Bobby Lianto Temui Dirijen Internasional Asal Kupang di Belanda, Bukti Putra NTT Mampu Bersaing di Eropa

Kupang, nwartapedia.com  — Perjalanan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri  (KADIN) Provinsi NTT, Bobby Lianto, selama berada di Eropa tidak hanya difokuskan pada promosi potensi daerah dan produk UMKM asal NTT, tetapi juga memperkuat jejaring dengan diaspora asal Nusa Tenggara Timur yang sukses di luar negeri.

Dalam agenda kunjungannya, Bobby Lianto turut bertemu para lulusan KADIN NTT Institute yang mengikuti program Ausbildung di Eropa, sekaligus melakukan pertemuan dengan pihak KBRI setempat guna membangun peluang kerja sama dan pengembangan sumber daya manusia asal NTT.

Salah satu momen menarik dalam perjalanan tersebut adalah saat Bobby Lianto bertemu sahabat lamanya semasa SMP, yakni Antonius Dody Soetanto, yang kini dikenal sebagai konduktor dan dirijen internasional di Belanda.

Pertemuan berlangsung hangat di Utrecht, Belanda. Bobby mengaku bangga melihat putra asal Kupang mampu menorehkan prestasi di panggung musik internasional dan membawa nama Indonesia, khususnya NTT, di Eropa.

Dody Soetanto lahir di Kupang dan menempuh pendidikan di SD Don Bosco IV Kupang, SMP Frater Kupang, lalu melanjutkan pendidikan di SMAK Santo Yusuf Malang.

Ia kemudian kuliah di Universitas Katolik Parahyangan Bandung sebelum melanjutkan pendidikan master seni musik di The Conservatory of Utrecht, Belanda.

Saat ini, Dody dikenal sebagai konduktor dan bariton yang aktif memimpin berbagai paduan suara dan ansambel vokal di Belanda.

Ia merupakan pendiri sekaligus direktur artistik VOKALISK, ansambel vokal yang beranggotakan 16 penyanyi dari berbagai wilayah di Belanda.

Selain itu, Dody juga berafiliasi dengan Groot Concertkoor Amsterdam (GCA), Leids Kamerkoor (LKK), serta Vrije Universiteit Koor (VUkoor). Kiprahnya di dunia musik internasional semakin dikenal setelah tampil dalam Opera Forward Festival 2025 di Amsterdam yang diselenggarakan De Nationale Opera & Ballet.

Dalam festival tersebut, Dody memimpin VUkoor pada pertunjukan perdana opera baru bertajuk “CODES”.

Ia juga terlibat dalam berbagai kolaborasi orkestra besar, termasuk memimpin persiapan paduan suara untuk pertunjukan Simfoni Kedua Mahler bersama Groot Concertkoor Amsterdam dan Het Orkest Amsterdam di Concertgebouw Amsterdam. *




Lokakarya CAPACities 2026 Ditutup, Kota Kupang Siapkan Langkah Cepat Hadapi Dampak Perubahan Iklim

Kupang, nwartapedia.com  — Pemerintah Kota Kupang bersama Catholic Relief Services (CRS) resmi menutup Lokakarya Rencana Kerja Tahunan Program CAPACities Climate Action Partnership in Asian Cities Tahun 2026 di Hotel Neo Aston Kupang, Kamis (21/5/2026).

Kegiatan tersebut menjadi forum strategis dalam menyusun langkah bersama menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin dirasakan masyarakat Kota Kupang.

Penutupan lokakarya dilakukan oleh Kepala Bappeda Kota Kupang, Andre Otta.

Kepada media ini, Andre Otta menegaskan bahwa hasil pembahasan selama kegiatan akan menjadi dasar dalam penyusunan program prioritas perubahan iklim di Kota Kupang.

Menurut Andre, dampak perubahan iklim kini tidak hanya berkaitan dengan persoalan lingkungan, tetapi juga menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat seperti air bersih, sanitasi, pengelolaan sampah hingga ancaman bencana alam.

Ia mencontohkan bencana Siklon Seroja yang pernah melanda Nusa Tenggara Timur sebagai salah satu dampak nyata perubahan iklim yang harus diantisipasi secara serius.

“Perubahan iklim ini membawa dampak luas, mulai dari air bersih, sanitasi, sampah hingga ancaman bencana. Karena itu pemerintah harus memperkuat langkah mitigasi dan kesiapsiagaan,” ujarnya.

Dalam lokakarya tersebut, Pemerintah Kota Kupang bersama para mitra menyepakati beberapa langkah prioritas yang akan segera dijalankan.

Salah satunya adalah pembangunan sistem peringatan dini atau early warning system bagi wilayah pesisir.

Program tersebut diharapkan mampu memberikan informasi cepat kepada masyarakat nelayan dan warga pesisir terkait potensi cuaca ekstrem, gelombang tinggi maupun ancaman kenaikan air laut.

Selain itu, pemerintah juga menyoroti pentingnya penguatan sistem penanganan pengaduan masyarakat agar pelayanan publik dapat berjalan lebih efektif dan responsif.

Andre mengakui masih terdapat sejumlah kendala dalam penanganan laporan masyarakat akibat belum optimalnya integrasi antara teknologi dan tata kelola sumber daya manusia.

“Teknologi penting, tetapi tetap harus dibarengi dengan penguatan SDM. Karena pada akhirnya semua pelayanan dijalankan oleh manusia sehingga penyelesaian masalah masyarakat bisa lebih maksimal,” jelasnya.

Ia juga menyoroti tingginya kepadatan penduduk di beberapa wilayah Kota Kupang yang berdampak pada meningkatnya persoalan sampah, sanitasi dan kebutuhan air bersih.

Menurutnya, Pemerintah Kota Kupang tengah menyiapkan pembahasan lanjutan terkait regulasi dan dukungan anggaran untuk memperkuat program mitigasi perubahan iklim hingga tingkat kelurahan.

Bahkan, kata Andre, terdapat wacana mengalokasikan sebagian anggaran pembangunan kelurahan untuk mendukung program penanganan dampak perubahan iklim, termasuk sanitasi dan akses air bersih bagi masyarakat rentan.

Sementara itu, Program Manager CAPACities Indonesia dari Catholic Relief Services (CRS), Fransiska Sugi, mengatakan lokakarya tersebut merupakan agenda tahunan yang mempertemukan pemerintah daerah dengan Kelompok Kerja Perubahan Iklim Kota Kupang.

Menurutnya, kegiatan tersebut bertujuan memastikan sinergi program antara pemerintah dan CRS berjalan efektif, realistis dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kegiatan ini untuk memastikan program pemerintah dan CRS berjalan selaras sehingga masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya,” kata Fransiska.

Ia menjelaskan terdapat tiga fokus utama dalam kemitraan tersebut, yakni penguatan kolaborasi, kebijakan yang inklusif dan akuntabel, serta penguatan komunikasi dan informasi iklim.

Fransiska menilai dampak perubahan iklim di Kota Kupang semakin terasa dalam beberapa tahun terakhir, terutama melalui perubahan pola musim, peningkatan suhu udara, ancaman longsor, angin kencang hingga persoalan krisis air bersih.

Menurutnya, hampir seluruh wilayah Kota Kupang memiliki tingkat kerentanan terhadap perubahan iklim dengan karakteristik persoalan yang berbeda antara kawasan pesisir, wilayah padat penduduk dan daerah dataran tinggi.

“Perubahan iklim itu dampaknya memang perlahan, tetapi kalau tidak diantisipasi sejak sekarang maka risikonya akan semakin besar di masa mendatang,” pungkasnya. (MI)




Pemkot Kupang dan CRS Perkuat Strategi Adaptasi Iklim Lewat Lokakarya CAPACities 2026

Kupang, nwartapedia.com  – Pemerintah Kota Kupang bersama Catholic Relief Services (CRS) menggelar Lokakarya Rencana Kerja Tahunan Program CAPACities Climate Action Partnership in Asian Cities di Hotel Neo Aston Kupang, Kamis (21/5/2026).

Kegiatan tersebut menjadi forum strategis dalam memperkuat kerja sama lintas sektor untuk menghadapi dampak perubahan iklim dan risiko bencana di Kota Kupang.

Lokakarya dibuka oleh Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kota Kupang, Daud Novianus Nafi, mewakili Wali Kota Kupang.

Daud Nafi kepala media ini menegaskan bahwa kemitraan antara CRS dan Pemerintah Kota Kupang telah berjalan cukup lama dan memberikan kontribusi dalam mendukung program penanganan perubahan iklim.

Menurutnya, penyusunan rencana kerja tahunan melalui Program CAPACities bertujuan menyelaraskan kebutuhan pemerintah daerah dengan program yang dijalankan CRS agar lebih tepat sasaran dan berdampak langsung bagi masyarakat.

“Melalui kerja sama ini, pemerintah daerah bisa membangun sinergi dengan berbagai pihak untuk melakukan mitigasi perubahan iklim. Program yang dijalankan nantinya diharapkan mampu membantu masyarakat menghadapi risiko perubahan iklim secara bertahap,” katanya.

Ia menjelaskan, pembahasan dalam lokakarya juga menitikberatkan pada penguatan kolaborasi antara pemerintah daerah, organisasi kemanusiaan, dan masyarakat dalam merancang program adaptasi iklim berbasis kebutuhan wilayah.

Pada sesi materi, Sekretaris Dinas Sosial Kota Kupang, Gabriel Meo Wio, SP, memaparkan tentang relevansi tugas pokok dan fungsi Dinas Sosial dalam mendukung adaptasi perubahan iklim di Kota Kupang.

Menurut Gabriel, Dinas Sosial memiliki tanggung jawab dalam perlindungan kelompok rentan seperti lanjut usia, penyandang disabilitas, dan masyarakat terdampak bencana.

“Dinas Sosial hadir melalui Kampung Siaga Bencana dan Taruna Siaga Bencana (Tagana) untuk membantu masyarakat ketika terjadi bencana, termasuk penyaluran bantuan sosial dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, Dinas Sosial juga terus melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat melalui program peningkatan kemampuan keluarga dan kesejahteraan sosial di tingkat kelurahan.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Kupang, Elsje W. A. Sjioen, S.Sos., M.Si, menjelaskan bahwa berdasarkan kajian risiko bencana, Kota Kupang memiliki potensi terhadap 10 jenis bencana.

Jenis bencana tersebut meliputi kekeringan, cuaca ekstrem, banjir, longsor, banjir bandang, gelombang ekstrem, abrasi pantai, gempa bumi, tsunami, hingga wabah penyakit.

“BPBD terus melakukan sosialisasi kesiapsiagaan dan pelayanan informasi rawan bencana kepada masyarakat di enam kecamatan di Kota Kupang,” jelasnya.

Ia menambahkan, BPBD memiliki fungsi koordinasi, pelaksanaan, dan komando dalam penanganan bencana, termasuk pendataan warga terdampak, distribusi bantuan, dan penanganan pascabencana.

Dalam kegiatan tersebut juga dibahas pentingnya penguatan pelayanan standar minimal kebencanaan melalui edukasi masyarakat, penyediaan air bersih di kawasan rawan bencana, serta peningkatan kapasitas warga dalam menghadapi kondisi darurat.

Melalui Lokakarya CAPACities 2026 ini, Pemerintah Kota Kupang berharap terbangun kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, lembaga kemanusiaan, dan masyarakat guna menciptakan kota yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim dan ancaman bencana. (MI)