Anwar Jaha dan Siti Ratna Maro Tunaikan Ibadah Haji, Gelar Syukuran Penuh Haru

 

Kupang,nwartapedia.com  — Kebahagiaan mendalam menyelimuti pasangan Anwar Jaha dan Siti Ratna Maro, dua Aparatur Sipil Negara (ASN) yang baru saja memasuki masa purnatugas dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Pemerintah Kota Kupang.

Setelah puluhan tahun mengabdi sebagai abdi negara, pasangan suami istri ini akhirnya mewujudkan impian lama mereka untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

Anwar Jaha dan Siti Ratna Maro berangkat bersama rombongan jemaah haji Indonesia pada akhir Juni 2025. Perjalanan spiritual yang telah lama dinanti itu menjadi puncak sekaligus penutup manis perjalanan hidup dan karier mereka sebagai ASN. Pekan lalu, pada awal Juli, mereka kembali ke Kota Kupang dalam keadaan sehat dan selamat.

Sebagai ungkapan syukur atas kelancaran dan keselamatan selama menjalankan ibadah haji, pasangan ini menggelar acara doa syukur pada Rabu (9/7) sore di kediaman mereka di Kelurahan Maulafa, Kota Kupang.

Acara berlangsung hangat dengan dihadiri keluarga besar, kerabat dekat, dan sejumlah rekan kerja dari instansi tempat mereka mengabdi.

“Sebuah anugerah luar biasa. Kami bersyukur bisa menunaikan rukun Islam kelima ini dalam keadaan sehat dan lancar,” ujar Anwar Jaha dalam sambutannya yang penuh haru.

Ia juga menyampaikan rasa terima kasih atas doa dan dukungan keluarga besar serta kolega yang selalu memberi semangat sejak persiapan keberangkatan hingga kepulangan.

“Segala puji bagi Tuhan. Kami bisa menjalankan ibadah haji dengan damai, penuh hikmat, dan semua urusan dilancarkan. Rasa syukur ini tak cukup diungkapkan dengan kata-kata. Terima kasih atas doa dan perhatian semua saudara-saudari, khususnya keluarga besar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang yang selalu mendukung,” tambahnya.

Siti Ratna Maro, yang juga menyampaikan testimoni singkat, mengungkapkan bahwa ibadah haji membawa pengalaman batin yang mendalam dan memperkuat iman mereka berdua.

Ia berharap amalan yang mereka jalankan diterima dan menjadi bekal untuk kehidupan yang lebih baik ke depan.

Suasana kekeluargaan dan syukur terasa kental selama acara yang turut diisi dengan doa bersama dan santap sederhana sebagai bentuk kebersamaan.

Banyak tamu undangan yang menyampaikan ucapan selamat serta doa agar keduanya menjadi haji dan hajjah yang mabrur.

Momentum ini menjadi penutup indah dari perjalanan panjang pengabdian Anwar dan Siti sebagai ASN, sekaligus bukti bahwa dedikasi dan ketulusan dalam bekerja selalu membawa berkah yang tak ternilai. (goe)




Pengkhotbah Cilik Asal NTT, Jaden Lianto, Sampaikan Firman Tuhan di GBI Japan Tokyo

 

Tokyo,nwartapedia.com  — Pengkhotbah cilik berbakat asal Nusa Tenggara Timur (NTT), Jaden Lianto, kembali menginspirasi banyak orang lewat pelayanan Firman Tuhan, kali ini di Gereja Bethel Indonesia (GBI) Japan yang berlokasi di pusat kota Shibuya, Tokyo.

Didampingi oleh ayahnya, Bobby Lianto,  Ketua Umum KADIN NTT,  Jaden berbagi pesan rohani yang menyentuh hati para jemaat, khususnya anak-anak muda yang mendominasi wilayah tersebut.

Dalam kotbah singkatnya, Jaden yang baru berusia 12 tahun menyampaikan sharing Firman Tuhan dengan tema yang unik dan menggugah rasa ingin tahu: “100 – 1 = 0”.

“Semua orang tahu secara hitungan matematika bahwa 100 dikurangi 1 sama dengan 99. Namun, dalam hidup sering kali kita bertindak seolah-olah 100 dikurangi 1 menjadi 0, karena satu kesalahan membuat kita lupa akan seratus kebaikan,” jelas Jaden di hadapan jemaat.

Pesan ini ia sampaikan untuk mengingatkan semua yang hadir agar tidak mudah melupakan kebaikan demi kebaikan yang Tuhan maupun orang lain telah berikan, hanya karena satu peristiwa buruk.

Lebih jauh, Jaden mengajak jemaat untuk selalu bersyukur dalam segala keadaan.

“Firman Tuhan berkata: bersyukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Tuhan. Bahkan masalah yang kita alami kadang adalah bagian dari rencana-Nya yang lebih besar. Di balik masalah selalu ada berkat Tuhan yang menanti,” ujarnya.

Dalam khotbah yang disampaikan dengan penuh semangat, Jaden juga mengajak jemaat untuk selalu menghitung berkat Tuhan.

“Mari kita hitung berkat Tuhan, supaya kita ingat kebaikan-Nya dan tetap punya hati yang bersyukur. Mari kita semakin dewasa di dalam Tuhan,” tambahnya.

Keberanian dan kematangan rohani Jaden dalam menyampaikan Firman Tuhan menuai kekaguman jemaat, terutama kaum muda di Jepang. Khotbahnya disampaikan dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan oleh sang ayah.

Sebagai informasi, Jaden adalah putra pertama dari pasangan Bobby Lianto dan Yuliana Nesya Angelina. Ia mulai berkhotbah sejak usia 9 tahun dan telah melayani di berbagai gereja di Indonesia maupun mancanegara, termasuk Australia, Singapura, Korea, dan kini Jepang. Tahun depan, Jaden dijadwalkan melayani di Los Angeles, Amerika Serikat.

Lewat pelayanannya, Jaden membuktikan bahwa usia muda bukanlah halangan untuk menjadi alat Tuhan.

“Tuhan bisa memakai siapa saja  muda ataupun tua untuk menyampaikan pesan-Nya bagi dunia,” tuturnya di akhir sharingnya.

Kehadiran Jaden di Jepang tidak hanya memberi warna baru bagi jemaat GBI Japan di Shibuya, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi muda bahwa setiap orang memiliki potensi untuk menjadi berkat bagi sesama. ***




Kesenjangan Gaji PNS dan PPPK Disorot, Pengamat: Pemerintah Harus Tinjau Ulang Skema Penggajian ASN

 

Kupang,nwartapedia.com  –  Isu ketimpangan gaji antara Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) kembali menjadi sorotan publik.

Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah PNS di berbagai daerah menyuarakan kegelisahan atas perbedaan signifikan dalam besaran penghasilan, di mana PPPK disebut menerima gaji lebih tinggi meskipun memiliki jabatan dan beban kerja yang setara.

Saat ini, penggajian PNS mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 5 Tahun 2024, sedangkan PPPK mengikuti skema yang diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 11 Tahun 2024. Perbedaan dasar hukum ini menyebabkan disparitas yang cukup mencolok, terutama dalam komponen tunjangan dan potongan pensiun.

PNS Keluhkan Ketimpangan

Seorang guru PNS di Kabupaten Kupang, yang enggan disebutkan namanya, mengaku merasa kecewa dengan kondisi tersebut.

“Kami yang sudah puluhan tahun mengabdi malah mendapat penghasilan lebih rendah dari teman-teman PPPK yang baru masuk. Ini menimbulkan rasa tidak adil dan memengaruhi semangat kerja kami,” ujarnya.

Hal senada disampaikan seorang staf teknis di lingkungan Pemkot Kupang. Ia menyebut tunjangan PPPK dalam beberapa kasus bisa mencapai dua kali lipat dari yang diterima oleh PNS di jabatan yang sama.

“Kami bertanya-tanya, apakah ini bentuk penghargaan atas loyalitas atau justru sebaliknya?” katanya.

Faktor Perbedaan: Potongan Pensiun dan Skema Tunjangan

Pemerhati ekonomi dan pemerintahan Kota Kupang, Oskar Manehat, SE, MM, saat dimintai tanggapannya menjelaskan bahwa salah satu faktor utama yang menyebabkan kesenjangan adalah tidak adanya potongan dana pensiun pada gaji PPPK.

“PNS mendapat gaji yang sudah dipotong untuk iuran pensiun, sementara PPPK tidak. Ini membuat nominal gaji bersih PPPK terlihat lebih besar, meskipun pada kenyataannya mereka tidak mendapatkan jaminan pensiun seperti PNS,” terangnya Selasa (8/7)

Oskar menyarankan pemerintah perlu melakukan peninjauan ulang terhadap skema penggajian ASN agar lebih adil.
“Perlu ada penyamaan struktur golongan, termasuk pengaturan soal tunjangan dan potongan pensiun. Kalau tidak, kondisi ini akan memicu friksi horizontal di lingkungan birokrasi,” tegasnya.

Mendesak Revisi dan Harmonisasi Regulasi

Lebih lanjut, Oskar Manehat mendorong agar pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian PAN-RB dan Kementerian Keuangan, segera duduk bersama menyusun revisi sistem penggajian yang harmonis antara PNS dan PPPK.

“Pemerintah harus hadir dan memastikan tidak ada kesenjangan mencolok antar status kepegawaian. ASN sebagai tulang punggung pelayanan publik mesti diperlakukan secara adil dan proporsional,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Kementerian PAN-RB mengenai desakan revisi skema gaji ASN ini.(goe)




Pikiran Adalah Magnet: Ketika Iman, Psikologi, dan Semesta Berjumpa

Oleh: Asbin Selten Umbu Deta

 

Kupang,nwartapedia.com  – Pernahkah Anda merenung mengapa hidup kita kadang dipenuhi kejadian-kejadian yang terasa “kita pikirkan sebelumnya”? Atau mengapa nasihat seperti “jangan berpikir negatif, nanti kejadian!” terdengar tidak lagi sekadar sugesti, melainkan semacam hukum yang tak tertulis?

Sebagian orang menyebutnya sebagai Law of Attraction atau Hukum Tarik Menarik. Sebuah gagasan bahwa apa yang kita pikirkan secara intens akan “menarik” realitas yang sesuai.

Namun, benarkah semesta bekerja seperti itu? Dan lebih jauh, adakah dasar teologis dan ilmiahnya?

Daya Pikiran: Antara Harapan dan Realitas

Konsep bahwa pikiran adalah doa telah lama menjadi bagian dari khazanah spiritual. Dalam The Secret, Rhonda Byrne menyebut bahwa “Setiap pikiran adalah energi yang memancar dan akan kembali pada pemiliknya.” Gagasan ini mendapat sambutan luas dalam dunia motivasi, namun tak jarang juga dikritik karena dianggap mengabaikan realitas hidup yang kompleks.

Dalam konteks akademik, psikologi kognitif dan ilmu saraf modern justru memberikan pembenaran ilmiah terhadap kekuatan pikiran. Otak manusia memiliki neuroplastisitas kemampuan untuk membentuk ulang jalur-jalur saraf berdasarkan pola pikir dan pengalaman berulang (Tang et al., 2015).

Artinya, apa yang terus kita pikirkan akan membentuk bagaimana kita merasakan dunia, bertindak, dan akhirnya menentukan hasil hidup kita.
Lebih lanjut, teori self-efficacy dari Albert Bandura menjelaskan bahwa kepercayaan terhadap kemampuan diri adalah kunci keberhasilan (Maddux & Kleiman, 2016).

Ketika seseorang percaya bahwa ia mampu, ia akan bertindak lebih tekun dan tidak mudah menyerah, yang pada akhirnya meningkatkan peluang kesuksesan.

Iman yang Menggerakkan Tindakan
Di sisi lain, iman Kristen tidak pernah memisahkan antara pikiran, iman, dan tindakan. Dalam Matius 21:22 Yesus bersabda, “Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.” Ini bukan ajakan untuk berangan-angan, tetapi seruan untuk memiliki keyakinan aktif: meminta, percaya, lalu bersiap menerima.

Markus 11:24 menguatkan, “Percayalah bahwa kamu telah menerimanya.” Ini adalah bentuk iman yang visual, sebuah gambaran batin bahwa kita hidup dalam pengharapan yang sudah digenapi, meskipun secara lahiriah belum terjadi.

Dalam psikologi, pendekatan ini dikenal sebagai mental rehearsal, dan terbukti meningkatkan kesiapan emosional serta performa tindakan.

Namun, iman dalam kekristenan bukanlah afirmasi kosong atau kepercayaan pada “energi semesta” tanpa relasi personal. Iman Kristen berakar pada Allah yang Mahahadir dan Mahakasih.

Doa bukan hanya memproyeksikan keinginan, tetapi menjalin komunikasi intim dengan Sang Pencipta.

Langkah Praktis: Meminta, Percaya, Menerima

Untuk menghidupi iman dan pola pikir positif secara menyeluruh, ada tiga langkah reflektif yang dapat dilakukan secara konsisten:

1. Meminta dengan Jelas dan Spesifik
Banyak orang tidak mendapatkan apa yang mereka harapkan karena mereka sendiri tidak tahu secara pasti apa yang mereka mau. Mintalah dengan kejelasan, baik melalui doa maupun perencanaan hidup. Dalam dunia psikologi, ini sejalan dengan goal setting theory tujuan yang spesifik dan terukur lebih mungkin tercapai.

2. Percaya Sepenuh Hati
Keyakinan adalah bahan bakar yang menghidupkan tujuan. Iman yang ragu-ragu melemahkan tindakan. Paulus menulis bahwa “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibrani 11:1). Dalam sains, visualisasi positif bahkan digunakan dalam terapi perilaku kognitif untuk mengatasi kecemasan dan trauma.

3. Menerima dengan Syukur
Banyak orang tidak siap menerima karena hatinya tertutup oleh keluhan dan ketidakpercayaan. Padahal, syukur adalah cara batin menyambut kebaikan, bahkan sebelum ia datang sepenuhnya. Penelitian menunjukkan bahwa praktik bersyukur dapat meningkatkan kesejahteraan mental dan relasi sosial (Emmons & Mishra, 2011; McCullough et al., 2016).

Refleksi Teologis: Bukan Sekadar Energi, Melainkan Relasi

Gagasan bahwa “semesta akan mengembalikan” bisa menjadi pintu masuk yang menarik, tetapi harus diluruskan dalam terang iman Kristen. Tuhan bukan sekadar “energi pemancar”, melainkan Pribadi yang menjawab doa, membentuk karakter, dan membimbing dalam kasih.

Paulus tidak menulis bahwa “semesta akan memberikan segala sesuatu”, tetapi “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan” (Roma 8:28). Di sinilah letak perbedaan mendasar: iman Kristen bukan hanya soal hasil, tetapi relasi, proses, dan ketaatan dalam kasih.

Penutup: Apa yang Kita Tanam
Pikiran memang adalah magnet bukan karena semesta tunduk pada kita, tetapi karena Tuhan memberi kita kapasitas untuk membentuk hidup melalui pikiran, iman, dan tindakan.

Hukum tarik menarik bukan sekadar prinsip kosmik, melainkan cara Tuhan mengajar kita untuk hidup dengan penuh pengharapan, keberanian, dan rasa syukur.

Ketika kita meminta dengan jelas, percaya dengan iman, dan menerima dengan syukur, kita sedang membuka diri untuk bekerja sama dengan Tuhan dalam membentuk masa depan yang lebih baik.

Pikiran bukan sekadar gema kesadaran, tetapi nyanyian harapan yang terdengar hingga ke Surga.

 

Daftar Referensi :
• Tang, Y. Y., Hölzel, B. K., & Posner, M. I. (2015). The neuroscience of mindfulness meditation. Nature Reviews Neuroscience.
• Maddux, J. E., & Kleiman, E. M. (2016). Self-efficacy theory.
• Emmons, R. A., & Mishra, A. (2011). Gratitude and well-being. Handbook of Positive Psychology.
• McCullough, M. E., et al. (2016). Gratitude and positive outcomes.
• Byrne, R. (2006). The Secret.
• Willard, D. (2014). Renovation of the Heart.




Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Kupang Hadiri Uji Petik Sosialisasi Dashboard SDGs Nasional

 

Kupang,nwartapedia.com  — Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Drs. Ambo, M.Si, menghadiri kegiatan uji petik sosialisasi Dashboard SDGs Nasional yang digelar di ruang rapat Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (8/7). Ia didampingi oleh salah satu staf, Gregorius Takene, SE.

Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan sekaligus memastikan kesiapan pemanfaatan Dashboard SDGs Nasional, sebuah sistem informasi berbasis web yang menyajikan data dan informasi pelaksanaan Sustainable Development Goals (SDGs) di tingkat nasional.

Dashboard ini diharapkan menjadi alat penting bagi pemerintah daerah, pemangku kepentingan, hingga masyarakat untuk memantau dan mengevaluasi capaian pembangunan berkelanjutan, termasuk di wilayah NTT.

Dalam kesempatan tersebut, Drs. Ambo menegaskan pentingnya keterlibatan sektor pendidikan dalam mendukung pencapaian indikator-indikator SDGs, khususnya yang berkaitan dengan pendidikan berkualitas dan inklusif.

“Kehadiran kami merupakan bentuk komitmen untuk terus menyelaraskan kebijakan pendidikan dengan target pembangunan berkelanjutan, sesuai dengan semangat SDGs,” ujar Drs. Ambo.

Ia juga berharap sosialisasi ini dapat memperkuat sinergi lintas sektor dan mendorong percepatan capaian SDGs di daerah, termasuk melalui program-program pendidikan yang inklusif dan berkeadilan.

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi pemerintah daerah untuk memperkuat koordinasi dan kolaborasi dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif di NTT. (goe)




NTT Percepat Pembangunan Lapangan Criket, Sambut Pertandingan Persahabatan dengan Tim Australia

 

Kupang,nwartapedia.com  — Rencana kedatangan tim criket Australia untuk pertandingan persahabatan di Nusa Tenggara Timur (NTT) memacu semangat panitia untuk mempercepat pembangunan lapangan criket bertaraf internasional di Kupang.

Ketua Umum Criket NTT, Ince Sayuna, menyatakan bahwa pertandingan internasional ini menjadi momentum penting untuk memperkenalkan olahraga criket sekaligus menunjukkan kesiapan NTT sebagai tuan rumah.

“Kami sudah menyampaikan secara lisan kepada Gubernur NTT, Bapak Melki Laka Lena, dan juga melalui surat resmi dari pengurus Criket NTT. Kehadiran tim Australia ini memberi motivasi besar bagi kami untuk menyelesaikan pembangunan tepat waktu,” ujar Ince Sayuna usai rapat internal panitia, Senin (7/7).

Ince menegaskan, pihaknya terus berupaya menggalang dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, sponsor, dan masyarakat, agar proyek ini berjalan lancar.

Sekretaris Umum Criket NTT, Ambo, menambahkan bahwa komunikasi intensif juga dilakukan dengan pihak konsultan untuk memastikan pembangunan memenuhi standar internasional.

“Pembangunan ini dibiayai dari kas Criket NTT, namun kami terbuka terhadap dukungan pihak mana pun yang peduli terhadap perkembangan olahraga ini di daerah,” jelas Ambo.

Menurutnya, lapangan bertaraf internasional ini tidak hanya untuk menyambut tim Australia, tetapi juga sebagai persiapan NTT menjadi tuan rumah cabang criket pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII tahun 2028.

Ambo pun mengajak seluruh panitia pembangunan untuk tetap kompak dan aktif dalam memastikan seluruh tahapan pekerjaan berjalan sesuai rencana.

“Kami berharap semangat dan kerja sama semua pihak terus terjaga, sehingga lapangan ini bisa segera selesai dan menjadi kebanggaan bersama,” tambahnya.

Lapangan criket tersebut dibangun di atas lahan milik Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang, berlokasi di kawasan Tanah Merah, Desa Noelbaki, Kabupaten Kupang.

Pembangunan ini diharapkan rampung sebelum kunjungan tim Australia untuk pertandingan persahabatan dengan atlet criket NTT. (goe)




Panitia Criket NTT Matangkan Persiapan Pembangunan Lapangan Bertaraf Internasional

 

Kupang,nwartapedia.com  — Panitia pembangunan lapangan olahraga criket bertaraf internasional bersama jajaran pengurus Criket NTT menggelar rapat internal pada Senin malam (7/7) untuk mematangkan persiapan pembangunan.

Rapat yang berlangsung di Kupang itu dipimpin langsung oleh Ketua Umum Criket NTT, Ince Sayuna, dan dimoderatori oleh Sekretaris Umum, Ambo, dengan dihadiri pula para pelatih dan atlet yang terlibat dalam kepanitiaan.

Dalam arahannya, Ince Sayuna menyampaikan permohonan maaf atas beberapa kali penundaan agenda peletakan batu pertama pembangunan lapangan.

Penundaan itu, jelasnya, terjadi karena kondisi kesehatan Menteri Pemuda dan Olahraga RI yang semula dijadwalkan hadir dalam kegiatan tersebut.

“Penundaan ini bukan tanpa alasan, tetapi karena kondisi kesehatan Bapak Menteri sehingga jadwal beliau perlu disesuaikan kembali. Kami juga telah berkoordinasi dengan Rektor UKAW Kupang terkait hal ini,” ujar Ince.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para pelatih, atlet, dan seluruh panitia yang telah bekerja keras serta memberikan dukungan penuh terhadap rencana pembangunan lapangan tersebut.

Ince menegaskan bahwa pendanaan proyek ini bersumber dari kas Criket NTT, dana APBD Provinsi NTT, serta dukungan sponsor dan pihak ketiga.

“Terima kasih saya sampaikan kepada panitia pembangunan yang diketuai Pak Edu Penuweo, yang selama ini telah mempersiapkan dengan baik kehadiran Bapak Menteri dan seluruh teknis pelaksanaan pembangunan,” tambahnya.

Ketua Panitia Pembangunan, Edu Penuweo, dalam laporannya menyebutkan bahwa persiapan teknis sudah mulai dilakukan, antara lain penentuan titik lokasi utama dan skema penyambutan tamu.

Namun saat ini panitia masih menunggu kedatangan alat berat untuk membersihkan area utama yang akan digunakan saat seremoni peletakan batu pertama.

Menanggapi laporan tersebut, Ince Sayuna memastikan bahwa pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas PUPR NTT untuk menyediakan alat berat yang diperlukan. Pihak PUPR juga telah menyatakan siap mendukung, termasuk membiayai operasional alat berat di lokasi.

“Saya minta pembersihan lokasi bisa dimulai Rabu (9/7), dengan mengundang Rektor UKAW Kupang, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan KONI baik dari Kabupaten Kupang maupun Provinsi NTT. Kegiatan akan diawali dengan ritual doa sebelum pengerjaan lapangan dimulai,” tegasnya.

Pembangunan lapangan criket ini merupakan salah satu langkah strategis Pemprov NTT untuk mempersiapkan diri sebagai tuan rumah cabang olahraga criket pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII tahun 2028.

Adapun lokasi pembangunan berada di lahan milik Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang, tepatnya di kawasan Tanah Merah, Desa Noelbaki, Kabupaten Kupang.

Rencananya, Menteri Pemuda dan Olahraga RI akan hadir secara langsung untuk meletakkan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan.(goe)




Empat ASN PSKP Raih Satyalancana Karya Satya, Dedikasi Panjang untuk Pendidikan Bangsa

 

Jakarta,nwartapedia.com  — Negara menganugerahkan Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya kepada empat Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan (PSKP), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, atas pengabdian dan integritas mereka selama bertahun-tahun sebagai abdi negara.

Penghargaan yang diberikan pada momentum Hari Pendidikan Nasional 2025 ini menjadi bukti bahwa kerja tulus dan konsisten para ASN turut menopang kemajuan pendidikan nasional.

Adapun empat ASN penerima penghargaan periode ini adalah:

  • Hendra Permana, S.Pd., Pengolah Data dan Informasi — Satyalancana Karya Satya XXX Tahun
  • Mukino, S.M., Verifikator Keuangan — Satyalancana Karya Satya XX Tahun
  • Unggul Witjaksono, S.E., Pengadministrasi Perkantoran — Satyalancana Karya Satya X Tahun
  • Linda Efaria, S.Pd., M.A.P., Analis Kebijakan Ahli Pertama — Satyalancana Karya Satya X Tahun

Penghargaan ini didasarkan pada masa kerja dan kontribusi nyata mereka dalam mendukung kebijakan pendidikan melalui berbagai program strategis di PSKP.

Linda Efaria: Mengabdi dengan Hati

Salah satu penerima penghargaan, Linda Efaria, menunjukkan teladan ASN yang bekerja dengan hati dan memaknai tugasnya sebagai bagian dari ibadah.

Lahir di Sibolangit, Deliserdang, pada Desember 1981, ia memulai karier sebagai CPNS di Kabupaten Lembata pada 2010, kemudian bergabung sebagai PNS pusat di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2014. Saat ini, ia menjabat sebagai Analis Kebijakan Ahli Pertama di PSKP.

Linda dikenal sebagai sosok ramah, responsif, dan penuh integritas. Ia mengaku selalu berpegang pada nilai-nilai spiritual yang diajarkan para mentor dan koleganya.

“Jadikan pekerjaan kita sebagai ibadah,” ungkapnya mengenang pesan almarhum Bapak Hurip Danu Ismadi, mantan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan.

“Pekerjaan adalah ladang amal jariyah,” tambahnya, mengutip nasihat kolega senior, Ibu Ais Irmawati.

Ia juga terinspirasi oleh pesan Romo Windy dari Klaten:
“Apa yang kita lakukan di dunia saat ini adalah untuk mempersiapkan hidup di surga nanti.”

PSKP, Pilar Kebijakan Pendidikan Nasional

Sebagai unit kerja di bawah Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, PSKP memiliki mandat strategis dalam menyusun, mengevaluasi, dan menganalisis kebijakan pendidikan untuk memastikan standar mutu yang berkelanjutan.

Tugas-tugas utamanya meliputi:

  • Penyusunan kebijakan dan standar pendidikan.
  • Analisis dan evaluasi kebijakan pendidikan.
  • Koordinasi dan fasilitasi pelaksanaan standar.
  • Pemantauan, pelaporan, dan administrasi pusat.

Dedikasi ASN seperti Linda Efaria dan rekan-rekan yang menerima Satyalancana kali ini mencerminkan peran penting para birokrat pendidikan di balik layar, yang bekerja senyap tetapi memberi dampak nyata bagi kualitas pendidikan bangsa.

Informasi lebih lanjut mengenai PSKP dapat diakses melalui laman resmi: pskp.kemendikdasmen.go.id 

 (goe)




Terminal Bello Kembali Beroperasi, Warga Apresiasi Peningkatan Layanan Transportasi Kota Kupang

 

Kupang,nwartapedia.com  — Pemerintah Kota Kupang kembali mengoperasikan Terminal Bello di Kecamatan Maulafa sebagai pusat layanan transportasi publik yang tertib, aman, dan representatif.

Dengan berfungsinya kembali terminal ini, angkutan kota (angkot) resmi melayani trayek hingga ke kawasan Bello, memberikan kemudahan mobilitas bagi masyarakat.

Langkah revitalisasi terminal ini mendapat apresiasi luas dari warga dan pemerintah kelurahan setempat.

Sekretaris Lurah Bello, Denny Patty, menilai pengoperasian Terminal Bello sebagai komitmen nyata pemerintah dalam meningkatkan kualitas sarana transportasi publik.

“Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas difungsikannya kembali Terminal Bello sebagai pusat transportasi yang layak, tertib, dan representatif. Ini adalah jawaban nyata atas kebutuhan masyarakat akan fasilitas umum yang aman dan nyaman,” ungkap Denny, saat dihubungi pada Senin (7/7).

Selain mempermudah akses perjalanan sehari-hari, Terminal Bello juga diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi lokal serta memperkuat konektivitas antarwilayah di Kota Kupang.

“Terminal Bello bukan sekadar infrastruktur fisik, tetapi juga simbol pembangunan dan harapan baru bagi warga sekitar untuk mobilitas yang lebih efisien, ekonomi yang lebih dinamis, serta konektivitas yang lebih baik,” tambahnya.

Ia berharap terminal ini dikelola dengan baik dan dirawat bersama oleh semua pihak, sehingga dapat terus berkembang dan memberikan pelayanan optimal bagi publik.

“Harapan kami, terminal ini dapat dikelola secara profesional, dijaga bersama, dan dikembangkan berkelanjutan sehingga menjadi kebanggaan masyarakat Bello dan sekitarnya,” tutupnya.

Dengan beroperasinya kembali Terminal Bello, Pemerintah Kota Kupang dinilai telah mengambil langkah strategis dalam membenahi sistem transportasi kota yang lebih terintegrasi dan berorientasi pada pelayanan masyarakat. (goe)




Film “Believe” Tumbuhkan Nasionalisme dan Jiwa Korsa, Pemprov NTT Dorong Generasi Muda Teladani TNI

 

Kupang,nwartapedia.com   — Film Believe dengan tema Takdir, Mimpi, dan Keberanian, yang disebut sebagai film laga perang terbesar tahun ini, sukses menggugah semangat nasionalisme penonton dalam acara nonton bareng (nobar) di Transmart Kupang, Sabtu (5/7/2025).

Hadir dalam acara tersebut, Staf Ahli Gubernur NTT Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Linus Lusi, yang mewakili Gubernur NTT, menyampaikan apresiasi atas pesan yang diangkat film ini.

Menurutnya, Believe tidak hanya menampilkan kisah heroik prajurit TNI di medan perang, tetapi juga mengajarkan tentang keberanian, pengorbanan, dan pentingnya jiwa korsa.

“Kami mewakili Gubernur NTT menyampaikan bahwa film ini membangkitkan emosi kebangsaan dan nasionalisme. Kalau negara kita tanpa TNI, tentu akan hancur. Jiwa korsa yang ditunjukkan para prajurit dalam film ini harus kita teladani dalam kerja-kerja sebagai aparatur sipil negara di lingkungan Pemerintah Provinsi NTT,” kata Linus Lusi.

Ia menegaskan bahwa pesan moral dalam film ini sangat relevan untuk disampaikan melalui sektor pendidikan agar generasi muda memahami nilai perjuangan dan menghargai jasa para pahlawan.

“Film ini perlu digelorakan melalui pendidikan. TNI adalah harga mati bagi keutuhan negara. Saya berharap siswa-siswa kita  dari SD, SMP, SMA, hingga SMK  bisa menonton film ini untuk menumbuhkan kecintaan terhadap bangsa dan menghormati para pahlawan,” tambahnya.

Linus Lusi juga menyinggung figur inspiratif dalam konteks kekinian yang digambarkan melalui film ini, yaitu Presiden RI, Prabowo Subianto.

Ia menyebut, Presiden Prabowo adalah simbol keberanian yang pernah berjuang dengan jiwa dan raga di Timor Leste, dan kini menjadi teladan bagi generasi bangsa untuk terus bekerja keras dan mengabdi.

“Mari kita tanamkan jiwa korsa dengan menabur benih-benih nasionalisme sejak usia dini. Itu harapan kami dari pemerintah provinsi, supaya anak-anak bangsa mencintai negeri ini, menghormati jasa para pahlawan, dan siap mengabdi untuk negara,” pungkasnya.

Film Believe berhasil menghadirkan bukan hanya adegan laga yang heroik, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan, mimpi, dan pengorbanan para prajurit dan keluarganya.

Pemerintah Provinsi NTT berharap pemutaran film ini dapat terus dilanjutkan dan menjangkau lebih banyak sekolah dan daerah sebagai media edukasi nasionalisme bagi masyarakat, terutama generasi muda. (MI)