Umat Stasi Bello Hidupkan Semangat Persaudaraan Lewat Lomba dan Kegiatan Pesta Pelindung Santo Agustinus

Kupang, nwartapedia.com Dalam semangat kasih dan kebersamaan yang diwariskan Santo Agustinus, umat Stasi Santo Agustinus Bello, Paroki Santo Fransiskus dari Assisi Kolhua, Kupang, NTT, memulai rangkaian kegiatan menyongsong pesta pelindung stasi yang akan dirayakan pada 28 Agustus 2025.

Kegiatan yang dibuka pada Rabu (6/8) di Aula Stasi Bello ini menghadirkan suasana meriah sekaligus penuh makna, dengan partisipasi aktif dari seluruh 16 Kelompok Umat Basis (KUB), yang mewakili hampir 2.500 jiwa umat. Lomba dan pertandingan yang digelar menjadi ajang membangun persaudaraan lintas generasi, mulai dari anak-anak hingga dewasa.

Jenis kegiatan yang diselenggarakan cukup beragam, antara lain lomba mewarnai sketsa Santo Agustinus untuk anak usia dini, pertandingan futsal antar siswa SD dan SMP, lomba mazmur, serta lomba lektor.

Sejak hari pertama, antusiasme umat terlihat tinggi, khususnya dari anak-anak yang menjadi generasi penerus Gereja.

Ketua Panitia, Martinus Mudu, menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan ini dirancang bukan semata-mata untuk memperingati pesta pelindung, tetapi juga sebagai ruang membangun kembali tali persaudaraan dan kekompakan antarumat.

“Dengan total anggaran Rp15 juta dari kas stasi, kami ingin membuktikan bahwa semangat gotong royong masih sangat hidup. Ini bukti bahwa umat tidak hanya hadir di gereja, tapi juga hadir satu untuk yang lain,” ujarnya.

Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP) Kolhua, Adri Ceme, turut memberikan apresiasi tinggi atas semangat umat Stasi Bello yang berhasil menggerakkan kegiatan secara mandiri.

“Kegiatan ini membanggakan. Jarang ada stasi yang bisa menggalang dukungan umat sebesar ini. Lebih membanggakan lagi karena Stasi Bello juga telah ditunjuk menjadi tuan rumah pesta pelindung Paroki Kolhua pada 4 Oktober 2025 mendatang,” kata Adri.

Menurutnya, tanggung jawab ini bukan beban, melainkan kepercayaan besar dari paroki yang perlu dijawab dengan semangat pelayanan dan kekompakan yang terus dijaga.

Pastor Paroki, Romo Longginus Bone (Romo Dus), dalam sambutan pembukaan menegaskan pentingnya keterlibatan umat dalam seluruh dinamika kehidupan gereja.

Ia mengajak seluruh peserta untuk tidak hanya fokus pada kemenangan, tetapi menjadikan setiap kegiatan sebagai sarana membangun tubuh Kristus yang hidup.

“Tujuan utama kita bukanlah siapa yang menang, melainkan siapa yang mau terlibat. Ini adalah cara kita menghidupi cinta Tuhan dalam kebersamaan,” ujarnya.

Sebagai bentuk dukungan bagi generasi muda, Romo Dus secara pribadi menyatakan akan memberikan hadiah khusus bagi pemenang lomba mewarnai.

Dengan dimulainya rangkaian kegiatan ini, umat Stasi Santo Agustinus Bello tidak hanya tengah menyambut pesta pelindungnya, tetapi juga tengah membangun komunitas yang tangguh, bersatu, dan beriman kuat sejalan dengan semangat Santo Agustinus yang menjadi teladan. (goe)




Puluhan Anak Antusias Ikuti Lomba Mewarnai Sketsa Santo Agustinus di Stasi Bello

Kupang, nwartapedia.com – Suasana ceria dan penuh semangat menyelimuti Aula Stasi Santo Agustinus Bello, Rabu (6/8/2025), saat puluhan anak usia dini dari 16 Kelompok Umat Basis (KUB) berkumpul mengikuti lomba mewarnai sketsa wajah Santo Agustinus.

Kegiatan ini menjadi pembuka rangkaian acara dalam menyongsong pesta pelindung Stasi yang akan diperingati pada 28 Agustus mendatang.

Sejak pagi, anak-anak hadir dengan membawa perlengkapan mewarnai dan meja kecil masing-masing. Mereka tampak antusias dan tak sabar untuk segera mulai.

Setelah acara dibuka secara resmi oleh Pastor Paroki Santo Fransiskus dari Assisi Kolhua, Romo Longginus Bone, para peserta diarahkan untuk mengambil tempat dan memulai lomba.

Dengan aba-aba sederhana dari panitia, suasana aula pun berubah menjadi ladang kreativitas.

Jemari kecil sibuk memberi warna pada kertas bergambar wajah sang santo pelindung, sementara senyum polos dan sorot mata penuh semangat menghiasi wajah-wajah mungil mereka.

Romo Longginus Bone yang turut memantau jalannya lomba, sesekali menghampiri dan menyapa peserta. Ia tampak bahagia melihat antusiasme yang ditunjukkan oleh anak-anak.

“Semangat seperti inilah yang perlu kita tanamkan sejak dini. Mewarnai bukan hanya soal keterampilan tangan, tetapi juga cara menghidupi nilai-nilai iman melalui ekspresi kreatif anak-anak,” ungkap Romo Dus Bone usai meninjau kegiatan.

Panitia pelaksana menyampaikan bahwa lomba mewarnai ini dirancang sebagai media pengenalan figur Santo Agustinus kepada anak-anak dalam bentuk yang menyenangkan dan mudah dipahami.

Tak hanya sekadar lomba, kegiatan ini juga menjadi bentuk pendidikan iman yang kontekstual dan menyentuh.

Pesta pelindung Stasi Santo Agustinus Bello setiap tahunnya memang selalu diisi dengan berbagai kegiatan yang menggugah semangat kebersamaan umat.

Tahun ini, rangkaian acara dimulai dari anak-anak, sebagai generasi penerus gereja, untuk terus menumbuhkan semangat religius dan kekeluargaan dalam lingkungan stasi.

Dengan dimulainya rangkaian kegiatan ini, semangat menuju perayaan 28 Agustus tampak sudah menyala sejak dini dimulai dari coretan warna penuh makna dari tangan-tangan kecil umat Stasi Bello. (goe)




UCB Kupang Jadi Pusat Migran NTT, Sekjen BP2MI Apresiasi Komitmen Internasionalisasi Mahasiswa

Kupang, nwartapedia.com – Sekretaris Jenderal Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), Irjen Pol. Dwiyono, menyampaikan apresiasi tinggi kepada Universitas Citra Bangsa (UCB) Kupang yang dinilainya sebagai salah satu kampus unggulan di Indonesia Timur.

Hal ini disampaikannya saat memberikan kuliah umum dalam rangka penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara UCB dan BP2MI, yang berlangsung di Aula Lantai 5 Kampus UCB, Rabu, 6 Agustus 2025.

Menurut Dwiyono, UCB menunjukkan kepedulian nyata terhadap pengembangan kompetensi mahasiswa untuk dapat bersaing di pasar kerja internasional.

Ia menyoroti bahwa upaya kampus dalam mempersiapkan mahasiswa bekerja ke luar negeri secara legal adalah langkah strategis yang patut diapresiasi.

“Data kami mencatat bahwa pada tahun 2025, NTT telah mengirim sebanyak 2.249 Pekerja Migran Indonesia (PMI) secara prosedural. Namun, 95–97% korban kekerasan dan eksploitasi merupakan PMI yang berangkat secara ilegal. Kita tidak tahu mereka kerja di mana, dengan siapa, dan dalam kondisi seperti apa,” ungkap Dwiyono.

Ia menambahkan, jalur ilegal kerap dipilih karena dianggap cepat, mudah, dan murah. Namun jalur ini mengabaikan pelatihan, jaminan BPJS, dan visa kerja yang sah.

Sebaliknya, jalur prosedural membutuhkan proses yang lebih panjang, tetapi menjamin perlindungan dan hak PMI secara menyeluruh.

“Saya melihat UCB merupakan universitas yang patut menjadi contoh dalam mengembangkan potensi mahasiswa untuk bekerja di luar negeri dan sekaligus memberi perlindungan yang baik bagi para pekerja. Dengan penandatanganan MoU ini, saya menyatakan UCB sebagai Migrant Center di NTT,” tegas Dwiyono yang disambut tepuk tangan mahasiswa yang hadir.

Sementara itu, Rektor UCB, Prof. Dr. Frans Salesman, SE., M.Kes., menyampaikan bahwa kampus UCB lahir dari transformasi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Citra Husada Mandiri, lembaga yang didirikan oleh senator Ir. Abraham Paul Lianto dan fokus pada pengembangan keterampilan tenaga kerja kesehatan.

“Kami bersyukur atas kontribusi besar senator Ir. Abraham Paul Lianto bagi NTT, termasuk dalam pemberangkatan tenaga kerja ke luar negeri melalui BLK yang beliau dirikan. Beliau juga memberi perhatian serius pada kasus-kasus TKW yang mendapat perlakuan tidak manusiawi, termasuk kasus tragis yang dialami Nirmala Bonat,” jelas Prof. Frans.

Ia menegaskan bahwa semangat kemanusiaan dan perlindungan terhadap pekerja migran menjadi bagian penting dari nilai-nilai yang ditanamkan UCB kepada para mahasiswa.

MoU antara UCB dan BP2MI diharapkan memperkuat kerja sama strategis dalam hal pelatihan, pelindungan, dan penempatan tenaga kerja yang berkualitas, aman, dan bermartabat ke luar negeri, khususnya dari Provinsi Nusa Tenggara Timur. (MI)




Larissa Aesthetic Center Dukung Peluncuran Dua TBM di Kupang, Wujud Kepedulian Sosial Lewat Literasi

Kupang, nwartapedia.com — Larissa Aesthetic Center, salah satu perusahaan kecantikan ternama nasional yang berbasis di Jakarta, menunjukkan kepedulian sosialnya di luar sektor bisnis utama. Melalui kerja sama strategis dengan Paroki Santo Fransiskus dari Assisi Kolhua dan Stasi Bello, Larissa turut memfasilitasi peluncuran dua Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Selasa (5/8/2025).

Dua TBM tersebut, yakni TBM Asisi Kolhua dan TBM Santo Yoseph Bello, diresmikan dalam seremoni meriah yang digelar di Aula Gereja Katolik St. Fransiskus dari Assisi Kolhua.

Acara ini dihadiri oleh tokoh agama, perwakilan pemerintah, penggiat literasi, dan manajemen Larissa Aesthetic Center.

Langkah Larissa di Kupang bukan sekadar promosi merek, melainkan wujud nyata tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang menyasar langsung kebutuhan masyarakat, khususnya di bidang pendidikan dan literasi.

“Sebagai brand yang tumbuh bersama masyarakat, Larissa tidak hanya peduli pada kecantikan luar, tapi juga pembangunan karakter dan kualitas hidup masyarakat. Literasi adalah fondasi penting untuk kemajuan bangsa,” ujar Sutedjo, perwakilan Larissa Aesthetic Center, dalam sambutannya.

Dikenal sebagai pelopor layanan estetika berbasis herbal dengan pendekatan medis, Larissa kini tampil sebagai perusahaan modern yang inklusif dan progresif. Komitmen mereka untuk mendukung taman baca ini mencerminkan perluasan visi bisnis yang holistik menggabungkan estetika, kesehatan, dan pembangunan sosial.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Drs. Dumuliahi Djami, M.Si, turut memberikan apresiasi atas dukungan sektor swasta dalam gerakan literasi.

“Keterlibatan Larissa adalah contoh nyata sinergi dunia usaha dengan pemerintah dan gereja dalam menciptakan ekosistem literasi yang hidup dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Senada dengan itu, Ketua Forum TBM NTT, Polikarpus Do, menegaskan bahwa kehadiran dua TBM ini bukan sekadar menambah fasilitas, tapi membangun ekosistem literasi baru.

“Larissa telah menunjukkan bahwa bisnis pun bisa menjadi bagian dari gerakan literasi yang berkelanjutan,” ujarnya.

Dengan lebih dari 50 cabang di seluruh Indonesia, Larissa Aesthetic Center kini terus memperluas pengaruhnya—bukan hanya dalam layanan kecantikan, tetapi juga dalam menciptakan nilai sosial di berbagai daerah yang membutuhkan. (Goe)