Rayakan HUT RI ke-80, Warga Bello Siap Gelar Pagelaran Budaya dan Lomba Catur

 

Kupang,nwartapedia.com  –  Dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2025, masyarakat Kelurahan Bello, Kota Kupang, akan menggelar berbagai kegiatan yang mengangkat budaya lokal dan semangat kebersamaan warga.

Dalam pertemuan yang berlangsung di Aula Kantor Lurah Bello pada Jumat (25/7), para Ketua RT dan RW bersama pihak kelurahan dan Karang Taruna sepakat menggelar dua kegiatan utama, yakni Pagelaran Budaya Lufut antar lingkungan RW serta Lomba Catur yang melibatkan perwakilan dari setiap RT.

Pagelaran budaya yang akan ditampilkan mencerminkan kekayaan tradisi masyarakat Bello, termasuk Lufut serta jenis pertunjukan budaya lain yang masih hidup di tengah masyarakat. Acara ini juga akan dipadukan dengan malam hiburan rakyat, yang di dalamnya akan diisi dengan pameran dan penjualan hasil UMKM rumah tangga.

“Ini menjadi ajang promosi budaya lokal dan juga kesempatan bagi masyarakat untuk memamerkan hasil usaha keluarga mereka,” ujar Lurah Bello, Robinson Lona, usai pertemuan.

Untuk mendukung kegiatan ini, panitia telah menyiapkan dana awal sebesar Rp15 juta, yang akan digunakan untuk menyukseskan pelaksanaan kegiatan, termasuk biaya teknis dan kebutuhan operasional lainnya.

Sementara itu, Ketua Karang Taruna Kelurahan Bello, Yopi Kefi, menegaskan pihaknya siap menjadi pelaksana teknis di lapangan sesuai hasil kesepakatan bersama.

“Kami hanya pelaksana, dan siap mendukung penuh kegiatan yang sudah disepakati,” katanya.

Adapun lomba catur dikhususkan untuk orang dewasa dengan syarat utama peserta adalah warga Bello yang dibuktikan dengan KTP. Kebijakan ini diambil sebagai bagian dari penertiban administrasi kependudukan di wilayah kelurahan.

Lokasi pelaksanaan kegiatan akan ditentukan kemudian oleh panitia, dengan mempertimbangkan aksesibilitas dan kesiapan lokasi bagi seluruh warga.

Dengan semangat gotong royong dan kebersamaan, masyarakat Kelurahan Bello siap menyambut HUT RI ke-80 dengan semarak budaya dan kreativitas lokal yang membanggakan.(goe)




Lurah Bello Siapkan Beragam Kegiatan Meriah Sambut HUT RI ke-80

 

Kupang,nwartapedia.com  –  Dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2025, Pemerintah Kelurahan Bello, Kota Kupang, tengah menyiapkan serangkaian kegiatan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Lurah Bello, Robinson Lona, saat ditemui di Aula Kantor Lurah Bello pada Jumat (25/7/2025), menjelaskan bahwa berbagai kegiatan akan digelar sebagai wujud semangat kebersamaan dan perayaan kemerdekaan.

“Kegiatan ini akan melibatkan seluruh warga melalui berbagai lomba olahraga di tingkat RT. Selain itu, akan ada malam hiburan rakyat yang juga dirangkai dengan pameran dan penjualan produk UMKM rumah tangga. Tujuannya tidak hanya memeriahkan HUT RI, tetapi juga mendukung geliat ekonomi kecil di tengah masyarakat,” ujarnya.

Menurut Lurah Lona, berbagai panggung hiburan akan menampilkan pertunjukan seni budaya dari masing-masing etnis yang ada di Kelurahan Bello. Tidak hanya itu, karnaval budaya juga akan digelar dengan melibatkan semua unsur masyarakat dari berbagai latar belakang budaya.

“Ini menjadi momentum untuk menunjukkan kekayaan budaya lokal serta membangun rasa kebersamaan dalam keberagaman,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Karang Taruna Kelurahan Bello, Yopi Kefi, menyatakan bahwa pihaknya bersama kelurahan telah merancang agenda kegiatan sejak jauh hari.

“Ada lomba catur antar-RT dan lomba lari balap karung yang sudah kami siapkan. Semua kegiatan ini akan diberi penghargaan bagi peserta terbaik. Kegiatan ini juga sudah kami koordinasikan dengan Ibu Wakil Wali Kota dan beliau menyatakan kesiapannya untuk hadir dan membuka kegiatan kami di Kelurahan Bello,” ungkap Yopi.

Puncak perayaan HUT RI ke-80 di Kelurahan Bello dijadwalkan berlangsung pada 16 Agustus 2025, dengan berbagai atraksi budaya, hiburan rakyat, dan partisipasi UMKM lokal.(goe)




BPBD Kota Kupang dan Forum PRB-MAPI  Gelar Aksi Komunitas dan Tingkatkan Kapasitas Relawan

 

 

Kupang,nwartapedia.com  – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kupang bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim PRB-MAPI menggelar aksi komunitas dan sosialisasi peningkatan kapasitas relawan di bantaran kali di Kelurahan Nunleu, Jumat pagi (25/7).

Kegiatan ini merupakan aksi pertama yang digelar FPRB-MAPI berdasarkan hasil kajian risiko bencana yang telah disusun beberapa waktu lalu.

Salah satu hasil dari kajian tersebut adalah identifikasi risiko banjir dan longsor di beberapa titik rawan, khususnya di sepanjang aliran sungai yang dipenuhi sampah dan batuan besar yang menghambat aliran air.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Kupang, Elsje W.A.Sjioen,S.Sos.,Msi menyampaikan bahwa kehadiran relawan sangat penting dalam upaya penanggulangan bencana, namun diperlukan peningkatan kapasitas secara bertahap.

“Untuk teman-teman relawan, tingkatkan terus kapasitas. Yang pertama adalah bagaimana menolong diri sendiri agar punya peluang untuk menolong orang lain. Nah, untuk bisa menolong orang lain, dibutuhkan kapasitas tambahan. Setelah ini, para relawan akan dipanggil kembali untuk menerima pelatihan lanjutan secara bertingkat dan berkelanjutan,” jelasnya.

Dalam aksi komunitas pagi tadi, para relawan melakukan pembersihan sampah di sungai sebagai langkah awal normalisasi aliran air.

Selain itu, dilakukan juga identifikasi terhadap batu-batu besar yang berada di tengah sungai yang berpotensi menghambat kelancaran aliran air.

 “Tadi kita lihat bersama, sampah menumpuk di sungai. Ini salah satu unsur penyebab banjir. Maka dari itu, kita lakukan intervensi untuk menormalisasi aliran sungai. Sampah dibersihkan dan nanti batu-batu yang menghalangi aliran air akan dipindahkan ke tepi sungai agar air bisa mengalir dengan lancar,” lanjutnya.

Kegiatan ini menjadi langkah awal kolaboratif antara pemerintah daerah dan komunitas relawan dalam memperkuat ketangguhan Kota Kupang menghadapi ancaman bencana akibat perubahan iklim. (MI)




KADIN NTT Dorong Ekspor Produk Lokal Tampil di Forum Bisnis Jatim dan Dili Trade Expo 2025

 

Kupang,nwartapedia.com  — Bertempat di Kantor KADIN Nusa Tenggara Timur (NTT), telah dilangsungkan rapat koordinasi strategis antara Forum Komunikasi Asosiasi dan seluruh Ketua KADIN Daerah se-NTT.

Pertemuan ini difokuskan pada dua agenda penting: Forum Bisnis NTT–Jatim yang akan digelar pada 28–29 Juli 2025 di Surabaya, serta partisipasi NTT dalam Dili International Trade Expo 2025 yang akan berlangsung pada 28 Agustus hingga 2 September 2025 di Timor Leste.

Ketua Umum KADIN NTT, Bobby Lianto, menjelaskan bahwa Forum Bisnis NTT dan Jatim yang akan berlangsung di Graha KADIN Jawa Timur merupakan peluang emas bagi para pengusaha NTT untuk memperluas jaringan bisnisnya.

“Ini kesempatan penting untuk membangun relasi langsung antara pengusaha NTT dan Jawa Timur. Sesuai arahan Gubernur NTT, kita dorong peningkatan ekspor dan substitusi produk industri dengan memperkuat koneksi antar daerah,” ujar Bobby.

Forum ini merupakan hasil kolaborasi antara KADIN NTT dan KADIN Jawa Timur, dengan dukungan dari Bank Indonesia.

Dalam forum tersebut, para pengusaha dari kedua provinsi akan mempresentasikan produk unggulan daerah, mengikuti sesi business matching, serta menjajaki peluang investasi di berbagai sektor, termasuk pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, hingga industri manufaktur.

“Ratusan pengusaha akan hadir. Kami harapkan pengusaha NTT tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini,” tambah Bobby.

Selain membahas agenda bisnis di Jawa Timur, rapat juga menyoroti kesiapan NTT dalam mengikuti Dili International Trade Expo 2025 yang difasilitasi oleh Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Timor Leste.

Dalam kesempatan ini, KADIN NTT akan membawa puluhan produk UMKM unggulan untuk dipamerkan.

Koordinator Wakil Ketua Umum Bidang Ekonomi KADIN NTT, Christopher Samara, yang memimpin jalannya rapat, juga ditunjuk sebagai Ketua Tim Percepatan Free Trade Zone (FTZ).

Ia menyampaikan bahwa expo ini menjadi peluang strategis dalam mendorong ekspor NTT ke pasar internasional melalui Timor Leste.

“Ini akan menjadi pintu masuk penting bagi produk-produk NTT ke pasar luar negeri, baik untuk ekspor maupun kerjasama bisnis lintas negara,” ujar Christopher.

Hingga saat ini, tercatat puluhan UMKM dan produk lokal siap diberangkatkan ke Dili, mencakup berbagai sektor seperti kuliner, kerajinan tangan, tekstil, dan produk olahan pertanian.

Rapat koordinasi ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, antara lain:

Bobby Lianto, Ketua Umum KADIN NTT, Christopher Samara, Ketua Tim Percepatan FTZ, Yusak Benu, Ketua INSA NTT, Alain N Susanto, Ketua Organda NTT & Hiswanamigas, David Ongkosaputra, Ketua Aptrindo NTT, Don Ara Kian, IAI NTT, Michael Tamara, PHRI NTT, Donny Winarso, Denny Salean, JAPNAS NTT, Perwakilan dari Dinas Perindag NTT dan Bank Indonesia Perwakilan NTT.

KADIN NTT berharap dua agenda besar ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat daya saing pengusaha lokal di level nasional maupun internasional. ***




Alfred Hotan, ASN Muda yang Jadi Sumber Cahaya di Tengah Tantangan

 

Kupang,nwartapedia.com  –  Dengan senyum ramah dan sikap sederhana, Alfred Hotan, S.Pd, menyambut setiap tamu yang datang ke ruang kerjanya. Di balik kesederhanaan pria kelahiran Kupang, 14 April 1989 itu, tersimpan dedikasi tinggi dalam mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kota Kupang.

Menjabat sebagai Penata Layanan Operasional dengan status P3K (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja), Alfred dikenal sebagai pribadi yang tekun, disiplin, dan ringan tangan.

Di lingkungan kerjanya, ia bukan sekadar pegawai, tetapi juga sosok motivator yang kerap menyuntikkan semangat bagi rekan-rekan seprofesinya.

“Jadilah sumber cahaya dalam kegelapan,” demikian motto hidup yang dipegang teguh oleh Alfred.

Bagi suami dari Wanda Lestari Rihi Iye dan ayah dari Achiera Djolincya Hotan ini, hidup bukan sekadar tentang bekerja, tetapi juga tentang memberi makna bagi orang-orang di sekitar.

“Tuhan adalah segalanya dalam hidup. Dalam setiap langkah, saya percaya bahwa jika kita bekerja dengan tulus dan disiplin, hasilnya akan mengikuti,” tutur Alfred saat ditemui di kantornya, Rabu (23/7).

Tinggal di Jalan Untung Surapati, Kelurahan Manulai II, Alfred tidak pernah merasa lelah untuk terus belajar dan berkembang.

Meski memulai karier dari titik yang tidak mudah, ia menapaki setiap tahap dengan penuh kesabaran. Sosoknya yang rendah hati membuatnya disegani baik oleh atasan maupun rekan sejawat.

Di mata banyak orang, Alfred bukan hanya ASN biasa. Ia adalah gambaran anak muda Kupang yang mampu membuktikan bahwa pengabdian dapat dilakukan dengan tulus tanpa banyak sorotan.

Lewat cara hidup yang sederhana dan prinsip kerja yang kuat, Alfred menjadi teladan bagi generasi muda, khususnya mereka yang memilih jalur pengabdian di birokrasi pemerintahan.

“Pak Alfred itu tipikal pekerja keras. Tidak banyak bicara, tapi hasil kerjanya selalu bisa diandalkan,” ungkap salah satu rekannya.

Di tengah dunia kerja yang penuh tantangan, Alfred Hotan tetap berdiri tegak, menjalani perannya sebagai pelayan publik dengan hati dan integritas.

Ia bukan hanya sumber cahaya di ruang kerjanya, tetapi juga inspirasi bagi banyak orang yang mengenalnya.(goe)




KKG Gugus IV Alak Gelar Supervisi Administrasi Sekolah: SDN Palsatu Jadi Tuan Rumah Evaluasi Kesiapan Tahun Ajaran Baru

 

Kupang,nwartapedia.com  — Dalam rangka memastikan kesiapan sekolah menyambut Tahun Ajaran Baru 2025/2026, Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus IV Kecamatan Alak melaksanakan kegiatan supervisi administrasi kepala sekolah yang dipusatkan di SD Negeri Palsatu, Kelurahan Manutapen, Kota Kupang, Rabu (24/7).

Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi peningkatan mutu tata kelola pendidikan, khususnya dalam aspek perencanaan dan penataan administrasi sekolah.

Empat kepala sekolah dari Gugus IV hadir sebagai peserta utama: Kepala SDN Palsatu Belmira Sagrada Ferrao Santos, M.Pd., Kepala SDI Palsatu Lusias Huku Koro, Kepala SDI Fatufeto II Maria Elisabeth Rae, S.Pd., dan Kepala SDI Oeba 4 Paulina Soares.

Supervisi dilakukan oleh dua pengawas dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Johni E. Rihi dan Marthen Boboy, yang secara menyeluruh menelaah berbagai dokumen penting seperti Buku Induk Siswa, Agenda Kegiatan Sekolah, Struktur Organisasi, hingga perangkat kurikulum.

Menurut Maria Elisabeth Rae, kegiatan ini sangat penting untuk menyamakan standar tata kelola sekolah serta mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki.

“Supervisi ini menjadi media refleksi untuk melihat sejauh mana kesiapan dokumen administrasi kami dan bagaimana menyempurnakannya sebelum tahun ajaran dimulai,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala SDI Oeba 4 Paulina Soares menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari proses pembelajaran antar kepala sekolah.

“Walaupun saya segera pensiun pada 1 Oktober mendatang, saya ingin meninggalkan semangat bahwa kelengkapan administrasi adalah fondasi penting dalam manajemen sekolah,” ujarnya.

Kepala SDI Palsatu, Lusias Huku Koro, menambahkan bahwa semua perangkat administratif telah dipersiapkan secara lengkap dan fungsional.

“Kami berharap pengawas memberikan evaluasi yang konstruktif agar dokumen ini benar-benar menjadi alat kerja yang relevan dan mendukung kualitas pembelajaran,” katanya.

Kepala SDN Palsatu selaku tuan rumah, Belmira Sagrada Ferrao Santos, menyampaikan apresiasinya atas semangat kolaboratif yang terbangun antarkepala sekolah dalam kegiatan ini.

Ia berharap kegiatan serupa bisa terus berlanjut sebagai sarana berbagi praktik baik antar satuan pendidikan.

Supervisi ini menegaskan komitmen KKG Gugus IV Kecamatan Alak untuk membangun manajemen pendidikan dasar yang profesional, transparan, dan adaptif terhadap dinamika pembelajaran.

Melalui penguatan administrasi, sekolah-sekolah diharapkan mampu menciptakan ekosistem belajar yang tertib, efektif, dan berkelanjutan.
(goe)




BPBD Kota Kupang Lanjutkan Proses Pemutakhiran Peta Risiko Bencana di Kelurahan Nunleu

 

Kupang,nwartapedia.com  — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kupang terus memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi potensi bencana dengan melakukan serangkaian kegiatan kajian risiko dan perencanaan berbasis komunitas di Kelurahan Nunleu. Kegiatan ini memasuki pertemuan ketiga yang digelar di Kantor Lurah Nunleu, Kamis (24/7/2025).

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Kupang, Elsje W.A. Sjioen, S.Sos., Ms, menjelaskan kepada media bahwa rangkaian kegiatan ini merupakan bagian dari program pembentukan Kelurahan Tangguh Bencana (KELTANA), yang diawali sejak beberapa waktu lalu.

“Pada pertemuan pertama, kami membentuk forum relawan dan menghasilkan nilai awal ketangguhan dari Kelurahan Nunleu. Selanjutnya di pertemuan kedua, kami melakukan kajian ancaman dan kapasitas sumber daya,” ujar Elsje.

Pada pertemuan ketiga yang berlangsung hari ini, tim BPBD bersama masyarakat dan forum relawan menyusun tiga peta penting, yakni peta ancaman, peta kerentanan, dan peta kapasitas.

Masing-masing peta ini disusun berdasarkan pengamatan dan pengalaman lokal serta hasil diskusi kelompok.

“Setelah peta-peta itu jadi, kami mengkaji dan mengklasifikasikan setiap wilayah apakah berada dalam zona risiko tinggi, sedang, atau rendah. Ini penting agar masyarakat tahu di bagian mana wilayah mereka rawan bencana seperti banjir, longsor, atau angin kencang,” jelasnya.

Lebih lanjut Elsje, usai istirahat siang, kegiatan akan dilanjutkan dengan penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) khusus untuk Kelurahan Nunleu, yang bersifat spesifik terhadap ancaman bencana dominan di wilayah tersebut.

“Misalnya, jika ancamannya longsor atau banjir, maka masyarakat bersama forum akan menyusun langkah-langkah mitigasi: apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana. Dengan begitu, masyarakat tidak panik dan tahu tindakan apa yang tepat,” tegas Elsje.

Program ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang BPBD Kota Kupang dalam membangun ketangguhan berbasis komunitas, dengan menjadikan masyarakat sebagai subjek utama dalam upaya pengurangan risiko bencana. (Mai)




Tinjau Langsung Lokasi Kebakaran di Oesapa, Wali Kota Tawarkan Rumah Jabatan untuk Warga Terdampak

 

Kupang,nwartapedia.com  — Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menunjukkan kepedulian dan respons cepat terhadap musibah kebakaran yang melanda kawasan Kampung Nelayan, Kelurahan Oesapa, Rabu siang (23/7) sekitar pukul 13.00 WITA.

Peristiwa itu menghanguskan 15 rumah dan berdampak pada 20 Kepala Keluarga (KK).

Meski dengan agenda yang padat, Wali Kota turun langsung ke lokasi pada malam harinya bersama tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kupang untuk memastikan kondisi warga terdampak dan menyerahkan bantuan secara langsung. Turut hadir di lokasi, Anggota DPRD Kota Kupang, Ihsan Darwis.

 “Kita bawa sendiri bantuannya dan langsung serahkan kepada warga yang terkena musibah,” ujar dr. Christian Widodo di sela kunjungannya.

Bantuan yang diserahkan meliputi kebutuhan dasar, seperti selimut, beras, minyak goreng, mie instan, peralatan tidur, perlengkapan dapur, serta alat makan dan minum.

Wali Kota menegaskan bahwa Pemerintah Kota Kupang harus selalu menjadi pihak pertama yang hadir saat warganya tertimpa musibah.

 “Saya ingin Pemerintah Kota Kupang itu responsif, cepat, tanggap, dan hadir duluan,” tegasnya.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun satu warga mengalami luka melepuh ringan.

“Tadi saya sudah lihat dan minta langsung dibawa ke Puskesmas. Hanya butuh perawatan ringan,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Wali Kota juga menawarkan Rumah Jabatan sebagai tempat tinggal sementara bagi warga yang belum memiliki penampungan.

 “Kalau belum ada tempat tinggal sementara, Rumah Jabatan terbuka untuk digunakan. Di sana ada mess yang bisa dimanfaatkan,” ungkapnya.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Kupang, Ricko Umar, menjelaskan bahwa pihaknya memprioritaskan penanganan kelompok rentan seperti balita, anak-anak, perempuan, dan lansia.

 “Menurut data yang kami terima, hanya ada satu lansia dan sudah dipindahkan ke rumah keluarganya. Selebihnya, balita, anak-anak, dan perempuan sudah diungsikan ke rumah keluarga yang letaknya tidak jauh dari lokasi kejadian,” terangnya.

Terkait tawaran pemanfaatan Rumah Jabatan dari Wali Kota, Ricko menambahkan,

“Sesuai arahan Pak Wali Kota tadi, nanti kami koordinasikan kembali. Apabila ada warga yang bersedia dievakuasi ke sana, akan kami bantu.”ungkapnya.

Hingga kini, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. Informasi awal yang dihimpun menyebutkan bahwa api diduga berasal dari hubungan arus pendek listrik di salah satu rumah warga.

Pemerintah Kota Kupang memastikan akan terus mendampingi warga hingga situasi kembali kondusif dan kebutuhan dasar mereka terpenuhi. ***




BPBD Kota Kupang Fasilitasi Pembentukan Kelurahan Tangguh Bencana di Bonipoi

 

Kupang,nwartapedia.com  — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kupang membuka secara resmi kegiatan Penguatan Kapasitas Kawasan melalui fasilitasi pembentukan Kelurahan Tangguh Bencana (Keltana) di Kelurahan Bonipoi, Kecamatan Kota Lama, Rabu (23/7).

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Kupang, Elsje W.A.Sjioen,S.Sos.,Msi didampingi oleh Forum Pengurangan Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim (PRB-API) Kota Kupang.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh Perwakilan Lurah Bonipoi, Ketua LPM, Karang Taruna, perwakilan RT/RW, PKK, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, perwakilan dari kaum disabilitas, media, serta para peserta lainnya.

Dalam sambutannya, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran Kepala BPBD Kota Kupang yang sedang mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) II di Surabaya dan baru akan kembali pada Oktober mendatang.

“Kami ditugaskan untuk mewakili beliau dan memastikan seluruh proses berjalan sesuai rencana. Mengapa kita membentuk Kelurahan Tangguh Bencana? Karena Kota Kupang memiliki 10 jenis ancaman bencana, yang kejadiannya meningkat akhir-akhir ini, dengan kerentanan yang juga semakin tinggi akibat pembangunan yang tidak berbasis pengurangan risiko, padatnya penduduk, urbanisasi, dan keterbatasan ruang,” jelasnya.

Elsje Sjioen menegaskan bahwa masyarakat adalah pihak pertama yang berhadapan dengan bencana, namun kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana masih rendah.

“Karena itu, Kelurahan Bonipoi dipilih sebagai salah satu sasaran karena termasuk rawan bencana dan masih memiliki kapasitas yang perlu ditingkatkan,” tegasnya.

Ia berharap kegiatan fasilitasi ini dapat meningkatkan kemampuan masyarakat sehingga ketika bencana terjadi, dampak yang ditimbulkan dapat diminimalisir.

“Terdapat 20 indikator dalam penilaian Kelurahan Tangguh Bencana, namun untuk tahap awal ini, fasilitasi difokuskan pada indikator-indikator utama sebagai embrio yang akan dikembangkan lebih lanjut,”harapnya.

Proses fasilitasi yang akan berlangsung dalam lima pertemuan ini diawali dengan Penilaian Ketangguhan Desa/Kelurahan (PKD) untuk mengetahui tingkat ketangguhan Bonipoi. Tingkat ketangguhan sendiri terbagi menjadi tiga level: pratama, madya, dan utama.

Lebih lanjut. Elsje Sjioen menjelaskan, masyarakat bersama fasilitator akan membentuk Forum PRB-API tingkat kelurahan, merekrut lima orang relawan inti yang menjadi ujung tombak penanggulangan bencana, serta melakukan kajian risiko bencana partisipatif.

“Kajian ini mencakup analisis ancaman, kerentanan, kapasitas, hingga penyusunan peta risiko bencana,” jelasnya.

Selain itu, warga akan didampingi untuk menyusun Rencana Penanggulangan Bencana Kelurahan, mengikuti pelatihan penanggulangan bencana, serta melakukan simulasi evakuasi mandiri dan pertolongan pertama.

Menurutnya, kegiatan ini juga memperkenalkan Keluarga Tangguh Bencana (Katana) sebagai bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan di tingkat keluarga. Sebagai bentuk apresiasi, panitia dan fasilitator menyiapkan empat tas siaga yang akan diberikan kepada peserta forum paling aktif, yang hadir penuh dan berkontribusi selama lima pertemuan.

“Empat peserta terbaik tersebut juga akan didata keluarganya untuk mengikuti program Katana pada tahun berikutnya,”pungkasnya.  (MI)




Efisiensi dan Eksistensi Guru Dalam Pembelajaran Mendalam 

Oleh: E. Nong Jonson sebagai Praktisi & Konsultan Pendidikan

 

Kupang,nwartapedia.com  –  Dalam dinamika pendidikan saat ini, guru tidak boleh sekadar “ada” tetapi harus “hadir”. Perbedaannya, “ada” merujuk pada keberadaan tubuh, sementara pikirannya tidak.

Sedangkan, “hadir” menurut Carl Rogers, seorang tokoh psikolog humanistik adalah keberadaan secara psikologis dan emosional pada momen dan tempat itu. guru tidak boleh menjalankan pembelajaran sebagai rutinitas belaka.    

Apalagi, peran guru telah berevolusi lebih dari sekadar penyampai informasi. Guru bukan hanya pengajar, tetapi fasilitator, pembimbing, dan sosok yang membentuk ekosistem pembelajaran yang mantap secara kognitif dan matang secara emosional-spiritual.

Sayangnya, dalam praktiknya, masih banyak ruang kelas yang hanya berfungsi sebagai tempat penyampaian pengetahuan semata. Suasana batin murid, dinamika psikologis, serta kebutuhan emosionalnya sering tak tersentuh.

Padahal, proses belajar bukan hanya soal apa yang diajarkan, tetapi bagaimana dan mengapa itu perlu diajarkan.

Murid datang ke kelas dengan latar belakang berbeda. Emosi yang beragam dan komptensi yang tidak serasi. Kehadiran guru sepenuhnya bukan hanya memahami materi yang akan diajarkan, tetapi juga mendalami bahwa setiap anak adalah dunia yang patut dihargai. Kelas bukan hanya tempat kognisi bekerja, melainkan tempat afeksi bertumbuh.

Dengan demikian, guru mutlak menciptakan ruang belajar yang aman, ramah, dan kontektula-esensial.

Langkah awal yang paling mendasar dalam mengajar adalah memahami dan menguasai materi. Namun lebih dari itu, guru harus memastikan bahwa materi yang disampaikan kontekstual dan esensial.

Artinya, materi harus dikaitkan dengan kehidupan nyata murid dan memiliki urgensi dalam kehidupan mereka. Materi yang terlalu abstrak atau jauh dari keseharian murid akan membuat pembelajaran kehilangan makna dan relevansi.

Tahapan awal kegiatan pembelajaran juga kerap kali disepelekan. Padahal, inilah pintu masuk utama yang menentukan kualitas interaksi pembelajarn selanjutnya.

Guru harus mampu membedakan antara apersepsi, pertanyaan pemantik, motivasi, dan penyampaian tujuan pembelajaran. Masing-masing memiliki fungsi psikologis yang berbeda dalam membangun kesiapan dan rasa ingin tahu murid.

Lebih jauh, guru juga harus menjelaskan mengapa topik itu penting untuk dipelajari. Hal ini akan menumbuhkan kesadaran murid atas makna belajar dan meingkatkan keterlibatan optimal bukan hanya karena tuntutan nilai.

Langkah inti pembelajaran tidak bisa disamakan untuk semua topik. Guru wajib menyesuaikan model dengan metode pembelajaran yang tepat. Tidak semua materi cocok dengan ceramah, dan tidak semua topik efektif diajarkan dengan diskusi.

Model pembelajaran seperti problem-based learning, project-based learning, atau inquiry learning bisa menjadi pilihan yang memberi ruang partisipasi aktif murid dan mengaktifkan keterampilan berpikir kritis mereka.

Pada bagian akhir pembelajaran, guru sebaiknya tidak terburu-buru menutup kelas. Kegiatan penutup yang baik mencakup simpulan dari murid, bukan semata-mata dari guru.

Anak-anak perlu diberikan kesempatan untuk merangkum kembali apa yang mereka dapatkan, berbagi kesan, dan melakukan refleksi.

Kemudian, guru dapat memberikan penegasan ulang dan menjelaskan korelasi antara materi hari ini dengan pembelajaran berikutnya. 

Aktivitas ini akan membantu murid memahami kesinambungan ilmu. Aspek bahasa dalam pembelajaran kerap diabaikan. Padahal sangat krusial dalam membentuk suasana kelas.

Intonasi, artikulasi, jeda, dan nada suara harus disesuaikan dengan tingkat daya tangkap anak. Bahasa yang digunakan guru dapat membangun atau meruntuhkan semangat belajar murid.

Tidak boleh ada kekerasan verbal, seperti membandingkan satu anak dengan yang lain, memberi label negatif, atau menggunakan sindiran. Nama anak pun hanya boleh disebut dalam konteks positif.

Penggunaan contoh dalam pembelajaran perlu diperhatikan dengan cermat. Jika hendak memberikan ilustrasi dari perilaku yang negatif, guru tidak perlu menyebutkan nama anak.

Cukup gambarkan kasusnya secara umum. Sebaliknya, ketika memberikan apresiasi atau menyoroti hal positif, sebutlah nama anak sebagai bentuk penguatan identitas. Ini akan meningkatkan harga diri dan kepercayaan diri murid.

Penampilan guru juga merupakan aspek penting. Penampilan di sini bukan hanya soal pakaian, tetapi mengarah pada penguasaan kelas, penguasaan materi, serta kemampuan merespon sikap-sikap tak terduga dari suanana belajar murid. Guru yang tenang, tanggap, dan sabar akan menciptakan rasa aman dan nyaman.

Penguasaan emosi sangat penting dalam menghadapi dinamika ruang kelas yang tak jarang penuh kejutan.

Guru tidak boleh bersikap reaktif melainkan responsif terhadap perilaku anak. Anak yang tampak mengganggu atau tidak fokus seringkali bukan karena ingin melawan, tetapi karena ada kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi.

Maka, guru perlu mempraktikkan empati dalam berinteraksi. Bertanya dengan lembut, menatap mata anak, atau sekadar memberi senyuman dapat menjadi jembatan yang menyelamatkan suasana kelas.

Mengajar adalah seni yang memadukan ilmu, intuisi, dan cinta. Guru yang baik tidak hanya fokus pada target kurikulum, tetapi juga pada pertumbuhan murid sebagai individu yang utuh.

Ia mengukur keberhasilannya bukan hanya dari nilai ujian, tetapi dari perubahan sikap, kebiasaan belajar, dan semangat murid. Pada hakikatnya, seorang guru memang harus mantap dalam tiga aspek.

Apalagi dalam konteks pembelajaran mendalam. Ketiga aspek itu adalah memahami murid (komptensi, afeksi, dan psikomotorik), menguasahai materi ajar, dan menciptakan cara mengajar di dalam ruang kelas. 

Sebab, pendidikan sejatinya adalah proses humanisasi. Ruang kelas harus menjadi tempat yang memanusiakan, bukan menumbuhkan stres akademik dan tekanan psikologis.

Setiap anak punya cara belajar dan daya serap yang unik. Guru yang menyadari hal ini tidak akan memaksakan satu pendekatan untuk semua, tetapi akan mencari cara yang paling bermakna bagi setiap individu. Menjadi guru sejati bukan hanya tentang menguasai metode, tetapi tentang hadir sepenuh hati. 

Guru perlu terus belajar, merenung, dan mengembangkan diri agar dapat menciptakan ruang kelas yang tidak hanya cerdas, tetapi juga hangat dan bermakna.

Mari membangun kelas sebagai tempat di mana anak-anak merasa dihargai, dicintai, dan didorong untuk menjadi versi terbaik dari dirinya.

Bagi para pendidik, pahami enam aspek krusial dalam pembelajaran, yaitu kuasai materi, perhatikan langkah awal, langkah inti, langkah akhir, bahasa, dan penampilan.

Jadikan ini sebagai pijakan refleksi dan perbaikan berkelanjutan. Sebab di tangan guru yang penuh kesadaran, ruang kelas akan menjadi tempat tumbuhnya peradaban. (MI)