Pater Fransiskus Betekeneng, SVD Rayakan 25 Tahun Imamat: Dari Lembata Menembus Benua Amerika

 

Lewoleba,nwartapedia.com  — Suasana haru dan syukur menyelimuti rumah keluarga Betekeneng di Lewoleba, Lembata, saat Pater Fransiskus Betekeneng, SVD merayakan pesta perak 25 tahun imamatnya.

Perayaan yang berlangsung di Lembata pada Jumat (11/7) ini dihadiri keluarga, sahabat, umat, dan para imam, dengan puncak misa syukur diiringi homili penuh refleksi dari sang yubilaris sendiri.

Lahir di Karangora pada 10 Oktober 1969 sebagai putra kedelapan dari sembilan bersaudara, Pater Fransiskus tumbuh dalam keluarga sederhana yang kuat dalam iman dan pendidikan.

Ayahnya, almarhum Petrus Gute Betekeneng, dikenal sebagai guru Sekolah Rakyat (SR), sementara ibunya, almarhumah Elisabeth Letek Pureklolon, adalah sosok ibu rumah tangga yang religius dan penuh kasih.

Meski berasal dari kampung Atawatung, Desa Lamagute, Kecamatan Ile Ape, pendidikan dasarnya ia tempuh di SDK Lewoleba II dan selesai pada 1983, lalu melanjutkan ke SMP Santo Pius X Lewoleba hingga lulus 1986.

Sejak remaja, panggilannya menuju imamat mulai terasah ketika ia masuk Seminari Menengah San Dominggo Hokeng (1986–1990), kemudian Novisiat SVD Nenuk, Atambua (1990–1991), dan melanjutkan studi filsafat dan teologi di Seminari Tinggi Ledalero (1992–1994).

Menembus Pelosok Amerika Latin

Dedikasi dan panggilan Pater Fransiskus membawa langkahnya melintasi samudra, menimba ilmu teologi di Bogotá, Kolombia (1995–2000), di mana ia ditahbiskan sebagai diakon pada tahun 2000. Setahun kemudian, pada 24 November 2001, ia kembali ke kampung halaman dan ditahbiskan sebagai imam oleh Mgr. Darius Nggawa, SVD, Uskup Larantuka saat itu.

Ia mengusung motto tahbisannya dari Kejadian 12:1: “Pergilah ke tanah yang akan Kutunjukkan kepadamu.”

Motto itu terbukti nyata ketika Pater Fransiskus menjalani misi pastoral di pelosok-pelosok Amerika Latin. Saat ini ia dipercaya sebagai pastor kepala di Paroki Tritunggal Mahakudus (Parroquia Santísima Trinidad), Rafael Calzada, Buenos Aires, di bawah Keuskupan Lomas de Zamora, Argentina.

Ia menggembalakan sekitar 65.000 umat yang tersebar di 10 stasi, sebuah tanggung jawab besar yang ia jalani dengan penuh cinta dan dedikasi.

Dalam homilinya, Pater Fransiskus mengajak umat untuk tetap setia pada iman dan terbuka terhadap panggilan Tuhan, meski sering kali jalan yang ditunjukkan tidak selalu mudah.

“Tuhan selalu setia menuntun kita, asalkan kita mau berjalan bersama-Nya,” pesannya.

Perayaan 25 tahun imamat ini menjadi momentum syukur dan inspirasi bagi banyak orang yang hadir, sekaligus mengingatkan bahwa panggilan Tuhan bisa membawa siapa saja melintasi batas-batas bangsa dan benua demi karya pelayanan. (MI)




SMA Katolik Giovanni Kupang Harumkan Nama NTT di Ajang Nasional, Sabet Penghargaan Best Presentation

 

Kupang,nwartapedia.com Prestasi membanggakan kembali ditorehkan dunia pendidikan Nusa Tenggara Timur. Tim SMA Katolik Giovanni Kupang berhasil meraih penghargaan Best Presentation dalam Lomba Business Plan Tingkat Nasional 2025 yang digelar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu (12/7).

Ajang bergengsi ini diikuti oleh 50 tim dari berbagai SMA/SMK dan perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Setelah melewati proses seleksi ketat, hanya 10 tim terbaik yang melaju ke babak final, terdiri dari 6 tim perguruan tinggi dan 4 tim SMA/SMK.

Daftar Pemenang Lomba Business Plan Nasional 2025

Kategori Perguruan Tinggi:

  • Juara 1: Universitas Brawijaya – Malang
  • Juara 2: Universitas Negeri Surabaya (UNESA) – Surabaya
  • Juara 3: Universitas Siliwangi – Tasikmalaya

Kategori Sekolah Menengah (SMA/SMK):

  • Best Presentation: SMA Katolik Giovanni – Kupang, NTT
  • Best Paper: SMA Mutiara Bangsa – Jakarta
  • Best Idea: SMA Negeri 3 – Yogyakarta
  • Best Poster: Universitas Pendidikan Indonesia – Tasikmalaya

Dari Timur, Menjadi Teladan

SMA Katolik Giovanni Kupang diwakili oleh dua siswa berbakat, Aldrick Raphael Luly dan Bernadinus Maryo Aloyciano Assan, dengan bimbingan guru pendamping Romo Tomy.

Dengan konsep bisnis yang matang, presentasi yang memukau, serta kemampuan menjawab pertanyaan juri secara sistematis dan meyakinkan, mereka berhasil menyisihkan puluhan peserta dan memikat hati dewan juri untuk meraih penghargaan Best Presentation.

Kemenangan ini membuktikan bahwa pelajar dari Timur Indonesia memiliki potensi dan daya saing tinggi di tingkat nasional.

Tak hanya unggul secara akademis, mereka juga menunjukkan kreativitas, keberanian, dan kepercayaan diri dalam menyampaikan gagasan.

Kepala sekolah serta keluarga besar SMA Katolik Giovanni Kupang menyampaikan rasa bangga dan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung perjuangan tim.

“Prestasi ini adalah hasil kerja keras dan doa kita semua. Semoga menjadi motivasi bagi seluruh pelajar di NTT untuk terus percaya diri dan berani bersaing di panggung nasional,” ujar salah satu guru pendamping.

Momentum ini diharapkan dapat menginspirasi generasi muda NTT untuk terus berkarya, berinovasi, dan membawa nama daerah ke level yang lebih tinggi.

“Dari Timur, Kami Buktikan: NTT Bisa Berprestasi!” ***




Kupang Menuju Kota Bersih: Pemkot dan Komunitas Beta Bersih Gelar Lomba Antar-Kelurahan Berhadiah Fantastis 

 

Kupang,nwartapedia.com  —  Pemerintah Kota Kupang berkolaborasi dengan komunitas Beta Bersih menggelar Lomba Kebersihan Tingkat Kota Kupang 2025. Ajang yang diikuti 51 kelurahan ini diharapkan tidak hanya memupuk semangat kompetisi, tetapi juga menumbuhkan budaya bersih dan tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan kota.

Kepala Bidang Tata Lingkungan DLHK Kota Kupang, Hijayas Uthan Mode dalam konferensi pers di Kupang pada Sabtu tanggal 12 Juli 2925, mengatakan lomba ini merupakan kelanjutan program “Kupang Bersinar” yang sukses digelar Mei lalu bersama Pemerintah Kota Kuoang dengan melibatkan ribuan warga, ASN, pelajar, dan relawan dalam aksi bersih-bersih massal.

“Harapannya kegiatan ini bukan sekadar lomba, tetapi menjadi kebiasaan baru, budaya baru, bagi masyarakat untuk mencintai dan menjaga lingkungan yang bersih,” ujarnya.

“Kami juga sangat mengapresiasi dukungan komunitas Beta Bersih yang turut berkontribusi dalam kegiatan ini.”tambahnya.

Lomba ini resmi diluncurkan pada 22 Mei 2025, dan sejak itu tim penilai sudah turun ke lapangan untuk memantau kondisi kebersihan kelurahan-kelurahan peserta.

Penilaian berlangsung hingga 14  Agustus dan pemenang akan diumumkan pada 17 Agustus 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Guna memacu motivasi peserta, panitia menyiapkan total hadiah  uang tunaisebesar Rp220 juta.

Pemerintah Kota Kupang menyediakan hadiah utama sebesar Rp120 juta, dengan pembagian sebagai berikut: Juara 1: Rp35 juta, Juara 2: Rp30 juta, Juara 3: Rp25 juta, Harapan 1: Rp15 juta, Harapan 2: Rp10 juta dan Harapan 3: Rp5 juta.

Selain itu, komunitas Beta Bersih menambahkan bonus senilai Rp100 juta, yang akan diberikan kepada enam pemenang, dengan rincian Juara 1: Rp30 juta, Juara 2: Rp25 juta, Juara 3: Rp20 juta, Harapan 1: Rp10 juta, Harapan 2: Rp8,5 juta, Harapan 3: Rp6,5 juta

Tak hanya hadiah tunai, Pemerintah Kota juga menjanjikan pagu indikatif sebesar Rp1 miliar, yang dialokasikan melalui APBD untuk mendukung program pembangunan kelurahan terbaik, seperti peningkatan infrastruktur dan fasilitas publik.

Hinayas Uthan Mode berharap kegiatan ini menjadi langkah nyata menuju perubahan perilaku masyarakat, dari yang sebelumnya pasif menjadi proaktif dalam menjaga kebersihan lingkungan.

“Kami ingin Kupang dikenal sebagai kota yang bersih, nyaman, dan membanggakan. Itu hanya bisa tercapai kalau semua pihak bergerak bersama, dari warga, RT, RW, sampai kelurahan,” tuturnya.

Perwakilan komunitas Beta Bersih, Paulus Irsan Dardana  yang didampingi oleh Sekretaris komunitas, Fransiscus X.E. Lie menekankan bahwa menjaga kebersihan kota bukan hanya tugas pemerintah, melainkan juga tanggung jawab seluruh warga.

“Kami ingin menanamkan kesadaran bahwa kebersihan dimulai dari rumah masing-masing. Siapa pun yang menghasilkan sampah, dia juga yang bertanggung jawab untuk mengelolanya, dan lomba ini hanya pemicu. Tujuan utamanya adalah membangun kesadaran kolektif bahwa lingkungan yang bersih adalah milik bbersama,”jelasnya.

Paulus juga menyampaikan bahwa bonus Rp100 juta yang disediakan komunitas berasal dari donasi para anggota yang peduli pada kebersihan kota.

“Ini cara kami ikut ambil bagian, memberi semangat, dan mengajak masyarakat untuk bersama-sama mencintai kota ini,” tambahnya

Ia juga berharap bahwa kesadaran menjaga lingkungan tidak boleh berhenti hanya saat lomba berlangsung, tetapi harus terus berlanjut sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari.

“Kami berharap kesadaran masyarakat terus tumbuh bukan karena lomba, tetapi merasa bertanggung jawab untuk mewujudkan Kota Kupang yang bersih dan membanggakan,”pungkasnya.  (MI)




SMAK Giovanni Kupang Teken MoU dengan UGM, Buka Peluang Dual Degree hingga Taiwan

 

Yogyakarta,nwartapedia.com   — SMA Katolik Giovanni Kupang kembali menorehkan prestasi membanggakan dengan menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) kerja sama dengan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM).

Penandatanganan berlangsung di Auditorium FMIPA UGM dalam rangkaian kegiatan International Workshop for Educators: Deep Learning Workshop, Creating Mindful, Meaningful, and Joyful Learning.

Kepala SMAK Giovanni Kupang, Romo Drs. Stefanus Mau, Pr, hadir langsung untuk menandatangani MoU tersebut bersama Dekan FMIPA UGM, Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si, serta dua kepala sekolah lainnya yang mewakili 69 sekolah mitra terpilih dari seluruh Indonesia.

Acara ini turut dihadiri oleh Dekan Fakultas Biologi, Dekan Fakultas Geografi, sejumlah petinggi UGM, perwakilan lembaga mitra, dan lebih dari 300 guru dari sekolah mitra UGM.

Dalam sambutannya, Romo Stefanus menyampaikan rasa syukur dan bangga karena SMAK Giovanni menjadi satu-satunya sekolah di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mendapat kesempatan emas ini

. “Kerja sama ini merupakan pintu gerbang untuk peningkatan mutu lembaga secara universal, sekaligus mempersiapkan lulusan SMAK Giovanni untuk berkolaborasi dengan UGM dan universitas mitra di Taiwan,” ujarnya.

Kerja sama ini memungkinkan para lulusan SMAK Giovanni yang melanjutkan studi di UGM melalui International Undergraduate Program (IUP) untuk mengikuti program dual degree.

Melalui program ini, mahasiswa menempuh dua tahun kuliah di UGM dan dua tahun di universitas mitra di Taiwan, dan akan mendapatkan dua ijazah dari kedua universitas.

Bahkan, bagi yang melanjutkan studi hingga lima tahun, terbuka peluang untuk langsung menempuh program doktoral dengan dukungan beasiswa.

Selain penandatanganan MoU, workshop internasional ini juga menghadirkan pembicara ternama, seperti Direktur IUP FMIPA UGM Arif Misbabul, MBM, Prof. Kuwat Triyana, dan Prof. Yu Wen Chen dari Da Yeh University, Taiwan.

Romo Stefanus menegaskan bahwa pihak sekolah akan segera menindaklanjuti MoU ini dengan sosialisasi kepada siswa dan orang tua, serta mempersiapkan seluruh sumber daya yang dibutuhkan.

“Dari Kupang untuk Indonesia. Giovanni Maju, MIPA Unggul, Indonesia Hebat,” pungkas Romo Stefanus penuh semangat. ***




Pemkot Kupang Dorong Edukasi, Vaksinasi, dan Skrining untuk Tekan Kasus Kanker Serviks

 

Kupang, nwartapedia.com Pemerintah Kota Kupang terus memperkuat komitmen dalam pencegahan kanker serviks melalui edukasi, vaksinasi HPV, dan deteksi dini.

Hal ini ditegaskan Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, saat membuka kegiatan Road to Zero HPV: Langkah Berkelanjutan dalam Pencegahan Kanker Leher Rahim untuk Perempuan Indonesia di Hotel Harper Kupang, Sabtu (12/7/2025).

Dalam sambutannya, Wali Kota mengungkapkan bahwa kanker serviks masih menjadi salah satu penyakit mematikan bagi perempuan di Indonesia. Berdasarkan laporan terakhir, terdapat sekitar 36.000 kasus baru setiap tahun dengan lebih dari 21.000 kematian.

“Ironisnya, sekitar 70% kasus baru terdeteksi pada stadium lanjut karena tidak dilakukan deteksi dini,” ujarnya.

Ia menekankan tiga langkah penting untuk menekan angka kejadian kanker serviks, yaitu edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, pemberian vaksin HPV, serta pemeriksaan skrining secara berkala.

“Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Mari kita ajak masyarakat peduli pada deteksi dini,” imbaunya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, drg. Retnowati, dalam kesempatan yang sama menjelaskan bahwa kanker leher rahim disebabkan oleh infeksi Human Papillomavirus (HPV), terutama tipe 16 dan 18. Data Global Cancer Observatory tahun 2020 menunjukkan, Indonesia mencatat lebih dari 36.000 kasus baru kanker serviks dengan tingkat kematian sekitar 58% atau lebih dari 21.000 kasus per tahun.

“Pada tahun 2024, Kota Kupang ditetapkan sebagai lokasi pilot project pemeriksaan deteksi dini dengan metode tes IVA. Sebanyak 585 perempuan usia 30–69 tahun telah mengikuti pemeriksaan ini,” papar Retnowati.

Ia juga mengajak seluruh peserta untuk menjadi agen perubahan dengan menyebarkan informasi tentang pentingnya pencegahan kanker serviks kepada keluarga dan lingkungan sekitar.

Retnowati menambahkan, pencegahan primer paling efektif adalah vaksinasi HPV yang diberikan pada anak perempuan usia 9–14 tahun sebelum aktif secara seksual, disertai edukasi kesehatan reproduksi, perilaku seksual yang aman, serta promosi kesehatan di sekolah dan masyarakat.

Melalui sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, Pemkot Kupang berharap angka kejadian dan kematian akibat kanker serviks dapat ditekan secara signifikan di masa mendatang. (MI)




Wali Kota Kupang Teken SK Pedoman Kegawatdaruratan: Nyawa Warga Lebih Penting dari Administrasi

 

Kupang,nwartapedia.com — Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, resmi menandatangani Surat Keputusan (SK) tentang Pedoman Teknis Penanganan Kegawatdaruratan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) S.K. Lerik, Jumat (12/7).

SK ini menjadi tonggak penting dalam upaya Pemerintah Kota Kupang melindungi nyawa warganya dengan memastikan pasien dalam kondisi gawat darurat mendapat pelayanan medis tanpa hambatan administrasi.

“Hari ini saya menandatangani SK pedoman teknis kegawatdaruratan di RSUD SK Lerik. Jadi, untuk keluarga yang sakit dalam keadaan gawat darurat  bukan sekadar batuk pilek, tapi benar-benar berpacu dengan waktu, seperti stroke perdarahan, anak dehidrasi berat, atau kondisi lain yang mengancam nyawa  silakan langsung ke UGD,” tegas Wali Kota dalam sambutannya.

dr. Christian menekankan bahwa pasien tetap akan dilayani meski tidak membawa KTP, Kartu Keluarga, BPJS, atau bahkan jika kepesertaan BPJS-nya sudah tidak aktif karena menunggak.

“Walaupun tidak punya kartu BPJS, atau BPJS-nya menunggak, tidak punya KK, atau KTP dan semua dokumen hilang, kami tetap bantu dulu. Ada anggaran yang sudah saya siapkan untuk itu. Jangan sampai lagi ada nyawa yang hilang hanya karena urusan administrasi,” ujarnya.

Sebagai bentuk nyata dukungan, Pemerintah Kota Kupang telah menyediakan dana pengaman sebesar Rp3 miliar yang ditempatkan di RSUD S.K. Lerik. Dana ini disiapkan khusus untuk membiayai penanganan pasien gawat darurat yang tidak bisa memenuhi syarat administrasi.

“Saya sudah tempatkan dana pengaman Rp3 miliar yang mengendap di rumah sakit. Tahun depan, jika terpakai, saya isi lagi supaya saldo tetap Rp3 miliar. Ini sistem saldo. Dengan begitu, pasien tetap bisa tertolong tanpa harus repot dulu urus dokumen sementara waktu sangat berharga,” jelasnya.

 

Menurut Wali Kota, kebijakan ini lahir dari kegelisahannya sebagai dokter yang kerap melihat nyawa melayang hanya karena proses administrasi yang berbelit.

“Banyak sekali orang yang meninggal hanya karena diminta urus kartu dulu, KTP dulu. Padahal ini berpacu dengan waktu. Saya merenung, bagaimana caranya supaya ini tidak terulang. Mungkin di daerah lain belum ada, tapi di Kupang harus ada,” tambahnya.

Langkah progresif ini disambut antusias oleh masyarakat Kota Kupang. Banyak yang memuji kebijakan ini sebagai wujud nyata pemerintah yang hadir untuk melayani, bukan sekadar memerintah.

“Ini juga bentuk pelayanan sosial. Pemerintah kota bukan lagi orang yang memerintah, tapi orang yang melayani,” tutup Wali Kota.

Kebijakan ini diharapkan mampu menyelamatkan lebih banyak nyawa warga, sekaligus menjadi contoh bagi daerah lain dalam memperjuangkan hak kesehatan warganya. (MI)




Mengabdi dengan Hati: Perjalanan Hidup Asnat Pindu Jawa, dari Peternakan hingga Menjadi Guru Berdedikasi

 

Kupang,nwartapedia.com  – Di balik dinding-dinding ruang kelas UPTD SD Inpres RSS Oesapa, terdapat kisah inspiratif tentang pengabdian dan semangat juang seorang guru bernama Asnat Pindu Jawa, S.Pd., Gr. Lahir di Sumba Timur pada 13 Agustus 1981, Asnat bukan hanya seorang pendidik biasa.

Ia adalah sosok yang membuktikan bahwa panggilan hati bisa mengubah arah hidup dan menjadi dasar bagi pengabdian yang tulus.

Perjalanan hidup Asnat tidak langsung berlabuh di dunia pendidikan. Tahun 1999, ia menempuh pendidikan di Politani Kupang jurusan Peternakan dan berhasil meraih gelar sarjana pada tahun 2002.

Namun, takdir membawanya ke jalur yang berbeda. Tiga tahun setelah lulus, pada April 2005, ia memulai pengabdian sebagai tenaga honor di SD Inpres RSS Oesapa, Kota Kupang.

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan padaku,” demikian motto hidup yang terus menguatkan langkahnya.

Meski berlatar belakang peternakan, semangatnya dalam mendidik anak-anak tak pernah surut. Ia pun memutuskan melanjutkan studi di bidang pendidikan melalui Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Terbuka. Dengan dukungan beasiswa dari Kementerian, ia berhasil meraih gelar S1 Pendidikan pada tahun 2017.

Tahun 2014 menjadi tonggak penting dalam kariernya. Setelah hampir satu dekade mengabdi sebagai tenaga honor, Asnat resmi diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan NIP 19810813 201408 2004.

Saat ini, ia dipercaya sebagai Guru Kelas VI di UPTD SD Inpres RSS Oesapa, tempat yang sama di mana ia pertama kali menapaki dunia pendidikan.

Lebih dari sekadar mengajar, Asnat adalah figur inspiratif yang menunjukkan makna sejati dari dedikasi. Ia memilih jalan yang mungkin tak direncanakan sejak awal, namun dijalani dengan sepenuh hati demi masa depan generasi muda.(goe)




Wali Kota Kupang Resmikan D’Art Cafe & Galeri, Ruang Kreatif untuk Generasi Muda

 

Kupang,nwartapedia.com  — Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, meresmikan D’Art Cafe & Galeri, sebuah ruang seni, kreasi, dan inspirasi yang berlokasi di Jalan Lingkar Luar Jalur 40, Sikumana, Kecamatan Maulafa, Jumat (11/7).

Acara peluncuran ini dihadiri Wakil Wali Kota Kupang Serena Francis, Wakapolres Kota Kupang, jajaran pemerintah Kecamatan Maulafa, para pelaku seni, komunitas kreatif, serta tamu undangan lainnya.

Dalam sambutannya, Wali Kota Christian Widodo menyambut baik kehadiran D’Art Cafe & Galeri sebagai wadah positif bagi masyarakat, khususnya kaum muda, untuk menyalurkan kreativitas.

Menurutnya, keberadaan ruang publik seperti ini adalah bagian penting dari pembangunan kota.

“Membangun kota bukan hanya soal gedung tinggi atau jalan bagus, tetapi juga menyediakan ruang-ruang untuk warganya berkarya, saling menghargai, dan hidup sehat serta bahagia. D’Art Cafe & Galeri ini adalah salah satu contoh nyata ruang itu,” ujarnya.

Wali Kota  menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Kupang terus mendukung berbagai inisiatif kreatif, di antaranya melalui program SABOAK (Sunday Market) , yang sudah berjalan setiap Sabtu-Minggu, dengan panggung terbuka bagi siapa saja untuk menampilkan karya seni.

Panggung itu dari kita, oleh kita, untuk kita. Siapa pun boleh tampil, apakah itu stand-up comedy, menyanyi, bermain musik. Kita siapkan alatnya, tetapi senimannya datang dari masyarakat sendiri. Silakan saja, tinggal angkat tangan, panggung selalu terbuka,” katanya.

 

Lebih jauh, dr. Christian Widodo menekankan bahwa membangun kota tidak hanya soal infrastruktur fisik, seperti gedung-gedung tinggi atau jalan yang bagus.

“Membangun kota juga berarti menciptakan udara yang teduh, warganya saling menghargai, pendidikannya baik, kesehatannya baik, dan yang tidak kalah penting, menyediakan ruang-ruang untuk berkreasi seperti ini,” ujarnya.

Wali Kota juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama merawat dan memanfaatkan ruang-ruang kreatif yang ada, karena inilah esensi dari pembangunan kota yang sesungguhnya: menghadirkan kebahagiaan, inspirasi, dan semangat bagi warganya.

Sementara itu, pemilik D’Art Cafe & Galeri, Dr. dr. Dewa Putu Sahadewa, mengungkapkan apresiasi kepada Pemerintah Kota Kupang yang mendukung kehadiran tempat ini. Ia berharap D’Art Cafe & Galeri menjadi ruang yang memotivasi generasi muda untuk berkreasi dan berkontribusi positif.

“Kami ingin tempat ini bukan sekadar kafe, tetapi juga rumah bagi ide-ide kreatif, healing, dan inspirasi. Dari barista hingga manajemen, semua dikelola anak muda Kupang yang kreatif. Kami membuka panggung untuk komunitas seni, musik, stand-up comedy, hingga kegiatan prewedding atau pameran seni,” jelasnya.

Peresmian D’Art Cafe & Galeri ditandai dengan goresan warna di kanvas oleh Wali Kota sebagai simbol dimulainya perjalanan ruang kreatif ini.

Kehadiran D’Art Cafe & Galeri diharapkan dapat menghidupkan kawasan Jalur 40 Sikumana dan menjadi salah satu ikon baru bagi geliat seni dan kreativitas di Kota Kupang. (MI)




Literasi Informasi di Era Digital: Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi Didorong Jadi Agen Perubahan

 

Kupang,nwartapedia.com  — Tantangan literasi informasi di era digital tidak lagi sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi menuntut pemahaman makna, penggunaan bahasa yang tepat, serta kemampuan menyalurkan pengetahuan secara kreatif dan bertanggung jawab.

Pesan ini ditegaskan dalam Bimbingan Teknis Literasi Informasi bagi Pustakawan, Guru, dan Pegiat Literasi yang diselenggarakan di Aula Kantor Kominfo NTT, Kamis (10/7/2025).

Kegiatan ini menghadirkan penulis, praktisi budaya, sekaligus pegiat literasi Emanuel Nong Jonson, Pd., M.Hum.  sebagai narasumber, dengan Silvia Cornelia Francis, Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo NTT, sebagai moderator.

Dalam materinya, Nong Jonson mengajak para peserta untuk tidak sekadar menjadi pelaksana kegiatan literasi, tetapi menjadi tunas yang kelak berbuah di sekolah dan masyarakat.

“Literasi bukan hanya kegiatan teknis, tetapi proses menumbuhkan nilai. Kita bukan hanya hadir untuk mengisi acara, tetapi membangun tunas yang akan menghasilkan buah di masyarakat,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa literasi yang kuat berakar pada pemahaman bahasa yang benar dan baik, karena setiap perubahan bentuk bahasa selalu membawa perubahan makna. 

Nong Jonson juga mengkritisi kecenderungan anak-anak yang sekadar bisa membaca tetapi tidak memahami, karena lemahnya penguasaan istilah, tanda baca, dan konteks.

“Bahasa yang benar mengikuti kaidah, sedangkan bahasa yang baik menyentuh nilai-nilai. Tanpa dasar bahasa yang baik, digitalisasi hanya akan melahirkan kebisingan tanpa makna,” lanjutnya.

Nong Jonson juga memberikan contoh-contoh praktis dalam menanamkan literasi sejak usia dini, seperti cara memperkenalkan buku bergambar untuk anak-anak, menyusun cerita sederhana dengan satu kalimat per halaman, hingga mengajarkan puisi dengan narasi yang menyenangkan.

Menurutnya, tugas utama guru, pustakawan, dan pegiat literasi adalah menciptakan pengalaman membaca yang menyenangkan dan bermakna.

Salah satunya dengan mengajarkan anak-anak menyusun kata-kata yang “memiliki jiwa”, serta menghidupkan imajinasi melalui cerita, akrostik, atau puisi.

Sementara itu, moderator Silvia Cornelia Francis menekankan bahwa penguatan literasi di era digital adalah tantangan bersama yang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.

“Guru, pustakawan, dan pegiat literasi memiliki peran vital dalam memastikan teknologi menjadi alat untuk memperkuat literasi, bukan sebaliknya. Literasi adalah pondasi untuk berpikir kritis di tengah derasnya arus informasi,” ujarnya.

Kegiatan yang berlangsung secara interaktif ini diharapkan mampu memperkuat kompetensi peserta dalam mengelola, menyampaikan, dan menumbuhkan budaya literasi di lingkungan sekolah dan masyarakat.

Dengan bekal pengetahuan ini, para guru, pustakawan, dan pegiat literasi di NTT diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang membawa literasi informasi lebih dekat dan relevan dengan kehidupan masyarakat di era digital. (MI)




Alumni SMAN 1 Lewoleba Angkatan ’92 Hadiri Misa Syukur 25 Tahun Hidup Membiara Sr. Marieta Ose Melburan

 

Lewoleba,nwartapedia.com  –  Suasana haru dan sukacita mewarnai perayaan misa syukur 25 tahun hidup membiara Sr. Marieta Ose Melburan, SSpS. Misa syukur yang digelar dengan khidmat ini turut dihadiri oleh sejumlah sahabat dan rekan seperjuangan masa sekolah, khususnya para alumni SMA Negeri 1 Lewoleba angkatan 1992.

Sejumlah alumni seperti Shinta Wora, Rini Gie, Eti Bediona, dan beberapa lainnya tampak hadir dan larut dalam sukacita perayaan yang digelar sebagai ungkapan syukur atas perjalanan panjang panggilan hidup religius Sr. Marieta yang berlangsung di Aula SMA Frateran Don Bosko Lewoleba pada Kamis (10/7) sore ini.

Kehadiran para sahabat lama ini bukan hanya sebagai bentuk dukungan, tetapi juga menjadi momen nostalgia dan perjumpaan yang penuh kehangatan.

Mereka ikut memberikan ucapan selamat, pelukan hangat, dan doa bersama bagi Sr. Marieta yang telah menapaki 25 tahun pengabdian sebagai biarawati dalam tarekat SSpS.

Sr. Marieta sendiri tampak bahagia dan menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas kehadiran rekan-rekan seperjuangan masa SMA yang masih menyempatkan waktu untuk hadir di tengah kesibukan masing-masing.

“Saya sangat tersentuh karena teman-teman lama hadir di hari yang spesial ini. Mereka adalah bagian dari perjalanan hidup saya yang tidak terlupakan,” ujar Sr. Marieta dengan mata berbinar.

Momentum ini bukan hanya menjadi perayaan religius, tetapi juga perayaan persahabatan dan kenangan indah masa muda yang terus terjalin lintas waktu.(goe)