Walikota Kupang Dapat Apresiasi Presiden Saat Bacakan Pancasila pada Penutupan Kongres PSI di Solo

Solo,nwartapedia.com  — Momen membanggakan terjadi pada penutupan Kongres Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Kota Solo, ketika salah satu kader terbaik PSI, dr. Christian Widodo, mendapat apresiasi langsung dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto yang berlangsung di Edutoriom Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Minggu (20/7/2025) malam.

Walikota Kupang yang juga Ketua DPW PSI Nusa Tenggara Timur (NTT) sekaligus Dewan Pembina PSI itu didaulat membacakan teks Pancasila di hadapan Presiden Prabowo, Wakil Presiden, jajaran menteri dan wakil menteri, serta seluruh peserta kongres.

 

Dengan penuh percaya diri dan artikulasi yang jelas, dr. Christian membacakan Pancasila yang kemudian disambut tepuk tangan meriah dari peserta.

Suasana semakin hangat ketika Presiden Prabowo Subianto, saat menyapa para tamu undangan, menyebut nama Christian Widodo.

Presiden pun sempat berhenti sejenak dan berkomentar, “Boleh juga, nih,” sambil tersenyum.

Usai acara, dr. Christian menyampaikan rasa syukurnya atas kesempatan yang diberikan.

“Ini suatu kehormatan diberi kesempatan membacakan Pancasila di hadapan Bapak Presiden dan mendapat apresiasi dari beliau. Semua ini karena Tuhan, dukungan keluarga besar PSI, dan warga Kota Kupang,” ungkapnya.

Kehadiran dr. Christian Widodo di panggung nasional ini menjadi kebanggaan tersendiri, tidak hanya bagi keluarga besar PSI tetapi juga bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur, khususnya Kota Kupang yang ia pimpin. (MI)




 Kesakralan Perempuan di Antara Hormat atau Hiburan

Oleh:  E. Nong Jonson  sebagai Pemerhati Bahasa dan Budaya 

 

Kupang,nwartapedia.com  –  Perpektif orang Timur, khususnya Nusa Tenggara Timur (NTT), perempuan tidak sekadar jenis kelamin. Mereka adalah gambaran tradisi, simbol kesuburan, rahim budaya, dan peradaban.

Namun, godaan menjadi konten kreator dan usaha agar setiap unggahan menjelma FYP, maka bagian-bagian kesakralan perempuan yang dulunya dijaga dalam ruang-ruang rahasia kini terekspos ke publik. Bahkan, menjadi tontonan gratis yang dikonsumsi umum tanpa rasa hormat.

Hal ini tentunya sedang mengubah cara pandang kaum adam terhadap hakikat para hawa. Cerita-cerita ayah tentang bagaimana memperlakukan perempuan.

Nasihat-nasihat ibu perihal keistimewaan perempuan seketika tuntuh. Sebab aspek-aspek yang menumbuhkan rasa “penarasan” sudah berubah menjadi “remah-remah biasa”.    

Padahal, menurut Lies Marcoes, seorang antroprolog dan aktivis perempuan, menjelaskan bahwa hormat terhadap perempuan memiliki arti mengakui perempuan sebagai manusia yang utuh dengan akal, pilihan, dan peran sosial, bukan hanya tubuhnya. Pendeskripsian ini sebenarnya seirama dengan konsep perempuan di NTT.  

Buktinya, dalam banyak masyarakat adat di NTT. Seperti, di Sumba, Flores, Timor, Rote, Sabu, dan Alor, perempuan memegang peranan penting dalam ritus-ritus sakral. Misalnya, dalam ritual Pahikung di Sumba.

Perempuan adalah pemilik tangan-tangan terampil yang menenun simbol-simbol kosmologis. Kain tenun itu bukan sekadar barang seni, melainkan lambang roh leluhur, status sosial, dan kesucian keluarga.

Begitu pula dalam upacara kawin adat, perempuan kerap dijadikan representasi kehormatan keluarga, dan seluruh proses lamaran hingga penyerahan mas kawin diatur untuk menghormati martabatnya.

Lebih lengkap lagi, dalam tradisi Sikka, perempuan selalu disapa mendahuli laki-laki “ina ama, du’a la’i”. Realitas ini menunjukkan bahwa perempuan itu istimewa. Keistmewanan-keistimewaan seperti ini sudah berubah bentuk.

Hal ini disebabkan oleh perilaku perempuan itu sendiri. Ia sedang membunuh dirinya secara sadar dan sengaja. Sebab, bunuh diri paling kejam adalah merendahkan diri untuk dihina dan dipertanyakan.

Terutama pada era media sosial (TikTok, Instagram, FB dll.) tidak jarang kita menyaksikan individu, khususnya perempuan, mengunggah foto seksi atau video goyang dengan gerakan sensual.

Perilaku ini bisa memiliki beragam motivasi, mulai dari bentuk ekspresi diri, pemberdayaan, hingga pencarian validasi eksternal.

Namun, jika dilakukan secara berulang, kompulsif, dan mengganggu fungsi social-emosional, maka bisa berkaitan dengan aspek psikologis dan dampaknya terhadap perpektif terhadap dirinya.

Menurut Ward (2016), Tindakan menyajikan diri secara seksual di media publik atau sosial untuk mendapat perhatian atau validasi adalah bentuk dari ‘komodifikasi diri’.

Tubuh dijadikan alat untuk eksistensi sosial. Bisa menjadi masalah psikologis bila: dilakukan karena tekanan eksternal, rasa rendah diri, atau kompensasi atas kebutuhan penerimaan sosial.

Ketika seseorang terlalu bergantung pada feedback media sosial untuk merasa ‘cukup menarik’ maka dalam jangka panjang, akan menimbulkan gangguan kecemasan, obsesi terhadap penampilan, dan ketergantungan terhadap validasi eksternal. 

Siapa yang drugikan? Dirinya sebagai pribadi atau sebagai makhluk berbudaya? Pertanyaan reflektif ini menggiring sosok yang sedang diperbincangkan untuk bercermin. Melihat dirinya sebagai rahim peradaban bukan sebagai komoditas jualan. Perempuan yang baik hanya tahu tiga hal. Tahu diri, tahu jaga diri, dan tahu bawa diri. 

Sudah saatnya masyarakat NTT melakukan refleksi kritis atas cara mereka merespon kesakralan perempuan sebagai rasa hormat atau hiburan.

Digitalisasi budaya menuntut tanggung jawab perilaku. Dengan demikian, perlu ada ruang-ruang edukasi yang memperkuat kesadaran akan makna simbolik dan spiritual dari setiap tindakan perempuan. 

Sebab, Nusa Tenggara Timur adalah wilayah yang kaya akan makna, simbol, dan keagungan budaya. Dalam masyarakat yang menjunjung tinggi nilai kesakralan, terutama terhadap perempuan, kita harus kembali menegakkan batas antara hormat dan hiburan, antara representasi dan eksploitasi.

Jangan biarkan tubuh perempuan hanya menjadi tontonan gratis. Sebab yang sakral, seharusnya tetap dijaga bukan dijual. (MI)




SMAK Giovanni Kupang Awali Tahun Ajaran Baru dengan Misa Syukur di Katedral Kristus Raja

 

Kupang,nwartapedia.com  — SMA Katolik Giovanni Kupang mengawali Tahun Ajaran Baru 2025/2026 dengan penuh syukur melalui perayaan Misa di Gereja Katedral Kristus Raja Kupang, Sabtu (19/7) pagi.

Tradisi tahunan ini menjadi momen penting bagi sekolah untuk menyerahkan seluruh proses pendidikan ke dalam penyelenggaraan dan penyertaan Tuhan.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Kepala Sekolah, Romo RD. Stefanus Mau, Pr, didampingi oleh Romo Tomy dan Frater Steven, serta dihadiri oleh seluruh siswa kelas X, XI, dan XII, para guru, pegawai, dan staf SMAK Giovanni Kupang.

Dengan mengusung tema Dengan Cinta Kita Belajar, Dalam Pelayanan Kita Berkarya, dan Melalui Ketaatan Kita Bertumbuh.

Misa pembukaan tahun ajaran ini bukan hanya sekadar seremoni pembuka, tetapi juga menjadi momen refleksi dan peneguhan bahwa seluruh proses belajar-mengajar di SMAK Giovanni berpijak pada nilai-nilai iman Katolik.

“Misa adalah titik awal perjalanan rohani dan intelektual anak-anak kita. Di sini kita menegaskan kembali bahwa belajar adalah bentuk pelayanan, dan ketaatan adalah jalan menuju pertumbuhan sejati,” ujar Romo Stefanus dalam khotbahnya.

Melalui misa ini, SMAK Giovanni ingin menanamkan nilai spiritualitas, kedisiplinan, dan tanggung jawab kepada setiap peserta didik.

Sebagai lembaga pendidikan Katolik, Giovanni berkomitmen untuk membentuk karakter, menumbuhkan iman, serta mempersiapkan generasi muda yang tangguh, cerdas, dan penuh kasih.

Dengan semangat Berkarya dalam Terang Kristus, SMAK Giovanni Kupang meneguhkan langkah di tahun ajaran baru, siap melayani dan mendidik dengan cinta, pelayanan, dan ketaatan.

SMAK Giovanni Kupang — Love. Service. Obedience. ***




Perusahaan Kecantikan Dukung Literasi dan Pemberdayaan Perempuan di Stasi Bello

 

Kupang,nwartapedia.com  –  Sebuah perusahaan produk kecantikan asal Jakarta akan menggelar kegiatan bakti sosial di Stasi Santo Agustinus Bello, Kota Kupang, sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada awal Agustus 2025 itu akan memadukan dukungan literasi dan pelatihan kewirausahaan bagi perempuan dan remaja putri.

Caecilia Ruli Hikmawati, S.Psi., M.M., perwakilan perusahaan itu, menjelaskan kepada media ini pada Sabtu siang (19/7) bahwa pihaknya akan menyumbangkan 1.00 eksemplar buku bacaan untuk Taman Baca Santo Agustinus Bello. Buku-buku tersebut disediakan melalui kerja sama dengan percetakan Kanisius di Jakarta.

“Kami ingin memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan budaya baca di masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja di daerah ini,” kata Caecilia.

Selain sumbangan buku, kegiatan tersebut juga akan diisi dengan demonstrasi penggunaan produk kecantikan serta pelatihan teknik pemasaran dan penjualan produk. Sebanyak 15 orang ibu rumah tangga dan remaja putri akan diberdayakan untuk menjadi agen penjualan produk Larisa.

Acara akan digelar di Kapela Bello dengan melibatkan unsur Pemerintah Daerah dan aparat Kelurahan Bello.

Pastor Paroki Santo Fransiskus dari Assisi Kolhua Keuskupan Agung Kupang, RD Longginus Bone, yang akrab disapa Romo Dus, membenarkan rencana tersebut. Ia menyampaikan bahwa komunikasi antara pihak gereja dan perusahaan telah berlangsung sejak beberapa waktu lalu.

“Itu benar. Kami sudah diskusikan dengan Ibu Caecilia dari perusahaan kecantikan dimaksud, dan kita sudah agendakan antara tanggal 4 sampai 5 Agustus 2025 mendatang di Stasi Bello,” ungkap Romo Dus.

Ia menambahkan bahwa Ibu Caecilia telah melakukan pemantauan langsung di lapangan dan beberapa kali membangun komunikasi terkait niat CSR tersebut.

“Bahkan buku-buku yang akan disumbangkan sudah dikemas dan siap dikirim ke TBM Kapela Bello,” katanya.

Sementara itu, pengurus Taman Baca Masyarakat Gading Taruna Kelurahan Bello, Goris Takene, juga membenarkan rencana kerja sama tersebut.

“Benar, saya kemarin sudah dihubungi oleh Ibu Caecilia dari perusahaan kecantikan terkait rencana sumbangan buku melalui kerja sama dengan percetakan Kanisius di Jakarta. Kami tentu sangat berterima kasih atas perhatian dan dukungan ini,” ujarnya.

Kegiatan ini diharapkan tak hanya memperkuat gerakan literasi di kalangan anak dan remaja, tetapi juga membuka peluang pemberdayaan ekonomi perempuan melalui pelatihan wirausaha dan pemasaran produk.

(Rilis Stasi Bello)




Membanggakan ! Dokter Christian Widodo Terpilih Jadi Anggota Dewan Pembina DPP PSI di Kongres Solo

 

Solo,nwartapedia.com  – Kabar membanggakan datang dari arena Kongres Partai Solidaritas Indonesia (PSI) 2025 yang berlangsung di Solo. Dalam kongres yang juga menetapkan Ketua Umum PSI melalui mekanisme voting tersebut, peserta memutuskan menunjuk Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, sebagai salah satu Anggota Dewan Pembina DPP PSI, mewakili pengurus daerah dari seluruh provinsi, kabupaten, dan kota se-Indonesia.

Penunjukan dr. Christian Widodo dinilai sebagai penghargaan atas kiprahnya selama ini sebagai salah satu tokoh pendiri PSI yang sukses mengantarkan banyak kader ke kursi legislatif maupun eksekutif, serta melahirkan kepala daerah dan wakil kepala daerah di berbagai daerah.

Saat ini, dr. Christian juga masih menjabat sebagai Ketua DPW PSI Nusa Tenggara Timur (NTT) sekaligus merangkap sebagai anggota Dewan Pembina DPP PSI. Posisi strategis di tingkat pusat ini menjadi bentuk kepercayaan dan apresiasi dari DPP PSI atas dedikasi dan prestasinya sejak awal berdirinya PSI di NTT.

Dewan Pembina DPP PSI periode ini hanya diisi oleh tujuh nama tokoh penting, yakni:

  • Ketua: Jefri Geofani
  • Sekretaris Jenderal & Menteri Kehutanan: Raja Juli Antoni
  • Anggota: Grace Natalia
  • Anggota: Dr. Andi Saiful Haq
  • Anggota: Dr. Endang Tritana
  • Anggota: Isyana Bagus Oka (Wakil Menteri Kependudukan & Pembangunan Keluarga)
  • Anggota: dr. Christian Widodo (Wali Kota Kupang, Ketua DPW PSI NTT)

Kehadiran dr. Christian di jajaran Dewan Pembina diharapkan memperkuat suara kader daerah dalam menentukan arah dan kebijakan strategis partai ke depan.

“Ini adalah penghargaan luar biasa yang saya dedikasikan untuk seluruh kader PSI di daerah, khususnya di NTT. Ke depan, kami akan terus bekerja keras memperjuangkan aspirasi rakyat bersama PSI,” ujar dr. Christian usai penetapan.

dr. Christian Widodo juga menyampaikan rasa terima kasih dan haru atas kepercayaan yang diberikan kepadanya.

“Terima kasih semua yang sudah mendoakan. Saya merasa bangga, terhormat, dan terharu. Ini capaian prestasi yang luar biasa, bukan hanya bagi saya pribadi, tetapi juga keluarga, warga Kota Kupang, dan NTT. Kita bisa mewakili pengurus provinsi, kabupaten, kota di seluruh Indonesia dan dipercaya masuk sebagai Dewan Pembina di pusat — bagi saya ini sebuah pencapaian dalam hidup. Semua karena tuntunan Tuhan, dukungan keluarga, tim, dan seluruh warga Kota Kupang,” tuturnya.

Kongres PSI 2025 ini juga menjadi momentum konsolidasi nasional partai untuk menghadapi tantangan politik lima tahun ke depan dengan mengusung semangat solidaritas, inovasi, dan keberanian untuk Indonesia yang lebih baik. (MI)




Membaca Suara Perempuan yang Tersembunyi Dalam Kiasan: Telaah Metafora Bahasa Sikka Krowe

Oleh: E. Nong Jonson sebagai Pemerhati Bahasa & Budaya

 

Kupang,nwartapedia.com  –  Perempuan Sikka Krowe memainkan peran yang sangat unik. Tidak hanya dalam kehidupan sosial dan budaya, tetapi juga dalam praktik berbahasa.

Salah satu cara perempuan mengekspresikan pandangannya terhadap laki-laki adalah melalui metafora ‘Peleng Patang.

Metafora bukan sekadar gaya bahasa, melainkan ornamen penyampai nilai, kritik sosial, serta ekspresi perasaan yang terselubung.

Secara singkat, metafora seperti menikam tetapi dengan lidah. Lembut ditelinga, hancur di hati. Atau dalam hal perilaku, ciuman Yudas terhadap Yesus adalah contoh bentuk metafora.    

Telaah ini secara implisit menggunakan pendekatan Feminist Linguistic Anthropology, sebagaimana dikembangkan oleh Deborah Tannen dan Jennifer Coates, kita melihat bahwa perempuan menggunakan metafora untuk membentuk narasi alternatif tentang relasi gender.

Dalam budaya patriarkis seperti di Sikka, metafora menjadi senjata halus bagi perempuan untuk menyuarakan ketidaksetaraan, tanpa menantang norma secara frontal.

Dalam konteks ini, metafora yang digunakan oleh perempuan menjadi refleksi dari konstruksi sosial, relasi perasaan, dan cara menerjemahkan laki-laki dalam perpektif mereka.

Telaah ini juga menggunakan pendekatan metafora konseptual yang dikembangkan oleh George Lakoff dan Mark Johnson dalam karya mereka Metaphors We Live By (1980). 

Menurut mereka, metafora adalah proses kognitif. Memperkenalkan satu domain pengalaman dipahami dalam istilah domain lain.

Artinya, ketika seorang perempuan menyebut laki-laki sebagai Jarang talin betan ‘Kuda lepas tali’, dia sedang mengaktifkan struktur konseptual yang memproyeksikan sifat kuda, yaitu liar, tidak terkendali, ke dalam gambaran tentang pribadi laki-laki.

Selain itu, pengandaian perempuan terhadap laki-laki kadang di luar dari pembayangan. Semisal, Du ganu mu’u, nora poi tetor ‘Seperti pisang, hanya memiliki jantung tetapi tidak berhati’. Perempuan bahkan mengidektikkan laki-laki seperti pisang.

Hanya memiliki jantung tetapi tidak memiliki hati. Metafora ini merujuk pada ketidakpekaan laki-laki terhadap kode-kode yang disampaikan secara verbal, ekspresi, dan gestur.

Perempuan, melalui tuturan-tuturan metaforis, menyampaikan evaluasi sosial-individual terhadap laki-laki yang tidak bisa dikritik secara langsung. Sebab ada norma kesopanan dan budaya yang hidup sebagai ciri khas patriartki.

Ungkapan lain, seperti du ganu awu go’on ‘Seperti panas dalam abu’. Metafora ini menggambarkan laki-laki yang tampaknya tenang, tetapi menyimpan kemarahan atau niat buruk.

Panas dalam abu secara harfiah tidak terlihat menyala, tetapi bila disentuh bisa membakar. Perempuan menggunakan ungkapan ini untuk menggambarkan laki-laki yang manipulatif atau tidak jujur.

Beberapa kemarahan juga disampaikan perempuan dengan bentuk bahasa yang lembut tetapi sangat menusuk. Seperti, Ti toki pare ‘Burung makan padi’.Metafora ini digunakan untuk menyebut laki-laki yang tidak produktif.

Namun, menikmati hasil kerja perempuan. Ini mencerminkan kritik sosial terhadap relasi ekonomi dalam rumah tangga, yang menempatkan perempuan sering kali bekerja keras dan hasilnya dinikmati oleh suami yang malas.

Metafora atau Peleng Patang bukan sekadar deskriptif tetapi juga preskriptif. Ketika perempuan menggunakan metafora tertentu, mereka tidak hanya mendeskripsikan laki-laki, tetapi juga menetapkan standar perilaku yang diterima.

Contohnya, metafora Wawi anak ninu leten lakat ‘Anak babi minum di dua air’. Ungkapan ini ditujukan pada laki-laki yang berpoligami secara sembunyi-sembunyi. Fungsinya sebagai kecaman sosial.

Metafora-metafora ini hidup dalam percakapan sehari-hari, lagu rakyat, dan cerita adat. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa perempuan membentuk semacam counter-narrative terhadap dominasi laki-laki dalam wacana resmi (adat, agama). Dengan demikian, bahasa menjadi ruang negosiasi identitas dan kekuasaan.

Meskipun mengandung kritik, penggunaan metafora oleh perempuan tetap tunduk pada norma kesopanan lokal. Mereka jarang menggunakan bahasa kasar atau frontal.

Sebaliknya, sindiran halus, ironi, dan metafora agraris menjadi cara yang efektif dan aman secara sosial untuk menyampaikan pesan mereka.

Metafora menjadi bentuk linguistic resistance bagi perempuan yang tidak memiliki ruang politik atau sosial yang luas.

Dalam keterbatasan kesempatan berbicara, perempuan memilih bahasa kiasan untuk melindungi diri. Sambil tetap menyampaikan suara hati dan ketidakpuasan mereka terhadap situasi sosial yang tidak adil.

Mtafora yang digunakan perempuan Sikka dialek Krowe untuk laki-laki memiliki fungsi yang kompleks. Menggambarkan realitas, mengkritik perilaku, dan mempertahankan norma komunitas.

Bahasa metaforis perempuan mencerminkan daya tahan budaya dan kearifan lokal dalam menghadapi ketimpangan gender.

Perlu dilakukan dokumentasi lebih lanjut terhadap metafora-metafora lokal ini agar tidak ditelan modernisasi. Juga penting bagi pendidikan lokal untuk mengintegrasikan kesadaran gender dan nilai-nilai kultural yang terkandung dalam bahasa sehari-hari. Agar anak-anak belajar menghargai kesetaraan sejak dini.

Kita semua, baik peneliti, pendidik, maupun anggota masyarakat, memiliki tanggung jawab untuk mendengarkan suara perempuan yang sering tersembunyi dalam kiasan.

Mari kita lestarikan bahasa daerah dan makna-makna tersembunyinya, sebagai cermin kebijaksanaan leluhur dan modal sosial untuk masa depan yang lebih adil dan setara. (MI)




Ketua Umum KADIN NTT Siap Ikuti Retreat Lemhannas di Akademi Militer Magelang

 

Kupang,nwartapedia.com  Menanggapi pemberitahuan awal dan undangan resmi kegiatan Retret Kamar Dagang dan Industri  (KADIN) 2025, Ketua Umum KADIN Nusa Tenggara Timur (NTT), Bobby Lianto, menyatakan kesiapannya untuk mengikuti retreat yang digelar oleh Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) di Akademi Militer, Magelang, Jawa Tengah, pada 7–10 Agustus 2025 mendatang.

Saat dihubungi media ini pada Jumat (18/7/2025), Bobby Lianto mengatakan bahwa kesempatan ini merupakan pengalaman yang sangat berharga dan tidak akan terulang, sehingga ia berkomitmen untuk hadir dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan sungguh-sungguh.

“Sebagai entrepreneur sekaligus pemimpin, kita harus memiliki pengetahuan yang kuat tentang nilai-nilai kebangsaan dan cara meningkatkan ketahanan nasional. Melalui pendidikan yang berfokus pada kepemimpinan, dinamika geopolitik, dan geostrategis, kita akan semakin memperdalam rasa cinta tanah air dan bangsa,” ujar Bobby Lianto.

Ia juga menekankan bahwa peran pengusaha tidak hanya sebatas membangun usaha dan mencari keuntungan, tetapi juga harus mampu membangkitkan perekonomian daerah dan nasional.

“Pengusaha harus berperan aktif dalam memperkuat ekonomi bangsa sekaligus menjaga semangat kebangsaan. Retreat Lemhannas ini menjadi salah satu cara untuk memperkuat wawasan dan peran itu,” tambahnya.

Kegiatan retreat ini akan diikuti oleh para Wakil Ketua Umum Koordinator KADIN Indonesia, para Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia, para Kepala Badan KADIN Indonesia, serta para Ketua Umum KADIN Provinsi se-Indonesia.

Tujuannya adalah untuk memperkuat keselarasan arah gerak organisasi, memperdalam pemahaman kolektif atas tantangan pembangunan nasional serta menyatukan semangat gotong-royong dunia usaha sebagai mitra strategis pemerintah. (MI)




Penyintas Letusan Lewotobi Meninggal Dunia di Lokasi Pengungsian, Relawan dan Aparat Desa Sampaikan Duka

 

Larantuka,nwartapedia.com  –  Seorang penyintas erupsi Gunung Lewotobi di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), dilaporkan meninggal dunia di lokasi pengungsian pada Jumat, 18 Juli 2025, sekitar pukul 11.00 WITA.

Korban, Yohanes Bana Tobi, pria lanjut usia berusia 78 tahun, mengembuskan napas terakhir di Posko Lapangan (Poslap) Desa Konga, Kecamatan Titehena.

Almarhum merupakan warga Desa Nawakote, Kecamatan Wulanggitang, yang mengungsi ke Poslap Konga bersama warga lainnya sejak letusan Gunung Lewotobi Laki-laki pada 17 Juni 2025 lalu.

Kabar duka ini dikonfirmasi langsung oleh Kepala Desa Konga, Aloysius S. Kung, SH.

“Beliau memang sudah dalam kondisi kesehatan yang lemah sejak tiba di posko. Faktor usia dan tekanan psikologis di tengah situasi darurat membuat kondisi beliau terus menurun. Tim medis sudah memberikan perawatan awal, namun tidak banyak yang bisa dilakukan karena kondisi beliau yang sudah sangat renta,” ujar Aloysius saat dihubungi dari Kupang, Jumat malam (18/7).

Menurut Aloysius, Yohanes mengalami sejumlah keluhan kesehatan seperti lemas berkepanjangan dan kesulitan makan.

Ia dinyatakan meninggal dunia karena sakit tua. Jenazah almarhum malam ini masih disemayamkan di tenda darurat Poslap Konga dan rencananya akan diberangkatkan ke kampung halamannya di Bawalatang, Kecamatan Wulanggitang, pada Sabtu pagi (19/7) untuk dimakamkan secara layak bersama keluarga.

Usai kabar duka menyebar, suasana haru menyelimuti lingkungan pengungsian. Para penyintas, relawan, tokoh masyarakat, dan aparat desa langsung menggelar doa bersama sebagai bentuk penghormatan terakhir terhadap almarhum.

“Kami semua sangat berduka. Bapak Yohanes adalah sesepuh yang harus mengakhiri hidupnya jauh dari rumah sendiri karena bencana. Kami telah berupaya memberi kenyamanan dan perhatian selama beliau tinggal di pengungsian,” tambah Aloysius.

Salah satu relawan Dapur Umum Desk Gizi, Marselus S. Herin, turut membenarkan kabar duka tersebut dan menyampaikan belasungkawa mewakili tim relawan.

“Informasi itu benar, beliau meninggal tadi siang. Saat ini kami sedang mendampingi keluarga dan masyarakat untuk doa bersama,” ujarnya singkat.

Gunung Lewotobi Laki-laki yang terletak di wilayah Kabupaten Flores Timur mengalami letusan besar pada pertengahan Juni 2025. Ribuan warga dari sejumlah desa di Kecamatan Wulanggitang, Titehena, Ile Bura, dan sekitarnya dievakuasi ke titik-titik pengungsian, termasuk Poslap Desa Konga.

Hingga kini, penanganan darurat masih terus berlangsung dengan dukungan dari pemerintah daerah, relawan kemanusiaan, dan lembaga sosial lainnya. Namun kondisi di sejumlah posko masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam pemenuhan kebutuhan dasar warga.

Menurut Kepala Desa Konga, meski situasi di Poslap umumnya berjalan aman dan terkendali, namun ada keluhan dari para guru dan orangtua terkait kegiatan belajar-mengajar anak-anak usia sekolah yang masih berlangsung di tenda-tenda darurat.

“Ini menjadi perhatian serius kami. Anak-anak masih mengikuti KBM di bawah tenda seadanya. Kita berharap ada intervensi segera dari pihak terkait, baik untuk penyediaan ruang belajar darurat maupun pendampingan psikososial bagi anak-anak,” jelas Aloysius.

“Semoga kejadian ini menjadi pengingat bagi semua pihak agar penanganan bencana betul-betul mengedepankan aspek kemanusiaan, khususnya perlindungan terhadap lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas,” pungkasnya.(goe)




Atlet Criket dari SKO Kupang Mulai Kerjakan Pembatas Net Criket

 

Kupang,nwartapedia.com  –  Sejumlah atlet criket dari Sekolah Keolahragaan (SKO) Kupang mulai terlibat langsung dalam pekerjaan pembuatan pembatas net criket di gelanggang latihan GOR Oepoi, Kupang.

Kegiatan ini merupakan bagian dari persiapan menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) yang akan datang, sekaligus sebagai bentuk keterlibatan aktif atlet dalam membangun sarana latihan yang mereka gunakan sendiri.

Ketua Umum Persatuan Cricket Indonesia (PCI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Dr. Ince Sayuna, menyatakan apresiasinya atas semangat dan partisipasi para atlet muda tersebut.

“Ini menjadi bukti bahwa atlet-atlet kita bukan hanya siap secara fisik untuk bertanding, tetapi juga memiliki semangat gotong-royong dan rasa memiliki terhadap fasilitas yang akan mereka gunakan. Mereka tidak hanya berlatih, tetapi turut membangun,” ujar Dr. Sayuna saat meninjau langsung proses pemasangan pembatas net di area latihan, Kamis (18/7).

 

Menurutnya, pembangunan pembatas net ini sangat penting untuk menunjang kualitas latihan dan keselamatan para pemain. Pembatas dengan ukuran sekitar 5 meter x 25 meter ini dipasang di sisi lapangan yang akan menjadi area pukul (batting) dan tangkapan (fielding), agar bola tidak menyebar ke luar arena latihan.

“Kami mengharapkan bahwa fasilitas ini segera rampung dalam waktu dekat, sehingga bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh para atlet, khususnya mereka yang akan mewakili NTT di PON,” tambahnya.

Ia juga menekankan bahwa ke depan, PCI NTT akan terus mendorong pembangunan fasilitas olahraga cricket di berbagai kabupaten/kota di NTT sebagai bagian dari strategi pembinaan jangka panjang.

Pekerjaan itu diawasi langsung salah seorang coach Criket Erick Laylena serta sejumlah pengurus lain.(goe)




25 Tahun Menapaki Jalan Panggilan: Sr. Marieta Ose Melburan, SSpS Persembahkan Hidupnya dengan Sukacita

 

Lewoleba, nwartapedia.com — “Hatiku bersuka ria dalam Allah Penyelamatku.” Ungkapan penuh syukur ini menjadi motto yang terus mengiringi langkah Sr. Marieta Ose Melburan, SSpS, selama 25 tahun mengabdikan diri dalam hidup membiara.

Kamis (10/7), Aula SMA Frateran Don Bosco Lamahora, Lewoleba, Kabupaten Lembata, dipenuhi suasana syukur dan haru saat keluarga besar, para suster SSpS, imam, sahabat, dan tamu undangan berkumpul untuk merayakan Syukur Perak atas 25 tahun pengabdiannya.

Perayaan dimulai dengan Misa Syukur yang dipimpin oleh Rm. Antonius Prakum Keraf, Pr, dengan homili yang menyentuh hati dari Pater Leo Kleden, SVD. Dalam sambutannya, Sr. Marieta mengungkapkan bahwa perjalanan panggilannya penuh dengan tantangan namun selalu disertai kasih Allah.

“Jalan Tuhan dalam hidup saya sungguh luar biasa, meskipun seringkali harus saya lalui lewat jalan salib. Namun justru di tengah penderitaan itu saya menemukan kasih-Nya yang nyata. Karena itu, hati saya penuh sukacita dan syukur,” ujarnya.

“Terima kasih untuk semua doa, kasih, dan dukungan yang saya terima sepanjang perjalanan ini. Semua itulah yang menguatkan saya untuk terus setia di jalan panggilan,” tambahnya dengan penuh haru.

Jejak Perjalanan Hidup dan Panggilan

Sr. Marieta lahir di Mulankera, Kecamatan Aradei, pada 15 Juli 1977 sebagai anak sulung dari enam bersaudara, buah hati pasangan mendiang Antonius Gigo dan Martina Buka Keraf.

Menyelesaikan pendidikan dasar di SDK Atawolo (1983–1989), SMPK St. Pius X Lewoleba (1989–1992), dan SMA Negeri Lewoleba (1992–1995), ia kemudian melanjutkan pendidikan keperawatan di Tarlac, Filipina Utara (2008–2012) dan meraih gelar Filsafat dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang (2018–2021).

Panggilan hidup membiaranya dimulai pada 1995 sebagai aspiran di Komunitas SSpS St. Gabriel Kewapante, lalu postulat dan novisiat di Hokeng (1996–1999). Kaul pertama diucapkan pada 8 Desember 1999 di Hokeng dan kaul kekal pada 6 Juli 2006 di Ruteng.

Selama 25 tahun pengabdiannya, Sr. Marieta telah melayani di berbagai tempat: Filipina Utara, RS Lourdes Manila, komunitas asli Mangyan, Asrama Cancar untuk penyandang disabilitas, serta memegang berbagai tugas strategis di kongregasi, termasuk sebagai anggota tim Komunikasi Kongregasi SSpS di Roma (2022–2025).

Setelah menyelesaikan tugas internasionalnya di Roma, ia akan kembali berkarya di Provinsi Flores Barat, Ruteng.

Di akhir kesaksiannya, Sr. Marieta kembali menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada semua pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan panggilannya.

“Begitu banyak orang telah memberi saya kekuatan: keluarga, para suster, sahabat, para guru, para pastor, juga mereka yang telah mendahului saya di surga. Semoga kasih Tuhan yang saya alami juga dirasakan oleh banyak orang melalui pelayanan saya,” ucapnya dengan penuh syukur.

Perayaan ini bukan hanya menjadi tanda kesetiaan Sr. Marieta, tetapi juga undangan bagi semua yang hadir untuk percaya bahwa dalam jalan panggilan, Tuhan senantiasa hadir dengan cara-Nya yang ajaib. (goe)