Lomba Kebersihan 2026 Sukses, Pemkot Kupang Apresiasi Komunitas Beta Bersih

Kupang, nwartapedia.com — Lomba Kebersihan Antar Kelurahan Tingkat Kota Kupang 2025-2026 sukses dilaksanakan. Pemerintah Kota Kupang memberikan apresiasi kepada Komunitas Beta Bersih disingkat KBB dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Kupang yang telah mendorong masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan.

Syukuran sekaligus penyerahan bonus kepada para pemenang berlangsung di Shoto-Kai Resto & Cafe, Kota Kupang, Rabu (16/9/2026).

Ketua Satgas Lomba Kebersihan “Kupang Bersih”, Paulus Irsan Dardana, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah dalam membangun lingkungan yang bersih.

“Ini adalah kali kedua kami bersama DLHK berkolaborasi,” kata Paulus.

Pada Lomba Kebersihan 2025-2026, tim juri DLHK menggunakan tiga aspek utama sebagai indikator penilaian, yakni kebersihan lingkungan, Tempat Pembuangan Sampah (TPS), dan kantor lurah.

Tim juri turun langsung ke lapangan untuk melakukan penilaian terhadap kondisi masing-masing kelurahan.
Kelurahan Nunbaun Sabu berhasil meraih juara pertama.

Prestasi tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, ketika Nunbaun Sabu hanya berada di posisi juara harapan pertama atau peringkat keempat.

Juara kedua diraih Kelurahan Oepura, sedangkan posisi ketiga ditempati Kelurahan Liliba.

Oepura menjadi salah satu kelurahan yang mengalami peningkatan karena pada lomba sebelumnya belum masuk daftar pemenang.

Sementara Liliba naik dari posisi juara harapan kedua pada 2024-2025 menjadi juara ketiga pada 2025-2026.

Hasil Lomba Kebersihan Kota Kupang 2025-2026:
Juara 1: Nunbaun Sabu
Juara 2: Oepura
Juara 3: Liliba
Juara Harapan 1: Oebufu
Juara Harapan 2: Batuplat
Juara Harapan 3: Naikoten 1
Peringkat 7: Nefonaek
Peringkat 8: Merdeka
Peringkat 9: Oesapa Barat
Peringkat 10: Bonipoi.

Paulus mengatakan perubahan peringkat tersebut menunjukkan adanya perkembangan semangat menjaga kebersihan di tingkat kelurahan.

Menurutnya, terdapat kelurahan yang berhasil meningkatkan prestasi, ada yang mengalami penurunan, serta ada pula kelurahan yang muncul sebagai pendatang baru.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada tim juri DLHK yang tetap menjalankan tugas secara maksimal meskipun menghadapi keterbatasan sumber daya.

Komunitas Beta Bersih (KBB) menyiapkan hadiah uang tunai dengan total Rp100 juta bagi para pemenang.

Paulus berharap hadiah tersebut dapat dimanfaatkan untuk menunjang kebutuhan sarana dan prasarana kebersihan di masing-masing kelurahan.

Ia menjelaskan, pengumpulan dana hadiah tersebut membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Bahkan hingga akhir Juli 2026 masih terdapat kekurangan sekitar Rp20 juta.

Untuk menutupi kekurangan tersebut, Komunitas Beta Bersih menggelar gala dinner pada 5 Agustus 2026.

Dalam kegiatan itu, Wali Kota Kupang turut memberikan kontribusi pribadi sebesar Rp5 juta.

“Puji Tuhan akhirnya bisa tercapai total Rp100 juta pada detik-detik akhir,” ujar Paulus.

Paulus mengatakan tingginya antusiasme lurah, masyarakat dan DLHK menjadi alasan untuk memutuskan kembali pelaksanaan Lomba Kebersihan antar kelurahan pada periode 2026-2027 yang dimulai malam itu atau tgl 16 September 2026.

Untuk itu Komunitas Beta Bersih dan DLHK Pemkot Kupang melakukan penilaian dan mengumumkan peringkat yang setiap bulan.

Dengan sistem tersebut, setiap kelurahan dapat mengetahui perkembangan nilai dan peringkatnya sehingga terdorong untuk terus melakukan pembenahan.

Sementara itu, Wali Kota Kupang memberikan apresiasi kepada Komunitas Beta Bersih yang selama dua tahun ikut membantu pemerintah menggerakkan masyarakat dalam menjaga kebersihan. Selain lomba kebersihan, KBB berkolaborasi dg DLHK juga sudah beberapa kali menyelenggarakan aksi serentak Kupang Bersinar (Bersih, Indah dan Asri) dimana seluruh elemen masyarakat dan instansi bergerak serentak membersihkan kota Kupang.

Ia menegaskan bahwa kebersihan Kota Kupang merupakan tanggung jawab bersama.

Menurutnya, kehadiran komunitas seperti Beta Bersih menunjukkan bahwa pembangunan kota dapat dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.

“Kota Kupang itu bukan milik satu orang saja, bukan milik pemerintah saja, tetapi Kota Kupang itu adalah rumah bersama,” ujarnya.

Wali Kota juga mengingatkan kelurahan yang meraih juara agar tidak cepat puas.

Predikat juara harus menjadi motivasi untuk mempertahankan kebersihan secara konsisten.

“Juara sejati kebersihan sesungguhnya adalah yang bisa menjaga kebersihan sampai itu menjadi budaya,” tegasnya.

Ia berharap kebersihan tidak hanya dijaga ketika lomba berlangsung, tetapi menjadi kebiasaan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Wali Kota juga mengusulkan agar pelaksanaan lomba berikutnya dapat menambahkan kategori peningkatan tertinggi. Dengan demikian, kelurahan yang mengalami kemajuan signifikan tetap memperoleh apresiasi.

Selain itu, kategori partisipasi masyarakat, penghijauan dan inovasi kebersihan juga dinilai dapat dikembangkan.

Menurutnya, membangun Kota Kupang yang lebih baik dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti membersihkan halaman sampai beberapa meter diluar pagar rumah, menjaga selokan, merawat lingkungan, menanam pohon dan membangun kesadaran bahwa kebersihan merupakan tanggung jawab bersama.

Melalui kolaborasi pemerintah, komunitas, kelurahan dan masyarakat, gerakan Kupang Bersih diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah perlombaan, tetapi berkembang menjadi budaya hidup bersih di seluruh wilayah Kota Kupang. (MI)




KADIN NTT Matangkan Rencana Free Trade Zone dengan Timor Leste, Libatkan Otorita Batam

Kupang, nwartapedia.com — Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Nusa Tenggara Timur (NTT) terus mendorong terwujudnya Free Trade Zone (FTZ) sebagai strategi membuka peluang perdagangan dan investasi antara NTT dengan negara tetangga, khususnya Timor Leste.

Rencana pengembangan Free Trade Zone antara NTT dan Timor Leste tersebut dimotori oleh KADIN NTT dan dibahas dalam kegiatan yang berlangsung di Wisma Alak Resort, Kota Kupang, Rabu (16/9/2026).

Kegiatan tersebut turut dihadiri Otorita Batam serta Ketua KADIN Provinsi Kepulauan Riau, untuk memberikan masukan dan berbagi pengalaman mengenai pengembangan kawasan perdagangan bebas di Batam.

Ketua KADIN NTT, Dr (Cand) Bobby Lianto, M.M., MBA, mengatakan posisi geografis NTT menjadi salah satu modal penting dalam mendorong pengembangan kawasan perdagangan bebas.

NTT memiliki posisi strategis karena berhadapan langsung dengan Timor Leste dan Australia. Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi pintu masuk bagi NTT untuk membangun konektivitas perdagangan regional sekaligus memperluas pasar ke tingkat internasional.

“Kita manfaatkan posisi ini untuk bisa membuka triangle antara tiga negara, antara Kota Kupang, Dili dan Darwin, atau antara Indonesia, Timor Leste dan Australia,” ujar Bobby.

Menurutnya, rencana FTZ tidak hanya diarahkan untuk menjadikan Timor Leste sebagai pasar, tetapi juga sebagai pintu menuju pasar yang lebih luas.

Bobby menjelaskan bahwa KADIN NTT telah membangun komunikasi dengan dunia usaha di Timor Leste dan Australia untuk mengidentifikasi peluang perdagangan dan investasi yang dapat dikembangkan.

Dalam kegiatan tersebut, KADIN NTT juga menggali pengalaman Batam dalam mengembangkan kawasan ekonomi dan perdagangan bebas.

Bobby menilai pengalaman Batam penting menjadi bahan pembelajaran bagi NTT, terutama dalam membangun infrastruktur, kawasan industri, pelabuhan, konektivitas, serta kebijakan yang mendukung investasi.

Batam dinilai berhasil memanfaatkan posisi geografisnya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan menarik investasi.

Karena itu, KADIN NTT berharap kolaborasi dengan Otorita Batam dan KADIN Provinsi Kepulauan Riau dapat memberikan gambaran mengenai langkah-langkah yang perlu dipersiapkan NTT dalam mewujudkan FTZ.

Bobby juga mendorong peningkatan konektivitas antara Kupang, Dili dan Darwin.

Menurutnya, keberadaan penerbangan langsung maupun konektivitas perdagangan akan menjadi faktor penting dalam mendukung mobilitas pelaku usaha, wisatawan, barang dan investasi.

KADIN NTT bahkan terus mendorong terwujudnya penerbangan langsung Kupang-Dili dan Kupang-Darwin.

Selain perdagangan, kerja sama dengan Darwin juga diarahkan pada sejumlah sektor, antara lain pendidikan, pariwisata, perdagangan, olahraga dan kesehatan.

KADIN NTT juga sedang menginisiasi hubungan Friendship City atau Sister City antara Kota Kupang dan Darwin.

Bobby menegaskan bahwa rencana Free Trade Zone harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat NTT.

Menurutnya, apabila kawasan perdagangan bebas mampu menarik industri dan investor, maka kebutuhan terhadap tenaga kerja lokal akan meningkat.

Di sisi lain, UMKM juga berpeluang menjadi bagian dari rantai pasok industri.

“Begitu banyak pabrik-pabrik dibuka, mereka pasti membutuhkan supply dari UMKM-UMKM kita. Mereka akan membutuhkan supply dari industri kecil dan menengah,” kata Bobby.

Karena itu, KADIN NTT akan terus mendorong UMKM agar mampu naik kelas dan memenuhi kebutuhan industri yang nantinya masuk ke NTT.

Bobby berharap rencana Free Trade Zone antara NTT dan Timor Leste dapat menjadi momentum untuk membangun ekosistem ekonomi baru yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, investor, UMKM dan masyarakat.

Dengan memanfaatkan posisi strategis NTT sebagai pintu gerbang selatan Indonesia, KADIN NTT optimistis perdagangan dengan Timor Leste, Australia dan pasar internasional dapat semakin berkembang. 

Ketua KADIN Kepulauan Riau Ir Nur Mustava menjelaskan, Kota Batam merupakan salah satu pintu perdagangan bebas antara Singapura, Malaysia, dan Indonesia. 

Karena itu, pihaknya siap untuk bekerja sama, berkoordinasi untuk membuka pusat perdagangan baru di daerah perbatasan, seperti di NTT. 

“Kami siap mendukung, berbagi pengalaman, membuka jaringan dan menjalin kerja sama. Semoga FGD ini menjadi awal kolaborasi untuk membangun Indonesia dari perbatasan NTT dengan Timor Leste,” ungkapnya.

Ketua Kadin Kota Batam Roman Nasir Hutabarat mengungkapkan, pihaknya hadir di Kota Kupang untuk melihat pertumbuhan ekonomi di kota ini.

“Kami bermaksud, bertujuan untuk barangkali ada bisa kolaborasi yang baik antara Kota Batam dengan Kupang. Kami melihat Kota Kupang sangat dekat dengan Papua New Guinea, Australia, dan Timor Leste. Kami lihat ini adalah peluang-peluang bisnis. Kami siap berkolaborasi,” tegasnya.

Dia menjelaskan, Kota Batam itu maju karena hanya 24 kilometer ke Singapura dan 36 kilometer ke Malaysia demikianpun Kota Kupang akan maju karena sangat dekat dengan Dili dan Darwin.

Dia berharap karena letak geografis ini, Kota Kupang menjadi kota industri dan kota pariwisata karena didukung dengan panorama yang sangat bagus.

“Kami perdana datang ke Kota Kupang, tetapi kami melihat ada peluang untuk kerja sama. Ada prospek-prospek pertemuan ekonomi yang kelihatan mudah untuk dilaksanakan,” pungkasnya.

Stafsus Presiden yang juga ketua Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua Billy Mambrasar mengapresiasi ekosistem yang dibangun oleh Kadin NTT. 

Berdasarkan kondisi geografis, dia melihat warga Timor Leste yang datang ke Kota Atambua untuk berbelanja. Ini menjadi peluang bagi Kadin NTT untuk mengembangkan usaha di perbatasan. 

Sayangnya NTT saat ini memiliki bahan baku tetapi tidak memiliki pabrik untuk usaha ekspor. NTT harusnya bisa memanfaatkan SMK-SMK yang ada. 

“Untuk mewujudkannya, ini bukan soaln NTT memiliki produk, tetapi seberapa besar NTT berani untuk mendatangkan orang untuk menciptakan produk,” jelasnya. 

Dia mendodorng NTT untuk memikiii produk sendiri. Apalagi alur transportasi NTT dan Timor Leste sangat mendukung. 

Kepala Bapperida Provinsi NTT Theresia Maria Florentina, SE., M.Ec.Dev., ketika membuka FGD itu mengapresiasi Kadin NTT yang telah menggagas FGD ini.

Bagi Pemprov NTT, kata dia, langkah ini penting mengenai potensi NTT memanfaatkan letaknya yang strategis untuk kesejahteraan masyarakat.

NTT, kata dia, merupakan daerah kepulauan yang berada perbatasan negara Timor Letste. Karena itu ada peluang pembangunan yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan letak geografis ini.

Perbatas harus menjadi ruang kerja sama yang dapat menghadirkan manfat poembangunan negara. Dalam konteks itulah free trade zone perlu dilihat dari upaya pembangunan ekonomi yang kuat dan menguntungkan.

“Kita memiliki hubungan dekat dengan Timor Leste secara sosial dan sejarah dalam waktu yang panjang. Modal sosial ini harus kita rawat untuk mengembangkan bidang ekomomi dan perdagangan,” ungkapnya.

Dia berharap, melalui FGD ini, ke depan ada kerja sama yang baik dan berkenbang serta memiliki dampak bagi masyarakat, khusunya di perbatasan.

Dia juga mengajak para peserta FGD dengan berbagai untur pemangku kepentingan di dalamnya untuk belajar dari Kota Batam yang memilki pengalaman industri, perdagangan.

“Kita memiliki potensi ekonomi yang bisa dikembangkan, seperti UMKM dan pariwisata yang perlu didorong, sehingg tidak berhenti dalam potensi, tetapi bisa dikenal daerah luar,” jelasnya.

Dia berharap KADIN NTT bisa mnejadi mitra pemerintah dalam mengembangkana investasi di NTT. “Kita ingin gagasan ini tidak hanya wacana, namun dipersiapkan dengan baik, sehingha memiliki kontribusi bagi kawaaan perbatasan,” pungkasnya.(MI)




INTI kembali Salurkan 200 Paket Bantuan Gempa ke Empat Desa di Manggarai Timur

Borong, nwartapedia.com — Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) kembali untuk kesekian kalinya menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak gempa Flores di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.

Kali ini sebanyak 200 paket bantuan disalurkan kepada warga di empat desa. Setiap paket berisi kebutuhan pokok berupa beras dan mi instan.

Penyaluran bantuan dilakukan oleh tim relawan INTI selama dua hari, yakni pada 4 dan 6 September 2026. 

Sementara pada 5 September, tim beristirahat karena kondisi rute perjalanan yang cukup ekstrem.

Tim relawan INTI dipimpin Bonafantura Teobaldus Erwin, bersama Florianus Panding dan Yohanes Sardin.

Pada Jumat, 4 September 2026, tim terlebih dahulu menyalurkan bantuan ke Desa Bangka Arus, Kecamatan Lamba Leda Timur, Kabupaten Manggarai Timur. Bantuan diterima oleh Koordinator Paulus Sugianto.

Selanjutnya, bantuan diberikan kepada warga Desa Wejang Mawe dan diterima oleh Koordinator Rio Bayuarta. 

Dalam penyaluran di kedua desa tersebut, Camat Lamba Leda Timur Rikardus Rivaldo Yasman turut hadir.

Setelah beristirahat selama satu hari karena kondisi perjalanan yang ekstrem, tim relawan kembali melanjutkan perjalanannya menyalurkan bantuan pada Minggu, 6 September 2026.

Lokasi pertama yang didatangi adalah Desa Golo Lero, Kecamatan Lamba Leda Timur, Kabupaten Manggarai Timur. 

Bantuan diterima oleh Koordinator Yohanes Balang dan turut disaksikan Camat Lamba Leda Timur Rikardus Rivaldo Yasman.

Dari Desa Golo Lero, tim kemudian melanjutkan perjalanan menuju Desa Golo Rengket, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur.

Di Desa Golo Rengket, bantuan diterima langsung oleh Kepala Desa Golo Rengket, Robertus Karo.

Penyaluran 200 paket bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian dan solidaritas INTI terhadap masyarakat yang terdampak gempa Flores.

Tim relawan harus melewati sejumlah rute perjalanan yang cukup menantang untuk menjangkau desa-desa tujuan yang paska gempa nyaris belum menerima bantuan. 

Meski demikian, proses distribusi tetap dilakukan hingga seluruh bantuan yang telah disiapkan dapat disalurkan.

Bantuan berupa beras dan mi instan ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan pokok masyarakat terdampak serta sedikit meringankan beban warga pascabencana.

“Aksi ini sekaligus menjadi wujud solidaritas kemanusiaan INTI dari seluruh daerah di Indonesia bagi masyarakat di wilayah Flores yang terdampak gempa”.Demikian sebagaimana yang disampaikan ketua Pengurus Daerah INTI NTT, Ir.Theodorus Widodo yang juga adalah ayah dari Walikota Kupang dr.Christian Widodo(MI)




Kunjungi BPS NTT, Rachmat Pambudy Tekankan Pentingnya Data untuk Kebijakan Pembangunan

Kupang, nwartapedia.com — Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy bersama Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengunjungi Kantor BPS Provinsi NTT, Senin (14/9/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Rachmat menekankan pentingnya pemanfaatan data BPS sebagai dasar pengambilan kebijakan dan arah pembangunan.

Menurut Rachmat, BPS tidak hanya bertugas mencatat kondisi daerah, tetapi juga menyediakan data yang dapat dimaknai untuk menentukan kebijakan secara tepat.

Ia mengibaratkan BPS sebagai “meteran pembangunan” yang digunakan untuk mengukur capaian dan mengevaluasi pembangunan.

Rachmat juga menilai NTT memiliki peluang pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan produktivitas pertanian.

Ia mencontohkan produktivitas jagung dari sekitar 2,6 ton menjadi 4 ton per hektare yang dinilai dapat memberikan dampak besar jika dilakukan secara luas.

Selain pertanian, Rachmat mendorong hilirisasi komoditas lokal seperti ikan, daging, cokelat dan hasil pertanian untuk meningkatkan nilai tambah masyarakat.

Untuk pengendalian inflasi, ia mendorong pemanfaatan data BPS dalam menentukan intervensi, termasuk penguatan koperasi nelayan, pabrik es dan cold storage untuk menjaga pasokan ikan.

Sementara itu, Gubernur Melki mengapresiasi peran BPS sebagai mitra pemerintah daerah dalam menentukan prioritas pembangunan.

“Data BPS menjadi penentu karena kami masih mengalokasikan sumber daya yang terbatas ini agar mampu menyentuh bidang-bidang pembangunan yang paling strategis,” kata Melki.

Dalam pertemuan tersebut, Kepala BPS NTT Matamira B. Kale memaparkan sejumlah indikator pembangunan.

Sektor pertanian masih menjadi salah satu kekuatan utama NTT dengan kontribusi sekitar 28–30 persen terhadap PDRB.

Sementara tingkat kemiskinan NTT berada pada angka 17,52 persen dan terus menunjukkan tren penurunan.

Pertemuan tersebut memperkuat komitmen pemerintah pusat dan daerah untuk menjadikan data BPS sebagai dasar pembangunan NTT yang lebih tepat sasaran dan terukur. **




Kepala BKN Puji Pemkot Kupang, Terbaik dalam Tata Kelola ASN

Kupang, nwartapedia.com — Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN), Prof. Dr. Zudan Arif Fakrulloh, S.H., M.H., memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Kupang atas keberhasilannya menjadi daerah terbaik dalam implementasi kebijakan kepegawaian di wilayah NTT, NTB dan Bali.

Apresiasi tersebut disampaikan Zudan saat memimpin Apel Kekuatan Gabungan ASN Pemerintah Kota Kupang di Lapangan Kantor Wali Kota Kupang, Senin (14/9/2026).

Di hadapan Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo dan jajaran ASN, Zudan menyebut Kota Kupang sebagai daerah nomor satu dari 44 kabupaten/kota di tiga wilayah tersebut.

Kota Kupang meraih penghargaan Adhi Manawa Nugraha Utama atas komitmen dan implementasi kebijakan kepegawaian yang dinilai mendukung pengembangan karier ASN.

“BKN memberikan penghargaan nomor satu, terbaik dari 44 kabupaten/kota di wilayah NTT, NTB dan Bali,” kata Zudan.

Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama Wali Kota, BKPSDM, kepala perangkat daerah dan seluruh ASN di lingkungan Pemerintah Kota Kupang.

Zudan menyoroti sejumlah kebijakan yang telah diterapkan, antara lain kemudahan pencantuman gelar akademik, penerapan e-kinerja harian serta kenaikan pangkat secara periodik setiap bulan.

Ia meminta capaian tersebut terus dipertahankan dan tidak membuat jajaran Pemkot Kupang berpuas diri.

“Jangan kasih kendor. Gas pol, rem tetap pakem,” tegas Zudan.

Ia juga mendorong ASN Kota Kupang memperkuat digitalisasi, meningkatkan produktivitas dan memastikan pekerjaan serta target pelayanan publik dapat diselesaikan tepat waktu.

Menurut Zudan, keberhasilan tata kelola ASN harus bermuara pada pelayanan masyarakat yang lebih cepat, mudah dan fleksibel.

Sementara itu, Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo mengatakan penghargaan tersebut menjadi motivasi bagi Pemkot Kupang untuk terus memperbaiki tata kelola pemerintahan.

Christian menegaskan, penghargaan Adhi Manawa Nugraha Utama bukan sekadar prestasi, tetapi menjadi tanggung jawab untuk memastikan birokrasi yang semakin tertata mampu menghadirkan pelayanan publik yang semakin baik bagi masyarakat.

Apel tersebut turut dihadiri Sekda Kota Kupang Jeffry Edward Pelt, para Staf Ahli Wali Kota, Asisten Sekda, kepala perangkat daerah, camat, lurah, pimpinan Perumda serta seluruh ASN Pemerintah Kota Kupang. **




KKBM Kupang Bantu Korban Gempa Palue, Salurkan Rp22 Juta

Kupang, nwartapedia.com — Komunitas Kita Bersaudara Maumere (KKBM) Kupang menunjukkan kepedulian terhadap warga Kabupaten Sikka yang terdampak bencana gempa bumi Flores pada 15 Agustus 2026, khususnya masyarakat di Pulau Palue.

KKBM Kupang menyalurkan bantuan uang tunai sebesar Rp22 juta kepada umat terdampak melalui dua paroki, yakni Paroki Ave Maria Bintang Laut Uwa dan Paroki Sta. Familia Lei, Keuskupan Maumere.

Bantuan tersebut diserahkan oleh Wakil Ketua KKBM Kupang, Willem Enga, kepada pastor paroki dan perwakilan umat pada 4 September 2026.

Masing-masing paroki menerima bantuan sebesar Rp11 juta. Bantuan tersebut kemudian dipercayakan kepada pastor paroki untuk disalurkan kepada umat yang benar-benar membutuhkan berdasarkan data korban yang telah dimiliki masing-masing paroki.

Di Paroki Ave Maria Bintang Laut Uwa, bantuan diterima Pastor Rekan Romo Didit dan perwakilan umat yang mewakili Pastor Paroki Romo Rinto. Sementara di Paroki Sta. Familia Lei, bantuan diterima Pastor Paroki Pater Remi bersama perwakilan umat.

Romo Didit menyampaikan terima kasih kepada KKBM Kupang dan diaspora Maumere yang telah memberikan perhatian kepada umat terdampak gempa.

“Saya Romo Didit dan seluruh umat mendoakan semoga Tuhan memberkati dan memberikan rahmat serta kekuatan bagi bapa mama yang telah memberi perhatian dari Kupang. Terima kasih,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Pater Remi. Ia mengapresiasi kepedulian warga Maumere di Kota Kupang terhadap masyarakat Palue yang sedang menghadapi dampak bencana.

“Kiranya ini dapat meringankan beban umat kami. Mbola So untuk keluarga besar Maumere Kupang. Tuhan memberkati,” katanya.

Willem Enga mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian warga diaspora Maumere, Kabupaten Sikka, di Kota Kupang terhadap saudara-saudara di kampung halaman.

Dana tersebut dihimpun secara spontan melalui anggota KKBM Kupang, kelompok arisan, kas organisasi, donasi orang tua, para donatur asal Maumere di Kota Kupang serta sejumlah warga Maumere yang berada di luar NTT.

Total dana yang terkumpul mencapai Rp24.850.000. Dari jumlah tersebut, Rp22 juta disalurkan kepada korban gempa, sementara Rp2,85 juta digunakan untuk kebutuhan transportasi, akomodasi dan publikasi.

Menurut Willem, awalnya bantuan direncanakan diberikan langsung kepada sekitar 100 kepala keluarga terdampak. Namun karena lokasi warga tersebar dan berjauhan, penyaluran dipercayakan kepada pastor paroki agar lebih tepat sasaran dan tidak menimbulkan kecemburuan di antara umat.

Ketua KKBM Kupang, Agustinus Bajo, menyampaikan belasungkawa kepada seluruh keluarga yang terdampak gempa bumi Flores.

Ia berharap bantuan tersebut dapat sedikit meringankan beban warga sekaligus menjadi bentuk solidaritas warga Kabupaten Sikka di Kota Kupang terhadap masyarakat di kampung halaman.

KKBM Kupang juga masih membuka donasi tahap II yang akan difokuskan untuk membantu mahasiswa asal Kabupaten Sikka di Kota Kupang yang orang tuanya turut terdampak bencana. **




DLHK Kota Kupang Resmi Buka Bank Sampah Kuanino, Warga Didorong Raih Manfaat Ekonomi

Kupang, nwartapedia.com — Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Kupang mengapresiasi pembentukan Bank Sampah Kuanino sebagai salah satu langkah nyata dalam mengurangi sampah yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Kegiatan pembentukan Bank Sampah Kuanino secara resmi dibuka oleh Sekretaris DLHK Kota Kupang, Achmad Likur,, S.Sos, MM yang mewakili Kepala DLHK Kota Kupang.

Pembukaan tersebut berlangsung dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat kerja sama Program Studi Arsitektur Fakultas Sains dan Teknik (FST) Universitas Nusa Cendana (Undana) dengan LPM Kelurahan Kuanino di Kantor Lurah Kuanino, Sabtu (12/9/2026).

Dalam sambutannya, Achmad Likur menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam upaya pengelolaan sampah di Kota Kupang.

Ia menegaskan bahwa persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama. Sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat mencemari lingkungan dan berpotensi menimbulkan berbagai persoalan kesehatan.

“Terima kasih kepada semua yang telah meluangkan waktu untuk bersama-sama menyelesaikan persoalan sampah di Kota Kupang. Sampah adalah tanggung jawab kita bersama,” ujar Achmad.

Achmad menjelaskan, sampah yang dikelola dengan baik tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga dapat menghasilkan keuntungan secara finansial.

Melalui pemilahan, sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dikumpulkan dan disetorkan ke bank sampah.

Menurutnya, aktivitas tersebut menciptakan sebuah siklus ekonomi di masyarakat. Uang yang diperoleh dari hasil pengelolaan sampah dapat digunakan kembali untuk memenuhi berbagai kebutuhan keluarga.

“Dari sampah akan ada siklus ekonomi. Sampah yang memiliki nilai ekonomi bisa menghasilkan keuntungan finansial bagi masyarakat,” jelasnya.

Ia menilai keberadaan bank sampah juga memiliki fungsi edukasi yang penting karena mengajarkan masyarakat untuk memilah sampah sekaligus memahami nilai ekonomi dari barang yang sebelumnya dianggap tidak berguna.

Achmad mengatakan, pembentukan Bank Sampah Kuanino diharapkan dapat membantu pemerintah dalam mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPA.

Sampah yang masih bernilai ekonomi, seperti botol kemasan air mineral dan jenis sampah anorganik lainnya, sebaiknya dipilah dan disalurkan melalui bank sampah.

“Ketika kita melakukan pemilahan sampah dan sampah yang masih bernilai produktif atau bernilai ekonomi ditempatkan pada tempat resmi seperti bank sampah, itu akan mendatangkan keuntungan finansial,” katanya.

Selain memberikan manfaat ekonomi, pemilahan sampah juga dapat menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat dan nyaman.

Achmad berharap langkah yang dilakukan Kelurahan Kuanino dapat menjadi contoh bagi kelurahan lainnya di Kota Kupang.

Menurutnya, Kuanino memiliki jumlah penduduk yang cukup padat sehingga membutuhkan pengelolaan lingkungan yang serius dan berkelanjutan.

Ia mendorong setiap kelurahan di Kota Kupang untuk melakukan terobosan serupa dengan membangun bank sampah di wilayah masing-masing.

“Harapan kami semua kelurahan melakukan terobosan yang sama, yaitu membuat bank sampah kelurahan, sehingga dapat membantu pemerintah Kota Kupang dalam mengurangi sampah yang terbuang percuma ke TPA,” ujarnya.

Achmad juga mengapresiasi kerja sama antara Kelurahan Kuanino dengan Undana dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut.

Menurutnya, pemerintah tidak dapat menyelesaikan persoalan lingkungan sendiri. Dibutuhkan sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, masyarakat serta berbagai pihak lainnya.

“Pemerintah membutuhkan sinergitas dan kolaborasi. Tanpa sinergitas dari berbagai pihak, pembangunan tidak akan berjalan maksimal,” katanya.

Ia berharap kolaborasi antara pemerintah kelurahan dan Undana dapat terus berlanjut, khususnya dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pemilahan dan pengelolaan sampah.

Achmad kemudian secara resmi membuka kegiatan pembentukan Bank Sampah Kelurahan Kuanino.

“Dengan dukungan bapak dan ibu sekalian, kegiatan pembentukan Bank Sampah Kelurahan Kuanino saya buka secara resmi,” pungkasnya. (MI)




Kuanino Bangun Gerakan Pilah Sampah, Setoran Warga Dicatat Jadi Tabungan

Kupang, nwartapedia.com — Kelurahan Kuanino, Kota Kupang, mulai membangun gerakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat dengan mendorong warga memilah sampah sejak dari rumah.

Gerakan tersebut diwujudkan melalui pengembangan Bank Sampah Kuanino yang akan menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyetorkan sampah yang telah dipilah sekaligus mendapatkan manfaat ekonomi.

Lurah Kuanino, Sem Tse, S.Pi, mengatakan pengelolaan sampah menjadi salah satu perhatian utama pemerintah kelurahan dalam beberapa bulan ke depan.

Pernyataan itu disampaikan Sem Tse usai kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang digelar melalui kerja sama Program Studi Arsitektur Fakultas Sains dan Teknik (FST) Universitas Nusa Cendana (Undana) dengan LPM Kelurahan Kuanino di Kantor Lurah Kuanino, Sabtu (12/9/2026).

Kegiatan tersebut mengusung tema “Undana Berdampak untuk Provinsi NTT: Mewujudkan World Class-Locally Relevant University melalui Kolaborasi Menuju Pembangunan Berdampak Berkelanjutan.”

Sem Tse mengatakan, kebersihan Kuanino merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah kelurahan, RT, RW dan masyarakat perlu memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan sebagai rumah bersama.

Menurutnya, Kuanino merupakan bagian dari kawasan penting di Kota Kupang sehingga kondisi lingkungannya turut mencerminkan wajah kota.

“Ini rumah bersama kita. Tanggung jawab untuk merawatnya bukan hanya pemerintah kelurahan, tetapi juga RT, RW dan seluruh masyarakat,” kata Sem Tse.

Sem Tse menjelaskan, pembentukan Bank Sampah Kuanino tidak hanya sebatas kegiatan seremonial. Pihak kelurahan telah membangun kesepakatan agar kegiatan pengelolaan sampah dapat dilakukan secara rutin.

Rencananya, kegiatan penimbangan dan pengumpulan sampah akan dilakukan setiap hari Sabtu.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat akan membawa sampah yang sudah dipilah dari rumah untuk ditimbang. Sampah yang disetorkan kemudian dicatat berdasarkan nilai rupiahnya.

Kelurahan Kuanino juga telah menerima timbangan sampah dari Undana sebagai salah satu dukungan untuk menjalankan kegiatan tersebut.

“Kegiatan ini tidak selesai hari ini. Kami akan terus melanjutkannya. Setiap hari Sabtu akan dilakukan kegiatan pengembangan bank sampah,” ujarnya.

Sem Tse mengajak warga mulai mengubah kebiasaan dalam membuang sampah.

Ia meminta masyarakat tidak membuang sampah di jalan, halaman orang lain maupun lahan kosong.

Sebaliknya, sampah harus dikumpulkan dan dipilah dari rumah. Sampah plastik, misalnya, dapat dipisahkan dan dimasukkan ke dalam karung sebelum disetorkan.

“Jangan membuang sampah sembarangan. Pilah dengan baik, terutama sampah plastik, kemudian disimpan dengan rapi,” tegasnya.

Menurut Sem Tse, sistem Bank Sampah Kuanino nantinya memberikan manfaat ganda. Selain membantu mengurangi sampah yang dibuang sembarangan, masyarakat juga dapat memperoleh nilai ekonomi dari sampah yang mereka kumpulkan.

Setiap setoran akan ditimbang dan dicatat sehingga nasabah mengetahui berapa nilai rupiah yang diperoleh dari sampah tersebut.

Sem Tse menilai perubahan perilaku masyarakat harus dimulai dari lingkungan keluarga.

Karena itu, pihak kelurahan akan terus menyampaikan edukasi kepada warga dalam berbagai kesempatan, termasuk saat kegiatan kemasyarakatan.

Ia berharap masyarakat tidak melihat sampah hanya sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai bagian dari persoalan lingkungan yang harus dikelola bersama.

“Kalau kita mulai dari rumah, kemudian dilakukan bersama-sama, saya yakin pengelolaan sampah di Kuanino bisa menjadi lebih baik,” katanya.

Sem Tse juga menyampaikan apresiasi kepada Undana dan LPM Kelurahan Kuanino atas dukungan dalam kegiatan tersebut.

Ia berharap kolaborasi yang telah dibangun dapat terus berlanjut sehingga program Bank Sampah Kuanino benar-benar memberikan dampak bagi kebersihan lingkungan dan masyarakat.

Dengan gerakan tersebut, Kelurahan Kuanino menargetkan kebiasaan memilah sampah dari rumah dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga, sekaligus membuka peluang agar sampah memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat. (MI)




Gusmawati Ajak Warga Kuanino Ubah Sampah Menjadi Tabungan dan Nilai Ekonomi

Kupang, nwartapedia.com — Sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai ternyata dapat menjadi sumber manfaat ekonomi apabila dikelola dengan baik.

Hal tersebut disampaikan pendiri Bank Sampah Muara Abu Oesapa, Ir. Gusmawati, S.T., M.Eng., saat berbagi pengalaman kepada masyarakat di Kelurahan Kuanino, Kota Kupang.

Gusmawati menjadi pemateri dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang digelar melalui kerja sama Program Studi Arsitektur Fakultas Sains dan Teknik Universitas Nusa Cendana (Undana) dengan LPM Kelurahan Kuanino.

Kegiatan tersebut berlangsung di Kantor Lurah Kuanino pada Sabtu (12/9/2026), dengan mengusung tema “Undana Berdampak untuk Provinsi NTT: Mewujudkan World Class-Locally Relevant University melalui Kolaborasi Menuju Pembangunan Berdampak Berkelanjutan.”

Dalam kesempatan tersebut, Gusmawati tidak hanya berbicara mengenai persoalan sampah, tetapi juga menceritakan perjalanan dan pengalaman membangun Bank Sampah Muara Abu.

Ia mengatakan, pengelolaan sampah harus dimulai dari lingkungan terkecil, yakni rumah tangga. Masyarakat perlu membiasakan diri memilah sampah sebelum dibuang sehingga sampah yang masih memiliki nilai dapat dimanfaatkan.

“Saya hadir berbagi bukan karena lebih pintar, tetapi karena memiliki pengalaman. Mudah-mudahan pengalaman ini dapat membantu bapak dan ibu dalam mengelola sampah dari rumah,” kata Gusmawati.

Menurutnya, sampah seperti botol plastik, kertas dan berbagai jenis sampah anorganik lainnya sebenarnya mempunyai nilai ekonomi. Dengan sistem bank sampah, masyarakat dapat mengumpulkan sampah, menimbang dan mencatatnya sebagai tabungan.

Konsep tersebut, kata Gusmawati, menjadi salah satu cara untuk mengubah pandangan masyarakat bahwa sampah bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang.

“Jadi seperti tabungan. Sampah yang kita kumpulkan kemudian dinilai dengan uang,” jelasnya.

Dimulai dari Rumah

Gusmawati menceritakan, gagasan pengelolaan sampah yang dikembangkannya mulai lebih serius sejak 2023. Berbagai upaya dilakukan untuk mengolah sampah rumah tangga menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.

Selanjutnya, pada 2024 dibentuk Bank Sampah Muara Abu yang mulai beroperasi pada 23 November 2024.

Dalam perkembangannya, masyarakat yang menjadi nasabah membawa sampah dari rumah masing-masing. Sampah kemudian dipilah berdasarkan jenisnya, ditimbang dan dicatat dalam buku tabungan.

Menurut Gusmawati, mekanisme tersebut memberikan motivasi tersendiri kepada masyarakat karena sampah yang dikumpulkan dapat menghasilkan uang.

Ia juga mendorong agar bank sampah tidak hanya menjadi tempat menerima sampah dari nasabah, tetapi berkembang menjadi pusat edukasi dan pengolahan sampah.

Pengurus juga didorong memiliki keterampilan untuk mengolah sampah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Anak-Anak Perlu Dilibatkan

Gusmawati menilai keterlibatan anak-anak sangat penting dalam membangun kebiasaan memilah sampah sejak dini.

Menurutnya, anak-anak dapat diajarkan mengumpulkan sampah dari lingkungan rumah maupun sekolah, kemudian menyetorkannya ke bank sampah.

Cara tersebut sekaligus menjadi pembelajaran sederhana mengenai lingkungan, tanggung jawab dan pengelolaan keuangan.

Ia berharap kebiasaan tersebut dapat terus terbawa hingga anak-anak tumbuh dewasa.

Sampah Harus Dipilah dari Sumber

Dalam pemaparannya, Gusmawati juga menjelaskan pentingnya membedakan sampah organik dan anorganik.

Sampah organik seperti sisa makanan, daun dan rumput dapat dikelola kembali, sedangkan sampah anorganik seperti botol plastik, kertas dan berbagai kemasan dapat dipilah untuk dimanfaatkan atau memiliki nilai jual.

Selain memilah sampah, masyarakat juga diajak mengurangi penggunaan barang sekali pakai dan membiasakan menggunakan barang yang dapat dipakai berulang kali.

Gusmawati mengingatkan bahwa persoalan sampah bukan hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga memiliki dampak terhadap kehidupan masyarakat apabila tidak dikelola dengan baik.

Karena itu, menurut dia, gerakan pengelolaan sampah harus dilakukan bersama dan dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah.

Bank Sampah Berikan Manfaat Ekonomi

Gusmawati memaparkan, sejak Bank Sampah Muara Abu beroperasi pada 23 November 2024 hingga 5 September 2026, nilai tabungan nasabah yang terkumpul telah mencapai sekitar Rp22,7 juta. Jumlah nasabah juga telah mencapai sekitar 1.190 orang.

Capaian tersebut menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah secara terorganisasi dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus membantu menjaga lingkungan.

Ia berharap pengalaman Bank Sampah Muara Abu dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat Kuanino untuk membangun gerakan serupa.

Menurutnya, perubahan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Masyarakat dapat memulainya dengan memilah sampah di rumah, mengurangi sampah sekali pakai dan memanfaatkan sampah yang masih memiliki nilai.

“Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, mulai sekarang dan jangan menunda-nunda,” pungkas Gusmawati. (MI)




Tak Miliki TPS, Kelurahan Naikolan Gandeng Sekolah dan Aktifkan Kembali Bank Sampah

Kupang, nwartapedia.com –  Pemerintah Kelurahan Naikolan, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, terus mencari solusi penanganan sampah meski hingga kini belum memiliki tempat pembuangan sementara (TPS).

Salah satu langkah yang dilakukan adalah menggandeng sejumlah sekolah untuk memilah sampah sekaligus mengaktifkan kembali fasilitas pengelolaan sampah di kawasan Gunung Sinae.

Lurah Naikolan, Redem Hardi, mengatakan selama ini masyarakat memanfaatkan layanan truk pengangkut sampah yang rutin berkeliling setiap minggu hingga masuk ke gang-gang permukiman.

Warga cukup menyiapkan sampah di depan rumah masing-masing untuk kemudian diangkut petugas dengan memberikan kontribusi biaya pengangkutan.

“Karena Naikolan tidak ada tempat pembuangan sampah, masyarakat bekerja sama dengan Dinas Kebersihan. Sampah tetap di depan rumah masing-masing, kemudian mobil yang angkut,” jelas Redem pada Kamis (10/9/2026).

Selain layanan pengangkutan, pemerintah kelurahan berupaya mengaktifkan kembali fasilitas pengelolaan sampah di kawasan Gunung Sinae yang merupakan hasil kerja sama dua gereja.

Menurut Redem, fasilitas tersebut sudah lama tidak beroperasi secara optimal karena belum memiliki kepengurusan resmi.

Ia bersama LPM, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Karang Taruna, pegawai kelurahan, dan mahasiswa KKN telah meninjau lokasi sekaligus berdiskusi mengenai langkah pengaktifannya.

“Saya berinisiatif bahwa di masa saya ini, saya akan buatkan SK pengurus untuk bak sampah Gunung Sinae ini,” ujarnya.

Untuk mendukung pengelolaan sampah, Pemerintah Kelurahan Naikolan juga membangun kerja sama dengan sejumlah sekolah agar melakukan pemilahan sampah plastik sejak dari lingkungan pendidikan.

Sejumlah sekolah yang telah menyatakan kesiapan bekerja sama antara lain SD Oepura 1, SD Oepura 2, SD Naikoten, dan SMP Negeri 3.

“Saya janji untuk keliling di sekolah-sekolah. Saya bangun kerja sama, di mana sekolah memilah sampah plastik, ditampung, nanti yang jemput itu pengurus bak sampah,” kata Redem.

Sampah yang telah dipilah akan dikumpulkan di sekolah. Setelah jumlahnya mencukupi, pihak sekolah dapat menghubungi kelurahan atau pengurus untuk melakukan pengangkutan.

Pemerintah kelurahan juga menyiapkan motor sampah untuk mendukung pengangkutan apabila pengurus belum memiliki kendaraan sendiri.

Selain melibatkan sekolah, pemerintah kelurahan bersama LPM, Karang Taruna, dan masyarakat terus mendorong kegiatan kerja bakti di setiap RW.

Redem berharap kolaborasi tersebut mampu meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih teratur dan berkelanjutan di Kelurahan Naikolan. (MI)