Pemerintah Kota Kupang Pasang Papan Tanda Situs Budaya di Rumah Peninggalan Raja Nisnoni

 

Kupang,nwartapedia.com – Pemerintah Kota Kupang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kembali menunjukkan komitmennya dalam melestarikan situs budaya di wilayah Kota Kupang.

Salah satu bentuk nyata perhatian tersebut adalah pemasangan papan tanda pengenal situs budaya di rumah peninggalan Raja Nisnoni yang terletak di RT 007/RW 003, Kota Kupang.

Rumah bersejarah yang dibangun pada tahun 1935 ini merupakan peninggalan Raja Alfons Nisnoni dan hingga kini masih dirawat oleh keturunannya.

Alfons Nisnoni, cucu dari Raja Nisnoni, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas perhatian dari pemerintah Kota Kupang terhadap warisan leluhur mereka.

“Kami dari keluarga besar Raja Nisnoni sangat bangga dan berterima kasih karena pemerintah, khususnya Bapak Wali Kota Kupang dan jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, telah memberikan perhatian kepada situs budaya peninggalan leluhur kami. Ini menjadi bentuk penghargaan sekaligus dorongan bagi kami untuk terus menjaga dan melestarikan rumah bersejarah ini,” ungkap Alfons Nisnoni.

Ia juga menyatakan bahwa keluarga besar Nisnoni siap menjadi mitra pemerintah dalam menjaga dan merawat situs bersejarah tersebut demi generasi mendatang.

“Kami akan terus menjaga rumah ini dan menjadikannya sebagai bagian penting dari sejarah Kota Kupang. Terima kasih kepada Bapak Wali Kota dan seluruh pihak yang telah memberi perhatian besar terhadap situs budaya kami,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Serlin Marlis Tiro, S.STP., M.M., yang hadir dalam kegiatan pemasangan papan tanda tersebut menjelaskan bahwa pemasangan papan tanda ini merupakan simbol penting dalam pelestarian warisan budaya lokal.

“Pemasangan papan tanda pengenal ini adalah bentuk pengakuan dan perlindungan terhadap situs budaya. Ini bukan sekadar simbol, tetapi juga ajakan kepada masyarakat untuk ikut menjaga dan menghargai sejarah serta warisan nenek moyang kita,” ujar Serlin Marlis Tiro.

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program strategis pelestarian budaya yang dilaksanakan secara bertahap oleh Pemerintah Kota Kupang, dengan dukungan dari pihak-pihak terkait termasuk masyarakat adat dan ahli warisan budaya.

Dengan pemasangan papan tanda ini, Pemerintah Kota Kupang berharap agar masyarakat luas lebih sadar akan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan sejarah yang menjadi identitas dan kekayaan budaya daerah. (goe)




108 Anak di Paroki Kolhua dan Stasi Bello Akan Terima Komuni Suci Pertama di Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

 

Kupang,nwartapedia.com  – Sebanyak 108 orang anak dari Paroki Santo Fransiskus dari Assisi Kolhua dan Stasi Santo Agustinus Bello, Kota Kupang, akan menerima Komuni Suci untuk pertama kalinya pada hari Minggu, 22 Juni 2025, yang bertepatan dengan perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus dalam kalender liturgi Gereja Katolik.

Ketua Katekis Paroki Kolhua, Kaytanus Korbafo, mengungkapkan bahwa anak-anak ini telah menjalani masa pembinaan rohani yang intensif selama tiga bulan terakhir.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 55 anak berasal dari Stasi Bello, pusat Paroki Kolhua 52 dan LP 1 orang.

“Mereka sudah mengikuti pembinaan rohani secara teratur, termasuk doa Triduum dan persiapan pengakuan. Ini adalah tahap penting sebelum mereka menerima komuni pertama kalinya,” ujar Kaytanus di sela-sela kegiatan doa Triduum hari ketiga di Gereja Paroki Kolhua, Jumat sore (20/6).

Ia menambahkan, Komuni Pertama atau yang sering disebut sambut baru merupakan momen sakral bagi setiap umat Katolik.

Melalui penerimaan Tubuh dan Darah Kristus dalam rupa roti dan anggur, umat disatukan secara spiritual dengan Kristus dan menerima rahmat keselamatan.

“Ekaristi bukan sekadar simbol. Kita percaya bahwa hosti yang telah dikonsekrasi dalam Misa adalah sungguh-sungguh Tubuh dan Darah Kristus yang hadir secara nyata. Ini bukan hanya bentuk tradisi, tetapi inti iman Katolik,” tegasnya.

Salah satu anak yang akan menerima Komuni Suci Rustam One Tuan, seorang anak yang baru beberapa bulan lalu dibaptis Katolik setelah sebelumnya memeluk agama Kristen Protestan.

Meski orang tuanya bukan Katolik, Rustam diperbolehkan menjalani proses ini karena sejak lama tinggal bersama tante dan omanya yang beragama Katolik.

“Saya senang dan siap menerima Tubuh dan Darah Tuhan Yesus. Saya yang minta sendiri untuk dibaptis dan sambut baru. Orang tua saya tidak melarang karena saya yang ingin, bukan karena disuruh siapa-siapa,” ujar Rustam dengan polos, menampilkan semangat dan ketulusan hati seorang anak yang merindukan kedekatan dengan Sang Juru Selamat.

Perayaan Misa Komuni Pertama ini akan menjadi peristiwa penuh sukacita dan iman bagi umat di Paroki Kolhua dan Stasi Bello. Tidak hanya sebagai langkah awal dalam kehidupan sakramental anak-anak tersebut, tetapi juga sebagai pengingat bagi seluruh umat tentang pentingnya Ekaristi sebagai pusat kehidupan iman Katolik. (goe)




Situs Bunker Peninggalan Perang di Bakunase: Jejak Sejarah yang Perlu Dilindungi

 

Kupang,nwartapedia.com  – Di tengah perkembangan Kota Kupang yang terus tumbuh, jejak-jejak sejarah masa lalu masih tersimpan di sejumlah sudut kota Kupang, sperti bangunan rumah dan makam Raja Nisnoni, Bunker sejumlah bangunan lainsebagai cerita sejarah.

Bungker misalnya merupakan peninggalan perang dunia kedua tahun 1939. Bunker tersebut merupakan bangunan pertahanan militer di masa perang yang berada di RT 12 RW 04, Kelurahan Bakunase, Kecamatan Kota Raja Kota Kupang NTT.

Bangunan yang diperkirakan telah ada sejak tahun 1939 ini menjadi saksi bisu perjalanan sejarah yang kini mulai mendapat perhatian sebagai situs budaya yang patut dilindungi.

Ketua RT 12,Kelurahan Bakunase Epi Un, mengungkapkan bahwa di wilayah yang dipimpinnya terdapat tiga bunker tua, namun baru satu yang tercatat secara resmi sebagai situs budaya.

Dua lainnya belum terdata karena di atasnya telah berdiri bangunan milik warga.

Ia berharap Pemerintah Kota Kupang melalui instansi terkait dapat melakukan pendataan ulang agar semua situs bersejarah yang masih ada bisa dilindungi.

“Sudah beberapa kali saya sampaikan dalam pertemuan, karena di lingkungan kami ada tiga bunker, tetapi yang baru dicatat satu. Dua lainnya belum, karena sudah ada bangunan di atasnya oleh pemilik lahan. Tapi saya rasa ini penting untuk dilindungi. Harus ada regulasi perlindungan yang jelas, termasuk dasar hukumnya, seperti Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya,” jelas Epi Un.

Ia juga menyebutkan bahwa pemilik lahan tempat bunker berada di RT 12 yakni, Iwan Surya, telah diberi informasi bahwa di lokasi tersebut akan dipasang papan tanda sebagai situs cagar budaya, sebagai upaya awal pelestarian.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang melalui Kepala Bidang Kebudayaan, Serlin Marlis Tiro, S.STP, MM, menegaskan komitmen pemerintah dalam melindungi dan melestarikan situs-situs bersejarah di wilayah Kota Kupang.

“Kami terus melakukan pendataan terhadap situs-situs budaya yang ada di Kota Kupang. Ini penting bukan hanya untuk pelestarian sejarah, tetapi juga sebagai aset budaya daerah yang bisa diwariskan kepada generasi mendatang. Kami juga akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, termasuk pemilik lahan, agar proses perlindungan situs ini bisa berjalan baik,” ungkap Serlin.

Pemerintah Kota Kupang melalui Bidang Kebudayaan juga mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga dan melaporkan keberadaan situs bersejarah di sekitar mereka.

Diharapkan dengan adanya pendataan yang menyeluruh serta regulasi yang kuat, situs-situs seperti bunker di Kelurahan Bakunase ini dapat dilestarikan sebagai bagian dari identitas sejarah Kota Kupang.(goe)




Dukung Pelestarian Warisan Budaya, 12 Unit Papan Tanda Pengenal Situs Budaya Diserahkan ke Disdikbud Kota Kupang

 

Kupang,nwartapedia.com  – Upaya pelestarian warisan budaya di Kota Kupang kembali mendapat dukungan nyata. Sebanyak 12 unit papan tanda pengenal atau plang untuk situs budaya resmi diserahkan oleh pihak ketiga penyedia barang kepada Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang.

Penyerahan ini dilakukan oleh penyedia barang, Bapak Anang, sebagai bentuk kontribusi terhadap pelestarian nilai-nilai budaya dan sejarah lokal.

Dalam keterangannya, Bapak Anang mengungkapkan harapannya agar papan tanda pengenal ini dapat segera dipasang di masing-masing lokasi situs budaya yang telah teridentifikasi sebagai peninggalan bersejarah dan aset penting milik negara maupun daerah.

“Kami berharap plang-plang ini bisa segera digunakan di lokasi situs budaya. Fungsinya bukan hanya sebagai tanda pengenal, tapi juga sebagai bentuk penghargaan terhadap warisan budaya dan pengingat bagi masyarakat akan pentingnya menjaga aset sejarah ini,” ujar Bapak Anang.

Papan tanda pengenal tersebut dirancang khusus untuk menunjukkan identitas, nilai, serta informasi singkat mengenai situs budaya yang ada di wilayah Kota Kupang.

Keberadaan plang ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran publik terhadap pentingnya perlindungan situs-situs bersejarah.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang melalui Kepala Bidang Kebudayaan, Serlin Marlis Tiro, S.STP., M.M.,di ruang kerjanya Jumat (20/6) menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas dukungan dari pihak penyedia barang.

Ia menegaskan bahwa keberadaan papan tanda pengenal ini merupakan bagian penting dari program pelestarian budaya daerah.

“Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Anang dan tim yang telah menyediakan papan tanda ini. Ini adalah langkah kecil tapi sangat berarti dalam mendukung pelestarian situs-situs budaya di Kota Kupang,” kata Serlin.

Lebih lanjut, Serlin mengajak seluruh masyarakat Kota Kupang untuk turut berperan aktif menjaga dan melestarikan situs budaya yang ada.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat.

“Situs-situs budaya adalah warisan yang sangat penting dan bernilai, bukan hanya saksi sejarah, tapi juga identitas kita sebagai bangsa. Mari kita jaga bersama-sama,” tegasnya.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang melalui Bidang Kebudayaan akan segera menjadwalkan pemasangan papan tanda pengenal tersebut di sejumlah titik situs budaya yang telah terdata.

Dengan demikian, diharapkan upaya ini menjadi langkah awal menuju pengelolaan situs budaya yang lebih tertib, informatif, dan berkelanjutan.(goe)




Kadis Dikbud dan Sekretaris Dinas Pimpin Kerja Bakti Bersihkan Sampah Plastik di Taman Nostalgia

 

Kupang,nwartapedia.com  – Dalam rangka mendukung visi Kota Kupang yang bersih, indah, dan harmonis, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang kembali menggelar aksi kerja bakti di kawasan Taman Nostalgia, Jalan Frans Seda. Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Drs. Dumuliahi Djami, didampingi Sekretaris Dinas, Ambo.

Aksi bersih-bersih ini bukanlah kegiatan sekali waktu, melainkan rutin dilaksanakan hampir setiap Jumat sebagai bentuk nyata dukungan terhadap program kebersihan yang dicanangkan oleh Wali Kota Kupang, dr. Cristian Widodo, dan Wakil Wali Kota Serena Francis.

Selain melibatkan pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, kerja bakti ini juga menggerakkan ASN dari berbagai instansi untuk turun langsung ke lapangan. Mereka bekerja bersama-sama membersihkan sampah, terutama sampah plastik yang selama ini menjadi ancaman utama bagi kebersihan dan keindahan kota.

“Kerja bakti ini adalah bagian dari komitmen kami untuk mewujudkan Kota Kupang yang tidak hanya bersih, tetapi juga asri dan nyaman. Sampah plastik harus menjadi perhatian khusus karena dampaknya sangat besar terhadap lingkungan dan wajah kota,” ujar Drs. Dumuliahi Djami.

Ia menambahkan bahwa aksi bersih-bersih ini akan terus dijadwalkan secara berkala di sejumlah titik strategis di kota, guna memastikan dampak positifnya bisa dirasakan luas oleh masyarakat.

Taman Nostalgia sendiri dipilih sebagai lokasi pembersihan karena merupakan ruang publik favorit warga. Dengan lingkungan yang bersih dan bebas sampah, taman ini diharapkan mampu menjadi tempat rekreasi yang sehat dan menyenangkan bagi berbagai kalangan.

Usai kegiatan, suasana keakraban terlihat jelas saat para ASN menikmati santapan ringan dari pedagang kaki lima setempat, Salome Kereta Biru milik Mas Umar.

“Ini hanya bentuk kecil dukungan kami untuk para bapak dan ibu ASN yang sudah bekerja keras. Semoga semangat kebersamaan ini terus terjaga,” tutur Mas Umar.

Kegiatan kerja bakti ini tak hanya memperindah wajah kota, tetapi juga memperkuat nilai gotong royong dan kepedulian sosial di kalangan ASN.

Dengan langkah-langkah sederhana namun konsisten, Kota Kupang terus melangkah maju menjadi kota yang sehat, bersih, dan ramah lingkungan untuk semua. (goe)