Pemuda Akamsi Solid Meriahkan HUT RI ke-80 dengan Aneka Lomba di Manutapen

Kupang,nwartapedia.com  – Suasana meriah dan penuh keceriaan mewarnai perayaan HUT ke-80 Republik Indonesia yang digelar pemuda-pemudi Akamsi Solid di RT 021 dan RT 022, RW 007, Kelurahan Manutapen, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Minggu (17/8/2025).

Sejak pukul 15.00 WITA, ratusan warga dari berbagai usia mulai anak-anak hingga lansia berkumpul di lokasi kegiatan.

Mereka larut dalam kemeriahan aneka lomba tradisional yang digelar, seperti lomba gigit sendok, lomba makan biskuit, lomba memindahkan air, lomba baris berbaris, dan berbagai lomba seru lainnya.

Ketua Panitia, Davidson Laypa, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan agenda tahunan yang selalu digelar pemuda Akamsi Solid untuk memeriahkan peringatan HUT RI. Acara ini juga mendapat dukungan penuh dari Ketua RT 021 Dominggus Willa, Ketua RT 022 Selvi Nara, Ketua RW 007 Sartje Riwu Wadu, serta berbagai pihak yang turut memberikan sumbangan.

“Ini agenda rutin kami untuk merayakan HUT RI. Terima kasih untuk semua pihak yang sudah berkontribusi. Luar biasa melihat semua warga, mulai dari anak-anak hingga orang tua, berbaur dan ikut ambil bagian dalam lomba-lomba,” ungkap Davidson.

Sementara itu, Ketua RT 021 Dominggus Willa menambahkan bahwa untuk tahun depan pihaknya bersama pemuda Akamsi Solid berencana memperluas rangkaian kegiatan dengan menampilkan seni budaya.

“Tahun depan kita coba mulai sejak 15 Agustus dengan acara tarian adat Pedo’a dari Sabu Raijua, sebelum puncak lomba tanggal 17 Agustus. Selain menambah daya tarik, kegiatan ini juga bisa menggerakkan ekonomi warga yang berjualan makanan dan minuman,” jelas Dominggus.

Perayaan sederhana namun penuh makna ini menjadi bukti semangat kebersamaan warga Manutapen dalam menjaga tradisi gotong royong sekaligus merayakan kemerdekaan dengan sukacita. ***




Syukur 25 Tahun Hidup Membiara, Sr. Maria Marselina Lodan RVM: Semua Karena Kasih Tuhan

Lembata,nwartapedia.com   –  Dengan penuh syukur, Sr. Maria Marselina Lodan, RVM, akan merayakan 25 tahun panggilannya dalam hidup membiara. Misa syukur pesta Perak Hidup Membiara ini akan digelar pada Kamis, 4 September 2025, bertempat di rumah keluarga besar, kediaman almarhum Bapak Yoseph Pito Watun, Jl. Gua Maria, Walangkeam Atas, Lembata.

Motto hidupnya sederhana namun sarat makna: “Tuhan adalah Kasih” (1 Yoh 4:8). Kalimat singkat ini menjadi sumber kekuatan dan arah panggilannya, yang setia ia hidupi sepanjang perjalanan sebagai religius misionaris dari Kongregasi Religious of the Virgin Mary (RVM).

Sr. Maria Marselina lahir di Hokeng, 20 April 1975, dari pasangan almarhum Linus Wata Wator dan almarhumah Magdalena Habu Watun. Sejak kecil, ia ditempa dalam iman Katolik sederhana yang menumbuhkan benih panggilan hidup membiara.

Setelah menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Lembata, ia melanjutkan ke Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta (2002–2006), dengan fokus pada Ilmu Pendidikan dan Pengajaran Agama Katolik (IPPAK).

Perjalanan rohaninya dimulai sebagai aspiran di Soe (1997–1998), lalu postulan dan novisiat hingga akhirnya mengikrarkan Kaul Pertama pada 22 Agustus 2000 di Kapela Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui, Kupang. Kesetiaannya berpuncak pada Kaul Kekal di Manila, Filipina, 25 Maret 2009.

Tepat 22 Agustus 2025 lalu, ia merayakan pesta perak hidup membiara dalam perayaan syukur di Gereja Maria Asumpta, Walikota Baru, Kupang.

Dalam karya perutusannya, Sr. Maria Marselina pernah melayani di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, pendampingan asrama, karya formasi, hingga pastoral. Ia pernah berkarya di Soe, Yogyakarta, Niki-niki, Rote Ndao, Denpasar, hingga Oeekam dan kembali ke TTS untuk mendampingi ret-ret serta mengajar di SDK Yaswari.

Kesetiaannya diutus ke berbagai tempat menjadi wujud nyata dari semangat misioner Kongregasi RVM, yang mengutamakan pelayanan pendidikan, pastoral, dan pengembangan iman umat.

Peringatan 25 tahun hidup membiara ini bukan hanya menjadi kebahagiaan pribadi Sr. Maria Marselina, tetapi juga sukacita keluarga besar Watun, umat Paroki Sta. Maria Banneux Lewoleba, serta komunitas Katolik di Lembata dan TTS.

“Sr. Marselina adalah kebanggaan keluarga dan Gereja. Hidup dan karya beliau menjadi teladan iman, harapan, dan kasih bagi banyak orang,” ungkap seorang anggota keluarga.

Dalam ungkapan syukurnya, Sr. Maria Marselina dengan rendah hati menegaskan bahwa semua perjalanan panjang ini adalah anugerah Tuhan.

“Semua karena kasih Tuhan. Jika saya boleh tetap setia hingga 25 tahun ini, itu bukan karena kekuatan saya, melainkan kasih dan rahmat-Nya yang selalu menyertai,” tuturnya penuh haru. (Goe)




Kota Kupang Gelar Upacara HUT ke-80 RI, Wali Kota Tekankan Semangat Harapan dan Kebersamaan

Kupang,nwartapedia.com –  Pemerintah Kota Kupang menggelar upacara pengibaran Bendera Merah Putih dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Upacara Kantor Wali Kota Kupang, Minggu (17/8).

Upacara berlangsung khidmat dengan Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, bertindak sebagai inspektur upacara.

Hadir dalam kesempatan tersebut Wakil Wali Kota Kupang Serena C. Francis, S.Sos., M.Sc., pimpinan dan anggota DPRD Kota Kupang, unsur Forkopimda, pimpinan instansi vertikal, tokoh masyarakat, veteran, mantan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Kupang, ASN, PTT, guru, serta siswa-siswi dari berbagai sekolah di Kota Kupang.

Dalam sambutannya, Wali Kota Christian menyampaikan rasa syukur atas anugerah Tuhan yang mengizinkan bangsa Indonesia merayakan kemerdekaannya hingga usia 80 tahun.

Ia memberikan apresiasi khusus kepada seluruh petugas upacara, terutama Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) yang dinilainya menunjukkan disiplin, kekompakan, dan karakter.

“Menjadi Paskibraka bukan hanya soal fisik, tetapi juga soal mental dan karakter. Setiap langkah kalian adalah simbol kebersamaan dan solidaritas—itulah semangat Indonesia,” tegasnya.

Wali Kota juga mengingatkan pentingnya melanjutkan perjuangan para pendiri bangsa dengan menghadapi tantangan zaman secara jujur dan berani.

Ia mengutip pesan Bung Karno bahwa perjuangan generasi saat ini lebih berat, karena harus melawan kemiskinan, pengangguran, kebodohan, dan ketidakadilan.

“Tanpa makan kita bisa bertahan sebulan, tanpa air beberapa hari, tanpa napas paling lama 24 menit. Tapi tanpa harapan, kita sebenarnya sudah mati,” ucapnya penuh penekanan.

Dalam momentum peringatan kemerdekaan ini, Wali Kota juga memaparkan capaian 100 hari pertama pemerintahannya.

Di bidang kesehatan, ia menegaskan Pemkot Kupang telah mengalokasikan dana darurat Rp3 miliar agar masyarakat mendapatkan pelayanan cepat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) tanpa terkendala administrasi.

“Tidak boleh ada nyawa hilang hanya karena urusan administrasi. Tolong dulu, urus belakangan,” ujarnya.

Di bidang kebersihan, pemerintah memberikan insentif tambahan bagi petugas kebersihan, termasuk di akhir pekan, serta menyelenggarakan lomba kebersihan antar kelurahan dengan hadiah pembangunan infrastruktur bernilai ratusan juta hingga miliaran rupiah.

Untuk sektor ekonomi, Wali Kota menyoroti geliat UMKM lewat kegiatan “Saboak Koepan” atau Sunday Market di Taman Nostalgia. Menurutnya, perputaran uang di lokasi tersebut kini mencapai Rp300 juta setiap akhir pekan.

“Sekarang taman bukan hanya hiasan, tapi juga pusat ekonomi rakyat. Kami bantu bukan hanya lewat dana, tapi juga legalitas. Hari ini sudah ada 669 UMKM yang legal,” jelasnya.

Di bidang sosial, Pemkot Kupang telah menyalurkan bantuan beras kepada puluhan ribu keluarga dan menyediakan liang lahat gratis bagi warga kurang mampu.

Menutup pidatonya, Wali Kota Christian menekankan pentingnya kolaborasi seluruh elemen masyarakat.

Ia mengutip Bung Hatta yang mengatakan bahwa Indonesia bercahaya bukan karena obor di Jakarta, melainkan karena lilin-lilin yang menyala di desa-desa.

“Kota Kupang hari ini bercahaya bukan karena obor di kantor Wali Kota, tetapi karena lilin-lilin kecil di dinas, kelurahan, RW, RT, dan rumah-rumah warga. Sendirian kita setetes air, tapi bersama kita jadi samudra luas,” tandasnya.

Upacara HUT ke-80 RI di Kota Kupang berlangsung lancar dan penuh semangat kebangsaan. Acara ditutup dengan penyerahan Satya Lencana kepada ASN, serta hadiah lomba kebersihan antar kelurahan dan berbagai lomba lainnya. ***




Desa Oeltua Jadi Pilot Project Pemberdayaan Kader Posyandu untuk Tekan Stunting Lewat Kesehatan Gigi Balita

 

Kupang,nwartapedia.com  —  Upaya menekan angka stunting di Kabupaten Kupang kini mendapat perhatian khusus. Jurusan Kesehatan Gigi Poltekkes Kemenkes Kupang mengadakan program Pemberdayaan Kader Kesehatan Posyandu dan Ibu Balita Stunting di Desa Oeltua, Kecamatan Taebenu, dengan fokus pada pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut balita serta pemberian makanan tambahan (PMT) bergizi.

Desa Oeltua dipilih bukan tanpa alasan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang, prevalensi stunting di desa ini masih tinggi, yakni 37% pada tahun 2020—jauh di atas rata-rata nasional.

Kondisi sosial ekonomi, keterbatasan akses layanan kesehatan, serta pola asuh yang belum optimal menjadi faktor utama tingginya kasus stunting di wilayah ini.

Stunting selama ini identik dengan kurang gizi, padahal ada kaitan erat dengan kesehatan gigi dan mulut.

Balita stunting lebih rentan mengalami karies, penyakit gusi, hingga infeksi mulut yang dapat memperburuk kondisi kesehatan mereka.

“Mulut adalah pintu gerbang masuknya makanan ke dalam tubuh. Di dalam mulut makanan mengalami proses pencernaan mekanik oleh gigi. Gigi dan mulut harus dijaga kebersihannya karena berbagai kuman dapat masuk ke dalam tubuh melalui organ ini. Jika kesehatan gigi terganggu, otomatis penyerapan gizi anak juga ikut terhambat,” jelas Agusthinus Wali, Dosen Poltekkes Kemenkes Kupang yang memimpin program ini.

Agusthinus mengatakan, program ini melibatkan para kader posyandu sebagai ujung tombak kesehatan desa dan ibu dari balita sebagai penggerak pendidikan kesehatan kepada anak.

“Mereka dibekali pelatihan mengenai cara merawat kesehatan gigi balita, cara menyikat gigi yang benar sebagai upaya pencegahan karies, serta pentingnya PMT bergizi seimbang,”ungkapnya.

Tak hanya itu, lanjut Agusthinus, para ibu balita juga mendapatkan edukasi langsung dengan metode sederhana, menggunakan leaflet dan poster, agar lebih mudah dipahami dan dipraktikkan sehari-hari bagi anaknya di rumah.

“Selain penyuluhan, kader posyandu melakukan pendampingan langsung ke rumah-rumah balita stunting. Program ini juga disertai monitoring dan evaluasi untuk mengukur keberhasilan sekaligus merancang tindak lanjut kegiatan,”tambahnya.

Sementara itu, Melkisedek O. Nubatonis, anggota tim pelaksana, menegaskan bahwa keterlibatan aktif masyarakat sangat penting dalam keberhasilan program. 

“Kami ingin menciptakan kemandirian. Dengan kader kesehatan dan ibu balita yang paham tentang pentingnya pemeliharaan kesehatan gigi balita, maka status kesehatan balita bisa terjaga dan di tingkatkan, sehingga angka stunting perlahan ditekan,” ujarnya.

Program pemberdayaan di Desa Oeltua ini diharapkan menjadi model percontohan yang dapat direplikasi di desa-desa lain di Kabupaten Kupang dan Nusa Tenggara Timur, Provinsi yang masih mencatat prevalensi stunting cukup tinggi di Indonesia.

Tim Dosen Jurusan Kesehatan Gigi, Poltekkes Kemenkes Kupang yang tergabung dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini yakni :

Ketua: Agusthinus Wali1

Anggota: Melkisedek O. Nubatonis2 dan Mery Novaria Pay3,

Email : agusthinuswali@gmail.com ***