Oleh : Dr. Ina Debora Ratu Ludji, SKp., M.Kes*) dan Yoakim Asy *1)
Kupang,nwartapedia.com – Pendahuluan
Provinsi Nusa tenggara Timur adalah salah satu Provinsi dengan Jumlah Penduduk dengan angka Stunting tertinggi. Salah satu satu program pemerintah adalah peningkatan gizi masyarakat dan pemberantasan gizi buruk dan stunting dengan Kelor (moringa oleifera) atau “Marungga”.
Kelor adalah tanaman asli pegunungan Himalayah ini telah lama dikenal dan dikonsumsi di NTT, namun apakah masyarakat benar-benar mengetahui kandungan gizi Kelor?
Dalam satu dekade terakhir Kelor menjadi pusat perhatian para pakar gizi mengingat hasil kajian laboratorium mengungkap Kelor menjadi satu-satunya sayur dengan berbagai micro maupun macro nutrient yang sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan dan perkembangan mulai dari janin hingga manfaat bagi perawatan kesehatan lansia.
Oleh banyak pakar, Kelor dinamakan multi vitamin dan mineral yang hidup, hanya selangkah dari pintu anda.
Terdapat begitu banyak kasus pada kelompok berresiko seperti ibu hamil, ibu menyusui, baduta dan balita mengalami masalah gizi buruk.
Namun pendekatan konvensional dengan suplementasi sampai saat belum mampu memutuskan mata rantai masalah kesehatan pada kelompok tersebut, kemampuan keuangan negara terbatas. Sementara kasusnya cukup banyak.
Perlu inisiatif lain yang mencegah masalah kesehatan kelompok berresiko ini agar tidak berdampak panjang pada generasi ini.
Pendekatan mengatasi gizi secara konvensional (pemberian makanan tambahan) hanya program karitatif yang menimbulkan ketergantungan masyarakat pada bantuan dan terbatas belum efektif dan efisien
Sebagai bahan kajian dan renungan. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), angka stunting pada Balita di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 37,1% dan pada tahun 2018 sebesar 30,8%.
Sementara di NTT Tahun 2013; 51,7% dan tahun 2018 42,6%. Pada Tahun 2023 Hasil Survey Kesehatan Indonesia Menunjukkan Prevalensi Stunting di Provinsi NTT tahun 2023 sebesar 37,9%, Naik 2,6% dari tahun 2022 (35,3%) dan berjarak 4,8% dari target stunting NTT yang dibebankan yaitu 33,1%.
Sesuai Hasil SKI (2023) Stunting tertinggi adalah TTS 50,1% diikuti Belu (48,1%); Malaka 47,7%; SBD 44,3%; Manggarai Timur 43,7% TTU 42,7% dan Sumba Barat 42,5%.
Hasil Pengukuran langsung dari Aplikasi elektronik Pencatatan dan pelaporan Gizi berbasis Masyarakat (e_Ppgbm) berdasarkan jumlah Balita Balita yang ditimbang dan sasaran balita (D/S) diketahui Rata2 Jumlah balita yang ditimbang adalah 80,6% dari sasaran Balita (S): 408.386, Balita yang ditimbang 329.265 (D). Artinya masih ada sekitar 79.121
Balita yang tidak ditimbang atau tidak mendapatkan pelayanan di Posyandu. Ini membutuhkan Perhatian kita bersama terutama dari Keluarga, maupun dari Pemerintah (RT,RW, Desa/Kelurahan) untuk menyiapkan dan memastikan Saran yang ditimbang adalah 100%.
Hasil E-PPGBM Kabupaten dengan Data Stunting tertinggi adalah TTS 41,7% dengan jumlah Balita ditimbang 76,1%) diikuti Kabupaten dengan Data Stunting > 20 % adalah Kab Sumba Barat daya 37,9%; Kab. Belu 30,5%; TTU 30,1%; Malaka 24,7%, Alor 23,2%; Sabu Raijua 21,3% Sumba Barat 20,5%. Rata-rata Balita ditimbang 80,6% Tertinggi Balita ditimbang di Kabupaten Manggarai Barat 100%, Balita ditimbang > 95% adalah kab Sabu raijua 97,9% dan Kab. Nagekeo 95,6%.
Jumlah Balita Ditimbang terendah < 50% adalah Alor 48,3% dan Sumba Barat daya 46,3%.
Hal ini menunjukkan bahwa masalah stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena masih di atas ambang batas 20%. Secara Epidemiologi perlu pendekatan “Active Case finding”; Yaitu menemukan kasus dan melakukan intervensi yang komprehensif dengan pendekatan Multipihak Stakeholder Partnership yang bersifat inklusif sesuai semangat dan prinsip SDGs : No One Left Behind” (Tidak Seorang pun Tertinggal) adalah prinsip utama dalam SDGs (Sustainable Development Goals) yang menekankan bahwa setiap orang—tanpa terkecuali—harus mendapatkan manfaat dari pembangunan, terutama mereka yang paling miskin, rentan, dan terpinggirkan. Kesetaraan dan keadilan sosisal, fokus pada kelompok rentan, menghapus diskriminasi, akses yang merata, pemantauan dan evaluasi yang adil. Penurunan angka stunting ini juga berkaitan dengan periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Periode ini merupakan periode emas “ Golden Period”; periode sensitif yang menentukan kualitas hidup bayi di masa yang akan datang. Hal ini perlu mendapat perhatian dari Pemerintah. Melakukan pendampingan keluarga Sadar Gizi dalam rangka penurunan angka stunting di NTT.
Berbagai upaya telah dilakukan namun belum membuahkan hasil yang menggembirakan perlu upaya2 luar biasa.
Melibatkan lintas program dan lintas sektor. Khusus untuk baduta dan Balita direkomendasikan untuk : Melakukan Pendampingan keluarga agar : (1)Keluarga Membawa balitanya datang ke posyandu secara teratur setiap bulan. (2) Membawa balita Gizi Kurang/ BGM (Bawah Garis Merah), balita tidak naik berat badannya dua kali berturut-turut (2T), balita sakit atau diduga gizi buruk ke Polindes/Poskesdes, Pustu, Puskesmas. (3) Memberikan ASI saja kepada bayi sampai berusia 6 (enam) bulan.(4) Makan beraneka ragam makanan berbahan lokal yang bervariasi dari Kelor (5) Menggunakan garam beryodium. (6) Minum kapsul vitamin A bagi balita, ibu nifas; dan tablet tambah darah bagi ibu hamil sesuai anjuran.
Pendekatan untuk penangan stunting tidak hanya bersifat parsial pada Baduta dan Balita saja tetapi juga pada anak adolesense, remaja, WUS, ibu hamil, ibu nifas dan ibu melahirkan melalui pendekatan siklus hidup yang akan dibahas secara rinci kemudian (artikel berikut).
Pemberian makanan tambahan dapat dilakukan dalam kondisi ini ketika terjadi outbreak malnutrisi, bencana alam, dan yang perlu menjadi program rutin salah salah satunya adalah Konsumsi Kelor.
Hasil Riskesdas pemberian PMT pada Balita 6 – 59 Bulan; 28,7% yang mendapat PMT, dan yang mendapat program PMT 60,7% dengan hanya 1,7% yang mendapat > 90 bungkus sedangkan 94,1 % hanya mendapat 0 – 30 Bungkus (Riskesdas, 2018). Sehingga perlu pendampingan dari keluarga dan Kader kesehatan untuk memastikan anak mendapat nutrisi seimbang dan adekuat.
Salah satu sumber Nutrisi yang baik bagi Balita setelah usia 6 bulan adalah kelor.
Nilai Gizi Kelor
Nilai gizi daun Kelor dari dahulu hingga kini tetap sama, Daunnya menjadi bagian paling bergizi dari tanaman kelor sendiri, dimana daun kelor merupakan sumberpenting vitamin B6, vitamin C, provitamin A sebagai beta-karoten, magnesium dan protein antara nutrisi lain. Hal ini diungkap oleh USDA setelah melakukan riset terhadap tanaman ini.
Perbandingan kandungan kelor dan makanan lainnya: Vitamin A dalam wortel – 1,8 mg, sedangkan dalam daun kelor – 6,8 mg. Kalsium dalam Susu:120 mg, sementara di daun kelor: 440 mg. Kalium pada pisang : 88 mg, dalam daun kelor: 259 mg. Protein dalam Yogurt – 3,1 g, sedangkan dalam daun kelor: 6,7 g.Sementara Vitamin C dalam Jeruk:30 mg, dalam daun kelor 220 mg. Disamping itu Daun kelor juga mengandung 9 jenis asam amino esensial yang bermanfaat bagi pertumbuhan sel-sel otak bayi. Secara singkat, daun kelor mengandung (1) Sepuluh vitamin esensial dan sebelas mineral penting. (2)Sembilan asam amino esensial lengkap. (3) Lebih dari 24 jenis anti-oksidan yang dapat kita pakai untuk membentengi tubuh kita dari radikal bebas yang menyebabkan kanker. (4) Lebih dari 24 nutrisi anti-inflamasi. (5) Asam lemak Omega-3 dan Omega-6. Namun demikian, proses pengolahan dengan suhu di atas 60 derajat akan merusak sejumlah zat gizinya. Oleh karena itu, pengolahan yang benar akan menjamin kasiat dari Kelor terhadap kesehatan kita.
Tepung Daun Kelor
Di samping dikonsumsi dalam keadaan segar, daun Kelor bisa dijadikan bubuk, Bubuk Kelor bahkan lebih kaya lagi dari pada daun dalam keadaan segar.
Dalam setiap 100 gram bubuk kering18,9mg vitamin A, sementara Wortel hanya 1.8mg, daun Kelor segar hanya 6.8mg. Sedangkan vitamin C dalam tepung daun Kelor adalah 17.3mg, sedangkan dalam keadaan segar kandung Vitamin C mencapai 220mg/100gram, sedangkan yang kering sedikit menurun, yaitu 173/100gram, dibandingkan Vitamin C pada jeruk hanya 30mg/100gram. Kandungan Kalsiumnya, tepung Kelor 2003mg, sedangkan daun segar terdapat 440mg.
Tantangan bagi Kelor
Namun demikian, makanan olahan dengan kemasan bagus yang dianggap makanan bergengsi terus memberikan kontribusi terhadap buruknya pola makan di kalangan anak balita, terutama dalam tumbuh kembang 1000 hari pertama.
Makanan olahan telah “merampas” posisi makanan alami lokal karena kalah promosi dan tidak mendapat perhatian untuk didiversifikasi. Meskipun dilengkapi dengan informasi gizi, dan lain-lain, makanan olahan tetap tidak menampilkan kualitas gizi alaminya bila dibandingkan sumber makanan segar. Belum lagi makanan olahan juga bersumber dari produk yang terkontaminasi herbisida, pestisida, pupuk buatan, dan lain-lain.
Maka kini saatnya perbaikan gizi pada kelompok balita bersumber pada bahan makanan yang berkualitas, mudah diakses, murah (local-cost effective) dan dapat dibudidaya.
Kelor (Moringa Oleifera) kini semakin populer bukan karena iklan komersil, melainkan karena kajian ilmiah dan keberhasilan perbaikan gizi pada anak-anak negara-negara Afrika seperti Senegal, Zambia, dll dimana beberapa organisasi nirlaba seperti CWS, mengembangkan program pengentasan gizi buruk dengan potensi lokal (Kelor) yang terbukti sangat baik.
Gizi Berbasis Makanan Lokal
Inisiatif Gubernur NTT ke 8 Victor Laiskodat dalam upaya pencegahan stunting telah mencanangkan satu program peningkatan gizi masyarakat dan pemberantasan gizi buruk dan stunting dengan Kelor (moringa oleifera) atau “Marungga” di Provinsi NTT dan juga sesuai dengan Sejalan dengan Visi Gubernur-Wagub NTT ke 9 Melki dan Johni: “NTT Maju, Sehat, Cerdas Sejahtera dan Berkelanjutan” dengan Tujuh Pilar Pembangunan diantaranya: Pilar 1 ekonomi berkelanjutan pilar 2 Pemberdayaan komunitas, Pilar 4 kesehatan, pilar 5 pendidikan dan pilar 7 Kolaborasi dengan Program Prioritas Dasa Cita Ayo bangun NTT Program 5 Posyandu Tangguh, Masyarakat Sehat dan Bebas Stunting dan Program 10 Ayo bangun NTT, Kolaborasi bersama.
Dengan demikian perlu dilakukan Promosi kesehatan kepada masyarakat tentang nilai gizi di tanaman ini perlu terus dilakukan.
Agar kesadaran untuk menanam semakin tinggi. Dengan melakukan Multi Stakeholder Partnership (MSP) atau Kolaborasi Multi Pihak (KMP) Pemerintah, Swasta dan Masyarakat: (1) Pemerintah: Dinas yang terlibat adalah (Dinas Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Kesehatan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pendidikan, Bappeda, Dinas Sosial. (2) Lembaga Pusat/ Kementrian terkait adalah Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan, Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Perindustrian dan Perdagangan, Badan Pangan Nasional dan BKKBN (3) Petani dan kelompok tani, (4) Perguruan tinggi dan Lembaga Riset, (5) Lembaga kesehatan dan Gizi, (6) Pelaku Usaha dan UMKM. (7) Lembaga Keuangan dan perbankan, (8) LSM./NGO dan Komunitas Lokal, (9) Media dan Influencer.
Sebagai salah satu Provinsi dengan Jumlah Penduduk Angka Stunting tertinggi. Hal ini sejalan dengan komitment 159 negara yang menandatangani The World Declaration and the Plan of Action on Nutrition, 1992, termasuk Indonesia dimana deklarasi tersebut menyakatakan bahwa perlu strategy untuk mengatasi masalah micronutrient pada kelompok berresiko,“There have been many calls for an alternative approach, addressing the root causes of the problem rather than treating the symptoms. The World Declaration and the Plan of Action on Nutrition, adopted by 159 countries, at the International Conference on Nutrition organized by the UN’s Food and Agriculture Organization (FAO) and WHO in 1992, states that strategies to combat micronutrient malnutrition should:“….Ensure that sustainable food-based strategies are given first priority particularly for populations deficient in vitamin A and iron, favouring locally available foods and taking into account local food habbit” (Terdapat begitu banyak seruan untuk membuat pendekatan alternatif yang mengungkapkan akar penyebab masalah, bukan sekedar menyembuhkan gejalanya.
“ …Memastikan bahwa strategi pangan berkelanjutan prioritasnya secara khusus diberikan kepada populasi yang kekurangan vitamin A dan Zat Besi, dengan lebih mengandalkan ketersediaan sumber makanan lokal dan memperhatikan kebiasaan makan makanan lokal) Dari kesepakatan di atas, pengembangan Kelor sebagai salah satu sumber alternatif yang efektif (mampu mengatasi gizi secara baik), efisien (tanpa biaya) dan mudah untuk dibudidaya serta tumbuh dengan sangat baik di iklim kering seperti Nusa Tenggara Timur, merupakan sebuah momentum untuk menjadikan tanaman Kelor sebagai sebuah solusi terbaik untuk mengatasi gizi buruk di NTT.
Dalam musim penghujan dimana sayuran konvensional sulit tumbuh, Kelor begitu mudah tumbuh dan bertunas dengan begitu mudah dan subur. Jangan biarkan pucuk-pucuk kelor tumbuh percuma. Jangan Malu dan gengsi. Ambil dan olahlah bagi bumil, balita dan keluarga anda.
Catatan paling penting, Berdasarkan analisa laboratorium, kelor TIDAK mengandung zat racun sekecil apapun, sehingga sama sekali TIDAK memiliki reputasi menimbulkan alergi apalagi kematian.
Ket : Penulis *) adalah Dosen Poltekkes Kemenkes Kupang Jurusan Keperawatan;
Penulis *1) adalah Provincial Expert East Nusa Tenggara SDGS/SSTC GFA- GIZ (MI)

