu meraih juara dengan catatan waktu sesuai standar, otomatis akan direkomendasikan memperkuat tim NTT di kejuaraan nasional. Ini kesempatan besar untuk melangkah lebih jauh,” tegasnya.

Theo Widodo juga menyinggung perjalanan Wakil Gubernur NTT sekaligus mantan atlet nasional, Johni Asadoma, yang kariernya di dunia olahraga membuka jalan hingga menduduki jabatan penting dalam pemerintahan. Ia berharap pengalaman tersebut menjadi inspirasi bagi generasi muda atlet NTT.

Sementara itu, Ketua Harian PASI NTT sekaligus Ketua Panitia Kejurda, Dr. Frans Sales, menjelaskan bahwa pelaksanaan Kejurda ini berlandaskan pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan serta Peraturan Presiden Nomor 86 tentang Desain Besar Olahraga Nasional (DBON).

Menurutnya, ada tiga tujuan utama pelaksanaan Kejurda, yakni, pertama mengevaluasi program pembinaan atletik yang dilakukan PASI provinsi maupun kabupaten/kota. Kedua memberi ruang bagi atlet muda untuk try out sekaligus membangun mental bertanding dan Ketiga menyeleksi atlet potensial yang akan mewakili NTT pada Kejuaraan Nasional Atletik di Solo, 31 Agustus – 4 September 2025, serta mempersiapkan atlet menghadapi PON 2028.

“Ajang ini diikuti 125 atlet dari 11 kabupaten/kota di NTT. Kami berharap, Kejurda ini bisa menjadi wadah lahirnya generasi emas atletik NTT yang siap bersaing di level nasional,” kata Frans Sales.

Ia menambahkan, keberhasilan NTT sebagai tuan rumah PON 2028 tidak hanya diukur dari sisi penyelenggaraan, tetapi juga prestasi atlet yang mampu meraih medali.

“Karena itu, pembinaan dan seleksi sejak dini seperti melalui Kejurda ini sangat penting,” tegasnya.

Kejurda Atletik PASI NTT 2025 akan berlangsung pada 21–23 Agustus di Stadion Atletik Oepoi, Kupang, dengan mempertandingkan berbagai nomor lintasan dan lapangan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, Mantan Wakil Gubernur NTT, Eston Foenay, Sekretaris Umum PASI NTT, Karel Muskanan, Asisten III Sekretaris Daerah (Setda) Kota Kupang saat ini dijabat oleh Yanuar Dally, dan Pengurus PASI Kabupaten/Kota.  (MI)




Wakil Gubernur NTT Resmi Membuka Kejurda Atletik PASI NTT 2025

Kupang, nwartapedia.com – Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Johni Asadoma, secara resmi membuka Kejuaraan Daerah (Kejurda) Atletik 2025 yang digelar oleh Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) NTT di Stadion Oepoi, Kupang, Rabu (20/8/2025).

Dalam sambutannya, Johni Asadoma menyampaikan rasa bahagianya dapat hadir langsung di tengah para atlet muda yang siap berkompetisi. Menurutnya, kejuaraan ini bukan sekadar ajang mencari juara, tetapi juga wadah penting untuk melahirkan bibit-bibit atlet potensial yang akan membawa nama NTT di level nasional maupun internasional.

“Tujuan utama kita di sini adalah memberikan wadah bagi adik-adik atlet untuk mengembangkan kemampuan. Kompetisi seperti ini menjadi jawaban atas minimnya event olahraga di kabupaten-kabupaten,” ujar Johni.

Lebih lanjut, mantan atlet tinju nasional yang pernah mewakili Indonesia di Olimpiade Los Angeles 1984 itu menekankan pentingnya disiplin, kerja keras, dan konsistensi latihan bagi para atlet muda.

Ia menuturkan pengalamannya yang sejak remaja berlatih dengan jadwal ketat hingga akhirnya meraih gelar juara nasional, SEA Games, dan kejuaraan internasional.

“Menjadi juara tidaklah mudah. Dibutuhkan perjuangan tanpa mengenal lelah. Saya sendiri adalah buktinya. Dengan latihan yang konsisten, disiplin, dan semangat pantang menyerah, seorang atlet bisa mencapai puncak prestasi,” tegasnya.

Johni juga mengingatkan para atlet untuk tidak melupakan pendidikan. Menurutnya, olahraga harus menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih baik, termasuk dunia kerja.

“Jangan sampai olahraga mengorbankan sekolah. Karena meskipun menjadi juara dunia, tanpa pendidikan yang cukup akan sulit mendapatkan pekerjaan. Olahraga dan pendidikan harus berjalan beriringan,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Johni turut menyebut sejumlah atlet besar asal NTT, seperti Eduardus Nabunome, peraih tiga medali emas PON, serta Walmince Sombai dan Katarina Nasi, yang pernah mengharumkan nama daerah di pentas nasional. Ia berharap kejuaraan ini bisa melahirkan generasi penerus prestasi mereka.

“Selamat berlomba! Bertandinglah dengan sportif. Bagi yang kalah, jangan berkecil hati, jadikan itu motivasi untuk berlatih lebih keras. Dan bagi yang menang, jangan berpuas diri, teruslah berlatih untuk mempertahankan prestasi,” pesan Johni.

Kejurda Atletik PASI NTT 2025 ini berlangsung pada 21–23 Agustus 2025, diikuti ratusan atlet dari berbagai kabupaten/kota se-NTT. Ajang ini juga menjadi sarana seleksi untuk mempersiapkan tim NTT menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028. (MI)




Kejurda Atletik 2025 di Kupang: Ajang Seleksi Kejurnas dan Pertama Kali Digelar Sore Hari

Kupang, nwartapedia.com – Kota Kupang akan menjadi pusat perhatian olahraga Nusa Tenggara Timur (NTT) saat Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) NTT menggelar Kejuaraan Daerah (Kejurda) Atletik 2025 pada 21–23 Agustus di Stadion Oepoi.

Kejuaraan ini bukan hanya menjadi ajang seleksi menuju Kejurnas Atletik, tetapi juga mencatat sejarah sebagai yang pertama di Indonesia dilaksanakan pada sore hari.

Ketua Umum PASI NTT, Theo Widodo, bersama Ketua Harian PASI NTT, Dr. Frans Sales, memastikan persiapan telah mencapai 90 persen.

“Kejurda ini merupakan momentum penting untuk menjaring atlet-atlet terbaik NTT. Kami berharap seluruh peserta menjunjung tinggi sportivitas dan tampil maksimal, karena mereka yang lolos akan mewakili daerah pada Kejurnas mendatang,” ungkap Theo, Rabu (20/8).

Hingga H-1, kontingen dari berbagai kabupaten/kota sudah tiba di Kupang, di antaranya Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Sabu Raijua, Sumba Timur, Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Rote Ndao, dan Malaka. Sementara sejumlah kontingen lain akan menyusul sebelum pembukaan resmi.

Untuk memeriahkan suasana, Sekretaris Umum PASI NTT, Karel Muskanan, menyebutkan para peserta akan menggelar pawai keliling Kota Kupang dengan rute Oepoi–Timor Raya–Kuanino–Oepura–Tofa–kembali ke Stadion Oepoi.

“Pawai ini bertujuan mengajak masyarakat untuk hadir dan memberi dukungan. Kejurda akan berlangsung setiap sore mulai pukul 17.00 WITA hingga selesai,” jelasnya.

Nomor pertandingan yang diperlombakan meliputi lari sprint, jarak menengah, jarak jauh, jalan cepat, serta nomor lapangan.

Peserta dibagi dalam kelompok usia U-16, U-18, U-20, dan senior hingga 35 tahun. Adapun kelompok U-14 tidak dilombakan karena sudah diarahkan mengikuti Popda sebagai seleksi menuju Popnas 2025 di Solo.

Sebanyak 240 medali disiapkan PASI NTT, terdiri atas 80 emas, 80 perak, dan 80 perunggu, sebagai bentuk penghargaan bagi para juara.

Kejurda Atletik 2025 rencananya akan dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, pada Kamis (21/8) pukul 18.00 WITA di Stadion Oepoi, Kupang.

Ajang ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya atlet-atlet berprestasi yang mampu mengharumkan nama NTT di tingkat nasional. ***




Camping Merdeka FPK NTT di Gunung Mutis Berhasil dan Penuh Sensasi

Kupang,nwartapedia.com – Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sukses menggelar Camping Kemerdekaan di kawasan Gunung Mutis, Kabupaten Timor Tengah Selatan, pada momentum peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari itu diikuti puluhan peserta dari berbagai paguyuban etnis, komunitas, dan organisasi, serta menyuguhkan pengalaman penuh kebersamaan dan sensasi alam pegunungan Mutis.

Ketua FPK NTT, Ir. Theodorus Widodo yang juga sebagai Ketua Perhimpunan IndonesiaTionghoa (INTI) NTT dalam konferensi pers di Kantor Balai Lelang Flobamora, Selasa (19/8/2025), menyebut kegiatan ini sebagai momen bersejarah.

“Ini sesuatu yang fenomenal, karena untuk pertama kalinya kita bisa melaksanakan upacara bendera sekaligus membentangkan bendera merah putih raksasa di Gunung Mutis. Ini berbeda dari biasanya dan menjadi simbol nyata persatuan dalam keberagaman,” uujarnya.

Ketua Panitia Camping Merdeka FPK NTT, Poetji Watono menyebut, rombongan berjumlah sekitar 75 peserta menempuh perjalanan menuju Fatumnasi. Meski jalur jalan sempat terhambat longsor, perjalanan tetap lancar berkat bantuan masyarakat setempat.

Malam harinya, peserta disuguhi kehangatan api unggun, pentas seni, pembacaan puisi perjuangan oleh  Nunu Nurdiana dari Etnis Sulawesi Selatan hingga senam kebersamaan dipimpin Oleh Linda Lee dari Etnis Tionghoa 

“Camping Merdeka ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga cara menjaga kekompakan lintas paguyuban,” kata Poedji Watono yang juga adalah Ketua Kontak Kerukunan Sosial (K2S) Jawa.

Ia menjelaskan, puncak acara adalah upacara pengibaran bendera merah putih di kawasan Gunung Mutis. Ketua FPK NTT bertindak sebagai inspektur upacara, sementara mantan Wakapolres TTS sekaligus Ketua Banjar Darmq Agung Bali, Gede Ariabawa, S.Sos., MH menjadi komandan upacara. Doa dipimpin Mualim Chaniago dari Ikatan Keluarga Minang, dan pengibaran bendera di puncak dilakukan oleh Dr. Nur Salim dari Etnis SulawesiSelatan.

Sementara itu, Koordinator Lapangan Camping Merdeka, Kiai Pono MS menuturkan suasana penuh haru dalam kegiatan tersebut. 

“Suasana sangat haru, apalagi ketika bendera raksasa dibentangkan bersama di tengah kabut tebal Mutis. Itu pengalaman luar biasa,” ungkap Koordinator Lapangan, Pono MS.

Beragam komunitas turut serta dalam acara ini, antara lain, Paguyuban Bali, Ikatan Keluarga Ende Flores, Keluarga Minang Saiyo Sakato, Kerukunan Keluarga Pasundan Mangle dan paguyuban lain , serta komunitas motor CB Kupang.

Bendahara FPK, Muallim Chaniago dari Etnis Minang menilai kegiatan ini membuktikan FPK sebagai wadah pemersatu.

“FPK adalah rumah bersama yang mampu menghimpun berbagai karakter etnis, suku, dan agama. Semangat kebersamaan ini semakin menguatkan semboyan kami: Bersama FPK Membangun Negeri,” tegasnya.

Selain upacara, peserta juga menyalurkan bantuan sosial berupa sembako kepada masyarakat adat.

Seluruh rangkaian upacara didahului ritual memohon ijin leluhur diatas batu yg sakral dipimpin langsung oleh ketua adat setempat Bapa Matheus Anin.

Ketua FPK menambahkan, pelaksanaan Camping Kemerdekaan tahun depan akan berlangsung di Ende, Flores, sebagai penghormatan pada tanah lahirnya Pancasila.

“Ini bukan sekadar camping, melainkan wujud nyata FPK sebagai jembatan persatuan di tengah kebinekaan. Semoga kegiatan ini terus berlanjut dan memberi inspirasi,” pungkas Theodorus Widodo. (MI)




Syukur 25 Tahun Hidup Membiara, Sr. Maria Marselina Lodan RVM: Semua Karena Kasih Tuhan

Lembata,nwartapedia.com   –  Dengan penuh syukur, Sr. Maria Marselina Lodan, RVM, akan merayakan 25 tahun panggilannya dalam hidup membiara. Misa syukur pesta Perak Hidup Membiara ini akan digelar pada Kamis, 4 September 2025, bertempat di rumah keluarga besar, kediaman almarhum Bapak Yoseph Pito Watun, Jl. Gua Maria, Walangkeam Atas, Lembata.

Motto hidupnya sederhana namun sarat makna: “Tuhan adalah Kasih” (1 Yoh 4:8). Kalimat singkat ini menjadi sumber kekuatan dan arah panggilannya, yang setia ia hidupi sepanjang perjalanan sebagai religius misionaris dari Kongregasi Religious of the Virgin Mary (RVM).

Sr. Maria Marselina lahir di Hokeng, 20 April 1975, dari pasangan almarhum Linus Wata Wator dan almarhumah Magdalena Habu Watun. Sejak kecil, ia ditempa dalam iman Katolik sederhana yang menumbuhkan benih panggilan hidup membiara.

Setelah menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Lembata, ia melanjutkan ke Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta (2002–2006), dengan fokus pada Ilmu Pendidikan dan Pengajaran Agama Katolik (IPPAK).

Perjalanan rohaninya dimulai sebagai aspiran di Soe (1997–1998), lalu postulan dan novisiat hingga akhirnya mengikrarkan Kaul Pertama pada 22 Agustus 2000 di Kapela Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui, Kupang. Kesetiaannya berpuncak pada Kaul Kekal di Manila, Filipina, 25 Maret 2009.

Tepat 22 Agustus 2025 lalu, ia merayakan pesta perak hidup membiara dalam perayaan syukur di Gereja Maria Asumpta, Walikota Baru, Kupang.

Dalam karya perutusannya, Sr. Maria Marselina pernah melayani di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, pendampingan asrama, karya formasi, hingga pastoral. Ia pernah berkarya di Soe, Yogyakarta, Niki-niki, Rote Ndao, Denpasar, hingga Oeekam dan kembali ke TTS untuk mendampingi ret-ret serta mengajar di SDK Yaswari.

Kesetiaannya diutus ke berbagai tempat menjadi wujud nyata dari semangat misioner Kongregasi RVM, yang mengutamakan pelayanan pendidikan, pastoral, dan pengembangan iman umat.

Peringatan 25 tahun hidup membiara ini bukan hanya menjadi kebahagiaan pribadi Sr. Maria Marselina, tetapi juga sukacita keluarga besar Watun, umat Paroki Sta. Maria Banneux Lewoleba, serta komunitas Katolik di Lembata dan TTS.

“Sr. Marselina adalah kebanggaan keluarga dan Gereja. Hidup dan karya beliau menjadi teladan iman, harapan, dan kasih bagi banyak orang,” ungkap seorang anggota keluarga.

Dalam ungkapan syukurnya, Sr. Maria Marselina dengan rendah hati menegaskan bahwa semua perjalanan panjang ini adalah anugerah Tuhan.

“Semua karena kasih Tuhan. Jika saya boleh tetap setia hingga 25 tahun ini, itu bukan karena kekuatan saya, melainkan kasih dan rahmat-Nya yang selalu menyertai,” tuturnya penuh haru. (Goe)




Desa Oeltua Jadi Pilot Project Pemberdayaan Kader Posyandu untuk Tekan Stunting Lewat Kesehatan Gigi Balita

 

Kupang,nwartapedia.com  —  Upaya menekan angka stunting di Kabupaten Kupang kini mendapat perhatian khusus. Jurusan Kesehatan Gigi Poltekkes Kemenkes Kupang mengadakan program Pemberdayaan Kader Kesehatan Posyandu dan Ibu Balita Stunting di Desa Oeltua, Kecamatan Taebenu, dengan fokus pada pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut balita serta pemberian makanan tambahan (PMT) bergizi.

Desa Oeltua dipilih bukan tanpa alasan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang, prevalensi stunting di desa ini masih tinggi, yakni 37% pada tahun 2020—jauh di atas rata-rata nasional.

Kondisi sosial ekonomi, keterbatasan akses layanan kesehatan, serta pola asuh yang belum optimal menjadi faktor utama tingginya kasus stunting di wilayah ini.

Stunting selama ini identik dengan kurang gizi, padahal ada kaitan erat dengan kesehatan gigi dan mulut.

Balita stunting lebih rentan mengalami karies, penyakit gusi, hingga infeksi mulut yang dapat memperburuk kondisi kesehatan mereka.

“Mulut adalah pintu gerbang masuknya makanan ke dalam tubuh. Di dalam mulut makanan mengalami proses pencernaan mekanik oleh gigi. Gigi dan mulut harus dijaga kebersihannya karena berbagai kuman dapat masuk ke dalam tubuh melalui organ ini. Jika kesehatan gigi terganggu, otomatis penyerapan gizi anak juga ikut terhambat,” jelas Agusthinus Wali, Dosen Poltekkes Kemenkes Kupang yang memimpin program ini.

Agusthinus mengatakan, program ini melibatkan para kader posyandu sebagai ujung tombak kesehatan desa dan ibu dari balita sebagai penggerak pendidikan kesehatan kepada anak.

“Mereka dibekali pelatihan mengenai cara merawat kesehatan gigi balita, cara menyikat gigi yang benar sebagai upaya pencegahan karies, serta pentingnya PMT bergizi seimbang,”ungkapnya.

Tak hanya itu, lanjut Agusthinus, para ibu balita juga mendapatkan edukasi langsung dengan metode sederhana, menggunakan leaflet dan poster, agar lebih mudah dipahami dan dipraktikkan sehari-hari bagi anaknya di rumah.

“Selain penyuluhan, kader posyandu melakukan pendampingan langsung ke rumah-rumah balita stunting. Program ini juga disertai monitoring dan evaluasi untuk mengukur keberhasilan sekaligus merancang tindak lanjut kegiatan,”tambahnya.

Sementara itu, Melkisedek O. Nubatonis, anggota tim pelaksana, menegaskan bahwa keterlibatan aktif masyarakat sangat penting dalam keberhasilan program. 

“Kami ingin menciptakan kemandirian. Dengan kader kesehatan dan ibu balita yang paham tentang pentingnya pemeliharaan kesehatan gigi balita, maka status kesehatan balita bisa terjaga dan di tingkatkan, sehingga angka stunting perlahan ditekan,” ujarnya.

Program pemberdayaan di Desa Oeltua ini diharapkan menjadi model percontohan yang dapat direplikasi di desa-desa lain di Kabupaten Kupang dan Nusa Tenggara Timur, Provinsi yang masih mencatat prevalensi stunting cukup tinggi di Indonesia.

Tim Dosen Jurusan Kesehatan Gigi, Poltekkes Kemenkes Kupang yang tergabung dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini yakni :

Ketua: Agusthinus Wali1

Anggota: Melkisedek O. Nubatonis2 dan Mery Novaria Pay3,

Email : agusthinuswali@gmail.com ***




Meriah dan Penuh Sukacita, Anak SEKAMI di Biara Susteran Bello Rayakan HUT ke-80 RI 

 

Kupang,nwartapedia.com  –  Suasana penuh keceriaan mewarnai halaman Biara Susteran Ordo Fransiskan (OHFS) Provinsi Indonesia di Kelurahan Bello, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Sabtu (16/8/2025) sore.

Puluhan anak SEKAMI (Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner) bersama orang tua, umat, serta para suster biara, merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan berbagai lomba rakyat yang sarat hiburan dan kebersamaan.

Berbagai permainan tradisional seperti gigit kerupuk, jepit balon, hingga memasukkan karet gelang ke lidi membuat suasana semakin meriah.

Gelak tawa anak-anak mewarnai jalannya perlombaan, disambut tepuk tangan dan sorakan penonton yang ikut larut dalam suasana.

Tak hanya anak-anak, orang tua pun turut berperan dengan memberi semangat, sehingga tercipta keakraban dan kebersamaan antarumat.

Acara ini turut disaksikan pimpinan Kongregasi OHFS Indonesia, Sr. Mercy, OHFS, bersama para suster. Menurut panitia, kegiatan tersebut digelar hanya sehari sebagai bentuk syukur dan kebersamaan umat Stasi Bello dalam menyambut perayaan kemerdekaan, sekaligus mempererat persaudaraan.

“Melalui kegiatan sederhana ini, kami ingin menanamkan semangat nasionalisme sejak dini kepada anak-anak. Mereka belajar sportivitas, kebersamaan, sekaligus merasakan sukacita sebagai bagian dari bangsa Indonesia,” ujar Natalia Sius, salah seorang panitia.

Sementara itu, Goris Takene, pengurus Stasi Santo Agustinus Bello sekaligus Wakil Ketua Kelompok Umat Basis Santa Maria Virgo, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta lomba, baik anak-anak SEKAMI maupun Orang Muda Katolik (OMK), yang telah berpartisipasi.

Ia juga memberikan profisiat kepada semua pihak yang terlibat menyukseskan kegiatan ini.

“Semoga semangat proklamasi dan nasionalisme terus tertanam dalam jiwa anak-anak SEKAMI sebagai tulang punggung Gereja dan bangsa,” ujarnya.

SEKAMI adalah organisasi Gereja Katolik yang bertujuan membina iman anak-anak dan remaja sejak dini, sekaligus menumbuhkan semangat misioner melalui doa, derma, kurban, dan kesaksian. Dengan moto “Anak Membantu Anak” (Children Helping Children), SEKAMI menjadi wadah pembinaan iman sekaligus pendidikan karakter kebangsaan.

Perayaan ditutup dengan doa syukur bersama dan pembagian hadiah bagi para pemenang lomba. Meski berlangsung sederhana, momentum itu meninggalkan kesan mendalam bagi anak-anak, orang tua, maupun umat yang hadir, sekaligus menjadi bukti bahwa semangat kemerdekaan tetap hidup dalam keseharian masyarakat di Stasi Bello.

(goe)




Gubernur NTT Tegaskan Komitmen Bangun NTT: Pro-Rakyat, Berkeadilan, dan Berkelanjutan

Kupang,nwartapedia.com  –   Dalam momentum peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melkiades Laka Lena menyampaikan pidato pembangunan yang menekankan komitmen pemerintahannya untuk memajukan daerah di beranda selatan NKRI dengan fokus pada pembangunan pro-rakyat, pengurangan ketimpangan, dan kesejahteraan berkeadilan.

“Sejak dilantik pada 20 Februari 2025, saya bersama Wakil Gubernur berkomitmen menjawab amanah rakyat yang diletakkan di pundak kami dengan penuh tanggung jawab. Memajukan provinsi di beranda selatan NKRI adalah panggilan nurani, untuk memberikan yang terbaik dari diri kami sebagai anak Flobamorata,” ungkapnya, Sabtu (17/8/2025).

Visi NTT Maju, Sehat, Cerdas, Sejahtera, dan Berkelanjutan

Dalam pidatonya, Gubernur Melkiades menegaskan bahwa visi NTT Maju, Sehat, Cerdas, Sejahtera, dan Berkelanjutan bukan sekadar janji politik, melainkan pedoman pembangunan jangka panjang.

Visi tersebut ditopang oleh Lima Misi, Tujuh Pilar Penopang, dan Dasa Cita yang dirancang untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kami sadar, perjalanan menuju kemajuan dan kesejahteraan bukan perkara mudah. Tantangan kita nyata: kemiskinan, keterbatasan infrastruktur, musim kemarau panjang, bencana alam, pengangguran, angka putus sekolah, serta ketahanan pangan. Namun dengan kerja bersama, tantangan itu bisa kita ubah menjadi peluang,” tegasnya.

Indikator Pembangunan Mulai Menunjukkan Perubahan

Gubernur Melkiades menyampaikan data capaian pembangunan daerah. Berdasarkan BPS Maret 2025, tingkat kemiskinan di NTT tercatat 18,60%, turun dari 19,02% pada September 2024. Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka pada Februari 2025 berada di angka 3,23%, relatif stabil dibanding tahun sebelumnya.

Prevalensi stunting juga mengalami perbaikan, turun dari 37,9% pada 2023 menjadi 37% pada 2024. Dari sisi ekonomi, NTT mencatat pertumbuhan positif sebesar 5,44% pada triwulan II 2025, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,12%.

“Fluktuasi indikator makro ini mencerminkan adanya tantangan sekaligus peluang. Kita harus optimalkan potensi daerah untuk menciptakan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” jelasnya.

Optimalisasi Potensi Daerah dan Dukungan Pusat

Gubernur Melkiades menegaskan bahwa NTT memiliki kekuatan besar di sektor pertanian, perikanan, peternakan, energi baru terbarukan, dan pariwisata.

Melalui semangat AYO BANGUN NTT, ia mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk diaspora, untuk berperan aktif dalam pembangunan.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi dengan pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Dukungan melalui program strategis nasional seperti Makan Bergizi Gratis, Pemeriksaan Kesehatan Gratis, Pembentukan Koperasi Merah Putih, serta kebijakan afirmatif berbagai kementerian disebutnya sebagai peluang besar untuk mengubah wajah NTT.

“Sebagai beranda selatan NKRI yang berbatasan langsung dengan Timor Leste dan Australia, NTT bukan hanya garda terdepan kedaulatan negara, tetapi juga ujung tombak ekonomi dan penghubung antarbangsa,” katanya.

Gotong Royong Sebagai Modal Sosial

Mengakhiri pidatonya, Gubernur Melkiades menegaskan pentingnya menjaga semangat gotong royong sebagai modal sosial dalam mempercepat pembangunan.

“Modal sosial yang diwariskan turun-temurun, yaitu semangat gotong royong, harus kita jaga sebagai kekuatan kolektif untuk menekan kemiskinan dan meninggalkan ketertinggalan. Kita patut berbangga, karena NTT memberi sumbangan berharga bagi bangsa,” pungkasnya. (MI)




Meriahkan HUT RI ke-80, FPK NTT Kibarkan Merah Putih di Puncak Gunung Mutis

Kupang nwartapedia.com  –   Perayaan HUT ke-80 Kemerdekaan RI tahun ini akan terasa berbeda bagi Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Provinsi NTT. Tidak lagi sekadar upacara di lapangan, FPK mengajak puluhan anggota lintas etnis untuk menggelar Camping Merdeka di kawasan Mutis Timau, Fatumnasi, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).

Ketua FPK NTT, Ir. Theodorus Widodo, mengatakan konsep ini dipilih untuk menghadirkan suasana baru sekaligus mempererat kebersamaan.

“Kalau biasanya upacara selesai lalu bubar, tahun ini kita akan berkumpul lebih lama, mengibarkan Merah Putih di Gunung Mutis, dan membangun semangat kebersamaan antar-etnis,” ujarnya dalam konferensi pers di Balai Lelang Flobamora, Jumat (15/8/2025).

Theo didampingi Ketua Panitia Poedji Watono (Ketua Paguyuban K2S Jawa Provinsi NTT), Koordinator Lapangan Pono MS, dan Bendahara FPK Mualim Chaniago (Ikatan Keluarga Minang Saiyo Sakato).

Menurutnya, Camping Merdeka bukan sekadar berkemah, melainkan perayaan kemerdekaan yang sarat makna.

Rangkaian Kegiatan

Ketua Panitia, Poedji Watono menjelaskan, rombongan akan berangkat ke Fatumnasi pada 17 Agustus siang, usai mengikuti upacara di Kupang, dan kembali pada 18 Agustus.

“Kegiatan diawali penyambutan adat oleh tokoh setempat, dilanjutkan malam api unggun, renungan kemerdekaan, teatrikal, pembacaan puisi, hingga pentas kesenian,”jelasnya.

Tak hanya itu, lanjut Poetji, peserta dan warga akan menari massal bonet dan jai bersama, serta menyerahkan tali asih berupa paket sembako dan pakaian layak pakai hasil donasi anggota FPK.

Piedji menambahkan, puncak acara akan berlangsung pada pagi 18 Agustus, dimulai dengan senam pagi lalu pendakian ke Gunung Mutis.

“Pengibaran bendera akan dilakukan di Lapangan Oenino sebagai pintu gerbang pendakian, bersamaan dengan pengibaran di puncak Bukit Benteng Dua Putri oleh tim pendaki,”tambahnya.

Selain pendakian, tersedia layanan pemeriksaan kesehatan gratis serta kunjungan wisata ke kebun sayur, kebun kopi, dan sentra tenun ikat Fatumnasi.

Gotong Royong dan Promosi Wisata

Seluruh biaya kegiatan berasal dari partisipasi anggota FPK, dengan dukungan transportasi dari Pemkot Kupang berupa dua unit HiAce. Konsumsi ditanggung secara gotong royong oleh peserta.

“Selain memperingati HUT RI ke-80 dan memperkokoh persatuan, kami ingin Fatumnasi lebih dikenal sebagai destinasi wisata unggulan NTT,” tegas Poedji

FPK NTT saat ini menaungi 38 etnis, dan Camping Merdeka tahun ini dipastikan diikuti 11 paguyuban dengan target 75 peserta. (MI)




Atlet Cricket NTT Akan Dicover BPJS Ketenagakerjaan

Kupang,nwartapedia.com  –  Pengurus Cricket Indonesia (PCI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berupaya meningkatkan perlindungan kesehatan dan keselamatan bagi atletnya. Ketua Umum PCI NTT, Dr. Inche D. P. Sayuna, SH., M.Hum., M.Kn., Kamis (14/8/2025) di Kupang, mengungkapkan pihaknya telah melakukan pembicaraan dengan pimpinan BPJS Ketenagakerjaan NTT agar seluruh atlet cricket di daerah ini dapat terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan.

Menurut Sayuna, langkah ini penting untuk memastikan para atlet mendapatkan jaminan perlindungan jika mengalami sakit atau cedera, baik saat pertandingan maupun selama mengikuti turnamen.

“Kami ingin memastikan setiap atlet memiliki perlindungan yang layak. Olahraga adalah aktivitas berisiko, dan dengan BPJS Ketenagakerjaan, mereka akan memiliki jaminan jika terjadi hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, hasil pembicaraan dengan BPJS Ketenagakerjaan menetapkan iuran peserta sebesar Rp 16.800 per bulan.

Hasil rapat pengurus bersama atlet, termasuk perwakilan junior, menyepakati untuk menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan mulai tahun ini.

Sayuna berharap inisiatif ini dapat menjadi contoh bagi cabang olahraga lain di NTT untuk memberikan perlindungan yang memadai bagi para atlet.

“Mereka berjuang mengharumkan nama daerah, sudah sepatutnya keselamatan dan kesehatan mereka dijamin,” kata dia.
(goe)