Isidorus Lilijawa Soroti Ancaman Lunturnya Tenun Ngada, Generasi Muda Diminta Bergerak

Kupang, nwartapedia.com — Tradisi tenun ikat Ngada menghadapi tantangan di tengah perubahan zaman. Aktivitas menenun yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kini mulai semakin jarang ditemukan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Direktur Perumda Air Minum Kota Kupang sekaligus Ketua Paguyuban IKADA Kupang, Isidorus Lilijawa, S.Fil., MM., saat menjadi narasumber dalam Sosialisasi Kain Tenun Ngada di Museum NTT, Kamis (20/8/2026).

Kegiatan bertajuk “Melestarikan Warisan Budaya, Memperkuat Identitas dan Jati Diri Masyarakat NTT” itu turut dihadiri Dr. Drs. Watu Yohanes Vianey, M.Hum., Dr. Maria Bernadetha Ringga, S.E., M.M., serta masyarakat dan mahasiswa.

Membawakan materi “Tenun Ikat Ngada dalam Perspektif Simbol”, Isidorus menegaskan tenun tidak boleh dipandang hanya sebagai kain atau produk kerajinan.

Menurutnya, setiap motif, warna, dan jalinan benang menyimpan nilai serta menggambarkan cara berpikir dan kehidupan masyarakat Ngada.

“Tenun ikat Ngada adalah simbol dari cara berada, cara berpikir dan cara hidup masyarakat Ngada. Setiap benang yang membentuk motif, setiap jalinan kain yang mewujud warna adalah simbol tentang nilai,” jelasnya.

Isidorus juga mengenang masa kecilnya di Lengkosambi, Riung. Sekitar 30 tahun lalu, masyarakat masih menanam kapas, mengolahnya menjadi benang, dan menenun kain sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Menurut Isidorus, perubahan zaman dan masuknya budaya baru dapat membuat generasi muda semakin jauh dari tradisi lokal.

Jika tidak dilakukan upaya nyata, simbol budaya seperti tenun berisiko hanya menjadi benda peninggalan masa lalu tanpa lagi dipahami maknanya.

Karena itu, ia mendorong revitalisasi budaya melalui empat pendekatan, yaitu pelestarian, pementasan, modifikasi, dan reinvensi tradisi.

“Tradisi kita bukan kita ubah, tapi kita modifikasi dan diversifikasi sesuai dengan kebutuhan kita, dengan tetap melakukan upaya-upaya pelestarian dan menjaga tradisi,” ungkapnya.

Pengembangan tersebut dapat dilakukan melalui museum, sanggar budaya, lembaga adat, pertunjukan budaya, hingga inovasi desain tenun yang tetap mempertahankan akar tradisinya.

Isidorus menilai generasi muda memiliki posisi penting dalam menentukan apakah tradisi tenun Ngada akan terus hidup atau justru semakin ditinggalkan.

Karena itu, generasi muda perlu memahami bukan hanya bentuk dan motif tenun, tetapi juga proses pembuatan, filosofi, nilai, dan sejarah yang ada di baliknya.

Ia berharap tenun Ngada dapat terus digunakan, dikembangkan, dan memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat modern.

“Tenun harus tetap hidup,” menjadi semangat yang ditekankan Isidorus agar warisan budaya Ngada tidak berhenti sebagai simbol masa lalu, tetapi tetap menjadi bagian dari identitas masyarakat NTT dan diwariskan kepada generasi berikutnya. ***