Efisiensi dan Eksistensi Guru Dalam Pembelajaran Mendalam 

Oleh: E. Nong Jonson sebagai Praktisi & Konsultan Pendidikan

 

Kupang,nwartapedia.com  –  Dalam dinamika pendidikan saat ini, guru tidak boleh sekadar “ada” tetapi harus “hadir”. Perbedaannya, “ada” merujuk pada keberadaan tubuh, sementara pikirannya tidak.

Sedangkan, “hadir” menurut Carl Rogers, seorang tokoh psikolog humanistik adalah keberadaan secara psikologis dan emosional pada momen dan tempat itu. guru tidak boleh menjalankan pembelajaran sebagai rutinitas belaka.    

Apalagi, peran guru telah berevolusi lebih dari sekadar penyampai informasi. Guru bukan hanya pengajar, tetapi fasilitator, pembimbing, dan sosok yang membentuk ekosistem pembelajaran yang mantap secara kognitif dan matang secara emosional-spiritual.

Sayangnya, dalam praktiknya, masih banyak ruang kelas yang hanya berfungsi sebagai tempat penyampaian pengetahuan semata. Suasana batin murid, dinamika psikologis, serta kebutuhan emosionalnya sering tak tersentuh.

Padahal, proses belajar bukan hanya soal apa yang diajarkan, tetapi bagaimana dan mengapa itu perlu diajarkan.

Murid datang ke kelas dengan latar belakang berbeda. Emosi yang beragam dan komptensi yang tidak serasi. Kehadiran guru sepenuhnya bukan hanya memahami materi yang akan diajarkan, tetapi juga mendalami bahwa setiap anak adalah dunia yang patut dihargai. Kelas bukan hanya tempat kognisi bekerja, melainkan tempat afeksi bertumbuh.

Dengan demikian, guru mutlak menciptakan ruang belajar yang aman, ramah, dan kontektula-esensial.

Langkah awal yang paling mendasar dalam mengajar adalah memahami dan menguasai materi. Namun lebih dari itu, guru harus memastikan bahwa materi yang disampaikan kontekstual dan esensial.

Artinya, materi harus dikaitkan dengan kehidupan nyata murid dan memiliki urgensi dalam kehidupan mereka. Materi yang terlalu abstrak atau jauh dari keseharian murid akan membuat pembelajaran kehilangan makna dan relevansi.

Tahapan awal kegiatan pembelajaran juga kerap kali disepelekan. Padahal, inilah pintu masuk utama yang menentukan kualitas interaksi pembelajarn selanjutnya.

Guru harus mampu membedakan antara apersepsi, pertanyaan pemantik, motivasi, dan penyampaian tujuan pembelajaran. Masing-masing memiliki fungsi psikologis yang berbeda dalam membangun kesiapan dan rasa ingin tahu murid.

Lebih jauh, guru juga harus menjelaskan mengapa topik itu penting untuk dipelajari. Hal ini akan menumbuhkan kesadaran murid atas makna belajar dan meingkatkan keterlibatan optimal bukan hanya karena tuntutan nilai.

Langkah inti pembelajaran tidak bisa disamakan untuk semua topik. Guru wajib menyesuaikan model dengan metode pembelajaran yang tepat. Tidak semua materi cocok dengan ceramah, dan tidak semua topik efektif diajarkan dengan diskusi.

Model pembelajaran seperti problem-based learning, project-based learning, atau inquiry learning bisa menjadi pilihan yang memberi ruang partisipasi aktif murid dan mengaktifkan keterampilan berpikir kritis mereka.

Pada bagian akhir pembelajaran, guru sebaiknya tidak terburu-buru menutup kelas. Kegiatan penutup yang baik mencakup simpulan dari murid, bukan semata-mata dari guru.

Anak-anak perlu diberikan kesempatan untuk merangkum kembali apa yang mereka dapatkan, berbagi kesan, dan melakukan refleksi.

Kemudian, guru dapat memberikan penegasan ulang dan menjelaskan korelasi antara materi hari ini dengan pembelajaran berikutnya. 

Aktivitas ini akan membantu murid memahami kesinambungan ilmu. Aspek bahasa dalam pembelajaran kerap diabaikan. Padahal sangat krusial dalam membentuk suasana kelas.

Intonasi, artikulasi, jeda, dan nada suara harus disesuaikan dengan tingkat daya tangkap anak. Bahasa yang digunakan guru dapat membangun atau meruntuhkan semangat belajar murid.

Tidak boleh ada kekerasan verbal, seperti membandingkan satu anak dengan yang lain, memberi label negatif, atau menggunakan sindiran. Nama anak pun hanya boleh disebut dalam konteks positif.

Penggunaan contoh dalam pembelajaran perlu diperhatikan dengan cermat. Jika hendak memberikan ilustrasi dari perilaku yang negatif, guru tidak perlu menyebutkan nama anak.

Cukup gambarkan kasusnya secara umum. Sebaliknya, ketika memberikan apresiasi atau menyoroti hal positif, sebutlah nama anak sebagai bentuk penguatan identitas. Ini akan meningkatkan harga diri dan kepercayaan diri murid.

Penampilan guru juga merupakan aspek penting. Penampilan di sini bukan hanya soal pakaian, tetapi mengarah pada penguasaan kelas, penguasaan materi, serta kemampuan merespon sikap-sikap tak terduga dari suanana belajar murid. Guru yang tenang, tanggap, dan sabar akan menciptakan rasa aman dan nyaman.

Penguasaan emosi sangat penting dalam menghadapi dinamika ruang kelas yang tak jarang penuh kejutan.

Guru tidak boleh bersikap reaktif melainkan responsif terhadap perilaku anak. Anak yang tampak mengganggu atau tidak fokus seringkali bukan karena ingin melawan, tetapi karena ada kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi.

Maka, guru perlu mempraktikkan empati dalam berinteraksi. Bertanya dengan lembut, menatap mata anak, atau sekadar memberi senyuman dapat menjadi jembatan yang menyelamatkan suasana kelas.

Mengajar adalah seni yang memadukan ilmu, intuisi, dan cinta. Guru yang baik tidak hanya fokus pada target kurikulum, tetapi juga pada pertumbuhan murid sebagai individu yang utuh.

Ia mengukur keberhasilannya bukan hanya dari nilai ujian, tetapi dari perubahan sikap, kebiasaan belajar, dan semangat murid. Pada hakikatnya, seorang guru memang harus mantap dalam tiga aspek.

Apalagi dalam konteks pembelajaran mendalam. Ketiga aspek itu adalah memahami murid (komptensi, afeksi, dan psikomotorik), menguasahai materi ajar, dan menciptakan cara mengajar di dalam ruang kelas. 

Sebab, pendidikan sejatinya adalah proses humanisasi. Ruang kelas harus menjadi tempat yang memanusiakan, bukan menumbuhkan stres akademik dan tekanan psikologis.

Setiap anak punya cara belajar dan daya serap yang unik. Guru yang menyadari hal ini tidak akan memaksakan satu pendekatan untuk semua, tetapi akan mencari cara yang paling bermakna bagi setiap individu. Menjadi guru sejati bukan hanya tentang menguasai metode, tetapi tentang hadir sepenuh hati. 

Guru perlu terus belajar, merenung, dan mengembangkan diri agar dapat menciptakan ruang kelas yang tidak hanya cerdas, tetapi juga hangat dan bermakna.

Mari membangun kelas sebagai tempat di mana anak-anak merasa dihargai, dicintai, dan didorong untuk menjadi versi terbaik dari dirinya.

Bagi para pendidik, pahami enam aspek krusial dalam pembelajaran, yaitu kuasai materi, perhatikan langkah awal, langkah inti, langkah akhir, bahasa, dan penampilan.

Jadikan ini sebagai pijakan refleksi dan perbaikan berkelanjutan. Sebab di tangan guru yang penuh kesadaran, ruang kelas akan menjadi tempat tumbuhnya peradaban. (MI)




Guru Bela Diri Latih Siswi Kota Kupang, Pemkot Siapkan Program Self Defence

 

 

Kupang,nwartapedia.com  –  Drs. Ambo, seorang guru bela diri dari salah satu perguruan ternama di Kota Kupang, tampak serius melatih dasar-dasar pertahanan diri kepada sejumlah siswi sekolah dasar dan menengah pertama.

Di balik langkahnya ini, Ambo juga dikenal sebagai Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang.

Kegiatan tersebut disebut-sebut sebagai bentuk pengabdian terakhirnya menjelang purnabakti kepada dunia pendidikan di Kota Kupang.

Pelatihan yang dilakukan Ambo menjadi bagian dari persiapan peluncuran program bela diri atau self-defence bagi siswa, khususnya perempuan. Pemerintah Kota Kupang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan akan segera meluncurkan program tersebut dalam waktu dekat.

Program ini merupakan implementasi dari gagasan Wakil Wali Kota Kupang, Serena Francis, yang mendorong penguatan perlindungan bagi anak dan perempuan dari berbagai bentuk kekerasan, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.

“Kita ingin anak-anak perempuan kita tidak hanya cerdas, tapi juga tangguh. Mereka harus memiliki kemampuan dasar untuk melindungi diri dari berbagai bentuk kekerasan dan pelecehan,” ujar Drs Ambo dalam keterangannya pada Selasa (22/7).

Program ini akan menyasar sekolah dasar dan menengah pertama, dengan pelatihan yang dilakukan secara bertahap oleh para pelatih bersertifikat dari berbagai perguruan bela diri di Kota Kupang.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang memastikan bahwa pelaksanaan program ini akan dilakukan secara terukur, dengan memperhatikan aspek keamanan, psikologis, serta nilai-nilai edukatif yang terkandung dalam seni bela diri.

“Ini bukan soal menjadikan mereka petarung, tapi tentang membangun kepercayaan diri, keberanian, dan kesadaran akan keselamatan diri,” ujar Drs. Ambo di sela-sela sesi pelatihan Selasa sore 

Peluncuran program ini diharapkan dapat mendorong lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga sadar dan mampu menjaga keselamatan dirinya dalam kehidupan sehari-hari.(goe)




Pemkot Kupang Akan Luncurkan Program Self-Defence bagi Siswi, Upaya Lindungi Anak dari Kekerasan

 

Kupang,nwartapedia.com  –  Pemerintah Kota Kupang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan akan segera meluncurkan program self-defence atau bela diri bagi siswa, khususnya siswi usia sekolah dasar dan menengah pertama.

Program ini merupakan implementasi dari program kerja Wakil Wali Kota Kupang Serena Francis dalam menjaga anak dan perempuan dari ancaman kekerasan, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Drs. Dumuliahi Djami, mengonfirmasi rencana peluncuran program ini yang dijadwalkan dalam waktu dekat.

Ia menegaskan bahwa langkah ini diambil sebagai bentuk keseriusan pemerintah kota dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan bagi para peserta didik.

“Program self-defence ini menjadi langkah nyata Pemkot Kupang untuk memberikan perlindungan kepada anak-anak, terutama siswi, dari berbagai bentuk kekerasan fisik maupun psikis. Ini sejalan dengan arahan Ibu Wakil Wali Kota agar kita lebih serius dalam membangun sistem perlindungan anak dan perempuan,” ujar Dumuliahi Djami, Selasa (22/7/2025).

Menurut Dumuliahi, pelatihan bela diri yang akan diberikan bukan semata fokus pada teknik fisik, tetapi juga mencakup pembekalan psikoedukatif, seperti penguatan mental, kecerdasan emosional, dan keterampilan untuk mengenali serta menghindari situasi berbahaya.

Program ini akan digelar secara bertahap di sejumlah sekolah, dimulai dari sekolah-sekolah yang memiliki jumlah peserta didik perempuan cukup besar.

Ia menambahkan bahwa konsep self-defence dalam program ini merujuk pada pengertian umum yaitu hak setiap individu untuk membela diri dari ancaman kekerasan atau serangan yang membahayakan.

Dalam implementasinya, program ini akan menggandeng pihak-pihak profesional termasuk pelatih bela diri, psikolog anak, dan lembaga perlindungan perempuan dan anak.

“Anak-anak perlu dibekali bukan hanya kemampuan fisik, tetapi juga pemahaman untuk menjaga diri secara psikis. Mereka harus tahu kapan harus berkata tidak, kapan harus melapor, dan bagaimana menghadapi tekanan yang bisa berdampak pada perkembangan mereka,” tegas Dumuliahi.

Program ini diharapkan dapat menjadi model pencegahan kekerasan berbasis pendidikan yang berkelanjutan.

Selain mendorong keberanian dan kemandirian siswa dalam menghadapi situasi sulit, self-defence juga menjadi upaya membangun budaya sadar perlindungan anak sejak usia dini.

Peluncuran resmi program ini akan diumumkan dalam waktu dekat dan direncanakan turut dihadiri oleh pejabat pemerintah daerah, tenaga pendidik, serta komunitas perlindungan anak di Kota Kupang.(Disdikbud)




Ini Penjelasan Kepala Sekolah SMPN 8 Kupang Tentang Kronologi KLB Usai Program Makan Bergizi Gratis

 

Kupang,nwartapedia.com  –  Kepala Sekolah SMP Negeri 8 Kota Kupang, Maria Roslin Lana, mengungkap kronologi kejadian luar biasa (KLB) yang menimpa ratusan siswanya pada Selasa, 22 Juli 2025, yang mengalami gejala mual dan sakit perut setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ditemui di ruang kerjanya, Roslin mengatakan bahwa sejak 17 Februari 2025, sekolahnya menjadi sekolah percontohan untuk program MBG yang disalurkan melalui SPPG Kelapa Lima. 

“Setiap hari kami menerima 1.050 porsi makanan, dibagikan kepada siswa pada pukul 10.00 Wita saat jam istirahat,” ujarnya, Senin, 22 Juli 2025.

Masalah bermula ketika kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung seperti biasa sejak pukul 07.30 Wita. Namun, sejumlah siswa mulai bolak-balik ke kamar mandi. 

“Ada yang sampai empat hingga lima kali. Guru akhirnya mengarahkan mereka ke UKS,” kata Roslin.

Awalnya hanya 18 siswa yang ditangani di Unit Kesehatan Sekolah. Mereka diberi air hangat dan minyak kayu putih. Namun hanya dalam waktu lima menit, jumlah siswa yang mengeluh sakit perut melonjak drastis.

Situasi yang memburuk itu memaksa pihak sekolah menghubungi Dinas Pendidikan dan Puskesmas Oesapa. Tak lama, Dinas Kesehatan dan BPBD Kota Kupang mengirimkan ambulans untuk mengevakuasi lebih dari 100 siswa ke tiga rumah sakit berbeda di Kota Kupang.

“Kami hanya menyalurkan makanan sesuai koordinasi dengan penyedia. Sekolah hanya bertugas menanggulangi dan berkoordinasi jika ada kendala,” ujar Roslin.

Hingga kini, pihak berwenang masih menyelidiki sumber penyebab kejadian tersebut. Sampel makanan disebut telah diambil untuk diuji lebih lanjut.

Siswa Dipulangkan Lebih Awal

 Akibat kejadian luar biasa (KLB) dugaan keracunan makanan tambahan gratis, pihak SMP Negeri 8 Kota Kupang memutuskan memulangkan seluruh siswa lebih awal pada Selasa, 22 Juli 2025. Setelah Ratusan siswa dilaporkan mengalami gejala seperti pusing, mual, dan muntah usai mengonsumsi makanan tambahan yang dibagikan dalam program sekolah sehari sebelumnya.

Hingga berita ini ditulis, penyelidikan terhadap sumber makanan dan penyebab pasti keracunan masih dilakukan oleh pihak berwenang. Sekolah untuk sementara diliburkan sambil menunggu hasil investigasi lebih lanjut.(goe)