Ketua Umum KADIN NTT Siap Ikuti Retreat Lemhannas di Akademi Militer Magelang

 

Kupang,nwartapedia.com  Menanggapi pemberitahuan awal dan undangan resmi kegiatan Retret Kamar Dagang dan Industri  (KADIN) 2025, Ketua Umum KADIN Nusa Tenggara Timur (NTT), Bobby Lianto, menyatakan kesiapannya untuk mengikuti retreat yang digelar oleh Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) di Akademi Militer, Magelang, Jawa Tengah, pada 7–10 Agustus 2025 mendatang.

Saat dihubungi media ini pada Jumat (18/7/2025), Bobby Lianto mengatakan bahwa kesempatan ini merupakan pengalaman yang sangat berharga dan tidak akan terulang, sehingga ia berkomitmen untuk hadir dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan sungguh-sungguh.

“Sebagai entrepreneur sekaligus pemimpin, kita harus memiliki pengetahuan yang kuat tentang nilai-nilai kebangsaan dan cara meningkatkan ketahanan nasional. Melalui pendidikan yang berfokus pada kepemimpinan, dinamika geopolitik, dan geostrategis, kita akan semakin memperdalam rasa cinta tanah air dan bangsa,” ujar Bobby Lianto.

Ia juga menekankan bahwa peran pengusaha tidak hanya sebatas membangun usaha dan mencari keuntungan, tetapi juga harus mampu membangkitkan perekonomian daerah dan nasional.

“Pengusaha harus berperan aktif dalam memperkuat ekonomi bangsa sekaligus menjaga semangat kebangsaan. Retreat Lemhannas ini menjadi salah satu cara untuk memperkuat wawasan dan peran itu,” tambahnya.

Kegiatan retreat ini akan diikuti oleh para Wakil Ketua Umum Koordinator KADIN Indonesia, para Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia, para Kepala Badan KADIN Indonesia, serta para Ketua Umum KADIN Provinsi se-Indonesia.

Tujuannya adalah untuk memperkuat keselarasan arah gerak organisasi, memperdalam pemahaman kolektif atas tantangan pembangunan nasional serta menyatukan semangat gotong-royong dunia usaha sebagai mitra strategis pemerintah. (MI)




Penyintas Letusan Lewotobi Meninggal Dunia di Lokasi Pengungsian, Relawan dan Aparat Desa Sampaikan Duka

 

Larantuka,nwartapedia.com  –  Seorang penyintas erupsi Gunung Lewotobi di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), dilaporkan meninggal dunia di lokasi pengungsian pada Jumat, 18 Juli 2025, sekitar pukul 11.00 WITA.

Korban, Yohanes Bana Tobi, pria lanjut usia berusia 78 tahun, mengembuskan napas terakhir di Posko Lapangan (Poslap) Desa Konga, Kecamatan Titehena.

Almarhum merupakan warga Desa Nawakote, Kecamatan Wulanggitang, yang mengungsi ke Poslap Konga bersama warga lainnya sejak letusan Gunung Lewotobi Laki-laki pada 17 Juni 2025 lalu.

Kabar duka ini dikonfirmasi langsung oleh Kepala Desa Konga, Aloysius S. Kung, SH.

“Beliau memang sudah dalam kondisi kesehatan yang lemah sejak tiba di posko. Faktor usia dan tekanan psikologis di tengah situasi darurat membuat kondisi beliau terus menurun. Tim medis sudah memberikan perawatan awal, namun tidak banyak yang bisa dilakukan karena kondisi beliau yang sudah sangat renta,” ujar Aloysius saat dihubungi dari Kupang, Jumat malam (18/7).

Menurut Aloysius, Yohanes mengalami sejumlah keluhan kesehatan seperti lemas berkepanjangan dan kesulitan makan.

Ia dinyatakan meninggal dunia karena sakit tua. Jenazah almarhum malam ini masih disemayamkan di tenda darurat Poslap Konga dan rencananya akan diberangkatkan ke kampung halamannya di Bawalatang, Kecamatan Wulanggitang, pada Sabtu pagi (19/7) untuk dimakamkan secara layak bersama keluarga.

Usai kabar duka menyebar, suasana haru menyelimuti lingkungan pengungsian. Para penyintas, relawan, tokoh masyarakat, dan aparat desa langsung menggelar doa bersama sebagai bentuk penghormatan terakhir terhadap almarhum.

“Kami semua sangat berduka. Bapak Yohanes adalah sesepuh yang harus mengakhiri hidupnya jauh dari rumah sendiri karena bencana. Kami telah berupaya memberi kenyamanan dan perhatian selama beliau tinggal di pengungsian,” tambah Aloysius.

Salah satu relawan Dapur Umum Desk Gizi, Marselus S. Herin, turut membenarkan kabar duka tersebut dan menyampaikan belasungkawa mewakili tim relawan.

“Informasi itu benar, beliau meninggal tadi siang. Saat ini kami sedang mendampingi keluarga dan masyarakat untuk doa bersama,” ujarnya singkat.

Gunung Lewotobi Laki-laki yang terletak di wilayah Kabupaten Flores Timur mengalami letusan besar pada pertengahan Juni 2025. Ribuan warga dari sejumlah desa di Kecamatan Wulanggitang, Titehena, Ile Bura, dan sekitarnya dievakuasi ke titik-titik pengungsian, termasuk Poslap Desa Konga.

Hingga kini, penanganan darurat masih terus berlangsung dengan dukungan dari pemerintah daerah, relawan kemanusiaan, dan lembaga sosial lainnya. Namun kondisi di sejumlah posko masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam pemenuhan kebutuhan dasar warga.

Menurut Kepala Desa Konga, meski situasi di Poslap umumnya berjalan aman dan terkendali, namun ada keluhan dari para guru dan orangtua terkait kegiatan belajar-mengajar anak-anak usia sekolah yang masih berlangsung di tenda-tenda darurat.

“Ini menjadi perhatian serius kami. Anak-anak masih mengikuti KBM di bawah tenda seadanya. Kita berharap ada intervensi segera dari pihak terkait, baik untuk penyediaan ruang belajar darurat maupun pendampingan psikososial bagi anak-anak,” jelas Aloysius.

“Semoga kejadian ini menjadi pengingat bagi semua pihak agar penanganan bencana betul-betul mengedepankan aspek kemanusiaan, khususnya perlindungan terhadap lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas,” pungkasnya.(goe)




Atlet Criket dari SKO Kupang Mulai Kerjakan Pembatas Net Criket

 

Kupang,nwartapedia.com  –  Sejumlah atlet criket dari Sekolah Keolahragaan (SKO) Kupang mulai terlibat langsung dalam pekerjaan pembuatan pembatas net criket di gelanggang latihan GOR Oepoi, Kupang.

Kegiatan ini merupakan bagian dari persiapan menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) yang akan datang, sekaligus sebagai bentuk keterlibatan aktif atlet dalam membangun sarana latihan yang mereka gunakan sendiri.

Ketua Umum Persatuan Cricket Indonesia (PCI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Dr. Ince Sayuna, menyatakan apresiasinya atas semangat dan partisipasi para atlet muda tersebut.

“Ini menjadi bukti bahwa atlet-atlet kita bukan hanya siap secara fisik untuk bertanding, tetapi juga memiliki semangat gotong-royong dan rasa memiliki terhadap fasilitas yang akan mereka gunakan. Mereka tidak hanya berlatih, tetapi turut membangun,” ujar Dr. Sayuna saat meninjau langsung proses pemasangan pembatas net di area latihan, Kamis (18/7).

 

Menurutnya, pembangunan pembatas net ini sangat penting untuk menunjang kualitas latihan dan keselamatan para pemain. Pembatas dengan ukuran sekitar 5 meter x 25 meter ini dipasang di sisi lapangan yang akan menjadi area pukul (batting) dan tangkapan (fielding), agar bola tidak menyebar ke luar arena latihan.

“Kami mengharapkan bahwa fasilitas ini segera rampung dalam waktu dekat, sehingga bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh para atlet, khususnya mereka yang akan mewakili NTT di PON,” tambahnya.

Ia juga menekankan bahwa ke depan, PCI NTT akan terus mendorong pembangunan fasilitas olahraga cricket di berbagai kabupaten/kota di NTT sebagai bagian dari strategi pembinaan jangka panjang.

Pekerjaan itu diawasi langsung salah seorang coach Criket Erick Laylena serta sejumlah pengurus lain.(goe)




25 Tahun Menapaki Jalan Panggilan: Sr. Marieta Ose Melburan, SSpS Persembahkan Hidupnya dengan Sukacita

 

Lewoleba, nwartapedia.com — “Hatiku bersuka ria dalam Allah Penyelamatku.” Ungkapan penuh syukur ini menjadi motto yang terus mengiringi langkah Sr. Marieta Ose Melburan, SSpS, selama 25 tahun mengabdikan diri dalam hidup membiara.

Kamis (10/7), Aula SMA Frateran Don Bosco Lamahora, Lewoleba, Kabupaten Lembata, dipenuhi suasana syukur dan haru saat keluarga besar, para suster SSpS, imam, sahabat, dan tamu undangan berkumpul untuk merayakan Syukur Perak atas 25 tahun pengabdiannya.

Perayaan dimulai dengan Misa Syukur yang dipimpin oleh Rm. Antonius Prakum Keraf, Pr, dengan homili yang menyentuh hati dari Pater Leo Kleden, SVD. Dalam sambutannya, Sr. Marieta mengungkapkan bahwa perjalanan panggilannya penuh dengan tantangan namun selalu disertai kasih Allah.

“Jalan Tuhan dalam hidup saya sungguh luar biasa, meskipun seringkali harus saya lalui lewat jalan salib. Namun justru di tengah penderitaan itu saya menemukan kasih-Nya yang nyata. Karena itu, hati saya penuh sukacita dan syukur,” ujarnya.

“Terima kasih untuk semua doa, kasih, dan dukungan yang saya terima sepanjang perjalanan ini. Semua itulah yang menguatkan saya untuk terus setia di jalan panggilan,” tambahnya dengan penuh haru.

Jejak Perjalanan Hidup dan Panggilan

Sr. Marieta lahir di Mulankera, Kecamatan Aradei, pada 15 Juli 1977 sebagai anak sulung dari enam bersaudara, buah hati pasangan mendiang Antonius Gigo dan Martina Buka Keraf.

Menyelesaikan pendidikan dasar di SDK Atawolo (1983–1989), SMPK St. Pius X Lewoleba (1989–1992), dan SMA Negeri Lewoleba (1992–1995), ia kemudian melanjutkan pendidikan keperawatan di Tarlac, Filipina Utara (2008–2012) dan meraih gelar Filsafat dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang (2018–2021).

Panggilan hidup membiaranya dimulai pada 1995 sebagai aspiran di Komunitas SSpS St. Gabriel Kewapante, lalu postulat dan novisiat di Hokeng (1996–1999). Kaul pertama diucapkan pada 8 Desember 1999 di Hokeng dan kaul kekal pada 6 Juli 2006 di Ruteng.

Selama 25 tahun pengabdiannya, Sr. Marieta telah melayani di berbagai tempat: Filipina Utara, RS Lourdes Manila, komunitas asli Mangyan, Asrama Cancar untuk penyandang disabilitas, serta memegang berbagai tugas strategis di kongregasi, termasuk sebagai anggota tim Komunikasi Kongregasi SSpS di Roma (2022–2025).

Setelah menyelesaikan tugas internasionalnya di Roma, ia akan kembali berkarya di Provinsi Flores Barat, Ruteng.

Di akhir kesaksiannya, Sr. Marieta kembali menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada semua pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan panggilannya.

“Begitu banyak orang telah memberi saya kekuatan: keluarga, para suster, sahabat, para guru, para pastor, juga mereka yang telah mendahului saya di surga. Semoga kasih Tuhan yang saya alami juga dirasakan oleh banyak orang melalui pelayanan saya,” ucapnya dengan penuh syukur.

Perayaan ini bukan hanya menjadi tanda kesetiaan Sr. Marieta, tetapi juga undangan bagi semua yang hadir untuk percaya bahwa dalam jalan panggilan, Tuhan senantiasa hadir dengan cara-Nya yang ajaib. (goe)




Gelanggang Latihan Atlet Cricket NTT Siap Dibuka di GOR Oepoi Kupang

 

Kupang,nwartapedia.com  –  Persatuan Cricket Inonesia (PCI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) segera membuka gelanggang latihan bagi para atlet cricket sebagai bagian dari persiapan menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON).

Gelanggang ini akan dibangun di kompleks GOR Oepoi, tepat di depan Markas KOREM 161/Wira Sakti Kupang.

Ketua Umum PCI NTT, Dr. Inche Sayuna, menyampaikan bahwa fasilitas latihan tersebut dirancang khusus untuk menunjang performa para atlet cricket NTT yang akan berlaga di ajang PON 2028 mendatang.

“Gelanggang latihan akan dibangun dengan ukuran sekitar 5 meter x 25 meter, dan lokasinya sudah disiapkan di area GOR Oepoi,” ujar Inche di Kupang, Kamis (18/7).

Ia menambahkan, meskipun luas arena latihan relatif terbatas, pihaknya tetap optimistis bahwa fasilitas ini akan sangat membantu dalam proses pembinaan dan peningkatan kemampuan teknis para atlet.

“Ini adalah langkah awal untuk memastikan para atlet kita memiliki tempat latihan yang representatif. Harapannya, dengan fasilitas ini, mereka bisa lebih fokus dan siap bersaing di tingkat nasional terutama di ajang PON 2028,” lanjutnya.

Ditemui secara terpisah, Sekretaris Umum PCI NTT, Drs. Ambo, M.Si, mengatakan bahwa proses survei lokasi telah dilakukan oleh tim pengurus PCI.

Lokasi telah diukur dan disiapkan untuk pembangunan sarana latihan berupa struktur menyerupai kurungan dari bahan net sebagai tempat latihan resmi para atlet.

“Kemarin teman-teman pengurus sudah turun langsung ke lokasi dan melakukan pengukuran. Nantinya akan dibuat semacam kurungan dari bahan net yang difungsikan sebagai tempat latihan teknik para atlet kita dalam rangka menghadapi PON mendatang,” ujar Ambo.

Ambo berharap dengan hadirnya gelanggang latihan ini, para atlet cricket di NTT dapat memiliki ruang latihan yang layak dan aman untuk mengembangkan potensi mereka.

“Kita berharap adik-adik atlet bisa memanfaatkan fasilitas ini secara maksimal, agar lebih siap secara fisik dan mental menghadapi kompetisi nasional. Ini juga bagian dari komitmen kami untuk pembinaan jangka panjang atlet cricket di NTT,” tandasnya.

PCI NTT juga berencana menggelar sejumlah program pelatihan, simulasi pertandingan, dan uji coba strategi guna mematangkan kesiapan tim jelang PON.

Gelanggang ini diharapkan menjadi pusat kegiatan cricket di NTT sekaligus menjadi wadah regenerasi atlet muda berbakat di daerah.(humas Criket NTT)




Telaah Ekspresif-Simbolis Bahasa Sikka Dialek Krowe

Oleh E. Nong Yonson sebagai Pemerhati Bahasa & Budaya

 

Kupang,nwartapedia.com  –  Bahasa Sikka, terutama dialek Krowe, menjadi salah satu warisan budaya lisan masyarakat Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Sebagai bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan berelasi sehari-hari. Dalam Bahasa Sikka Dialek Krowe tersimpan kekayaan ekspresif-simbolis. 

Ferdinand de Saussure seorang tokoh linguistik struktural terkenal menjelaskan bahwa bahasa adalah sistem tanda (sign) yang terdiri atas signifier (penanda) dan signfied (petanda). Penanda adalah bentuk fisik seperti suara atau tulisan, sedangkan petanda adalah konsep atau makna.

Dengan demikian, bahasa sebagai ekspresi simbolis merujuk pada relasi antara simbol dan makna bukan semata-mata penamaan objek. Ekspresi simbolis bahasa Sikka bermuara pada pencerminan nilai-nilai budaya, kepercayaan, serta struktur sosial masyarakat penuturnya. 

Telaah terhadap bentuk ekspresif-simbolis dalam bahasa ini menjadi bagian yang sangat penting. Tujuannya, untuk memahami cara masyarakat Krowe menyampaikan emosi, identitas, dan makna melalui simbol bahasa.

Bentuk ekspresif dalam Bahasa Sikka Krowe banyak ditemukan dalam tuturan sehari-hari, baik berupa upacara adat, nyanyian rakyat, dan ungkapan tradisional.

Ekspresi ini tidak hanya menyampaikan emosi atau perasaan, tetapi juga memperlihatkan cara berpikir dan nilai yang dianut masyarakat. Contohnya sebagai berikut.

Sir naha li’i, ga’i naha da’a.

‘Pilihlah pasangan hidup yang tepat.

Ungkapan ini secara simbolis menggambarkan petuah kepada muda-mudi untuk selektif dalam hal pasangan hidup. Sir ‘ pacaran’ dan ga’i ‘mau dengan’. Artinya, dalam usaha untuk mau dengan siapa, melalui pacaran, harus da’a ‘tepat’. Apakah ungkapan ini biasa, tentu tidak.

Ungkapan ini selain memiliki kedalaman makna juga merujuk pada kedekatan emosional antara penyampai pesan dan sasarannya. Sebab, ungkapan ini sekaligus sebagai simbol kedekatan emosional dan tanggung jawab. Tidak elok jika disampaikan oleh seseorang kepada orang lain yang tidak saling mengenal. 

Lanjutan dari ungkapan itu merujuk pada pesan kehati-hatian dan dampak terhadap keberlangsungan hidup.

Lopa sir dena de’a, ga’i dena ‘lebe

Loning du’a naha nora lin, la’i nowa welin

Jangan bercanda, karena perempuan dan laki-laki memiliki nilai’  

Bentuk simbolis-ekspresi ini menonjolkan struktur pesan yang disertai dengan seruan adat berupa larangan dan konsukensianya. Di sini terdapat dualitas simbolik antara ruang kebiasaan muda-mudi dan ruang tradisi kodrat sebagai perempuan dan laki-laki. 

Dalam ungkapan Ekspresi-simbolis, Bahasa Sikka Krowe juga memiliki gaya retorik yang khas. Bentuknya, berupa paralelisme simbol. Contohnya sebagai berikut.

Diri inan tutur, plina aman tatar

‘Patuhi nasihat orang tua’

Diri dan plina merujuk pada makna yang sama, yaitu ‘mendengar/mengikuti’. Sedangkan tutur dan tatar juga bermuara pada maksud yang sama, yaitu ‘pembicaraan/penyampaian’. Ekspesi-simbolis dalam bentuk paralelisme tidak bisa ditukar posisinya juga diganti dengan bentuk yang lain. Selain akan berpengeruh pada makna juga pada estetika dan struktur kalimat.   

Konstruksi paralel ini digunakan untuk menekankan kedalaman rasa dan kesungguhan niat. Kata-kata ini digunakan untuk menegaskan bahwa keputusan yang diambil telah melibatkan seluruh aspek diri: hati, napas, mata, dan darah. Bahasa di sini menjadi alat untuk menyampaikan komitmen kolektif yang sakral.

Dari perspektif linguistik dan semiotik, bentuk-bentuk ekspresif-simbolik ini menunjukkan bahwa Bahasa Sikka Krowe tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sistem makna budaya. Setiap ungkapan bukan hanya memiliki arti denotatif, melainkan konotatif bahkan pesan mendalam yang dipengaruhi oleh konteks budaya dan peradapan.

Telaah ini memperlihatkan bahwa untuk memahami Bahasa Sikka Krowe secara mendalam, kita perlu melihatnya dalam kerangka hubungan antara ekspresi, simbol, konteks bahasa, dan budaya.

Ekspresi dan simbol yang terkandung dalam bahasa ini merupakan representasi dari gambaran batin dan sistem nilai masyarakat Krowe, yang jika tidak dilestarikan, akan menghilang bersama perubahan realitas kehidupan. ***




Peringati Hari Anak Nasional, Dinas Pendidikan Kota Kupang Gelar Beragam Lomba Kreativitas Anak PAUD

 

Kupang,nwartapedia.com  –  Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli 2025, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang melalui Bidang Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI) serta Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menyelenggarakan serangkaian kegiatan lomba yang melibatkan anak-anak usia dini dari seluruh PAUD se-Kota Kupang.

Kegiatan yang berlangsung selama empat hari ini digelar di salah satu aula hotel di Kota Kupang, dan diikuti secara antusias oleh ratusan anak serta para pendidik PAUD.

Tema utama kegiatan ini adalah mendorong pengembangan kreativitas dan karakter anak sejak usia dini melalui kegiatan yang menyenangkan, mendidik, dan kompetitif.

Ketua panitia kegiatan, Margaretha Dida, S.Sos, saat ditemui di sela-sela kegiatan pada Jumat (18/7), menjelaskan bahwa terdapat empat jenis lomba yang diselenggarakan, yakni lomba mewarnai, lomba bercerita, lomba fashion show untuk peserta didik, serta lomba pembuatan Alat Permainan Edukatif (APE) yang ditujukan bagi para pendidik PAUD.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin memberi ruang kepada anak-anak untuk mengekspresikan potensi mereka secara positif, baik dalam hal kreativitas, keberanian berbicara di depan umum, maupun rasa percaya diri. Sementara untuk para pendidik, lomba pembuatan APE menjadi ajang untuk mengembangkan inovasi dalam menciptakan media pembelajaran yang edukatif dan menyenangkan bagi anak-anak,” ujar Margaretha.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini telah menjadi agenda tahunan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, dan merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini, sekaligus membentuk karakter generasi muda sejak usia dini.

“Kami berharap kegiatan ini dapat menghasilkan kader-kader peserta didik yang cerdas, kreatif, dan berkarakter, serta menumbuhkan semangat belajar dan semangat berkarya sejak dari bangku PAUD,” pungkasnya.(Disdikbud)