Tes Bersama SKO, Spobnas, PPLD, PPLMD, dan PPLPD Jadi Langkah Awal NTT Menuju PON 2028

Kupang,nwartapedia.com – Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Nusa Tenggara Timur menggelar tes bersama bagi atlet SKO, Spobnas, PPLD, PPLMD, Disabilitas/NPC dan PPLPD yang berlangsung di Kota Kupang, Jumat (6/2/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian penting dari tahapan pembinaan prestasi olahraga NTT dalam rangka persiapan menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.

Plt. Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi NTT yang diwakili oleh Kepala Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Dispora Provinsi NTT, Dr. Frans Sales, S.Pd, MM, dalam membuka kegiatan mengatakan bahwa tes tersebut merupakan rambu awal dan fondasi pembinaan atlet secara terukur dan berkelanjutan.

“Tes hari ini adalah rambu menuju PON 2028. Sebagai calon tuan rumah, salah satu syarat dasar yang harus dipenuhi adalah kesiapan prasarana olahraga, serta ketersediaan akomodasi dan penginapan yang memadai,” ujar Frans Sales.

Ia menegaskan bahwa pembinaan prestasi harus dilakukan melalui tahapan yang jelas, dimulai dari diagnosa atau analisis kecabangan olahraga. Tahapan tersebut meliputi pemeriksaan kesehatan, tes psikologi atau mental, serta tes fisik dan keterampilan atlet.

“Hasil tes ini akan menjadi data awal. Data tersebut akan diolah dan dijadikan dasar rekomendasi bagi pelatih dalam menyusun program latihan yang tepat dan berbasis kebutuhan atlet,” jelasnya.

Menurut Frans, setelah data dianalisis, pelatih akan menyusun program latihan dan mempresentasikannya untuk dievaluasi bersama. Dari proses itu akan muncul catatan dan masukan guna menyempurnakan program, sebelum akhirnya masuk pada tahap pembentukan karakter dan pelaksanaan latihan secara intensif.

“Dengan sistem pembinaan yang baik, kita berharap dapat melahirkan atlet-atlet NTT yang berkualitas, berkarakter, dan siap bersaing membawa nama daerah di PON 2028,” tambahnya.

Koordinator Tes, Dr. Lukas M. Boleng, M.Kes, AIFO, menjelaskan bahwa tes ini merupakan tes awal untuk mengetahui kondisi fisik atlet, khususnya pada cabang olahraga bela diri, atletik, serta atlet disabilitas.

“Tes ini menjadi acuan awal. Tiga bulan ke depan akan dilakukan tes ulang untuk melihat apakah terjadi peningkatan atau justru penurunan performa atlet,” ujarnya.

Sementara itu, Dr. Jhony Lumba, S.Pd, M.Pd, selaku tim pelaksana, menyampaikan terima kasih kepada Dispora NTT, khususnya Bidang Peningkatan Prestasi, yang telah memberikan ruang dan kesempatan bagi atlet untuk dipersiapkan secara serius menuju PON 2028.

Akademisi olahraga Jhony Lumba juga berharap agar NTT tidak hanya menjadi tuan rumah, tetapi mampu meraih prestasi membanggakan.

“NTT jangan hanya menjadi penonton di rumah sendiri. Kita harus mampu meraih prestasi yang bagus,” tegasnya. Ia juga mengapresiasi fasilitas pembinaan atlet yang telah disiapkan Pemerintah Provinsi NTT dengan standar nasional.

Pengelola Popnas, PPLM, dan PPLS, Dudy Baranusa, SE, menjelaskan bahwa tes ini merupakan hasil kerja sama sentra pembinaan Dispora dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan melalui Sko Spobnas.

“Tes ini diikuti sekitar 300 lebih atlet dari berbagai cabang olahraga dan perguruan daerah. Cabang olahraga prioritas di sentra PPLD masih didominasi cabang bela diri yang selama ini menjadi penyumbang medali,” ungkapnya.

Ia menambahkan, tes akan dilaksanakan secara berkala sebanyak tiga kali dalam setahun, setiap triwulan, guna memantau perkembangan atlet dan memastikan kesiapan mereka menghadapi kejuaraan dan PON 2028 yang waktunya semakin dekat.

Dengan pelaksanaan tes bersama ini, Dispora NTT optimistis pembinaan atlet dapat berjalan lebih terarah dan terukur, sehingga NTT siap menjadi tuan rumah sekaligus berprestasi di PON 2028 mendatang. (MI)




BPS Provinsi NTT Rilis Data Ketenagakerjaan: Angkatan Kerja Capai 3,11 Juta Orang, Pertanian Masih Dominan

Kupang, nwartapedia.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merilis perkembangan ketenagakerjaan NTT berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) November 2025, dalam rilis resmi yang disampaikan pada Kamis (5/2/2026).

BPS mencatat jumlah angkatan kerja di NTT pada November 2025 mencapai 3,11 juta orang, mengalami peningkatan sebanyak 0,02 juta orang dibandingkan kondisi Agustus 2025. Kenaikan ini menunjukkan bertambahnya penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi.

Sejalan dengan itu, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) NTT tercatat sebesar 75,65 persen, meningkat 0,10 persen poin dibandingkan Agustus 2025.

Angka ini mencerminkan meningkatnya keterlibatan penduduk usia kerja dalam pasar kerja.

Jumlah penduduk bekerja pada November 2025 tercatat sebanyak 3,01 juta orang, atau naik 0,02 juta orang dibandingkan periode Agustus 2025.

Peningkatan tersebut mengindikasikan adanya perbaikan kondisi ketenagakerjaan di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Ditinjau dari lapangan usaha, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih menjadi sektor dengan peningkatan jumlah penduduk bekerja terbesar.

Pada November 2025, sektor ini mengalami penambahan tenaga kerja sebanyak 0,02 juta orang, sekaligus menegaskan perannya sebagai sektor utama penopang perekonomian dan penyerap tenaga kerja terbesar di NTT.

BPS Provinsi NTT berharap, peningkatan jumlah angkatan kerja dan penduduk bekerja ini dapat terus didorong melalui penguatan sektor-sektor produktif, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta perluasan kesempatan kerja yang berkelanjutan di seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur. (MI)




Ekspedisi NTT Resmi Dimulai, LPS II Surabaya Hadirkan Layanan Kesehatan dan Literasi Keuangan di Fatukoa

Kupang, nwartapedia.com – Kantor Perwakilan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) II Surabaya resmi memulai rangkaian Ekspedisi Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan menyelenggarakan Kegiatan Sosial Kemasyarakatan (KSK) berupa pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga Kelurahan Fatukoa, Kota Kupang, Kamis (5/2/2026).

Kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen LPS dalam mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat sekaligus memperkuat kehadiran lembaga negara di tengah masyarakat.

Bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Kupang, layanan yang diberikan meliputi pemeriksaan tekanan darah, pengecekan kondisi kesehatan umum, hingga konsultasi medis.

Sebanyak 75 warga Kelurahan Fatukoa memanfaatkan layanan tersebut. Antusiasme warga terlihat tinggi, mencerminkan besarnya kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan yang mudah dijangkau dan gratis.

Mendorong Kesadaran Hidup Sehat Sejak Dini

Melalui kegiatan ini, LPS mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan dengan melakukan deteksi dini terhadap kondisi tubuh, sehingga potensi gangguan kesehatan dapat diantisipasi lebih awal.

Tidak hanya menyasar aspek kesehatan jasmani, LPS KPW II Surabaya juga menghadirkan edukasi literasi keuangan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan.

Edukasi disampaikan melalui kuis interaktif yang dipandu langsung oleh pegawai LPS, sehingga masyarakat dapat memahami peran dan fungsi LPS dengan cara yang sederhana, komunikatif, dan menyenangkan.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial LPS kepada masyarakat. Melalui Ekspedisi NTT, kami ingin menghadirkan manfaat yang nyata dan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya di wilayah kerja LPS,” ujar Bambang S. Hidayat, Kepala KPW LPS II Surabaya.

Pemerintah Kelurahan Beri Apresiasi

Pelaksana Tugas (Plt.) Lurah Fatukoa, Oktavianus Nifu, yang membuka kegiatan secara resmi, menyampaikan apresiasi atas kepedulian LPS terhadap masyarakat di wilayahnya.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada LPS atas kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis ini. Manfaatnya sangat dirasakan oleh masyarakat Fatukoa dan kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut ke depannya,” ungkapnya.

Dukungan penuh juga diberikan oleh Dinas Kesehatan Kota Kupang dengan menurunkan tenaga medis yang terlibat langsung dalam pemeriksaan dan konsultasi kesehatan bagi warga.

Melalui Ekspedisi NTT, LPS berharap dapat mempererat hubungan dengan masyarakat sekaligus meningkatkan pemahaman publik terhadap peran strategis LPS dalam menjaga kepercayaan masyarakat dan stabilitas sistem perbankan nasional.

Rangkaian Ekspedisi NTT selanjutnya akan dilanjutkan ke berbagai wilayah lain di Nusa Tenggara Timur guna memperluas jangkauan edukasi dan kontribusi sosial LPS di kawasan Timur Indonesia.

Tentang Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) merupakan lembaga independen yang memiliki fungsi menjamin simpanan nasabah serta turut menjaga stabilitas sistem perbankan nasional sesuai kewenangannya.

Kantor Perwakilan LPS II Surabaya membawahi wilayah kerja Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan.

Kontak Media: Kantor Perwakilan LPS II Surabaya Situs Web: www.lps.go.id� Instagram: @lps_idic (MI)




Membedah Kesadaran Retrospektif atas Kasus Kematian Anak Sekolah Dasar di NTT

Oleh: E. Nong Yonson sebagai Praktisi dan Konsultan Pendidikan

Kupang, nwartapedia.com — Respons publik terhadap kasus kematian seorang anak Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada pada 29 Januari 2026 muncul dari berbagai arah. Gubernur NTT menyatakan rasa malu sekaligus mempertanyakan kehadiran Pemerintah Daerah Ngada.

Para pemerhati pendidikan menyoroti suasana sekolah, masyarakat mempertanyakan sasaran program bantuan pemerintah, sementara isu broken home mencuat pascakejadian. Ungkapan duka mengalir deras, namun bersamaan dengan itu muncul pula banyak tanda tanya yang belum terjawab.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengulas kronologi peristiwa. Fokus utama tulisan ini adalah membedah kesadaran retrospektif kita atas tragedi tersebut.

Kesadaran retrospektif adalah pemahaman yang baru muncul setelah sebuah peristiwa terjadi. William James, dalam The Principles of Psychology (1890), menyebut bahwa manusia sering kali baru “menyadari apa yang dialami” setelah peristiwa itu berlalu.

Kita ramai membicarakan sesuatu ketika ia telah menjadi akibat, tetapi lalai memperbincangkannya saat masih berupa sebab.

Kepedulian yang datang terlambat ini menandakan bahwa “pantauan kita” patut dipertanyakan. Kita melihat dengan mata yang mana, atau dengan mata siapa? “Mata yang mana” merujuk pada fenomena apa yang kita anggap prioritas, sedangkan “mata siapa” berkaitan dengan cara dan sumber data yang kita gunakan. Ketidakjelasan ini membentuk lingkaran setan: saling menyalahkan, berputar-putar, tanpa penyelesaian yang substantif.

Jika menelisik prinsip negara dalam dunia pendidikan, ada satu fondasi yang wajib dikaji secara kritis, yakni kesetaraan dan keadilan pendidikan.

Negara hadir untuk mengurangi kesenjangan melalui beasiswa, pendidikan gratis atau bersubsidi, serta program afirmasi bagi daerah tertinggal. Prinsip dasarnya jelas: yang lemah dibantu, bukan ditinggalkan.

Namun ketika prinsip ini dikorelasikan dengan tragedi di Ngada, kita dipaksa mengakui bahwa kegagalan telah terjadi. Kasus ini sulit untuk dibantah sebagai bentuk “ditinggalkan”.

Kita semua terseret dalam tamparan reflektif yang keras. Air mata duka tidak serta-merta menghapus kelalaian kolektif. Kematian anak ini bukan semata soal kemiskinan ekstrem, melainkan cermin kegagalan negara dalam menjalankan amanat UUD 1945 Pasal 34 ayat (1): “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.”

Dalam amanat konstitusi tersebut, tersirat tanggung jawab negara yang harus dijalankan secara nyata dan merata, yaitu:

1. Memberikan akses pendidikan bagi fakir miskin,

2. Menyediakan pendidikan gratis atau bantuan pendidikan,

3. Melindungi kelompok yang secara sosial dan ekonomi tertindas agar tidak terputus dari pendidikan.

Anak ini mengakhiri hidupnya karena ibunya tidak mampu membelikan buku dan pena—kebutuhan yang sangat sederhana, tetapi substansial.

Ini bukan persoalan uang jajan, melainkan fasilitas belajar dasar. Pertanyaan reflektifnya: di mana keberadaan bantuan pendidikan dan perlindungan sosial negara sebagaimana poin dua dan tiga di atas?

Semua pertanyaan itu baru mengemuka setelah negara gagal menyelamatkan yang paling lemah. Inilah yang disebut kesadaran retrospektif kesadaran yang lahir ketika segalanya sudah terlambat.

Jika dibedah lebih dalam, akar persoalan ini sesungguhnya dapat dideteksi lebih awal. Setiap anak yang masuk jenjang PAUD, TK, hingga SD mengisi formulir yang memuat latar belakang sosial dan ekonomi keluarga.

Data ini direkam untuk memperoleh gambaran menyeluruh tentang kondisi anak. Jika demikian, pertanyaannya: apakah data tersebut benar-benar dimiliki satuan pendidikan? Jika dimiliki, digunakan untuk kepentingan apa?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk mengevaluasi sistem pendataan sekaligus mencegah terulangnya tragedi serupa. Kasus ini harus menjadi momentum pembenahan menyeluruh mulai dari prioritas negara dalam kebijakan pendidikan, hingga pendataan serius terhadap anak-anak dari keluarga rentan dan broken home.

Negara wajib menghadirkan program yang jauh lebih serius, dijalankan oleh pelaksana yang bekerja bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan dengan tanggung jawab yang bermutu.

Pelayanan publik harus dibenahi. Kita memang tidak bisa mengubah kejadian, tetapi kejadian ini dapat dan seharusnya mengubah kita untuk mengambil langkah-langkah preventif.

Pemerintah, melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Sosial, serta perangkat terkait lainnya, perlu segera melakukan identifikasi.

Anak-anak yang terindikasi mengalami trauma atau depresi akibat tekanan ekonomi dalam dunia pendidikan harus didata dan didampingi secara psikologis.

Upaya ini bukan hanya bentuk empati, tetapi langkah konkret untuk mencegah tragedi serupa.

Duka yang kita rasakan hari ini adalah duka yang ditulis dengan darah. Ia sekaligus menjadi pengingat akan kelalaian kolektif kita. Sudah saatnya kita berbenah dengan lebih serius, lebih peka, dan lebih bertanggung jawab. (MI)




Prihatin tragedi anak SD di Ngada, PSI NTT Siap Bantu Anak-anak Kurang Mampu

Kupang, nwartapedia.com — Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Provinsi Nusa Tenggara Timur menyampaikan duka cita mendalam atas tragedi meninggalnya seorang anak Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada yang diduga bunuh diri akibat tekanan karena tidak mampu membeli buku dan pena.

Ketua DPW PSI Provinsi NTT, dr. Christian Widodo, menyatakan keprihatinan mendalam atas peristiwa memilukan yang terjadi pada Kamis (29/1/2026) tersebut.

Ia menegaskan bahwa tragedi ini harus menjadi alarm keras bagi semua pihak tentang masih adanya anak-anak yang kesulitan mengakses kebutuhan dasar pendidikan.

“Di saat seperti ini, kami di PSI NTT memilih untuk tidak diam. Kami ingin bergerak dan hadir dengan kemampuan yang kami miliki,” ujar dr. Christian Widodo dalam keterangannya pada Kamis (5/2/2029).

Menurutnya, pendidikan adalah hak dasar setiap anak dan tidak seharusnya ada anak yang merasa putus asa hanya karena keterbatasan ekonomi untuk membeli perlengkapan sekolah.

PSI NTT pun membuka ruang partisipasi publik untuk bersama-sama membantu anak-anak yang membutuhkan.

“Kami mengajak masyarakat, jika mengetahui sekolah atau komunitas anak-anak yang membutuhkan perlengkapan sekolah seperti buku, pena, atau alat tulis lainnya, silakan menghubungi kami. PSI NTT siap membantu semampunya,” tegasnya.

Sebagai bentuk kepedulian nyata, PSI NTT menyediakan nomor kontak yang dapat dihubungi untuk penyaluran bantuan, yakni 0852 5332 9884 (Junaidin).

PSI NTT berharap tragedi ini menjadi momentum bagi seluruh elemen masyarakat, pemerintah, dan lembaga terkait untuk lebih memperhatikan kondisi sosial dan psikologis anak-anak, khususnya mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu.

“Tidak boleh lagi ada anak yang kehilangan masa depannya karena persoalan sederhana seperti buku dan pena,” tutup dr. Christian Widodo. (MI)




Ekspedisi NTT LPS II Hadir di Fatukoa, Ratusan Warga Nikmati Layanan Kesehatan Gratis

Kupang, nwartapedia.com – Kepedulian terhadap kesehatan masyarakat kembali ditunjukkan Kantor Perwakilan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) II melalui Kegiatan Sosial Kemasyarakatan (KSK) Pemeriksaan Kesehatan Gratis yang digelar di Gedung Gereja GPDI Debora Fatukoa, Kamis (5/2/2026).

Kegiatan yang menjadi bagian dari Ekspedisi NTT LPS II ini secara resmi dibuka oleh Pelaksana Tugas (Plt) Lurah Fatukoa, Oktovianus Nifu, dan mendapat sambutan antusias dari warga, khususnya masyarakat RW 02 Kelurahan Fatukoa.

Dalam sambutannya, Oktovianus Nifu menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada LPS II yang telah menghadirkan pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat.

Menurutnya, kegiatan tersebut sangat membantu warga sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan sebagai modal utama dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

“Kesehatan adalah fondasi utama kehidupan. Jika tubuh tidak sehat, maka pekerjaan dan aktivitas apa pun tidak dapat berjalan optimal. Karena itu, kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas pelayanan kesehatan gratis yang diberikan kepada masyarakat hari ini,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan sosial seperti ini dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak warga di masa mendatang.

Pemerintah Kelurahan Fatukoa, kata dia, siap mendukung dan berkolaborasi demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Kami berharap ke depan LPS dapat kembali hadir dengan kegiatan serupa di Fatukoa. Ini bentuk perhatian yang sangat berarti bagi warga kami,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan LPS II Surabaya, Bambang S. Hidayat, menjelaskan bahwa LPS memiliki peran strategis dalam menjamin simpanan nasabah perbankan serta menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.

Di luar tugas tersebut, LPS juga berkomitmen menjalankan tanggung jawab sosial dengan hadir langsung di tengah masyarakat.

“Kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis ini merupakan wujud nyata kepedulian LPS kepada masyarakat. Seluruh layanan hari ini diberikan secara gratis, tanpa dipungut biaya apa pun,” tegas Bambang.

Ia juga mengungkapkan bahwa wilayah kerja Kantor Perwakilan LPS II Surabaya mencakup Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, hingga Kalimantan. Karena itu, pihaknya membuka peluang untuk kembali menggelar kegiatan sosial serupa di NTT, termasuk di Kelurahan Fatukoa.

Selain layanan pemeriksaan kesehatan, peserta kegiatan juga menerima paket makanan sehat sebagai bentuk dukungan terhadap penerapan pola hidup sehat. Bambang berharap kegiatan tersebut benar-benar memberikan manfaat dan mempererat hubungan silaturahmi antara LPS dan masyarakat.

“Kami berharap kegiatan ini berjalan lancar dan tertib, serta manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh bapak dan ibu semua. Terima kasih atas sambutan hangat dari masyarakat Fatukoa,” pungkasnya.

Kegiatan ini mendapat respons positif dari warga dan menjadi bagian penting dari rangkaian Ekspedisi NTT LPS II, yang bertujuan memperkuat kehadiran negara serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui aksi nyata di bidang sosial dan kesehatan. (MI)




Klinik Olahraga Kupang Luncurkan Tiga Buku Karya Dr. Fransiskus Sales dan Gelar Seminar Pengembangan Olahraga di NTT

Kupang,nwartapedia.com  –  PT Klinik Olahraga Kupang akan menggelar Launching Buku dan Seminar Olahraga sebagai bagian dari upaya penguatan literasi dan pengembangan olahraga di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Klinik Olahraga Kupang bersama Dispora NTT, KONI NTT, dan IGORNAS NTT, yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 28 Februari 2026, bertempat di GOR Flobamoraya, Oepoi, Kupang.

Dalam kegiatan tersebut, akan diluncurkan tiga buku olahraga karya Dr. Fransiskus Sales, S.Pd, MM, yang selama ini dikenal sebagai akademisi, praktisi, sekaligus penggiat olahraga di NTT.

Adapun ketiga buku yang akan di-launching yakni “Strategi Pembelajaran Atletik”, “Strategi Pembelajaran Bola Voli”, dan “Strategi Kepelatihan Menuju Prestasi Olahraga”.

Ketiga buku tersebut diterbitkan melalui Penerbit Deepublish, Yogyakarta, hasil kolaborasi yang baik dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Buku-buku ini telah memiliki dasar hukum berupa ISBN dan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dengan masa perlindungan selama 70 tahun, serta memberikan royalti tahunan kepada penulis.

 

Dr. Fransiskus Sales kepada media ini menjelaskan, penulisan buku-buku tersebut merupakan bentuk transfer pengetahuan dan pengalaman empiris yang ia peroleh sejak aktif sebagai atlet atletik pada tahun 1989–1990 di tingkat daerah, provinsi, hingga nasional.

Pengalaman tersebut berlanjut saat dirinya berkiprah sebagai guru olahraga, dosen luar biasa di berbagai perguruan tinggi di Kupang, pelatih dan asisten pelatih atletik, hingga pengurus berbagai organisasi olahraga seperti PASI NTT, KONI Kota dan Provinsi NTT, Tarung Derajat, Wushu, TBIN, serta Asprov NTT.

“Pengalaman empiris harus dituangkan dalam bentuk tulisan agar menjadi legacy dan warisan berharga bagi generasi muda bangsa, khususnya di NTT,” ungkapnya.

Kegiatan launching buku ini akan diintegrasikan dengan Seminar Olahraga bertema “Strategi Pengembangan Olahraga di NTT”.

Seminar ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya olahraga bagi kesehatan, kebugaran, kualitas hidup, serta prestasi. Selain itu,

kegiatan ini juga diharapkan dapat membangun budaya olahraga sebagai gaya hidup (lifestyle) masyarakat NTT sekaligus mencegah penyakit akibat kurang gerak (hipokinetik).

Peserta seminar berasal dari unsur Dispora dan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota se-NTT, KONI Provinsi dan Kabupaten/Kota, pengurus cabang olahraga, IGORNAS NTT, dosen dan mahasiswa PJKR, ASN, serta masyarakat umum. Seluruh peserta akan memperoleh sertifikat elektronik dari PT Klinik Olahraga Kupang, Dispora NTT, KONI NTT, dan IGORNAS NTT.

Panitia menetapkan kontribusi pendaftaran sebesar Rp50.000 per orang untuk mendukung operasional kegiatan dan pengadaan sertifikat.

Selain itu, panitia juga menyediakan penjualan buku karya Dr. Fransiskus Sales dengan harga bervariasi, yakni Strategi Pembelajaran Atletik seharga Rp120.000, Strategi Pembelajaran Bola Voli Rp110.000, dan Strategi Kepelatihan Menuju Prestasi Olahraga Rp185.000.

Panitia mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya insan olahraga dan pendidikan, untuk hadir dan memanfaatkan momentum ini. Kegiatan akan dimulai pukul 16.00 WITA hingga selesai, dengan berbagai door prize menarik bagi peserta.

“Salam olahraga, jaya NTT, NTT emas, NTT juara. Ayo bangun NTT melalui olahraga,” pungkas Dr. Fransiskus Sales selaku Owner PT Klinik Olahraga Kupang. (MI)




BPS NTT Catat Lonjakan Angkutan Udara di Akhir 2025, Penumpang Laut Anjlok

Kupang, nwartapedia.com — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat perkembangan transportasi NTT Desember 2025, Senin (2/2/2026).

Data tersebut menunjukkan kinerja angkutan udara mengalami lonjakan signifikan, sementara angkutan laut justru mencatat penurunan tajam sepanjang Desember 2025.

Pada periode tersebut, jumlah penerbangan angkutan udara tercatat sebanyak 3.611 penerbangan.

Angka ini meningkat 5,15 persen dibandingkan November 2025 dan melonjak 17,39 persen dibandingkan Desember 2024.

Dari total penerbangan itu, 1.809 penerbangan merupakan keberangkatan dan 1.802 penerbangan merupakan kedatangan.

Bandara El Tari Kupang masih menjadi bandara dengan kontribusi penerbangan terbesar, yakni 37,75 persen dari total penerbangan di NTT.

Selanjutnya, Bandara Komodo Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, menyumbang 23,68 persen, seiring meningkatnya arus wisata dan mobilitas masyarakat di wilayah barat NTT.

Sejalan dengan meningkatnya frekuensi penerbangan, jumlah penumpang angkutan udara pada Desember 2025 mencapai 247.348 orang.

Jumlah tersebut tumbuh 10,05 persen dibandingkan November 2025 dan meningkat 9,46 persen dibandingkan Desember 2024, mencerminkan tingginya pergerakan masyarakat menjelang tutup tahun.

Sebaliknya, sektor angkutan laut mengalami perlambatan. BPS NTT mencatat jumlah pelayaran angkutan laut pada Desember 2025 sebanyak 5.170 pelayaran, turun 6,90 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan menurun 4,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Tak hanya itu, jumlah penumpang angkutan laut juga tercatat sebanyak 429.391 orang, turun 0,65 persen dibandingkan November 2025 dan merosot tajam hingga 57,29 persen dibandingkan Desember 2024.

Penurunan signifikan ini diduga dipengaruhi oleh peralihan masyarakat ke transportasi udara serta kondisi cuaca pada akhir tahun.

Dari total penumpang angkutan laut tersebut, 219.485 orang tercatat sebagai penumpang turun, sementara 209.906 orang merupakan penumpang naik.

BPS NTT menegaskan, dinamika sektor transportasi ini menjadi cerminan perubahan pola mobilitas masyarakat serta perkembangan aktivitas ekonomi dan pariwisata di Nusa Tenggara Timur. (MI)




NTP NTT Januari 2026 Masih Bertahan di Atas 100 Meski Alami Penurunan Tipis

Kupang, nwartapedia.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali merilis perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) Bulan Januari 2026 pada Senin (2/2/2026).

NTP Januari 2026 dihitung menggunakan tahun dasar 2018 (2018=100) dan mencerminkan perbandingan antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani.

Dalam rilis tersebut, NTP NTT Januari 2026 tercatat sebesar 101,11, atau mengalami penurunan tipis sebesar 0,034 persen dibandingkan dengan NTP Desember 2025.

Penurunan ini disebabkan oleh kenaikan indeks harga yang diterima petani yang lebih lambat dibandingkan dengan kenaikan indeks harga yang dibayar, terutama untuk kebutuhan konsumsi dan biaya produksi.

Penghitungan NTP mencakup lima subsektor utama pertanian. Pada Januari 2026, subsektor peternakan menjadi penyumbang NTP tertinggi dengan capaian 105,65, disusul subsektor padi dan palawija sebesar 103,55.

Kedua subsektor ini masih berada di atas angka 100, yang menandakan kondisi tukar petani relatif menguntungkan.

Sementara itu, subsektor hortikultura tercatat sebesar 94,08, tanaman perkebunan rakyat sebesar 95,15, dan subsektor perikanan sebesar 97,81.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pendapatan petani di subsektor-sektor tersebut belum sepenuhnya mampu mengimbangi pengeluaran yang harus ditanggung.

Selain perkembangan NTP, BPS juga mencatat adanya kenaikan indeks konsumsi rumah tangga di daerah perdesaan sebesar 0,59 persen pada Januari 2026.

Kenaikan ini turut memberikan tekanan terhadap daya beli petani dan memengaruhi pergerakan NTP secara bulanan.

BPS Provinsi NTT menegaskan bahwa NTP merupakan indikator strategis untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani.

Data ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dan perumusan kebijakan pemerintah daerah dalam memperkuat sektor pertanian serta menjaga daya beli petani di Nusa Tenggara Timur. (MI)




Gubernur NTT: Berkhmawan Simponi Bukti Kualitas dan Kontribusi Seminari Mataloko Jelang Seabad

Kupang, nwartapedia.com — Gubernur Nusa Tenggara Timur memberikan apresiasi tinggi terhadap pentas seni Berkhmawan Simponi yang dibawakan para siswa Seminari Santo Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko di Auditorium Universitas Nusa Cendana (Undana), Sabtu (31/1/2026).

Saat membuka kegiatan tersebut, Gubernur NTT menegaskan bahwa apa yang ditampilkan para seminaris merupakan wujud nyata konsep One School One Product (OSOP), di mana sekolah mampu melahirkan karya unggulan yang bernilai edukatif, artistik, dan inspiratif.

Menurutnya, kreativitas yang dituangkan dalam bentuk lagu, seni, dan teater menunjukkan kualitas pembinaan seminari yang terus berkembang seiring tuntutan zaman.

Gubernur yang juga merupakan mantan seminaris Kisol, Manggarai, menyebut bahwa Seminari Mataloko sebagai seminari tertua di NTT telah melahirkan banyak alumni yang berkiprah di berbagai bidang dan memberi kontribusi besar bagi gereja, bangsa, serta pembangunan daerah.

Ia pun mengajak seluruh pihak untuk terus mendukung keberlangsungan dan kemajuan seminari tersebut yang pada tahun 2029 akan memasuki usia satu abad.

Lebih lanjut, Gubernur NTT menyoroti peran penting para alumni seminari yang turut mewarnai lanskap pembangunan di NTT dan nasional.

Ia menegaskan bahwa tidak semua seminaris akan menjadi imam, namun mereka yang menempuh pendidikan di seminari akan tumbuh menjadi awam yang berkarakter, berintegritas, dan berkualitas.

Dukungan orang tua dan masyarakat, menurutnya, menjadi kunci penting dalam proses pembinaan tersebut.

Sementara itu, Kepala SMA Seminari Mataloko sekaligus Wakil Praeses Seminari, RD Tinyo Sera, Pr, menjelaskan bahwa Berkhmawan Simponi merupakan aksi nyata jelang perayaan satu abad Seminari Mataloko sekaligus sarana promosi panggilan.

Ia mengungkapkan bahwa kegiatan serupa sebelumnya telah digelar di sejumlah wilayah Flores, seperti Bajawa, Ende, dan Mbay, dan untuk pertama kalinya dipentaskan di luar Flores.

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 131 orang yang terdiri dari 117 siswa dan 14 pendamping ambil bagian, menampilkan teater Misteri di Balik Jubah Putih, marching band, paduan suara, serta parade obor yang memukau ribuan penonton.

Kesuksesan Berkhmawan Simponi juga ditopang oleh kolaborasi kuat antara berbagai pihak.

Ketua Panitia, Rosalinda Uta Teku, menjelaskan bahwa panitia merupakan gabungan Perhimpunan Orang Tua Siswa Seminari Mataloko Regio Timor dan Alumni Seminari Mataloko Regio Timor.

Ia menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan pihak seminari serta kerja keras seluruh panitia dan relawan.

Dukungan kolaboratif juga datang dari SMA Giovanni Kupang, SMA Santo Arnoldus Janssen, dan SMA Seminari Santo Rafael Kupang, para donatur, serta sponsor.

Ketua Alsemat Regio Timor, Isidorus Lilijawa, menilai kehadiran Gubernur NTT dan dukungan Pemerintah Kota Kupang sebagai wujud nyata kemitraan strategis antara pemerintah dan lembaga pendidikan gerejawi.

Acara yang berlangsung sejak pukul 17.00 Wita hingga 22.00 Wita tersebut dipadati ribuan penonton dari berbagai kalangan yang memenuhi lantai utama hingga balkon Auditorium Undana, menjadi bukti kuat kecintaan dan dukungan masyarakat terhadap keberlanjutan dan kemajuan Seminari Mataloko.(MI)