Pikiran Adalah Magnet: Ketika Iman, Psikologi, dan Semesta Berjumpa

Oleh: Asbin Selten Umbu Deta

 

Kupang,nwartapedia.com  – Pernahkah Anda merenung mengapa hidup kita kadang dipenuhi kejadian-kejadian yang terasa “kita pikirkan sebelumnya”? Atau mengapa nasihat seperti “jangan berpikir negatif, nanti kejadian!” terdengar tidak lagi sekadar sugesti, melainkan semacam hukum yang tak tertulis?

Sebagian orang menyebutnya sebagai Law of Attraction atau Hukum Tarik Menarik. Sebuah gagasan bahwa apa yang kita pikirkan secara intens akan “menarik” realitas yang sesuai.

Namun, benarkah semesta bekerja seperti itu? Dan lebih jauh, adakah dasar teologis dan ilmiahnya?

Daya Pikiran: Antara Harapan dan Realitas

Konsep bahwa pikiran adalah doa telah lama menjadi bagian dari khazanah spiritual. Dalam The Secret, Rhonda Byrne menyebut bahwa “Setiap pikiran adalah energi yang memancar dan akan kembali pada pemiliknya.” Gagasan ini mendapat sambutan luas dalam dunia motivasi, namun tak jarang juga dikritik karena dianggap mengabaikan realitas hidup yang kompleks.

Dalam konteks akademik, psikologi kognitif dan ilmu saraf modern justru memberikan pembenaran ilmiah terhadap kekuatan pikiran. Otak manusia memiliki neuroplastisitas kemampuan untuk membentuk ulang jalur-jalur saraf berdasarkan pola pikir dan pengalaman berulang (Tang et al., 2015).

Artinya, apa yang terus kita pikirkan akan membentuk bagaimana kita merasakan dunia, bertindak, dan akhirnya menentukan hasil hidup kita.
Lebih lanjut, teori self-efficacy dari Albert Bandura menjelaskan bahwa kepercayaan terhadap kemampuan diri adalah kunci keberhasilan (Maddux & Kleiman, 2016).

Ketika seseorang percaya bahwa ia mampu, ia akan bertindak lebih tekun dan tidak mudah menyerah, yang pada akhirnya meningkatkan peluang kesuksesan.

Iman yang Menggerakkan Tindakan
Di sisi lain, iman Kristen tidak pernah memisahkan antara pikiran, iman, dan tindakan. Dalam Matius 21:22 Yesus bersabda, “Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.” Ini bukan ajakan untuk berangan-angan, tetapi seruan untuk memiliki keyakinan aktif: meminta, percaya, lalu bersiap menerima.

Markus 11:24 menguatkan, “Percayalah bahwa kamu telah menerimanya.” Ini adalah bentuk iman yang visual, sebuah gambaran batin bahwa kita hidup dalam pengharapan yang sudah digenapi, meskipun secara lahiriah belum terjadi.

Dalam psikologi, pendekatan ini dikenal sebagai mental rehearsal, dan terbukti meningkatkan kesiapan emosional serta performa tindakan.

Namun, iman dalam kekristenan bukanlah afirmasi kosong atau kepercayaan pada “energi semesta” tanpa relasi personal. Iman Kristen berakar pada Allah yang Mahahadir dan Mahakasih.

Doa bukan hanya memproyeksikan keinginan, tetapi menjalin komunikasi intim dengan Sang Pencipta.

Langkah Praktis: Meminta, Percaya, Menerima

Untuk menghidupi iman dan pola pikir positif secara menyeluruh, ada tiga langkah reflektif yang dapat dilakukan secara konsisten:

1. Meminta dengan Jelas dan Spesifik
Banyak orang tidak mendapatkan apa yang mereka harapkan karena mereka sendiri tidak tahu secara pasti apa yang mereka mau. Mintalah dengan kejelasan, baik melalui doa maupun perencanaan hidup. Dalam dunia psikologi, ini sejalan dengan goal setting theory tujuan yang spesifik dan terukur lebih mungkin tercapai.

2. Percaya Sepenuh Hati
Keyakinan adalah bahan bakar yang menghidupkan tujuan. Iman yang ragu-ragu melemahkan tindakan. Paulus menulis bahwa “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibrani 11:1). Dalam sains, visualisasi positif bahkan digunakan dalam terapi perilaku kognitif untuk mengatasi kecemasan dan trauma.

3. Menerima dengan Syukur
Banyak orang tidak siap menerima karena hatinya tertutup oleh keluhan dan ketidakpercayaan. Padahal, syukur adalah cara batin menyambut kebaikan, bahkan sebelum ia datang sepenuhnya. Penelitian menunjukkan bahwa praktik bersyukur dapat meningkatkan kesejahteraan mental dan relasi sosial (Emmons & Mishra, 2011; McCullough et al., 2016).

Refleksi Teologis: Bukan Sekadar Energi, Melainkan Relasi

Gagasan bahwa “semesta akan mengembalikan” bisa menjadi pintu masuk yang menarik, tetapi harus diluruskan dalam terang iman Kristen. Tuhan bukan sekadar “energi pemancar”, melainkan Pribadi yang menjawab doa, membentuk karakter, dan membimbing dalam kasih.

Paulus tidak menulis bahwa “semesta akan memberikan segala sesuatu”, tetapi “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan” (Roma 8:28). Di sinilah letak perbedaan mendasar: iman Kristen bukan hanya soal hasil, tetapi relasi, proses, dan ketaatan dalam kasih.

Penutup: Apa yang Kita Tanam
Pikiran memang adalah magnet bukan karena semesta tunduk pada kita, tetapi karena Tuhan memberi kita kapasitas untuk membentuk hidup melalui pikiran, iman, dan tindakan.

Hukum tarik menarik bukan sekadar prinsip kosmik, melainkan cara Tuhan mengajar kita untuk hidup dengan penuh pengharapan, keberanian, dan rasa syukur.

Ketika kita meminta dengan jelas, percaya dengan iman, dan menerima dengan syukur, kita sedang membuka diri untuk bekerja sama dengan Tuhan dalam membentuk masa depan yang lebih baik.

Pikiran bukan sekadar gema kesadaran, tetapi nyanyian harapan yang terdengar hingga ke Surga.

 

Daftar Referensi :
• Tang, Y. Y., Hölzel, B. K., & Posner, M. I. (2015). The neuroscience of mindfulness meditation. Nature Reviews Neuroscience.
• Maddux, J. E., & Kleiman, E. M. (2016). Self-efficacy theory.
• Emmons, R. A., & Mishra, A. (2011). Gratitude and well-being. Handbook of Positive Psychology.
• McCullough, M. E., et al. (2016). Gratitude and positive outcomes.
• Byrne, R. (2006). The Secret.
• Willard, D. (2014). Renovation of the Heart.




Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Kupang Hadiri Uji Petik Sosialisasi Dashboard SDGs Nasional

 

Kupang,nwartapedia.com  — Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Drs. Ambo, M.Si, menghadiri kegiatan uji petik sosialisasi Dashboard SDGs Nasional yang digelar di ruang rapat Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (8/7). Ia didampingi oleh salah satu staf, Gregorius Takene, SE.

Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan sekaligus memastikan kesiapan pemanfaatan Dashboard SDGs Nasional, sebuah sistem informasi berbasis web yang menyajikan data dan informasi pelaksanaan Sustainable Development Goals (SDGs) di tingkat nasional.

Dashboard ini diharapkan menjadi alat penting bagi pemerintah daerah, pemangku kepentingan, hingga masyarakat untuk memantau dan mengevaluasi capaian pembangunan berkelanjutan, termasuk di wilayah NTT.

Dalam kesempatan tersebut, Drs. Ambo menegaskan pentingnya keterlibatan sektor pendidikan dalam mendukung pencapaian indikator-indikator SDGs, khususnya yang berkaitan dengan pendidikan berkualitas dan inklusif.

“Kehadiran kami merupakan bentuk komitmen untuk terus menyelaraskan kebijakan pendidikan dengan target pembangunan berkelanjutan, sesuai dengan semangat SDGs,” ujar Drs. Ambo.

Ia juga berharap sosialisasi ini dapat memperkuat sinergi lintas sektor dan mendorong percepatan capaian SDGs di daerah, termasuk melalui program-program pendidikan yang inklusif dan berkeadilan.

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi pemerintah daerah untuk memperkuat koordinasi dan kolaborasi dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif di NTT. (goe)




NTT Percepat Pembangunan Lapangan Criket, Sambut Pertandingan Persahabatan dengan Tim Australia

 

Kupang,nwartapedia.com  — Rencana kedatangan tim criket Australia untuk pertandingan persahabatan di Nusa Tenggara Timur (NTT) memacu semangat panitia untuk mempercepat pembangunan lapangan criket bertaraf internasional di Kupang.

Ketua Umum Criket NTT, Ince Sayuna, menyatakan bahwa pertandingan internasional ini menjadi momentum penting untuk memperkenalkan olahraga criket sekaligus menunjukkan kesiapan NTT sebagai tuan rumah.

“Kami sudah menyampaikan secara lisan kepada Gubernur NTT, Bapak Melki Laka Lena, dan juga melalui surat resmi dari pengurus Criket NTT. Kehadiran tim Australia ini memberi motivasi besar bagi kami untuk menyelesaikan pembangunan tepat waktu,” ujar Ince Sayuna usai rapat internal panitia, Senin (7/7).

Ince menegaskan, pihaknya terus berupaya menggalang dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, sponsor, dan masyarakat, agar proyek ini berjalan lancar.

Sekretaris Umum Criket NTT, Ambo, menambahkan bahwa komunikasi intensif juga dilakukan dengan pihak konsultan untuk memastikan pembangunan memenuhi standar internasional.

“Pembangunan ini dibiayai dari kas Criket NTT, namun kami terbuka terhadap dukungan pihak mana pun yang peduli terhadap perkembangan olahraga ini di daerah,” jelas Ambo.

Menurutnya, lapangan bertaraf internasional ini tidak hanya untuk menyambut tim Australia, tetapi juga sebagai persiapan NTT menjadi tuan rumah cabang criket pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII tahun 2028.

Ambo pun mengajak seluruh panitia pembangunan untuk tetap kompak dan aktif dalam memastikan seluruh tahapan pekerjaan berjalan sesuai rencana.

“Kami berharap semangat dan kerja sama semua pihak terus terjaga, sehingga lapangan ini bisa segera selesai dan menjadi kebanggaan bersama,” tambahnya.

Lapangan criket tersebut dibangun di atas lahan milik Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang, berlokasi di kawasan Tanah Merah, Desa Noelbaki, Kabupaten Kupang.

Pembangunan ini diharapkan rampung sebelum kunjungan tim Australia untuk pertandingan persahabatan dengan atlet criket NTT. (goe)




Panitia Criket NTT Matangkan Persiapan Pembangunan Lapangan Bertaraf Internasional

 

Kupang,nwartapedia.com  — Panitia pembangunan lapangan olahraga criket bertaraf internasional bersama jajaran pengurus Criket NTT menggelar rapat internal pada Senin malam (7/7) untuk mematangkan persiapan pembangunan.

Rapat yang berlangsung di Kupang itu dipimpin langsung oleh Ketua Umum Criket NTT, Ince Sayuna, dan dimoderatori oleh Sekretaris Umum, Ambo, dengan dihadiri pula para pelatih dan atlet yang terlibat dalam kepanitiaan.

Dalam arahannya, Ince Sayuna menyampaikan permohonan maaf atas beberapa kali penundaan agenda peletakan batu pertama pembangunan lapangan.

Penundaan itu, jelasnya, terjadi karena kondisi kesehatan Menteri Pemuda dan Olahraga RI yang semula dijadwalkan hadir dalam kegiatan tersebut.

“Penundaan ini bukan tanpa alasan, tetapi karena kondisi kesehatan Bapak Menteri sehingga jadwal beliau perlu disesuaikan kembali. Kami juga telah berkoordinasi dengan Rektor UKAW Kupang terkait hal ini,” ujar Ince.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para pelatih, atlet, dan seluruh panitia yang telah bekerja keras serta memberikan dukungan penuh terhadap rencana pembangunan lapangan tersebut.

Ince menegaskan bahwa pendanaan proyek ini bersumber dari kas Criket NTT, dana APBD Provinsi NTT, serta dukungan sponsor dan pihak ketiga.

“Terima kasih saya sampaikan kepada panitia pembangunan yang diketuai Pak Edu Penuweo, yang selama ini telah mempersiapkan dengan baik kehadiran Bapak Menteri dan seluruh teknis pelaksanaan pembangunan,” tambahnya.

Ketua Panitia Pembangunan, Edu Penuweo, dalam laporannya menyebutkan bahwa persiapan teknis sudah mulai dilakukan, antara lain penentuan titik lokasi utama dan skema penyambutan tamu.

Namun saat ini panitia masih menunggu kedatangan alat berat untuk membersihkan area utama yang akan digunakan saat seremoni peletakan batu pertama.

Menanggapi laporan tersebut, Ince Sayuna memastikan bahwa pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas PUPR NTT untuk menyediakan alat berat yang diperlukan. Pihak PUPR juga telah menyatakan siap mendukung, termasuk membiayai operasional alat berat di lokasi.

“Saya minta pembersihan lokasi bisa dimulai Rabu (9/7), dengan mengundang Rektor UKAW Kupang, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan KONI baik dari Kabupaten Kupang maupun Provinsi NTT. Kegiatan akan diawali dengan ritual doa sebelum pengerjaan lapangan dimulai,” tegasnya.

Pembangunan lapangan criket ini merupakan salah satu langkah strategis Pemprov NTT untuk mempersiapkan diri sebagai tuan rumah cabang olahraga criket pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII tahun 2028.

Adapun lokasi pembangunan berada di lahan milik Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang, tepatnya di kawasan Tanah Merah, Desa Noelbaki, Kabupaten Kupang.

Rencananya, Menteri Pemuda dan Olahraga RI akan hadir secara langsung untuk meletakkan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan.(goe)




Empat ASN PSKP Raih Satyalancana Karya Satya, Dedikasi Panjang untuk Pendidikan Bangsa

 

Jakarta,nwartapedia.com  — Negara menganugerahkan Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya kepada empat Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan (PSKP), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, atas pengabdian dan integritas mereka selama bertahun-tahun sebagai abdi negara.

Penghargaan yang diberikan pada momentum Hari Pendidikan Nasional 2025 ini menjadi bukti bahwa kerja tulus dan konsisten para ASN turut menopang kemajuan pendidikan nasional.

Adapun empat ASN penerima penghargaan periode ini adalah:

  • Hendra Permana, S.Pd., Pengolah Data dan Informasi — Satyalancana Karya Satya XXX Tahun
  • Mukino, S.M., Verifikator Keuangan — Satyalancana Karya Satya XX Tahun
  • Unggul Witjaksono, S.E., Pengadministrasi Perkantoran — Satyalancana Karya Satya X Tahun
  • Linda Efaria, S.Pd., M.A.P., Analis Kebijakan Ahli Pertama — Satyalancana Karya Satya X Tahun

Penghargaan ini didasarkan pada masa kerja dan kontribusi nyata mereka dalam mendukung kebijakan pendidikan melalui berbagai program strategis di PSKP.

Linda Efaria: Mengabdi dengan Hati

Salah satu penerima penghargaan, Linda Efaria, menunjukkan teladan ASN yang bekerja dengan hati dan memaknai tugasnya sebagai bagian dari ibadah.

Lahir di Sibolangit, Deliserdang, pada Desember 1981, ia memulai karier sebagai CPNS di Kabupaten Lembata pada 2010, kemudian bergabung sebagai PNS pusat di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2014. Saat ini, ia menjabat sebagai Analis Kebijakan Ahli Pertama di PSKP.

Linda dikenal sebagai sosok ramah, responsif, dan penuh integritas. Ia mengaku selalu berpegang pada nilai-nilai spiritual yang diajarkan para mentor dan koleganya.

“Jadikan pekerjaan kita sebagai ibadah,” ungkapnya mengenang pesan almarhum Bapak Hurip Danu Ismadi, mantan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan.

“Pekerjaan adalah ladang amal jariyah,” tambahnya, mengutip nasihat kolega senior, Ibu Ais Irmawati.

Ia juga terinspirasi oleh pesan Romo Windy dari Klaten:
“Apa yang kita lakukan di dunia saat ini adalah untuk mempersiapkan hidup di surga nanti.”

PSKP, Pilar Kebijakan Pendidikan Nasional

Sebagai unit kerja di bawah Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, PSKP memiliki mandat strategis dalam menyusun, mengevaluasi, dan menganalisis kebijakan pendidikan untuk memastikan standar mutu yang berkelanjutan.

Tugas-tugas utamanya meliputi:

  • Penyusunan kebijakan dan standar pendidikan.
  • Analisis dan evaluasi kebijakan pendidikan.
  • Koordinasi dan fasilitasi pelaksanaan standar.
  • Pemantauan, pelaporan, dan administrasi pusat.

Dedikasi ASN seperti Linda Efaria dan rekan-rekan yang menerima Satyalancana kali ini mencerminkan peran penting para birokrat pendidikan di balik layar, yang bekerja senyap tetapi memberi dampak nyata bagi kualitas pendidikan bangsa.

Informasi lebih lanjut mengenai PSKP dapat diakses melalui laman resmi: pskp.kemendikdasmen.go.id 

 (goe)




Terminal Bello Kembali Beroperasi, Warga Apresiasi Peningkatan Layanan Transportasi Kota Kupang

 

Kupang,nwartapedia.com  — Pemerintah Kota Kupang kembali mengoperasikan Terminal Bello di Kecamatan Maulafa sebagai pusat layanan transportasi publik yang tertib, aman, dan representatif.

Dengan berfungsinya kembali terminal ini, angkutan kota (angkot) resmi melayani trayek hingga ke kawasan Bello, memberikan kemudahan mobilitas bagi masyarakat.

Langkah revitalisasi terminal ini mendapat apresiasi luas dari warga dan pemerintah kelurahan setempat.

Sekretaris Lurah Bello, Denny Patty, menilai pengoperasian Terminal Bello sebagai komitmen nyata pemerintah dalam meningkatkan kualitas sarana transportasi publik.

“Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas difungsikannya kembali Terminal Bello sebagai pusat transportasi yang layak, tertib, dan representatif. Ini adalah jawaban nyata atas kebutuhan masyarakat akan fasilitas umum yang aman dan nyaman,” ungkap Denny, saat dihubungi pada Senin (7/7).

Selain mempermudah akses perjalanan sehari-hari, Terminal Bello juga diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi lokal serta memperkuat konektivitas antarwilayah di Kota Kupang.

“Terminal Bello bukan sekadar infrastruktur fisik, tetapi juga simbol pembangunan dan harapan baru bagi warga sekitar untuk mobilitas yang lebih efisien, ekonomi yang lebih dinamis, serta konektivitas yang lebih baik,” tambahnya.

Ia berharap terminal ini dikelola dengan baik dan dirawat bersama oleh semua pihak, sehingga dapat terus berkembang dan memberikan pelayanan optimal bagi publik.

“Harapan kami, terminal ini dapat dikelola secara profesional, dijaga bersama, dan dikembangkan berkelanjutan sehingga menjadi kebanggaan masyarakat Bello dan sekitarnya,” tutupnya.

Dengan beroperasinya kembali Terminal Bello, Pemerintah Kota Kupang dinilai telah mengambil langkah strategis dalam membenahi sistem transportasi kota yang lebih terintegrasi dan berorientasi pada pelayanan masyarakat. (goe)




Film “Believe” Tumbuhkan Nasionalisme dan Jiwa Korsa, Pemprov NTT Dorong Generasi Muda Teladani TNI

 

Kupang,nwartapedia.com   — Film Believe dengan tema Takdir, Mimpi, dan Keberanian, yang disebut sebagai film laga perang terbesar tahun ini, sukses menggugah semangat nasionalisme penonton dalam acara nonton bareng (nobar) di Transmart Kupang, Sabtu (5/7/2025).

Hadir dalam acara tersebut, Staf Ahli Gubernur NTT Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Linus Lusi, yang mewakili Gubernur NTT, menyampaikan apresiasi atas pesan yang diangkat film ini.

Menurutnya, Believe tidak hanya menampilkan kisah heroik prajurit TNI di medan perang, tetapi juga mengajarkan tentang keberanian, pengorbanan, dan pentingnya jiwa korsa.

“Kami mewakili Gubernur NTT menyampaikan bahwa film ini membangkitkan emosi kebangsaan dan nasionalisme. Kalau negara kita tanpa TNI, tentu akan hancur. Jiwa korsa yang ditunjukkan para prajurit dalam film ini harus kita teladani dalam kerja-kerja sebagai aparatur sipil negara di lingkungan Pemerintah Provinsi NTT,” kata Linus Lusi.

Ia menegaskan bahwa pesan moral dalam film ini sangat relevan untuk disampaikan melalui sektor pendidikan agar generasi muda memahami nilai perjuangan dan menghargai jasa para pahlawan.

“Film ini perlu digelorakan melalui pendidikan. TNI adalah harga mati bagi keutuhan negara. Saya berharap siswa-siswa kita  dari SD, SMP, SMA, hingga SMK  bisa menonton film ini untuk menumbuhkan kecintaan terhadap bangsa dan menghormati para pahlawan,” tambahnya.

Linus Lusi juga menyinggung figur inspiratif dalam konteks kekinian yang digambarkan melalui film ini, yaitu Presiden RI, Prabowo Subianto.

Ia menyebut, Presiden Prabowo adalah simbol keberanian yang pernah berjuang dengan jiwa dan raga di Timor Leste, dan kini menjadi teladan bagi generasi bangsa untuk terus bekerja keras dan mengabdi.

“Mari kita tanamkan jiwa korsa dengan menabur benih-benih nasionalisme sejak usia dini. Itu harapan kami dari pemerintah provinsi, supaya anak-anak bangsa mencintai negeri ini, menghormati jasa para pahlawan, dan siap mengabdi untuk negara,” pungkasnya.

Film Believe berhasil menghadirkan bukan hanya adegan laga yang heroik, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan, mimpi, dan pengorbanan para prajurit dan keluarganya.

Pemerintah Provinsi NTT berharap pemutaran film ini dapat terus dilanjutkan dan menjangkau lebih banyak sekolah dan daerah sebagai media edukasi nasionalisme bagi masyarakat, terutama generasi muda. (MI)




Kisah Perjuangan Jenderal Agus Subiyanto Diangkat ke Layar Lebar Lewat Film Believe, Danrem: Ini Adalah Kisah Nyata

 

Kupang,nwartapedia.com  — Film laga perang terbesar tahun ini, Believe, yang mengusung tema Takdir, Mimpi, dan Keberanian, kembali diputar dalam acara nonton bareng (nobar) di Transmart Kupang, Sabtu (5/7/2025).

Film ini bukan hanya sebuah karya sinema, melainkan potret nyata perjuangan para prajurit TNI di medan tugas, termasuk perjalanan hidup Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan rekannya, Komandan Korem (Danrem) 161/Wira Sakti, Brigjen TNI Joao Xavier Barreto Nunes, S.E., M.M   yang turut hadir dalam pemutaran film.

Dalam wawancaranya, Brigjen Joao Xavier menegaskan bahwa kisah yang ditampilkan di film Believe adalah cerminan nyata dari pengalaman mereka di lapangan, mulai dari masa kecil hingga menjadi prajurit TNI yang mengabdi untuk bangsa.

“Saat pasukan Indonesia pertama masuk ke Timor Leste, saya masih berusia 8 tahun. Adegan penerjunan pertama yang disambut tembakan itu nyata. Bahkan orang tua Pak Agus sudah bergabung saat itu, dan sejak momen itu beliau mulai ditempa menjadi prajurit sejati,” ungkapnya.

Brigjen Joao Xavier juga mengenang masa-masa ketika ia dan Jenderal Agus menjadi satu angkatan sebagai Rajawali 1 pada 1995, lalu berangkat bersama untuk operasi di Timor Leste.

“Kami dilantik bersama pada 1995, beliau ditugaskan di Batalyon 323, saya di Batalyon 327. Setelah pulang, beliau melanjutkan karier di Komando, saya tetap di batalyon. Tahun 1998–1999 beliau kembali ke Timor Leste dan saya ke Irian Jaya. Semua yang diceritakan dalam film ini benar-benar kami alami bersama,” tambahnya.

Film Believe tak hanya menyoroti keberanian di medan perang, tetapi juga menampilkan sisi kemanusiaan dan pengorbanan para istri prajurit yang mendampingi suami dalam suka dan duka.

“Adegan Pak Agus melamar istrinya dengan sederhana, hanya dengan sayur-mayur, itu juga nyata. Istri tentara adalah perempuan-perempuan hebat, karena mereka siap menanggung kerasnya hidup saat suaminya menyerahkan jiwa dan raga untuk negara,” jelas Brigjen Joao Xavier.

Kisah hidup Jenderal Agus, yang dimulai dari keluarga sederhana hingga meraih jabatan tertinggi sebagai Panglima TNI, menjadi contoh nyata bahwa mimpi besar bisa diraih dengan kerja keras, keberanian, dan pengabdian tanpa henti.

“Film ini adalah kisah nyata yang patut disaksikan generasi muda. Kita harus belajar menghargai pengorbanan prajurit dan meneladani semangat juang beliau. Kami bangga pada Pak Agus dan bangga bisa bersama dalam perjalanan panjang itu,” pungkas Danrem.

Film Believe dengan apik memadukan heroisme, kemanusiaan, mimpi, dan keberanian menjadi sebuah cerita inspiratif.

Pemerintah dan jajaran TNI berharap film ini bisa menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih mencintai tanah air dan menghormati jasa para pahlawan. (MI)




Haru Istri Prajurit Saksikan Believe: Takdir, Mimpi, dan Keberanian di Balik Perjuangan untuk Merah Putih

 

Kupang,nwartapedia.com  — Film Believe, sebuah karya sinematik bertema Takdir, Mimpi, dan Keberanian, resmi tayang di Bioskop Transmart Kupang pada Jumat (4/7).

Digadang sebagai film laga perang terbesar tahun ini, Believe menyajikan kisah nyata perjuangan seorang prajurit Indonesia yang mempertaruhkan segalanya demi rakyat dan Merah Putih.

Film ini tidak hanya memukau penonton dengan adegan pertempuran yang megah dan penuh aksi, tetapi juga menggugah jiwa dengan pesan tentang keberanian, pengorbanan, dan cinta tanah air.

Kisah Agus: Takdir yang Membentuk Seorang Prajurit

Believe mengisahkan perjalanan Agus, anak seorang tentara yang sejak kecil kehilangan ayahnya yang gugur dalam tugas di Timor Timur, sementara ibunya pergi meninggalkan rumah.

Meski hidup penuh kesepian dan kegagalan, Agus berpegang pada mimpinya untuk mengikuti jejak sang ayah.

Setelah beberapa kali gagal, termasuk saat mendaftar menjadi satpam, ia akhirnya lolos Akademi Militer dan ditugaskan di medan perang yang sama seperti ayahnya dahulu.

Dalam sebuah misi penyelamatan rakyat yang disandera musuh, Agus menunjukkan keberanian luar biasa, bahkan saat harus mempertaruhkan nyawa demi rakyat dan Merah Putih.

Adegan dramatis ketika Agus menyelamatkan seorang anak kecil dengan bendera Merah Putih yang terbakar di tangannya menjadi salah satu momen paling mengharukan dan ikonik dalam film ini.

Haru Para Penonton: “Seperti Merasakan Sendiri”

Usai penayangan, sejumlah penonton menyampaikan kesan mereka kepada media.

Putu Suwartini, seorang istri prajurit yang hadir, mengaku film ini membuatnya larut dalam emosi.

“Sebagai istri prajurit, saya sangat terharu. Adegan Agus menyelamatkan anak kecil membuat saya merasa seperti berada di dalam cerita itu sendiri,”ungkapnya.

“Saya jadi teringat saat suami saya bertugas, antara cemas, bangga, dan takut kehilangan,”tambahnya.

Ia pun mengajak masyarakat untuk menonton film ini sebagai penghormatan bagi para pejuang bangsa.

“Film ini membuka mata kita tentang betapa beratnya pengorbanan prajurit dan keluarganya. Sangat menginspirasi,” tambahnya.

Hamzar, prajurit Yonzipur 18 Bali, mengatakan Perjuangan Agus menunjukkan bahwa tentara adalah bagian dari rakyat, berjuang demi rakyat.

“Film ini mengajarkan kita untuk tidak pernah menyerah pada takdir dan selalu memperjuangkan mimpi demi bangsa,” ujarnya dengan penuh semangat.

Sersan Kepala Putu Aryanta dari Kodim 1616 menyampaikan Film ini penuh nilai pengorbanan, keberanian, dan nasionalisme.

“Saya berharap generasi muda bisa belajar dari semangat Agus: berjuang dengan tulus untuk rakyat dan bangsa. NKRI harga mati,” tegasnya.

Sebuah Film Laga Perang Terbesar Tahun Ini

Sebagai film laga perang terbesar tahun ini, Believe berhasil memadukan kisah nyata yang penuh emosi dengan adegan pertempuran yang intens dan sinematografi megah.

Film ini tidak hanya menyajikan aksi, tetapi juga mengajak penonton merenungi arti keberanian dan pengorbanan sejati.

Film ini diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk menghargai para prajurit yang rela mempertaruhkan hidupnya demi rakyat, bangsa, dan negara.

Believe kini tayang di bioskop-bioskop seluruh Indonesia. Masyarakat diajak untuk menyaksikan film ini sebagai bentuk apresiasi terhadap pengorbanan para patriot sejati yang menjaga Merah Putih tetap berkibar di bumi pertiwi. (MI)




Mengukir Jejak-Jejak Perempuan GMIT Klasis Kota Kupang Gaungkan Warisan Nilai Kristiani untuk Generasi Mendatang

 

Kupang,nwartapedia.com   — Sebuah kegiatan penuh makna bertajuk “Mengukir Jejak-Jejak Perempuan GMIT Klasis Kota Kupang” resmi digelar di Gedung Pramuka Kupang pada Kamis (3/7/2025).

Acara ini berlangsung selama tiga hari hingga 5 Juli 2025 dengan melibatkan 78 peserta dari 37 jemaat yang ada di Klasis Kota Kupang.

Kegiatan ini mengangkat tema besar “Warisan Nilai-Nilai Kristiani”, dengan sub-tema “Perempuan Mengukir Jejak sebagai Warisan bagi Generasi Mendatang”, yang menjadi cerminan semangat perempuan GMIT dalam menanamkan nilai iman, kasih, dan pelayanan bagi masyarakat dan gereja.

Menghargai Peran Perempuan dalam Gereja dan Masyarakat

Ketua Unit Pembantu Pelayanan (UPP) Perempuan Klasis Kota Kupang, Nurini Tanaem, di sela-sela kegiatan menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan program dari bidang marturia (kesaksian) yang dirancang secara khusus dalam tahun pelayanan 2025.

“Dari 47 jemaat di Klasis Kota Kupang, 37 berpartisipasi dan benar-benar hadir. Kami merasa bangga karena kegiatan ini menjadi ruang belajar dan refleksi tentang pentingnya peran perempuan dalam membentuk peradaban iman di tengah gereja dan masyarakat,” ujar Nurini.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini adalah yang pertama kali digelar dan menjadi langkah awal untuk memperluas jejak-jejak perempuan yang berdampak dalam kehidupan bergereja dan sosial.

Tujuan Mulia untuk Perempuan GMIT

Ketua Tim Pelayanan, Ostin Leo Lede Malogha, S.Sos, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk membentuk karakter, membekali pengetahuan, serta memperkuat jejaring perempuan dalam pelayanan dan pengabdian.

Terdapat lima tujuan utama yang diusung:

1. Meningkatkan kesadaran perempuan atas hak-haknya dalam pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan politik.

2. Memperkuat jaringan dan solidaritas antarperempuan melalui diskusi dan kegiatan kolaboratif.

3. Memberikan keterampilan dan pengetahuan dalam berbagai bidang untuk menjawab tantangan zaman.

4. Mendorong keteladanan dari tokoh-tokoh perempuan dalam Alkitab dan Sang Gembala Agung, Tuhan Yesus Kristus.

5. Membentuk pemimpin-pemimpin perempuan yang mampu menyalurkan ilmu dan dampak positif di jemaat dan lingkungan sekitarnya.

Persiapan Matang dan Harapan Besar

Ketua Pengurus Perempuan Klasis Kota Kupang, Sien Taopan-Fointuna, menyampaikan bahwa kegiatan ini telah dipersiapkan selama lebih dari dua bulan.

Ia menekankan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari upaya membangkitkan kesadaran kolektif perempuan akan pentingnya berbagi, belajar, dan melayani bersama.

“Harapan kami, para peserta yang hadir bisa menjadi penggerak dan membagikan kembali ilmu yang didapat kepada perempuan lain di jemaat masing-masing,” jelas Sien Faintuna.

Walaupun kegiatan ini tidak melibatkan kerja sama langsung dengan instansi luar, pihak penyelenggara mengaku bersyukur atas dukungan moral dan donasi dari Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Kota Kupang dan Ketua DPRD Kota Kupang dan donatur lainnya, yang turut menyemangati keberhasilan kegiatan.

Warisan Bagi Generasi dan Masa Depan

Kegiatan Mengukir Jejak-Jejak Perempuan GMIT Klasis Kota Kupang bukan sekadar forum belajar, melainkan sebuah gerakan kolektif untuk memastikan bahwa nilai-nilai Kristiani tetap hidup melalui peran aktif perempuan.

Para peserta dibekali tidak hanya dengan materi spiritual, tetapi juga penguatan di bidang mental, sosial, dan kepemimpinan.

Kegiatan ini diharapkan menjadi awal dari gerakan yang lebih besar—di mana perempuan GMIT bukan hanya menjadi penerus warisan iman, tetapi juga pengukir sejarah baru dalam pelayanan dan peradaban yang penuh kasih. (MI)