Saboak Resmi Diluncurkan, 40 UMKM Ramaikan Taman Nostalgia Setiap Akhir Pekan

 

Kupang,nwartapedia.com  — Pemerintah Kota Kupang meluncurkan program baru bertajuk Saboak (Sunday Market Buat Orang Kupang) di kawasan Taman Nostalgia, Sabtu (21/6/2025).

Kegiatan yang berlangsung setiap akhir pekan ini menghadirkan 40 pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang menawarkan beragam produk, mulai dari makanan khas hingga kain tenun bermotif lokal.

Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, yang hadir langsung dalam peluncuran kegiatan tersebut, menyampaikan apresiasi atas antusiasme warga Kota Kupang yang memadati Taman Nostalgia sejak Sabtu sore hingga Minggu pagi.

“Saya senang sekali melihat masyarakat begitu antusias. Terima kasih untuk semua yang sudah hadir. Ini bukti bahwa ruang publik memang dibutuhkan warga untuk berkumpul dan menikmati suasana kota,” ujar Wali Kota.

Menurutnya, revitalisasi Taman Nostalgia menjadi bagian dari visi Pemerintah Kota untuk menghadirkan ruang publik yang nyaman dan hidup.

“Membangun kota tidak selalu soal gedung-gedung mewah. Kita perlu tempat untuk bertemu, berbagi cerita, dan menciptakan kenangan bersama. Taman Nostalgia adalah simbol Kota Kupang sebagai Kota Kasih,” katanya.

Wali Kota juga mengapresiasi peran Wakil Wali Kota Kupang, Serena Francis, yang disebutnya sebagai inisiator kegiatan Sunday Market ini.

“Saboak ini adalah hasil kerja keras Ibu Wakil Wali Kota. Ini baru awal. Ke depan, kita akan kembangkan lagi dengan membangun area bermain anak, lintasan sepatu roda, dan fasilitas publik lainnya,” ungkapnya.

Selain menjadi ajang promosi UMKM, kegiatan ini juga didukung oleh sejumlah sponsor, termasuk Bank Indonesia, Bank Mandiri, Bank NTT, dan BRI.

Wakil Wali Kota Kupang, Serena Francis, menyampaikan terima kasih kepada seluruh sponsor dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang telah mendukung kelancaran pelaksanaan Sunday Market.

“Kami berharap kegiatan ini terus berkembang dan menjadi agenda tetap mingguan untuk menggerakkan ekonomi warga serta memperkuat solidaritas sosial masyarakat Kota Kupang,” ujar Serena.

Di akhir sambutannya, Wali Kota mengimbau seluruh pengunjung dan pelaku usaha untuk menjaga kebersihan taman.

“Kami sudah siapkan tempat sampah di berbagai titik. Mari kita jaga taman ini agar tetap bersih dan nyaman untuk semua,” pesannya. (MI)




Rustam, Anak dari Keluarga Non-Katolik Terima Komuni Pertama

 

Kupang,nwartapedia.com  – Perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus di Paroki Santo Fransiskus dari Assisi, Kolhua, Kota Kupang, Minggu (22/6), menjadi momen istimewa bagi 108 anak yang menerima Komuni Suci untuk pertama kalinya.

Dari jumlah itu, 55 anak berasal dari Stasi Santo Agustinus Bello, 52 anak dari Paroki Kolhua, dan satu anak dari Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Penfui.

Yang paling menarik perhatian adalah kehadiran Rustam One Tuan (13), satu-satunya peserta yang berasal dari keluarga non-Katolik.

Meskipun kedua orang tuanya dan keempat adiknya beragama Protestan, Rustam tampil mantap dan penuh semangat melangkah bersama teman-temannya menerima Sakramen Ekaristi Pertama.

Misa Kudus dipimpin oleh RD Dus Bone, Pastor Paroki Kolhua, didampingi RD Toni Kobesi selaku Pastor Rekan, dan imam tamu Pater Yustinus Tegu Wona, SVD.

Dalam homilinya, RD Dus Bone menekankan bahwa Komuni adalah puncak iman Katolik dan anak-anak merupakan harapan masa depan keluarga dan Gereja.

“Anak-anak harus mendapat tempat dalam hati Tuhan, baik melalui Gereja maupun dalam keluarga. Jangan ragu terhadap Ekaristi, sebab saat konsekrasi, tubuh dan darah Kristus sungguh hadir. Setelah menyambut-Nya, bawalah hati dan perilaku yang baik kepada sesama,” ujar RD Dus.

Perayaan ini semakin khusyuk dan meriah berkat persembahan lagu dari koor anak-anak SEKAMI Paroki Kolhua yang dipimpin oleh dirigen Nona Putri Kembo dan diiringi oleh organis Nus Selly Seng.(goe)




Esok Ratusan Anak Terima Komuni Pertama di Paroki Kolhua, Rustam One Tuan Jadi Sorotan karena Latar Belakang Keluarga Protestan

 

Kupang,nwartapedia.com  – Sebanyak 108 anak akan menerima Sakramen Ekaristi Pertama atau Komuni Suci Perdana dalam perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus yang berlangsung esok, Sabtu (21/6/2025), di Paroki Santo Fransiskus dari Assisi, Kolhua, Kota Kupang.

Momen ini menjadi penuh makna tidak hanya bagi anak-anak dan keluarga mereka, tetapi juga bagi umat paroki secara keseluruhan.

Yang menarik perhatian adalah kehadiran seorang anak bernama Rustam One Tuan, yang menjadi satu-satunya peserta komuni perdana dari keluarga non-Katolik.

Kedua orang tuanya serta empat adik kandungnya diketahui beragama Kristen Protestan.

Namun, Rustam dengan kesadaran pribadi memilih memeluk iman Katolik dan telah menjalani pembaptisan secara resmi pada malam Paskah tahun ini, April 2025.

Menurut penjelasan Goris Takene, salah satu anggota keluarga Rustam, keputusan tersebut diambil dengan persetujuan dan dukungan penuh dari kedua orang tua serta keluarga besar.

“Rustam memang sejak lama sudah aktif dalam kegiatan gereja Katolik karena tinggal bersama tantenya, Ibu Yohana Bistolen, dan neneknya, Oma Petronela Takene, yang keduanya Katolik. Ia tumbuh dalam lingkungan yang membentuk imannya secara alami,” jelas Goris kepada media, Jumat (20/6).

Lebih lanjut, Goris menambahkan bahwa hal ini mencerminkan tingginya nilai toleransi antara keluarga besar Takene dan keluarga besar Tuan.

“Kami bersyukur bahwa dalam perbedaan iman pun, kasih dan dukungan tidak berkurang. Rustam diberi ruang untuk menentukan jalannya sendiri, dan itu dihormati sepenuhnya oleh kedua belah pihak.”tambahnya.

Rustam One Tuan sendiri menyatakan rasa syukur dan sukacitanya menjelang penerimaan komuni perdana.

“Saya senang menjadi Katolik dan siap menerima tubuh dan darah Kristus untuk pertama kali. Saya ingin hidup dalam ajaran yang saya pilih dengan hati,” ujarnya dengan antusias.

Perayaan Ekaristi besok akan dipimpin langsung oleh Pastor Paroki Kolhua dan dihadiri ratusan umat, keluarga, serta para katekis yang telah membina para calon penerima komuni.

Momen ini menjadi wujud nyata pertumbuhan iman anak-anak dan juga cermin indahnya keberagaman yang dirawat dengan cinta kasih di tengah masyarakat Kota Kupang.(goe)




Bangunan Kuno Eks Tempat Pembakaran Kapur di Naikolan Ditetapkan Jadi Situs Budaya

 

Kupang,nwartapedia.com  – Sebuah bangunan kuno bekas tempat pembakaran batu kapur yang berada di RT 12 RW 05, Kelurahan Naikolan, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, kini resmi ditetapkan sebagai situs budaya oleh Pemerintah Kota Kupang.

Penetapan ini dilakukan sebagai bentuk penghargaan terhadap nilai sejarah dan budaya lokal yang terkandung dalam bangunan tersebut.

Bangunan tersebut diperkirakan telah berdiri sejak tahun 1942, dibangun di atas lahan milik warga atas nama almarhum Sender Lele, yang juga merupakan pelaku produksi kapur pada masanya.

Saat itu, kapur digunakan sebagai bahan bangunan pengganti semen dan menjadi komoditas penting dalam pembangunan rumah-rumah warga serta beberapa fasilitas umum di wilayah Kota Kupang.

Warisan Industri Rakyat

Menurut Lurah Naikolan, Nur M. Tasrap, bangunan ini menyimpan nilai sejarah tinggi dan layak dijaga keberadaannya.

“Bangunan ini menjadi bukti konkret bahwa masyarakat kita dulu memiliki kreativitas tinggi dalam memanfaatkan sumber daya lokal untuk mendukung pembangunan. Sebelum hadirnya Semen Kupang di era 1980-an, kapur dari tempat ini menjadi andalan warga,” ungkap Nur.

Ia menambahkan bahwa pelestarian bangunan tersebut menjadi bagian dari upaya menanamkan nilai sejarah kepada generasi muda agar tidak melupakan akar budaya dan warisan lokal.

Dukungan dari Warga dan Tokoh Masyarakat

Dukungan terhadap pelestarian situs ini juga datang dari tokoh masyarakat setempat, Ketua RT 09 RW 04, Rivai Djaha.

Menurutnya, bangunan pembakaran kapur tersebut bukan hanya saksi bisu sejarah pembangunan lokal, tetapi juga cerminan semangat gotong royong dan inovasi warga masa lalu.

“Bangunan ini perlu dilestarikan dan dirawat. Ini bukan sekadar tembok tua, tapi bagian dari identitas Naikolan,” ujarnya.

Senada dengan itu, Silfester Suki, warga Kelurahan Naikolan yang masih mengingat cerita dari orang tua dan kakeknya, menjelaskan bahwa batu kapur yang digunakan pada masa itu diperoleh dari penggalian di sekitar wilayah Naikolan.

Para pekerja lokal mengolahnya secara manual sebelum akhirnya dibakar untuk menghasilkan kapur siap pakai.

“Dulu ini tempat yang ramai, setiap hari ada kegiatan pembakaran,” kenangnya.

Pemerintah Pasang Tanda Situs Budaya

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Serlis Marlis Tiro, S.STP., MM, menyatakan bahwa bangunan tersebut telah didata secara resmi sebagai bagian dari cagar budaya lokal.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah kota melalui bidang kebudayaan telah memasang papan tanda pengenal situs budaya sebagai langkah awal pelestarian fisik dan edukasi publik.

“Pemasangan papan pengenal ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam menjaga dan mempromosikan kekayaan budaya lokal. Bangunan ini bukan hanya penting untuk sejarah Naikolan, tapi juga menjadi bagian dari mozaik sejarah pembangunan Kota Kupang secara keseluruhan,” ujar Serlis.

Upaya Pelestarian Berkelanjutan

Pemerintah Kota Kupang terus berupaya mendorong identifikasi, pendataan, dan pelestarian berbagai situs sejarah dan budaya di wilayahnya.

Melalui kerja sama lintas sektor dan peran aktif masyarakat, pelestarian situs seperti ini diharapkan mampu memperkuat identitas kultural masyarakat kota sekaligus menjadi media edukasi bagi generasi muda.

Bangunan eks tempat pembakaran kapur di Naikolan kini menjadi simbol ketekunan, inovasi, dan kearifan lokal yang patut dijaga.

Kedepan, situs ini diharapkan dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah dan edukasi budaya yang bermanfaat bagi masyarakat luas.(goe)




Pemkot Kupang Pasang Tanda Pengenal Situs Budaya: Gua Jepang di Naimata Jadi Sumber Edukasi Sejarah

 

Kupang,nwartapedia.com – Sebuah situs bersejarah berupa gua peninggalan tentara Jepang yang berada di RT 06/RW 02 Kelurahan Naimata, Kota Kupang, kini mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kota Kupang.

Melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, pemerintah memasang tanda pengenal situs budaya di lokasi tersebut sebagai upaya pelestarian dan penguatan identitas sejarah lokal.

Ketua RT 06/RW 02, Karel Mau, menjelaskan bahwa di wilayahnya terdapat sekitar tujuh lubang gua yang merupakan peninggalan masa pendudukan Jepang pada Perang Dunia II.

Gua-gua ini dahulu digunakan sebagai benteng pertahanan oleh pasukan Jepang, dan keberadaannya berkaitan erat dengan lokasi strategis Naimata yang berdekatan dengan landasan udara (kini Bandara El Tari Kupang).

“Di wilayah RT 6 ini, gua yang paling menonjol memiliki dua akses, yakni pintu masuk dan pintu keluar, dengan radius sekitar delapan meter dari pintu utama. Ini adalah situs yang penting dan harus dijaga,” ujar Karel Mau.

Ia menambahkan, proses pengerjaan gua-gua ini pada masa lalu dilakukan oleh warga lokal secara paksa melalui sistem kerja rodi yang diterapkan oleh tentara Jepang.

Pengerjaan dilakukan secara manual, tanpa bantuan alat berat, dan menjadi catatan kelam dari masa pendudukan Jepang di wilayah NTT.

Lokasi gua yang dimaksud terletak sangat dekat dengan lingkungan pendidikan, yakni hanya beberapa meter dari SD Inpres Naimata.

Kondisi gua tersebut masih relatif terjaga dan tidak mengalami kerusakan besar, sehingga potensial untuk dijadikan objek pembelajaran sejarah bagi generasi muda.

Salah seorang guru di SD Inpres Naimata, Gaspar Tanjak, mengungkapkan rasa syukurnya atas perhatian pemerintah terhadap situs bersejarah ini.

Ia berharap keberadaan gua Jepang ini dapat dijadikan sebagai sarana edukatif untuk menanamkan nilai-nilai sejarah dan nasionalisme kepada para siswa.

“Kami sangat bersyukur karena anak-anak bisa belajar sejarah langsung dari lokasi aslinya. Ini menjadi pengalaman yang berharga dan memperkuat pemahaman mereka tentang perjuangan masa lalu,” ujar Gaspar.

Dengan pemasangan tanda pengenal oleh Pemerintah Kota Kupang, diharapkan situs gua Jepang di Naimata tidak hanya menjadi saksi bisu sejarah, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya yang dapat diwariskan dari generasi ke generasi, serta memperkaya wawasan sejarah lokal masyarakat Kota Kupang.(goe)




Pemerintah Kota Kupang Pasang Papan Tanda Situs Budaya di Rumah Peninggalan Raja Nisnoni

 

Kupang,nwartapedia.com – Pemerintah Kota Kupang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kembali menunjukkan komitmennya dalam melestarikan situs budaya di wilayah Kota Kupang.

Salah satu bentuk nyata perhatian tersebut adalah pemasangan papan tanda pengenal situs budaya di rumah peninggalan Raja Nisnoni yang terletak di RT 007/RW 003, Kota Kupang.

Rumah bersejarah yang dibangun pada tahun 1935 ini merupakan peninggalan Raja Alfons Nisnoni dan hingga kini masih dirawat oleh keturunannya.

Alfons Nisnoni, cucu dari Raja Nisnoni, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas perhatian dari pemerintah Kota Kupang terhadap warisan leluhur mereka.

“Kami dari keluarga besar Raja Nisnoni sangat bangga dan berterima kasih karena pemerintah, khususnya Bapak Wali Kota Kupang dan jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, telah memberikan perhatian kepada situs budaya peninggalan leluhur kami. Ini menjadi bentuk penghargaan sekaligus dorongan bagi kami untuk terus menjaga dan melestarikan rumah bersejarah ini,” ungkap Alfons Nisnoni.

Ia juga menyatakan bahwa keluarga besar Nisnoni siap menjadi mitra pemerintah dalam menjaga dan merawat situs bersejarah tersebut demi generasi mendatang.

“Kami akan terus menjaga rumah ini dan menjadikannya sebagai bagian penting dari sejarah Kota Kupang. Terima kasih kepada Bapak Wali Kota dan seluruh pihak yang telah memberi perhatian besar terhadap situs budaya kami,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Serlin Marlis Tiro, S.STP., M.M., yang hadir dalam kegiatan pemasangan papan tanda tersebut menjelaskan bahwa pemasangan papan tanda ini merupakan simbol penting dalam pelestarian warisan budaya lokal.

“Pemasangan papan tanda pengenal ini adalah bentuk pengakuan dan perlindungan terhadap situs budaya. Ini bukan sekadar simbol, tetapi juga ajakan kepada masyarakat untuk ikut menjaga dan menghargai sejarah serta warisan nenek moyang kita,” ujar Serlin Marlis Tiro.

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program strategis pelestarian budaya yang dilaksanakan secara bertahap oleh Pemerintah Kota Kupang, dengan dukungan dari pihak-pihak terkait termasuk masyarakat adat dan ahli warisan budaya.

Dengan pemasangan papan tanda ini, Pemerintah Kota Kupang berharap agar masyarakat luas lebih sadar akan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan sejarah yang menjadi identitas dan kekayaan budaya daerah. (goe)




108 Anak di Paroki Kolhua dan Stasi Bello Akan Terima Komuni Suci Pertama di Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

 

Kupang,nwartapedia.com  – Sebanyak 108 orang anak dari Paroki Santo Fransiskus dari Assisi Kolhua dan Stasi Santo Agustinus Bello, Kota Kupang, akan menerima Komuni Suci untuk pertama kalinya pada hari Minggu, 22 Juni 2025, yang bertepatan dengan perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus dalam kalender liturgi Gereja Katolik.

Ketua Katekis Paroki Kolhua, Kaytanus Korbafo, mengungkapkan bahwa anak-anak ini telah menjalani masa pembinaan rohani yang intensif selama tiga bulan terakhir.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 55 anak berasal dari Stasi Bello, pusat Paroki Kolhua 52 dan LP 1 orang.

“Mereka sudah mengikuti pembinaan rohani secara teratur, termasuk doa Triduum dan persiapan pengakuan. Ini adalah tahap penting sebelum mereka menerima komuni pertama kalinya,” ujar Kaytanus di sela-sela kegiatan doa Triduum hari ketiga di Gereja Paroki Kolhua, Jumat sore (20/6).

Ia menambahkan, Komuni Pertama atau yang sering disebut sambut baru merupakan momen sakral bagi setiap umat Katolik.

Melalui penerimaan Tubuh dan Darah Kristus dalam rupa roti dan anggur, umat disatukan secara spiritual dengan Kristus dan menerima rahmat keselamatan.

“Ekaristi bukan sekadar simbol. Kita percaya bahwa hosti yang telah dikonsekrasi dalam Misa adalah sungguh-sungguh Tubuh dan Darah Kristus yang hadir secara nyata. Ini bukan hanya bentuk tradisi, tetapi inti iman Katolik,” tegasnya.

Salah satu anak yang akan menerima Komuni Suci Rustam One Tuan, seorang anak yang baru beberapa bulan lalu dibaptis Katolik setelah sebelumnya memeluk agama Kristen Protestan.

Meski orang tuanya bukan Katolik, Rustam diperbolehkan menjalani proses ini karena sejak lama tinggal bersama tante dan omanya yang beragama Katolik.

“Saya senang dan siap menerima Tubuh dan Darah Tuhan Yesus. Saya yang minta sendiri untuk dibaptis dan sambut baru. Orang tua saya tidak melarang karena saya yang ingin, bukan karena disuruh siapa-siapa,” ujar Rustam dengan polos, menampilkan semangat dan ketulusan hati seorang anak yang merindukan kedekatan dengan Sang Juru Selamat.

Perayaan Misa Komuni Pertama ini akan menjadi peristiwa penuh sukacita dan iman bagi umat di Paroki Kolhua dan Stasi Bello. Tidak hanya sebagai langkah awal dalam kehidupan sakramental anak-anak tersebut, tetapi juga sebagai pengingat bagi seluruh umat tentang pentingnya Ekaristi sebagai pusat kehidupan iman Katolik. (goe)




Situs Bunker Peninggalan Perang di Bakunase: Jejak Sejarah yang Perlu Dilindungi

 

Kupang,nwartapedia.com  – Di tengah perkembangan Kota Kupang yang terus tumbuh, jejak-jejak sejarah masa lalu masih tersimpan di sejumlah sudut kota Kupang, sperti bangunan rumah dan makam Raja Nisnoni, Bunker sejumlah bangunan lainsebagai cerita sejarah.

Bungker misalnya merupakan peninggalan perang dunia kedua tahun 1939. Bunker tersebut merupakan bangunan pertahanan militer di masa perang yang berada di RT 12 RW 04, Kelurahan Bakunase, Kecamatan Kota Raja Kota Kupang NTT.

Bangunan yang diperkirakan telah ada sejak tahun 1939 ini menjadi saksi bisu perjalanan sejarah yang kini mulai mendapat perhatian sebagai situs budaya yang patut dilindungi.

Ketua RT 12,Kelurahan Bakunase Epi Un, mengungkapkan bahwa di wilayah yang dipimpinnya terdapat tiga bunker tua, namun baru satu yang tercatat secara resmi sebagai situs budaya.

Dua lainnya belum terdata karena di atasnya telah berdiri bangunan milik warga.

Ia berharap Pemerintah Kota Kupang melalui instansi terkait dapat melakukan pendataan ulang agar semua situs bersejarah yang masih ada bisa dilindungi.

“Sudah beberapa kali saya sampaikan dalam pertemuan, karena di lingkungan kami ada tiga bunker, tetapi yang baru dicatat satu. Dua lainnya belum, karena sudah ada bangunan di atasnya oleh pemilik lahan. Tapi saya rasa ini penting untuk dilindungi. Harus ada regulasi perlindungan yang jelas, termasuk dasar hukumnya, seperti Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya,” jelas Epi Un.

Ia juga menyebutkan bahwa pemilik lahan tempat bunker berada di RT 12 yakni, Iwan Surya, telah diberi informasi bahwa di lokasi tersebut akan dipasang papan tanda sebagai situs cagar budaya, sebagai upaya awal pelestarian.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang melalui Kepala Bidang Kebudayaan, Serlin Marlis Tiro, S.STP, MM, menegaskan komitmen pemerintah dalam melindungi dan melestarikan situs-situs bersejarah di wilayah Kota Kupang.

“Kami terus melakukan pendataan terhadap situs-situs budaya yang ada di Kota Kupang. Ini penting bukan hanya untuk pelestarian sejarah, tetapi juga sebagai aset budaya daerah yang bisa diwariskan kepada generasi mendatang. Kami juga akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, termasuk pemilik lahan, agar proses perlindungan situs ini bisa berjalan baik,” ungkap Serlin.

Pemerintah Kota Kupang melalui Bidang Kebudayaan juga mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga dan melaporkan keberadaan situs bersejarah di sekitar mereka.

Diharapkan dengan adanya pendataan yang menyeluruh serta regulasi yang kuat, situs-situs seperti bunker di Kelurahan Bakunase ini dapat dilestarikan sebagai bagian dari identitas sejarah Kota Kupang.(goe)




Dukung Pelestarian Warisan Budaya, 12 Unit Papan Tanda Pengenal Situs Budaya Diserahkan ke Disdikbud Kota Kupang

 

Kupang,nwartapedia.com  – Upaya pelestarian warisan budaya di Kota Kupang kembali mendapat dukungan nyata. Sebanyak 12 unit papan tanda pengenal atau plang untuk situs budaya resmi diserahkan oleh pihak ketiga penyedia barang kepada Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang.

Penyerahan ini dilakukan oleh penyedia barang, Bapak Anang, sebagai bentuk kontribusi terhadap pelestarian nilai-nilai budaya dan sejarah lokal.

Dalam keterangannya, Bapak Anang mengungkapkan harapannya agar papan tanda pengenal ini dapat segera dipasang di masing-masing lokasi situs budaya yang telah teridentifikasi sebagai peninggalan bersejarah dan aset penting milik negara maupun daerah.

“Kami berharap plang-plang ini bisa segera digunakan di lokasi situs budaya. Fungsinya bukan hanya sebagai tanda pengenal, tapi juga sebagai bentuk penghargaan terhadap warisan budaya dan pengingat bagi masyarakat akan pentingnya menjaga aset sejarah ini,” ujar Bapak Anang.

Papan tanda pengenal tersebut dirancang khusus untuk menunjukkan identitas, nilai, serta informasi singkat mengenai situs budaya yang ada di wilayah Kota Kupang.

Keberadaan plang ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran publik terhadap pentingnya perlindungan situs-situs bersejarah.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang melalui Kepala Bidang Kebudayaan, Serlin Marlis Tiro, S.STP., M.M.,di ruang kerjanya Jumat (20/6) menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas dukungan dari pihak penyedia barang.

Ia menegaskan bahwa keberadaan papan tanda pengenal ini merupakan bagian penting dari program pelestarian budaya daerah.

“Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Anang dan tim yang telah menyediakan papan tanda ini. Ini adalah langkah kecil tapi sangat berarti dalam mendukung pelestarian situs-situs budaya di Kota Kupang,” kata Serlin.

Lebih lanjut, Serlin mengajak seluruh masyarakat Kota Kupang untuk turut berperan aktif menjaga dan melestarikan situs budaya yang ada.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat.

“Situs-situs budaya adalah warisan yang sangat penting dan bernilai, bukan hanya saksi sejarah, tapi juga identitas kita sebagai bangsa. Mari kita jaga bersama-sama,” tegasnya.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang melalui Bidang Kebudayaan akan segera menjadwalkan pemasangan papan tanda pengenal tersebut di sejumlah titik situs budaya yang telah terdata.

Dengan demikian, diharapkan upaya ini menjadi langkah awal menuju pengelolaan situs budaya yang lebih tertib, informatif, dan berkelanjutan.(goe)




Kadis Dikbud dan Sekretaris Dinas Pimpin Kerja Bakti Bersihkan Sampah Plastik di Taman Nostalgia

 

Kupang,nwartapedia.com  – Dalam rangka mendukung visi Kota Kupang yang bersih, indah, dan harmonis, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang kembali menggelar aksi kerja bakti di kawasan Taman Nostalgia, Jalan Frans Seda. Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Drs. Dumuliahi Djami, didampingi Sekretaris Dinas, Ambo.

Aksi bersih-bersih ini bukanlah kegiatan sekali waktu, melainkan rutin dilaksanakan hampir setiap Jumat sebagai bentuk nyata dukungan terhadap program kebersihan yang dicanangkan oleh Wali Kota Kupang, dr. Cristian Widodo, dan Wakil Wali Kota Serena Francis.

Selain melibatkan pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, kerja bakti ini juga menggerakkan ASN dari berbagai instansi untuk turun langsung ke lapangan. Mereka bekerja bersama-sama membersihkan sampah, terutama sampah plastik yang selama ini menjadi ancaman utama bagi kebersihan dan keindahan kota.

“Kerja bakti ini adalah bagian dari komitmen kami untuk mewujudkan Kota Kupang yang tidak hanya bersih, tetapi juga asri dan nyaman. Sampah plastik harus menjadi perhatian khusus karena dampaknya sangat besar terhadap lingkungan dan wajah kota,” ujar Drs. Dumuliahi Djami.

Ia menambahkan bahwa aksi bersih-bersih ini akan terus dijadwalkan secara berkala di sejumlah titik strategis di kota, guna memastikan dampak positifnya bisa dirasakan luas oleh masyarakat.

Taman Nostalgia sendiri dipilih sebagai lokasi pembersihan karena merupakan ruang publik favorit warga. Dengan lingkungan yang bersih dan bebas sampah, taman ini diharapkan mampu menjadi tempat rekreasi yang sehat dan menyenangkan bagi berbagai kalangan.

Usai kegiatan, suasana keakraban terlihat jelas saat para ASN menikmati santapan ringan dari pedagang kaki lima setempat, Salome Kereta Biru milik Mas Umar.

“Ini hanya bentuk kecil dukungan kami untuk para bapak dan ibu ASN yang sudah bekerja keras. Semoga semangat kebersamaan ini terus terjaga,” tutur Mas Umar.

Kegiatan kerja bakti ini tak hanya memperindah wajah kota, tetapi juga memperkuat nilai gotong royong dan kepedulian sosial di kalangan ASN.

Dengan langkah-langkah sederhana namun konsisten, Kota Kupang terus melangkah maju menjadi kota yang sehat, bersih, dan ramah lingkungan untuk semua. (goe)