CAPACities Indonesia Siapkan Inovasi Edukasi Sampah dan Perubahan Iklim di Kota Kupang

Kupang, nwartapedia.com  – CAPACities Indonesia mendorong pengembangan inovasi pengelolaan sampah dan edukasi perubahan iklim di Kota Kupang sebagai tindak lanjut pembelajaran dari Filipina.

Berbagai praktik yang dipelajari akan dikaji agar dapat diterapkan sesuai kebutuhan dan karakteristik masyarakat setempat.

Program Manager CAPACities Indonesia, Fransiska Falentina Sugi, kepada media ini, Kamis, 16 Oktober 2026 menjelaskan bahwa kunjungan tim Kelompok Kerja (Pokja) perubahan iklim ke Filipina bertujuan untuk mempelajari strategi ketahanan iklim, manajemen risiko bencana, kebijakan pemerintah, serta keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan.

Selain belajar, rombongan juga berbagi pengalaman mengenai program dan pendekatan berbasis komunitas yang telah dilakukan di Kota Kupang.

Menurut Fransiska, salah satu pembelajaran menarik adalah praktik pengelolaan sampah melalui sistem penukaran sampah dengan kebutuhan pokok.

Di salah satu wilayah yang dikunjungi, masyarakat dapat menukarkan satu kilogram sampah dengan satu kilogram beras.

Praktik tersebut menjadi salah satu inovasi yang akan dikaji untuk kemungkinan penerapannya di Kota Kupang. Namun, sebelum diterapkan, perlu dilakukan asesmen untuk mengetahui kebutuhan, minat, dan respons masyarakat terhadap bentuk insentif yang ditawarkan.

Selain beras, bentuk insentif dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan warga, misalnya minyak goreng atau kebutuhan pokok lainnya.

Fransiska menilai, pendekatan berbasis komunitas penting agar program pengelolaan sampah tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi dapat mendorong perubahan kebiasaan masyarakat dalam memilah, mengumpulkan, dan mengurangi sampah.

Di bidang pendidikan, CAPACities Indonesia juga melihat peluang untuk mengembangkan materi edukasi lingkungan bagi anak-anak.

Pembelajaran dari Filipina mencakup penggunaan modul dan buku kerja yang dilengkapi latihan agar anak-anak dapat memahami cara menjaga lingkungan dengan lebih mudah.

Materi tersebut akan dikaji untuk diadaptasi di Kota Kupang, khususnya terkait hubungan antara sampah dan perubahan iklim.

Anak-anak diharapkan dapat mengenali sumber sampah, memahami dampaknya terhadap lingkungan, serta mempelajari langkah sederhana untuk mengurangi sampah sejak dini.

Selain pengelolaan sampah dan pendidikan lingkungan, pertanian cerdas iklim menjadi salah satu bidang yang mendapat perhatian.

Pendekatan ini diharapkan membantu petani menyesuaikan kegiatan pertanian dengan kondisi iklim sehingga risiko gagal tanam, gagal panen, dan gangguan hama dapat ditekan.

Fransiska menjelaskan, tim telah melakukan evaluasi dan menyusun rencana aksi berdasarkan pembelajaran selama kunjungan ke Filipina.

Hasil tersebut akan menjadi bahan diskusi untuk menentukan program yang relevan dan memungkinkan diterapkan di Kota Kupang.

Ke depan, terdapat pula rencana untuk mengembangkan Pekan Iklim Kota Kupang pada tahun 2027. Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang berbagi praktik baik dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, komunitas, pelaku UMKM, sektor pertanian, perikanan, dan pihak swasta.

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai berbagai upaya menghadapi perubahan iklim sekaligus melihat contoh penerapan solusi yang sesuai dengan kondisi lokal.

Fransiska berharap pertukaran pengalaman antara Kota Kupang dan mitra di Filipina dapat terus berlanjut selama pelaksanaan program CAPACities Indonesia.

Dengan tindak lanjut yang terencana, pembelajaran dari Filipina diharapkan tidak berhenti sebagai pengalaman kunjungan, tetapi berkembang menjadi inovasi nyata yang memperkuat partisipasi masyarakat, meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, dan mendukung ketahanan iklim di Kota Kupang. (MI)