Kupang,nwartapedia.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pemberdayaan UMKM lokal, dalam sambutannya pada acara penutupan Program Bangun Karya.
Acara tersebut turut dihadiri oleh Plh. Kepala BPOM RI Irjen Pol. Dr. Jayadi, jajaran Pemprov NTT, Bupati Alor, TTS, TTU, Kabupaten Kupang, Sekda Kota Kupang, serta berbagai pemangku kepentingan daerah dan nasional.
Gubernur Melki menyampaikan bahwa ide awal program ini sudah ia dorong sejak masih menjadi anggota DPR RI. Kini sebagai gubernur, ia merasa bersyukur karena sinergi antara BPOM RI, Pemprov NTT, dan Bentoel Group berhasil diwujudkan dan memberikan dampak konkret bagi penguatan UMKM di daerah.
“60% dari PDB nasional berasal dari UMKM, dan mereka menyerap 97% tenaga kerja Indonesia. Ini luar biasa. UMKM tetap jalan, meski terkendala infrastruktur, regulasi, akses permodalan, dan SDM,” ungkap Gubernur Melki.
Ia menyebut bahwa program ini hanyalah awal. Dengan dukungan pemerintah pusat dan kepala daerah, ia optimis bahwa inisiatif serupa akan diperluas, termasuk dalam sektor air minum dalam kemasan, produk lokal, dan pangan olahan.
“Kami ingin setiap kabupaten punya produk air minum sendiri. Daripada beli dari luar, lebih baik produksi sendiri, pakai sendiri. Kalau perlu, kita dirikan pabrik plastik di sini,” tambahnya.
Dalam sambutannya, Gubernur juga mengungkap fakta menarik dari data Bank Indonesia bahwa NTT mengalami defisit perdagangan hingga Rp51 triliun karena konsumsi barang dari luar. Namun, menurutnya, angka ini justru membuka peluang substitusi produk dari dalam NTT sendiri.
“Air mineral, makanan, kosmetik, obat tradisional—semua bisa kita produksi di sini. Kita bisa ambil 10% saja dari nilai impor barang itu, putar Rp5 triliun ke ekonomi lokal. Itu sudah sangat berdampak,” jelasnya.
Gubernur Melki juga menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi NTT pada triwulan pertama 2025 justru meningkat meski ada efisiensi belanja publik, berkat pertumbuhan sektor pertanian dan usaha lokal. Ia menyebutnya sebagai bukti bahwa ekonomi rakyat bisa tumbuh tanpa hanya bergantung pada belanja pemerintah.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa Bank NTT akan menyalurkan tambahan dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp1 triliun yang akan disalurkan ke UMKM daerah untuk mendukung program One Village, One Product (OVOP) yang baru saja diluncurkan. Pendampingan akan terus dilakukan untuk menghindari kredit macet.
“Kita pastikan semua desa dan kelurahan punya produk unggulan. Jangan lagi kita tergantung dari luar. Kita produksi sendiri, beli sendiri, dan pakai sendiri. Itu ekonomi berdaulat,” tegas Gubernur.
Program Bangun Karya sendiri telah mendampingi 10 UMKM terpilih di Kota Kupang, Kabupaten Kupang, TTS, TTU, dan Alor, dan membangun rumah produksi berstandar BPOM. Selain itu, lebih dari 300 warga telah mendapatkan edukasi soal keamanan produk dan regulasi usaha.
Acara penutupan turut dimeriahkan dengan pameran produk, penyerahan penghargaan kepada UMKM, serta diskusi ringan antara peserta dan tokoh lintas sektor. (MI)

