22 Anak NTT Raih Beasiswa Kuliah di Tiongkok, INTI Dorong Generasi Muda Kembali Bangun Daerah
Kupang, nwartapedia.com — Sebanyak 22 anak asal Nusa Tenggara Timur (NTT) mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi di Tiongkok melalui program beasiswa penuh yang difasilitasi Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) NTT.
Ke-22 siswa tersebut akan menempuh pendidikan tinggi di Nantong College of Science and Technology (NTCST), Kota Nantong, Provinsi Jiangsu, Tiongkok.
Pelepasan 22 calon mahasiswa ini berlangsung di Shoto Kai Resto and Cafe, Kota Kupang, Rabu (23/9/2026) sore.
Kegiatan tersebut juga diikuti secara daring oleh Gubernur NTT Melki Laka Lena dan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Prof. Stella Christie, A.B., Ph.D.
Ketua Umum INTI NTT Ir. Theo Widodo yang juga ayah dari Walikota Kupang dr.Christian Widodo mengatakan, keberangkatan 22 siswa tersebut merupakan bagian dari komitmen INTI NTT dalam membuka akses pendidikan bagi generasi muda di NTT.
Program ini menjadi keberangkatan ketiga yang difasilitasi INTI NTT. Sebelumnya, tiga siswa diberangkatkan pada 2024 dan 12 siswa pada 2025.
“Program ini merupakan bentuk komitmen kami untuk membangun daerah melalui pendidikan,” ujar Theo.
Menurut Theo, para penerima beasiswa memperoleh sejumlah fasilitas, termasuk pembebasan biaya kuliah, tempat tinggal di asrama serta uang saku selama menjalani pendidikan.
Ia menjelaskan, calon mahasiswa tidak diwajibkan menguasai Bahasa Mandarin sejak awal.
Seleksi dilakukan dengan menggunakan Bahasa Inggris melalui proses wawancara jarak jauh bersama konsultan pendidikan dan pihak kampus.
“Tidak ada tes tertulis dan persyaratan TOEFL. Nanti tahun pertama di Tiongkok, mereka akan belajar Bahasa Mandarin,” jelasnya.
Theo menyebut para mahasiswa akan menempuh pendidikan pada sejumlah bidang yang berkaitan dengan teknologi dan kebutuhan industri.
Empat jurusan tersebut yakni Food Intelligence Technology, Mekatronika, Software Technology dan Horticultural Technology.
Para mahasiswa akan menempuh pendidikan Diploma III.
Setelah menyelesaikan pendidikan, mereka dapat mengembangkan pengalaman dan kompetensi yang diperoleh sebagai modal untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya sesuai ketentuan yang berlaku.
Theo yang juga adalah ketua Forum Pembauran Kebangsaan disingkat FPK NTT mengatakan, kesempatan belajar di Tiongkok diharapkan dapat memperluas wawasan dan kemampuan anak-anak NTT, terutama dalam memahami perkembangan teknologi, etos kerja dan kemanpuan bahasa Mandarin bukan hanya bidang study yg dipelajari.
Ia berharap para mahasiswa dapat menyelesaikan pendidikan sesuai target dan nantinya kembali ke NTT.
“Kami berharap mereka menyelesaikan pendidikan tepat waktu dan kembali membangun NTT,” katanya.
Agen Pendidikan INTI di Jakarta, Yovandra, mengatakan sebanyak 26 peserta mengikuti proses seleksi untuk program tahun ketiga tersebut.
Setelah melalui tahapan seleksi, 22 peserta dinyatakan memenuhi persyaratan untuk melanjutkan pendidikan di Nantong.
Menurut Yovandra, proses seleksi dilakukan melalui dua tahap wawancara. Tahap pertama dilakukan bersama dirinya, sedangkan tahap berikutnya dilakukan bersama pihak kampus secara daring.
Ia menegaskan bahwa program tersebut tidak mensyaratkan test tertulis maupun nilai TOEFL tertentu.
Para peserta yang dinyatakan lolos kemudian harus menyiapkan sejumlah dokumen, seperti paspor, rapor, pemeriksaan kesehatan dll.
Secara nasional, terdapat 108 peserta yang dinyatakan lolos tahun ini. Dari jumlah tersebut, 22 orang berasal dari NTT.
Yovandra mengatakan para mahasiswa dijadwalkan berangkat ke Jakarta untuk pengurusan visa tgl 24 September sebelum kemudian melanjutkan perjalanan ke Tiongkok dibantu oleh Konsultan Pendidikan .
Ia berharap program tersebut dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak anak NTT memperoleh kesempatan menempuh pendidikan di luar negeri, terutama dinegri maju Tiongkok.
Gubernur NTT Melki Laka Lena dalam arahannya memberikan apresiasi terhadap program yang dilakukan INTI NTT.
Melki mengatakan kesempatan belajar di Tiongkok dapat menjadi pengalaman penting bagi para siswa untuk mengenal perkembangan teknologi, pendidikan dan berbagai sektor industri dan terutama bahasa serta etos kerja.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh selama berada di Nantong nantinya dapat diterapkan untuk mendukung pembangunan di NTT.
“Pulang kembali ke NTT bawa proposal ide. Kami siap memfasilitasi,” kata Melki.
Ia juga berpesan agar para mahasiswa menjadi bagian dari generasi yang membawa perubahan bagi daerah setelah menyelesaikan pendidikan.
Menurut Gubernur yang pernah mengunjungi kampus tsb, kebutuhan NTT terhadap sumber daya manusia dengan kemampuan teknologi akan semakin besar seiring perkembangan pembangunan dan hilirisasi berbagai sektor.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Prof. Stella Christie PhD turut memberikan motivasi kepada 22 calon mahasiswa tersebut.
Ia meminta para siswa tidak hanya fokus menyelesaikan pendidikan, tetapi juga memanfaatkan kesempatan berada di Tiongkok untuk mempelajari berbagai perkembangan baru.
“Jangan sia-siakan kesempatan ini. Perubahan di Tiongkok ini sangat besar. Buka telinga dan mata untuk mempelajari sesuatu yang baru,” pesannya.
Prof. Stella juga mengingatkan para mahasiswa untuk tetap memiliki komitmen terhadap pendidikan dan kembali memberikan manfaat bagi masyarakat setelah menyelesaikan studi.
Salah satu penerima beasiswa, Malesia Seanaz Aurolia, lulusan SMA Kristen Citra Bangsa, memilih jurusan Mekatronika.
Seanaz mengetahui program tersebut setelah INTI NTT melakukan sosialisasi di sekolahnya.
Ia mengatakan proses seleksi yang dijalani tidak terlalu sulit karena wawancara menggunakan Bahasa Inggris dengan pertanyaan-pertanyaan mudah.
Bagi Seanaz, kesempatan kuliah di Tiongkok merupakan pengalaman berharga yang harus dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh.
“Saya berkomitmen untuk tidak mengecewakan orangtua dan INTI NTT yang sudah memfasilitasi saya dan teman-teman,” ujarnya.
Ketua Bidang Pendidikan INTI NTT Ir. Mariana Nenobais, M.Si., menilai anak-anak NTT memiliki kemampuan untuk bersaing dengan siswa dari berbagai daerah maupun negara lain.
Menurutnya, keberhasilan 22 siswa lolos seleksi menjadi salah satu bukti bahwa anak-anak NTT memiliki potensi besar apabila diberikan akses dan kesempatan.
Ia berharap semakin banyak orang tua memberikan dukungan kepada anak-anak mereka untuk mengikuti berbagai pendidikan, termasuk belajar di luar negeri.
Program beasiswa tersebut diharapkan tidak hanya menjadi jalan bagi 22 siswa untuk memperoleh pendidikan, tetapi juga menjadi investasi sumber daya manusia bagi NTT.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Tiongkok, para mahasiswa diharapkan membawa pulang ilmu, pengalaman dan keterampilan untuk kemudian berkontribusi dalam pembangunan daerah. (MI)
