Perdana, FKIP UCB Hadirkan Narasumber 4 Negara dalam Konferensi Internasional di Kupang

Kupang,nwartapedia.com – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Citra Bangsa (UCB) Kupang untuk pertama kalinya menggelar Workshop dan Konferensi Internasional tentang Ilmu Pendidikan 2026 dengan menghadirkan narasumber dari empat negara.

Kegiatan yang mengusung tema “Mentransformasi Pendidikan di Era Digital: Mengintegrasikan Kecerdasan Buatan, Kolaborasi Global, dan Keterampilan Abad ke-21” tersebut berlangsung di Aula Kampus UCB, Kupang, Selasa (11/8/2026).

Konferensi internasional perdana ini menghadirkan akademisi dan praktisi pendidikan dari Amerika Serikat, Thailand, Timor Leste dan Indonesia.

Para pembicara yang hadir antara lain Prof. Linda A. Pelch, Ph.D., Prof. Dr. Marshela Lie, Ed.D., M.A.Ed., dan Prof. Dr. Cynthia S. Wiseman, Ed.D. dari City University of New York (CUNY), Amerika Serikat.

Hadir pula Dr. Ana Mae dari Asponshire International School, Thailand, Antonio Contantino Soares, S.S., M.Hum. dari Instituto Sao Joao de Brito, Timor Leste, serta Dr. Agnes M.D. Rafael, S.Pd., M.Hum. dari Universitas Citra Bangsa.

Narasumber dari City University of New York, Prof. Dr. Marshela Lie kepada media ini mengatakan konferensi tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mendapatkan pemahaman mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam dunia pendidikan.

Menurutnya, AI saat ini semakin banyak digunakan mahasiswa sehingga pemanfaatannya perlu disertai pemahaman mengenai etika dan kemampuan berpikir kritis.

“Penggunaan kecerdasan buatan itu hanyalah sebagai bantuan, tetapi bukan sebagai pengganti,” katanya.

Marshela menjelaskan, mahasiswa harus tetap mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif dan mandiri dalam proses pembelajaran.

Ia juga berharap kehadiran akademisi internasional dapat memotivasi mahasiswa UCB untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris.

Menurutnya, kemampuan bahasa Inggris menjadi salah satu modal penting bagi mahasiswa untuk mengikuti konferensi internasional maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi di luar negeri.

“Kami berharap mahasiswa bisa lebih aktif dan lebih semangat dalam belajar bahasa Inggris sehingga nantinya mampu bersaing secara internasional,” ujarnya.

Dekan FKIP UCB, Heryon Bernard Mbuik, PAK, M.Pd., yang akrab ddisapa Bernard Mbuik, mengatakan kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari komunikasi dan kerja sama yang telah dibangun sejak beberapa bulan sebelumnya.

Menurutnya, kerja sama tersebut kemudian dikembangkan menjadi kolaborasi antarlembaga dengan melibatkan akademisi dan institusi pendidikan dari berbagai negara.

Konferensi internasional ini menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian kegiatan kerja sama yang berlangsung selama beberapa hari.

Bernard Mbuik mengatakan terdapat sejumlah target yang ingin dicapai melalui kerja sama tersebut, salah satunya meningkatkan kolaborasi riset antara dosen UCB dengan akademisi dari luar negeri.

Selain itu, kerja sama juga membuka peluang bagi mahasiswa UCB untuk melakukan studi banding ke Amerika Serikat serta memberikan kesempatan bagi dosen untuk mengikuti kegiatan akademik di luar negeri.

“Perlu adanya pertukaran ilmu pengetahuan maupun teknologi. Dengan kemajuan dari berbagai aspek, sepantasnya kita berguru pada negara-negara yang maju dan berkembang sangat luar biasa,” jelasnya.

Bernard Mbuik berharap kolaborasi internasional tersebut dapat memberikan terobosan baru bagi dunia pendidikan di Nusa Tenggara Timur.

Selain konferensi, para akademisi internasional juga dijadwalkan melakukan kunjungan ke sejumlah institusi pendidikan di Kota Kupang, termasuk sekolah dan perguruan tinggi.

Kunjungan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kondisi pendidikan di NTT sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas.
Dorong Mahasiswa Bangun Jejaring Global

Bernard Mbuik juga mendorong mahasiswa UCB memanfaatkan kehadiran para akademisi internasional untuk membangun jejaring dan meningkatkan wawasan.

Menurutnya, keterlibatan akademisi dari Amerika Serikat dan sejumlah negara lainnya menunjukkan bahwa perguruan tinggi di NTT memiliki peluang untuk membangun kerja sama dengan institusi pendidikan internasional.

“Mahasiswa harus termotivasi bahwa negara besar seperti Amerika ternyata mau berkolaborasi dengan institusi pendidikan yang ada di Indonesia, khususnya kita di Nusa Tenggara Timur,” katanya.

Ia menambahkan, kerja sama tersebut diharapkan dapat membuka akses mahasiswa terhadap informasi, pengetahuan serta peluang melanjutkan studi ke luar negeri.

Sementara itu, Ketua Panitia, Dr. Maria Sogen, M.Pd., mengatakan persiapan konferensi telah dilakukan selama kurang lebih enam bulan.

Menurut Maria, konferensi menghadirkan enam narasumber dengan materi yang disesuaikan dengan tema kegiatan.

Kegiatan juga melibatkan peserta dari sejumlah perguruan tinggi di luar UCB serta mahasiswa.

“Acara ini berjalan dengan lancar karena kami melakukan kolaborasi bersama adik-adik mahasiswa,” ujarnya.

Ia menambahkan rangkaian kegiatan diawali dengan workshop sebelum dilanjutkan dengan konferensi internasional sebagai puncak kegiatan.

“Hasil kegiatan akademik tersebut juga direncanakan untuk dipublikasikan melalui jurnal internasional,”ungkapnya.

Kerja sama UCB dengan City University of New York menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring pendidikan internasional dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta berbagai kegiatan akademik.

Melalui konferensi internasional perdana ini, FKIP UCB berharap mahasiswa dan dosen dapat memperoleh wawasan baru mengenai perkembangan pendidikan global, pemanfaatan AI secara etis, sekaligus membuka peluang kolaborasi akademik yang lebih luas di tingkat internasional (MI)