Inflasi NTT Oktober 2026 Naik 0,15 Persen, Harga Ayam dan Tiket Pesawat Jadi Pemicu

Kupang, nwartapedia.com  —  Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat inflasi sebesar 0,15 persen pada Oktober 2026.

Kenaikan harga daging ayam ras, tarif angkutan udara, serta biaya pendidikan menjadi sejumlah komoditas dan kelompok pengeluaran yang memberikan andil terhadap inflasi.

Hal tersebut disampaikan Kepala BPS NTT, Matamira B. Kale, dalam konferensi pers perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Aula Kantor BPS NTT, Senin (2/11/2026).

Matamira menjelaskan, inflasi Oktober 2026 terjadi setelah NTT mengalami inflasi selama tiga bulan berturut-turut.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, sembilan dari sebelas kelompok mengalami kenaikan indeks harga.

“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu penyumbang utama inflasi Oktober 2026,” jelas Matamira.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,12 persen dengan andil 0,04 persen. Sementara kelompok pendidikan mengalami inflasi 1,03 persen dengan andil 0,04 persen.

Sebaliknya, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami deflasi 0,35 persen dengan andil minus 0,02 persen.

Secara kumulatif Januari hingga Oktober 2026, inflasi NTT mencapai 1,45 persen. Sementara inflasi tahunan atau year-on-year (yoy) tercatat sebesar 2,87 persen, meningkat dibandingkan September 2026 yang mencapai 2,67 persen.

Berdasarkan wilayah cakupan IHK, tiga wilayah mengalami inflasi dan dua wilayah mengalami deflasi. Inflasi tertinggi tercatat sebesar 0,68 persen, sedangkan deflasi terdalam mencapai 0,85 persen.

Dari sisi komoditas, daging ayam ras dan angkutan udara masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,05 persen.

Selanjutnya, biaya akademi atau perguruan tinggi memberikan andil 0,04 persen, disusul cabai merah sebesar 0,03 persen.

Menurut Matamira, kenaikan harga daging ayam ras dipengaruhi keterbatasan stok di pasar ketika permintaan masyarakat meningkat.

Ketidakseimbangan antara ketersediaan pasokan dan kebutuhan masyarakat tersebut mendorong kenaikan harga.

“Karena stok yang terbatas di pasar, sementara permintaannya meningkat, sehingga mendorong harga juga menjadi meningkat,” ungkapnya.

Selain itu, kenaikan harga cabai merah dan sawi putih berkaitan dengan berkurangnya produksi menjelang peralihan musim dan persiapan musim tanam.

Kenaikan tarif angkutan udara serta biaya pendidikan pada tingkat akademi dan perguruan tinggi juga turut memberikan tekanan terhadap inflasi.

Meski demikian, sejumlah komoditas memberikan andil negatif sehingga menahan laju inflasi bulanan.

Komoditas tersebut antara lain ikan tembuku dengan andil minus 0,08 persen, ikan tembang minus 0,04 persen, tomat minus 0,04 persen, dan emas perhiasan minus 0,03 persen.

Untuk inflasi tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar sebesar 0,97 persen. Disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil sebesar 0,42 persen.

Sementara itu, angkutan udara menjadi komoditas penyumbang inflasi tahunan terbesar dengan andil 0,38 persen, diikuti emas perhiasan sebesar 0,29 persen. Inflasi tahunan emas perhiasan sendiri tercatat mencapai 6,21 persen.

Adapun komoditas yang menahan inflasi tahunan meliputi bawang merah dengan andil minus 0,13 persen, biaya pendidikan sekolah menengah atas minus 0,12 persen, telur ayam ras minus 0,06 persen, tomat minus 0,03 persen, serta angkutan laut minus 0,02 persen.

BPS NTT mencatat perkembangan inflasi tersebut sebagai gambaran perubahan harga berbagai komoditas dan jasa yang dikonsumsi masyarakat.

Ketersediaan pasokan pangan, tarif transportasi, serta biaya pendidikan menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi pergerakan harga di Nusa Tenggara Timur. ***