Isidorus Lilijawa Ajak Mahasiswa IAKN Kupang Bangun Gerakan Cinta Lingkungan

Kupang, nwartapedia.com — Kepedulian terhadap lingkungan perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan hanya sebatas pengetahuan.

Pesan tersebut disampaikan Direktur Perumda Air Minum Kota Kupang sekaligus mahasiswa Pascasarjana IAKN Kupang, Isidorus Lilijawa, S.Fil., MM, kepada media ini usai webinar bertema “Merawat Bumi, Merawat Kehidupan: Ekoteologi sebagai Spiritualitas Cinta”, Senin (21/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Kampus IAKN Kupang tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan menuju wisuda Angkatan ke-19.

Dalam kesempatan tersebut, Isidorus mengajak mahasiswa untuk melihat persoalan lingkungan tidak hanya dari sisi ekonomi maupun pembangunan, tetapi juga dari sisi kesadaran dan tanggung jawab manusia terhadap alam.

Ia menilai berbagai kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini berkaitan erat dengan perilaku manusia dalam memperlakukan alam.

Menurut Isidorus, ketika manusia benar-benar memiliki kecintaan terhadap lingkungan dan seluruh ciptaan, maka akan tumbuh kesadaran untuk menjaga serta tidak mengeksploitasi alam secara berlebihan.

“Kalau kita mengedepankan cinta kita pada lingkungan, cinta kita pada ciptaan yang lain, saya yakin semuanya akan berjalan dalam kondisi yang baik,” ungkapnya.

Isidorus juga menyoroti berbagai persoalan lingkungan seperti banjir, longsor dan kebakaran yang terjadi di sejumlah wilayah.

Menurutnya, aktivitas manusia menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian serius dalam persoalan tersebut.

Dorongan ekonomi, pembangunan dan kepentingan modal, kata dia, tidak boleh membuat manusia mengabaikan keberlanjutan lingkungan.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk membangun pertobatan ekologis. Pertobatan tersebut dimaknai sebagai kesadaran untuk melihat kembali perilaku manusia terhadap alam dan kemudian membangun komitmen untuk memperbaikinya.

“Kita harus sadar bahwa itu disebabkan oleh manusia dan sama-sama membangun komitmen untuk kembali merawat bumi, kembali menjaga bumi,” katanya.

Ia menegaskan, bumi merupakan tempat manusia menjalani kehidupan. Karena itu, menjaga lingkungan berarti ikut menjaga keberlangsungan kehidupan manusia.

Dalam konteks pendidikan, Isidorus berharap nilai-nilai ekoteologi dapat diterjemahkan menjadi gerakan nyata di lingkungan kampus.

Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya memperoleh wawasan mengenai lingkungan, tetapi perlu terdorong untuk melakukan langkah sederhana yang dapat memberikan dampak bagi masyarakat.

Ia mengajak sivitas akademika memulai gerakan tersebut dari lingkungan kampus.

“Mulai dari kampus kita melakukan gerakan-gerakan kecil tetapi berdampak, sehingga dampak nyata itu bisa kita tularkan kepada masyarakat,” ujarnya.

Isidorus juga berharap mahasiswa yang nantinya menyelesaikan pendidikan di IAKN Kupang tetap membawa semangat spiritualitas ekologi ketika kembali ke lingkungan masing-masing.

Ilmu dan wawasan yang diperoleh selama berada di perguruan tinggi, menurutnya, harus dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan memberi manfaat bagi masyarakat.

“Universitas sejati itu adalah masyarakat,” tegasnya.

Ia kemudian mengajak seluruh peserta webinar untuk memulai kepedulian terhadap lingkungan dari tempat terdekat, baik rumah maupun lembaga pendidikan.

“Mari kita jaga lingkungan kita, mulai dari rumah kita masing-masing, mulai dari lembaga pendidikan kita masing-masing,” pungkas Isidorus. (MI)