KADIN NTT Dorong Pembentukan Free Trade Zone Indonesia–Timor Leste di Kawasan Perbatasan
Kefamenanu, nwartapedia.com – Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Nusa Tenggara Timur (NTT) mendorong pembentukan Free Trade Zone (FTZ) Indonesia–Timor Leste sebagai langkah strategis untuk menarik investasi, memperluas perdagangan internasional, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan perbatasan.
Dorongan tersebut mengemuka dalam kegiatan sosialisasi Free Trade Zone kawasan perbatasan yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi NTT melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Baperida) di Hotel Victory 2, Jalan Kartini, Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, mengikuti kegiatan tersebut secara daring dan menyampaikan sambutan.
Kegiatan diawali dengan sambutan Bupati TTU, Falentinus Delasalle Kebo, yang menekankan pentingnya pengembangan kawasan perbatasan sebagai penggerak ekonomi daerah.
Bupati TTU berharap pengembangan FTZ tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga mampu menjadi pintu masuk bagi pertumbuhan industri dan memperluas akses NTT ke pasar dunia.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi panel yang menghadirkan Profesor Fredik Benu, anggota tim penyusun studi kelayakan (feasibility study) kawasan Free Trade Zone, dan Dr. David Pandi. Diskusi tersebut dimoderatori oleh Pelaksana Harian Sekretaris Daerah Kabupaten TTU.
Ketua Umum KADIN NTT, Dr. (Cand) Bobby Lianto, MM., MBA., turut menghadiri kegiatan bersama Tim Satgas Percepatan FTZ, Micky Natun. Ia didampingi Ketua KADIN Kabupaten TTU, Dwiyanto Tantri, serta Ketua KADIN Kabupaten Malaka, Mery Kain, yang juga merupakan anggota DPRD Kabupaten Malaka.
Kegiatan tersebut diikuti ratusan undangan dari Kabupaten TTU, Belu, dan Malaka. Hadir pula unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), perwakilan TNI, Ketua DPRD Kabupaten TTU, serta perwakilan Ketua DPRD Kabupaten Belu, dr. Valen Pareira dari Fraksi Golkar.
Dalam pembahasan mengenai peluang pengembangan FTZ, Bobby Lianto menyoroti potensi strategis NTT sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan Timor-Leste dan memiliki posisi geografis yang relatif dekat dengan Australia.
Menurutnya, keberadaan FTZ di kawasan perbatasan dapat membuka peluang baru bagi pengembangan industri, perdagangan, dan investasi internasional.
Kawasan tersebut diharapkan mampu menjadi alternatif bagi investor yang ingin mengembangkan kegiatan manufaktur dan perdagangan di luar pusat-pusat industri yang telah berkembang di Pulau Jawa dan Batam.
Australia dinilai memiliki peluang untuk menjadi salah satu mitra ekonomi potensial, mengingat posisi geografis NTT yang relatif dekat dengan negara tersebut.
Selain itu, peluang kerja sama dengan China juga menjadi perhatian, khususnya dalam konteks perkembangan hubungan ekonomi dengan Timor-Leste.
Bobby juga menyoroti momentum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN pada 2029 di Dili, Timor-Leste, yang dinilai dapat dimanfaatkan untuk mempromosikan potensi ekonomi kawasan perbatasan kepada dunia internasional.
Karena itu, KADIN NTT menyarankan agar Pemerintah Provinsi NTT menjalin kerja sama dengan Pemerintah Timor-Leste untuk membentuk tim bersama yang bertugas mempersiapkan paket pengembangan FTZ Indonesia–Timor-Leste.
Persiapan tersebut diharapkan dapat menghasilkan konsep pengembangan kawasan yang terarah, memiliki daya tarik investasi, serta membuka peluang kerja sama ekonomi lintas negara.
Pembentukan FTZ di kawasan perbatasan NTT diharapkan tidak hanya memperkuat aktivitas perdagangan, tetapi juga mendorong pertumbuhan industri, membuka peluang usaha, dan meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat di wilayah perbatasan.
Melalui kolaborasi pemerintah, KADIN, dan mitra internasional, pengembangan Free Trade Zone berpotensi menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat posisi NTT sebagai pintu perdagangan dan investasi di kawasan Asia Tenggara dan sekitarnya. ***