Pemkot Kupang Ingatkan Warga Waspada Penipuan Catut Nama Wali Kota Christian Widodo

Kupang, nwartapedia.com  – Pemerintah Kota Kupang mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan yang mengatasnamakan pejabat publik.

Imbauan tersebut disampaikan menyusul beredarnya pesan WhatsApp dari nomor 0823 6452 4574 yang mengaku sebagai Wali Kota Kupang, Christian Widodo.

Dalam pesan yang beredar, pelaku menyampaikan arahan terkait rencana kunjungan mantan Presiden Joko Widodo ke Kota Kupang.

Tidak hanya itu, nomor tersebut juga mengirimkan dokumen yang berisi permintaan atau penggalangan dana yang dikaitkan dengan kegiatan tersebut.

Pemerintah Kota Kupang menegaskan bahwa nomor WhatsApp tersebut bukan milik Wali Kota Kupang dan seluruh informasi yang disampaikan melalui nomor tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Masyarakat diminta untuk tidak mudah percaya terhadap pesan, telepon, maupun permintaan bantuan yang mengatasnamakan Wali Kota Kupang atau pejabat pemerintah lainnya tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.

Pemkot Kupang juga mengimbau warga agar tidak memberikan data pribadi, mentransfer uang, maupun menindaklanjuti permintaan apa pun yang berasal dari nomor tidak dikenal yang mengaku sebagai pejabat publik.

Selain itu, masyarakat diminta segera melaporkan kepada pihak berwenang apabila menemukan nomor atau akun lain yang mencatut nama Wali Kota Kupang maupun pejabat pemerintah untuk tujuan penipuan.

“Penting bagi masyarakat untuk selalu cerdas dalam berliterasi digital, memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayainya, serta aktif melaporkan konten atau pesan yang terindikasi hoaks dan penipuan,” demikian imbauan Pemerintah Kota Kupang.

Pemkot Kupang mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama memerangi penyebaran informasi palsu dengan menerapkan prinsip cek informasi, verifikasi sumber, dan laporkan hoaks demi menjaga keamanan serta ketertiban di ruang digital. *




Gus Ipul: Data Akurat dan Sekolah Rakyat Kunci Pengentasan Kemiskinan di NTT

Kupang, nwartapedia.com – Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menegaskan bahwa data yang akurat, bantuan yang tepat sasaran, dan program Sekolah Rakyat merupakan tiga pilar penting dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas menuju kemandirian ekonomi.

Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-30 dan kegiatan Pemutakhiran Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) Tahun 2026 di Aula El Tari Kupang, Minggu (31/5/2026).

Gus Ipul menjelaskan, pemerintah saat ini tengah memperluas pembangunan Sekolah Rakyat di berbagai daerah.

Di NTT, Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 19 Kupang telah beroperasi dan menampung 100 siswa yang seluruhnya berasal dari keluarga kategori Desil 1 dan 2 DTSEN.

Menurutnya, Sekolah Rakyat merupakan bentuk keberpihakan pemerintah kepada masyarakat miskin agar memperoleh akses pendidikan yang layak.

Ia juga menegaskan sekolah harus bebas dari kekerasan, perundungan, intoleransi, korupsi, dan pungutan liar.

Sementara itu, Kepala SRMP 19 Kupang, Felipina A. Kale, mengatakan mayoritas orang tua siswa bekerja sebagai petani penggarap dan tinggal di lahan yang bukan milik sendiri.

Selain pendidikan akademik, sekolah juga memberikan pendampingan psikososial untuk mengembangkan potensi siswa.

Pada kesempatan yang sama, Kepala BPS RI Amalia Adininggar Widyasanti mengungkapkan bahwa NTT masih didominasi penduduk usia muda, sehingga memiliki peluang besar dalam pembangunan SDM.

Namun, perhatian terhadap lansia tetap diperlukan karena sebagian besar masih menjadi tulang punggung keluarga.

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan bahwa keakuratan DTSEN menjadi dasar penting dalam penanggulangan kemiskinan.

Pemerintah Provinsi NTT, katanya, terus melakukan pembaruan data agar tidak ada warga miskin yang terlewat dari program bantuan pemerintah.

“Kita harus memastikan seluruh data akurat sehingga setiap program pembangunan dan bantuan sosial benar-benar tepat sasaran,” tegas Gubernur Melki. *




Pemprov NTT Terapkan Gerakan Jam Belajar Masyarakat, Anak Sekolah Diminta Belajar Pukul 18.00–19.30

Kupang, nwartapedia.com  – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) resmi menerapkan Gerakan Jam Belajar Masyarakat melalui Pergub Nomor 24 Tahun 2026 sebagai langkah memperkuat budaya belajar anak di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, dalam konferensi pers yang berlangsung di Kantor Gubernur NTT, Jumat (29/5/2026).

Menurut Ambrosius, kebijakan ini lahir dari keprihatinan pemerintah terhadap masih rendahnya budaya belajar di rumah dan lingkungan masyarakat, serta meningkatnya distraksi aktivitas kurang produktif di luar jam sekolah.

“Pemerintah Provinsi NTT menghadirkan Gerakan Jam Belajar Masyarakat sebagai solusi bersama untuk membangun ekosistem pendidikan yang mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh,” ujarnya.

Dalam kebijakan tersebut, jam belajar masyarakat dilaksanakan setiap hari mulai pukul 18.00 hingga 19.30 waktu setempat.

Waktu tersebut diperuntukkan bagi anak-anak usia sekolah untuk belajar, membaca, mengerjakan tugas sekolah, melakukan kegiatan literasi, serta pengembangan diri yang positif.

Ambrosius menjelaskan, tujuan utama gerakan ini yakni menciptakan suasana belajar yang kondusif di rumah dan lingkungan masyarakat, membiasakan anak memiliki waktu belajar yang disiplin dan teratur, meningkatkan literasi serta minat baca, sekaligus membentuk karakter generasi muda yang berdaya saing.

“Kami ingin budaya belajar menjadi gerakan sosial masyarakat, bukan hanya tanggung jawab sekolah,” katanya.

Ia menegaskan bahwa kebijakan tersebut bersifat edukatif dan persuasif, bukan pembatasan sosial terhadap masyarakat. Pelaksanaannya tetap memperhatikan kegiatan keagamaan, budaya lokal, kondisi sosial masyarakat, hingga dinamika kehidupan keluarga.

Pemerintah juga mendorong partisipasi aktif masyarakat secara sukarela dan sadar demi keberhasilan program tersebut.

Dalam implementasinya, seluruh elemen masyarakat dilibatkan. Orang tua diminta mendampingi serta mengawasi anak selama jam belajar berlangsung dan menciptakan suasana rumah yang tenang.

Sementara sekolah dan guru diharapkan memberikan penguatan literasi dan tugas yang mendukung pembelajaran mandiri. Pemerintah desa dan kelurahan berperan mengedukasi masyarakat serta membantu pengawasan lingkungan.

Tokoh agama dan tokoh masyarakat juga diharapkan menjadi teladan dan penggerak budaya belajar di tengah masyarakat, sedangkan media massa diminta mendukung penyebaran informasi dan edukasi publik secara positif.

Pemerintah Provinsi NTT berharap gerakan ini mampu membentuk kebiasaan belajar yang disiplin dan konsisten bagi anak-anak, menciptakan lingkungan masyarakat yang lebih tertib dan kondusif, serta mengurangi aktivitas negatif anak di luar rumah pada malam hari.

Selain itu, kebijakan ini juga diharapkan dapat memperkuat fondasi sumber daya manusia unggul menuju NTT yang maju, sehat, cerdas, sejahtera, dan berkelanjutan.

Sementara itu, Kepala Biro Hukum Setda Provinsi NTT, Odermaks Sombu, mengajak seluruh orang tua di NTT untuk mendukung kebijakan tersebut dengan mendampingi anak-anak pada waktu belajar yang telah ditetapkan.

“Diharapkan seluruh masyarakat Nusa Tenggara Timur, khususnya para orang tua yang memiliki anak sekolah, dapat mendukung gerakan ini dengan mendampingi anak-anak pada jam belajar,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi NTT juga membuka ruang dialog, masukan, serta partisipasi publik dalam implementasi kebijakan tersebut agar Gerakan Jam Belajar Masyarakat benar-benar tumbuh menjadi gerakan bersama demi masa depan pendidikan NTT yang lebih baik. *




PW Persis NTT Gelar Pemotongan Hewan Kurban di Noelbaki, Perkuat Toleransi Antarumat Beragama

Oelamasi, nwartapedia.com – Pimpinan Wilayah Persatuan Islam (PW Persis) Provinsi Nusa Tenggara Timur melaksanakan kegiatan pemotongan hewan kurban 1447 Hijriah pada Kamis (28/5/2026) atau bertepatan dengan 11 Zulhijjah 1447 H di wilayah Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang.

Kegiatan tersebut dipimpin oleh Ketua sekaligus penanggung jawab kegiatan, Al Ustaz Muallim Chaniago, S.Ag., M.Pd. Ia menjelaskan bahwa hewan kurban yang disembelih merupakan bantuan murni dari anggota DPD RI, Ustaz KH Muhammad Nuh, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Alumni Persis Bangil (IKAPB).

Menurut Muallim Chaniago, bantuan tersebut menjadi bentuk kepedulian terhadap masyarakat sekaligus sarana memperkuat nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk.

“Kegiatan kurban ini bukan hanya sebagai pelaksanaan ibadah, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, Noelbaki dipilih sebagai lokasi pelaksanaan karena daerah tersebut dikenal sebagai salah satu ikon toleransi dan moderasi beragama di Kabupaten Kupang. Masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut hidup berdampingan dengan damai meskipun berasal dari latar belakang agama yang berbeda.

Dalam proses pembagian daging kurban, panitia tidak hanya menyalurkannya kepada warga Muslim, tetapi juga kepada warga Nasrani yang tinggal di sekitar lokasi kegiatan. Langkah tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat karena mencerminkan semangat berbagi dan kepedulian sosial yang menjadi nilai utama dalam perayaan Iduladha.

“Daging kurban tidak hanya dibagikan kepada kaum Muslimin, tetapi juga kepada tetangga sekitar yang beragama Nasrani sebagai bentuk kebersamaan dan penghormatan antarumat beragama,” jelasnya.

Data yang disampaikan panitia menunjukkan bahwa wilayah Noelbaki dihuni sekitar 300 kepala keluarga (KK), dengan sekitar 75 KK di antaranya merupakan keluarga Muslim. Meski demikian, kehidupan sosial masyarakat berlangsung harmonis dan penuh rasa saling menghargai.

“Alhamdulillah, kehidupan sosial kemasyarakatan di Noelbaki selalu rukun. Hampir tidak pernah terjadi keributan atau konflik yang berkaitan dengan perbedaan agama maupun latar belakang masyarakat,” tambah Muallim Chaniago.

Melalui kegiatan kurban ini, PW Persis NTT berharap semangat berbagi, persaudaraan, serta toleransi yang telah terjalin di Noelbaki dapat terus dipelihara dan menjadi contoh bagi daerah lain dalam membangun kehidupan masyarakat yang damai, harmonis, dan saling menghormati. (MI)




Deken Malaka Soroti Lonjakan Pemulangan Jenazah PMI Non Prosedural, Ajak Warga Waspada

Malaka, nwartapedia.com  – Peningkatan kasus pemulangan jenazah Pekerja Migran Indonesia non prosedural asal Kabupaten Malaka menjadi perhatian serius Gereja. Pater Hironumimus Moensaku, SVD, selaku Deken Malaka, menyampaikan keprihatinan atas kondisi tersebut yang terus terjadi dalam tiga tahun terakhir.

Menurutnya, tekanan ekonomi keluarga dan kurangnya pemahaman masyarakat soal prosedur resmi menjadi pemicu utama. Banyak warga tergoda iming-iming kerja luar negeri cepat dan menguntungkan, padahal berisiko tinggi.

“Kita harus berpikir objektif. Kalau mau kerja ke luar negeri, pastikan lewat jalur resmi dengan dokumen lengkap. Itu satu-satunya cara agar aman,” kata Pater Hironumimus saat ditemui di Malaka.

Ia meminta masyarakat tidak mudah percaya pada ajakan oknum tak bertanggung jawab. Pengecekan dan klarifikasi wajib dilakukan sebelum mengambil keputusan.

“Jangan cepat tergiur. Filter setiap informasi yang beredar di media sosial. Kita tidak boleh jadi korban perdagangan orang di daerah sendiri,” tegasnya.

Pater Deken juga mengajak umat mendukung upaya pemerintah memberantas human trafficking. Ia menekankan bahwa jalur resmi memang lebih panjang, tetapi menjamin perlindungan hukum dan keselamatan pekerja.

“Mari kita lindungi warga kita bersama. Migrasi aman itu bukan pilihan, tapi kebutuhan,” pungkasnya.

Kasus yang terus berulang diharapkan menjadi titik balik bagi masyarakat Malaka untuk lebih selektif dan memilih jalur migrasi yang legal serta terlindungi.*




KBP2 Polri Sumba Timur Peringati HUT ke-6 Lewat Aksi Sosial dan Komitmen Jaga Kamtibmas

Waingapu, nwartapedia.com – Keluarga Besar Putra Putri Polri (KBP2) Resor Sumba Timur merayakan hari jadinya yang ke-6 dengan menggelar rangkaian kegiatan sosial di Lapangan Sandalwood Waingapu, Kamis (28/5/2026).

Acara puncak ditandai dengan Deklarasi Sitkamtibmas dan Bakti Sosial yang menyasar peningkatan kebersihan lingkungan serta kesehatan masyarakat di Kabupaten Sumba Timur.

Momentum ini juga dimanfaatkan untuk menyalurkan bantuan sosial kepada para purnawirawan dan warakawuri Polri.

Ketua KBP2 Polri Resor Sumba Timur, Moses Kopong, yang sehari-hari menjabat Kasie Propam Polres Sumba Timur, menyebut kegiatan ini sebagai bentuk nyata kepedulian institusi terhadap masyarakat.

“Kami ingin mendorong kesadaran bersama bahwa lingkungan bersih dan sehat adalah tanggung jawab kita semua. Melalui aksi ini, kami ajak masyarakat lebih peduli terhadap kebersihan sekitar,” ujar Moses.

Selain fokus pada lingkungan, bantuan sosial diberikan untuk mempererat hubungan kekeluargaan di internal Polri.

“Kepedulian kepada sesama, terutama kepada keluarga besar Polri yang telah purna tugas, harus terus dijaga,” tambahnya.

Dalam deklarasi Sitkamtibmas, Moses menekankan bahwa keamanan dan ketertiban bukan hanya tugas polisi.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat Sumba Timur bersinergi dengan Polres untuk menciptakan suasana yang aman dan kondusif.

“Dengan kerja sama yang solid, Sumba Timur bisa menjadi daerah yang nyaman bagi semua warga,” tegasnya.

Kegiatan bertema *“Indahnya Berbagi, Wujud Nyata Kepedulian untuk Sesama”* ini diharapkan menjadi pemicu semangat gotong royong. Pihak panitia berharap aksi serupa rutin digelar untuk memperkuat hubungan Polri dan masyarakat sekaligus menjaga stabilitas wilayah. *




Tokoh Peternak Pandawai Ajak Tolak Eksploitasi Ilegal Kuda Sandelwood Demi Kelestarian Populasi

Pandawai, nwartapedia.com — Stefanus Pekuwali, tokoh masyarakat sekaligus pelaku usaha peternakan hewan besar di Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur, mengajak seluruh peternak lokal untuk bersama-sama menolak berbagai praktik eksploitasi ilegal terhadap Kuda Sandelwood yang dinilai mengancam keberlanjutan populasi ternak endemik kebanggaan Pulau Sumba.

Menurut Stefanus, maraknya pengiriman ternak yang tidak sesuai prosedur, manipulasi dokumen, penjualan indukan betina produktif, hingga pengapalan kuda yang belum memenuhi syarat umur dan berat badan menjadi ancaman serius bagi masa depan peternakan di daerah tersebut.

“Kita tidak boleh menutup mata terhadap upaya manipulasi administrasi di lapangan. Menjual betina produktif dan memalsukan dokumen hanya demi keuntungan sesaat adalah tindakan yang merusak masa depan peternakan kita sendiri,” tegas Stefanus Pekuwali saat ditemui di kawasan sentra peternakan Pandawai.

Ia menegaskan bahwa seluruh regulasi yang telah diterbitkan pemerintah daerah perlu didukung bersama sebagai upaya menjaga kelestarian plasma nutfah Kuda Sandelwood sekaligus menciptakan tata niaga yang sehat dan harga yang lebih adil bagi para peternak.

Sebagai bentuk komitmen nyata, Stefanus menyatakan siap menggunakan pengaruhnya untuk memberikan edukasi kepada peternak tradisional agar tidak terjebak dalam praktik ijon maupun bujuk rayu spekulan ternak ilegal yang merugikan masyarakat dalam jangka panjang.

Selain itu, ia juga mendorong adanya pengawasan mandiri di tingkat masyarakat dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas pergerakan ternak yang mencurigakan, terutama pengangkutan ternak pada malam hari yang berpotensi melanggar aturan.

“Kita harus memutus rantai penyelundupan sejak dari hulu. Tujuan kita sama, yaitu membangun bisnis ternak yang legal, aman, dan menguntungkan bagi semua pihak tanpa merusak adat dan melanggar hukum negara,” ujarnya.

Stefanus turut mengapresiasi langkah preventif yang dilakukan aparat kepolisian, khususnya Polresta Kupang dan Polres Sumba Timur, dalam mengawal jalur distribusi ternak serta memperketat pemeriksaan di pelabuhan dan karantina hewan.

Melalui gerakan bersama ini, Stefanus berharap Kecamatan Pandawai dapat menjadi contoh penerapan tata niaga ternak yang sehat dan berkelanjutan di Kabupaten Sumba Timur.

Ia meyakini sinergi antara pelaku usaha, tokoh masyarakat, pemerintah daerah, dan aparat keamanan akan mampu menciptakan stabilitas keamanan dan ketertiban, sekaligus menjamin Kuda Sandelwood tetap menjadi simbol kebanggaan, kemakmuran, dan kejayaan masyarakat Sumba bagi generasi mendatang. **




Masjid Darussalam Sikumana Salurkan Daging Kurban untuk Warga dan Perkuat Semangat Kebersamaan di Idul Adha 1447 H

Kupang, nwartapedia.com – Masjid Darussalam Sikumana, Kota Kupang, kembali melaksanakan penyembelihan dan pembagian hewan kurban dalam rangka Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah.

Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian sosial sekaligus mempererat hubungan antarwarga di lingkungan sekitar masjid.

Ketua Panitia Iduladha Masjid Darussalam Sikumana, Swahidin Nuhaikan, mengatakan bahwa semangat berkurban merupakan implementasi dari keteladanan Nabi Ibrahim Alaihissalam yang mengajarkan keikhlasan, ketaatan, dan kepedulian terhadap sesama.

Menurutnya, daging kurban yang diperoleh dari penyembelihan hewan kurban dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan agar manfaat Iduladha dapat dirasakan secara merata.

“Inti dari kurban adalah berbagi kepada sesama, terutama kepada masyarakat yang membutuhkan. Ini adalah bentuk kepedulian sosial yang diajarkan dalam Islam,” ujar Swahidin kepada awak media, Kamis (28/5/2026).

Tahun ini, Masjid Darussalam menerima dan menyembelih 11 ekor sapi serta 5 ekor kambing. Salah satu hewan kurban sapi berasal dari bantuan BNI Kota Kupang, sementara sisanya berasal dari partisipasi jamaah dan para pekurban.

Daging kurban kemudian didistribusikan kepada warga di sekitar masjid, termasuk sebagian kepada masyarakat nonmuslim sebagai bentuk kebersamaan dan toleransi yang telah terjalin selama ini.

Swahidin berharap kegiatan kurban yang rutin dilaksanakan setiap tahun tersebut dapat terus berjalan dan semakin memperkuat silaturahmi di tengah masyarakat.

Sementara itu, Imam Masjid Darussalam Sikumana, Haji Ramly Deny, menjelaskan bahwa ibadah kurban merupakan salah satu syariat Islam yang memiliki nilai ibadah sekaligus nilai sosial yang sangat besar.

Ia menegaskan bahwa kurban tidak hanya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi jalan untuk membantu masyarakat yang kurang mampu memperoleh asupan gizi yang lebih baik melalui pembagian daging kurban.

“Kurban memiliki dampak yang luas. Selain menjadi ibadah, kegiatan ini juga membantu masyarakat dan memberikan manfaat ekonomi bagi para peternak yang mempersiapkan ternaknya untuk Iduladha,” jelasnya.

Menurut Ramly, meningkatnya kebutuhan hewan kurban setiap tahun turut memberikan peluang bagi peternak lokal untuk meningkatkan pendapatan dan mengembangkan usaha peternakan mereka.

Ia berharap kesadaran masyarakat untuk berkurban terus meningkat sehingga manfaat sosial dan ekonomi yang dihasilkan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat Kota Kupang.

“Semoga semangat berbagi dan kepedulian yang lahir dari ibadah kurban terus tumbuh sehingga membawa manfaat bagi umat dan masyarakat secara keseluruhan,” pungkasnya.




Pemeriksaan Ketat Hewan Kurban di Masjid Darul Hijrah Kolhua, Dokter Hewan Pastikan Sapi dan Kambing Sehat

Kupang, Nwartapedia.com  — Pemeriksaan kesehatan hewan kurban di Masjid Darul Hijrah BTN Kolhua, Kota Kupang, dilakukan secara ketat oleh tim dokter hewan menjelang proses penyembelihan Idul Adha 1447 Hijriah, Rabu (27/5/2026).

Dokter hewan, drh. Gusti Komang Ayu Dewi Suryani, kepada media ini menjelaskan bahwa seluruh hewan kurban yang telah diperiksa dinyatakan sehat dan layak untuk dipotong.

“Untuk lokasi di Masjid Darul Hijrah, kambing ada 24 ekor dan sapi 18 ekor. Dari hasil pemeriksaan ante mortem, semuanya layak untuk dipotong hari ini,” jelas Dewi.

Ia mengatakan, pemeriksaan dilakukan sebelum penyembelihan dengan sejumlah parameter kesehatan hewan. Pemeriksaan tersebut meliputi suhu tubuh, kondisi bulu, cermin hidung, mata, hingga kebersihan lubang hidung, mulut, dan anus hewan.

“Suhu normal hewan itu sekitar 38,5 derajat. Kemudian kita lihat bulunya kusam atau tidak, cermin hidungnya basah atau tidak, matanya bersinar, serta memastikan tidak ada indikasi diare atau penyakit lainnya,” ujarnya.

Selain itu, tim dokter hewan juga memeriksa kondisi fisik lain seperti organ reproduksi hewan untuk memastikan hewan kurban memenuhi syarat kesehatan dan syariat.

“Kalau hewan jantan normal itu testisnya lengkap dua dan simetris. Biasanya hewan kurban yang dipilih masyarakat memang sudah memenuhi syarat itu,” tambahnya.

Dewi menjelaskan, pemeriksaan tidak hanya dilakukan sebelum pemotongan, tetapi juga sesudah penyembelihan atau post mortem untuk memastikan organ dalam hewan bebas dari penyakit.

“Kami melihat kondisi jantung, paru-paru, hati, ginjal, limpa, usus, hingga karkas. Kalau ada perubahan patologis seperti cacing hati, maka organ yang terindikasi sakit itu akan diafkir, tetapi dagingnya masih bisa dikonsumsi dengan perlakuan suhu tertentu,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana Kurban Masjid Darul Hijrah, Muhammad Kasim, mengatakan jumlah hewan kurban tahun ini mencapai sekitar 33 ekor sapi dan 24 ekor kambing.

Menurutnya, sebagian besar hewan kurban berasal dari jamaah masjid, sementara bantuan lainnya datang dari Pemerintah Kota Kupang dan yayasan sosial internasional asal Turki.

“Untuk sapi, sekitar 18 ekor berasal dari jamaah, satu ekor bantuan dari Wali Kota Kupang, dan 10 ekor bantuan dari Yayasan Turki Internasional. Kalau kambing semuanya dari jamaah,” katanya.

Muhammad Kasim menjelaskan, distribusi daging kurban dilakukan melalui kupon dan pengantaran langsung ke rumah warga oleh tim panitia.

“Kami targetkan sekitar 500 penerima manfaat. Tim distribusi sudah bergerak untuk membagikan daging kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, proses penyembelihan dilakukan oleh tenaga profesional bersertifikat halal serta dibantu panitia yang dibagi dalam beberapa tim, mulai dari tim sembelih, tim jagal, tim kulit, tim pencacah, hingga tim pengepakan.

“Semua alat juga kami sterilkan. Ini bentuk komitmen kami menjaga kebersihan dan kualitas daging kurban agar aman dikonsumsi masyarakat,” pungkasnya. (MI)




Etnis Minang di Kupang Sembelih 15 Ekor Sapi Kurban, Bagikan Daging untuk Muslim dan Non Muslim

Kupang, nwartapedia.com — Etnis Minang di Kota Kupang kembali melaksanakan kegiatan pemotongan hewan kurban dalam perayaan Iduladha 1447 Hijriah/2026 Masehi.

Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Serbaguna Etnis Minang Maulafa, Kota Kupang, Rabu (27/5/2026).

Tradisi tahunan tersebut menjadi wujud nyata kepedulian sosial, kebersamaan, serta toleransi antarumat beragama di Kota Kupang.

Ketua Etnis Minang sekaligus Koordinator Panitia Idul Kurban, H. Mualim Chaniago, S.Ag mengatakan bahwa kegiatan kurban rutin dilakukan setiap tahun sebagai bentuk rasa syukur sekaligus pengabdian masyarakat Minang kepada Kota Kupang.

“Ini sebenarnya kegiatan tahunan yang tidak pernah luput kami laksanakan. Ada semboyan kami, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Kami hidup di Kota Kupang, maka kami juga berusaha membangun dan berbagi untuk masyarakat Kota Kupang,” ujarnya.

Menurutnya, masyarakat Minang yang merantau di Kota Kupang tidak hanya fokus pada komunitas sendiri, tetapi juga aktif membangun hubungan sosial dengan seluruh warga tanpa membedakan agama maupun latar belakang.

Dalam pembagian daging kurban, panitia melibatkan masyarakat sekitar, peserta kurban, warga Minang, hingga tetangga non Muslim. Bahkan sejumlah pendeta dan warga gereja turut menerima kupon pembagian daging kurban.

“Kami tidak menghitung agamanya apa. Semua kami layani karena ini rumah bersama. Warga sekitar, termasuk pendeta dan masyarakat non Muslim juga menerima daging kurban,” katanya.

Ia menjelaskan, total hewan kurban yang dipotong tahun ini mencapai 15 ekor sapi. Sebanyak 12 ekor sapi dipotong oleh kelompok utama Etnis Minang dengan jumlah peserta kurban mencapai 86 orang, ditambah lima ekor kambing.

Sementara tiga ekor sapi lainnya dipotong kelompok perantau Minang dari satu kecamatan di Sumatera Barat yang juga berada di Kupang.

“Secara keseluruhan ada 15 ekor sapi. Alhamdulillah semua dari swadaya masyarakat Minang sendiri,” jelasnya.

Selain memiliki makna ibadah, H. Mualim menegaskan bahwa kurban juga memiliki nilai sosial yang tinggi. Ia mengisahkan kembali keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS sebagai dasar pelaksanaan ibadah kurban.

“Makna sosialnya adalah berbagi. Orang yang berkurban hanya berhak menikmati sepertiga, sedangkan dua pertiga lainnya dibagikan kepada masyarakat,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan bahwa masyarakat Minang di Kota Kupang saat ini berjumlah sekitar 388 kepala keluarga yang tersebar di seluruh kecamatan di Kota Kupang.

“Alhamdulillah selama ini warga Minang hidup baik dan taat sebagai warga Kota Kupang,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Kehormatan Etnis Minang, Masril Abdul Manan, S.Pd menyampaikan apresiasi terhadap kekompakan warga Minang di Kupang yang terus menjaga tradisi gotong royong dan semangat berbagi kepada sesama.

Menurutnya, kegiatan kurban bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi juga menjadi sarana mempererat persaudaraan dan memperkuat nilai toleransi di tengah keberagaman masyarakat Kota Kupang.

Masril menjelaskan bahwa kegiatan kurban juga menjadi bentuk nyata rasa syukur dan ketaatan masyarakat Minang kepada Allah SWT, sekaligus sarana berbagi rezeki kepada masyarakat yang membutuhkan.

“Mudah-mudahan kegiatan ini membuat kami semakin taat beribadah dan terus menjaga nilai sosial dengan berbagi kepada sesama,” tambahnya.

Ia juga menjelaskan bahwa daging kurban dibagikan dalam kondisi mentah agar masyarakat dapat mengolahnya sendiri di rumah masing-masing.

“Kalau akikah biasanya dibagikan dalam keadaan sudah dimasak, tetapi kalau kurban dagingnya dibagikan mentah supaya masyarakat bisa memasaknya sendiri bersama keluarga,” jelasnya. (MI)