Idul Fitri dalam Kearifan Lokal NTT: Harmoni Iman dan Persaudaraan

Oleh: Heryon Bernard Mbuik

Kupang, nwartapedia.com  — Idul Fitri tidak hanya dimaknai sebagai perayaan keagamaan umat Islam setelah menjalani ibadah Ramadan, tetapi juga sebagai momentum kemanusiaan yang sarat nilai sosial. Dalam konteks masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang plural, Idul Fitri menghadirkan makna yang lebih luas: mempertemukan nilai-nilai iman dengan kearifan lokal yang menjunjung tinggi persaudaraan, solidaritas, dan hidup damai.

Di NTT, semangat “katong basudara” menjadi fondasi kuat dalam kehidupan bersama. Nilai ini membuat Idul Fitri tidak hanya dirasakan oleh umat Muslim, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman sosial lintas agama.

Tradisi saling mengunjungi, berbagi hidangan, dan menjaga relasi kekeluargaan menunjukkan bahwa perayaan ini telah melampaui batas ritual dan menjelma sebagai ruang perjumpaan kemanusiaan.

Makna teologis Idul Fitri yang menekankan kembali kepada fitrah melalui saling memaafkan menemukan relevansinya dalam kehidupan masyarakat NTT.

Nilai rekonsiliasi ini sejalan dengan semangat kasih dalam berbagai ajaran agama, dan terwujud nyata dalam praktik hidup sehari-hari.

Kehadiran lintas iman dalam perayaan keagamaan menjadi bukti bahwa toleransi di NTT tidak berhenti pada wacana, tetapi hidup dalam tindakan nyata.

Kearifan lokal di NTT juga memainkan peran penting sebagai ruang hidup bagi nilai-nilai spiritual. Budaya tidak hanya menjadi latar, tetapi juga medium di mana nilai-nilai ilahi dihayati dan diwujudkan.

Dalam konteks ini, Idul Fitri menjadi lebih dari sekadar ritus keagamaan; ia menjadi simbol kebersamaan dan perwujudan kasih yang konkret dalam kehidupan sosial.

Namun, tantangan tetap ada. Arus globalisasi dan menguatnya identitas sempit berbasis agama berpotensi menggerus nilai-nilai kebersamaan yang telah lama terbangun.

Karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk terus merawat tradisi persaudaraan ini melalui pendidikan, dialog lintas iman, dan keteladanan para pemimpin.

Pada akhirnya, Idul Fitri di NTT adalah cerminan harmoni antara iman dan budaya. Ia mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekuatan untuk membangun kebersamaan.

Di tengah keberagaman, Idul Fitri hadir sebagai pengingat bahwa kita semua terikat dalam satu keluarga besar keluarga kemanusiaan yang menjunjung tinggi kasih, pengampunan, dan persaudaraan. (MI)




Gubernur NTT Lantik 104 Kepala Sekolah, Tekankan Peran Strategis

Kupang, nwartapedia.com – Emanuel Melkiades Laka Lena melantik 104 Kepala SMA/SMK/SLB lingkup Pemerintah Provinsi NTT, Rabu (25/3/2026), di Aula El Tari, Kupang.

Dalam arahannya, Gubernur menegaskan bahwa jabatan kepala sekolah merupakan amanah strategis dalam menentukan kualitas pendidikan.

Ia meminta para kepala sekolah tidak hanya berperan sebagai administrator, tetapi juga menjadi pemimpin pembelajaran yang mampu meningkatkan mutu siswa.

Menurutnya, tantangan pendidikan di NTT masih cukup besar, mulai dari kesenjangan mutu hingga rendahnya literasi dan numerasi.

Karena itu, kinerja kepala sekolah harus terukur melalui peningkatan prestasi siswa, penurunan angka putus sekolah, dan kepercayaan masyarakat.

Gubernur juga mendorong pemanfaatan hasil asesmen seperti TKA, penguatan program One School One Product (OSOP), serta kemitraan SMK dengan dunia usaha agar lulusan lebih siap kerja.

Selain itu, ia menekankan pentingnya integritas dalam pengelolaan anggaran pendidikan dan memastikan seluruh kepala sekolah bekerja secara transparan dan akuntabel.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Johanis Asadoma bersama jajaran Forkopimda dan pimpinan perangkat daerah Provinsi NTT. *




IKADA Perkuat Sinergi dengan Wali Kota Kupang Jelang Pelantikan Pengurus Baru

Kupang, nwartapedia.com  — Ikatan Keluarga Ngada (IKADA) Kupang terus memperkuat kemitraan dengan Pemerintah Kota Kupang. Hal ini ditandai dengan audiensi pengurus IKADA bersama Christian Widodo pada Rabu (25/3) di rumah jabatan wali kota.

Audiensi tersebut dipimpin langsung oleh Ketua IKADA terpilih periode 2026–2029, Isidorus Lilijawa, yang hadir bersama jajaran pengurus dan tim formatur hasil Musyawarah Besar (Mubes) IKADA. Turut hadir Ketua Tim Formatur Isyak Nuka, anggota dewan pembina Yohanis Tay Ruba, serta sejumlah pengurus lainnya.

Dalam pertemuan tersebut, Isidorus menyampaikan apresiasi atas dukungan Wali Kota Kupang yang mendorong dirinya maju sebagai Ketua IKADA.

Ia menegaskan komitmennya untuk membawa IKADA menjadi organisasi yang kuat melalui kolaborasi dan sinergi dengan pemerintah daerah.

“Dengan dukungan Pak Wali Kota, kami optimistis IKADA ke depan dapat berjalan dalam semangat kolaboratif dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat Kota Kupang,” ujarnya.

Selain itu, audiensi juga bertujuan menyampaikan rencana pelantikan pengurus IKADA periode 2026–2029 yang dijadwalkan berlangsung pada 18 April 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Isidorus secara langsung mengundang Wali Kota Kupang untuk hadir.

“Puji Tuhan, Pak Wali Kota menyatakan dukungan penuh dan kesediaannya untuk hadir dalam acara pelantikan nanti,” tambahnya.

Rencananya, pelantikan akan digelar di aula rumah jabatan Wali Kota Kupang.

Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Kppang, Christian Widodo menyambut baik kehadiran pengurus IKADA.

Ia menegaskan komitmen pemerintah untuk mendukung berbagai paguyuban di Kota Kupang.

“Kami terbuka untuk membangun kolaborasi dengan semua paguyuban, termasuk IKADA. Dukungan pemerintah tidak hanya untuk satu organisasi, tetapi untuk seluruh elemen masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Tim Formatur, Isyak Nuka, menjelaskan bahwa IKADA saat ini menaungi 47 paguyuban yang tersebar di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang.

Untuk pelantikan mendatang, panitia menargetkan kehadiran sekitar 300 undangan dari berbagai elemen.

Diketahui, IKADA Kupang memiliki sekitar 900 kepala keluarga sebagai anggota. Di bawah kepemimpinan Isidorus Lilijawa, IKADA mengusung visi “IKADA kuat, kompak dan berdampak” dengan fokus pada pembangunan kolaborasi lintas sektor, baik dengan pemerintah, swasta, maupun paguyuban lainnya.

“Kami ingin memastikan IKADA hadir dan memberi dampak nyata bagi masyarakat,” tutup Isidorus. (MI)




dr. Christian Widodo Hadiri Pemberkatan Makam Leluhur di Maumere, Pererat Nilai Keluarga dan Iman

Maumere, nwartapedia.com  —  Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menghadiri rangkaian kegiatan keluarga dan keagamaan di Maumere, yang berlangsung sejak Minggu hingga Senin (22–23 Maret 2026).

Perjalanan dimulai pada Minggu (22/3), saat Christian Widodo bersama ayahanda Theo Widodo dan ibunda Theressia Avilla yang lahir di Kelurahan Beru, Kecamatan Alok Timur kota Maumere bertolak dari Kupang menuju Maumere bersama keluarga besar.

Keesokan harinya, Senin (23/3), rombongan memulai agenda dengan kunjungan silaturahmi ke Uskup Maumere, Mgr. Ewaldus Martinus Sedu. Pertemuan tersebut berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan.

Usai pertemuan, keluarga melanjutkan kegiatan inti yakni pemberkatan makam leluhur, yakni Opa dan Oma dari Christian Widodo, yang berlokasi di tempat pemakaman Ile Getang, Kelurahan Nangameting, Kecamatan Alok Timur kota Maumere.

Upacara berlangsung khidmat sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur sekaligus penguatan nilai-nilai iman dalam keluarga.

Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut ke Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, yang sebelumnya dikenal sebagai Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero. Rombongan diterima langsung oleh Rektor IFTK, Pater Dr.Otto Gusti Madung SVD.

Dalam kesempatan tersebut, pihak kampus memaparkan perkembangan IFTK di bawah kepemimpinan Pater Dr.Otto Gusti Madung, yang kini tidak hanya berfokus pada bidang filsafat dan teologi, tetapi juga telah mengembangkan program studi teknologi kreatif seperti kewirausahaan, desain komunikasi visual (DKV), dan sistem informatika.
Rombongan juga mengunjungi Museum Bikon Blewut yang berada di lingkungan kampus.

Di sana, mereka disambut oleh pimpinan museum yg juga antropolog Pater Laurensius Woda SFil, M.T.TS MA. Museum tersebut dikenal sebagai salah satu museum terbesar di NTT, dengan koleksi ribuan artefak dan fosil bersejarah, termasuk temuan manusia purba Flores serta karya seni bernilai tinggi.

Agenda berlanjut dengan kunjungan ke asrama mahasiswa di Ritapiret. Rombongan diterima hangat oleh RD Mansur Ito dan berkesempatan berdoa di kamar bersejarah yang pernah ditempati Paus Yohanes Paulus II.

Di tempat tersebut juga tersimpan relikwi berupa tetesan darah Paus Yohanes Paulus II yang berkaitan dengan peristiwa penembakan pada 13 Mei 1981 di Lapangan Basilika Santo Petrus, Roma.

Kegiatan diakhiri dengan diskusi bersama pimpinan IFTK di rektorat, membahas berbagai hal terkait pengembangan pendidikan, nilai kemanusiaan, serta kontribusi generasi muda bagi daerah dan bangsa.

Kunjungan ini tidak hanya menjadi momen penghormatan terhadap leluhur, tetapi juga memperkuat ikatan keluarga, iman, serta jejaring antara pemerintah daerah dan lembaga pendidikan di Nusa Tenggara Timur. (MI)