Sore Ini Umat Stasi Bello Gelar Pesta Pelindung Santo Agustinus, Ribuan Umat Akan Hadir

Kupang, nwartapedia.com – Perayaan Pesta Santo Agustinus yang jatuh pada 28 Agustus, dirayakan dengan penuh sukacita oleh umat Katolik di seluruh dunia. Tak terkecuali umat Stasi Santo Agustinus Bello, Paroki Santo Fransiskus Asisi Kolhua, Kota Kupang, yang sore ini, Kamis (28/8), akan menggelar puncak perayaan iman mereka.

Lebih dari 2.000 umat diperkirakan hadir dalam Perayaan Ekaristi bersama yang akan dipimpin oleh sejumlah imam tamu dan pastor undangan di Kapela Stasi Bello. Suasana meriah sekaligus khidmat dipastikan menyertai misa akbar tersebut.

Menjelang perayaan puncak, Pater Armando Labertubun, SVD—pembina di SMA Katolik Arnoldus TDM Kupang—menyampaikan refleksi iman mengenai teladan Santo Agustinus. Ia menekankan bahwa perjalanan iman manusia penuh dengan kegelisahan, namun pada akhirnya hanya akan menemukan ketenangan sejati dalam Allah.

“Hati manusia pada dasarnya gelisah. Santo Agustinus pun mengalaminya—mencari, jatuh, bangkit, bahkan tersesat. Tetapi akhirnya ia menyadari: ‘Gelora hati kita tidak akan tenang sebelum beristirahat dalam Allah.’ Inilah pesan abadi Santo Agustinus untuk kita semua,” ungkapnya.

Lebih lanjut, imam asal Kei, Maluku, itu menegaskan bahwa pesta iman bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi kesempatan untuk memperbarui diri dan menghidupi iman dalam keseharian.

“Agustinus mengingatkan kita bahwa iman adalah perjalanan pulang—pulang kepada Allah. Karena itu, pesta ini harus menjadi momentum menata hidup agar berakar dalam kasih Allah,” tambahnya.

Sejak beberapa pekan terakhir, panitia telah menggelar rangkaian kegiatan pra-pesta berupa lomba gawi, olahraga, hingga pentas seni yang melibatkan anak-anak, Orang Muda Katolik (OMK), maupun umat dewasa. Semua kegiatan itu menjadi wujud nyata kebersamaan sekaligus cerminan semangat Santo Pelindung.

Sore ini, seluruh rangkaian ditutup dengan perayaan Ekaristi syukur. Melalui pesta pelindung ini, umat Stasi Bello tak hanya mengenang Santo Agustinus, tetapi juga memperbarui komitmen iman untuk terus berjalan dalam kasih Allah.

(goe)




Sepotong Kisah dari Ruang Sunyi RSJ Naimata

Kupang,nwartapedia.com   — Pagi itu, matahari baru saja naik, menyinari jalanan Bello Kota Kupang yang masih lengang. Sekitar pukul 09.00 WITA, saya bersama seorang tante menyalakan sepeda motor tua, meluncur pelan menuju Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Naimata.

Di tangan tante, sebuah termos berisi air panas dan bekal makan siang sederhana: tanda kasih sayang yang tulus untuk salah satu ponakan kami, pasien ODGJ yang baru sehari menjalani perawatan.

Perjalanan tak sampai 20 menit. Begitu memasuki gerbang RSJ, suasana senyap menyambut. Gedung-gedung kokoh berdiri, namun halaman terasa lengang.

Beberapa pasien tampak berjalan pelan, sebagian duduk termenung di bangku taman. Ada rasa asing sekaligus hening yang menyelimuti.

Setelah melapor di resepsionis, kami diarahkan ke Unit Gawat Darurat (UGD). Di ruang berukuran sekitar lima kali lima meter itu, ponakan kami terbaring ditemani ibunya.

Hanya ada tiga ranjang besi dua beralas kasur tipis, satu lainnya kosong tanpa alas. Cahaya matahari menembus lewat enam jendela besar berterali besi, menghadirkan terang sekaligus bayangan keheningan.

Seorang satpam berbadan tegap mengantar kami masuk, lalu pintu besi dikunci kembali dari luar. Dari balik gembok itu,

ruang semakin terasa asing. Ada kamar mandi kecil tanpa pintu di pojok, menambah rasa sempit sekaligus kaku.

Kami hanya bisa duduk, hadir dalam diam. Ponakan kami lebih banyak tertidur. Sesekali ia terbangun sebentar, cukup untuk meneguk teh hangat yang disodorkan perawat, lalu kembali terlelap.

Hampir satu jam kami menunggu tanpa banyak kata, tanpa banyak interaksi. Di ruang sunyi itu, waktu seolah berjalan lambat.

Ketika pamit, satpam kembali membuka pintu besi. Kami melangkah keluar, meninggalkan ruang hening dengan hati yang berat. Ada kesadaran sederhana yang kami bawa pulang: menjenguk pasien ODGJ bukan sekadar membawakan bekal, tetapi menghadirkan dukungan meski lewat kehadiran yang diam, meski tanpa kata-kata.

(goe)