Literasi Informasi di Era Digital: Guru, Pustakawan, dan Pegiat Literasi Didorong Jadi Agen Perubahan

 

Kupang,nwartapedia.com  — Tantangan literasi informasi di era digital tidak lagi sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi menuntut pemahaman makna, penggunaan bahasa yang tepat, serta kemampuan menyalurkan pengetahuan secara kreatif dan bertanggung jawab.

Pesan ini ditegaskan dalam Bimbingan Teknis Literasi Informasi bagi Pustakawan, Guru, dan Pegiat Literasi yang diselenggarakan di Aula Kantor Kominfo NTT, Kamis (10/7/2025).

Kegiatan ini menghadirkan penulis, praktisi budaya, sekaligus pegiat literasi Emanuel Nong Jonson, Pd., M.Hum.  sebagai narasumber, dengan Silvia Cornelia Francis, Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo NTT, sebagai moderator.

Dalam materinya, Nong Jonson mengajak para peserta untuk tidak sekadar menjadi pelaksana kegiatan literasi, tetapi menjadi tunas yang kelak berbuah di sekolah dan masyarakat.

“Literasi bukan hanya kegiatan teknis, tetapi proses menumbuhkan nilai. Kita bukan hanya hadir untuk mengisi acara, tetapi membangun tunas yang akan menghasilkan buah di masyarakat,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa literasi yang kuat berakar pada pemahaman bahasa yang benar dan baik, karena setiap perubahan bentuk bahasa selalu membawa perubahan makna. 

Nong Jonson juga mengkritisi kecenderungan anak-anak yang sekadar bisa membaca tetapi tidak memahami, karena lemahnya penguasaan istilah, tanda baca, dan konteks.

“Bahasa yang benar mengikuti kaidah, sedangkan bahasa yang baik menyentuh nilai-nilai. Tanpa dasar bahasa yang baik, digitalisasi hanya akan melahirkan kebisingan tanpa makna,” lanjutnya.

Nong Jonson juga memberikan contoh-contoh praktis dalam menanamkan literasi sejak usia dini, seperti cara memperkenalkan buku bergambar untuk anak-anak, menyusun cerita sederhana dengan satu kalimat per halaman, hingga mengajarkan puisi dengan narasi yang menyenangkan.

Menurutnya, tugas utama guru, pustakawan, dan pegiat literasi adalah menciptakan pengalaman membaca yang menyenangkan dan bermakna.

Salah satunya dengan mengajarkan anak-anak menyusun kata-kata yang “memiliki jiwa”, serta menghidupkan imajinasi melalui cerita, akrostik, atau puisi.

Sementara itu, moderator Silvia Cornelia Francis menekankan bahwa penguatan literasi di era digital adalah tantangan bersama yang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.

“Guru, pustakawan, dan pegiat literasi memiliki peran vital dalam memastikan teknologi menjadi alat untuk memperkuat literasi, bukan sebaliknya. Literasi adalah pondasi untuk berpikir kritis di tengah derasnya arus informasi,” ujarnya.

Kegiatan yang berlangsung secara interaktif ini diharapkan mampu memperkuat kompetensi peserta dalam mengelola, menyampaikan, dan menumbuhkan budaya literasi di lingkungan sekolah dan masyarakat.

Dengan bekal pengetahuan ini, para guru, pustakawan, dan pegiat literasi di NTT diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang membawa literasi informasi lebih dekat dan relevan dengan kehidupan masyarakat di era digital. (MI)




Alumni SMAN 1 Lewoleba Angkatan ’92 Hadiri Misa Syukur 25 Tahun Hidup Membiara Sr. Marieta Ose Melburan

 

Lewoleba,nwartapedia.com  –  Suasana haru dan sukacita mewarnai perayaan misa syukur 25 tahun hidup membiara Sr. Marieta Ose Melburan, SSpS. Misa syukur yang digelar dengan khidmat ini turut dihadiri oleh sejumlah sahabat dan rekan seperjuangan masa sekolah, khususnya para alumni SMA Negeri 1 Lewoleba angkatan 1992.

Sejumlah alumni seperti Shinta Wora, Rini Gie, Eti Bediona, dan beberapa lainnya tampak hadir dan larut dalam sukacita perayaan yang digelar sebagai ungkapan syukur atas perjalanan panjang panggilan hidup religius Sr. Marieta yang berlangsung di Aula SMA Frateran Don Bosko Lewoleba pada Kamis (10/7) sore ini.

Kehadiran para sahabat lama ini bukan hanya sebagai bentuk dukungan, tetapi juga menjadi momen nostalgia dan perjumpaan yang penuh kehangatan.

Mereka ikut memberikan ucapan selamat, pelukan hangat, dan doa bersama bagi Sr. Marieta yang telah menapaki 25 tahun pengabdian sebagai biarawati dalam tarekat SSpS.

Sr. Marieta sendiri tampak bahagia dan menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas kehadiran rekan-rekan seperjuangan masa SMA yang masih menyempatkan waktu untuk hadir di tengah kesibukan masing-masing.

“Saya sangat tersentuh karena teman-teman lama hadir di hari yang spesial ini. Mereka adalah bagian dari perjalanan hidup saya yang tidak terlupakan,” ujar Sr. Marieta dengan mata berbinar.

Momentum ini bukan hanya menjadi perayaan religius, tetapi juga perayaan persahabatan dan kenangan indah masa muda yang terus terjalin lintas waktu.(goe)




Lapangan Cricket Internasional Mulai Dibangun di Kupang, Kolaborasi UKAW Sambut PON XXII NTT-NTB 2028

 

Kupang,nwartapedia.com  — Pembangunan lapangan cricket bertaraf internasional di Nusa Tenggara Timur resmi dimulai pada Kamis (10/7), ditandai dengan pengerahan alat berat untuk meratakan lahan di Desa Noelbaki, Kabupaten Kupang.

Proyek prestisius ini merupakan hasil kolaborasi antara Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang dan Pengurus Cricket Indonesia (PCI) NTT sebagai bagian dari persiapan menyambut Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII yang akan digelar di NTT dan NTB pada 2028 mendatang.

Kegiatan perdana ini diawali dengan upacara sederhana dan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari berbagai pihak yang hadir, antara lain unsur pimpinan Rektorat UKAW Kupang, Yayasan UKAW, Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi NTT, pengurus KONI provinsi dan kota, Kepala UPTD Sekolah Keolahragaan NTT, aparat kecamatan dan kepolisian, tokoh masyarakat, serta pengurus PCI NTT dari Kabupaten dan Kota Kupang.

Perwakilan Ketua KONI NTT, Alfridus Bria Seran, menyampaikan dukungan penuh terhadap pembangunan fasilitas ini.

Ia menegaskan, di bawah kepemimpinan Ince Sayuna, cabang olahraga cricket telah mengharumkan nama NTT melalui raihan medali di berbagai ajang PON, seperti di Bandung, Papua, dan Aceh-Medan.

“Kami berharap keberadaan lapangan internasional ini akan memacu prestasi lebih tinggi dan menyumbangkan medali emas untuk NTT pada PON 2028,” ungkapnya.

Ketua Umum PCI NTT, Ince Sayuna, menyatakan apresiasi dan rasa syukurnya atas dukungan UKAW yang telah menyediakan lahan untuk pembangunan lapangan.

“Lapangan ini tidak hanya akan digunakan untuk PON 2028, tetapi juga menjadi venue berbagai kejuaraan internasional di masa mendatang,” ujarnya optimistis.

Senada dengan itu, Plh. Kepala Bidang Prestasi Olahraga Dinas Pemuda dan Olahraga NTT, Yesni Luik, SH, menyebut kolaborasi UKAW dan PCI NTT sebagai langkah strategis untuk menghadirkan fasilitas olahraga bertaraf internasional di provinsi ini.

“Kerja keras pengurus cricket NTT patut diapresiasi. Kini kita memiliki salah satu cabang olahraga dengan fasilitas berstandar internasional,” katanya.

Sementara itu, Ketua Yayasan UKAW, Pdt. Mesakh Beeh, menyatakan komitmen lembaga yang dipimpinnya untuk terus mendukung inisiatif-inisiatif yang mengembangkan sumber daya manusia dan potensi olahraga di NTT.

Dengan dimulainya pembangunan lapangan cricket bertaraf internasional ini, NTT menegaskan kesiapannya sebagai tuan rumah bersama NTB pada PON XXII tahun 2028.

Kehadiran infrastruktur olahraga ini diharapkan menjadi warisan berharga bagi pembinaan atlet dan penyelenggaraan kejuaraan nasional maupun internasional di masa depan. (goe)




Tanpa Banyak Bicara, Wali Kota Kupang Hadir dengan Aksi Nyata untuk Warga Kecil

 

Kupang,nwartapedia.com  — Suasana haru menyelimuti Kelurahan Naikolan, Kota Kupang, saat Agustina Joni dan Nitanael Baimnune menerima kunci rumah baru dari Wali Kota dr. Christian Widodo.

Bagi mereka, rumah mungil itu adalah anugerah yang tak pernah terduga, buah dari kepedulian seorang pemimpin yang lebih memilih bekerja dalam diam, tetapi memberi dampak besar.

Program rumah layak huni ini merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kota Kupang dengan Bank NTT melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) tahun 2024.

Sebanyak 30 unit rumah dibangun  28 unit untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan 2 unit untuk korban bencana di Kelurahan Naikolan. Pembangunan dilakukan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) dengan cara profesional dan transparan.

Tanpa banyak publikasi, dr. Christian Widodo datang sendiri menemui warga, menyerahkan rumah satu per satu, menyapa, dan mendoakan mereka.

“Saya tidak bisa membalas kebaikan Bapak Wali Kota. Ini luar biasa. Semoga Tuhan memberkati beliau,” ujar Agustina dengan suara bergetar.

Nada serupa disampaikan Nitanael Baimnune.

“Terima kasih, Bapak Wali Kota. Saya tidak bisa membalasnya. Biarlah Tuhan yang membalas. Semoga Bapak selalu sehat,” ujarnya sambil menyeka air mata.

Lima penerima rumah bantuan di Kelurahan Naikolan yakni  Agustina Joni,  Nitanael Baimnune, Jefri A. Kune, Jens Ayub Dudu dan Daniel Babu.

Dalam sambutannya, dr. Christian Widodo menegaskan bahwa kepemimpinan yang baik harus benar-benar dirasakan rakyat, bukan hanya terlihat di media.

“Memerintah itu bukan untuk berkuasa, tetapi untuk melayani. Dan melayani harus dibuktikan lewat tindakan nyata,” tegasnya.

Selain program rumah layak huni, Wali Kota juga menggagas berbagai inisiatif lain untuk warga kecil, seperti liang lahat gratis bagi keluarga kurang mampu, serta dana darurat kesehatan untuk warga yang belum memiliki atau menunggak iuran BPJS.

“Kalau ada warga gawat darurat, jangan dulu pikir BPJS. Yang penting selamat dulu, urusan administrasi belakangan,” ujarnya tegas.

Langkah-langkah nyata ini menunjukkan bahwa kepemimpinan dr. Christian Widodo bukanlah soal pencitraan, tetapi tentang memberi makna dan membawa perubahan nyata bagi kehidupan rakyat.

Di balik ketenangan dan kerendahan hatinya, tersimpan komitmen besar untuk selalu hadir bagi mereka yang paling membutuhkan. ***




Perpustakaan NTT Terus Berinovasi Dorong Literasi dan Minat Baca Generasi Muda

 

Kupang,nwartapedia.com  — Kepala Bidang Layanan dan Pembinaan Perpustakaan pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Dollyres Chandra, S.Sos., menegaskan komitmen pemerintah provinsi untuk terus mendorong literasi masyarakat melalui berbagai inovasi layanan perpustakaan.

Hal ini disampaikan dalam kegiatan Bimbingan Teknis Literasi Informasi untuk Pustakawan, Guru, dan Pegiat Literasi tingkat provinsi NTT yang berlangsung di Aula Kantor Dinas Kominfo Provinsi NTT pada Kamis (10/7).

Dalam kesempatan itu, Dollyres juga menjelaskan tentang program Duta Baca yang pernah diadakan terakhir kali pada tahun 2021. 

Menurutnya, usia ideal untuk Duta Baca adalah 18–35 tahun, dengan syarat utama memiliki hobi membaca, kemampuan komunikasi yang baik, kreativitas, prestasi akademik, inovasi, serta kesediaan waktu untuk menjalankan berbagai kegiatan literasi.

Namun, keterbatasan anggaran dan efisiensi belanja membuat pemilihan Duta Baca baru belum dapat dilaksanakan lagi sejak saat itu.

“Karena kita sudah tidak ada lagi Duta Baca, maka kami turun langsung ke sekolah-sekolah untuk sosialisasi gemar membaca dan layanan perpustakaan. Tujuannya untuk meningkatkan minat baca masyarakat,” ujar Dollyres.

Ia menyampaikan bahwa berdasarkan kajian Perpustakaan Nasional RI, tingkat kegemaran membaca masyarakat NTT cukup tinggi, dengan skor 70,34 pada tahun 2024. Bahkan, pada 2022 NTT menduduki peringkat ke-8 secara nasional.

Namun, tantangan tetap ada, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi yang menggeser peran tradisional perpustakaan.

Untuk menjawab tantangan itu, pihaknya telah meluncurkan berbagai inovasi layanan, seperti:

– Layanan pinjam buku antar ke rumah atau sekolah secara gratis, yang bisa dipesan melalui grup WhatsApp.

– Pendaftaran anggota online untuk mempermudah akses layanan.

– Layanan bantuan teknis untuk mahasiswa, misalnya memperbaiki laptop atau komputer rusak.

– Ruang belajar online dan ujian daring, lengkap dengan fasilitas internet.

– Bimbingan belajar membaca dan menulis bagi anak-anak yang masih kesulitan membaca.

– Kerja sama dengan toko-toko untuk menghadirkan fasilitas tambahan, seperti internet gratis.

“Perpustakaan bukan lagi sekadar tempat menyimpan dan meminjam buku, tetapi menjadi pusat kegiatan masyarakat dan ruang belajar bersama. Orang tua yang mengantar anak, guru, mahasiswa, bahkan masyarakat umum bisa memanfaatkan fasilitas yang kami sediakan,” jelasnya.

Selain itu, ia juga menyebutkan bahwa kini jumlah pengunjung perpustakaan per hari sudah mencapai lebih dari 100 orang, terutama saat sekolah dan kuliah aktif.

“Ketika kegiatan belajar mengajar berjalan, itulah waktu paling ramai bagi kami,” katanya.

Melalui semua inovasi tersebut, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTT ingin mematahkan anggapan bahwa perpustakaan hanyalah tempat yang sepi dan membosankan.

“Kami berusaha membuat perpustakaan menjadi lebih ramah, cepat melayani, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini,” tutup Dollyres.

Kegiatan Bimtek ini sendiri diharapkan dapat memperkuat kemampuan pustakawan, guru, dan pegiat literasi dalam mengelola serta menyebarluaskan informasi kepada masyarakat luas. (MI)




Kadis Kominfo NTT Tekankan Pentingnya Literasi Informasi pada Bimtek Pustakawan, Guru, dan Pegiat Literasi

 

Kupang,nwartapedia.com  — Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Frederik Christian Purwanto Koenunu, menjadi pembicara utama dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi Informasi bagi Pustakawan, Guru, dan Pegiat Literasi yang digelar oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTT.

Kegiatan in8 berlangsung di Aula Kantor Kominfo NTT, Kamis (10/7/2025), dan dihadiri peserta dari pustakawan, guru dan pegiat literasi di NTT. 

Bimtek ini bertujuan meningkatkan kemampuan para peserta dalam mengelola dan menyebarkan informasi yang akurat, relevan, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Acara dipandu oleh Silvia Cornelia Francis, Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo NTT, yang juga bertindak sebagai moderator.

Dalam sambutannya, Silvia menyampaikan bahwa literasi informasi kini menjadi kebutuhan mendasar di era digital, bukan hanya bagi pustakawan dan guru, tetapi juga bagi semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan dan literasi.

Materi utama disampaikan Frederik Koenunu dengan tema Kemampuan Menganalisis dan Menyebarluaskan Informasi.

Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa literasi informasi tidak hanya berarti bisa membaca atau menyampaikan data, tetapi juga kemampuan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara tepat dalam mengambil keputusan.

“Informasi yang kita sebarkan harus memenuhi kriteria akurasi, relevansi, dan etika. Komunikasi yang baik adalah yang membangun, bukan yang merusak. Pustakawan dan guru memiliki peran strategis untuk mencerdaskan masyarakat melalui informasi yang berkualitas,” tegas Frederik.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kualitas informasi, mengingat derasnya arus informasi saat ini. Menurutnya, pemerintah berkewajiban membuka akses terhadap informasi publik tertentu, namun tetap dalam koridor hukum dan etika.

Dalam kesempatan itu, Frederik juga menyoroti kondisi literasi di Indonesia, termasuk di NTT, yang masih memerlukan perhatian serius. Tantangan seperti rendahnya minat baca, keterbatasan akses informasi, dan kurangnya fasilitas literasi masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

“Komunikasi adalah jembatan yang menghubungkan ide, pengalaman, dan pengetahuan. Mari kita gunakan komunikasi yang sehat, efektif, dan penuh etika untuk kemajuan bersama,” tambahnya.

Kegiatan ini berlangsung interaktif, dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang dimanfaatkan peserta untuk berbagi pengalaman dan memperoleh wawasan baru mengenai pengelolaan informasi.

Silvia menutup kegiatan dengan harapan agar para peserta dapat menerapkan ilmu yang didapat, tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk memberdayakan lingkungan sekitar.

“Semoga materi yang diperoleh hari ini menjadi bekal untuk memperkuat literasi informasi di NTT, demi menciptakan masyarakat yang lebih cerdas, kritis, dan berdaya,” pungkasnya. (MI)




PLT Kadis Perpustakaan & Kearsipan NTT: Literasi Informasi Kunci Menghadapi Era Digital

 

Kupang,nwartapedia.com  — Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Stefanus G. De Rozari, A.Md.LLAJ., S.E., secara resmi membuka kegiatan Bimbingan Teknis Literasi Informasi bagi pustakawan, guru, dan pegiat literasi di Aula Dinas Komunitas dan Informasi Provinsi NTT, Kamis (10/7).

Dalam sambutannya, Stefanus mengajak seluruh peserta untuk bersyukur atas kesempatan mengikuti kegiatan penting ini dalam keadaan sehat.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para peserta, narasumber, serta semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya acara.

“Di era yang serba cepat dan penuh tantangan ini, kemampuan literasi informasi sangat penting. Tidak cukup hanya mengetahui informasi, tetapi kita juga harus mampu mengakses, mengelola, dan menggunakan informasi secara tepat sesuai dengan amanah Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan dan peraturan perundangan lainnya,” ujar Stefanus.

Menurutnya, seiring perkembangan teknologi informasi digital, masyarakat semakin menuntut kemudahan, kecepatan, dan kualitas dalam memperoleh informasi.

Karena itu, perpustakaan sebagai jantung pendidikan memiliki peran penting dalam menyediakan informasi yang relevan dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Literasi informasi bukan sekadar membaca dan mendengar, tetapi bagaimana informasi tersebut dapat menjadi pengetahuan yang berguna, membentuk pemikiran kritis, dan mendorong perubahan positif dalam masyarakat,” lanjutnya.

Stefanus juga menekankan bahwa kegiatan bimbingan teknis ini bukan hanya ajang pelatihan teknis semata, tetapi juga wadah untuk berbagi inspirasi, pengalaman, dan inovasi di bidang literasi informasi.

“Mari kita jadikan kegiatan ini sebagai momentum untuk memperkuat profesi kita, mengembangkan ekosistem literasi yang inovatif dan berkelanjutan, demi mewujudkan NTT yang sehat, sejahtera, dan maju,” tutupnya.

Kegiatan bimbingan teknis ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas para pustakawan, guru, dan pegiat literasi dalam menyikapi tantangan era digital, serta memperkuat peran perpustakaan sebagai pusat informasi yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat. (MI)