Menteri Wihaji Luncurkan Gerakan Nasional Percepatan Penurunan Stunting dari Ujung Selatan Indonesia

 

Rote Ndao,nwartapedia.com  — Langit cerah mengiringi langkah Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN RI, Dr. Wihaji, saat menginjakkan kaki di Lapangan Bola Kaki Christian Dillak, Ba’a – Kabupaten Rote Ndao, dalam rangka membuka Puncak Pelayanan KB Serentak sekaligus meresmikan Rencana Aksi Konsorsium Perguruan Tinggi untuk NTT, Senin (23/6).

Kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-32, sekaligus menjadi tonggak penting dimulainya gerakan kolaboratif pentahelix untuk menurunkan angka stunting dan kemiskinan ekstrem di tanah air  dimulai dari provinsi kepulauan paling selatan Indonesia.

Turut mendampingi Menteri Wihaji, Pembina Dharma Wanita Persatuan Kemendukbangga/BKKBN RI Uni Wihaji, Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma, Bupati Rote Ndao Paulus Henuk, Wakil Bupati Apremoi D. Dethan, serta para pejabat tinggi pusat dan daerah lainnya.

Dalam sambutannya, Menteri Wihaji menegaskan dua tugas pokok yang diembannya sesuai amanat Presiden: pelayanan kependudukan dan pembangunan keluarga. Ia menyoroti pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai fase emas dalam pencegahan stunting.

“Kalau kita terlambat, dampaknya bisa permanen. IQ anak menurun, hanya 20 persen yang bisa diselamatkan setelah lewat 1000 HPK. Karena itu, negara harus hadir sejak dini, mendampingi ibu hamil, calon pengantin, hingga keluarga risiko stunting,” ujar Wihaji penuh penekanan.

Ia menyebut NTT sebagai provinsi yang strategis untuk menjadi model nasional percepatan penurunan stunting. Kolaborasi lintas sektor — dari pemerintah daerah, perguruan tinggi, swasta, hingga organisasi kemasyarakatan — terus diperkuat.

“Stunting ini musuh bersama. Kita harus keroyok bersama. Bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab seluruh bangsa,” tambahnya.

Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk, dalam laporannya mengungkapkan bahwa 8.110 dari 19.890 keluarga yang diverifikasi tahun 2024 masuk dalam kategori Keluarga Risiko Stunting (KRS).

Sementara itu, data Mei 2025 mencatat 1.843 balita stunting, atau 16,6 persen dari total balita. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan angka provinsi yang tercatat 32,4 persen (SSGI 2024), namun tetap lebih tinggi dari rata-rata nasional yang berada di angka 19,8 persen.

Untuk mendukung pencegahan kehamilan berisiko, Pemkab Rote Ndao melaksanakan pelayanan KB serentak di seluruh Puskesmas, menyasar 200 akseptor, termasuk 40 akseptor MKJP di Puskesmas Ba’a.

Henuk juga menyoroti kekurangan tenaga penyuluh KB (PLKB) di daerahnya. Dari 119 desa dan kelurahan, baru terdapat 26 penyuluh aktif. Ia berharap pemerintah pusat menambah formasi untuk memperkuat layanan KB dan pendampingan keluarga.

Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, dalam sambutannya dengan tegas menyatakan bahwa angka stunting di NTT masih tinggi, yaitu 37 persen, meski menurun dari tahun sebelumnya.

“Masih banyak keluarga yang mendahulukan beli rokok, sirih pinang, dan minuman keras daripada makanan bergizi. Ini bukan sekadar masalah ekonomi, tapi budaya konsumsi yang harus diubah melalui edukasi dan teladan,” tandasnya.

Ia menyebut, hanya dengan kampanye gizi yang masif, edukasi berkelanjutan, dan aksi nyata di lapangan, generasi NTT yang sehat dan cerdas dapat terwujud.

Sebagai bentuk penghargaan masyarakat adat Rote, Menteri Wihaji dianugerahi gelar adat “Mane Mana Lopolinu Ume’lo”, yang berarti Pangeran Pelindung Rumah Tangga. Gelar ini menjadi simbol komitmen kuat pemimpin nasional dalam menjaga ketahanan keluarga dari lini paling dasar.

Sebelumnya, Wihaji menegaskan bahwa kunjungannya ke Rote Ndao merupakan balasan atas undangan para kepala daerah NTT ke Jakarta pada Maret 2025 lalu, serta bagian dari strategi besar membangun Indonesia dari pinggiran melalui kolaborasi nyata.

Kegiatan ditutup dengan Pelepasan Kirab Bangga Kencana, serta Kick Off Kolaborasi Multipihak dalam percepatan penanganan stunting dan penghapusan kemiskinan ekstrem.

Berbagai bantuan konkret juga diberikan, di antaranya Bantuan nutrisi dan pengadaan air bersih dari BAZNAS,  Jamban Sehat dari Ikatan Penyuluh KB (IPeKB) Rote Ndao Dan Program GENTING (Gerakan Penurunan Stunting Terintegrasi) dari Bank Mandiri

Acara monumental ini juga dihadiri oleh Wamen Kependudukan Ratu Ayu Isana Bagoes Oka, para bupati dari kabupaten sekitar (secara daring), Deputi BKKBN RI, perwakilan perguruan tinggi, perbankan, dan keluarga risiko stunting.

Dengan semangat kebersamaan, kegiatan ini tak hanya menjadi peringatan Harganas, tapi juga menjadi tonggak awal perubahan besar dari Rote Ndao untuk Indonesia: membangun keluarga sehat, anak-anak kuat, dan masa depan tanpa stunting. ***




Harapan Pelestarian Situs Budaya Eks Pemakaman Belanda di Nunhila

 

Kupang,nwartapedia.com — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang melalui Bidang Kebudayaan melakukan pemasangan papan penanda Situs Budaya di lokasi eks pemakaman penjajahan Belanda yang terletak di Kelurahan Nunhila, Kecamatan Alak, Kota Kupang, pada Senin (23/6).

Kepala Bidang Kebudayaan, Serlin Marlis Tiro, S.STP., MM., dalam kunjungan tersebut mengimbau masyarakat sekitar dan pemerintah kelurahan untuk turut menjaga dan merawat situs bersejarah ini.

Ia menegaskan bahwa keberadaan eks pemakaman Belanda merupakan bagian penting dari memori sejarah Kota Kupang yang harus dihargai dan diwariskan kepada generasi mendatang.

“Ini bukan sekadar bekas makam, tapi juga saksi bisu sejarah kolonial yang pernah ada di wilayah ini. Kita harap ada kesadaran kolektif dari masyarakat untuk turut menjaga dan tidak membiarkan situs ini rusak atau terlupakan,” ujar Serlin.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Seksi Pelayanan Masyarakat Kelurahan Nunhila, Gabriel Apa, menyampaikan bahwa pihak kelurahan sudah mengimbau warga untuk menjaga dan membersihkan area tersebut, meski masih banyak kendala yang dihadapi.

“Kita sudah minta masyarakat untuk kerja bakti secara mandiri menjaga kebersihan lokasi ini. Tapi memang belum maksimal karena belum ada pagar pengaman. Padahal area ini kini juga sudah menjadi lokasi pemakaman umum bagi warga Kelurahan Nunhila, Fatufeto, bahkan dari kelurahan lain,” kata Gabriel.

Gabriel juga menyoroti pentingnya pengelolaan dan pengawasan terhadap lokasi tersebut agar tetap terjaga baik secara fisik maupun nilai historisnya.

Ia berharap ada perhatian lebih dari pemerintah kota untuk segera membangun pagar pengaman di sekitar lokasi eks pemakaman, yang dikenal dengan nama Kerkhof.

“Kami sudah pernah rapat lewat RT agar keluarga yang punya makam di sini bisa merawatnya masing-masing. Tapi pelaksanaannya belum maksimal. Jadi kami usul agar dibuat pagar agar lokasi lebih tertata dan tidak sembarang orang bisa masuk,” tutup Gabriel.

Pemasangan papan situs budaya ini diharapkan menjadi langkah awal menuju pengelolaan yang lebih baik terhadap warisan sejarah di wilayah Kota Kupang, sekaligus mengedukasi masyarakat akan pentingnya pelestarian nilai budaya dan sejarah lokal.(goe)




Pura Oebanata Ditetapkan sebagai Situs Budaya, Pemkot Kupang Pasang Tanda Pengenal

 

Kupang,nwartapedia.com  — Pemerintah Kota Kupang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan terus menunjukkan komitmennya dalam melestarikan warisan budaya lokal.

Salah satu langkah nyatanya adalah dengan pemasangan tanda pengenal situs budaya di Pura Oebanata, Kelurahan Fatubesi, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang.

Pemasangan tanda pengenal ini menandai pengakuan resmi Pura Oebanata sebagai situs cagar budaya penting di Kota Kupang.

Dikenal sebagai pura Hindu pertama dan tertua di Nusa Tenggara Timur, Pura Oebanata telah berdiri sejak tahun 1961 dan menjadi pusat spiritual serta simbol keberagaman di kota ini.

Tokoh pendiri sekaligus perintis pembangunan pura, Nyoman Ramia, menyambut hangat perhatian yang diberikan pemerintah.

Ia mengingat kembali awal berdirinya tempat ibadah ini, yang dulunya hanya berupa batu dan sering dijadikan tempat memancing.

“Saya sangat senang dengan perhatian dari Pemkot Kupang yang telah memasang tanda pengenal ini. Sudah sepantasnya pura ini dijaga dan dilestarikan karena ini pura tertua di NTT,” tutur Nyoman Ramia.

“Dulu tempat ini hanya batupia, dan saya sering memancing di sini karena tinggal di asrama Brimob yang tidak jauh dari lokasi ini.”tambahnya.

Sementara itu, Lurah Fatubesi Anak Agung G.S.M. Putra menegaskan pentingnya peran serta masyarakat dalam menjaga kelestarian situs budaya tersebut.

Menurutnya, keberadaan pura ini bukan hanya milik satu komunitas, tetapi menjadi bagian dari identitas budaya Kota Kupang.

“Yang paling penting adalah kerja sama dari masyarakat sekitar, RT, RW, LPM, serta umat Hindu sendiri, untuk menjaga kenyamanan dan keaslian tempat ibadah ini. Ini sudah menjadi bagian dari warisan budaya kota,” ujarnya.

Pura Oebanata tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah umat Hindu, tetapi juga menjadi saksi sejarah hidup yang menggambarkan keberagaman budaya dan toleransi antarumat beragama di Kota Kupang.

Dengan adanya penetapan sebagai situs budaya, diharapkan kesadaran kolektif untuk menjaga dan menghargai warisan leluhur semakin kuat di tengah masyarakat. (goe)




Bank Sampah “Lintas” SD Oeba 3 Gandeng Warga dan Kelurahan Fatubesi untuk Edukasi Sampah Sejak Dini

 

Kupang,nwartapedia.com — Kelurahan Fatubesi bersama SD Negeri Oeba 3 dan Bank Sampah Mutiara Timor Maulafa resmi membentuk sebuah program lingkungan bertajuk Lingkungan Nyaman Tanpa Sampah atau disingkat Lintas.

Program ini menempatkan sekolah sebagai pusat edukasi dan penanganan sampah berbasis komunitas.

Program Lintas diluncurkan dengan semangat kolaboratif yang melibatkan siswa, guru, orang tua, warga sekitar, dan pemerintah kelurahan.

Tujuannya adalah membangun kebiasaan memilah dan mengelola sampah sejak usia dini.

Kepala Kelurahan Fatubesi, Anak Agung G.S.M Putra, dalam pertemuan di ruang kerjanya pada Senin (23/6), menjelaskan bahwa SD Negeri Oeba 3 dipilih karena lokasinya yang strategis dan dekat dengan area padat aktivitas, termasuk tempat pemotongan hewan.

“Anak-anak kita ini lebih cepat tanggap. Lewat mereka, kita harapkan kebiasaan memilah dan membawa sampah dari rumah bisa menular ke orang tua dan lingkungan sekitar,” ungkapnya.

Dalam praktiknya, setiap siswa diminta membawa sampah anorganik dari rumah untuk dikumpulkan di sekolah.

Sampah tersebut kemudian ditimbang dan hasilnya dicatat dalam rekening sampah masing-masing anak, guru, atau warga yang tergabung dalam komunitas Bank Sampah Lintas Oeba 3.

Program ini mendapat dukungan penuh dari RT/RW se-Kelurahan Fatubesi dan diharapkan menjadi model edukasi lingkungan yang dapat direplikasi di sekolah lain di Kota Kupang.

Dengan memanfaatkan peran aktif anak-anak dan komunitas, program Lintas berupaya menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. (Goe)




Anak Binaan LPKA Kupang Terima Komuni Pertama di Paroki Kolhua, Jadi Momen Haru dan Bersejarah

 

Kupang,nwartapedia.com  — Suasana haru dan penuh makna menyelimuti Perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus di Paroki Santo Fransiskus dari Assisi, Kolhua, Kota Kupang.

Di antara 108 anak yang menerima Komuni Pertama pada Minggu pagi, satu sosok istimewa turut hadir: Mefi Melkianus Sae, anak binaan dari Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Kupang.

Keterlibatan Mefi dalam perayaan sakramen suci ini menjadi momen bersejarah, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi seluruh jajaran pembina, pendamping, dan keluarga besar LPKA.

Ia telah menjalani pembinaan rohani secara konsisten selama delapan bulan terakhir, termasuk bimbingan iman Katolik yang difasilitasi oleh petugas dari Kementerian Agama dan pembina internal lembaga.

“Anak-anak binaan punya hak yang sama dengan anak-anak lain di luar. Kami bersyukur karena Pastor Paroki Assisi membuka ruang dan melibatkan Mefi dalam perayaan sakral ini,” ujar Adeodatus, Kepala Seksi Pembinaan dan Wasmat LPKA Penfui Kupang, mewakili Kepala LPKA Lukas Laksana Frans.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Paroki Kolhua dan semua pihak yang telah mendukung.

“Tiga bulan terakhir, Mefi mendapat pendampingan khusus, termasuk menerima Sakramen Tobat dari Romo yang datang langsung ke LPKA. Hari ini, ia bergabung dengan 107 anak lainnya menerima Komuni Pertama secara terbuka di gereja,” ungkapnya.

Saat ini, ada delapan anak Katolik yang sedang menjalani pembinaan di LPKA Kupang. Dari jumlah tersebut, tujuh anak sudah menerima Komuni Pertama. Mefi menjadi satu-satunya peserta yang ikut tahun ini.

Proses ini juga melibatkan komunikasi intens dengan keluarga Mefi yang berada di Soe, agar seluruh tahapan berjalan dengan restu dan dukungan orangtua.

Momen ini menjadi bukti bahwa proses pembinaan anak di LPKA tidak hanya fokus pada aspek hukum dan sosial, tetapi juga memperhatikan dimensi spiritual.

Keterlibatan Gereja, Kementerian Agama, dan lembaga pembinaan ini menjadi contoh sinergi positif dalam merawat masa depan anak-anak, tanpa memandang latar belakang maupun status mereka. (Goe)




Warga Naikolan Minta Pemkot Pasang Lampu Penerangan di Situs Budaya Eks Tempat Pembakaran Kapur

 

Kupang, nwartapedia.com  – Warga Kelurahan Naikolan, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, meminta perhatian Pemerintah Kota Kupang untuk segera memasang lampu penerangan di sekitar bangunan tua eks tempat pembakaran batu kapur yang kini telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya.

Permintaan tersebut disampaikan oleh Jems Lakapu, warga RT 12 Kelurahan Naikolan, kepada media pada Sabtu (21/6).

Menurutnya, lokasi situs yang berada di lingkungan permukiman warga itu sangat gelap saat malam hari, sehingga berpotensi menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan dan kenyamanan masyarakat yang melintas atau beraktivitas di sekitarnya.

“Kami sangat menghargai penetapan bangunan tua ini sebagai situs budaya oleh pemerintah. Tapi sayangnya, di malam hari kawasan ini sangat gelap. Padahal tempat ini sudah menjadi bagian dari ruang publik yang sering dilintasi warga,” ujar Jems.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa situs eks tempat pembakaran batu kapur tersebut tidak hanya memiliki nilai sejarah yang tinggi, tetapi juga menjadi simbol penting bagi masyarakat lokal tentang jejak kehidupan masa lampau.

Karena itu, ia berharap pemerintah tidak hanya menetapkan situs tersebut secara administratif, tetapi juga memberikan perhatian dalam bentuk fasilitas pendukung seperti penerangan.

“Paling tidak ada satu atau dua lampu yang dipasang untuk menjaga keamanan. Ini juga bisa membuat situs ini terlihat lebih menarik dan layak dikunjungi, terutama di malam hari,” tambahnya.

Bangunan eks pembakaran batu kapur yang terletak di RT 12 RW 05 Kelurahan Naikolan ini merupakan warisan bersejarah yang digunakan pada masa lampau untuk memproduksi kapur secara tradisional.

Saat ini, bangunan tersebut telah ditetapkan sebagai situs budaya oleh Pemerintah Kota Kupang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Kebudayaan.

Warga berharap agar keberadaan situs budaya ini tidak hanya menjadi monumen bisu, tetapi juga dikelola secara baik agar bisa menjadi sarana edukasi sejarah bagi generasi muda dan mendukung pengembangan kawasan berbasis pelestarian budaya.

Pemerintah Kota Kupang diharapkan segera merespons aspirasi masyarakat ini dengan memasang fasilitas penerangan yang memadai di lokasi situs, sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian warisan sejarah daerah.(goe)




Saboak Resmi Diluncurkan, 40 UMKM Ramaikan Taman Nostalgia Setiap Akhir Pekan

 

Kupang,nwartapedia.com  — Pemerintah Kota Kupang meluncurkan program baru bertajuk Saboak (Sunday Market Buat Orang Kupang) di kawasan Taman Nostalgia, Sabtu (21/6/2025).

Kegiatan yang berlangsung setiap akhir pekan ini menghadirkan 40 pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang menawarkan beragam produk, mulai dari makanan khas hingga kain tenun bermotif lokal.

Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, yang hadir langsung dalam peluncuran kegiatan tersebut, menyampaikan apresiasi atas antusiasme warga Kota Kupang yang memadati Taman Nostalgia sejak Sabtu sore hingga Minggu pagi.

“Saya senang sekali melihat masyarakat begitu antusias. Terima kasih untuk semua yang sudah hadir. Ini bukti bahwa ruang publik memang dibutuhkan warga untuk berkumpul dan menikmati suasana kota,” ujar Wali Kota.

Menurutnya, revitalisasi Taman Nostalgia menjadi bagian dari visi Pemerintah Kota untuk menghadirkan ruang publik yang nyaman dan hidup.

“Membangun kota tidak selalu soal gedung-gedung mewah. Kita perlu tempat untuk bertemu, berbagi cerita, dan menciptakan kenangan bersama. Taman Nostalgia adalah simbol Kota Kupang sebagai Kota Kasih,” katanya.

Wali Kota juga mengapresiasi peran Wakil Wali Kota Kupang, Serena Francis, yang disebutnya sebagai inisiator kegiatan Sunday Market ini.

“Saboak ini adalah hasil kerja keras Ibu Wakil Wali Kota. Ini baru awal. Ke depan, kita akan kembangkan lagi dengan membangun area bermain anak, lintasan sepatu roda, dan fasilitas publik lainnya,” ungkapnya.

Selain menjadi ajang promosi UMKM, kegiatan ini juga didukung oleh sejumlah sponsor, termasuk Bank Indonesia, Bank Mandiri, Bank NTT, dan BRI.

Wakil Wali Kota Kupang, Serena Francis, menyampaikan terima kasih kepada seluruh sponsor dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang telah mendukung kelancaran pelaksanaan Sunday Market.

“Kami berharap kegiatan ini terus berkembang dan menjadi agenda tetap mingguan untuk menggerakkan ekonomi warga serta memperkuat solidaritas sosial masyarakat Kota Kupang,” ujar Serena.

Di akhir sambutannya, Wali Kota mengimbau seluruh pengunjung dan pelaku usaha untuk menjaga kebersihan taman.

“Kami sudah siapkan tempat sampah di berbagai titik. Mari kita jaga taman ini agar tetap bersih dan nyaman untuk semua,” pesannya. (MI)




Rustam, Anak dari Keluarga Non-Katolik Terima Komuni Pertama

 

Kupang,nwartapedia.com  – Perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus di Paroki Santo Fransiskus dari Assisi, Kolhua, Kota Kupang, Minggu (22/6), menjadi momen istimewa bagi 108 anak yang menerima Komuni Suci untuk pertama kalinya.

Dari jumlah itu, 55 anak berasal dari Stasi Santo Agustinus Bello, 52 anak dari Paroki Kolhua, dan satu anak dari Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Penfui.

Yang paling menarik perhatian adalah kehadiran Rustam One Tuan (13), satu-satunya peserta yang berasal dari keluarga non-Katolik.

Meskipun kedua orang tuanya dan keempat adiknya beragama Protestan, Rustam tampil mantap dan penuh semangat melangkah bersama teman-temannya menerima Sakramen Ekaristi Pertama.

Misa Kudus dipimpin oleh RD Dus Bone, Pastor Paroki Kolhua, didampingi RD Toni Kobesi selaku Pastor Rekan, dan imam tamu Pater Yustinus Tegu Wona, SVD.

Dalam homilinya, RD Dus Bone menekankan bahwa Komuni adalah puncak iman Katolik dan anak-anak merupakan harapan masa depan keluarga dan Gereja.

“Anak-anak harus mendapat tempat dalam hati Tuhan, baik melalui Gereja maupun dalam keluarga. Jangan ragu terhadap Ekaristi, sebab saat konsekrasi, tubuh dan darah Kristus sungguh hadir. Setelah menyambut-Nya, bawalah hati dan perilaku yang baik kepada sesama,” ujar RD Dus.

Perayaan ini semakin khusyuk dan meriah berkat persembahan lagu dari koor anak-anak SEKAMI Paroki Kolhua yang dipimpin oleh dirigen Nona Putri Kembo dan diiringi oleh organis Nus Selly Seng.(goe)




Esok Ratusan Anak Terima Komuni Pertama di Paroki Kolhua, Rustam One Tuan Jadi Sorotan karena Latar Belakang Keluarga Protestan

 

Kupang,nwartapedia.com  – Sebanyak 108 anak akan menerima Sakramen Ekaristi Pertama atau Komuni Suci Perdana dalam perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus yang berlangsung esok, Sabtu (21/6/2025), di Paroki Santo Fransiskus dari Assisi, Kolhua, Kota Kupang.

Momen ini menjadi penuh makna tidak hanya bagi anak-anak dan keluarga mereka, tetapi juga bagi umat paroki secara keseluruhan.

Yang menarik perhatian adalah kehadiran seorang anak bernama Rustam One Tuan, yang menjadi satu-satunya peserta komuni perdana dari keluarga non-Katolik.

Kedua orang tuanya serta empat adik kandungnya diketahui beragama Kristen Protestan.

Namun, Rustam dengan kesadaran pribadi memilih memeluk iman Katolik dan telah menjalani pembaptisan secara resmi pada malam Paskah tahun ini, April 2025.

Menurut penjelasan Goris Takene, salah satu anggota keluarga Rustam, keputusan tersebut diambil dengan persetujuan dan dukungan penuh dari kedua orang tua serta keluarga besar.

“Rustam memang sejak lama sudah aktif dalam kegiatan gereja Katolik karena tinggal bersama tantenya, Ibu Yohana Bistolen, dan neneknya, Oma Petronela Takene, yang keduanya Katolik. Ia tumbuh dalam lingkungan yang membentuk imannya secara alami,” jelas Goris kepada media, Jumat (20/6).

Lebih lanjut, Goris menambahkan bahwa hal ini mencerminkan tingginya nilai toleransi antara keluarga besar Takene dan keluarga besar Tuan.

“Kami bersyukur bahwa dalam perbedaan iman pun, kasih dan dukungan tidak berkurang. Rustam diberi ruang untuk menentukan jalannya sendiri, dan itu dihormati sepenuhnya oleh kedua belah pihak.”tambahnya.

Rustam One Tuan sendiri menyatakan rasa syukur dan sukacitanya menjelang penerimaan komuni perdana.

“Saya senang menjadi Katolik dan siap menerima tubuh dan darah Kristus untuk pertama kali. Saya ingin hidup dalam ajaran yang saya pilih dengan hati,” ujarnya dengan antusias.

Perayaan Ekaristi besok akan dipimpin langsung oleh Pastor Paroki Kolhua dan dihadiri ratusan umat, keluarga, serta para katekis yang telah membina para calon penerima komuni.

Momen ini menjadi wujud nyata pertumbuhan iman anak-anak dan juga cermin indahnya keberagaman yang dirawat dengan cinta kasih di tengah masyarakat Kota Kupang.(goe)




Bangunan Kuno Eks Tempat Pembakaran Kapur di Naikolan Ditetapkan Jadi Situs Budaya

 

Kupang,nwartapedia.com  – Sebuah bangunan kuno bekas tempat pembakaran batu kapur yang berada di RT 12 RW 05, Kelurahan Naikolan, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, kini resmi ditetapkan sebagai situs budaya oleh Pemerintah Kota Kupang.

Penetapan ini dilakukan sebagai bentuk penghargaan terhadap nilai sejarah dan budaya lokal yang terkandung dalam bangunan tersebut.

Bangunan tersebut diperkirakan telah berdiri sejak tahun 1942, dibangun di atas lahan milik warga atas nama almarhum Sender Lele, yang juga merupakan pelaku produksi kapur pada masanya.

Saat itu, kapur digunakan sebagai bahan bangunan pengganti semen dan menjadi komoditas penting dalam pembangunan rumah-rumah warga serta beberapa fasilitas umum di wilayah Kota Kupang.

Warisan Industri Rakyat

Menurut Lurah Naikolan, Nur M. Tasrap, bangunan ini menyimpan nilai sejarah tinggi dan layak dijaga keberadaannya.

“Bangunan ini menjadi bukti konkret bahwa masyarakat kita dulu memiliki kreativitas tinggi dalam memanfaatkan sumber daya lokal untuk mendukung pembangunan. Sebelum hadirnya Semen Kupang di era 1980-an, kapur dari tempat ini menjadi andalan warga,” ungkap Nur.

Ia menambahkan bahwa pelestarian bangunan tersebut menjadi bagian dari upaya menanamkan nilai sejarah kepada generasi muda agar tidak melupakan akar budaya dan warisan lokal.

Dukungan dari Warga dan Tokoh Masyarakat

Dukungan terhadap pelestarian situs ini juga datang dari tokoh masyarakat setempat, Ketua RT 09 RW 04, Rivai Djaha.

Menurutnya, bangunan pembakaran kapur tersebut bukan hanya saksi bisu sejarah pembangunan lokal, tetapi juga cerminan semangat gotong royong dan inovasi warga masa lalu.

“Bangunan ini perlu dilestarikan dan dirawat. Ini bukan sekadar tembok tua, tapi bagian dari identitas Naikolan,” ujarnya.

Senada dengan itu, Silfester Suki, warga Kelurahan Naikolan yang masih mengingat cerita dari orang tua dan kakeknya, menjelaskan bahwa batu kapur yang digunakan pada masa itu diperoleh dari penggalian di sekitar wilayah Naikolan.

Para pekerja lokal mengolahnya secara manual sebelum akhirnya dibakar untuk menghasilkan kapur siap pakai.

“Dulu ini tempat yang ramai, setiap hari ada kegiatan pembakaran,” kenangnya.

Pemerintah Pasang Tanda Situs Budaya

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Serlis Marlis Tiro, S.STP., MM, menyatakan bahwa bangunan tersebut telah didata secara resmi sebagai bagian dari cagar budaya lokal.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah kota melalui bidang kebudayaan telah memasang papan tanda pengenal situs budaya sebagai langkah awal pelestarian fisik dan edukasi publik.

“Pemasangan papan pengenal ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam menjaga dan mempromosikan kekayaan budaya lokal. Bangunan ini bukan hanya penting untuk sejarah Naikolan, tapi juga menjadi bagian dari mozaik sejarah pembangunan Kota Kupang secara keseluruhan,” ujar Serlis.

Upaya Pelestarian Berkelanjutan

Pemerintah Kota Kupang terus berupaya mendorong identifikasi, pendataan, dan pelestarian berbagai situs sejarah dan budaya di wilayahnya.

Melalui kerja sama lintas sektor dan peran aktif masyarakat, pelestarian situs seperti ini diharapkan mampu memperkuat identitas kultural masyarakat kota sekaligus menjadi media edukasi bagi generasi muda.

Bangunan eks tempat pembakaran kapur di Naikolan kini menjadi simbol ketekunan, inovasi, dan kearifan lokal yang patut dijaga.

Kedepan, situs ini diharapkan dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah dan edukasi budaya yang bermanfaat bagi masyarakat luas.(goe)