
Kupang,nwartapedia.com – Calon Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur nomor urut 1, Yohanes Ansy Lema dalam debat pertama yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) NTTÂ di Milenium Ballroom Kupang, Rabu (23/1/2024) mengatakan bahwa pemimpin seharusnya menjadi pelayan bagi masyarakat bukan pemimpin yang pamer kesombongan.
Dalam memaparkan visi, misi dan program kerjanya, pasangan Ansy Lema-Jane Natalia Suryanto menempatkan rakyat sebagai raja sehingga harus dilayani dengan baik oleh seorang pemimpin.
“Rakyat sebenarnya adalah raja yang sesungguhnya dan pemimpin seharusnya menjadi pelayan bagi masyarakat jadi kita (Ansy-Jane) bukan pemimpin yang pamer kesombongan tetapi pemimpin yang melayani rakyat,”ungkapnya.
Ansy Lema menekankan, tema debat pertama mengenai pelayanan publik sangat penting karena selain menjalankan pembangunan dan pemberdayaan rakyat, fungsi utama dari pemerintah adalah melahirkan dan menghadirkan pelayanan publik yang prima.
“Pemimpin berarti melayani, pemimpin sejatinya adalah pelayan maka Pilkada ini merupakan ajang dan mekanisme demokrasi untuk memilih pelayan,”ucapnya.
Ansy Lema juga membeberkan program Menyala dan menempatkan sebagai program pertama yang menghadirkan reformasi birokrasi dan tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan dan akuntabel kepada masyarakat.
“Untuk mewujudkan program ini maka pemimpin harus memimpin proses transformasi birokrasi sehingga kemudian bisa menghadirkan birokrasi yang memenuhi empat spirit yakni birokrasi yang bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme, birokrasi yang transparan terbuka dan mudah dibuka oleh publik, birokrasi yang akuntabel yang selalu rutin dan berkala memberikan laporan hasil kinerja kepada masyarakat dan birokrasi yang profesional,”jelasnya.
Ia mengaku, program ini telah dijalani ketika dirinya masih menjabat sebagai anggota DPR RI.
“Saya memberikan laporan kinerja saya sebagai bukti transparansi dan akuntabilitas kepada masyarakat NTT secara rutin setiap enam bulan sekali,”sebut Ansy Lema.
Ansy Lema menegaskan, dirinya tidak sekalipun menerima uang yang tidak ada potongan pajak.
“Saya tidak pernah sekalipun menerima uang yang tidak ada potongan pajak dan inilah yang disebut dengan integritas seorang pemimpin dan pelayan publik dan hari ini NTT membutuhkan hal ini,”tegasnya.
Ansy Lema menekankan, jika teladan pemimpin bersih maka birokrasinya bersih pasti berorientasi menjadi pelayan publik dan akan melayani secara prima dan berkualitas sehingga menghadirkan sesuatu yang sangat mahal dalam politik.
“Ini akan mendapatkan dukungan luas dari masyarakat dan juga dunia usaha sehingga lapangan kerja akan terbentuk dan kami (Ansy-Jane) hadir untuk memberi diri menjadi pelayan publik bagi masyarakat,”pungkasnya. (MI)
