Lurah Nunbaun Sabu Perkuat Pemilahan Sampah Rumah Tangga dan Program Biopori

Kupang, nwartapedia.com  —  Lurah Nunbaun Sabu, Ishak Franky Pratama, S.STP., MM., yang dikenal sebagai Ishak F.P. Narakaha, memaparkan sejumlah langkah pengelolaan sampah dan penataan lingkungan di wilayahnya dalam rapat koordinasi pengelolaan sampah tingkat Kecamatan Alak, Selasa (20/10/2026).

Dalam pemaparannya, Ishak menjelaskan bahwa sejumlah capaian kebersihan di Kelurahan Nunbaun Sabu merupakan hasil kerja bersama jajaran kelurahan sebelumnya, termasuk lurah definitif terdahulu dan pelaksana tugas (Plt.) lurah.

Ia mengaku baru beberapa hari menjabat ketika pengumuman hasil lomba kebersihan disampaikan.

Meski demikian, pihak kelurahan terus melanjutkan berbagai program untuk menjaga kebersihan dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah dari sumbernya.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah berkoordinasi dengan ketua RT, RW, dan lembaga kemasyarakatan untuk menyepakati program kerja hingga Desember 2026.

Pemilahan sampah rumah tangga mulai diterapkan di RT 8 sebagai wilayah percontohan.

Selain itu, kelurahan mendorong masyarakat membuat lubang biopori untuk mengelola sampah organik secara mandiri.

Sejumlah lubang biopori telah tersedia, sementara upaya sosialisasi terus dilakukan agar setiap rumah tangga dapat memiliki setidaknya satu lubang biopori.

Ishak mengakui, pelaksanaan program tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama rendahnya kesadaran sebagian masyarakat.

Karena itu, edukasi dan imbauan perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan dukungan tenaga, waktu, dan pembiayaan yang memadai.

Pemerintah kelurahan juga menertibkan titik pengumpulan sampah agar masyarakat membuang sampah pada lokasi yang telah disepakati.

Apabila ditemukan titik pembuangan di luar ketentuan, pihak kelurahan memberikan teguran dan memasang pemberitahuan untuk mencegah kebiasaan tersebut berulang.

Dalam pengelolaan sampah anorganik, Kelurahan Nunbaun Sabu turut mengembangkan kegiatan pengumpulan sampah melalui kelompok yang sebelumnya dikenal sebagai Bank Sampah Harapan dan kini disebut Bangsa United Harapan.

Berdasarkan pemaparan Ishak, pengumpulan sampah telah mencapai hampir 80 kilogram.

Namun, kegiatan penimbangan sementara terkendala kerusakan alat timbang. Pihak kelurahan sedang mengupayakan pengadaan alat pengganti dengan perkiraan kebutuhan anggaran sekitar Rp1,2 juta agar kegiatan pengumpulan dan penimbangan sampah dapat kembali berjalan optimal.

Pemantauan kebersihan lingkungan juga dilakukan secara rutin, terutama untuk mengawasi keberadaan sampah plastik di sepanjang jalan dan kawasan permukiman.

Edukasi turut diberikan kepada anak-anak sekolah agar tidak membuang sampah sembarangan.

Kelurahan juga mengimbau masyarakat untuk tidak membakar sampah. Sampah organik, seperti daun, diarahkan untuk dikelola melalui lubang pengomposan, sedangkan sampah lainnya ditangani sesuai mekanisme pengumpulan yang telah disepakati.

Ishak menegaskan, keberlanjutan program kebersihan membutuhkan partisipasi aktif seluruh masyarakat.

Menurutnya, mempertahankan lingkungan yang sudah bersih memerlukan kedisiplinan dan kerja sama yang konsisten antara pemerintah kelurahan, RT/RW, lembaga kemasyarakatan, serta warga.

Melalui penguatan pemilahan sampah dari rumah tangga, pengembangan biopori, penertiban titik pengumpulan sampah, dan edukasi lingkungan, Kelurahan Nunbaun Sabu berharap budaya hidup bersih semakin tumbuh dan pengelolaan sampah dapat berjalan lebih efektif. (MI)