Diduga Tiga Bumdes di Elar Selatan Bermasalah

 

 Keterangan foto:Mesin Bubuk kopi dan Alat pencetak Bata Merah milik Bumdes Golowuas yang diduga bermasalah.Foto Publikntt.

Matim,Wartapedia.com -Tiga Badan Usaha Milik Desa(Bumdes)di Kecamatan Elar Selatan,Kabupaten Manggarai Timur,NTT diduga bermasalah.

Hal tersebut disampaikan oleh Pendamping Profesional Desa tingkat Kecamatan Elar Selatan, Robertus A. Sesfaos di kantor Camat Elar Selatan pada Senin,(30/11/2020) Menurutnya, Bumdes yang diduga bermasalah tersebut ada di Desa yang tersebar di Kecamatan Elar Selatan.

“Jujur ya, tiga Bumdes yang diduga bermasalah tersebut kami dari Pendamping Profesional Desa tingkat Kecamatan tidak pernah dilibatkan oleh Pemerintah Desa mulai dari tahap sosialisasi, penggalian gagasan hingga pembentukan/pendirian Bumdesnya “, ujarnya. 

Dikatakan Robertus,tiga Bumdes yang tidak melibatkan Pendamping Profesional oleh Pemerintah Desa justru saat ini diduga sedang berhadapan dengan masalah. 

Sementara dalam Permendagri Nomor 39 Tahun 2010 tentang Pendirian Bumdes itu sangat jelas, bahwa Pendamping Profesional Desa mulai dari tahap sosialisasi, pembentukan tim pengkaji sekaligus pendirian Bumdes harus dilibatkan.

“Saya dan teman-teman pendamping justru kaget, tiba-tiba ada informasi bahwa ada  Bumdes yang bermasalah. Dan, Bumdes yang saat ini sedang berhadapan dengan bermasalah,  kami dari Pendamping Profesional  tidak pernah diundang, difasilitasi oleh Pemerintah Desa mulai dari tahap sosialisai, pembentukan tim pengkaji hingga pembentukan/pendirian Bumdes”, tutupnya 

Hal serupa disampaikan oleh Pendaming Lokal Desa, Marianus Kisman. Menurutnya, tim pengkaji tidak salah, tetapi hasil kerja dari tim pengkaji yang direkomendasikan lain. Hal ini karena seorang Kepala Desa egois dimana dalam perjalanannya terjadi pergantian unit pengelola yang berkaitan dengan Bumdes. 

“Di Desa Golo Wuas, rekomendasi oleh tim pengkaji itu pengadaan barang sembako. Namun, dalam perjalanannya ada pergantian. Saya meminta jangan membiasakan seperti itu karena orang di Kabupaten merasa dekat dengan Kepala Desa dengan gampang kita mengantikan rekomendasi itu dan berakhir dengan masalah”, bebernya. 

Kisman menyebutkan, 300 juta lebih Bumdes Golo Wuas sampai saat ini tidak jelas dan Bumdes tersebut berakhir dengan masalah. 

Berkaitan dengan Bumdes di Desa Benteng Pau, Kisman mengungkapkan, Pabrik Sendal dan Mesim Pemecah Kemiri itu berdasarkan kajian tetapi anggaran terlalu sedikit. 

“Potensi kemirinya ada, hanya mau bergerak anggarannya kurang”, ungkapnya. 

Lebih jauh, Kisman menjelaskan, Pendamping Lokal Desa hadir bukan untuk mencelakakan Desa. 

“Jika masalah ini diselesaikan di tingkat Tipikor atau di Pengadilan, kami dari Pendamping Lokal Desa akan menjelasakan sesuai yang kami ketahui”, pungkasnya. (Tim/ML




Bapemperda DPRD TTS dan Pemda TTS Adakan Evaluasi dan Fasilitasi 5 Ranperda di Biro Hukum NTT

 

Kupang ,Wartapedia.com – Badan Pembuatan Peraturan Daerah (BAPEMPERDA) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) bersama Pemerintah Daerah (PEMDA)  TTS belum lama ini Selasa (24/11/2020) melaukan Rapat Evalauasi dan Fasilitasi 5 Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) di Biro Hukum Setda Propinsi NTT. 

Pertemuan yang dihadiri oleh Semua Anggota Bapemperda DPRD TTS, Dinas P3A dan P2TP2A TTS, Bagian Hukum Setda TTS, Dinas PU-PR TTS, dan Kanwil Kemenkhum Ham NTT berlangsung di Aula Biro Hukum NTT.

Pada momen tersebut, Ketua Bapemperda DPRD TTS Jason Benu, S. Pt mengungkapkan, Rapat Evaluasi dan Fasilitasi Ke Lima Ranperda yang sudah dibahas pada Paripurna DPR TTS minggu lalu dan sekarang di Evlauasi dan dikonsultasikan serta difasilitasi  agar selanjutnya ditetapkan.

“Tujuan dari Evaluasi dan Konsultasi ini adalah agar tidak ada muatan Ranperda yang bertentangan dengan peraturan perundang – undangan yang lebih tinggi”.Ujar Anggota Fraksi Partai Nasdem DPRD TTS ini. 

Hari ini Kami Bapemperda, Pemerintah Daerah TTS,dan Kanwil Kemenkhum Ham NTT melakukan Asistensi di Biro Hukum NTT. 

“Ada Lima Ranperda yang dibawa antara lain Rencana Tata Ruang Perkotaan Boking, Perubahan Perda Tentang Retribusi Jasa Umum, Kabupaten Layak Anak, Perubahan Perda No 5 Thun 2016 Tentang Susunan Perangkat  Daerah TTS, dan Ranperda Penghormatan Perlindungan dan Pemenuhan Hak-hak Penyandang Disabilitas di TTS ” Pungkas Jason. 

Menurut mantan Ketua Divisi Pengembangan Pertanian dan Peternakan Yayasan Pancaran Kasih-SoE ini. 

Dari hasil Asistensi tadi maka ada Tiga Ranperda yang bisa dilanjutkan Proses Penetapan dan Pengundangan langsung di Daerah. 

“Hanya tiga yang bisa langsung Kita tetapkan nanti seperti Penghormatan, Perlindungan dan Pemenuhan Hak-hak Penyandang Disabilitas, Kabupaten Layak Anak dan Perubahan Perda No 5 Thn 2016 sedangkan duanya lagi masih harus dikonsultasikan lagi Kementrian”.Kata Ayah dari Tiga Orang Anak ini. 

Pada waktu bersamaan, Aba. L. Anie, SH, M. Si. Kepala Badan Pendapatan Daerah Mewakili Pemerintah TTS menyampaikan Apresiasi sekaligus mengucapkan terima kasih. 

“Mewakili Pemda TTS kami ucapkan terimakasih dan memberi apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Propinsi NTT lewat Biro Hukum dan Kanwil Kemenkhum Ham NTT yang telah berperan aktif dalam proses Evalauasi dan Fasilitasi.Semua rekomendasi dan perbaikan akan kami tindaklnjuti”.Papar mantan Camat Kecamatan Amanuban Barat tersebut.(Ima).




Ezy Pratama Academy, Jadi Pusat Pendidikan Akting Berbasis Kompetensi Modern

Jakarta,Wartapedia.com  – Ezy Pratama Academy tanpa lelah terus memperbaiki berbagai fasilitas dan kurikulum pendidikan akting. Sebagai Sekolah Akting yang berbasis kompetensi dan terdaftar di Kementrian Pendidikan sebagai lembaga pendidikan Nonformal dengan nomer induk 0222002852276 yang di terbitkan 12 November 2020 berdasarkan ketentuan pemerintah pasal 39 No 34 tahun 2018.  Dalam penguatan pendidikan akting lebih mengedepankan pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global, sebagai kurikulum yang di unggulkan.

Menurut Dosen Kampus Swasta yang ikut terlibat dalam perencanaan berbagai pendidikan akting di Ezy Pratama Academy , Roy Wijaya mengatakan, sebagai konseptor dirinya mengakui bahwa Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global adalah pendidikan bagian dari semua mata pelajaran dan  juga dapat menjadi mata pelajaran muatan lokal. 

“Jadi dalam pendidikan ini, diharapkan anak dapat berdaya saing global tanpa harus meninggalkan kebudayaan lokalnya. Sehingga pemikiranya secara global namun tindakannya tetap lokal, seiring dengan adanya pendidikan tersebut, dibutuhkan pula  adanya suatu pendidikan yang memberdayakan pendidikan karakter dalam setiap pembelajaran yang diajarkan kepada siswa nantinya peserta didik akan mendapatkan pendidikan yang baik dari segi pemikiran, sikap dan juga tindakannya,” ungkap Roy di Jakarta, Selasa 1 Des 2020.

Model pembelajaran ini, kata Sutradara ini, adalah pembelajaran Thinking Globally Acting Locally atau dalam bahasa indonesianya adalah berpikir global bertindak Lokal. Secara umum  Thinking Globally Acting Locally adalah suatu pemikiran yang memandang secara luas mengenai  masalah-masalah mendunia, masalah yang sudah umum telah terjadi atau sedang terjadi, masalah/ hal yang semua orang sudah ketahui (konteks berfikir global) dan berusaha menanggapi permasalahan atau informasi umum tersebut dengan cara sendiri dan bertindak secara lokal. 

“Lokal disini bisa diartikan sebagai tindakan yang dimulai dari diri sendiiri, tindakan berbasis budaya di daerah sekitar. Dalam konteks ini juga, lokal bukanlah lawan dari global, tapi disatukan dan diperkaya dengan impuls-impuls dan pengaruh-pengaruh global. Hal ini diperlukan dengan pertimbangan kita bisa mengikuti arus gobalisasi yang secara langsung berdampak pada perubahan karakter dan budaya masyarakat sekarang (Thinking Globally) maka dari itu arus-arus globalisasi yang membawa dampak positif dikaji dan digabungkan dengan memasukan pendidikan karakter, pendidikan berbasis budaya sekaligus ke dalam pembelajaran,” beber Roy.

Ezy Pratama Academy, yang di Pimpin oleh Ezra Christian dan Mayang serta di awasi oleh Pieter Tobias sebagai Pembina dengan para mentor dari para aktor yang berpengalaman seperti M. Irpan atau biasa di panggil Ipang, Rio B’wock, Deni Titahena dan di bantu Tim manajemen Fuji Handayani, telah menguatkan semua program pembelajaran akting yang semakin sempurna. Karena di dalam model pembelajarn ini berbasis pendidikan global, pendidikan karakter, dan pendidikan berbasis budaya, sehingga pembelajaran secara langsung bisa dibentuk menjadi pembelejaran tematik integratif, sesuai dengan kurikulum yang di buat.

Menurut Roy, sasaran bagi penggunaan model ini bisa di terapkan di semua umur dan layar belakang pendidikan formal, mulai pendidikan tingkat sekolah dasar (SD) SMP, SMA, Mahasiswa bahkan masyarakat umum. Sebab pondasi  penenanaman nilai karakter dan pendidikan budaya itu penting, agar kelak mereka bisa secara bijak bisa menghadapi arus global dengan diiringi mereka bisa sekaligus mempunyai karakter yang baik.

Untuk mempresentasikan pendiidikan seperti itu dan untuk menguatkan pendidikan akting yang lebih baik, Ezy Pratama Academy juga sudah menyiapkan berbagai fasilitas guna menguatkan, penerapan Model Pembelajaran Thinking Globally Acting Locally, seperti. Menyiapkan kondisi ruangan kelas  sesuai dengan aktivitas pembelajaran yang akan dilakukan. Mengkondisikan siswa, sehingga siswa siap baik secara psikis maupun fisik untuk mengikuti proses  pembelajaran.

“Dalam setiap penerapan pembelajaran Akting, semua mentor wajib, memberikan apresiasi kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengait¬kan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari. Serta harus mampu menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai,” jelasnya.

Begitupun sebaliknya, kegiatan Inti dalam pembelajaran menjadi 2 kategori, yaitu kegiatan, Thinking Globally, dan Acting Locally, Thinking Globally. Bertanya jawab (berinteraksi dengan siswa) untuk Menindak lanjuti apersepsi, dan mengkaitkan apersepsi dengan isu-isu global, atau Akting secara umum dan menghadirkan media pembelajaran dan sumber belajar lainnya, agar anak-anak secara aktif ikut dalam kegiatan pembelajaran.

“Selain itu,memfasilitasi terjadinya interaksi antar peserta didik serta antara peserta didik dengan mentor, lingkungan, dan sumber belajar lainnya (anak-anak diharapkan kritis menanggapi isu yang disampaikan), juga memfasilitasi peserta didik melakukan per¬cobaan di laboratorium, studio, atau lapangan dan di wajibkan untuk membuat film film pendek setiap minggu serta podcast di studio yabg sudah di siapkan,” urainya. (ML)