Kupang,nwartapedia.comĀ – Pagi ini, halaman Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang ramai oleh warna-warni kain adat dan semangat kebersamaan. Tarian tradisional Timor dari TTS mengiringi langkah Wali Kota Kupang, Cristian Widodo, yang datang bukan hanya sebagai pemimpin kota, tetapi sebagai saksi semangat kolektif warganya dalam menghadapi salah satu persoalan besar perkotaan: sampah.
Di tengah langit biru yang cerah disertai semilir angin Kota Kupang pagi itu nampak deretan kontainer sampah yang berjajar rapi, sebuah peristiwa sederhana namun bermakna terjadi.
Sebanyak 14 unit kontainer diserahkan secara simbolis kepada para lurah se-Kota Kupang, sebagai bagian dari gerakan gotong royong yang digalang oleh dunia pendidikan.
Bukan tanpa alasan jika penyerahan ini terasa istimewa. Kontainer-kontainer itu bukan dibeli dari anggaran besar pemerintah, melainkan hasil sumbangan kolektif dari 14 sekolah negeriĀ 3 SD dan 11 SMP yang tersebar di berbagai penjuru Kota Kupang.
Sebuah bukti bahwa semangat peduli lingkungan bisa dimulai dari ruang-ruang kelas dan halaman sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Drs. Dumuliahi Djami, yang turut menyambut kedatangan Wali Kota dengan pengalungan selendang khas, menegaskan bahwa gerakan ini lahir dari kesadaran bersama.
āSekolah-sekolah ini bukan hanya tempat belajar, tapi juga tempat menanamkan nilai-nilai cinta lingkungan. Ini adalah kontribusi nyata dunia pendidikan terhadap kebersihan kota,ā katanya dalam sambutannya pada Selasa (1/7/2025)
Wali Kota Cristian Widodo pun tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Ia menyebut penyerahan ini sebagai simbol kuat bahwa persoalan sampah tidak bisa dipikul sendirian oleh pemerintah.
āSejak awal saya katakan, masalah sampah harus kita tangani bersama. Hari ini kita melihat buktinya. Terima kasih untuk semua kepala sekolah, orangtua murid, dan masyarakat yang terlibat,ā ujarnya.
Langkah kecil ini, menurutnya, akan menjadi bagian dari strategi besar Kota Kupang dalam mengelola lingkungan secara partisipatif.
“Kota ini hanya bisa bersih kalau semua warganya ikut merasa memiliki,” tegasnya.
Penyerahan kontainer hari itu bukan hanya urusan seremonial. Ia menjadi pengingat bahwa gerakan perubahan bisa dimulai dari mana saja dari satu sekolah, satu kelas, satu ide kecil yang dijalankan bersama.
Dan di Kota Kupang, pagi itu, gotong royong kembali mendapat maknanya yang sejati: bekerja bersama demi lingkungan yang lebih baik.
(by Goris Takene)

