Wagub NTT Pantau Pembangunan Rumah Susun di Seminari Mataloko

Bajawa, mwartapedia.com  –  Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi (JNS) memantau perkembangan pembangunan Rumah Susun (Rusun) untuk asrama di Seminari Santo Yohanes Berkhmans Mataloko, Kabupaten Ngada Sabtu (9/1). 

Rusun Seminari Mataloko ini mulai dibangun sejak 5 Mei 2021 yang ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Wagub Nae Soi. 

Turut mendampingi Wagub Josef Nae Soi pada kesempatan tersebut, Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTT, Ibu Maria Fransisca Djogo, Bupati Ngada bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Ngada, Praeses Seminari Mataloko, Romo Martinus Ua dan beberapa romo pengajar Seminari Mataloko. 

Wagub JNS terlihat sangat gembira dan puas  dengan perkembangan pembangunan Rusun tersebut.

“Semoga rusun yang megah ini dapat menyemangati para seminaris (siswa seminari,red) untuk semakin giat dalam belajar  dan   teguh dalam panggilannya,” kata Wagub Nae Soi. 

Dalam kesempatan tersebut, Praeses Seminari Mataloko menyampaikan beberapa hal yang perlu dilengkapi berupa beberapa kelengkapan ruangan dan sumur bor. 

Menanggapi hal tersebut Wagub langsung menghubungi Kepala Balai Pelaksana Penyedia Perumahan Wilayah Nusa Tenggara II, Jublina Bunga. 

“Kementerian PUPR melalui Balai Pelaksana Penyedia Perumahan akan segera melengkapi kekurangan tersebut sehingga gedung ini dapat  segera diresmikan dan dimanfaatkan,” jelas Wagub Nae Soi. 

Rusun untuk asrama Seminari Mataloko ini dibangun dengan dana APBN sebesar Rp. 14,7 miliar. (Biro aP/MI)





Wagub NTT Pantau Pembangunan Rumah Susun di Seminari Mataloko

Bajawa, mwartapedia.com  –  Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi (JNS) memantau perkembangan pembangunan Rumah Susun (Rusun) untuk asrama di Seminari Santo Yohanes Berkhmans Mataloko, Kabupaten Ngada Sabtu (9/1). 

Rusun Seminari Mataloko ini mulai dibangun sejak 5 Mei 2021 yang ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Wagub Nae Soi. 

Turut mendampingi Wagub Josef Nae Soi pada kesempatan tersebut, Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTT, Ibu Maria Fransisca Djogo, Bupati Ngada bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Ngada, Praeses Seminari Mataloko, Romo Martinus Ua dan beberapa romo pengajar Seminari Mataloko. 

Wagub JNS terlihat sangat gembira dan puas  dengan perkembangan pembangunan Rusun tersebut.

“Semoga rusun yang megah ini dapat menyemangati para seminaris (siswa seminari,red) untuk semakin giat dalam belajar  dan   teguh dalam panggilannya,” kata Wagub Nae Soi. 

Dalam kesempatan tersebut, Praeses Seminari Mataloko menyampaikan beberapa hal yang perlu dilengkapi berupa beberapa kelengkapan ruangan dan sumur bor. 

Menanggapi hal tersebut Wagub langsung menghubungi Kepala Balai Pelaksana Penyedia Perumahan Wilayah Nusa Tenggara II, Jublina Bunga. 

“Kementerian PUPR melalui Balai Pelaksana Penyedia Perumahan akan segera melengkapi kekurangan tersebut sehingga gedung ini dapat  segera diresmikan dan dimanfaatkan,” jelas Wagub Nae Soi. 

Rusun untuk asrama Seminari Mataloko ini dibangun dengan dana APBN sebesar Rp. 14,7 miliar. (Biro aP/MI)





Wagub NTT Pantau Pembangunan Rumah Susun di Seminari Mataloko

Bajawa, mwartapedia.com  –  Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi (JNS) memantau perkembangan pembangunan Rumah Susun (Rusun) untuk asrama di Seminari Santo Yohanes Berkhmans Mataloko, Kabupaten Ngada Sabtu (9/1). 

Rusun Seminari Mataloko ini mulai dibangun sejak 5 Mei 2021 yang ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Wagub Nae Soi. 

Turut mendampingi Wagub Josef Nae Soi pada kesempatan tersebut, Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTT, Ibu Maria Fransisca Djogo, Bupati Ngada bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Ngada, Praeses Seminari Mataloko, Romo Martinus Ua dan beberapa romo pengajar Seminari Mataloko. 

Wagub JNS terlihat sangat gembira dan puas  dengan perkembangan pembangunan Rusun tersebut.

“Semoga rusun yang megah ini dapat menyemangati para seminaris (siswa seminari,red) untuk semakin giat dalam belajar  dan   teguh dalam panggilannya,” kata Wagub Nae Soi. 

Dalam kesempatan tersebut, Praeses Seminari Mataloko menyampaikan beberapa hal yang perlu dilengkapi berupa beberapa kelengkapan ruangan dan sumur bor. 

Menanggapi hal tersebut Wagub langsung menghubungi Kepala Balai Pelaksana Penyedia Perumahan Wilayah Nusa Tenggara II, Jublina Bunga. 

“Kementerian PUPR melalui Balai Pelaksana Penyedia Perumahan akan segera melengkapi kekurangan tersebut sehingga gedung ini dapat  segera diresmikan dan dimanfaatkan,” jelas Wagub Nae Soi. 

Rusun untuk asrama Seminari Mataloko ini dibangun dengan dana APBN sebesar Rp. 14,7 miliar. (Biro aP/MI)





Dialog Danrem 161/WS dengan Tim Penanganan Stunting di Wilayah NTT

 

Kupang,mwartapedia.com –  Komandan Korem 161/Wira Sakti Brigjen TNI Iman Budiman, S.E., bersama para Kasi Kasrem 161/WS menerima Tim Penanganan Stunting di Wilayah NTT dan berdiskusi dengan dr. Elvine G., Sp. KJ bersama BKKBN yang bertempat di Lobi Makorem 161/WS Jln. W.J Lalamentik, Oebufu, Kota Kupang, Sabtu (09/04/2022).

Brigjen TNI Budiman menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang sudah hadir di Korem 161/WS dan para Kasi Kasrem 161/WS. 

“Pada hari ini saya mengucapkan terima kasih dan sengaja kita berkumpul dan berdiskusi singkat-singkat saja yang berkaitan dengan apa yang sering saya sampaikan bahwa dimanapun kita ditugaskan selalu bermanfaat bagi daerah setempat,” ungkapnya.

Ia menambahkan, Korem menyadari  bahwa untuk membuat tinggi badan anak-anak dan untuk mencegah stunting terjadi itu tidak sekedar di masa pertumbuhan mereka saja tetapi sudah jauh sebelumnya di mulai dari kandungan sampai persalinan dengan persiapan gizi yang memadai atau cadangan energi yang di butuhkan oleh orangtuanya masing-masing itu persoalannya.

“Kita membatasi persoalan-persoalan, sekian banyak persoalan yang sudah diketahui oleh BKKBN, kemudian Kodam IX/Udayana dalam hal ini Korem 161/Wira Sakti mencoba membantu dua saja dari sekian banyak persoalan”, paparnya.

Brigjen TNI Budimanjuga menjelaskan bahwa  yang pertama dilakukan Korem adalah penyiapan air bersih bersama dengan Kementerian-kementerian terkait dimulai dari Pompa Hidram dan Sumur Bor, kita dekatkan air ke pemukiman masyarakat yang selama ini masyarakat tinggal di perbukitan sementara air ada di lembah sehingga mereka mengaksesnya untuk sehari hari cukup terbatas tetapi sudah hampir 240 Pompa Hidram sudah terpasang se-Nusa Tenggara Timur (NTT). 

“Kenyataannya menyediakan air bersih untuk masyarakat di kampung walaupun sudah dekat tetapi tidak serta merta karena dari 14 titik yang sudah saya survey dan sudah berjalan dimanfaatkan tetapi konsumsi air minum per orangnya masih tetap di bawah standar, ternyata orang NTT itu minumnya di bawah setengah liter per orang per hari”, tandasnya.

Ditambahkan, yang ke dua protein, kekurangan konsumsi protein ini apabila protein yang kita maksud adalah hewan artinya daging berarti kita harus cari alternatif ; salah satu contoh anak umur 1 tahun atau 2 tahun itu membutuhkan protein dari daging hewan berapa kilogram.

“Dari kultur/budaya daerah sini kebiasaan masyarakat banyak beternak seperti babi maupun sapi namun itu bukan sebagai sumber protein akan tetapi itu merupakan sumber uang untuk kebutuhan sekolah dan lain lain, seperti itulah mindset atau gambaran di NTT ini,” ujarnya

Danrem menambahkan, Korem 161/WS bekerjasama dengan Dapur Kelor yang saat ini sedang berjalan dari rumah ke rumah bisa memanen daun kelor dan dikelola menjadi tepung. 

“Ini merupakan langkah-langkah untuk mengatasi kesulitan masyarakat dan kelor ini bisa setara dengan protein dan gizi, ini sungguh luar biasa”, tambahnya.

Ditempat yang sama dr. Elvine G., Sp. KJ., menyampaikan kemarin pihaknya sudah melihat langsung bagaimana sebenarnya di lokasi. 

“Kami bersama tim menuju TTS dan turun ke rumah-rumah dan menanyakan langsung ke anak-anak beserta ibunya, dari situ saya menanyakan baik pada ibunya maupun anaknya kalau makan pakai apa? Anak-anak menjawab makan nasi, terus saya tanya pakai apa lagi? Pakai air sayur dan ayam itupun sekali katanya,”tuturnya.

Ia menjelaskan hahwa sudah jadi kebiasaan orang sini, sekali itu sudah lama bisa-bisa 1 minggu sehingga hal ini harus benar-benar disosialisasikan dan di mulai dari tingkatan Desa supaya mereka paham bagaimana protein dan gizi yang harus kita konsumsi. 

“Barangkali nantinya dibantu oleh ibu-ibu Babinsa, semua perlu di evaluasi di setiap perkembangannya terutama ibu hamil. Saya sering webiner dengan ibu Persit, semoga ibu Babinsa bisa ikut sertakan dalam mengatasi stunting di NTT ini”, ucapnya.

Turut hadir pada kegiatan diskusi ini para Kasi Kasrem 161/WS, dr. Elvine G., Sp. KJ bersama Tim, Ibu-ibu Persit, Bapak Indras, Bapak Deddy, Dinkes Prov. NTT, BKKBN dan DP3AKB.

(Penrem/MI)




Dialog Danrem 161/WS dengan Tim Penanganan Stunting di Wilayah NTT

 

Kupang,mwartapedia.com –  Komandan Korem 161/Wira Sakti Brigjen TNI Iman Budiman, S.E., bersama para Kasi Kasrem 161/WS menerima Tim Penanganan Stunting di Wilayah NTT dan berdiskusi dengan dr. Elvine G., Sp. KJ bersama BKKBN yang bertempat di Lobi Makorem 161/WS Jln. W.J Lalamentik, Oebufu, Kota Kupang, Sabtu (09/04/2022).

Brigjen TNI Budiman menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang sudah hadir di Korem 161/WS dan para Kasi Kasrem 161/WS. 

“Pada hari ini saya mengucapkan terima kasih dan sengaja kita berkumpul dan berdiskusi singkat-singkat saja yang berkaitan dengan apa yang sering saya sampaikan bahwa dimanapun kita ditugaskan selalu bermanfaat bagi daerah setempat,” ungkapnya.

Ia menambahkan, Korem menyadari  bahwa untuk membuat tinggi badan anak-anak dan untuk mencegah stunting terjadi itu tidak sekedar di masa pertumbuhan mereka saja tetapi sudah jauh sebelumnya di mulai dari kandungan sampai persalinan dengan persiapan gizi yang memadai atau cadangan energi yang di butuhkan oleh orangtuanya masing-masing itu persoalannya.

“Kita membatasi persoalan-persoalan, sekian banyak persoalan yang sudah diketahui oleh BKKBN, kemudian Kodam IX/Udayana dalam hal ini Korem 161/Wira Sakti mencoba membantu dua saja dari sekian banyak persoalan”, paparnya.

Brigjen TNI Budimanjuga menjelaskan bahwa  yang pertama dilakukan Korem adalah penyiapan air bersih bersama dengan Kementerian-kementerian terkait dimulai dari Pompa Hidram dan Sumur Bor, kita dekatkan air ke pemukiman masyarakat yang selama ini masyarakat tinggal di perbukitan sementara air ada di lembah sehingga mereka mengaksesnya untuk sehari hari cukup terbatas tetapi sudah hampir 240 Pompa Hidram sudah terpasang se-Nusa Tenggara Timur (NTT). 

“Kenyataannya menyediakan air bersih untuk masyarakat di kampung walaupun sudah dekat tetapi tidak serta merta karena dari 14 titik yang sudah saya survey dan sudah berjalan dimanfaatkan tetapi konsumsi air minum per orangnya masih tetap di bawah standar, ternyata orang NTT itu minumnya di bawah setengah liter per orang per hari”, tandasnya.

Ditambahkan, yang ke dua protein, kekurangan konsumsi protein ini apabila protein yang kita maksud adalah hewan artinya daging berarti kita harus cari alternatif ; salah satu contoh anak umur 1 tahun atau 2 tahun itu membutuhkan protein dari daging hewan berapa kilogram.

“Dari kultur/budaya daerah sini kebiasaan masyarakat banyak beternak seperti babi maupun sapi namun itu bukan sebagai sumber protein akan tetapi itu merupakan sumber uang untuk kebutuhan sekolah dan lain lain, seperti itulah mindset atau gambaran di NTT ini,” ujarnya

Danrem menambahkan, Korem 161/WS bekerjasama dengan Dapur Kelor yang saat ini sedang berjalan dari rumah ke rumah bisa memanen daun kelor dan dikelola menjadi tepung. 

“Ini merupakan langkah-langkah untuk mengatasi kesulitan masyarakat dan kelor ini bisa setara dengan protein dan gizi, ini sungguh luar biasa”, tambahnya.

Ditempat yang sama dr. Elvine G., Sp. KJ., menyampaikan kemarin pihaknya sudah melihat langsung bagaimana sebenarnya di lokasi. 

“Kami bersama tim menuju TTS dan turun ke rumah-rumah dan menanyakan langsung ke anak-anak beserta ibunya, dari situ saya menanyakan baik pada ibunya maupun anaknya kalau makan pakai apa? Anak-anak menjawab makan nasi, terus saya tanya pakai apa lagi? Pakai air sayur dan ayam itupun sekali katanya,”tuturnya.

Ia menjelaskan hahwa sudah jadi kebiasaan orang sini, sekali itu sudah lama bisa-bisa 1 minggu sehingga hal ini harus benar-benar disosialisasikan dan di mulai dari tingkatan Desa supaya mereka paham bagaimana protein dan gizi yang harus kita konsumsi. 

“Barangkali nantinya dibantu oleh ibu-ibu Babinsa, semua perlu di evaluasi di setiap perkembangannya terutama ibu hamil. Saya sering webiner dengan ibu Persit, semoga ibu Babinsa bisa ikut sertakan dalam mengatasi stunting di NTT ini”, ucapnya.

Turut hadir pada kegiatan diskusi ini para Kasi Kasrem 161/WS, dr. Elvine G., Sp. KJ bersama Tim, Ibu-ibu Persit, Bapak Indras, Bapak Deddy, Dinkes Prov. NTT, BKKBN dan DP3AKB.

(Penrem/MI)




Dialog Danrem 161/WS dengan Tim Penanganan Stunting di Wilayah NTT

 

Kupang,mwartapedia.com –  Komandan Korem 161/Wira Sakti Brigjen TNI Iman Budiman, S.E., bersama para Kasi Kasrem 161/WS menerima Tim Penanganan Stunting di Wilayah NTT dan berdiskusi dengan dr. Elvine G., Sp. KJ bersama BKKBN yang bertempat di Lobi Makorem 161/WS Jln. W.J Lalamentik, Oebufu, Kota Kupang, Sabtu (09/04/2022).

Brigjen TNI Budiman menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang sudah hadir di Korem 161/WS dan para Kasi Kasrem 161/WS. 

“Pada hari ini saya mengucapkan terima kasih dan sengaja kita berkumpul dan berdiskusi singkat-singkat saja yang berkaitan dengan apa yang sering saya sampaikan bahwa dimanapun kita ditugaskan selalu bermanfaat bagi daerah setempat,” ungkapnya.

Ia menambahkan, Korem menyadari  bahwa untuk membuat tinggi badan anak-anak dan untuk mencegah stunting terjadi itu tidak sekedar di masa pertumbuhan mereka saja tetapi sudah jauh sebelumnya di mulai dari kandungan sampai persalinan dengan persiapan gizi yang memadai atau cadangan energi yang di butuhkan oleh orangtuanya masing-masing itu persoalannya.

“Kita membatasi persoalan-persoalan, sekian banyak persoalan yang sudah diketahui oleh BKKBN, kemudian Kodam IX/Udayana dalam hal ini Korem 161/Wira Sakti mencoba membantu dua saja dari sekian banyak persoalan”, paparnya.

Brigjen TNI Budimanjuga menjelaskan bahwa  yang pertama dilakukan Korem adalah penyiapan air bersih bersama dengan Kementerian-kementerian terkait dimulai dari Pompa Hidram dan Sumur Bor, kita dekatkan air ke pemukiman masyarakat yang selama ini masyarakat tinggal di perbukitan sementara air ada di lembah sehingga mereka mengaksesnya untuk sehari hari cukup terbatas tetapi sudah hampir 240 Pompa Hidram sudah terpasang se-Nusa Tenggara Timur (NTT). 

“Kenyataannya menyediakan air bersih untuk masyarakat di kampung walaupun sudah dekat tetapi tidak serta merta karena dari 14 titik yang sudah saya survey dan sudah berjalan dimanfaatkan tetapi konsumsi air minum per orangnya masih tetap di bawah standar, ternyata orang NTT itu minumnya di bawah setengah liter per orang per hari”, tandasnya.

Ditambahkan, yang ke dua protein, kekurangan konsumsi protein ini apabila protein yang kita maksud adalah hewan artinya daging berarti kita harus cari alternatif ; salah satu contoh anak umur 1 tahun atau 2 tahun itu membutuhkan protein dari daging hewan berapa kilogram.

“Dari kultur/budaya daerah sini kebiasaan masyarakat banyak beternak seperti babi maupun sapi namun itu bukan sebagai sumber protein akan tetapi itu merupakan sumber uang untuk kebutuhan sekolah dan lain lain, seperti itulah mindset atau gambaran di NTT ini,” ujarnya

Danrem menambahkan, Korem 161/WS bekerjasama dengan Dapur Kelor yang saat ini sedang berjalan dari rumah ke rumah bisa memanen daun kelor dan dikelola menjadi tepung. 

“Ini merupakan langkah-langkah untuk mengatasi kesulitan masyarakat dan kelor ini bisa setara dengan protein dan gizi, ini sungguh luar biasa”, tambahnya.

Ditempat yang sama dr. Elvine G., Sp. KJ., menyampaikan kemarin pihaknya sudah melihat langsung bagaimana sebenarnya di lokasi. 

“Kami bersama tim menuju TTS dan turun ke rumah-rumah dan menanyakan langsung ke anak-anak beserta ibunya, dari situ saya menanyakan baik pada ibunya maupun anaknya kalau makan pakai apa? Anak-anak menjawab makan nasi, terus saya tanya pakai apa lagi? Pakai air sayur dan ayam itupun sekali katanya,”tuturnya.

Ia menjelaskan hahwa sudah jadi kebiasaan orang sini, sekali itu sudah lama bisa-bisa 1 minggu sehingga hal ini harus benar-benar disosialisasikan dan di mulai dari tingkatan Desa supaya mereka paham bagaimana protein dan gizi yang harus kita konsumsi. 

“Barangkali nantinya dibantu oleh ibu-ibu Babinsa, semua perlu di evaluasi di setiap perkembangannya terutama ibu hamil. Saya sering webiner dengan ibu Persit, semoga ibu Babinsa bisa ikut sertakan dalam mengatasi stunting di NTT ini”, ucapnya.

Turut hadir pada kegiatan diskusi ini para Kasi Kasrem 161/WS, dr. Elvine G., Sp. KJ bersama Tim, Ibu-ibu Persit, Bapak Indras, Bapak Deddy, Dinkes Prov. NTT, BKKBN dan DP3AKB.

(Penrem/MI)