Gusmawati Ajak Warga Kuanino Ubah Sampah Menjadi Tabungan dan Nilai Ekonomi

Kupang, nwartapedia.com — Sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai ternyata dapat menjadi sumber manfaat ekonomi apabila dikelola dengan baik.

Hal tersebut disampaikan pendiri Bank Sampah Muara Abu Oesapa, Ir. Gusmawati, S.T., M.Eng., saat berbagi pengalaman kepada masyarakat di Kelurahan Kuanino, Kota Kupang.

Gusmawati menjadi pemateri dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang digelar melalui kerja sama Program Studi Arsitektur Fakultas Sains dan Teknik Universitas Nusa Cendana (Undana) dengan LPM Kelurahan Kuanino.

Kegiatan tersebut berlangsung di Kantor Lurah Kuanino pada Sabtu (12/9/2026), dengan mengusung tema “Undana Berdampak untuk Provinsi NTT: Mewujudkan World Class-Locally Relevant University melalui Kolaborasi Menuju Pembangunan Berdampak Berkelanjutan.”

Dalam kesempatan tersebut, Gusmawati tidak hanya berbicara mengenai persoalan sampah, tetapi juga menceritakan perjalanan dan pengalaman membangun Bank Sampah Muara Abu.

Ia mengatakan, pengelolaan sampah harus dimulai dari lingkungan terkecil, yakni rumah tangga. Masyarakat perlu membiasakan diri memilah sampah sebelum dibuang sehingga sampah yang masih memiliki nilai dapat dimanfaatkan.

“Saya hadir berbagi bukan karena lebih pintar, tetapi karena memiliki pengalaman. Mudah-mudahan pengalaman ini dapat membantu bapak dan ibu dalam mengelola sampah dari rumah,” kata Gusmawati.

Menurutnya, sampah seperti botol plastik, kertas dan berbagai jenis sampah anorganik lainnya sebenarnya mempunyai nilai ekonomi. Dengan sistem bank sampah, masyarakat dapat mengumpulkan sampah, menimbang dan mencatatnya sebagai tabungan.

Konsep tersebut, kata Gusmawati, menjadi salah satu cara untuk mengubah pandangan masyarakat bahwa sampah bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang.

“Jadi seperti tabungan. Sampah yang kita kumpulkan kemudian dinilai dengan uang,” jelasnya.

Dimulai dari Rumah

Gusmawati menceritakan, gagasan pengelolaan sampah yang dikembangkannya mulai lebih serius sejak 2023. Berbagai upaya dilakukan untuk mengolah sampah rumah tangga menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.

Selanjutnya, pada 2024 dibentuk Bank Sampah Muara Abu yang mulai beroperasi pada 23 November 2024.

Dalam perkembangannya, masyarakat yang menjadi nasabah membawa sampah dari rumah masing-masing. Sampah kemudian dipilah berdasarkan jenisnya, ditimbang dan dicatat dalam buku tabungan.

Menurut Gusmawati, mekanisme tersebut memberikan motivasi tersendiri kepada masyarakat karena sampah yang dikumpulkan dapat menghasilkan uang.

Ia juga mendorong agar bank sampah tidak hanya menjadi tempat menerima sampah dari nasabah, tetapi berkembang menjadi pusat edukasi dan pengolahan sampah.

Pengurus juga didorong memiliki keterampilan untuk mengolah sampah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Anak-Anak Perlu Dilibatkan

Gusmawati menilai keterlibatan anak-anak sangat penting dalam membangun kebiasaan memilah sampah sejak dini.

Menurutnya, anak-anak dapat diajarkan mengumpulkan sampah dari lingkungan rumah maupun sekolah, kemudian menyetorkannya ke bank sampah.

Cara tersebut sekaligus menjadi pembelajaran sederhana mengenai lingkungan, tanggung jawab dan pengelolaan keuangan.

Ia berharap kebiasaan tersebut dapat terus terbawa hingga anak-anak tumbuh dewasa.

Sampah Harus Dipilah dari Sumber

Dalam pemaparannya, Gusmawati juga menjelaskan pentingnya membedakan sampah organik dan anorganik.

Sampah organik seperti sisa makanan, daun dan rumput dapat dikelola kembali, sedangkan sampah anorganik seperti botol plastik, kertas dan berbagai kemasan dapat dipilah untuk dimanfaatkan atau memiliki nilai jual.

Selain memilah sampah, masyarakat juga diajak mengurangi penggunaan barang sekali pakai dan membiasakan menggunakan barang yang dapat dipakai berulang kali.

Gusmawati mengingatkan bahwa persoalan sampah bukan hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga memiliki dampak terhadap kehidupan masyarakat apabila tidak dikelola dengan baik.

Karena itu, menurut dia, gerakan pengelolaan sampah harus dilakukan bersama dan dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah.

Bank Sampah Berikan Manfaat Ekonomi

Gusmawati memaparkan, sejak Bank Sampah Muara Abu beroperasi pada 23 November 2024 hingga 5 September 2026, nilai tabungan nasabah yang terkumpul telah mencapai sekitar Rp22,7 juta. Jumlah nasabah juga telah mencapai sekitar 1.190 orang.

Capaian tersebut menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah secara terorganisasi dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus membantu menjaga lingkungan.

Ia berharap pengalaman Bank Sampah Muara Abu dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat Kuanino untuk membangun gerakan serupa.

Menurutnya, perubahan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Masyarakat dapat memulainya dengan memilah sampah di rumah, mengurangi sampah sekali pakai dan memanfaatkan sampah yang masih memiliki nilai.

“Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, mulai sekarang dan jangan menunda-nunda,” pungkas Gusmawati. (MI)




Tak Miliki TPS, Kelurahan Naikolan Gandeng Sekolah dan Aktifkan Kembali Bank Sampah

Kupang, nwartapedia.com –  Pemerintah Kelurahan Naikolan, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, terus mencari solusi penanganan sampah meski hingga kini belum memiliki tempat pembuangan sementara (TPS).

Salah satu langkah yang dilakukan adalah menggandeng sejumlah sekolah untuk memilah sampah sekaligus mengaktifkan kembali fasilitas pengelolaan sampah di kawasan Gunung Sinae.

Lurah Naikolan, Redem Hardi, mengatakan selama ini masyarakat memanfaatkan layanan truk pengangkut sampah yang rutin berkeliling setiap minggu hingga masuk ke gang-gang permukiman.

Warga cukup menyiapkan sampah di depan rumah masing-masing untuk kemudian diangkut petugas dengan memberikan kontribusi biaya pengangkutan.

“Karena Naikolan tidak ada tempat pembuangan sampah, masyarakat bekerja sama dengan Dinas Kebersihan. Sampah tetap di depan rumah masing-masing, kemudian mobil yang angkut,” jelas Redem pada Kamis (10/9/2026).

Selain layanan pengangkutan, pemerintah kelurahan berupaya mengaktifkan kembali fasilitas pengelolaan sampah di kawasan Gunung Sinae yang merupakan hasil kerja sama dua gereja.

Menurut Redem, fasilitas tersebut sudah lama tidak beroperasi secara optimal karena belum memiliki kepengurusan resmi.

Ia bersama LPM, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Karang Taruna, pegawai kelurahan, dan mahasiswa KKN telah meninjau lokasi sekaligus berdiskusi mengenai langkah pengaktifannya.

“Saya berinisiatif bahwa di masa saya ini, saya akan buatkan SK pengurus untuk bak sampah Gunung Sinae ini,” ujarnya.

Untuk mendukung pengelolaan sampah, Pemerintah Kelurahan Naikolan juga membangun kerja sama dengan sejumlah sekolah agar melakukan pemilahan sampah plastik sejak dari lingkungan pendidikan.

Sejumlah sekolah yang telah menyatakan kesiapan bekerja sama antara lain SD Oepura 1, SD Oepura 2, SD Naikoten, dan SMP Negeri 3.

“Saya janji untuk keliling di sekolah-sekolah. Saya bangun kerja sama, di mana sekolah memilah sampah plastik, ditampung, nanti yang jemput itu pengurus bak sampah,” kata Redem.

Sampah yang telah dipilah akan dikumpulkan di sekolah. Setelah jumlahnya mencukupi, pihak sekolah dapat menghubungi kelurahan atau pengurus untuk melakukan pengangkutan.

Pemerintah kelurahan juga menyiapkan motor sampah untuk mendukung pengangkutan apabila pengurus belum memiliki kendaraan sendiri.

Selain melibatkan sekolah, pemerintah kelurahan bersama LPM, Karang Taruna, dan masyarakat terus mendorong kegiatan kerja bakti di setiap RW.

Redem berharap kolaborasi tersebut mampu meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih teratur dan berkelanjutan di Kelurahan Naikolan. (MI)




Lurah Kolhua Dorong Pembentukan Bank Sampah, Warga Mulai Pilah Sampah dari Rumah

Kupang, nwartapedia.com  —  Pemerintah Kelurahan Kolhua, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, terus mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui pemilahan sampah dari rumah dan pembentukan unit bank sampah.

Lurah Kolhua, Yanti Marista Benu, S.Th, mengatakan program tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya penataan lingkungan di wilayah Kelurahan Kolhua.

Menurutnya, saat ini pelayanan pengangkutan sampah di Kelurahan Kolhua dilakukan oleh dua petugas menggunakan kendaraan roda tiga pengangkut sampah.

Sampah yang dikumpulkan dari warga kemudian dibawa ke tempat pembuangan sementara (TPS). Selanjutnya, sampah di TPS diangkut menggunakan kontainer dan armada dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Kupang untuk dibawa ke tempat pemrosesan akhir (TPA).

“Biasanya dalam waktu satu atau dua hari sampah sudah diangkut dan dibawa ke TPA,” ujar Yanti kepada media ini, Rabu (9/9/2026).

Ia menjelaskan, sebelum dirinya menjabat sebagai lurah, warga Kelurahan Kolhua telah memiliki kesepakatan terkait iuran sampah sebesar Rp15 ribu.

Selain pelayanan pengangkutan, Kelurahan Kolhua kini mulai memperkuat upaya pengurangan sampah melalui pembentukan unit bank sampah.

Yanti mengatakan, rencana pembentukan bank sampah tersebut telah dibahas dalam musyawarah kelurahan dan akan dilakukan melalui kolaborasi dengan Kelurahan Belo, mengingat salah satu lokasi yang menjadi perhatian berada di wilayah Kelurahan Belo.

“Kami sudah turun ke lokasi sebanyak dua kali. Pada kunjungan kedua, warga sudah melakukan pemilahan sampah dan siap untuk ditimbang,” jelasnya.

Pihak Kelurahan Kolhua juga telah berkoordinasi dengan Bank Sampah Induk Mutiara Timur untuk mendukung proses pemilahan dan pengelolaan sampah di tingkat masyarakat.

Menurut Yanti, selama ini petugas di TPS juga telah melakukan pemilahan terhadap sampah yang masuk. Sampah yang masih memiliki nilai guna dipisahkan dan disimpan, sedangkan sampah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali baru dibuang ke dalam kontainer.

“Ketika sampah datang, langsung dipilah dan yang masih bisa dimanfaatkan disimpan. Jadi yang masuk ke kontainer adalah sampah yang sudah tidak bisa digunakan lagi,” katanya.

Yanti menambahkan, terdapat dua lokasi yang akan menjadi bagian dari kolaborasi Kelurahan Kolhua dan Kelurahan Belo, yakni satu lokasi di Kelurahan Belo dan satu lokasi di wilayah Kelurahan Kolhua.

Kelurahan Kolhua juga telah menyampaikan rencana tersebut kepada RT/RW dan akan mengundang Bank Sampah Induk Mutiara Timur untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat.

“Kami berharap tidak ada halangan sehingga program ini bisa berjalan. Warga yang sudah melakukan pemilahan juga sudah masuk dalam binaan Bank Sampah Induk Mutiara Timur di Maulafa,” ujarnya.

Program tersebut, lanjut Yanti, menjadi bagian dari 90 hari kerja Lurah Kolhua dalam mendorong penataan dan pengelolaan lingkungan.

Untuk fasilitas persampahan, Kelurahan Kolhua saat ini memiliki satu TPS. Selain itu, terdapat TPS di kawasan Perumahan Lopo Indah yang dilengkapi kontainer.

Yanti mengakui, lokasi tersebut tidak hanya dimanfaatkan oleh warga Kelurahan Kolhua, tetapi juga menjadi tempat pembuangan sampah dari wilayah kelurahan lain.

“Kalau sudah menumpuk, kami langsung menghubungi DLHK untuk datang mengangkut,” katanya.

Karena lokasi TPS tersebut berada di wilayah Kelurahan Belo, Yanti menegaskan pentingnya kolaborasi kedua kelurahan dalam menangani persoalan sampah.

Pihaknya juga telah meminta ruang untuk dimanfaatkan sebagai lokasi pemilahan sampah dan telah mendapatkan titik terang terkait lokasi tersebut.

Dengan pembentukan bank sampah dan pemilahan dari sumber, Kelurahan Kolhua berharap volume sampah yang dibuang ke kontainer dan dibawa ke TPA dapat ditekan, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan. (MI)




Dari Taman Nostalgia Kupang, PSI NTT Kirim Doa dan Dukungan untuk Korban Bencana Flores

Kupang, nwartapedia.com  — Kepedulian terhadap warga yang masih menghadapi dampak bencana di Flores ditunjukkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui doa bersama dan aksi solidaritas.

Kegiatan yang berlangsung di Taman Nostalgia, Kota Kupang, Selasa (8/9/2026) malam, menjadi ruang bagi jajaran PSI NTT untuk menyampaikan dukungan moril kepada masyarakat yang terdampak gempa dan erupsi.

Suasana kegiatan diawali dengan penyalaan lilin. Setelah itu, peserta mengikuti doa lintas agama untuk keselamatan masyarakat serta berharap kondisi di wilayah terdampak segera kembali normal.

Sekretaris DPW PSI NTT sekaligus Ketua Fraksi PSI DPRD Provinsi NTT, Junaidin Mahasan, mengatakan kegiatan ini menjadi bentuk kepedulian PSI terhadap masyarakat Flores yang hingga kini masih merasakan dampak bencana.

Ia mengatakan, seluruh jajaran PSI NTT, mulai dari DPW hingga pengurus di tingkat daerah dan ranting, ikut mengambil bagian dalam kegiatan tersebut.

“Kami berkumpul malam ini untuk mendoakan saudara-saudara kita yang terkena bencana. Semoga mereka yang berada di pengungsian diberikan kekuatan dan bencana yang terjadi segera berakhir,” kata Junaidin.

Junaidin menjelaskan, kepedulian PSI tidak hanya dilakukan melalui doa. Sejak bencana terjadi pada 15 Agustus 2026, pengurus PSI NTT telah turun langsung ke sejumlah wilayah terdampak.

Menurutnya, pengurus DPW mulai bergerak pada 16 Agustus, kemudian pada 17 Agustus mendapat dukungan dari jajaran DPP PSI.

Tim kemudian melakukan kegiatan kemanusiaan di sejumlah wilayah, termasuk Labuan Bajo, Manggarai Barat hingga Maumere.

Selain masyarakat terdampak, PSI juga memberikan perhatian kepada mahasiswa asal daerah bencana yang saat ini berada di Kota Kupang.

“Kami juga memberikan bantuan kepada mahasiswa yang daerah asalnya ikut terdampak. Kami memahami bahwa kondisi orang tua mereka mungkin belum memungkinkan untuk mengirim biaya hidup seperti biasanya,” jelasnya.

Junaidin memastikan pendataan terhadap mahasiswa terdampak masih akan dilakukan sehingga bantuan dapat diberikan sesuai kebutuhan dan kemampuan.

Pengurus DPW PSI NTT, Martha Kolo, mengatakan doa bersama tersebut merupakan bentuk nyata kepedulian sosial sekaligus dukungan psikologis bagi masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit.

Menurut Martha, masyarakat terdampak bencana membutuhkan perhatian dari berbagai pihak, bukan hanya dalam bentuk bantuan kebutuhan dasar, tetapi juga dukungan moral.

“Ketika saudara-saudara kita sedang mengalami musibah, yang paling penting adalah mereka tahu bahwa masih banyak orang yang peduli dan berdiri bersama mereka,” ujar Martha.

Ia mengatakan, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk mengajak masyarakat Kota Kupang memperkuat rasa kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama.

Martha menambahkan PSI NTT akan terus berupaya mengambil bagian dalam aksi kemanusiaan sesuai kemampuan organisasi.

“Bencana adalah persoalan kemanusiaan. Karena itu, kepedulian juga harus menjadi tanggung jawab bersama. Kami berharap semangat solidaritas ini terus hidup dan tidak berhenti setelah kegiatan malam ini,” katanya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Kupang Aurum Obe Titu Eki, sejumlah anggota DPRD Provinsi NTT dan DPRD Kota Kupang, serta jajaran pengurus PSI NTT, PSI Kabupaten Kupang dan PSI Kota Kupang. (MI)




Road Map dan Satgas Sampah Berhasil Tekan Penumpukan dari Produksi 241,4 Ton per Hari

Kupang, nwartapedia.com  – Produksi sampah di Kota Kupang terus mengalami peningkatan hingga mencapai 241,4 ton per hari pada 2026. Meski demikian, penumpukan sampah di wilayah kota dinilai dapat ditekan melalui berbagai kebijakan yang telah diterapkan Wali Kota Kupang.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah B3 (PSLB3) DLHK Kota Kupang, Meksy Pingak, mengatakan salah satu langkah penting yang dilakukan Pemerintah Kota Kupang adalah menetapkan Road Map Pengelolaan Sampah sebagai arah penanganan sampah di daerah. 

Selain Road Map, Wali Kota Kupang juga telah membentuk Satgas Pengelolaan Sampah mulai dari tingkat kelurahan, kecamatan hingga kota.

Satgas tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat pelayanan dan pengawasan pengelolaan sampah di lapangan.

Meksy mengatakan, peningkatan produksi sampah memang terjadi setiap tahun. Pada 2024, timbulan sampah tercatat 233,3 ton per hari, kemudian meningkat menjadi 237,4 ton per hari pada 2025, dan mencapai 241,4 ton per hari pada 2026.

Namun, peningkatan produksi tersebut tidak sepenuhnya berdampak pada penumpukan sampah karena sistem pengelolaan dan pengangkutan terus dibenahi.

“Adanya Satgas Sampah yang dicanangkan oleh Wali Kota Kupang menjadi kunci utama mengapa armada kebersihan tetap mampu melayani masyarakat dengan maksimal dan mengangkut sampah tepat waktu, meskipun volume produksi sampah di kota terus meningkat,” ujar Meksy kepada media ini, Selasa (8/9/2026).

Menurutnya, kerja Satgas bersama petugas kebersihan membuat sistem pengangkutan sampah di Kota Kupang menjadi lebih teratur dan disiplin.

Pemkot Kupang juga melakukan pengaturan kembali shift pengangkutan untuk menyesuaikan pelayanan dengan volume sampah yang dihasilkan masyarakat.

Di sisi lain, pengurangan penumpukan sampah turut didukung semakin meningkatnya kegiatan pendauran ulang. Upaya tersebut melibatkan Bank Sampah Induk Mutiara Timor, TPST/TPS 3R serta para pengepul.

Pemerintah Kota Kupang juga telah membangun dua TPST/TPS 3R, masing-masing di Kecamatan Oebobo dan Kecamatan Kota Lama.

Kehadiran fasilitas ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pengelolaan sampah melalui pemilahan dan pengolahan sejak dari sumber.

Meksy menegaskan, kebijakan pemerintah perlu diikuti kesadaran masyarakat untuk mengurangi sampah.

DLHK mengimbau warga, pelaku usaha, pegawai, sekolah hingga perguruan tinggi menerapkan prinsip reduce atau mengurangi sampah sejak dari sumber.

“Langkah sederhana seperti mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai, membawa tumbler dan menyediakan dispenser di kantor maupun tempat usaha dinilai dapat membantu menekan jumlah sampah yang dihasilkan,”tambahnya.

Dengan Road Map Pengelolaan Sampah yang ditetapkan Wali Kota Kupang, pembentukan Satgas di berbagai tingkatan, penataan shift pengangkutan, peningkatan daur ulang dan pembangunan TPST/TPS 3R, pemerintah berupaya menjaga pelayanan kebersihan tetap maksimal meskipun produksi sampah telah mencapai 241,4 ton per hari. (MI)




Sekda Kupang Jeffry Pelt: Festival Budaya LLBK Jadi Ruang Rawat Keberagaman

Kupang, nwartapedia.com  – Semangat keberagaman kembali terasa di kawasan Pantai Kopan, Kelurahan Lai-Lai Bisi Kopan (LLBK), Kota Kupang. Melalui Festival Pecinan Event Budaya Multietnis, masyarakat diajak menjadikan budaya sebagai kekuatan untuk mempererat kebersamaan.

Festival bertema “Merajut Budaya dalam Harmoni” itu resmi dibuka Sekretaris Daerah Kota Kupang Jeffry Edward Pelt, S.H., Jumat (4/9/2026).

Selama dua hari, Pantai Kopan dipenuhi berbagai pertunjukan seni, tradisi dan kreativitas masyarakat. Festival ini sekaligus menjadi upaya menghidupkan kembali kawasan Kota Tua sebagai ruang budaya dan interaksi masyarakat.

Jeffry mengatakan keberagaman etnis yang ada di Kota Kupang merupakan kekuatan yang harus terus dirawat.

Perbedaan, menurutnya, bukan alasan untuk terpisah, tetapi dapat menjadi kekuatan ketika dibangun dalam semangat saling menghargai.

“Kita merawat perbedaan agar tetap bisa hidup berdampingan dalam harmoni,” tegasnya.

Ia juga mendorong agar kawasan Kota Tua tidak hanya menjadi ruang bersejarah, tetapi dikembangkan sebagai kawasan yang menggabungkan budaya, pariwisata dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Menurut Jeffry, keterlibatan masyarakat menjadi penting agar pengembangan kawasan tersebut turut memberikan manfaat bagi pelaku UMKM dan ekonomi kreatif.

Ketua Panitia Festival, Antoni Niti Susanto, mengatakan LLBK memiliki nilai sejarah dalam perjalanan Kota Kupang. Kawasan tersebut menjadi bagian dari perjumpaan berbagai komunitas dan budaya, termasuk masyarakat Helong, Portugis, Belanda, Tionghoa dan Arab.

“Festival ini diharapkan menjadi ruang untuk melestarikan budaya lokal sekaligus menarik wisatawan dan menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujar Antoni.

Festival juga diwarnai aksi kepedulian terhadap korban gempa Flores. Panitia dan para tamu undangan menggelar hening cipta sebagai bentuk simpati kepada masyarakat yang terdampak bencana.

Kepedulian tersebut menjadi bagian dari pesan festival bahwa kegembiraan dalam merayakan budaya tetap harus berjalan bersama solidaritas kemanusiaan.

Beragam kegiatan turut memeriahkan festival, mulai dari karnaval budaya multietnis, Natoni, Barongsai, tari tradisional, stand-up comedy, konser musik, fashion show anak-anak, pentas seni, pembacaan puisi hingga tari Tobe bersama.

Festival Pecinan LLBK diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi berkembang menjadi ruang yang memperkuat identitas budaya, memperkenalkan sejarah Kota Tua serta membuka peluang ekonomi bagi masyarakat Kota Kupang. *




Promo Kemerdekaan Perumda Air Minum Kota Kupang Diminati, 104 Warga Daftar Sambungan Baru

Kupang, nwartapedia.com — Program Promo Kemerdekaan Perumda Air Minum Kota Kupang mendapat respons positif dari masyarakat. Sebanyak 104 calon pelanggan tercatat telah mendaftar, membayar biaya RAB dan siap mengikuti proses pemasangan sambungan rumah (SR) baru.

Promo tersebut merupakan program khusus dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Sebelumnya, biaya pemasangan sambungan baru yang normalnya Rp2,5 juta diberikan potongan menjadi Rp1,5 juta selama masa promo.

Direktur Perumda Air Minum Kota Kupang, Isidorus Lilijawa, S.Fil, mengapresiasi antusiasme masyarakat yang memanfaatkan kesempatan tersebut.

Menurut Isidorus, jumlah calon pelanggan yang mendaftar menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap akses layanan air bersih masih cukup tinggi.

“Dari 104 yang mendaftar, membayar RAB-nya dan siap dipasang. Ini sebuah respons minat yang luar biasa,” ujar Isidorus kepada media ini, Senin (7/9/2026).

Ia menilai respons tersebut menjadi sinyal positif bagi Perumda Air Minum Kota Kupang untuk terus meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Isidorus mengatakan, pihaknya akan menindaklanjuti proses pemasangan secara teknis sehingga calon pelanggan yang telah memenuhi persyaratan dapat segera mendapatkan layanan sesuai tahapan yang berlaku.

Ia juga mengajak masyarakat yang belum sempat mengikuti program Promo Kemerdekaan untuk terus mengikuti informasi melalui kanal resmi Perumda Air Minum Kota Kupang.

“Untuk keluarga yang belum mendapatkan kesempatan ini, selalu pantau kanal media kami. Nanti kita akan memunculkan lagi promo-promo seperti ini,” katanya.

Menurutnya, program serupa ke depan diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi masyarakat melalui skema pemasangan yang lebih ringan dan tidak terlalu membebani calon pelanggan.

Sementara itu, Kepala Bagian Hubungan Pelanggan Perumda Air Minum Kota Kupang, Ferdy Jermias, mengatakan tingginya minat masyarakat terhadap promo sambungan baru menunjukkan kepercayaan pelanggan terhadap Perumda mulai semakin baik.

“Biaya pemasangan SR yang diberikan diskon pada bulan Agustus menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat kepada Perumda Air Minum Kota Kupang dalam memenuhi kebutuhan air bersih saat ini semakin membaik,” ujar Ferdy.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi kebanggaan sekaligus tantangan bagi Perumda untuk mempertahankan dan terus meningkatkan kualitas pelayanan.

Ferdy juga berharap dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun lembaga swasta, semakin diperkuat sehingga upaya peningkatan kualitas pelayanan air bersih di Kota Kupang dapat berjalan lebih maksimal.

“Dengan tingkat kepercayaan dari masyarakat seperti ini, kami berharap dukungan dari stakeholder eksternal lainnya seperti pemerintah maupun lembaga swasta juga dapat diberikan kepada Perumda Air Minum Kota Kupang,” katanya.

Perumda Air Minum Kota Kupang pun berkomitmen menjadikan respons positif masyarakat tersebut sebagai dorongan untuk terus berbenah, memperluas akses pelayanan, serta menghadirkan program yang memberikan kemudahan bagi masyarakat Kota Kupang. (MI)




DLHK Kota Kupang Dorong Warga Pilah Sampah dari Rumah, Manfaatkan Bank Sampah

Kupang, nwartapedia.com  – Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup (DLHK) Kota Kupang terus mendorong masyarakat untuk mengambil peran dalam mengatasi persoalan sampah, terutama dengan membiasakan memilah sampah dari rumah.

Kepala Bagian Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 (PSLB3) DLHK Kota Kupang, Meksy S. Pingak, mengatakan keterlibatan masyarakat menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan pengelolaan sampah di Kota Kupang.

Kepada media ini, Senin (7/9/2026), Meksy menyampaikan bahwa saat ini sampah yang terkelola di Kota Kupang baru mencapai 33,26 persen.

Salah satu kendala yang masih dihadapi adalah rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumber. Saat ini, baru sekitar 20 persen masyarakat yang secara rutin melakukan pemilahan sampah dari rumah.

Untuk meningkatkan kesadaran warga, DLHK Kota Kupang mendorong penguatan pengawasan oleh Satgas Kelurahan. Selain itu, edukasi kepada masyarakat terus dilakukan melalui pertemuan tatap muka maupun media.

Dorong Pemanfaatan Bank Sampah
Khusus sampah plastik, masyarakat yang menghasilkan sampah tersebut diedukasi agar tidak langsung membuangnya, tetapi membawa ke Bank Sampah untuk dikelola lebih lanjut.

Sementara untuk limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), pelaku usaha didorong bekerja sama dengan pihak ketiga yang memiliki kemampuan dalam pengelolaan limbah B3.

Meksy mengatakan, target pengelolaan sampah Kota Kupang pada 2026 adalah meningkatkan jumlah sampah yang berhasil dikelola.

Karena itu, masyarakat diharapkan ikut berperan mulai dari lingkungan rumah tangga.

“Pilah sampah dari rumah masing-masing. Sampah yang bisa didaur ulang atau digunakan kembali dibawa ke Bank Sampah, pengepul dan fasilitas pengelolaan sampah lainnya,” imbaunya.

Menurutnya, kebiasaan memilah sampah dari rumah tidak hanya membantu mengurangi timbulan sampah, tetapi juga membuka peluang agar sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dimanfaatkan kembali. (MI)




Pemkot Kupang Ubah Pola Kelola Sampah, Pemilahan dari Rumah Jadi Prioritas

Kupang, nwartapedia.com  – Pemerintah Kota Kupang mulai mendorong perubahan besar dalam cara masyarakat menangani sampah.

Jika selama ini persoalan sampah lebih banyak berakhir pada proses pengangkutan dan pembuangan ke tempat pembuangan akhir, kini perhatian mulai digeser ke tingkat rumah tangga.

Melalui Gerakan “Satu Bina Satu”, Pemkot Kupang ingin membangun kebiasaan baru agar masyarakat memilah sampah sejak dari sumbernya.

Gerakan dengan pesan “Sampahmu, Tanggung Jawabmu” tersebut diperkenalkan dalam Rapat Koordinasi Pengelolaan Sampah Lingkup Kota Kupang yang berlangsung di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Kupang, Kamis (3/9/2026).

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Kota Kupang, Ignasius Repelita Lega, mengatakan persoalan sampah tidak bisa lagi hanya dibebankan kepada pemerintah.

Menurutnya, kondisi TPA Alak menjadi salah satu alasan penting mengapa pola pengelolaan sampah harus segera dibenahi. Sampah perlu dikurangi dan dipilah sebelum masuk ke sistem pengangkutan.

“Jangan menunggu sampah menjadi masalah. Pengelolaan sampah harus dimulai sejak dari sumbernya,” kata Ignasius.

Ia mengatakan, Gerakan “Satu Bina Satu” sebelumnya telah diuji coba di Kecamatan Oebobo. Hasil dari pelaksanaan tersebut akan menjadi bahan evaluasi sebelum gerakan diperluas ke wilayah lain di Kota Kupang.

Pemkot Kupang, kata dia, tidak ingin program tersebut hanya menjadi kegiatan seremonial. Ukuran keberhasilannya harus terlihat dari perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah sehari-hari.

Karena itu, rumah tangga, lingkungan, perkantoran maupun lembaga lainnya didorong mulai memisahkan sampah organik dan anorganik sejak awal.

Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Wilayah Bali dan Nusa Tenggara, Ni Nyoman Santi, menyebut masih terdapat pekerjaan besar yang harus dilakukan Kota Kupang.

Capaian pengelolaan sampah Kota Kupang saat ini berada di kisaran 33,5 persen, sedangkan target nasional pada 2026 mencapai 63,4 persen.

Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, penanganan sampah tidak cukup dilakukan di TPA. Pembenahan harus dilakukan mulai dari hulu hingga hilir.

Di tingkat hilir, perhatian diarahkan pada pembenahan TPA Alak, termasuk upaya perubahan sistem dari open dumping menuju controlled landfill.

Pada bagian tengah, sejumlah fasilitas pengelolaan sampah seperti MRF, TPST, TPS3R dan bank sampah perlu kembali dioptimalkan.

Sementara pada bagian hulu, pemilahan dari sumber menjadi kunci melalui Gerakan “Satu Bina Satu.”

Dengan pola tersebut, volume sampah yang masuk ke TPA diharapkan dapat ditekan. Sampah yang masih memiliki nilai guna juga dapat dipisahkan untuk diolah atau dimanfaatkan kembali.

Rapat koordinasi tersebut turut dihadiri jajaran DLHK Kota Kupang, camat dan lurah se-Kota Kupang, perwakilan lembaga keagamaan, instansi vertikal, UPT kementerian serta pengelola fasilitas pengelolaan sampah.

Kegiatan diawali dengan penyerahan bantuan alat pelindung diri (APD) dari Pusdal LH Bali dan Nusa Tenggara kepada Bank Sampah Muara Abu, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dan diskusi mengenai penguatan pengelolaan sampah di Kota Kupang. (MI)




71 Rumah di Bumi Fatukoa Indah Segera Nikmati Layanan Air Perumda Kota Kupang

Kupang, nwartapedia.com – Sebanyak 71 sambungan rumah di Perumahan Bumi Fatukoa Indah segera mendapatkan pelayanan air bersih melalui jaringan perpipaan Perumda Air Minum Kota Kupang.

Kesiapan pelayanan tersebut ditandai dengan pemeriksaan teknis yang dilakukan tim Perumda Air Minum Kota Kupang bersama tim teknis PT Gabriel Bangun Jaya pada Jumat, 4 September 2026.

Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan kesiapan sumber air, sumur bor, kelistrikan, jaringan distribusi hingga sambungan rumah sebelum pelayanan berjalan secara penuh.

Kepala Bagian Hubungan Pelanggan Perumda Air Minum Kota Kupang, Ferdy Jermias, mengatakan hasil pemeriksaan menemukan beberapa hal teknis yang masih perlu dibenahi.

“Masih ada beberapa hal kecil yang perlu dibenahi sebelum operasionalisasi dilakukan secara penuh, sehingga pelayanan nantinya dapat berjalan maksimal,” ujar Ferdy.

Saat ini, kebutuhan air bersih warga masih dipenuhi menggunakan armada tangki. Namun, Perumda menargetkan kendala teknis segera diselesaikan agar pelayanan dapat dialihkan melalui jaringan perpipaan.

Direktur Perumda Air Minum Kota Kupang, Isidorus Lilijawa, S.Fil, menyampaikan apresiasi kepada PT Gabriel Bangun Jaya yang telah memberikan kepercayaan kepada Perumda untuk mengelola pelayanan air bersih di kawasan tersebut.

Menurut Isidorus, kepercayaan pengembang menjadi tanggung jawab sekaligus motivasi bagi Perumda untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan.

“Kepercayaan ini menjadi penyemangat bagi kami untuk melakukan pelayanan yang semakin profesional dan terus berinovasi,” katanya.

Isidorus juga mengajak pengembang perumahan lainnya di Kota Kupang untuk berkolaborasi dengan Perumda dalam menyediakan layanan air bersih bagi masyarakat.

Sementara itu, Direktur PT Gabriel Bangun Jaya, Maya Leonora Wila Tiro, berharap pengelolaan sumber air di Bumi Fatukoa Indah dapat dilakukan secara optimal.

Ia menyebutkan, debit sumber air di kawasan tersebut cukup besar sehingga diharapkan mampu mendukung pemenuhan kebutuhan air bersih warga.

Dengan adanya pengelolaan oleh Perumda Air Minum Kota Kupang, pelayanan air bersih di Bumi Fatukoa Indah diharapkan menjadi lebih teratur, profesional dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah, Perumda dan pihak pengembang. (MI)