Gerakan Meldy Hagur-Nabit Sebagai Contoh Gerakan Kartini Masa Kini Manggarai

 

Oleh: Odilia Jayanti Mahu, Dosen di STIE Karya Ruteng 

Manggarai, mwartapedia.com  –  Meldy Hagur merupakan ketua TP PKK (Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga) di Kabupaten Manggarai. Mengutip RealitaNTT.com, wanita yang biasa disapa Meldy ini menyampaikan bahwa “kehadiran TP PKK Kabupaten Manggarai kedepannya tidak hanya sebatas organisasi isteri bupati dan wakil bupati, karena organisasi tersebut seharusnya merupakan organisasi kemasyarakatan yang memberdayaakan wanita untuk turut berpartisipasi dalam pembangunan” (RealitaNTT.com, 1 Maret 2021). Dalam hal ini saya beranggapan bahwa semangat ibu Meldy adalah semangat Kartini masa kini yang patut ditiru oleh anak-anak milenial.  Membuktikan pernyataan ini Ibu Meldy setiap hari seperti sedang berjualan, jalan dari satu komunitas ke komunitas yang lain guna memberi stimulus kepada kaum-kaum yang tadinya tak terlihat agar berkembang untuk memberi sumbangsih terhadap perkembangan perekonomian di bumi Congkasae baik dalam ranah lokal maupun global. 

Kaum tak terlihat, siapakan sebenarnya mereka itu? Jujur saja, selama ini Manggarai terlalu lama berada di zona nyaman. Saking lamanya, sampai “malas” untuk bangun dan melihat potensi sumber daya manusia yang jika diselami lebih jauh mampu menggerakan roda perekonomian. Pertanyaanya, mengapa demikian? Apakah karena kebijakan tidak pernah memberikan mereka ruang? Atau kebijakannya ada, tetapi sang pemangku kepentingan lebih memperhatikan diri sendiri ? Sudahlah jika mencari jawaban dari pertanyaan ini maka kita tidak akan bergerak maju. Biarkan yang berlalu tetap berlalu mari kita hidup untuk masa depan. 

Ibu Meldy Hagur sangat menyadari “cedera pembangunan” ini, tetapi saat itu beliau tak punya kuasa untuk mengubah dan mengangkat kaum terpinggirkan ke permukaan publik dan menyadarkan masyarakat luas bahwa “ini loh mereka, yang punya segudang bakat dan kemampuan yang memiliki nilai jual dan bisa mengembangkan usaha mikro kecil serta memberikan sumbangsih terhadap pergerakan industri kerajinan ekonomi kreatif (Ekraf) di tanah Nuca Lale ini”. Kaum terpinggirkan inipun seakan dianaktirikan. Mereka tak punya ruang untuk berekspresi. Suara mereka seakan bungkam, tak mampu berteriak kepada penguasa. Merekapun memilih untuk bermetamorfosis sendiri, mengasah kemampuan lebih bagus lagi,sehingga hari demi hari mampu menciptakan karya yang mengagumkan. Hingga tiba saatnya semesta seakan mendengarkan doa mereka, dikirimkan wanita yang sangat energik, cerdas, dan selalu tampil memukau dengan retorika bahasanya, gaya komunikasi yang persuasif mampu membuat mereka percaya  bahwa di tangan wanita ini kami bukan lagi kaum yang tidak dilihat, tetapi akan menjadi kekuatan besar untuk ikut bertisipasi dalam membangun Manggarai yang lebih baik lagi.  

Kehadiran Meldy Hagur-Nabit sungguh memberikan angin segar kepada kaum subalternitas atau mereka yang memiliki posisi tetapi tidak memiliki identitas (Morton, S. 2008 : 159) di bumi Congka Sae ini. Mereka kesulitan untuk memperkenalkan diri ke ranah global. Identias dalam konteks ini berarti nama khas yang akan menjadi tanda pengenal pada suatu hasil karya. Mengutip apa yang disampaikan oleh ibu Meldy bahwa “yang penting adalah kita harus memiliki brand, supaya mudah dikenal, sehingga produk kreatif lokal betul-betul menjadi tuan rumah di Manggarai” (News Report, 06 Maret 2021). 

Perjuangan ibu Meldy tentu saja tidak mudah. Hal yang paling sulit menurut saya adalah mengubah pola pikir atau mindset masyarakat terhadap pola penjualan manual ke berbasis oline. Bagi masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan tentu saja mudah dilakukan, tetapi bagaimana jika menyentuh komunitas ibu-ibu di desa? Sudah menjadi pengetahuan publik bahwa daerah Manggarai merupakan tempat produksi tenunan yang kualitasnya sangat bagus, sebut saja yang menjadi tenunan khas adalah kain Songke Manggarai dan kain Todo. Sebagian besar masyarakat yang memproduksi tenunan kain songke dan kain Todo adalah ibu-ibu yang tinggal di daerah Satarmese, Cibal, Reok dan masih ada beberapa tempat lainnya yang nota bene bermukim di Desa. Pola penjualan mereka adalah door to door. Tentu saja hal ini sangat tidak efektif, memakan waktu, tenaga dan uang. Ditambah lagi strategi penjualan ini sangat tidak cocok di masa pandemi covid-19. Indah Andayani, dll dalam artikelnya menjelaskan kendala pelaku UMKM dalam menghadapi situasi pandemu Covid-19 belum memahami cara pemasaran produk  secara digital, mulai dari pemfotoan, perancangan iklan, hingga publikasi produk di platform online (Andayani, I. 2021: 13). 

Oleh karena itu, hal ini merupakan tantangan bagi ketua TP PKK ini, yaitu menemukan solusi bagi pelaku UMKM di berbagai lapisan masyarakat Manggarai. Program pemberdayaan marketing berbasis digital mesti dilakukan. Hal ini bertujuan agar strategi penjualan konvensional dikurangi, masyarakat benar-benar merasakan perubahan sampai menyentuh berbagai aplikasi penjualan seperti shopee, lazada, buka lapak, promosi menggunakan alamat sosial media seperti facebook, Instagram, twitter, dll. Mengunjungi mereka, menyaksikan cara mereka bekerja sangat mudah dilakukan. Namun mengubah pola pikir sangat tidak mudah dilakukan. Apakah Ibu Meldy mampu membawa “perubahan” itu untuk kita semua di tanah Nuca Lale ini? Mari menunggu, sembari kita berharap semoga kesehatan selalu ada padanya, agar beliau bisa merealisasikan setiap rencana dan masyarakatpun menikmati hasilnya.  (ML/IB)




Danrem 161/Wira Sakti Kunjungi Uskup Agung Kupang

 

Kupang,mwartapedia.com   –  Danrem 161/Wira Sakti Brigjen TNI Legowo W.R. Jatmiko.,S.I.P.,M.M melakukan kunjungan kepada Uskup Agung Kupang Mgr Petrus Turang di Keuskupan Agung Kupang.

Kunjungan ini sebagai kunjungan perdana sejak menjabat sebagai Danrem 161/Wira Sakti.

Demikian disampaikan Kepala Penerangan Korem 161/Wira Sakti Mayor Inf Arwan Minarta dalam rilis tertulisnya, Selasa (20/04/2021) di Kupang.

Dalam kesempatan ini Uskup Agung Kupang mengucapkan selamat datang kepada Danrem 161/Wira Sakti.

“Selamat datang di Keuskupan Agung Kupang, dan selamat datang juga di Provinsi Nusa Tenggara Timur,” ungkap Uskup Agung Kupang.

Sementara itu Danrem 161/Wira Sakti memperkenalkan dirinya secara singkat, dilanjutkan dengan perbincangan tentang situasi dan kondisi secara umum wilayah di Provinsi NTT.(penrem161ws)




Langkah POLRI Tindak Tegas Pendeta Joseph Paul Zhang Harus Jadi Momentum Menindak Siapapun Penista Agama di Negeri Ini

 

Kupang, mwartapedia.com –  Sikap tegas Kapolri memburu Pendeta Jozeph Paul Zhang sebagai upaya paksa dalam penyelidikan dugaan tindak pidana penistaan agama, patut diapresiasi dan harus dijadikan momentum untuk menindak siapa saja di negeri ini yang mencoba-coba menista agama manapun.

Hal ini disampaikan oleh Petrus Selestinus, S.H sebagai Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) dan Ketua Tim Task Force Forum Advokat Pengawal Pancasila (FAPP) dalam rilis yang diterima media ini, Selasa (20/04/2021).

Pernyataan Kapolri bahwa Tim Penyelidik Mabes Polri telah melakukan pencarian terhadap Jozeph Paul Zhang dalam rangka penyelidikan terhadap dugaan penistaan agama yang mendadak viral di media sosial, sungguh merupakan khabar baik bagi penegakan hukum khusuanya penista agama, terlebih-lebih karena Jozeph Paul Zhang mengaku sebagai Nabi ke 26 dll.

Pernyataan Pendeta Jozeph Paul Zhang tersebut tersebar secara luas melalui You Tube yang diberi judul Puasa Lalim Islam dan komentar lainnya yang konten ataupun muatannya dapat dikualifikasi sebagai tindak pidana penistaan agama dan ujaran kebencian melalui ITE.

Bentuk Tim Penyidik Khusus

Kapolri sebaiknya bentuk tim Pemburu dan Penyidik Khusus Penista Agama, demi merawat kebhinekaan dalam NKRI, karena akhir-akhir ini muncul banyak tokoh entah yang mengaku sebagai Ustadz maupun Pendeta dll. menggunakan ruang publik dan sosial media, membuat narasi yang berkonten menghina agama lain dengan mendewa-dewakan agamanya sebagai yang paling benar, tanpa rasa hormat terhadap hukum.

Karena itu upaya Polri memburu Pendeta Jozeph Paul Zhang, yang keberadannya diduga di luar negeri, wajib didukung oleh kita semua, karena ini merupakan awal yang baik bagi Polri dan bagi negara dalam “merawat kebhinekaan” dengan cara menuntaskan kasus-kasus tindak pidana penistaan agama di negeri ini, tidak hanya terhadap Jozeph Paul Zhang, tetapi juga terhadap Ustadz Waloni dkk. agar ditindak tanpa diskriminasi.

Sedangkan terhadap kasus dugaan penistaan agama yang dilaporkan oleh Masyarakat kepada Polri atas nama Terlapor Mohammad Rizieq Shihab (MRS) hingga kini tidak jelas pananganannya, padahal Kapolda Metro Jaya telah bertekad dengan slogannya tidak ada “gigi mundur” untuk kasus-kasus yang mengancam Kedaulatan Negara, Kebhinekaan dan Pancasila, namun belum ada langkah konkrit apapun.

Tangkap Jozeph Paul  Zhang dan Ustadz Waloni

Mari kita dukung Polri untuk segera tangkap dan tahan Pendeta Jozeph Paul Zhang dan proses hukum, tangkap dan tahan Ustadz Waloni karena ceramah yang dimuat pada beberapa video You Tube yang beredar luas di.masyarakat isinya menista agama dan memancing rasa permusuhan antar umat beragama, sehingga patut diduga sebagai telah menista agama.

Polri tidak boleh diskriminatif dalam bertindak dalam kasus-kasus sara, tidak boleh bertindak tegas hanaya ataa dasar tekanan massa dan bersikap diskriminatif juga atas dasar tekanan massa, padahal Polri bertindak untuk dan atas nama negara, karenanya tidak boleh takut atau ragu dalam bertindak.

Selain itu Polri diharapkan menjelaskan secara periodik kerja Tim Khusus kasus-kasus penistaan agama sebagai wujud komitmen pemerintah merawat kebhinekaan, menjaga persatuan dan menjaga ideologi negara Pancasila.(Ml/IB)