Menteri Wihaji Kunjungi Keluarga Berisiko Stunting di Sikumana, Kota Kupang

 

Kupang,nwartapedia.com — Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) sekaligus Kepala BKKBN RI, Dr. Wihaji, S.Ag., M.Pd., bersama Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena, mengunjungi keluarga berisiko stunting di Kelurahan Sikumana, Kota Kupang, pada Selasa (24/6/2025).

Turut mendampingi dalam kunjungan ini Wakil Wali Kota Kupang Serena C. Francis, S.Sos., M.Sc., Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT Drg. Iien Adriany, M.Kes., dan Penjabat Sekda Kota Kupang Ignasius R. Lega, S.H.

Kunjungan dilakukan secara mendadak menyusul batalnya agenda kunjungan kerja Menteri Wihaji ke Kabupaten Lembata dan Flores Timur akibat erupsi Gunung Ile Lewotolok. Abu vulkanik dari erupsi tersebut mengganggu penerbangan dan memaksa Menteri dan rombongan mengalihkan kegiatan ke Kota Kupang.

“Ini kunjungan mendadak karena dari Rote saya sebenarnya dijadwalkan ke Lembata. Tapi karena erupsi dan abu vulkanik, tidak bisa mendarat, baik di Lembata maupun Larantuka. Jadi kami berinisiatif mengunjungi keluarga berisiko stunting di Kota Kupang,” ujar Menteri Wihaji.

Menteri Wihaji bersama rombongan mengunjungi rumah keluarga Jeni Humsibu, warga Kelurahan Sikumana, yang anaknya mengalami stunting. Ia menegaskan pentingnya intervensi nyata dan edukasi berkelanjutan terhadap keluarga berisiko stunting.

“Setelah saya cek, secara fakta anak tersebut memang mengalami ketidakseimbangan antara tinggi badan, berat badan, dan usia. Ini menjadi perhatian kita semua. Edukasi mengenai pencegahan stunting harus terus digencarkan,” tambahnya.

Menteri juga menyampaikan bahwa meskipun angka stunting di NTT masih tinggi, sinergitas antara pemerintah pusat dan daerah diyakini mampu menurunkan prevalensi kasus.

Gubernur NTT, Melki Laka Lena, dalam kesempatan yang sama menyampaikan apresiasinya atas perhatian Mendukbangga terhadap persoalan stunting di NTT.

“Terima kasih atas kunjungan Pak Menteri. Kemarin beliau sudah ke Rote, dan hari ini secara mendadak hadir di Kota Kupang. Ini membuktikan bahwa penanganan stunting memang menjadi prioritas,” kata Gubernur Melki.

Ia menegaskan bahwa setelah kunjungan ini, pihaknya bersama seluruh kepala daerah di NTT akan memperkuat sinergi untuk menindaklanjuti catatan-catatan dari Menteri Wihaji.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Kupang, Serena C. Francis juga menyampaikan terima kasih dan harapannya agar kerja sama antara pemerintah daerah dan pusat terus terjalin erat.

“Kota Kupang patut bersyukur karena angka stunting terus menurun setiap tahun. Namun tentu kami tetap butuh penguatan, baik dari segi monitoring, evaluasi, maupun edukasi. Kami berharap bantuan dan perhatian dari pusat terus berlanjut,” ujarnya.

Dalam kunjungan tersebut, Menteri Wihaji juga menyerahkan bantuan berupa paket sembako kepada keluarga berisiko stunting sebagai bentuk perhatian dan dukungan langsung dari pemerintah.

Kunjungan ini menandai komitmen kuat pemerintah dalam menekan angka stunting secara nasional, khususnya di wilayah-wilayah dengan tingkat prevalensi tinggi seperti NTT. ***




TNI Dukung Pelestarian Situs Sejarah Benteng Concordia di Fatufeto

 

Kupang,nwartapedia.com  – Tentara Nasional Indonesia (TNI) menyatakan dukungannya terhadap upaya Pemerintah Kota Kupang dalam menjaga dan melestarikan situs bersejarah Benteng Concordia yang terletak di dalam kompleks TNI AD Kompi Senapan A Yonif 743/PSY, Kelurahan Fatufeto, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Sertu Ady Irawan, Batih (Bintara Pelatih) Kompi A Yonif 743/PSY Kupang, menyampaikan hal tersebut saat menyaksikan secara langsung pemasangan tanda pengenal situs budaya oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang di lokasi benteng, Selasa (24/6).

“Benteng Concordia merupakan bagian dari cerita sejarah peninggalan penjajahan, khususnya pada masa Perang Dunia di Indonesia dan juga di Kota Kupang. Karena itu, kami dari TNI, atas nama pimpinan Komandan Batalyon Letkol Inf Hery Mujiono, mendukung penuh langkah Pemerintah Kota Kupang dalam menjaga keberadaan situs ini,” ujar Sertu Ady Irawan kepada media.

Ia menegaskan bahwa TNI akan selalu siap mendukung pemerintah dalam pelestarian aset sejarah yang ada di wilayahnya. Menurutnya, situs seperti Benteng Concordia adalah saksi bisu perjuangan masa lampau yang patut dihargai dan dikenalkan kepada generasi muda.

“Kami juga berharap generasi muda bisa lebih mengenal sejarah perjuangan dan penjajahan melalui situs-situs seperti ini, sehingga rasa nasionalisme mereka terus tumbuh,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Drs. Dumuliahi Djami, secara terpisah di kantornya pada hari yang sama menjelaskan bahwa pihaknya melalui Bidang Kebudayaan sejak beberapa hari terakhir sedang melakukan penancapan papan tanda pengenal di sedikitnya 12 (dua belas) unit situs budaya yang tersebar di beberapa wilayah di Kota Kupang.

Ia menambahkan bahwa seluruh situs tersebut telah mendapatkan Surat Keputusan (SK) Wali Kota Kupang sebagai Situs Budaya yang perlu dilindungi dan dijaga keberadaannya sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

“Langkah ini merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Kota Kupang dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya lokal agar tidak punah oleh waktu dan pembangunan,” kata Dumuliahi.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk instansi TNI, tokoh adat, tokoh agama, dan kaum muda, untuk turut serta menjaga dan merawat situs budaya yang ada sebagai bagian dari identitas sejarah Kota Kupang.(goe Betekeneng)




Menteri Wihaji Luncurkan Gerakan Nasional Percepatan Penurunan Stunting dari Ujung Selatan Indonesia

 

Rote Ndao,nwartapedia.com  — Langit cerah mengiringi langkah Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN RI, Dr. Wihaji, saat menginjakkan kaki di Lapangan Bola Kaki Christian Dillak, Ba’a – Kabupaten Rote Ndao, dalam rangka membuka Puncak Pelayanan KB Serentak sekaligus meresmikan Rencana Aksi Konsorsium Perguruan Tinggi untuk NTT, Senin (23/6).

Kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-32, sekaligus menjadi tonggak penting dimulainya gerakan kolaboratif pentahelix untuk menurunkan angka stunting dan kemiskinan ekstrem di tanah air  dimulai dari provinsi kepulauan paling selatan Indonesia.

Turut mendampingi Menteri Wihaji, Pembina Dharma Wanita Persatuan Kemendukbangga/BKKBN RI Uni Wihaji, Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma, Bupati Rote Ndao Paulus Henuk, Wakil Bupati Apremoi D. Dethan, serta para pejabat tinggi pusat dan daerah lainnya.

Dalam sambutannya, Menteri Wihaji menegaskan dua tugas pokok yang diembannya sesuai amanat Presiden: pelayanan kependudukan dan pembangunan keluarga. Ia menyoroti pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai fase emas dalam pencegahan stunting.

“Kalau kita terlambat, dampaknya bisa permanen. IQ anak menurun, hanya 20 persen yang bisa diselamatkan setelah lewat 1000 HPK. Karena itu, negara harus hadir sejak dini, mendampingi ibu hamil, calon pengantin, hingga keluarga risiko stunting,” ujar Wihaji penuh penekanan.

Ia menyebut NTT sebagai provinsi yang strategis untuk menjadi model nasional percepatan penurunan stunting. Kolaborasi lintas sektor — dari pemerintah daerah, perguruan tinggi, swasta, hingga organisasi kemasyarakatan — terus diperkuat.

“Stunting ini musuh bersama. Kita harus keroyok bersama. Bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab seluruh bangsa,” tambahnya.

Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk, dalam laporannya mengungkapkan bahwa 8.110 dari 19.890 keluarga yang diverifikasi tahun 2024 masuk dalam kategori Keluarga Risiko Stunting (KRS).

Sementara itu, data Mei 2025 mencatat 1.843 balita stunting, atau 16,6 persen dari total balita. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan angka provinsi yang tercatat 32,4 persen (SSGI 2024), namun tetap lebih tinggi dari rata-rata nasional yang berada di angka 19,8 persen.

Untuk mendukung pencegahan kehamilan berisiko, Pemkab Rote Ndao melaksanakan pelayanan KB serentak di seluruh Puskesmas, menyasar 200 akseptor, termasuk 40 akseptor MKJP di Puskesmas Ba’a.

Henuk juga menyoroti kekurangan tenaga penyuluh KB (PLKB) di daerahnya. Dari 119 desa dan kelurahan, baru terdapat 26 penyuluh aktif. Ia berharap pemerintah pusat menambah formasi untuk memperkuat layanan KB dan pendampingan keluarga.

Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, dalam sambutannya dengan tegas menyatakan bahwa angka stunting di NTT masih tinggi, yaitu 37 persen, meski menurun dari tahun sebelumnya.

“Masih banyak keluarga yang mendahulukan beli rokok, sirih pinang, dan minuman keras daripada makanan bergizi. Ini bukan sekadar masalah ekonomi, tapi budaya konsumsi yang harus diubah melalui edukasi dan teladan,” tandasnya.

Ia menyebut, hanya dengan kampanye gizi yang masif, edukasi berkelanjutan, dan aksi nyata di lapangan, generasi NTT yang sehat dan cerdas dapat terwujud.

Sebagai bentuk penghargaan masyarakat adat Rote, Menteri Wihaji dianugerahi gelar adat “Mane Mana Lopolinu Ume’lo”, yang berarti Pangeran Pelindung Rumah Tangga. Gelar ini menjadi simbol komitmen kuat pemimpin nasional dalam menjaga ketahanan keluarga dari lini paling dasar.

Sebelumnya, Wihaji menegaskan bahwa kunjungannya ke Rote Ndao merupakan balasan atas undangan para kepala daerah NTT ke Jakarta pada Maret 2025 lalu, serta bagian dari strategi besar membangun Indonesia dari pinggiran melalui kolaborasi nyata.

Kegiatan ditutup dengan Pelepasan Kirab Bangga Kencana, serta Kick Off Kolaborasi Multipihak dalam percepatan penanganan stunting dan penghapusan kemiskinan ekstrem.

Berbagai bantuan konkret juga diberikan, di antaranya Bantuan nutrisi dan pengadaan air bersih dari BAZNAS,  Jamban Sehat dari Ikatan Penyuluh KB (IPeKB) Rote Ndao Dan Program GENTING (Gerakan Penurunan Stunting Terintegrasi) dari Bank Mandiri

Acara monumental ini juga dihadiri oleh Wamen Kependudukan Ratu Ayu Isana Bagoes Oka, para bupati dari kabupaten sekitar (secara daring), Deputi BKKBN RI, perwakilan perguruan tinggi, perbankan, dan keluarga risiko stunting.

Dengan semangat kebersamaan, kegiatan ini tak hanya menjadi peringatan Harganas, tapi juga menjadi tonggak awal perubahan besar dari Rote Ndao untuk Indonesia: membangun keluarga sehat, anak-anak kuat, dan masa depan tanpa stunting. ***




Harapan Pelestarian Situs Budaya Eks Pemakaman Belanda di Nunhila

 

Kupang,nwartapedia.com — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang melalui Bidang Kebudayaan melakukan pemasangan papan penanda Situs Budaya di lokasi eks pemakaman penjajahan Belanda yang terletak di Kelurahan Nunhila, Kecamatan Alak, Kota Kupang, pada Senin (23/6).

Kepala Bidang Kebudayaan, Serlin Marlis Tiro, S.STP., MM., dalam kunjungan tersebut mengimbau masyarakat sekitar dan pemerintah kelurahan untuk turut menjaga dan merawat situs bersejarah ini.

Ia menegaskan bahwa keberadaan eks pemakaman Belanda merupakan bagian penting dari memori sejarah Kota Kupang yang harus dihargai dan diwariskan kepada generasi mendatang.

“Ini bukan sekadar bekas makam, tapi juga saksi bisu sejarah kolonial yang pernah ada di wilayah ini. Kita harap ada kesadaran kolektif dari masyarakat untuk turut menjaga dan tidak membiarkan situs ini rusak atau terlupakan,” ujar Serlin.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Seksi Pelayanan Masyarakat Kelurahan Nunhila, Gabriel Apa, menyampaikan bahwa pihak kelurahan sudah mengimbau warga untuk menjaga dan membersihkan area tersebut, meski masih banyak kendala yang dihadapi.

“Kita sudah minta masyarakat untuk kerja bakti secara mandiri menjaga kebersihan lokasi ini. Tapi memang belum maksimal karena belum ada pagar pengaman. Padahal area ini kini juga sudah menjadi lokasi pemakaman umum bagi warga Kelurahan Nunhila, Fatufeto, bahkan dari kelurahan lain,” kata Gabriel.

Gabriel juga menyoroti pentingnya pengelolaan dan pengawasan terhadap lokasi tersebut agar tetap terjaga baik secara fisik maupun nilai historisnya.

Ia berharap ada perhatian lebih dari pemerintah kota untuk segera membangun pagar pengaman di sekitar lokasi eks pemakaman, yang dikenal dengan nama Kerkhof.

“Kami sudah pernah rapat lewat RT agar keluarga yang punya makam di sini bisa merawatnya masing-masing. Tapi pelaksanaannya belum maksimal. Jadi kami usul agar dibuat pagar agar lokasi lebih tertata dan tidak sembarang orang bisa masuk,” tutup Gabriel.

Pemasangan papan situs budaya ini diharapkan menjadi langkah awal menuju pengelolaan yang lebih baik terhadap warisan sejarah di wilayah Kota Kupang, sekaligus mengedukasi masyarakat akan pentingnya pelestarian nilai budaya dan sejarah lokal.(goe)




Pura Oebanata Ditetapkan sebagai Situs Budaya, Pemkot Kupang Pasang Tanda Pengenal

⁹

 

Kupang,nwartapedia.com  — Pemerintah Kota Kupang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan terus menunjukkan komitmennya dalam melestarikan warisan budaya lokal.

Salah satu langkah nyatanya adalah dengan pemasangan tanda pengenal situs budaya di Pura Oebanata, Kelurahan Fatubesi, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang.

Pemasangan tanda pengenal ini menandai pengakuan resmi Pura Oebanata sebagai situs cagar budaya penting di Kota Kupang.

Dikenal sebagai pura Hindu pertama dan tertua di Nusa Tenggara Timur, Pura Oebanata telah berdiri sejak tahun 1961 dan menjadi pusat spiritual serta simbol keberagaman di kota ini.

Tokoh pendiri sekaligus perintis pembangunan pura, Nyoman Ramia, menyambut hangat perhatian yang diberikan pemerintah.

Ia mengingat kembali awal berdirinya tempat ibadah ini, yang dulunya hanya berupa batu dan sering dijadikan tempat memancing.

“Saya sangat senang dengan perhatian dari Pemkot Kupang yang telah memasang tanda pengenal ini. Sudah sepantasnya pura ini dijaga dan dilestarikan karena ini pura tertua di NTT,” tutur Nyoman Ramia.

“Dulu tempat ini hanya batupia, dan saya sering memancing di sini karena tinggal di asrama Brimob yang tidak jauh dari lokasi ini.”tambahnya.

Sementara itu, Lurah Fatubesi Anak Agung G.S.M. Putra menegaskan pentingnya peran serta masyarakat dalam menjaga kelestarian situs budaya tersebut.

Menurutnya, keberadaan pura ini bukan hanya milik satu komunitas, tetapi menjadi bagian dari identitas budaya Kota Kupang.

“Yang paling penting adalah kerja sama dari masyarakat sekitar, RT, RW, LPM, serta umat Hindu sendiri, untuk menjaga kenyamanan dan keaslian tempat ibadah ini. Ini sudah menjadi bagian dari warisan budaya kota,” ujarnya.

Pura Oebanata tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah umat Hindu, tetapi juga menjadi saksi sejarah hidup yang menggambarkan keberagaman budaya dan toleransi antarumat beragama di Kota Kupang.

Dengan adanya penetapan sebagai situs budaya, diharapkan kesadaran kolektif untuk menjaga dan menghargai warisan leluhur semakin kuat di tengah masyarakat. (goe)




Bank Sampah “Lintas” SD Oeba 3 Gandeng Warga dan Kelurahan Fatubesi untuk Edukasi Sampah Sejak Dini

 

Kupang,nwartapedia.com — Kelurahan Fatubesi bersama SD Negeri Oeba 3 dan Bank Sampah Mutiara Timor Maulafa resmi membentuk sebuah program lingkungan bertajuk Lingkungan Nyaman Tanpa Sampah atau disingkat Lintas.

Program ini menempatkan sekolah sebagai pusat edukasi dan penanganan sampah berbasis komunitas.

Program Lintas diluncurkan dengan semangat kolaboratif yang melibatkan siswa, guru, orang tua, warga sekitar, dan pemerintah kelurahan.

Tujuannya adalah membangun kebiasaan memilah dan mengelola sampah sejak usia dini.

Kepala Kelurahan Fatubesi, Anak Agung G.S.M Putra, dalam pertemuan di ruang kerjanya pada Senin (23/6), menjelaskan bahwa SD Negeri Oeba 3 dipilih karena lokasinya yang strategis dan dekat dengan area padat aktivitas, termasuk tempat pemotongan hewan.

“Anak-anak kita ini lebih cepat tanggap. Lewat mereka, kita harapkan kebiasaan memilah dan membawa sampah dari rumah bisa menular ke orang tua dan lingkungan sekitar,” ungkapnya.

Dalam praktiknya, setiap siswa diminta membawa sampah anorganik dari rumah untuk dikumpulkan di sekolah.

Sampah tersebut kemudian ditimbang dan hasilnya dicatat dalam rekening sampah masing-masing anak, guru, atau warga yang tergabung dalam komunitas Bank Sampah Lintas Oeba 3.

Program ini mendapat dukungan penuh dari RT/RW se-Kelurahan Fatubesi dan diharapkan menjadi model edukasi lingkungan yang dapat direplikasi di sekolah lain di Kota Kupang.

Dengan memanfaatkan peran aktif anak-anak dan komunitas, program Lintas berupaya menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. (Goe)




Anak Binaan LPKA Kupang Terima Komuni Pertama di Paroki Kolhua, Jadi Momen Haru dan Bersejarah

 

Kupang,nwartapedia.com  — Suasana haru dan penuh makna menyelimuti Perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus di Paroki Santo Fransiskus dari Assisi, Kolhua, Kota Kupang.

Di antara 108 anak yang menerima Komuni Pertama pada Minggu pagi, satu sosok istimewa turut hadir: Mefi Melkianus Sae, anak binaan dari Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Kupang.

Keterlibatan Mefi dalam perayaan sakramen suci ini menjadi momen bersejarah, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi seluruh jajaran pembina, pendamping, dan keluarga besar LPKA.

Ia telah menjalani pembinaan rohani secara konsisten selama delapan bulan terakhir, termasuk bimbingan iman Katolik yang difasilitasi oleh petugas dari Kementerian Agama dan pembina internal lembaga.

“Anak-anak binaan punya hak yang sama dengan anak-anak lain di luar. Kami bersyukur karena Pastor Paroki Assisi membuka ruang dan melibatkan Mefi dalam perayaan sakral ini,” ujar Adeodatus, Kepala Seksi Pembinaan dan Wasmat LPKA Penfui Kupang, mewakili Kepala LPKA Lukas Laksana Frans.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Paroki Kolhua dan semua pihak yang telah mendukung.

“Tiga bulan terakhir, Mefi mendapat pendampingan khusus, termasuk menerima Sakramen Tobat dari Romo yang datang langsung ke LPKA. Hari ini, ia bergabung dengan 107 anak lainnya menerima Komuni Pertama secara terbuka di gereja,” ungkapnya.

Saat ini, ada delapan anak Katolik yang sedang menjalani pembinaan di LPKA Kupang. Dari jumlah tersebut, tujuh anak sudah menerima Komuni Pertama. Mefi menjadi satu-satunya peserta yang ikut tahun ini.

Proses ini juga melibatkan komunikasi intens dengan keluarga Mefi yang berada di Soe, agar seluruh tahapan berjalan dengan restu dan dukungan orangtua.

Momen ini menjadi bukti bahwa proses pembinaan anak di LPKA tidak hanya fokus pada aspek hukum dan sosial, tetapi juga memperhatikan dimensi spiritual.

Keterlibatan Gereja, Kementerian Agama, dan lembaga pembinaan ini menjadi contoh sinergi positif dalam merawat masa depan anak-anak, tanpa memandang latar belakang maupun status mereka. (Goe)




Warga Naikolan Minta Pemkot Pasang Lampu Penerangan di Situs Budaya Eks Tempat Pembakaran Kapur

 

Kupang, nwartapedia.com  – Warga Kelurahan Naikolan, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, meminta perhatian Pemerintah Kota Kupang untuk segera memasang lampu penerangan di sekitar bangunan tua eks tempat pembakaran batu kapur yang kini telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya.

Permintaan tersebut disampaikan oleh Jems Lakapu, warga RT 12 Kelurahan Naikolan, kepada media pada Sabtu (21/6).

Menurutnya, lokasi situs yang berada di lingkungan permukiman warga itu sangat gelap saat malam hari, sehingga berpotensi menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan dan kenyamanan masyarakat yang melintas atau beraktivitas di sekitarnya.

“Kami sangat menghargai penetapan bangunan tua ini sebagai situs budaya oleh pemerintah. Tapi sayangnya, di malam hari kawasan ini sangat gelap. Padahal tempat ini sudah menjadi bagian dari ruang publik yang sering dilintasi warga,” ujar Jems.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa situs eks tempat pembakaran batu kapur tersebut tidak hanya memiliki nilai sejarah yang tinggi, tetapi juga menjadi simbol penting bagi masyarakat lokal tentang jejak kehidupan masa lampau.

Karena itu, ia berharap pemerintah tidak hanya menetapkan situs tersebut secara administratif, tetapi juga memberikan perhatian dalam bentuk fasilitas pendukung seperti penerangan.

“Paling tidak ada satu atau dua lampu yang dipasang untuk menjaga keamanan. Ini juga bisa membuat situs ini terlihat lebih menarik dan layak dikunjungi, terutama di malam hari,” tambahnya.

Bangunan eks pembakaran batu kapur yang terletak di RT 12 RW 05 Kelurahan Naikolan ini merupakan warisan bersejarah yang digunakan pada masa lampau untuk memproduksi kapur secara tradisional.

Saat ini, bangunan tersebut telah ditetapkan sebagai situs budaya oleh Pemerintah Kota Kupang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Kebudayaan.

Warga berharap agar keberadaan situs budaya ini tidak hanya menjadi monumen bisu, tetapi juga dikelola secara baik agar bisa menjadi sarana edukasi sejarah bagi generasi muda dan mendukung pengembangan kawasan berbasis pelestarian budaya.

Pemerintah Kota Kupang diharapkan segera merespons aspirasi masyarakat ini dengan memasang fasilitas penerangan yang memadai di lokasi situs, sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian warisan sejarah daerah.(goe)




Saboak Resmi Diluncurkan, 40 UMKM Ramaikan Taman Nostalgia Setiap Akhir Pekan

 

Kupang,nwartapedia.com  — Pemerintah Kota Kupang meluncurkan program baru bertajuk Saboak (Sunday Market Buat Orang Kupang) di kawasan Taman Nostalgia, Sabtu (21/6/2025).

Kegiatan yang berlangsung setiap akhir pekan ini menghadirkan 40 pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang menawarkan beragam produk, mulai dari makanan khas hingga kain tenun bermotif lokal.

Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, yang hadir langsung dalam peluncuran kegiatan tersebut, menyampaikan apresiasi atas antusiasme warga Kota Kupang yang memadati Taman Nostalgia sejak Sabtu sore hingga Minggu pagi.

“Saya senang sekali melihat masyarakat begitu antusias. Terima kasih untuk semua yang sudah hadir. Ini bukti bahwa ruang publik memang dibutuhkan warga untuk berkumpul dan menikmati suasana kota,” ujar Wali Kota.

Menurutnya, revitalisasi Taman Nostalgia menjadi bagian dari visi Pemerintah Kota untuk menghadirkan ruang publik yang nyaman dan hidup.

“Membangun kota tidak selalu soal gedung-gedung mewah. Kita perlu tempat untuk bertemu, berbagi cerita, dan menciptakan kenangan bersama. Taman Nostalgia adalah simbol Kota Kupang sebagai Kota Kasih,” katanya.

Wali Kota juga mengapresiasi peran Wakil Wali Kota Kupang, Serena Francis, yang disebutnya sebagai inisiator kegiatan Sunday Market ini.

“Saboak ini adalah hasil kerja keras Ibu Wakil Wali Kota. Ini baru awal. Ke depan, kita akan kembangkan lagi dengan membangun area bermain anak, lintasan sepatu roda, dan fasilitas publik lainnya,” ungkapnya.

Selain menjadi ajang promosi UMKM, kegiatan ini juga didukung oleh sejumlah sponsor, termasuk Bank Indonesia, Bank Mandiri, Bank NTT, dan BRI.

Wakil Wali Kota Kupang, Serena Francis, menyampaikan terima kasih kepada seluruh sponsor dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang telah mendukung kelancaran pelaksanaan Sunday Market.

“Kami berharap kegiatan ini terus berkembang dan menjadi agenda tetap mingguan untuk menggerakkan ekonomi warga serta memperkuat solidaritas sosial masyarakat Kota Kupang,” ujar Serena.

Di akhir sambutannya, Wali Kota mengimbau seluruh pengunjung dan pelaku usaha untuk menjaga kebersihan taman.

“Kami sudah siapkan tempat sampah di berbagai titik. Mari kita jaga taman ini agar tetap bersih dan nyaman untuk semua,” pesannya. (MI)




Rustam, Anak dari Keluarga Non-Katolik Terima Komuni Pertama

 

Kupang,nwartapedia.com  – Perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus di Paroki Santo Fransiskus dari Assisi, Kolhua, Kota Kupang, Minggu (22/6), menjadi momen istimewa bagi 108 anak yang menerima Komuni Suci untuk pertama kalinya.

Dari jumlah itu, 55 anak berasal dari Stasi Santo Agustinus Bello, 52 anak dari Paroki Kolhua, dan satu anak dari Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Penfui.

Yang paling menarik perhatian adalah kehadiran Rustam One Tuan (13), satu-satunya peserta yang berasal dari keluarga non-Katolik.

Meskipun kedua orang tuanya dan keempat adiknya beragama Protestan, Rustam tampil mantap dan penuh semangat melangkah bersama teman-temannya menerima Sakramen Ekaristi Pertama.

Misa Kudus dipimpin oleh RD Dus Bone, Pastor Paroki Kolhua, didampingi RD Toni Kobesi selaku Pastor Rekan, dan imam tamu Pater Yustinus Tegu Wona, SVD.

Dalam homilinya, RD Dus Bone menekankan bahwa Komuni adalah puncak iman Katolik dan anak-anak merupakan harapan masa depan keluarga dan Gereja.

“Anak-anak harus mendapat tempat dalam hati Tuhan, baik melalui Gereja maupun dalam keluarga. Jangan ragu terhadap Ekaristi, sebab saat konsekrasi, tubuh dan darah Kristus sungguh hadir. Setelah menyambut-Nya, bawalah hati dan perilaku yang baik kepada sesama,” ujar RD Dus.

Perayaan ini semakin khusyuk dan meriah berkat persembahan lagu dari koor anak-anak SEKAMI Paroki Kolhua yang dipimpin oleh dirigen Nona Putri Kembo dan diiringi oleh organis Nus Selly Seng.(goe)