SMAK Giovanni Kupang Awali Tahun Ajaran Baru dengan Misa Syukur di Katedral Kristus Raja

 

Kupang,nwartapedia.com  — SMA Katolik Giovanni Kupang mengawali Tahun Ajaran Baru 2025/2026 dengan penuh syukur melalui perayaan Misa di Gereja Katedral Kristus Raja Kupang, Sabtu (19/7) pagi.

Tradisi tahunan ini menjadi momen penting bagi sekolah untuk menyerahkan seluruh proses pendidikan ke dalam penyelenggaraan dan penyertaan Tuhan.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Kepala Sekolah, Romo RD. Stefanus Mau, Pr, didampingi oleh Romo Tomy dan Frater Steven, serta dihadiri oleh seluruh siswa kelas X, XI, dan XII, para guru, pegawai, dan staf SMAK Giovanni Kupang.

Dengan mengusung tema Dengan Cinta Kita Belajar, Dalam Pelayanan Kita Berkarya, dan Melalui Ketaatan Kita Bertumbuh.

Misa pembukaan tahun ajaran ini bukan hanya sekadar seremoni pembuka, tetapi juga menjadi momen refleksi dan peneguhan bahwa seluruh proses belajar-mengajar di SMAK Giovanni berpijak pada nilai-nilai iman Katolik.

“Misa adalah titik awal perjalanan rohani dan intelektual anak-anak kita. Di sini kita menegaskan kembali bahwa belajar adalah bentuk pelayanan, dan ketaatan adalah jalan menuju pertumbuhan sejati,” ujar Romo Stefanus dalam khotbahnya.

Melalui misa ini, SMAK Giovanni ingin menanamkan nilai spiritualitas, kedisiplinan, dan tanggung jawab kepada setiap peserta didik.

Sebagai lembaga pendidikan Katolik, Giovanni berkomitmen untuk membentuk karakter, menumbuhkan iman, serta mempersiapkan generasi muda yang tangguh, cerdas, dan penuh kasih.

Dengan semangat Berkarya dalam Terang Kristus, SMAK Giovanni Kupang meneguhkan langkah di tahun ajaran baru, siap melayani dan mendidik dengan cinta, pelayanan, dan ketaatan.

SMAK Giovanni Kupang — Love. Service. Obedience. ***




Perusahaan Kecantikan Dukung Literasi dan Pemberdayaan Perempuan di Stasi Bello

 

Kupang,nwartapedia.com  –  Sebuah perusahaan produk kecantikan asal Jakarta akan menggelar kegiatan bakti sosial di Stasi Santo Agustinus Bello, Kota Kupang, sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada awal Agustus 2025 itu akan memadukan dukungan literasi dan pelatihan kewirausahaan bagi perempuan dan remaja putri.

Caecilia Ruli Hikmawati, S.Psi., M.M., perwakilan perusahaan itu, menjelaskan kepada media ini pada Sabtu siang (19/7) bahwa pihaknya akan menyumbangkan 1.00 eksemplar buku bacaan untuk Taman Baca Santo Agustinus Bello. Buku-buku tersebut disediakan melalui kerja sama dengan percetakan Kanisius di Jakarta.

“Kami ingin memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan budaya baca di masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja di daerah ini,” kata Caecilia.

Selain sumbangan buku, kegiatan tersebut juga akan diisi dengan demonstrasi penggunaan produk kecantikan serta pelatihan teknik pemasaran dan penjualan produk. Sebanyak 15 orang ibu rumah tangga dan remaja putri akan diberdayakan untuk menjadi agen penjualan produk Larisa.

Acara akan digelar di Kapela Bello dengan melibatkan unsur Pemerintah Daerah dan aparat Kelurahan Bello.

Pastor Paroki Santo Fransiskus dari Assisi Kolhua Keuskupan Agung Kupang, RD Longginus Bone, yang akrab disapa Romo Dus, membenarkan rencana tersebut. Ia menyampaikan bahwa komunikasi antara pihak gereja dan perusahaan telah berlangsung sejak beberapa waktu lalu.

“Itu benar. Kami sudah diskusikan dengan Ibu Caecilia dari perusahaan kecantikan dimaksud, dan kita sudah agendakan antara tanggal 4 sampai 5 Agustus 2025 mendatang di Stasi Bello,” ungkap Romo Dus.

Ia menambahkan bahwa Ibu Caecilia telah melakukan pemantauan langsung di lapangan dan beberapa kali membangun komunikasi terkait niat CSR tersebut.

“Bahkan buku-buku yang akan disumbangkan sudah dikemas dan siap dikirim ke TBM Kapela Bello,” katanya.

Sementara itu, pengurus Taman Baca Masyarakat Gading Taruna Kelurahan Bello, Goris Takene, juga membenarkan rencana kerja sama tersebut.

“Benar, saya kemarin sudah dihubungi oleh Ibu Caecilia dari perusahaan kecantikan terkait rencana sumbangan buku melalui kerja sama dengan percetakan Kanisius di Jakarta. Kami tentu sangat berterima kasih atas perhatian dan dukungan ini,” ujarnya.

Kegiatan ini diharapkan tak hanya memperkuat gerakan literasi di kalangan anak dan remaja, tetapi juga membuka peluang pemberdayaan ekonomi perempuan melalui pelatihan wirausaha dan pemasaran produk.

(Rilis Stasi Bello)




Membanggakan ! Dokter Christian Widodo Terpilih Jadi Anggota Dewan Pembina DPP PSI di Kongres Solo

 

Solo,nwartapedia.com  – Kabar membanggakan datang dari arena Kongres Partai Solidaritas Indonesia (PSI) 2025 yang berlangsung di Solo. Dalam kongres yang juga menetapkan Ketua Umum PSI melalui mekanisme voting tersebut, peserta memutuskan menunjuk Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, sebagai salah satu Anggota Dewan Pembina DPP PSI, mewakili pengurus daerah dari seluruh provinsi, kabupaten, dan kota se-Indonesia.

Penunjukan dr. Christian Widodo dinilai sebagai penghargaan atas kiprahnya selama ini sebagai salah satu tokoh pendiri PSI yang sukses mengantarkan banyak kader ke kursi legislatif maupun eksekutif, serta melahirkan kepala daerah dan wakil kepala daerah di berbagai daerah.

Saat ini, dr. Christian juga masih menjabat sebagai Ketua DPW PSI Nusa Tenggara Timur (NTT) sekaligus merangkap sebagai anggota Dewan Pembina DPP PSI. Posisi strategis di tingkat pusat ini menjadi bentuk kepercayaan dan apresiasi dari DPP PSI atas dedikasi dan prestasinya sejak awal berdirinya PSI di NTT.

Dewan Pembina DPP PSI periode ini hanya diisi oleh tujuh nama tokoh penting, yakni:

  • Ketua: Jefri Geofani
  • Sekretaris Jenderal & Menteri Kehutanan: Raja Juli Antoni
  • Anggota: Grace Natalia
  • Anggota: Dr. Andi Saiful Haq
  • Anggota: Dr. Endang Tritana
  • Anggota: Isyana Bagus Oka (Wakil Menteri Kependudukan & Pembangunan Keluarga)
  • Anggota: dr. Christian Widodo (Wali Kota Kupang, Ketua DPW PSI NTT)

Kehadiran dr. Christian di jajaran Dewan Pembina diharapkan memperkuat suara kader daerah dalam menentukan arah dan kebijakan strategis partai ke depan.

“Ini adalah penghargaan luar biasa yang saya dedikasikan untuk seluruh kader PSI di daerah, khususnya di NTT. Ke depan, kami akan terus bekerja keras memperjuangkan aspirasi rakyat bersama PSI,” ujar dr. Christian usai penetapan.

dr. Christian Widodo juga menyampaikan rasa terima kasih dan haru atas kepercayaan yang diberikan kepadanya.

“Terima kasih semua yang sudah mendoakan. Saya merasa bangga, terhormat, dan terharu. Ini capaian prestasi yang luar biasa, bukan hanya bagi saya pribadi, tetapi juga keluarga, warga Kota Kupang, dan NTT. Kita bisa mewakili pengurus provinsi, kabupaten, kota di seluruh Indonesia dan dipercaya masuk sebagai Dewan Pembina di pusat — bagi saya ini sebuah pencapaian dalam hidup. Semua karena tuntunan Tuhan, dukungan keluarga, tim, dan seluruh warga Kota Kupang,” tuturnya.

Kongres PSI 2025 ini juga menjadi momentum konsolidasi nasional partai untuk menghadapi tantangan politik lima tahun ke depan dengan mengusung semangat solidaritas, inovasi, dan keberanian untuk Indonesia yang lebih baik. (MI)




Membaca Suara Perempuan yang Tersembunyi Dalam Kiasan: Telaah Metafora Bahasa Sikka Krowe

Oleh: E. Nong Jonson sebagai Pemerhati Bahasa & Budaya

 

Kupang,nwartapedia.com  –  Perempuan Sikka Krowe memainkan peran yang sangat unik. Tidak hanya dalam kehidupan sosial dan budaya, tetapi juga dalam praktik berbahasa.

Salah satu cara perempuan mengekspresikan pandangannya terhadap laki-laki adalah melalui metafora ‘Peleng Patang.

Metafora bukan sekadar gaya bahasa, melainkan ornamen penyampai nilai, kritik sosial, serta ekspresi perasaan yang terselubung.

Secara singkat, metafora seperti menikam tetapi dengan lidah. Lembut ditelinga, hancur di hati. Atau dalam hal perilaku, ciuman Yudas terhadap Yesus adalah contoh bentuk metafora.    

Telaah ini secara implisit menggunakan pendekatan Feminist Linguistic Anthropology, sebagaimana dikembangkan oleh Deborah Tannen dan Jennifer Coates, kita melihat bahwa perempuan menggunakan metafora untuk membentuk narasi alternatif tentang relasi gender.

Dalam budaya patriarkis seperti di Sikka, metafora menjadi senjata halus bagi perempuan untuk menyuarakan ketidaksetaraan, tanpa menantang norma secara frontal.

Dalam konteks ini, metafora yang digunakan oleh perempuan menjadi refleksi dari konstruksi sosial, relasi perasaan, dan cara menerjemahkan laki-laki dalam perpektif mereka.

Telaah ini juga menggunakan pendekatan metafora konseptual yang dikembangkan oleh George Lakoff dan Mark Johnson dalam karya mereka Metaphors We Live By (1980). 

Menurut mereka, metafora adalah proses kognitif. Memperkenalkan satu domain pengalaman dipahami dalam istilah domain lain.

Artinya, ketika seorang perempuan menyebut laki-laki sebagai Jarang talin betan ‘Kuda lepas tali’, dia sedang mengaktifkan struktur konseptual yang memproyeksikan sifat kuda, yaitu liar, tidak terkendali, ke dalam gambaran tentang pribadi laki-laki.

Selain itu, pengandaian perempuan terhadap laki-laki kadang di luar dari pembayangan. Semisal, Du ganu mu’u, nora poi tetor ‘Seperti pisang, hanya memiliki jantung tetapi tidak berhati’. Perempuan bahkan mengidektikkan laki-laki seperti pisang.

Hanya memiliki jantung tetapi tidak memiliki hati. Metafora ini merujuk pada ketidakpekaan laki-laki terhadap kode-kode yang disampaikan secara verbal, ekspresi, dan gestur.

Perempuan, melalui tuturan-tuturan metaforis, menyampaikan evaluasi sosial-individual terhadap laki-laki yang tidak bisa dikritik secara langsung. Sebab ada norma kesopanan dan budaya yang hidup sebagai ciri khas patriartki.

Ungkapan lain, seperti du ganu awu go’on ‘Seperti panas dalam abu’. Metafora ini menggambarkan laki-laki yang tampaknya tenang, tetapi menyimpan kemarahan atau niat buruk.

Panas dalam abu secara harfiah tidak terlihat menyala, tetapi bila disentuh bisa membakar. Perempuan menggunakan ungkapan ini untuk menggambarkan laki-laki yang manipulatif atau tidak jujur.

Beberapa kemarahan juga disampaikan perempuan dengan bentuk bahasa yang lembut tetapi sangat menusuk. Seperti, Ti toki pare ‘Burung makan padi’.Metafora ini digunakan untuk menyebut laki-laki yang tidak produktif.

Namun, menikmati hasil kerja perempuan. Ini mencerminkan kritik sosial terhadap relasi ekonomi dalam rumah tangga, yang menempatkan perempuan sering kali bekerja keras dan hasilnya dinikmati oleh suami yang malas.

Metafora atau Peleng Patang bukan sekadar deskriptif tetapi juga preskriptif. Ketika perempuan menggunakan metafora tertentu, mereka tidak hanya mendeskripsikan laki-laki, tetapi juga menetapkan standar perilaku yang diterima.

Contohnya, metafora Wawi anak ninu leten lakat ‘Anak babi minum di dua air’. Ungkapan ini ditujukan pada laki-laki yang berpoligami secara sembunyi-sembunyi. Fungsinya sebagai kecaman sosial.

Metafora-metafora ini hidup dalam percakapan sehari-hari, lagu rakyat, dan cerita adat. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa perempuan membentuk semacam counter-narrative terhadap dominasi laki-laki dalam wacana resmi (adat, agama). Dengan demikian, bahasa menjadi ruang negosiasi identitas dan kekuasaan.

Meskipun mengandung kritik, penggunaan metafora oleh perempuan tetap tunduk pada norma kesopanan lokal. Mereka jarang menggunakan bahasa kasar atau frontal.

Sebaliknya, sindiran halus, ironi, dan metafora agraris menjadi cara yang efektif dan aman secara sosial untuk menyampaikan pesan mereka.

Metafora menjadi bentuk linguistic resistance bagi perempuan yang tidak memiliki ruang politik atau sosial yang luas.

Dalam keterbatasan kesempatan berbicara, perempuan memilih bahasa kiasan untuk melindungi diri. Sambil tetap menyampaikan suara hati dan ketidakpuasan mereka terhadap situasi sosial yang tidak adil.

Mtafora yang digunakan perempuan Sikka dialek Krowe untuk laki-laki memiliki fungsi yang kompleks. Menggambarkan realitas, mengkritik perilaku, dan mempertahankan norma komunitas.

Bahasa metaforis perempuan mencerminkan daya tahan budaya dan kearifan lokal dalam menghadapi ketimpangan gender.

Perlu dilakukan dokumentasi lebih lanjut terhadap metafora-metafora lokal ini agar tidak ditelan modernisasi. Juga penting bagi pendidikan lokal untuk mengintegrasikan kesadaran gender dan nilai-nilai kultural yang terkandung dalam bahasa sehari-hari. Agar anak-anak belajar menghargai kesetaraan sejak dini.

Kita semua, baik peneliti, pendidik, maupun anggota masyarakat, memiliki tanggung jawab untuk mendengarkan suara perempuan yang sering tersembunyi dalam kiasan.

Mari kita lestarikan bahasa daerah dan makna-makna tersembunyinya, sebagai cermin kebijaksanaan leluhur dan modal sosial untuk masa depan yang lebih adil dan setara. (MI)