Renstra UNWIRA, Isidorus Lilijawa Tegaskan Perumda Air Minum Siap Jadi Ruang Belajar Mahasiswa
Kupang, nwartapedia.com — Penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) 2026-2030 menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan dunia kerja.
Direktur Perumda Air Minum Kota Kupang, Isidorus Lilijawa, S.Fil., MM, menegaskan bahwa Perumda Air Minum Kota Kupang siap menjadi ruang belajar bagi mahasiswa melalui kegiatan magang dan pengalaman kerja di lapangan.
Hal tersebut disampaikan Isidorus saat menjadi narasumber dalam kegiatan penyusunan Renstra UNWIRA Tahun 2026-2030 pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Kegiatan bertema “Transformasi Menuju UNWIRA yang Unggul, Beridentitas, dan Berdampak” itu diselenggarakan oleh Lembaga Penjamin Mutu (LPM) UNWIRA dan diikuti 36 peserta dari unsur pimpinan universitas, fakultas, lembaga, unit kerja, alumni, mitra, stakeholder, pengguna lulusan, serta narasumber.
Dalam pemaparannya mengenai kontribusi UNWIRA, karakter lulusan, dan kebutuhan masyarakat, Isidorus menekankan bahwa perguruan tinggi perlu membangun hubungan yang lebih kuat dengan dunia kerja.
Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya mendapatkan pembelajaran di ruang kelas. Mereka juga membutuhkan pengalaman langsung agar mampu memahami persoalan, budaya kerja, serta tuntutan profesional.
Karena itu, Perumda Air Minum Kota Kupang membuka kesempatan bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk belajar melalui program magang.
“Di Perumda kami terbuka pada berbagai anak magang dari berbagai universitas. Seperti dari ITS Surabaya kami terima untuk belajar, begitu juga dengan UNWIRA,” ungkap Isidorus.
Kesiapan tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan dunia pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja, sehingga mahasiswa memiliki pengalaman praktis sebelum memasuki dunia profesional.
Isidorus juga menegaskan bahwa penyusunan Renstra UNWIRA harus mampu memastikan lulusan yang dihasilkan benar-benar relevan dengan kebutuhan NTT.
“Evaluasi ini penting untuk memastikan bahwa UNWIRA relevan dengan kebutuhan NTT. Karena UNWIRA hadir di NTT, maka harus relevan dengan kebutuhan NTT, untuk memperkuat eksistensi di dunia kerja dan mencetak lulusan yang sesuai dengan kebutuhan daerah 3T,” ujarnya.
Menurutnya, lulusan masa kini harus memiliki kompetensi, kemampuan beradaptasi, literasi digital, kemampuan memecahkan masalah, mampu bekerja dalam tim, menguasai bahasa asing, memiliki jiwa kewirausahaan, serta berkarakter dan beretika.
Selain menyiapkan lulusan, Isidorus mendorong UNWIRA memperkuat riset dan inovasi yang berbasis pada persoalan serta potensi lokal.
Ia menyebut bidang lingkungan, air, pertanian, pariwisata, dan ekonomi masyarakat sebagai sejumlah sektor yang membutuhkan kontribusi perguruan tinggi.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki posisi strategis untuk menghasilkan kajian dan inovasi yang tidak hanya bermanfaat secara akademik, tetapi juga dapat menjadi solusi terhadap persoalan masyarakat.
Menutup pemaparannya, Isidorus memberikan tiga kata kunci sebagai bahan refleksi dalam penyusunan Renstra UNWIRA 2026-2030, yakni menoleh, menatap, dan menunduk.
Menoleh berarti mengevaluasi capaian yang telah dilakukan. Menatap berarti mempersiapkan masa depan, sedangkan menunduk berarti melakukan refleksi dan introspeksi untuk membangun kekuatan dari dalam.
Dengan arah tersebut, Renstra UNWIRA 2026-2030 diharapkan mampu memperkuat hubungan kampus dengan dunia kerja, membuka lebih banyak ruang belajar bagi mahasiswa, serta menghasilkan lulusan yang kompeten dan sesuai dengan kebutuhan pembangunan NTT. *