Membaca Ambiguitas Eksistensi Guru Dalam Pembelajaran Mendalam

Oleh: E. Nong Yonson
Praktisi & Konsultan Pendidikan

Kuoang, nwartapedia.com — Gagasan pembelajaran mendalam (deep learning) kini menjadi salah satu agenda utama kebijakan pendidikan nasional. Konsep ini secara sadar menggeser peran guru dari sekadar pelaksana rutinitas kelas menuju pencipta perjumpaan yang berkualitas dan bermakna.

Kehadiran guru tidak lagi diukur dari frekuensi tatap muka atau jumlah capaian pembelajaran, melainkan dari jejak nilai yang tumbuh dan membekas dalam diri murid.

Dalam pembelajaran mendalam, murid tidak cukup hanya mengetahui. Mereka dituntut untuk merasakan, mengalami, dan menggunakan pengetahuan dalam kehidupan nyata.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan adanya paradoks. Pasca terbitnya Surat Edaran Mendikdasmen tertanggal 24 Januari 2025 yang memuat sembilan prioritas pendidikan salah satunya pelaksanaan pembelajaran mendalam berbagai kegiatan peningkatan kompetensi guru mulai digelar dengan label deep learning.

Sayangnya, kegiatan tersebut kerap berlangsung singkat, padat ceramah, minim refleksi, dan lebih dominan seremoni.

Guru-guru dibekali regulasi dan arahan yang bersifat instruktif, bahkan seolah diasumsikan belum pernah menyentuh praktik pembelajaran yang mendalam.

Mereka dikumpulkan, diseragamkan, dan dijejali definisi tanpa ruang dialog yang memadai. Kebingungan pun muncul, meski sering disamarkan lewat senyum dan anggukan.

Padahal, jika ditelisik lebih dalam, guru sejatinya adalah kurikulum itu sendiri. Guru bukan sekadar pelaksana sistem yang sarat kepentingan, melainkan jiwa pendidikan, penentu arah mimpi, dan fondasi pembentukan karakter.

Kerangka dasar tugas guru telah lama dirintis Ki Hajar Dewantara melalui empat aspek pendidikan karakter: olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga.

Empat aspek tersebut menempatkan guru dalam empat peran utama: pengajar, pendidik, pembimbing, dan pelatih. Namun, di era kecerdasan buatan dan teknologi digital, hanya dua peran yang tak tergantikan mendidik dan membimbing. Mengajar dan melatih kini dapat difasilitasi oleh AI, platform digital, dan media daring yang menyediakan materi serta tutorial sangat lengkap. Sebaliknya, mendidik dan membimbing menuntut perjumpaan manusiawi yang tidak dapat direplikasi mesin.

Secara konseptual, pembelajaran mendalam merujuk pada empat pilar pendidikan UNESCO yang dirumuskan Jacques Delors pada 1996: learn to know, learn to do, learn to be, dan learn to live together.

Namun pendidikan Indonesia dinilai masih berkutat pada level awal hafalan, pendiktean, dan pertanyaan dangkal belum menyentuh puncak pembelajaran yang membentuk kesadaran hidup dan tanggung jawab sosial murid.

Pertanyaan kritis pun mengemuka: apakah guru benar-benar telah dibekali penguatan kompetensi yang substansial untuk menjalankan pembelajaran mendalam?

Ataukah mereka hanya hadir secara fisik dalam pelatihan, lalu kembali belajar secara otodidak di tengah keterbatasan sistem?

Perbandingan dengan sistem pendidikan di Amerika Serikat menunjukkan perbedaan mencolok. Di sana, peran administrasi sekolah dan guru dipisahkan secara tegas.

Guru difokuskan pada riset pedagogi, penguasaan materi esensial, serta pengembangan metode mengajar. Sementara di Indonesia, beban administrasi justru menumpuk di pundak guru, menyita waktu dan energi yang seharusnya digunakan untuk memahami murid dan memaknai pembelajaran.

Akibatnya, tidak sedikit guru yang lebih fasih menghafal regulasi, naskah akademik, dan slogan kebijakan ketimbang menjelaskan kepada murid mengapa suatu materi penting dipelajari dan apa relevansinya dengan kehidupan nyata.

Konsep critical thinking dan problem solving pun kerap tereduksi menjadi jargon atau sekadar pelengkap sesi ice breaking.

Membaca ambiguitas eksistensi guru dalam pembelajaran mendalam sejatinya adalah membaca kegamangan sistem pendidikan kita sendiri.

Idealnya, setiap kebijakan pendidikan melewati lima tahapan: temuan, perencanaan, persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Namun yang terjadi, sistem seolah melompat dari temuan langsung ke intervensi, melupakan perencanaan dan persiapan yang matang.

Akibatnya, yang lahir bukan dampak nyata, melainkan narasi pembelaan. Padahal, tidak ada guru yang menolak belajar. Yang mereka rindukan adalah kehadiran mentor yang menemani proses tumbuh, bukan kebijakan yang menghakimi. Guru yang tenang adalah fondasi utama bagi masa depan pendidikan yang terang. (MI(




Serahkan Bonus Atlet PON XXI Aceh–Sumut, Wali Kota Kupang Tegaskan Ibu Kota Provinsi Harus Jadi Atlet Terbaik di PON 2

Kupang, nwartapedia.com – Pemerintah Kota Kupang menyerahkan bonus kepada atlet, pelatih, serta ofisial/manager asal Kota Kupang yang telah menyumbangkan medali pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Tahun 2025 di Aceh–Sumatera Utara. Kegiatan ini berlangsung di Aula Garuda, Rabu (17/12/2025).

Penyerahan bonus tersebut dirangkaikan dengan sambutan Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, yang menegaskan komitmen Pemerintah Kota Kupang dalam mendukung peningkatan prestasi olahraga serta mewujudkan semangat “NTT Emas, Kota Kupang Hebat dan Berprestasi.”

Ketua Panitia kegiatan, Dr. Ambo, M.Si, dalam laporannya menyampaikan bahwa Kota Kupang menjadi tulang punggung Kontingen NTT pada PON XXI. Pada ajang tersebut, Kota Kupang mengirimkan 89 atlet, 45 pelatih, dan 20 manajer/ofisial yang berlaga di 9 cabang olahraga, di antaranya pencak silat, taekwondo, wushu, tinju, sepak takraw, kriket, dan atletik.

“Sebanyak 33 atlet asal Kota Kupang berhasil menyumbangkan medali bagi Kontingen NTT. Total anggaran bonus yang disediakan Pemerintah Kota Kupang sebesar Rp460 juta, terdiri dari Rp250 juta dan Rp210 juta,” jelas Dr. Ambo.

Ia menegaskan bahwa capaian tersebut membuktikan dominasi atlet Kota Kupang dalam memperkuat posisi Kontingen NTT pada PON XXI, sekaligus menjadi modal penting untuk menghadapi PON selanjutnya.

Dalam sambutannya, Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo menyampaikan apresiasi dan rasa bangga kepada seluruh atlet, pelatih, ofisial, dan manajer yang telah bekerja keras mengharumkan nama Kota Kupang dan Provinsi NTT di tingkat nasional.

“Keberhasilan ini bukan hasil kerja satu orang. Tidak ada Superman. Ini adalah hasil kerja tim. Teamwork makes the dream work,” tegas Wali Kota.

Ia menegaskan bahwa bonus diberikan tidak hanya kepada atlet peraih medali, tetapi juga kepada seluruh unsur pendukung di balik layar. Pemerintah Kota Kupang, lanjutnya, tetap berkomitmen memenuhi hak atlet meskipun berada di tengah kebijakan efisiensi anggaran.

“Bonus ini tidak dikurangi sedikit pun, kecuali pajak sesuai ketentuan. Ini adalah bentuk penghormatan pemerintah kepada perjuangan para atlet. Kami memilih berhemat di pos lain agar hak atlet tetap terpenuhi,” ujarnya.

Wali Kota juga menekankan pentingnya disiplin dan konsistensi dalam menjaga performa atlet menuju ajang olahraga nasional berikutnya, khususnya PON 2028.

“Kota Kupang sebagai ibu kota provinsi harus menjadi pabrik atlet terbaik. Kita tidak boleh kalah dari daerah lain. Komitmen itu mudah diucapkan, tetapi konsistensi adalah kunci keberhasilan,” tegasnya.

Acara penyerahan bonus ini turut dihadiri oleh Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Kupang beserta jajaran, pengurus KONI Kota Kupang, para pelatih, ofisial, manajer, atlet, kepala perangkat daerah, serta insan media.

Melalui penyerahan bonus ini, Pemerintah Kota Kupang berharap para atlet semakin termotivasi untuk terus meningkatkan prestasi dan mengharumkan nama daerah di tingkat nasional maupun internasional. (MI)




Wagub NTT Johni Asadoma Kunjungi KONI Pusat, Bahas Persiapan PON XXII NTT–NTB 2028

Jakarta,nwartapedia.com  —  Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Johni Asadoma, melakukan kunjungan kerja ke Kantor Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat di Senayan, Jakarta, pada Senin (15/12/2025).

Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka membahas persiapan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028 yang akan digelar di Provinsi NTT dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Dalam kunjungan tersebut, Wagub Johni Asadoma didampingi oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi NTT yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Provinsi NTT, Alfonsus Theodorus, beserta jajaran.

Rombongan Pemerintah Provinsi NTT diterima langsung oleh Wakil Ketua Umum I KONI Pusat, Suwarno.

Pertemuan ini membahas berbagai aspek penting terkait perencanaan, koordinasi, serta tata kelola penyelenggaraan PON XXII/2028. Dalam forum tersebut, dibicarakan pula kesiapan daerah, pengelolaan venue, pembinaan prestasi atlet, hingga dukungan anggaran dari pemerintah pusat.

Persiapan PON XXII NTT–NTB 2028

Wakil Gubernur Johni Asadoma menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi NTT telah memulai berbagai langkah strategis dalam rangka menyukseskan PON XXII/2028.

Salah satunya adalah melakukan pembahasan bersama DPRD Provinsi NTT terkait penyusunan Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur penyelenggaraan PON.

Selain itu, Pemerintah Provinsi NTT juga tengah menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat serta melakukan perhitungan matang terhadap kebutuhan venue dan infrastruktur olahraga.

“Harapan kami sangat besar agar persiapan venue dan infrastruktur dapat terlaksana dengan baik. Namun demikian, kami masih membutuhkan kepastian terkait dukungan anggaran. Oleh karena itu, kami berharap adanya dukungan penuh dari KONI Pusat dan pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia,” ujar Johni Asadoma.

Melalui kunjungan ini, Pemprov NTT berharap dapat memperkuat koordinasi dengan KONI Pusat serta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai kebijakan, manajemen penyelenggaraan PON, penguatan prestasi olahraga, pengembangan sport tourism, dan aspek pendukung lainnya.

Studi Tiru ke Provinsi Jawa Barat

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, pada Selasa (16/12/2025), Wakil Gubernur NTT bersama rombongan melanjutkan kunjungan kerja dengan melakukan studi tiru ke Provinsi Jawa Barat.

Rombongan disambut langsung oleh Wakil Gubernur Jawa Barat, H. Erwan Setiawan, beserta jajaran.

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak berdiskusi mengenai proses persiapan PON, pelaksanaan kegiatan, hingga pengelolaan pasca-PON. Rombongan Pemprov NTT juga berkesempatan mengunjungi sejumlah venue yang digunakan pada pelaksanaan PON sebelumnya.

“Venue-venue tersebut masih terawat dengan baik dan hingga kini tetap aktif digunakan. Hal ini memberikan kami pelajaran berharga tentang pentingnya pengelolaan venue olahraga dalam jangka panjang,” ungkap Johni Asadoma.

Dengan adanya kunjungan kerja dan studi tiru ini, Pemerintah Provinsi NTT optimistis dapat menyerap pengalaman dan praktik terbaik guna mewujudkan penyelenggaraan PON XXII Tahun 2028 NTT–NTB yang sukses dan berkelanjutan.

“Semoga seluruh tahapan persiapan dapat berjalan dengan lancar demi menyukseskan PON XXII/2028 di NTT dan NTB,” tutup Johni Asadoma. ***




Direktur Utama Bank NTT Hadiri Bazar Natal di Halaman Kantor Gubernur

Kupang,nwartapedia.com  —   Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (Bank NTT) terus menunjukkan komitmennya dalam mengedepankan kepedulian sosial kepada masyarakat.

Memasuki usia ke-63 tahun, Bank NTT menggelar Bazar Natal 2025 berupa sembako murah yang berlangsung pada Sabtu, 13 Desember 2025, bertempat di halaman Kantor Gubernur NTT.

Kegiatan ini mengusung tema “Ayo Bersinergi Bangun NTT” sebagai wujud nyata dukungan Bank NTT terhadap kesejahteraan masyarakat, khususnya warga Kota Kupang.

Dalam bazar tersebut, masyarakat dapat memperoleh paket sembako murah berisi beras, minyak goreng, dan gula pasir.

Direktur Utama Bank NTT, Charlie Paulus, turut hadir memeriahkan kegiatan Bazar Natal tersebut. Saat ditemui media, Charlie menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian Bank NTT dalam membantu masyarakat menghadapi kenaikan harga bahan pokok menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru.

“Bank NTT menyiapkan sekitar enam ratus lebih paket sembako dalam Bazar Natal ini guna membantu masyarakat menjelang Natal dan Tahun Baru. Meski jumlahnya terbatas, kami berkomitmen untuk terus menghadirkan berbagai program sosial bagi masyarakat, khususnya pelaku usaha,” ujar Charlie Paulus.

Lebih lanjut, Charlie menegaskan bahwa Bank NTT tidak hanya fokus pada kegiatan sosial, tetapi juga terus mendukung pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui berbagai produk layanan perbankan, termasuk kredit pinjaman usaha yang mudah diakses.

“Melalui sinergi bersama pemerintah daerah dan masyarakat, Bank NTT berupaya meningkatkan pelayanan serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, terutama bagi pelaku UMKM di NTT,” tambahnya.

Bazar Natal 2025 ini disambut antusias oleh masyarakat yang memadati lokasi kegiatan. Diharapkan, kegiatan serupa dapat terus dilakukan sebagai bagian dari kontribusi Bank NTT dalam membangun Nusa Tenggara Timur yang lebih sejahtera. (MI)