Pemkot Kupang Pasang Tanda Pengenal Situs Budaya: Gua Jepang di Naimata Jadi Sumber Edukasi Sejarah

 

Kupang,nwartapedia.com – Sebuah situs bersejarah berupa gua peninggalan tentara Jepang yang berada di RT 06/RW 02 Kelurahan Naimata, Kota Kupang, kini mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kota Kupang.

Melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, pemerintah memasang tanda pengenal situs budaya di lokasi tersebut sebagai upaya pelestarian dan penguatan identitas sejarah lokal.

Ketua RT 06/RW 02, Karel Mau, menjelaskan bahwa di wilayahnya terdapat sekitar tujuh lubang gua yang merupakan peninggalan masa pendudukan Jepang pada Perang Dunia II.

Gua-gua ini dahulu digunakan sebagai benteng pertahanan oleh pasukan Jepang, dan keberadaannya berkaitan erat dengan lokasi strategis Naimata yang berdekatan dengan landasan udara (kini Bandara El Tari Kupang).

“Di wilayah RT 6 ini, gua yang paling menonjol memiliki dua akses, yakni pintu masuk dan pintu keluar, dengan radius sekitar delapan meter dari pintu utama. Ini adalah situs yang penting dan harus dijaga,” ujar Karel Mau.

Ia menambahkan, proses pengerjaan gua-gua ini pada masa lalu dilakukan oleh warga lokal secara paksa melalui sistem kerja rodi yang diterapkan oleh tentara Jepang.

Pengerjaan dilakukan secara manual, tanpa bantuan alat berat, dan menjadi catatan kelam dari masa pendudukan Jepang di wilayah NTT.

Lokasi gua yang dimaksud terletak sangat dekat dengan lingkungan pendidikan, yakni hanya beberapa meter dari SD Inpres Naimata.

Kondisi gua tersebut masih relatif terjaga dan tidak mengalami kerusakan besar, sehingga potensial untuk dijadikan objek pembelajaran sejarah bagi generasi muda.

Salah seorang guru di SD Inpres Naimata, Gaspar Tanjak, mengungkapkan rasa syukurnya atas perhatian pemerintah terhadap situs bersejarah ini.

Ia berharap keberadaan gua Jepang ini dapat dijadikan sebagai sarana edukatif untuk menanamkan nilai-nilai sejarah dan nasionalisme kepada para siswa.

“Kami sangat bersyukur karena anak-anak bisa belajar sejarah langsung dari lokasi aslinya. Ini menjadi pengalaman yang berharga dan memperkuat pemahaman mereka tentang perjuangan masa lalu,” ujar Gaspar.

Dengan pemasangan tanda pengenal oleh Pemerintah Kota Kupang, diharapkan situs gua Jepang di Naimata tidak hanya menjadi saksi bisu sejarah, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya yang dapat diwariskan dari generasi ke generasi, serta memperkaya wawasan sejarah lokal masyarakat Kota Kupang.(goe)




Pemerintah Kota Kupang Pasang Papan Tanda Situs Budaya di Rumah Peninggalan Raja Nisnoni

 

Kupang,nwartapedia.com – Pemerintah Kota Kupang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kembali menunjukkan komitmennya dalam melestarikan situs budaya di wilayah Kota Kupang.

Salah satu bentuk nyata perhatian tersebut adalah pemasangan papan tanda pengenal situs budaya di rumah peninggalan Raja Nisnoni yang terletak di RT 007/RW 003, Kota Kupang.

Rumah bersejarah yang dibangun pada tahun 1935 ini merupakan peninggalan Raja Alfons Nisnoni dan hingga kini masih dirawat oleh keturunannya.

Alfons Nisnoni, cucu dari Raja Nisnoni, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas perhatian dari pemerintah Kota Kupang terhadap warisan leluhur mereka.

“Kami dari keluarga besar Raja Nisnoni sangat bangga dan berterima kasih karena pemerintah, khususnya Bapak Wali Kota Kupang dan jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, telah memberikan perhatian kepada situs budaya peninggalan leluhur kami. Ini menjadi bentuk penghargaan sekaligus dorongan bagi kami untuk terus menjaga dan melestarikan rumah bersejarah ini,” ungkap Alfons Nisnoni.

Ia juga menyatakan bahwa keluarga besar Nisnoni siap menjadi mitra pemerintah dalam menjaga dan merawat situs bersejarah tersebut demi generasi mendatang.

“Kami akan terus menjaga rumah ini dan menjadikannya sebagai bagian penting dari sejarah Kota Kupang. Terima kasih kepada Bapak Wali Kota dan seluruh pihak yang telah memberi perhatian besar terhadap situs budaya kami,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Serlin Marlis Tiro, S.STP., M.M., yang hadir dalam kegiatan pemasangan papan tanda tersebut menjelaskan bahwa pemasangan papan tanda ini merupakan simbol penting dalam pelestarian warisan budaya lokal.

“Pemasangan papan tanda pengenal ini adalah bentuk pengakuan dan perlindungan terhadap situs budaya. Ini bukan sekadar simbol, tetapi juga ajakan kepada masyarakat untuk ikut menjaga dan menghargai sejarah serta warisan nenek moyang kita,” ujar Serlin Marlis Tiro.

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program strategis pelestarian budaya yang dilaksanakan secara bertahap oleh Pemerintah Kota Kupang, dengan dukungan dari pihak-pihak terkait termasuk masyarakat adat dan ahli warisan budaya.

Dengan pemasangan papan tanda ini, Pemerintah Kota Kupang berharap agar masyarakat luas lebih sadar akan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan sejarah yang menjadi identitas dan kekayaan budaya daerah. (goe)




108 Anak di Paroki Kolhua dan Stasi Bello Akan Terima Komuni Suci Pertama di Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

 

Kupang,nwartapedia.com  – Sebanyak 108 orang anak dari Paroki Santo Fransiskus dari Assisi Kolhua dan Stasi Santo Agustinus Bello, Kota Kupang, akan menerima Komuni Suci untuk pertama kalinya pada hari Minggu, 22 Juni 2025, yang bertepatan dengan perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus dalam kalender liturgi Gereja Katolik.

Ketua Katekis Paroki Kolhua, Kaytanus Korbafo, mengungkapkan bahwa anak-anak ini telah menjalani masa pembinaan rohani yang intensif selama tiga bulan terakhir.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 55 anak berasal dari Stasi Bello, pusat Paroki Kolhua 52 dan LP 1 orang.

“Mereka sudah mengikuti pembinaan rohani secara teratur, termasuk doa Triduum dan persiapan pengakuan. Ini adalah tahap penting sebelum mereka menerima komuni pertama kalinya,” ujar Kaytanus di sela-sela kegiatan doa Triduum hari ketiga di Gereja Paroki Kolhua, Jumat sore (20/6).

Ia menambahkan, Komuni Pertama atau yang sering disebut sambut baru merupakan momen sakral bagi setiap umat Katolik.

Melalui penerimaan Tubuh dan Darah Kristus dalam rupa roti dan anggur, umat disatukan secara spiritual dengan Kristus dan menerima rahmat keselamatan.

“Ekaristi bukan sekadar simbol. Kita percaya bahwa hosti yang telah dikonsekrasi dalam Misa adalah sungguh-sungguh Tubuh dan Darah Kristus yang hadir secara nyata. Ini bukan hanya bentuk tradisi, tetapi inti iman Katolik,” tegasnya.

Salah satu anak yang akan menerima Komuni Suci Rustam One Tuan, seorang anak yang baru beberapa bulan lalu dibaptis Katolik setelah sebelumnya memeluk agama Kristen Protestan.

Meski orang tuanya bukan Katolik, Rustam diperbolehkan menjalani proses ini karena sejak lama tinggal bersama tante dan omanya yang beragama Katolik.

“Saya senang dan siap menerima Tubuh dan Darah Tuhan Yesus. Saya yang minta sendiri untuk dibaptis dan sambut baru. Orang tua saya tidak melarang karena saya yang ingin, bukan karena disuruh siapa-siapa,” ujar Rustam dengan polos, menampilkan semangat dan ketulusan hati seorang anak yang merindukan kedekatan dengan Sang Juru Selamat.

Perayaan Misa Komuni Pertama ini akan menjadi peristiwa penuh sukacita dan iman bagi umat di Paroki Kolhua dan Stasi Bello. Tidak hanya sebagai langkah awal dalam kehidupan sakramental anak-anak tersebut, tetapi juga sebagai pengingat bagi seluruh umat tentang pentingnya Ekaristi sebagai pusat kehidupan iman Katolik. (goe)




Situs Bunker Peninggalan Perang di Bakunase: Jejak Sejarah yang Perlu Dilindungi

 

Kupang,nwartapedia.com  – Di tengah perkembangan Kota Kupang yang terus tumbuh, jejak-jejak sejarah masa lalu masih tersimpan di sejumlah sudut kota Kupang, sperti bangunan rumah dan makam Raja Nisnoni, Bunker sejumlah bangunan lainsebagai cerita sejarah.

Bungker misalnya merupakan peninggalan perang dunia kedua tahun 1939. Bunker tersebut merupakan bangunan pertahanan militer di masa perang yang berada di RT 12 RW 04, Kelurahan Bakunase, Kecamatan Kota Raja Kota Kupang NTT.

Bangunan yang diperkirakan telah ada sejak tahun 1939 ini menjadi saksi bisu perjalanan sejarah yang kini mulai mendapat perhatian sebagai situs budaya yang patut dilindungi.

Ketua RT 12,Kelurahan Bakunase Epi Un, mengungkapkan bahwa di wilayah yang dipimpinnya terdapat tiga bunker tua, namun baru satu yang tercatat secara resmi sebagai situs budaya.

Dua lainnya belum terdata karena di atasnya telah berdiri bangunan milik warga.

Ia berharap Pemerintah Kota Kupang melalui instansi terkait dapat melakukan pendataan ulang agar semua situs bersejarah yang masih ada bisa dilindungi.

“Sudah beberapa kali saya sampaikan dalam pertemuan, karena di lingkungan kami ada tiga bunker, tetapi yang baru dicatat satu. Dua lainnya belum, karena sudah ada bangunan di atasnya oleh pemilik lahan. Tapi saya rasa ini penting untuk dilindungi. Harus ada regulasi perlindungan yang jelas, termasuk dasar hukumnya, seperti Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya,” jelas Epi Un.

Ia juga menyebutkan bahwa pemilik lahan tempat bunker berada di RT 12 yakni, Iwan Surya, telah diberi informasi bahwa di lokasi tersebut akan dipasang papan tanda sebagai situs cagar budaya, sebagai upaya awal pelestarian.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang melalui Kepala Bidang Kebudayaan, Serlin Marlis Tiro, S.STP, MM, menegaskan komitmen pemerintah dalam melindungi dan melestarikan situs-situs bersejarah di wilayah Kota Kupang.

“Kami terus melakukan pendataan terhadap situs-situs budaya yang ada di Kota Kupang. Ini penting bukan hanya untuk pelestarian sejarah, tetapi juga sebagai aset budaya daerah yang bisa diwariskan kepada generasi mendatang. Kami juga akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, termasuk pemilik lahan, agar proses perlindungan situs ini bisa berjalan baik,” ungkap Serlin.

Pemerintah Kota Kupang melalui Bidang Kebudayaan juga mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga dan melaporkan keberadaan situs bersejarah di sekitar mereka.

Diharapkan dengan adanya pendataan yang menyeluruh serta regulasi yang kuat, situs-situs seperti bunker di Kelurahan Bakunase ini dapat dilestarikan sebagai bagian dari identitas sejarah Kota Kupang.(goe)




Dukung Pelestarian Warisan Budaya, 12 Unit Papan Tanda Pengenal Situs Budaya Diserahkan ke Disdikbud Kota Kupang

 

Kupang,nwartapedia.com  – Upaya pelestarian warisan budaya di Kota Kupang kembali mendapat dukungan nyata. Sebanyak 12 unit papan tanda pengenal atau plang untuk situs budaya resmi diserahkan oleh pihak ketiga penyedia barang kepada Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang.

Penyerahan ini dilakukan oleh penyedia barang, Bapak Anang, sebagai bentuk kontribusi terhadap pelestarian nilai-nilai budaya dan sejarah lokal.

Dalam keterangannya, Bapak Anang mengungkapkan harapannya agar papan tanda pengenal ini dapat segera dipasang di masing-masing lokasi situs budaya yang telah teridentifikasi sebagai peninggalan bersejarah dan aset penting milik negara maupun daerah.

“Kami berharap plang-plang ini bisa segera digunakan di lokasi situs budaya. Fungsinya bukan hanya sebagai tanda pengenal, tapi juga sebagai bentuk penghargaan terhadap warisan budaya dan pengingat bagi masyarakat akan pentingnya menjaga aset sejarah ini,” ujar Bapak Anang.

Papan tanda pengenal tersebut dirancang khusus untuk menunjukkan identitas, nilai, serta informasi singkat mengenai situs budaya yang ada di wilayah Kota Kupang.

Keberadaan plang ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran publik terhadap pentingnya perlindungan situs-situs bersejarah.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang melalui Kepala Bidang Kebudayaan, Serlin Marlis Tiro, S.STP., M.M.,di ruang kerjanya Jumat (20/6) menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas dukungan dari pihak penyedia barang.

Ia menegaskan bahwa keberadaan papan tanda pengenal ini merupakan bagian penting dari program pelestarian budaya daerah.

“Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Anang dan tim yang telah menyediakan papan tanda ini. Ini adalah langkah kecil tapi sangat berarti dalam mendukung pelestarian situs-situs budaya di Kota Kupang,” kata Serlin.

Lebih lanjut, Serlin mengajak seluruh masyarakat Kota Kupang untuk turut berperan aktif menjaga dan melestarikan situs budaya yang ada.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat.

“Situs-situs budaya adalah warisan yang sangat penting dan bernilai, bukan hanya saksi sejarah, tapi juga identitas kita sebagai bangsa. Mari kita jaga bersama-sama,” tegasnya.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang melalui Bidang Kebudayaan akan segera menjadwalkan pemasangan papan tanda pengenal tersebut di sejumlah titik situs budaya yang telah terdata.

Dengan demikian, diharapkan upaya ini menjadi langkah awal menuju pengelolaan situs budaya yang lebih tertib, informatif, dan berkelanjutan.(goe)




Kadis Dikbud dan Sekretaris Dinas Pimpin Kerja Bakti Bersihkan Sampah Plastik di Taman Nostalgia

 

Kupang,nwartapedia.com  – Dalam rangka mendukung visi Kota Kupang yang bersih, indah, dan harmonis, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang kembali menggelar aksi kerja bakti di kawasan Taman Nostalgia, Jalan Frans Seda. Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Drs. Dumuliahi Djami, didampingi Sekretaris Dinas, Ambo.

Aksi bersih-bersih ini bukanlah kegiatan sekali waktu, melainkan rutin dilaksanakan hampir setiap Jumat sebagai bentuk nyata dukungan terhadap program kebersihan yang dicanangkan oleh Wali Kota Kupang, dr. Cristian Widodo, dan Wakil Wali Kota Serena Francis.

Selain melibatkan pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, kerja bakti ini juga menggerakkan ASN dari berbagai instansi untuk turun langsung ke lapangan. Mereka bekerja bersama-sama membersihkan sampah, terutama sampah plastik yang selama ini menjadi ancaman utama bagi kebersihan dan keindahan kota.

“Kerja bakti ini adalah bagian dari komitmen kami untuk mewujudkan Kota Kupang yang tidak hanya bersih, tetapi juga asri dan nyaman. Sampah plastik harus menjadi perhatian khusus karena dampaknya sangat besar terhadap lingkungan dan wajah kota,” ujar Drs. Dumuliahi Djami.

Ia menambahkan bahwa aksi bersih-bersih ini akan terus dijadwalkan secara berkala di sejumlah titik strategis di kota, guna memastikan dampak positifnya bisa dirasakan luas oleh masyarakat.

Taman Nostalgia sendiri dipilih sebagai lokasi pembersihan karena merupakan ruang publik favorit warga. Dengan lingkungan yang bersih dan bebas sampah, taman ini diharapkan mampu menjadi tempat rekreasi yang sehat dan menyenangkan bagi berbagai kalangan.

Usai kegiatan, suasana keakraban terlihat jelas saat para ASN menikmati santapan ringan dari pedagang kaki lima setempat, Salome Kereta Biru milik Mas Umar.

“Ini hanya bentuk kecil dukungan kami untuk para bapak dan ibu ASN yang sudah bekerja keras. Semoga semangat kebersamaan ini terus terjaga,” tutur Mas Umar.

Kegiatan kerja bakti ini tak hanya memperindah wajah kota, tetapi juga memperkuat nilai gotong royong dan kepedulian sosial di kalangan ASN.

Dengan langkah-langkah sederhana namun konsisten, Kota Kupang terus melangkah maju menjadi kota yang sehat, bersih, dan ramah lingkungan untuk semua. (goe)




Goris Takene: ASN dan Penulis Sunyi yang Mengabdi Tanpa Pamrih

 

Kupang,nwartapedia.com  – “Selalu ada harapan bagi orang yang selalu berdoa dan bekerja.” Kalimat sederhana itu bukan sekadar semboyan hidup bagi Gregorius Takene yang lebih dikenal sebagai Goris Takene melainkan prinsip yang membentuk seluruh perjalanan hidup dan pengabdiannya, baik di tengah masyarakat, gereja, maupun dunia jurnalisme Nusa Tenggara Timur (NTT).

Meski namanya tidak akrab di panggung nasional, Goris adalah sosok yang cukup disegani di lingkup jurnalis lokal NTT.

Tulisan tulisannya kerap menghadirkan perspektif yang mendalam dan menyentuh akar persoalan.

Ia bukan tipe jurnalis yang mengejar sensasi, tetapi memilih untuk menggali dan merawat makna dari setiap peristiwa yang ia tulis.

Dari Anak Kampung ke Ruang-Ruang Redaksi

Lahir dan besar sebagai anak sulung dari delapan bersaudara, Goris menapaki jalan hidup yang tidak mudah.

Ia memulai pendidikan dasarnya di SD Inpres Bello, lalu melanjutkan ke SMP Negeri 1 Kefamenanu, sebelum menyelesaikan pendidikan menengahnya di SMP Negeri Eahun, Rote Timur. Masa SMA ia habiskan di SMAN 1 Lewoleba, Lembata.

Berbekal tekad dan semangat belajar tinggi, ia melanjutkan pendidikan tinggi di salah satu Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ternama di Kota Kupang, dan berhasil meraih gelar Sarjana Ekonomi.

Namun, Goris bukanlah tipe yang berdiam diri dalam kenyamanan gelar dan jabatan.

Sejak muda, ia telah menjelajah hampir seluruh kabupaten di NTT bukan untuk pelesiran, tapi dalam misi jurnalistik dan pekerjaan.

Sebagai wartawan lokal, ia pernah mengabdi di sejumlah media di Kupang dan wilayah lainnya di NTT.

Pengabdi yang Diam-Diam Bekerja

Kini, Goris Takene menjabat sebagai Ketua RW 003 di Kelurahan Bello, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang.

Ia juga merupakan aparatur sipil negara (ASN) aktif yang bekerja di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang.

Meski memegang jabatan publik, Goris bukanlah sosok yang gemar tampil. Ia lebih memilih bekerja dalam diam, membantu warga tanpa pamrih, bahkan tanpa pernah bertanya soal imbalan.

“Sekali saya membantu, saya tidak menghitung berapa saya dibayar. Karena bagi saya, yang utama adalah ketulusan,” ujarnya suatu kali kepada rekan sejawat.

Gaya kepemimpinannya mencerminkan karakter pribadinya: tegas namun tenang, sederhana namun berdampak.

Ia adalah sosok yang, jika sudah berkata “ya”, akan bekerja tanpa menoleh ke belakang.

Namun, ia juga dikenal sebagai pribadi yang memegang prinsip sekali dikecewakan, kepercayaan sulit dipulihkan.

Antara Gereja, Masyarakat, dan Kesunyian Tulisan

Selain aktif di masyarakat, Goris juga dikenal sebagai pribadi yang aktif dalam pelayanan di lingkungan gereja Katolik lokal.

Ia menjadi penghubung yang kuat antara nilai-nilai spiritual, sosial, dan profesional. Kepercayaannya bahwa “doa dan kerja” adalah fondasi harapan telah menjadikannya figur teladan yang dicintai, meski tak banyak disorot media.

Di dunia yang kerap diramaikan oleh pencitraan, Goris memilih berjalan dalam senyap—menulis, membantu, dan membangun dengan hati.

Ia bukan selebritas publik, tapi cahaya kecil yang menyala di tengah-tengah masyarakat, terutama bagi mereka yang benar-benar mengenalnya.

Penutup: Sosok yang Tetap Menjadi Harapan

Goris Takene adalah potret langka dari seorang pelayan masyarakat yang tidak mengincar pujian. Ia bekerja karena panggilan hati, bukan ambisi pribadi.

Dalam diamnya, ia terus menggerakkan perubahan. Dalam keteguhannya, ia menjadi harapan yang nyata bagi warga, jurnalis muda, dan siapa pun yang percaya bahwa hidup ini bisa dijalani dengan ketulusan dan iman.
(goe)




Siswa Libur, Guru Tetap Bekerja: Dinas Pendidikan Kota Kupang Tegaskan Kewajiban Persiapan Modul Ajar Tetap Berlaku

 

Kupang,nwartapedia.com  – Meskipun peserta didik di seluruh jenjang pendidikan di Kota Kupang saat ini tengah menikmati masa libur sekolah, para guru tetap memiliki tanggung jawab profesional yang harus dijalankan.

Hal ini ditegaskan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Drs. Dumuliahi Djami, dalam keterangannya kepada media, Rabu (19/6).

Drs. Dumuliahi Djami menjelaskan bahwa masa libur sekolah bagi siswa bukan berarti guru juga mendapatkan libur penuh. Justru sebaliknya, guru tetap memiliki kewajiban untuk mempersiapkan perangkat ajar sebagai bagian dari tugas profesional mereka.

Perangkat ajar ini meliputi penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), silabus, bahan ajar, dan evaluasi yang akan digunakan pada semester atau tahun ajaran berikutnya 2025/2026.

“Walaupun siswa mendapatkan libur sekolah, guru tidak sepenuhnya libur. Mereka harus tetap bekerja mempersiapkan materi pembelajaran yang berkualitas agar saat pembelajaran kembali dimulai, proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan optimal dan efektif,” ujar Dumuliahi.

Menurutnya, persiapan yang matang ini sangat penting untuk meningkatkan mutu pendidikan di Kota Kupang.

Dengan kesiapan guru dalam menyusun perangkat ajar, diharapkan siswa dapat menerima pembelajaran yang lebih terstruktur dan sesuai dengan standar kurikulum nasional.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan ini juga menambahkan bahwa masa libur sekolah dapat dimanfaatkan oleh guru sebagai waktu untuk melakukan refleksi, evaluasi terhadap metode pengajaran sebelumnya, serta melakukan inovasi dalam penyusunan materi ajar.

“Kami mendorong para guru agar tidak melihat masa libur sebagai waktu berhenti bekerja, melainkan sebagai kesempatan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pengajaran. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang pun selalu siap memberikan dukungan berupa pelatihan dan bimbingan teknis untuk mendukung hal tersebut,” kata Dumuliahi.

Lebih lanjut, Dumuliahi mengingatkan seluruh sekolah agar memastikan seluruh perangkat ajar sudah lengkap dan siap sebelum tahun ajaran baru dimulai.

Hal ini untuk meminimalisasi hambatan dalam proses pembelajaran dan memastikan bahwa setiap siswa mendapatkan haknya untuk belajar dengan baik.

Kebijakan ini diambil sebagai bagian dari upaya serius Pemerintah Kota Kupang dalam meningkatkan mutu pendidikan serta profesionalisme tenaga pendidik di Kota Kupang.

Dengan adanya persiapan yang intensif dari para guru selama masa libur sekolah, diharapkan kualitas pendidikan di Kota Kupang dapat terus meningkat secara signifikan.(goe)




Kursus Menjahit dan Komputer di Kupang Dimulai, Peserta Diharap Serius

 

Kupang,nwartapedia.com  – Kegiatan kursus menjahit dan komputer di Sanggar Kegiatan Belajar (SPNF SKB) Kota Kupang resmi dibuka dengan harapan peserta dapat serius mengikuti pelatihan agar keterampilan yang diperoleh bisa menjadi bekal masa depan.

Ketua panitia kursus, Yoseph Wilhelmus, S.Pd., menjelaskan bahwa kursus ini bertujuan membekali peserta dengan keterampilan praktis dalam menjahit serta mengoperasikan komputer. Selain membuka peluang usaha di bidang fashion dan teknologi, kursus ini juga diharapkan mampu meningkatkan kreativitas dan rasa percaya diri peserta.

“Kursus ini ditujukan bagi masyarakat Kota Kupang yang belum memiliki keterampilan, berlangsung selama satu bulan, dari tanggal 19 Juni hingga 19 Juli 2025,” ujar Yoseph.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Drs. Dumuliahi Djami, menekankan pentingnya keterampilan menjahit dan komputer sebagai modal usaha. Ia juga meminta fasilitator untuk memastikan peserta memahami cara mengoperasikan mesin jahit dan komputer sejak awal.

“Perkembangan teknologi komputer, termasuk kecerdasan buatan (AI), terus berkembang. Oleh karena itu, peserta diharapkan memanfaatkan kesempatan ini dengan sungguh-sungguh, agar tidak hanya sekadar ikut, tapi benar-benar menguasai keterampilannya,” tambah Drs. Dumuliahi Djami.

Jumlah peserta yang mengikuti kursus menjahit sebanyak 15 orang, sementara kursus komputer diikuti oleh 13 peserta.(goe)




Dana Operasional Cair Lebih Awal, Ketua RT Apresiasi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Kupang

 

Kupang,nwartapedia.com — Pemerintah Kota Kupang kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pelayanan di tingkat lingkungan dengan menyerahkan dana operasional bagi RT, RW, dan lembaga kemasyarakatan se-Kecamatan Maulafa lebih awal dari biasanya.

Penyerahan dilakukan secara simbolis oleh Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Kota Kupang, Ignas Lega, di halaman Kantor Camat Maulafa, Selasa (17/6/2025), usai penutupan Pekan Pelayanan Pajak Kecamatan Maulafa.

Dalam sambutannya, Pj Sekda Ignas Lega menegaskan bahwa dana operasional ini merupakan bentuk perhatian Pemerintah Kota terhadap peran penting pengurus lingkungan dalam memperkuat pelayanan publik di akar rumput.

“Kami berharap dana ini dapat mendorong semangat pelayanan serta menunjang pelaksanaan tugas-tugas RT, RW, LPM, Dasawisma, Kelurahan Siaga, dan Karang Taruna di masing-masing wilayah,” jelas Ignas.

Tahun ini, besaran dana operasional yang diterima juga mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, dengan rincian sebagai berikut:

Ketua RT: Rp5.750.000

Ketua RW: Rp5.500.000

Ketua LPM: Rp7.500.000

Dasawisma: Rp2.750.000

Kelurahan Siaga: Rp3.500.000

Karang Taruna: Rp4.000.000

Pencairan dana yang dilakukan lebih awal dari biasanya mendapat apresiasi dari para penerima. 

Aleks Kedo, Ketua RT 25 Kelurahan Kolhua, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pimpinan daerah.

“Tahun ini pencairan dilakukan lebih awal, yaitu pada bulan Juni dan Juli. Selain lebih cepat, jumlahnya juga meningkat. Ini menunjukkan adanya perhatian dan kinerja yang baik dari Pemerintah Kota Kupang. Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Wali Kota Christian Widodo dan Ibu Wakil Wali Kota Serena Francis,” ungkap Aleks.

Senada, Ketua RW 003 Kelurahan Bello, Goris Takene, menyebut dana tersebut akan sangat bermanfaat bagi berbagai program di lingkungan mereka.

“Kami akan manfaatkan dana ini untuk kegiatan sosial, pengembangan lingkungan, dan kebutuhan administrasi. Bantuan ini sangat mendukung tugas-tugas kami di masyarakat,” ujarnya.

Program penyaluran dana operasional ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Pemerintah Kota Kupang dalam memperkuat peran serta masyarakat dalam pembangunan berbasis lingkungan dan pelayanan publik yang inklusif serta merata. (goe)