Alfred Hotan, ASN Muda yang Jadi Sumber Cahaya di Tengah Tantangan

 

Kupang,nwartapedia.com  –  Dengan senyum ramah dan sikap sederhana, Alfred Hotan, S.Pd, menyambut setiap tamu yang datang ke ruang kerjanya. Di balik kesederhanaan pria kelahiran Kupang, 14 April 1989 itu, tersimpan dedikasi tinggi dalam mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kota Kupang.

Menjabat sebagai Penata Layanan Operasional dengan status P3K (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja), Alfred dikenal sebagai pribadi yang tekun, disiplin, dan ringan tangan.

Di lingkungan kerjanya, ia bukan sekadar pegawai, tetapi juga sosok motivator yang kerap menyuntikkan semangat bagi rekan-rekan seprofesinya.

“Jadilah sumber cahaya dalam kegelapan,” demikian motto hidup yang dipegang teguh oleh Alfred.

Bagi suami dari Wanda Lestari Rihi Iye dan ayah dari Achiera Djolincya Hotan ini, hidup bukan sekadar tentang bekerja, tetapi juga tentang memberi makna bagi orang-orang di sekitar.

“Tuhan adalah segalanya dalam hidup. Dalam setiap langkah, saya percaya bahwa jika kita bekerja dengan tulus dan disiplin, hasilnya akan mengikuti,” tutur Alfred saat ditemui di kantornya, Rabu (23/7).

Tinggal di Jalan Untung Surapati, Kelurahan Manulai II, Alfred tidak pernah merasa lelah untuk terus belajar dan berkembang.

Meski memulai karier dari titik yang tidak mudah, ia menapaki setiap tahap dengan penuh kesabaran. Sosoknya yang rendah hati membuatnya disegani baik oleh atasan maupun rekan sejawat.

Di mata banyak orang, Alfred bukan hanya ASN biasa. Ia adalah gambaran anak muda Kupang yang mampu membuktikan bahwa pengabdian dapat dilakukan dengan tulus tanpa banyak sorotan.

Lewat cara hidup yang sederhana dan prinsip kerja yang kuat, Alfred menjadi teladan bagi generasi muda, khususnya mereka yang memilih jalur pengabdian di birokrasi pemerintahan.

“Pak Alfred itu tipikal pekerja keras. Tidak banyak bicara, tapi hasil kerjanya selalu bisa diandalkan,” ungkap salah satu rekannya.

Di tengah dunia kerja yang penuh tantangan, Alfred Hotan tetap berdiri tegak, menjalani perannya sebagai pelayan publik dengan hati dan integritas.

Ia bukan hanya sumber cahaya di ruang kerjanya, tetapi juga inspirasi bagi banyak orang yang mengenalnya.(goe)




KKG Gugus IV Alak Gelar Supervisi Administrasi Sekolah: SDN Palsatu Jadi Tuan Rumah Evaluasi Kesiapan Tahun Ajaran Baru

 

Kupang,nwartapedia.com  — Dalam rangka memastikan kesiapan sekolah menyambut Tahun Ajaran Baru 2025/2026, Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus IV Kecamatan Alak melaksanakan kegiatan supervisi administrasi kepala sekolah yang dipusatkan di SD Negeri Palsatu, Kelurahan Manutapen, Kota Kupang, Rabu (24/7).

Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi peningkatan mutu tata kelola pendidikan, khususnya dalam aspek perencanaan dan penataan administrasi sekolah.

Empat kepala sekolah dari Gugus IV hadir sebagai peserta utama: Kepala SDN Palsatu Belmira Sagrada Ferrao Santos, M.Pd., Kepala SDI Palsatu Lusias Huku Koro, Kepala SDI Fatufeto II Maria Elisabeth Rae, S.Pd., dan Kepala SDI Oeba 4 Paulina Soares.

Supervisi dilakukan oleh dua pengawas dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Johni E. Rihi dan Marthen Boboy, yang secara menyeluruh menelaah berbagai dokumen penting seperti Buku Induk Siswa, Agenda Kegiatan Sekolah, Struktur Organisasi, hingga perangkat kurikulum.

Menurut Maria Elisabeth Rae, kegiatan ini sangat penting untuk menyamakan standar tata kelola sekolah serta mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki.

“Supervisi ini menjadi media refleksi untuk melihat sejauh mana kesiapan dokumen administrasi kami dan bagaimana menyempurnakannya sebelum tahun ajaran dimulai,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala SDI Oeba 4 Paulina Soares menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari proses pembelajaran antar kepala sekolah.

“Walaupun saya segera pensiun pada 1 Oktober mendatang, saya ingin meninggalkan semangat bahwa kelengkapan administrasi adalah fondasi penting dalam manajemen sekolah,” ujarnya.

Kepala SDI Palsatu, Lusias Huku Koro, menambahkan bahwa semua perangkat administratif telah dipersiapkan secara lengkap dan fungsional.

“Kami berharap pengawas memberikan evaluasi yang konstruktif agar dokumen ini benar-benar menjadi alat kerja yang relevan dan mendukung kualitas pembelajaran,” katanya.

Kepala SDN Palsatu selaku tuan rumah, Belmira Sagrada Ferrao Santos, menyampaikan apresiasinya atas semangat kolaboratif yang terbangun antarkepala sekolah dalam kegiatan ini.

Ia berharap kegiatan serupa bisa terus berlanjut sebagai sarana berbagi praktik baik antar satuan pendidikan.

Supervisi ini menegaskan komitmen KKG Gugus IV Kecamatan Alak untuk membangun manajemen pendidikan dasar yang profesional, transparan, dan adaptif terhadap dinamika pembelajaran.

Melalui penguatan administrasi, sekolah-sekolah diharapkan mampu menciptakan ekosistem belajar yang tertib, efektif, dan berkelanjutan.
(goe)




BPBD Kota Kupang Lanjutkan Proses Pemutakhiran Peta Risiko Bencana di Kelurahan Nunleu

 

Kupang,nwartapedia.com  — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kupang terus memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi potensi bencana dengan melakukan serangkaian kegiatan kajian risiko dan perencanaan berbasis komunitas di Kelurahan Nunleu. Kegiatan ini memasuki pertemuan ketiga yang digelar di Kantor Lurah Nunleu, Kamis (24/7/2025).

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Kupang, Elsje W.A. Sjioen, S.Sos., Ms, menjelaskan kepada media bahwa rangkaian kegiatan ini merupakan bagian dari program pembentukan Kelurahan Tangguh Bencana (KELTANA), yang diawali sejak beberapa waktu lalu.

“Pada pertemuan pertama, kami membentuk forum relawan dan menghasilkan nilai awal ketangguhan dari Kelurahan Nunleu. Selanjutnya di pertemuan kedua, kami melakukan kajian ancaman dan kapasitas sumber daya,” ujar Elsje.

Pada pertemuan ketiga yang berlangsung hari ini, tim BPBD bersama masyarakat dan forum relawan menyusun tiga peta penting, yakni peta ancaman, peta kerentanan, dan peta kapasitas.

Masing-masing peta ini disusun berdasarkan pengamatan dan pengalaman lokal serta hasil diskusi kelompok.

“Setelah peta-peta itu jadi, kami mengkaji dan mengklasifikasikan setiap wilayah apakah berada dalam zona risiko tinggi, sedang, atau rendah. Ini penting agar masyarakat tahu di bagian mana wilayah mereka rawan bencana seperti banjir, longsor, atau angin kencang,” jelasnya.

Lebih lanjut Elsje, usai istirahat siang, kegiatan akan dilanjutkan dengan penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) khusus untuk Kelurahan Nunleu, yang bersifat spesifik terhadap ancaman bencana dominan di wilayah tersebut.

“Misalnya, jika ancamannya longsor atau banjir, maka masyarakat bersama forum akan menyusun langkah-langkah mitigasi: apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana. Dengan begitu, masyarakat tidak panik dan tahu tindakan apa yang tepat,” tegas Elsje.

Program ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang BPBD Kota Kupang dalam membangun ketangguhan berbasis komunitas, dengan menjadikan masyarakat sebagai subjek utama dalam upaya pengurangan risiko bencana. (Mai)