Bank Sampah “Lintas” SD Oeba 3 Gandeng Warga dan Kelurahan Fatubesi untuk Edukasi Sampah Sejak Dini

 

Kupang,nwartapedia.com — Kelurahan Fatubesi bersama SD Negeri Oeba 3 dan Bank Sampah Mutiara Timor Maulafa resmi membentuk sebuah program lingkungan bertajuk Lingkungan Nyaman Tanpa Sampah atau disingkat Lintas.

Program ini menempatkan sekolah sebagai pusat edukasi dan penanganan sampah berbasis komunitas.

Program Lintas diluncurkan dengan semangat kolaboratif yang melibatkan siswa, guru, orang tua, warga sekitar, dan pemerintah kelurahan.

Tujuannya adalah membangun kebiasaan memilah dan mengelola sampah sejak usia dini.

Kepala Kelurahan Fatubesi, Anak Agung G.S.M Putra, dalam pertemuan di ruang kerjanya pada Senin (23/6), menjelaskan bahwa SD Negeri Oeba 3 dipilih karena lokasinya yang strategis dan dekat dengan area padat aktivitas, termasuk tempat pemotongan hewan.

“Anak-anak kita ini lebih cepat tanggap. Lewat mereka, kita harapkan kebiasaan memilah dan membawa sampah dari rumah bisa menular ke orang tua dan lingkungan sekitar,” ungkapnya.

Dalam praktiknya, setiap siswa diminta membawa sampah anorganik dari rumah untuk dikumpulkan di sekolah.

Sampah tersebut kemudian ditimbang dan hasilnya dicatat dalam rekening sampah masing-masing anak, guru, atau warga yang tergabung dalam komunitas Bank Sampah Lintas Oeba 3.

Program ini mendapat dukungan penuh dari RT/RW se-Kelurahan Fatubesi dan diharapkan menjadi model edukasi lingkungan yang dapat direplikasi di sekolah lain di Kota Kupang.

Dengan memanfaatkan peran aktif anak-anak dan komunitas, program Lintas berupaya menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. (Goe)




Anak Binaan LPKA Kupang Terima Komuni Pertama di Paroki Kolhua, Jadi Momen Haru dan Bersejarah

 

Kupang,nwartapedia.com  — Suasana haru dan penuh makna menyelimuti Perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus di Paroki Santo Fransiskus dari Assisi, Kolhua, Kota Kupang.

Di antara 108 anak yang menerima Komuni Pertama pada Minggu pagi, satu sosok istimewa turut hadir: Mefi Melkianus Sae, anak binaan dari Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Kupang.

Keterlibatan Mefi dalam perayaan sakramen suci ini menjadi momen bersejarah, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi seluruh jajaran pembina, pendamping, dan keluarga besar LPKA.

Ia telah menjalani pembinaan rohani secara konsisten selama delapan bulan terakhir, termasuk bimbingan iman Katolik yang difasilitasi oleh petugas dari Kementerian Agama dan pembina internal lembaga.

“Anak-anak binaan punya hak yang sama dengan anak-anak lain di luar. Kami bersyukur karena Pastor Paroki Assisi membuka ruang dan melibatkan Mefi dalam perayaan sakral ini,” ujar Adeodatus, Kepala Seksi Pembinaan dan Wasmat LPKA Penfui Kupang, mewakili Kepala LPKA Lukas Laksana Frans.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Paroki Kolhua dan semua pihak yang telah mendukung.

“Tiga bulan terakhir, Mefi mendapat pendampingan khusus, termasuk menerima Sakramen Tobat dari Romo yang datang langsung ke LPKA. Hari ini, ia bergabung dengan 107 anak lainnya menerima Komuni Pertama secara terbuka di gereja,” ungkapnya.

Saat ini, ada delapan anak Katolik yang sedang menjalani pembinaan di LPKA Kupang. Dari jumlah tersebut, tujuh anak sudah menerima Komuni Pertama. Mefi menjadi satu-satunya peserta yang ikut tahun ini.

Proses ini juga melibatkan komunikasi intens dengan keluarga Mefi yang berada di Soe, agar seluruh tahapan berjalan dengan restu dan dukungan orangtua.

Momen ini menjadi bukti bahwa proses pembinaan anak di LPKA tidak hanya fokus pada aspek hukum dan sosial, tetapi juga memperhatikan dimensi spiritual.

Keterlibatan Gereja, Kementerian Agama, dan lembaga pembinaan ini menjadi contoh sinergi positif dalam merawat masa depan anak-anak, tanpa memandang latar belakang maupun status mereka. (Goe)




Warga Naikolan Minta Pemkot Pasang Lampu Penerangan di Situs Budaya Eks Tempat Pembakaran Kapur

 

Kupang, nwartapedia.com  – Warga Kelurahan Naikolan, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, meminta perhatian Pemerintah Kota Kupang untuk segera memasang lampu penerangan di sekitar bangunan tua eks tempat pembakaran batu kapur yang kini telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya.

Permintaan tersebut disampaikan oleh Jems Lakapu, warga RT 12 Kelurahan Naikolan, kepada media pada Sabtu (21/6).

Menurutnya, lokasi situs yang berada di lingkungan permukiman warga itu sangat gelap saat malam hari, sehingga berpotensi menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan dan kenyamanan masyarakat yang melintas atau beraktivitas di sekitarnya.

“Kami sangat menghargai penetapan bangunan tua ini sebagai situs budaya oleh pemerintah. Tapi sayangnya, di malam hari kawasan ini sangat gelap. Padahal tempat ini sudah menjadi bagian dari ruang publik yang sering dilintasi warga,” ujar Jems.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa situs eks tempat pembakaran batu kapur tersebut tidak hanya memiliki nilai sejarah yang tinggi, tetapi juga menjadi simbol penting bagi masyarakat lokal tentang jejak kehidupan masa lampau.

Karena itu, ia berharap pemerintah tidak hanya menetapkan situs tersebut secara administratif, tetapi juga memberikan perhatian dalam bentuk fasilitas pendukung seperti penerangan.

“Paling tidak ada satu atau dua lampu yang dipasang untuk menjaga keamanan. Ini juga bisa membuat situs ini terlihat lebih menarik dan layak dikunjungi, terutama di malam hari,” tambahnya.

Bangunan eks pembakaran batu kapur yang terletak di RT 12 RW 05 Kelurahan Naikolan ini merupakan warisan bersejarah yang digunakan pada masa lampau untuk memproduksi kapur secara tradisional.

Saat ini, bangunan tersebut telah ditetapkan sebagai situs budaya oleh Pemerintah Kota Kupang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Kebudayaan.

Warga berharap agar keberadaan situs budaya ini tidak hanya menjadi monumen bisu, tetapi juga dikelola secara baik agar bisa menjadi sarana edukasi sejarah bagi generasi muda dan mendukung pengembangan kawasan berbasis pelestarian budaya.

Pemerintah Kota Kupang diharapkan segera merespons aspirasi masyarakat ini dengan memasang fasilitas penerangan yang memadai di lokasi situs, sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian warisan sejarah daerah.(goe)




Saboak Resmi Diluncurkan, 40 UMKM Ramaikan Taman Nostalgia Setiap Akhir Pekan

 

Kupang,nwartapedia.com  — Pemerintah Kota Kupang meluncurkan program baru bertajuk Saboak (Sunday Market Buat Orang Kupang) di kawasan Taman Nostalgia, Sabtu (21/6/2025).

Kegiatan yang berlangsung setiap akhir pekan ini menghadirkan 40 pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang menawarkan beragam produk, mulai dari makanan khas hingga kain tenun bermotif lokal.

Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, yang hadir langsung dalam peluncuran kegiatan tersebut, menyampaikan apresiasi atas antusiasme warga Kota Kupang yang memadati Taman Nostalgia sejak Sabtu sore hingga Minggu pagi.

“Saya senang sekali melihat masyarakat begitu antusias. Terima kasih untuk semua yang sudah hadir. Ini bukti bahwa ruang publik memang dibutuhkan warga untuk berkumpul dan menikmati suasana kota,” ujar Wali Kota.

Menurutnya, revitalisasi Taman Nostalgia menjadi bagian dari visi Pemerintah Kota untuk menghadirkan ruang publik yang nyaman dan hidup.

“Membangun kota tidak selalu soal gedung-gedung mewah. Kita perlu tempat untuk bertemu, berbagi cerita, dan menciptakan kenangan bersama. Taman Nostalgia adalah simbol Kota Kupang sebagai Kota Kasih,” katanya.

Wali Kota juga mengapresiasi peran Wakil Wali Kota Kupang, Serena Francis, yang disebutnya sebagai inisiator kegiatan Sunday Market ini.

“Saboak ini adalah hasil kerja keras Ibu Wakil Wali Kota. Ini baru awal. Ke depan, kita akan kembangkan lagi dengan membangun area bermain anak, lintasan sepatu roda, dan fasilitas publik lainnya,” ungkapnya.

Selain menjadi ajang promosi UMKM, kegiatan ini juga didukung oleh sejumlah sponsor, termasuk Bank Indonesia, Bank Mandiri, Bank NTT, dan BRI.

Wakil Wali Kota Kupang, Serena Francis, menyampaikan terima kasih kepada seluruh sponsor dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang telah mendukung kelancaran pelaksanaan Sunday Market.

“Kami berharap kegiatan ini terus berkembang dan menjadi agenda tetap mingguan untuk menggerakkan ekonomi warga serta memperkuat solidaritas sosial masyarakat Kota Kupang,” ujar Serena.

Di akhir sambutannya, Wali Kota mengimbau seluruh pengunjung dan pelaku usaha untuk menjaga kebersihan taman.

“Kami sudah siapkan tempat sampah di berbagai titik. Mari kita jaga taman ini agar tetap bersih dan nyaman untuk semua,” pesannya. (MI)




Rustam, Anak dari Keluarga Non-Katolik Terima Komuni Pertama

 

Kupang,nwartapedia.com  – Perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus di Paroki Santo Fransiskus dari Assisi, Kolhua, Kota Kupang, Minggu (22/6), menjadi momen istimewa bagi 108 anak yang menerima Komuni Suci untuk pertama kalinya.

Dari jumlah itu, 55 anak berasal dari Stasi Santo Agustinus Bello, 52 anak dari Paroki Kolhua, dan satu anak dari Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Penfui.

Yang paling menarik perhatian adalah kehadiran Rustam One Tuan (13), satu-satunya peserta yang berasal dari keluarga non-Katolik.

Meskipun kedua orang tuanya dan keempat adiknya beragama Protestan, Rustam tampil mantap dan penuh semangat melangkah bersama teman-temannya menerima Sakramen Ekaristi Pertama.

Misa Kudus dipimpin oleh RD Dus Bone, Pastor Paroki Kolhua, didampingi RD Toni Kobesi selaku Pastor Rekan, dan imam tamu Pater Yustinus Tegu Wona, SVD.

Dalam homilinya, RD Dus Bone menekankan bahwa Komuni adalah puncak iman Katolik dan anak-anak merupakan harapan masa depan keluarga dan Gereja.

“Anak-anak harus mendapat tempat dalam hati Tuhan, baik melalui Gereja maupun dalam keluarga. Jangan ragu terhadap Ekaristi, sebab saat konsekrasi, tubuh dan darah Kristus sungguh hadir. Setelah menyambut-Nya, bawalah hati dan perilaku yang baik kepada sesama,” ujar RD Dus.

Perayaan ini semakin khusyuk dan meriah berkat persembahan lagu dari koor anak-anak SEKAMI Paroki Kolhua yang dipimpin oleh dirigen Nona Putri Kembo dan diiringi oleh organis Nus Selly Seng.(goe)




Esok Ratusan Anak Terima Komuni Pertama di Paroki Kolhua, Rustam One Tuan Jadi Sorotan karena Latar Belakang Keluarga Protestan

 

Kupang,nwartapedia.com  – Sebanyak 108 anak akan menerima Sakramen Ekaristi Pertama atau Komuni Suci Perdana dalam perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus yang berlangsung esok, Sabtu (21/6/2025), di Paroki Santo Fransiskus dari Assisi, Kolhua, Kota Kupang.

Momen ini menjadi penuh makna tidak hanya bagi anak-anak dan keluarga mereka, tetapi juga bagi umat paroki secara keseluruhan.

Yang menarik perhatian adalah kehadiran seorang anak bernama Rustam One Tuan, yang menjadi satu-satunya peserta komuni perdana dari keluarga non-Katolik.

Kedua orang tuanya serta empat adik kandungnya diketahui beragama Kristen Protestan.

Namun, Rustam dengan kesadaran pribadi memilih memeluk iman Katolik dan telah menjalani pembaptisan secara resmi pada malam Paskah tahun ini, April 2025.

Menurut penjelasan Goris Takene, salah satu anggota keluarga Rustam, keputusan tersebut diambil dengan persetujuan dan dukungan penuh dari kedua orang tua serta keluarga besar.

“Rustam memang sejak lama sudah aktif dalam kegiatan gereja Katolik karena tinggal bersama tantenya, Ibu Yohana Bistolen, dan neneknya, Oma Petronela Takene, yang keduanya Katolik. Ia tumbuh dalam lingkungan yang membentuk imannya secara alami,” jelas Goris kepada media, Jumat (20/6).

Lebih lanjut, Goris menambahkan bahwa hal ini mencerminkan tingginya nilai toleransi antara keluarga besar Takene dan keluarga besar Tuan.

“Kami bersyukur bahwa dalam perbedaan iman pun, kasih dan dukungan tidak berkurang. Rustam diberi ruang untuk menentukan jalannya sendiri, dan itu dihormati sepenuhnya oleh kedua belah pihak.”tambahnya.

Rustam One Tuan sendiri menyatakan rasa syukur dan sukacitanya menjelang penerimaan komuni perdana.

“Saya senang menjadi Katolik dan siap menerima tubuh dan darah Kristus untuk pertama kali. Saya ingin hidup dalam ajaran yang saya pilih dengan hati,” ujarnya dengan antusias.

Perayaan Ekaristi besok akan dipimpin langsung oleh Pastor Paroki Kolhua dan dihadiri ratusan umat, keluarga, serta para katekis yang telah membina para calon penerima komuni.

Momen ini menjadi wujud nyata pertumbuhan iman anak-anak dan juga cermin indahnya keberagaman yang dirawat dengan cinta kasih di tengah masyarakat Kota Kupang.(goe)




Bangunan Kuno Eks Tempat Pembakaran Kapur di Naikolan Ditetapkan Jadi Situs Budaya

 

Kupang,nwartapedia.com  – Sebuah bangunan kuno bekas tempat pembakaran batu kapur yang berada di RT 12 RW 05, Kelurahan Naikolan, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, kini resmi ditetapkan sebagai situs budaya oleh Pemerintah Kota Kupang.

Penetapan ini dilakukan sebagai bentuk penghargaan terhadap nilai sejarah dan budaya lokal yang terkandung dalam bangunan tersebut.

Bangunan tersebut diperkirakan telah berdiri sejak tahun 1942, dibangun di atas lahan milik warga atas nama almarhum Sender Lele, yang juga merupakan pelaku produksi kapur pada masanya.

Saat itu, kapur digunakan sebagai bahan bangunan pengganti semen dan menjadi komoditas penting dalam pembangunan rumah-rumah warga serta beberapa fasilitas umum di wilayah Kota Kupang.

Warisan Industri Rakyat

Menurut Lurah Naikolan, Nur M. Tasrap, bangunan ini menyimpan nilai sejarah tinggi dan layak dijaga keberadaannya.

“Bangunan ini menjadi bukti konkret bahwa masyarakat kita dulu memiliki kreativitas tinggi dalam memanfaatkan sumber daya lokal untuk mendukung pembangunan. Sebelum hadirnya Semen Kupang di era 1980-an, kapur dari tempat ini menjadi andalan warga,” ungkap Nur.

Ia menambahkan bahwa pelestarian bangunan tersebut menjadi bagian dari upaya menanamkan nilai sejarah kepada generasi muda agar tidak melupakan akar budaya dan warisan lokal.

Dukungan dari Warga dan Tokoh Masyarakat

Dukungan terhadap pelestarian situs ini juga datang dari tokoh masyarakat setempat, Ketua RT 09 RW 04, Rivai Djaha.

Menurutnya, bangunan pembakaran kapur tersebut bukan hanya saksi bisu sejarah pembangunan lokal, tetapi juga cerminan semangat gotong royong dan inovasi warga masa lalu.

“Bangunan ini perlu dilestarikan dan dirawat. Ini bukan sekadar tembok tua, tapi bagian dari identitas Naikolan,” ujarnya.

Senada dengan itu, Silfester Suki, warga Kelurahan Naikolan yang masih mengingat cerita dari orang tua dan kakeknya, menjelaskan bahwa batu kapur yang digunakan pada masa itu diperoleh dari penggalian di sekitar wilayah Naikolan.

Para pekerja lokal mengolahnya secara manual sebelum akhirnya dibakar untuk menghasilkan kapur siap pakai.

“Dulu ini tempat yang ramai, setiap hari ada kegiatan pembakaran,” kenangnya.

Pemerintah Pasang Tanda Situs Budaya

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Serlis Marlis Tiro, S.STP., MM, menyatakan bahwa bangunan tersebut telah didata secara resmi sebagai bagian dari cagar budaya lokal.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah kota melalui bidang kebudayaan telah memasang papan tanda pengenal situs budaya sebagai langkah awal pelestarian fisik dan edukasi publik.

“Pemasangan papan pengenal ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam menjaga dan mempromosikan kekayaan budaya lokal. Bangunan ini bukan hanya penting untuk sejarah Naikolan, tapi juga menjadi bagian dari mozaik sejarah pembangunan Kota Kupang secara keseluruhan,” ujar Serlis.

Upaya Pelestarian Berkelanjutan

Pemerintah Kota Kupang terus berupaya mendorong identifikasi, pendataan, dan pelestarian berbagai situs sejarah dan budaya di wilayahnya.

Melalui kerja sama lintas sektor dan peran aktif masyarakat, pelestarian situs seperti ini diharapkan mampu memperkuat identitas kultural masyarakat kota sekaligus menjadi media edukasi bagi generasi muda.

Bangunan eks tempat pembakaran kapur di Naikolan kini menjadi simbol ketekunan, inovasi, dan kearifan lokal yang patut dijaga.

Kedepan, situs ini diharapkan dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah dan edukasi budaya yang bermanfaat bagi masyarakat luas.(goe)




Pemkot Kupang Pasang Tanda Pengenal Situs Budaya: Gua Jepang di Naimata Jadi Sumber Edukasi Sejarah

 

Kupang,nwartapedia.com – Sebuah situs bersejarah berupa gua peninggalan tentara Jepang yang berada di RT 06/RW 02 Kelurahan Naimata, Kota Kupang, kini mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kota Kupang.

Melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, pemerintah memasang tanda pengenal situs budaya di lokasi tersebut sebagai upaya pelestarian dan penguatan identitas sejarah lokal.

Ketua RT 06/RW 02, Karel Mau, menjelaskan bahwa di wilayahnya terdapat sekitar tujuh lubang gua yang merupakan peninggalan masa pendudukan Jepang pada Perang Dunia II.

Gua-gua ini dahulu digunakan sebagai benteng pertahanan oleh pasukan Jepang, dan keberadaannya berkaitan erat dengan lokasi strategis Naimata yang berdekatan dengan landasan udara (kini Bandara El Tari Kupang).

“Di wilayah RT 6 ini, gua yang paling menonjol memiliki dua akses, yakni pintu masuk dan pintu keluar, dengan radius sekitar delapan meter dari pintu utama. Ini adalah situs yang penting dan harus dijaga,” ujar Karel Mau.

Ia menambahkan, proses pengerjaan gua-gua ini pada masa lalu dilakukan oleh warga lokal secara paksa melalui sistem kerja rodi yang diterapkan oleh tentara Jepang.

Pengerjaan dilakukan secara manual, tanpa bantuan alat berat, dan menjadi catatan kelam dari masa pendudukan Jepang di wilayah NTT.

Lokasi gua yang dimaksud terletak sangat dekat dengan lingkungan pendidikan, yakni hanya beberapa meter dari SD Inpres Naimata.

Kondisi gua tersebut masih relatif terjaga dan tidak mengalami kerusakan besar, sehingga potensial untuk dijadikan objek pembelajaran sejarah bagi generasi muda.

Salah seorang guru di SD Inpres Naimata, Gaspar Tanjak, mengungkapkan rasa syukurnya atas perhatian pemerintah terhadap situs bersejarah ini.

Ia berharap keberadaan gua Jepang ini dapat dijadikan sebagai sarana edukatif untuk menanamkan nilai-nilai sejarah dan nasionalisme kepada para siswa.

“Kami sangat bersyukur karena anak-anak bisa belajar sejarah langsung dari lokasi aslinya. Ini menjadi pengalaman yang berharga dan memperkuat pemahaman mereka tentang perjuangan masa lalu,” ujar Gaspar.

Dengan pemasangan tanda pengenal oleh Pemerintah Kota Kupang, diharapkan situs gua Jepang di Naimata tidak hanya menjadi saksi bisu sejarah, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya yang dapat diwariskan dari generasi ke generasi, serta memperkaya wawasan sejarah lokal masyarakat Kota Kupang.(goe)




Pemerintah Kota Kupang Pasang Papan Tanda Situs Budaya di Rumah Peninggalan Raja Nisnoni

 

Kupang,nwartapedia.com – Pemerintah Kota Kupang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kembali menunjukkan komitmennya dalam melestarikan situs budaya di wilayah Kota Kupang.

Salah satu bentuk nyata perhatian tersebut adalah pemasangan papan tanda pengenal situs budaya di rumah peninggalan Raja Nisnoni yang terletak di RT 007/RW 003, Kota Kupang.

Rumah bersejarah yang dibangun pada tahun 1935 ini merupakan peninggalan Raja Alfons Nisnoni dan hingga kini masih dirawat oleh keturunannya.

Alfons Nisnoni, cucu dari Raja Nisnoni, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas perhatian dari pemerintah Kota Kupang terhadap warisan leluhur mereka.

“Kami dari keluarga besar Raja Nisnoni sangat bangga dan berterima kasih karena pemerintah, khususnya Bapak Wali Kota Kupang dan jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, telah memberikan perhatian kepada situs budaya peninggalan leluhur kami. Ini menjadi bentuk penghargaan sekaligus dorongan bagi kami untuk terus menjaga dan melestarikan rumah bersejarah ini,” ungkap Alfons Nisnoni.

Ia juga menyatakan bahwa keluarga besar Nisnoni siap menjadi mitra pemerintah dalam menjaga dan merawat situs bersejarah tersebut demi generasi mendatang.

“Kami akan terus menjaga rumah ini dan menjadikannya sebagai bagian penting dari sejarah Kota Kupang. Terima kasih kepada Bapak Wali Kota dan seluruh pihak yang telah memberi perhatian besar terhadap situs budaya kami,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Serlin Marlis Tiro, S.STP., M.M., yang hadir dalam kegiatan pemasangan papan tanda tersebut menjelaskan bahwa pemasangan papan tanda ini merupakan simbol penting dalam pelestarian warisan budaya lokal.

“Pemasangan papan tanda pengenal ini adalah bentuk pengakuan dan perlindungan terhadap situs budaya. Ini bukan sekadar simbol, tetapi juga ajakan kepada masyarakat untuk ikut menjaga dan menghargai sejarah serta warisan nenek moyang kita,” ujar Serlin Marlis Tiro.

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program strategis pelestarian budaya yang dilaksanakan secara bertahap oleh Pemerintah Kota Kupang, dengan dukungan dari pihak-pihak terkait termasuk masyarakat adat dan ahli warisan budaya.

Dengan pemasangan papan tanda ini, Pemerintah Kota Kupang berharap agar masyarakat luas lebih sadar akan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan sejarah yang menjadi identitas dan kekayaan budaya daerah. (goe)




108 Anak di Paroki Kolhua dan Stasi Bello Akan Terima Komuni Suci Pertama di Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

 

Kupang,nwartapedia.com  – Sebanyak 108 orang anak dari Paroki Santo Fransiskus dari Assisi Kolhua dan Stasi Santo Agustinus Bello, Kota Kupang, akan menerima Komuni Suci untuk pertama kalinya pada hari Minggu, 22 Juni 2025, yang bertepatan dengan perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus dalam kalender liturgi Gereja Katolik.

Ketua Katekis Paroki Kolhua, Kaytanus Korbafo, mengungkapkan bahwa anak-anak ini telah menjalani masa pembinaan rohani yang intensif selama tiga bulan terakhir.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 55 anak berasal dari Stasi Bello, pusat Paroki Kolhua 52 dan LP 1 orang.

“Mereka sudah mengikuti pembinaan rohani secara teratur, termasuk doa Triduum dan persiapan pengakuan. Ini adalah tahap penting sebelum mereka menerima komuni pertama kalinya,” ujar Kaytanus di sela-sela kegiatan doa Triduum hari ketiga di Gereja Paroki Kolhua, Jumat sore (20/6).

Ia menambahkan, Komuni Pertama atau yang sering disebut sambut baru merupakan momen sakral bagi setiap umat Katolik.

Melalui penerimaan Tubuh dan Darah Kristus dalam rupa roti dan anggur, umat disatukan secara spiritual dengan Kristus dan menerima rahmat keselamatan.

“Ekaristi bukan sekadar simbol. Kita percaya bahwa hosti yang telah dikonsekrasi dalam Misa adalah sungguh-sungguh Tubuh dan Darah Kristus yang hadir secara nyata. Ini bukan hanya bentuk tradisi, tetapi inti iman Katolik,” tegasnya.

Salah satu anak yang akan menerima Komuni Suci Rustam One Tuan, seorang anak yang baru beberapa bulan lalu dibaptis Katolik setelah sebelumnya memeluk agama Kristen Protestan.

Meski orang tuanya bukan Katolik, Rustam diperbolehkan menjalani proses ini karena sejak lama tinggal bersama tante dan omanya yang beragama Katolik.

“Saya senang dan siap menerima Tubuh dan Darah Tuhan Yesus. Saya yang minta sendiri untuk dibaptis dan sambut baru. Orang tua saya tidak melarang karena saya yang ingin, bukan karena disuruh siapa-siapa,” ujar Rustam dengan polos, menampilkan semangat dan ketulusan hati seorang anak yang merindukan kedekatan dengan Sang Juru Selamat.

Perayaan Misa Komuni Pertama ini akan menjadi peristiwa penuh sukacita dan iman bagi umat di Paroki Kolhua dan Stasi Bello. Tidak hanya sebagai langkah awal dalam kehidupan sakramental anak-anak tersebut, tetapi juga sebagai pengingat bagi seluruh umat tentang pentingnya Ekaristi sebagai pusat kehidupan iman Katolik. (goe)